
Flashback Continue
Setelah mendapatkan penjelasan dari Bu Mira, aku langsung berpamitan pulang karena hujannya sudah reda dan hari sudah sore. Tadinya aku berniat menjemput Naz di rumah Kiara namun ia bilang sudah dijemput supirnya, yasudah ku lajukan mobilku menuju rumah saja. Sepanjang perjalanan aku terus memancarkan senyum kebahagian sambil mendengarkan lagu- lagu tentang cinta, astaga ,,, aku serasa jadi makhluk ABG yang sedang dimabuk cinta,, ternyata begini ya rasanya jatuh cinta,, benar- benar bisa membuat orang kehilangan kewarasannya seketika. Tak terasa aku pun sampai di rumah bertepatan dengan adzan magrib dan aku langsung masuk ke kamar ku, membersihkan diri lalu sholat di kamar saja karena sudah terlambat kalau harus ke masjid. Aku duduk selonjoran di tempat tidur masih menggunakan sarung mengistirahatkan tubuhku setelah menjalani hari yang sangat melelahkan ini.
Tot to tok…“Den AL,,, dipanggil Bapak sama Ibu untuk makan malam,,,,.” Ucap Bi Darmi dari balik pintu kamarku.
“Iya Bi,,, aku segera ke sana”, Aku pun beranjak dari tempat tidur an melepaskan sarung ku lalau bergegas pergi ke ruang makan. Ternyata di sana sudah ada Papi, Mami, dan Abangku. “Tumben malam ini Abang kesini ,,, mau nginep Bang ?”.tanyaku sambil menggeserkan kursi lalu ku duduki.
“Iya, sekalian ada yang mau dibicarakan dengan mu Al”, jawabnya sambil mengambil nasi dan lauk kedalam piringnya.
“Soal apa nih,,, kayaknya penting banget”, tanyaku lagi penasaran karena biasanya si Abang kalau ada perlu paling lewat telepon saja, atau bertemu di kantor.
“Hallo,, selamat malam tuan- tuan,, mohon untuk tidak membicarakan masalah pekerjaan di meja makan ini,,nanti makannya serasa dokumen”, Mami langsung mengeluarkan jurus nyinyirnya.
“Sudah,, ayo kita makan dulu, nanti kita bicarakan soal itu di ruang kerja”, Papi bicara dengan santainya dan kami berempat pun makan malam tanpa berbicara. Sausai itu kami langsung bergegas ke ruang kerja.
“Al,, kantor cabang di Surabaya mengalami masalah,, Papi dan Abang di sini sedang sibuk tidak bisa meninggalkan pekerjaan dan bepergian ke luar kota,, jadi kami berencana mengirim kamu ke Surabaya”, Papi langsung ke pokok pembicaraan.
“Hah,, ke Surabaya..? berapa lama Pi?”, tanyaku.
“Papi tidak bisa menentukan berapa lamanya di sana, itu tergantung penyelesaian masalah disana, lebih cepat selesai akan lebih cepat kamu kembali”.
“Apa tidak bisa menugaskan orang lain gitu yang sudah berpengalaman lama di perusahaan, Al kan baru tiga samapi empat bulanan saja bergabung di perusahaan”, aku mencoba menolak.
“Kamu tidak akan sendiri Al, nanti kamu akan didampingi seseorang dari peusahaan”, ucap si Abang .
Aku menghela nafas panjang, “Baiklah,, kapan aku harus berangkat?.
“Besok pagi Al,, sekarang Abang sudah siapkan tiket dan segala sesuatunya, kamu tinggal siapkan barang bawaan mu untuk keberangkatan besok pagi”.
“Hah,,, dasar gila lo Bang,, belum juga setuju udah maen disiapin segala”, aku pun protes.
“Hahaha,,, karena Abang yakin kamu tidak akan menolaknya”, dasar tukang maksa.
“Dan ini berkas- berkas yang Papi sudah terima dari Cabang Surabaya, kamu bisa pelajari ini “.
