Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Akulah Sang ANAS,,, Cahayaku


__ADS_3

Akhir- akhir ini cuaca seakan menggambarkan perasaan Rheanazwa si gadis tengil yang berparas cantik itu, saat ia bahagia dan berbunga- bunga cuaca pun cerah terang benderang, sedangkan saat ia merasa sedih langit biru pun berubah menggelap karena dipenuhi awan hitam keabuan si pembawa hujan. Begitupun dengan hari ini, begitu banyak rasa sedih yang ia dapatkan dari beberapa orang terdekatnya, dari Arfin, dari Raline, juga dari Bu Rahmi yang sudah ia anggap sebagai mamanya sendiri karena sejak bayi Naz pun ikut dirawat oleh beliau. Langit yang sejak tadi nampak gelap akhirnya menurunkan air hujannya membasahi permukaan bumi seolah mewakili kedua manik indah Naz yang sudah lelah mengeluarkan air matta yang kini tengah mengering akibat rasa sakit di ulu hati terdalamnya. Gadis itu nampak tertidur lelap walau di luar begitu berisik dengan suara derasnya hujan.


“Hujan nya deras sekali ya Ar,, untunglah Naz tadi sudah kembali dari danau”, ucap Bude yang baru saja kembali dari dapur dengan membawa nampan berisi dua gelas teh dan sepiring ubi dan singkong rebus yang masih panas dan sepertinya baru diangkat dari pengukusan. “ Silahkan diminum Ar,,, ini juga ada ubi sama singkong rebus, kemarin tetangga yang habis pulang kampung ngasih oleh- oleh sekarung singkong dan ubi”. Ucap Bude mempersilahkan.


“Wah,, pas banget Bude,, hujan- hujan gini makan yang anget- anget”, Arfin pun meneguk teh nya perlahan lalu memakan singkong rebus.


“Iya,,, singkongnya empuk banget katanya singkong galengan sawah, hehehe”. Ucap Bude dan ikut menikmati singkong rebus bersama Arfin. Mereka pun berbincang- bincang sampai tak terasa hujan pun sudah mereda.


“Bude, aku pamit pulang ya,, hujannya sudah reda dan tadi aku sudah kirim pesan ke Dandy supaya mengirim Pak Syamsudin untuk menjemput Naz ke sini,,, terimakasih banyak singkong rebus dan teh nya,, sangat nikmat sekali… mari bude Assalamu’alaikum”, Arfin berpamitan dan menyalami Bude.


“Wa’alaikumsalam,,, hati- hati di jalan ya,,,”,ucap Bude .


Arfin pun langsung pulang dan tak lama setelahnya Pak Udin datang untuk menjemput Naz,, beruntung Naz sudah bangun dari tidurnya dan nampak sedang makan singkong rebus di ruang tamu.


“Naz, jemputan mu sudah datang tuh”, ucap Bude.


“Kok Pak Udin bisa sampai tahu aku ada di sini ya” tanya nya heran.


“Assalamu’alaikum,,, Non sudah siap? Tadi mas Dandy menelpon meminta saya menjemput Non kesini”, ucap Pak Udin.


“Wa’alaikumsalam,,, ohh,, Ka Dandy yang ngasih tahu Pak Udin kalau aku ada di sini,, terus Kak Dandy tahu dari mana?”, ucap Naz yang masih merasa bingung.


“Sudah sana pulang, nanti keburu hujan lagi”, kata Bude sambil tersenyum.


“Bude ngusir aku nih ceritanya… ini sudah jam empat sore ternyata, aku numpang shalat ashar dulu ya,,”, ucap Naz dan bergegas pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu lalu shalat di kamar Bude, seusai shalat Naz baru menyadari sesuatu.


“Perasaan tadi abis shalat dzuhur aku ketiduran di kursi tamu, ko bisa tidur disini ya di kamar Bude,,,?? Apa aku ngelindur ya,,, gak mungkin kan Bude yang gendong aku ke sini”, ucap Naz berdialog sendiri sambil melipat mukena. “Ah sudah lah,, lebih baik aku pulang sebelum Bunda Ratu murka karena aku menghilang dari pesta”, lanjutnya masih berdialog sendiri, kemudian Naz pun keluar dari kamar Bude lalu berpamitan pulang.


Dan benar saja setibanya di rumah sang Bunda langsung membawa Naz masuk ke kamarnya kemudian nyerocos kesal pada Naz yang tiba- tiba menghilang dari pesta, “Kamu teh kemana saja,, menghilang tanpa kabar berita bikin semua orang cemas dan panik nyariin kamu,, untung saja tadi Arfin ngabarin ke Dandy kalau kamu teh lagi ada di panti,, Bunda tuh takut kamu teh hilang lagi kayak sebelumnya, ditambah tadi kita di rumah si Sherly dan ada Raline juga di sana, Bunda teh gak mau kalau mereka jahatin kamu lagi atuh”, ucap Bunda kesal.


“Hehe,, maaf Bunda,, tadi aku bosan gak ada teman di sana,, semua emak- emak sama bapak- bapak,,, jadi aku keluar deh nyari udara segar,, eh tiba- tiba pengen ke danau”, Naz menjawab dengan cengengesan.


“Tapi Sherly sama Raline gak ngerjain kamu lagi kan?”, tanya Bunda...


“Bunda lupa ya,, mereka kan sudah menandatangani surat perjanjian gak akan mengganggu ku lagi,,, lagian kan tadi Kak Sherly terus bersama Mama nya, gak nyamperin aku sama sekali, kecuali saat menyambut kedatangan kita saja”, ucapnya menjelaskan, “Bunda aku lapar, belum makan sejak di pesta tadi”, ucapnya memelas sambil memegang perutnya.


“Yasudah ayok kita ke bawah,,, masih banyak orang di bawah juga,, ehh tapi kamu teh mandi dul saja gih terus ganti baju,, sudah bau asem itu badan mu”, Bunda pun berhasil dialihkan dan Naz melaksanakan titah sang Bunda, setelah selesai barulah ia turun ke lantai bawah yang ternyata di sana ada Mimih, Ayah, Tante Ina, Bunda yang tengah menonton Aliya menyanyi sambil menari- nari dengan tingkah lucunya.


“Wahh,,, ternyata Aliya pinter menyanyi dan menari ya?”, Ucap Naz yang ikut nimbrung duduk di permadani.


“Iya dong,, siapa dulu mama nya”, ucap tante Ina membanggakan diri sendiri.


“Dek,, makan dulu gih,, tadi katanya belum makan sejak siang tadi,,nanti sakit maag mu kambuh”, titah Sang Bunda..


“Oke deh,,”, Naz yang baru duduk bangun kembali dan bergegas pergi ke ruang makan, ternyata di sana ada Dandy yang baru saja duduk untuk makan. “Kak Dandy baru makan juga,,,?”, ucap Naz menghampiri meja makan kemudian mengambil piring dan mengisinya dengan nasi dan lauk pauknya.


“Iya nih,, tadi cuman makan sedikit di rumah Arini, udah ayo kita makan,, nanti kita ngobrol”, Dandy menjawab sambil mengunyah makanannya dan mereka berdua pun makan tanpa berbicara hingga makanan nya habis. “Kamu kok malah pulang duluan sih tadi, jadi gak sempat foto bareng keluarga, kenapa sih?,, tadi Raline juga pamit pulang duluan sama Tante Rahmi,,, kamu bertengkar sama Raline?”, tanya Dandy yang baru selesai menghabiskan minumnya.


“Hadeuhh ini mah perwakilan diplomatic Bunda yang sudah siap menginterogasi ku”, gumam nya dalam hati, “Enggak apa- apa kok,, tadi di sana emak- emak sama bapa- bapa aja dan aku pada gak kenal, jadi bosan deh nyari angin keluar”.


“Untung aja tadi Arfin ngabarin kalo kamu lagi ada di panti, kalo enggak,, Bunda udah mau lapor polisi,, mana ponselmu gak aktif lagi”,.


“Kok Kak Arfin bisa ada di Panti?”, tanya nya heran.


“Katanya dia lagi ngunjungin Bude ternyata kamu lagi boci di sana”, Denda pun menjadi jawabnya.


“Oh,, pantesan dia tahu, tapi pas aku bangun orangnya udah gak ada”, ucapnya bisa gung lagi.