Aku pun menerima berkas dan kemudian kami keluar dari ruang kerja, aku kembali ke kamar ku untuk mempersiapkan barang bawaan kuyang tidak tahu akan berapa lama di sana, yahh,, aku harus berjauhan dengan Naz,, baru saja dapat restu dari ibunya,,harus berjauhan,, nasib kuli.
Ceklek ,,, “ Sudah mulai packing ternyata”, si Abang maen selonong aja masuk kamar orang.
“Iya lah, orang pagi- pagi buta harus sudah berangkat, emang gila lo ya Bang,,,” ucap ku bicara agak ketus karena masih kesal dengan keberangkatan mendadak ini.
“Hahaha,, kenapa sepertinya berat banget harus berangkat, udah punya cewek yaa”, ucapnya sambil menghampiriku yang tengah duduk di ranjang.
“Bukan urusan Abang,,, “, aku menjawab dengan seenaknya.
“Baguslah kalau begitu,,, biar cepat nikah, tuh Mami berisik banget pengen punya mantu perempuan”.
“Sesuai urutan silsilah dalam keluarga Abang aja duluan, monggo,,,”, aku pun mempersilahkan dia nikah lebih dulu.
“Ternyata kalau seorang Al Arifin jatuh cinta, bisa bikin amnesia ya?”, dia malah mengejekku.
“Oh iya aku lupa, Abang kan sudah pernah nikah alias duda”, ucapku memperjelas kata duda nya.
“Biarlah,,, duda juga banyak yang ngantri”, ucap nya dengan percaya diri.
__ADS_1
“Narsis banget lo Bang,,, oh iya selama aku di Surabaya, Abang tinggal di sini lah, kasihan Mami gak ada temennya”,
“Ya ampun Al, Papi juga masih ada kali”.
“Ya itu mah pasti, cuman beda kan pengen kumpul sama anak, waktu aku di Amerika Abang malah tinggal di apartemen, Mami sampe nangis waktu minta aku pulang, katanya serasa gak punya anak dimasa tua harus sendirian begini, kasihan Mami sering mengeluh Bang, kalau bukan kita yang menjaga Mami, siapa lagi coba”.
“Iya, nanti Abang sering- sering ke sini, sudah kalo gitu Abang balik lagi ke kamar”, ucapnya dan bergegas keluar dari kamarku. Setelah beberapa saat aku selesai menyiapkan pakaian dan beberapa perlengkapan ain yang kan ku bawa dan dimasukan ke dalam koper, aku cek ulang semua kelengkapannya, lalu aku shalat isya dan kemudian langsung tidur supaya besok badan terasa lebih segar.
Keesokan harinya pagi-pagi sekali aku sudah berangkat ke Bandara dan janjian bertemu dengan orang perwakilan dari kantor yang akan menemaniku bertugas di Surabaya, karena kami mengambil penerbangan pertama. Setelah satu setengah jam penerbangan kami pun sampai di Surabaya dan dijemput oleh jemputan kantor. Sesampainya di kantor kami langsung melaksanakan sidak yang tentunya membuat para pegawai kalang kabut karena tidak persiapan sama sekali, dan benar saja disini terjadi banyak masalah terutama di bagian keuangan. Padahal baru saja sampai sudah dipusingkan dengan berbagai laporan yang janggal, sangat menyebalkan, alamat bakalan lama ini tinggal di sini.
Akhirnya jam kerja pun selesai dan para staff kantor bergegas pulang kecuali bagi yang mendapat surat perintah lembur. Saat ini aku belum pulang karena masih memeriksa beberapa laporan, dan tiba- tiba ada yang mengetuk pintu dan masuk ke ruangan ku.
“Maaf Pak, saya mengganggu, ada hal penting yang perlu saya sampaikan”, ucap orang tersebut.