“Yee.. ngapain dia nungguin kamu boci, gak ada kerjaan apa”, Dandy sewot.


“Apa jangan- jangan dia yang gendong aku ke kamar ya??”, Naz kembali bergumam dalam hati.


“Dek,, itu kenapa dekat tulang pipimu kayak lebam gitu”, Tanya Dandy yang memperhatikan pipi Naz yang duduk di sebelahnya.


“Emm,,,, gak apa- apa Kak,,, ini emm tadi jatuh saat tidur”, Naz menjawab dengan gugup, “Aduh,, ini mata Kak Dandy jeli banget sih”, Naz menggerutu dalam hati.


“Jangan bohong,,, kamu berantem sama siapa? Siapa yang mukul kamu? " Dandy terus bertanya


“Hahaha,,, mana ada Kak,,, yang mukul aku nya dalam mimpi kali makanya aku sampai jatuh dari kasur Bude”, Naz mencoba ngeles.

__ADS_1


“Luka jatuh sama dipukul itu beda Naz,, kamu lupa kakak ini seorang dokter?, sekarang bilang sama Kakak siapa yang mukul kamu?? Atau mau Kakak panggilkan Bunda untuk bertanya?”.


“Tapi Kakak janji jangan bilang sama siapa pun termasuk Ayah sama Bunda”, ucap Naz yang sudah tidak bisa mengelak lagi.


“Jadi siapa yang mukul kamu?”, Dandy masih penasaran.


“Janji dulu”, ucap Naz menyodorkan jali kelingking nya untuk mengikat janji.


“Iya Kakak Janji,, sekarang jawab siapa yang mukul kamu?.


“Tante Rahmi…”, Naz menjawab sambil menunduk.


“Apa…?? Tapi kenapa?”, Dandy merasa sangat terkejut mendengarnya.


“Tadinya aku perang adu mulut sama Raline dan dia mengadu kan ku sama Tante Rahmi,, dan beliau marah sampai menampar ku,, “, ucapnya sambil menunduk dengan raut wajah sedih sedangkan Dandy tidak mengatakan hal apa pun lagi, lalu Naz mengangkat pandangannya “Kakak janji jangan bilang sama siapa pun,,, awas ya kalau bilang sama Ayah dan Bunda”.


“Iya,, Kakak ambil salep dulu untuk mengobati memarnya”, ucap Dandy dengan raut wajah sendu menatap adiknya lalu beranjak pergi ke kamarnya, setelah beberapa menit ia kembali datang membawa salep dan dioleskan nya ke wajah Naz yang memar.


“Makasih ya Kak,, “, ucapnya sambil menutup pipinya itu degan rambut lalu beranjak kembali ke ruang tengah ikut nimbrung lagi.


Keesokan harinya pagi- pagi sekali Naz diminta mengantarkan Tante Ina sama Aliya ke Bandara untuk kembali pulang ke Surabaya, saat menunggu kedatangan Pak Udin, yang datang malah Nervan dan dia memaksa untuk mengantarkan mereka, walau sempat ditolak oleh Naz , ia terus memaksa yaa namanya juga Nervan si tukang maksa, akhirnya Naz pun menyetujuinya karena sudah malas untuk berdebat dengan pria yang suka berbicara nyeleneh itu.


Sepulang dari Bandara Nervan hendak mengajak Naz pergi ke suatu tempat, tapi Naz menolaknya dengan ancaman akan loncat dari mobilnya kalau tetap memaksa, akhirnya Nervan pun mengalah dan mengantarkan Naz pulang.


“Yahh,, lampu merah,,,”, ucap Nervan lalu menurunkan kaca pintu mobilnya, “hei cantik kenapa sih kamu jutek banget sama Abang?”.


“Enggak ah biasa aja”, Naz ngeles.


“Ituh ngomongnya kayak gitu,, emang bukan jutek namanya?", Evan malah menggoda Naz.


“Abisnya Bang Evan tuh tukang maksa, nyebelin”, ucapnya merajuk.


“Ahh,, bilang aja kamu marah sama Abang gara- gara Abang sama Raline kemarin ya”.


“Hahahhahaaa”, Naz tertawa dengan renyahnya, “Jangan ngarang deh ,, siapa juga yang cemburu,, yang ada tuh Raline yang cemburu sama aku,, dia tuh naksir berat sama Abang,,,”, ucap Naz disela tertawanya.


“Tapi Abang kan sukanya sama kamu cantik”.


“Udah diem ah gak usah ketawa”, ucap Nervan kesal lalu ia melajukan mobilnya karena lampu sudah berubah hijau.


Setelah menempuh perjalanan beberapa saat mereka pun sampai, Naz membuka kan pintu gerbang dan Nervan pun memasukan mobilnya, kemudian setelah terparkir Nervan pun keluar dari mobilnya.


“Heh cantik mau kemana tungguin dong“, ucapan Nervan tidak digubris dan Naz langsung masuk ke dalam rumahnya begitu saja .”Eh,, itu tasnya ketinggalan “, Ucap Nervan yang melihat tas Naz di jok bekas tempat duduk Naz, dan ia pun mengambilkannya.


Baru saja Nervan menutup pintu mobilnya… Bughh,,, seseorang memukulnya sampai ia jatuh tersungkur.


“Apa- apa an ini,, maksudnya apa tiba- tiba mukul,,, apa salahku?”, Nervan bertanya sambil memegang pipinya yang kesakitan.


“Jangan jadikan Naz sebagai mainan lo seperti perempuan lainnya”, ucapnya penuh ketegasan.


“Aku tidak berniat mempermainkannya, aku sudah mendekatinya saat kau baru pulang dari Amerika”


Bugh … Arfin kembali memukul Nervan sampai kembali jatuh.


“Bang Evan”, ucap Naz kaget yang beru saja keluar dari pintu rumahnya,


Mendengar itu Arfin langsung menarik kerah baju Nervan dan memberinya tatapan kemarahan.


“Lepaskan dia,, Kak Arfin apa-apaan sih”, Naz mendorong tubuh Arfin.


“Kenapa Naz,, apa kau menyukainya,, apa karena dia kau menolak ku ,,hah?”.Arfin bertanya masih dengan tatapan kemarahan.


“Jadi saat kau dekat dengan ku,,,,kau juga dekat dengannya Naz?”, Arfin kembali bertanya dengan tatapan kemarahannya, sedangkan Naz hanya diam membisu, “Jadi benar kata Raline,, ?? bagaimana bisa kamu dekat dengan dua orang pria sekaligus Naz,,, hehhh,,, aku tidak menyangka kamu seperti itu”, ucapnya tersenyum sinis lalu beranjak pergi.


Naz hanya diam mematung mendengar perkataan terakhir Arfin lalu ia terkulai lemas menjatuhkan dirinya ke lantai, “Kenapa aku harus mendengar kalimat itu dari mulutmu kak”, lirihnya dalam hati dan tanpa terasa air mata pun jatuh membasahi pipinya.


Nervan menghampiri Naz, “Naz,,, ada hubungan apa kamu dengan Arfin,,, ? apa kamu wanita yang dicintainya itu??... apa kamu juga mencintainya Naz”, Ucap Nervan dengan nada serius.”Naz,,, jawab Abang, Naz !”. Nervan meminta jawaban dengan nada tegas.


“Bukan urusan Bang Evan”, ucap Naz menghapus air matanya lalu berlari keluar pintu gerbang dan terus berjalan menuju ujung jalam kompleks mencari ojek dan ia pun mendapatkannya dan meminta ojek itu mengantarnya ke suatu tempat.

__ADS_1


Nervan hanya diam mematung kerena terkejut dengan apa yang diketahuinya hari ini, “Van,, kenapa muka lo bonyok gitu?”, tanya Dandy yang muncul dari pintu gerbang,


“Gak apa-apa Dan… ini tas nya Naz tadi ketinggalan di mobil,, gue mau pulang dulu”. Ucap Nervan dengan wajah yang terlihat bingung.


“Mendingan lo masuk dulu deh, biar gue obatin duu muka lo itu”.ucap Dandy menawarkan.


“Gak usah Dan,, gue langsung pulang aja ya”, ucap Nervan membuka pintu mobilnya dan langsung masuk, kemudian ia pun langsung bergegas pulang, sedangkan Dandy masuk ke dalam rumahnya dengan perasaan heran dan bertanya-tanya dalam hatinya.