“Baik, silahkan duduk”,
“Maaf sbelumnya Pak, saya Purnomo Aji manager divisi pemasaran dan promosi produk, begini Pak sudah sejak enam bulan terakhir Pak Latif meminta saya menyelidiki anggaran pemasukan dan pengeluaran perusahaan yang terlihat ada kejanggalan, dan saya sudah mendapatkan beberapa bukti, namun saya simpan di rumah, karena disini merasa tidak aman”.
“Baiklah kalau begitu sekarang kita ke rumah Pak Purnomo, mumpung masih sore”, aku langsung mengajukan untuk segera ke rumahnya kepalang capek hari ini. Dan kami pun berangkat dengan menggunakan mobil yang berbeda agar tidak terlihat mencurigakan, supirku mengikuti mobil Pak Purnomo hingga kami sampai di rumahnya.
Aku dipersilahkan duduk lalu ia masuk mengambil barang bukti beserta berkas- berkas pendukungnya dan kembali setelah beberapa saat. “Silahkan Pak di minum”, seorang wanita datang membawa nampan yang berisi dua gelas the untuk kami berdua, “Mama,,, mau bobo”, tiba- tiba seorang anak kecil datang ke menghampiri kami dengan membawa boneka dipeluknya.
“Aliya”, ucapku saat melihat anak kecil itu, lalu aku melihat ke arah ibunya yang membawakan ku minum tadi, “Loh,, tante Ina”, aku ingat betul ia adalah adiknya Bunda yang tempo hari bertemu denganku di Bandung di rumah Mimih.
“Maaf, Mas kenal dengan saya?”, ucapnya heran.
“Iya Tante, saya Arfin sahabatnya Dandy yang tempo hari pernah ikut ke rumah Mimih di Bandung, dan kita bertemu di sana saat Tante Ina sama Aliya akan pulang ke Surabaya”.
“Oh,, iya,, saya ingat, yang suka dipanggil si Kasep sama Mimih..”.
“Oh,, ya ampun dunia ini ternyata sempit sekali ya”, ucap tante Ina.
“Iyaa,, haii ini Aliya ya,,,” ucapku menyapa anak kecil yang bersembunyi di belakang paha Tante Ina, “Wahh,,nempel sekali ya sama tedy bear nya,, Kak Nanaz sampai mogok makan dan pingsan karena tedy bearnya di culik sama Aliya,,,”, ucapku menirukan gaya anak kecil yang manja.
“Kak Nanas atiitt?”, bayangan mulai mau bicara denganku.
“Iyaa,, katanya pengen ditengokin cama boneka itu katanya”, ucapku masih dengan mode suara anak-anak.
“Poneka, kamu mau nengokin ka nanasgak?”, Aliya bertanya kepada boneka yang dipegangnya.
“Mau,,,”, aku yang menjawabnya.
“Tapi nanti aku cendili om, kalo ndak ada poneka ini”, ucapnya sedih.
“Gimana kalau nanti Om ganti sama yang lebih besaar, sebesar Aliya ,, mau gak?”, ak melakukan penawaran.
“Besal segini”, ucapnya sambil mengangkat tangan ke atas kepalanya, dan aku mengangguk, “Aliya mauuu,, mau yang besal bial ndak di dendong jadi bisa jalan cendili ponekanya”. Ucapnya sangat antusias.
“Baiklah,,nanti om berikan yang besar, tapi besok ya, ini sebentar lagi malam,, nanti om titip ke Papanya Aliya”.
“Papa siapa”, tanyanya terlihat bingung, “Yang ini”, aku menunjuk ke arah Pak Purnomo.
“Itu ayah bukan papa”, ucapnya sambil berkecak pinggang, lucu sekali kelihatannya, Tante Ina dan Pak Purnomo hanya tersenyum melihat interaksi kami yang akhirnya Aliya mau memberikan boneka nya padaku. Aku pun kembali ke pembicaraan dengan Pak Purnomo sampai magrib, dan aku pun ikut shalat di sana, setelahnya aku dipaksa harus makan malam bersama oleh Tante Ina, dan setelah itu aku pun berpamitan pulang membawa serta boneka tedy bear milik Naz dan mengatakan pada Tante Ina kalau boneka itu punya sejarahnya sehingga Naz sangat menyayanginya dan beliau pun memahami.
Di perjalanan aku melihat ada toko boneka, dan aku pun turun sebentar untuk membeli boneka yang ku janjikan, dan setelah aku sampai di sebuah apartemen tempat aku tinggal selama di Surabaya nanti, aku meminta supir kembali ke rumah Pak Purnomo memberikan boneka itu, takutnya Aliya tidak bisa tidur.
__ADS_1
Tak terasa sudah seminggu aku di Surabaya dan permasalahan di kantor pun mulai terselesaikan sebagian, entah mengapa aku begitu merindukan Naz, walau setiap malam kami video call untuk saling bertukar kabar dan membicarakan hal- hal yang tidak jelas sekedar untuk berlama- lama ngobrol. Karena aku punya waktu luang setelah sabtu- minggu lembur, hari senin ini ku putuskan untuk pulang dulu dan kembali besok pagi, aku ingat Naz bilang dia ingin makanan Almond Crispy dan aku pun membelikan satu kodi untuknya, ku masukan ke dalam godie bag agak besar karena sekalian ku masukan boneka tedy bear yang telah dicuci di laundry ke dalamnya.
Saat aku tiba di Jakarta aku dijemput supir dan aku minta dia pulang naik taksi sedangkan aku langsung ke rumah Naz ingin memberinya kejutan, karena ku yakin dia sudah pulang sekolah. Setibanya di rumah gerbang, aku masuk dan terlihat bunda sedang berkecak pinggang dengan raut wajah kesal menatap ke arah ku. “Arfin kalau mau ngajak pergi Naz bilang dong sama Bunda”, ucap Bunda dengan ketus. Aku yang merasa heran malah balik bertanya mengenai keberadaan Naz, dan ternyata dia belum pulang sejak siang tadi, mana ini sudah jam empat sore. Bunda sangat panik dan khawatir begitu juga aku, kemudian stelah sahabat nya Naz datang kami mencari berpencar ke empat tempat dimana Naz sering kunjungi.
Aku bersama Andes kebagian ke panti asuhan ternyata di sana tidak ada, Bude bilang mungkin ke danau aku pun mencarinya dan tidak ada. Dari keempat tempat Naz tidak ditemukan, setelah Ruby menceritakan terakhir bertemu Naz di sekolah lalu kami pun mencari ke sekolah. Aku sudah sangat khawatir takut terjadi sesuatu dengannya, rasanya aku hampir gila karena tak kunjung menemukannya. Seusai shalat kami menemukan petunjuk tas Naz yang masih di kelas dan obrolan petugas kebersihan yang mengatakan ada yang menggedor- gedor dari dalam ruang musik, kami pun mencarinya kesana.
Pak Diman mencoba membuka pintu dengan memasukan kunci satu- persatu yang ia bawa namun tidak ada yan cocok, aku sudah hampir gila menunggu dan emosi ku serasa sudah tak terkontrol, aku memakinya lalu mendobrak pintu dengan penuh amarah hingga lenganku terluka karena tergores gagang pintu, setelah terbuka ku langkahkan kaki memasuki ruang musik yang dari dalam sudah menyeruakan hawa dingin. Kulihat ada seorang murid berseragam tergeletak di lantai, aku berharap itu bukan Naz, namun saat ku dekati, ternyata itu Naz, gadisku tergeletak tak berdaya menggigil kedinginan dengan tangan memeluk dadanya, tubuhku rasanya lemas sekali melihatnya, ku jatuhkan tubuhku hingga duduk di depan Naz yang tergeletak menyamping, ku sentuh pipinya dan itu memang nyata. “Kak Arfin,,, tolong,,,dingin,,,dinginn”, dia merancau dan mengetahui aku ada di sana. Perih sekali rasanya hatiku dan dada ini terasa sesak.
Aku langsung merangkulnya lalu memeluknya agar dia tidak kedinginan, air mataku jatuh begitu saja, ku usap kepalanya hingga punggungnya, ada hal aneh yang kurasakan ternyata bajunya basah dan bau wifol. Aku langsung meminta Ruby memanggil ambulan, kemudian aku membawa Naz ke UKS dengan menggendongnya untuk melakukan pertolongan pertama, ku minta Ruby dan Kiara melepas bajunya Naz dan menggantinya dengan jaketku serta tubuhnya dibaluri kayu putih dan diselimuti. Saat ku menunggu di luar tak terasa air mataku menetes antara sedih dan marah, aku yakin ada orang yang mencoba mencelakainya, lalu ku hubungi Pak Haris agar segera datang ke sekolah dengan alasan ada murid yang kecelakaan di sekolah.
Setelah ambulan datang bersamaan Bunda, Om Rizal, Dandy, lalu Naz dibawa ke rumah sakit sedangkan aku dengan berat hati tidak ikut ke sana, karena ku pikir sudah banyak orang yang menjaganya. Tak lama setelah mereka pergi Pak Haris datang. “, Ada apa Arfin, siapa yang kecelakaan, barusan saya mendengar sirine ambulan”, tanya PaK Haris yang baru datang,
“Ayo kita ke ruang CCTV Pak, disini ada beberapa CCTV bukan”, ucapku dengan nada menahan amarah. Kami pun beserta penjaga sekolah berjalan menuju ruang CCTV dan kemudian melihat rekaman hari ini sedari pagi. Dan di sana terlihat jelas Naz masuk ke ruang musik, kemudian ada seseorang yang masuk membawa sebuah ember, tak lama ia keluar dan mengunci ruangan itu lalu membuang sebuah benda ke semak- semak rerumputan.
“Brengs*ek,,,,”, aku memukul meja dengan penuh amarah.”Dimana tempat tinggal anak itu, cepat bawa aku ke sana menemuinya !! ”, aku benar- benar marah, rasanya ingin sekali aku membunuh orang yang hampir membuat Naz mati kedinginan itu.
“Tenangkan dirimu dulu Arfin, kita tidak bisa pergi kalau kamu dalam keadaan emosi seperti ini”
Aku mendekat dan menarik kerah baju Pak Haris,” Tenang anda bilang,,saya harus tenang,, anda tahu Naz hampir mati kedinginan, jika terlambat menemukannya maka sekolah ini sudah viral karena ditemukan mayat di dalam ruang musik,,,, cepat antarkan saya ke rumah anak itu sekarang juga”, ucapku berteriak penuh emosi, lalu kedua penjaga menarik ku untuk melepaskan cengkraman ku pada Pak Haris.
Aku menarik nafas kasar berkali- kali, lalu aku meminta rekaman CCTV itu di copy ke ponselku, barulah setelah aku sedikit tenang Pak Haris membawaku pergi ke rumah anak itu.”Pa Diman, carikan remot AC yang dibuang anak itu, ingat jangan disentuh langsung pakai tangan, gunakan plastik dan simpan dalam plastik " ucapku berbisik pada Pak Diman dan ia pun menganggukinya, aku langsung berangkat menggunakan mobilku, setelah beberapa saat kami sampai di rumah anak itu dan Pak Haris menekan bel pintu rumah itu, dan saat ada yang membuka pintu yaitu seorang pria, “Mas Haris,, ada apa tumben malam- malam datang kesini?”, orang itu menyapa.
“Dimana anak itu?”, aku langsung menanyakan orang yang kucari dengan nada marah.
“Arfin, tolong tenangkan dirimu, sebaiknya ayo kita masuk ke dalam, Indra bolehkah kami masuk?”,,,, Pak Haris bertanya pada sang pemilik rumah yang nampak ketakutan melihat raut wajahku yang seperti angrybird. Kami pun masuk dan dipersilahkan duduk di kursi tamu, “Indra tolong panggilkan anak bungsu mu ada yang ingin kami bicarakan”, ucap Pak Haris, dan kemudian tak lama datanglah orang tadi bersama anak itu. Aku yang hendak bangkit dari duduk ku ditahan oleh Pak Haris. Anak itu pun duduk sedangkan aku menatapnya dengan tatapan tajam penuh amarah, jika saja dia laki- laki sudah ku habisi sejak tadi.
“Maaf ada apa Om mencari saya?”, anak itu bertanya.
“Tidak usah basa- basi Pak Haris ayo kita bawa anak ini ke kantor polisi”, ucapku masih mode emosi.
“Tunggu, apa ini maksudnya, kenapa anak saya dibawa ke kantor polisi?, Pak Indra merasa heran.
“Anak anda ini sudah melakukan percobaan pembunuhan di sekolah, dan kami sudah punya bukti yang sangat kuat”, ucapku.
“Tidak mungkin, Mas ini tidak benar kan?”, Pak Indra masih tidak percaya.
“Maaf Indra, sayangnya yang dilakukan anak mu sudah keterlaluan, korbannya sekarang masih di UGD”, Pak Haris membenarkan.
“Sherly,, apa benar yang dikatakan Mas Haris”, tanyanya pada siang putri.
“Engak Pah, itu gak benar”, dia mengelak.
“Kami sudah melihat rekaman CCTV dan di situ jelas- jelas kamu pelakunya, Sherly”, ucapku memberi tahu.
“Enggak Pah, aku gak membunuh orang, aku cuman iseng”, akhirnya mengaku.
“Iseng kamu bilang,,,,?? Naz hampir mati kedinginan karena kamu kurung di dalam ruang musik dengan AC suhu terendah sementara remotnya kamu buang dan kamu sengaja menyiram nya dengan seember air yang sudah dicampur pembersih lantai, apa itu bukan percobaan pembunuhan namanya hah?”, Ucapku dengan emosi.
“Sherly,, apa benar itu”, Pa Indra menanyai lagi anaknya yang menangis ketakutan, “Sherly !!!!! ”, dia pun berteriak meminta jawaban.
“Iya Pah,, tapi itu bukan kemauan aku,, aku disuruh Raline untuk mengerjai Naz,,saat aku sedang menelponnya aku dengar Naz belum menyerahkan tugas nya karena sedang di toilet sedangkan yang lain sudah dan gurunya menunggu di ruang musik, saat ke beritahu Raline dia memberiku ide gila itu karena aku juga mempunyai dendam pada Naz karena telah mempermalukan ku dengan menyuruh minta maaf pada nya secara terbuka saat upacara tempo hari. Aku datang ke ruang musik yang ternyata Bu Tika baru saja keluar dan akan mengunci pintunya, namun aku menahan pura- pura ada yang tertinggal di dalam dan akan menyerahkan kuncinya pada Pak Diman,, lalu ku nyalakan AC dengan suhu terendah dan membuang remotnya, saat Naz datang aku bersembunyi di balik tiang dan akau melihat ada ember berisi air, lalu aku masuk menyiram Naz dan langsung menguncinya,, Aku minta maaf,,, aku tidak berniat membunuhnya,,aku minta maaf”, dia pun menceritakannya sambil menangis.
Aku tersentak langsung terdiam mematung, “Jadi dia menyakiti Naz karena dendam merasa dipermalukan saat minta maaf secara terbuka dulu, dan itu aku lah yang meminta dia melakukannya, jadi Naz seperti ini gara-gara aku,, Maaf Naz,,,akulah penyebabnya,,,Maafkan aku Naz…Maafkan aku,,, ", lirih ku ku dalam hati.
------ TBC --------
__ADS_1