Setelah beberapa saat kemudian terdengar suara bel berbunyi ting nong…. Mbak Iyem langsung membuka kan pintu, “Eh,, Neng Ruby sama Neng Kiara silahkan masuk”.


“Terimakasih Mbak,,, ayok Ra,, Kak kita masuk”, Ruby pun masuk diikuti oleh Kiara dan Arfin.


“Hai calon pengantin,, lagi ngapain?”, Ruby menyapa Dandy yang sedang duduk di kursi tamu sambil melihat- lihat album.


“Ini lagi nyari foto masa kecil buat foto prewed nanti, ayo sini duduk,, kok lo bareng mereka sih Ar?”.tanyanya heran.


“Tadi kita ketemu di jalan Kak,, wahh,, itu kan album punya Naz ya,, kita lihat yuu...di sana kan banyak foto masa kecil kita”, Ruby mengajak Kiara duduk bersebelahan dan melihat- lihat foto di album sedangkan Arfin duduk di kursi dekat dengan Dandy.


“Itu berkas apa Dan?”, Arfin bertanya.


“Oh fotokopian kartu keluarga buat persyaratan , daftar nikah”, jawab Dandy.


“Cepet banget udah mau daftar lagi aja,,,”, ucap Arfin lalu mengambil kertas tersebut dan membacanya, Arfin nampak terkejut dengan nama yang ada di daftar paling bawah anggota keluarga, "Rheanazwa Eleanoor Harfi”, gumamnya dalam hati.


“Eh Kak Arfin lihat deh,, coba tebak ini siapa?”, Tanya Ruby sambil memperlihatkan foto seseorang.


“Foto siapa itu?”, Arfin memperhatikan foto itu dengan seksama.


“Ini foto Naz waktu masih SD,,, gak kenal yaa,,, dia tuh dulu gendut banget,, sekarang aja langsing”, ucap Ruby.


“Oh ya, by the way Naz dimana Kak,,, kita kesini kan mau ketemu dia”, ucap Kiara.


“Gak tahu, dari tadi pagi habis nganterin Tante Ina ke bandara belum kelihatan lagi”, jawab Dandy lalu Kiara mengeluarkan ponselnya mencoba menghubungi Naz dan terdengarlah suara deringan ponsel dai dalam tas yang tergeletak di atas kursi, lalu Ruby mengambil tas tersebut dan membukanya,


“Yaelah,,,tas dan ponselnya ada di sini”, ucapnya menarik ponsel dari dalam tas, plukk “Opss,,, mainan keramat Naz jatuh”, ucap Ruby.


“Ini punya siapa Ruby”, ucap Arfin yang mengambilkan mainan itu.


“Itu,,,?? Itu be smile mainan keramat milik Naz”, jawab Ruby dengan santainya.”Yah,, kalau Naz gak ada kita pulang agi aja yuk Ra”, ajaknya.


“Aku pulang duluan ya”, ucap Arfin bangkit dari duduknya lalu ia bergegas pergi keluar.


" Ehh,, yang ngajak pulang gue,, kok yang pamit dia ya? ", ucap Ruby heran.


Sementara di tempat lain terlihat seorang gadis yang tengah duduk di bangku besi tepi danau memeluk kedua kakinya dan menundukkan kepalanya sambil menangis,”Huhuhu,,,hiks hiks.. huhuhu hiks hiks,,,”.


“Dek,, kamu kenapa,,? Kok nangis sendirian di sini”, seseorang bertanya pada Naz namun tidak digubrisnya dan masih khusyu menangis, kemudian orang itu duduk di bangku yang sama tepat di sebelah Naz yang sedang menangis menghadap ke samping, sehingga seolah mereka tengah duduk berhadapan.


“Dek, kamu kenapa,,, seharusnya jam segini kamu masih di sekolah kan?”, orang itu kembali bertanya, namun Naz tetap tidak menggubrisnya.


“Dek, nanti kalo Adek berhenti menangis Kakak akan kasih kamu sesuatu deh,, nih coba lihat”, orang itu menelungkup kan kedua tangannya menyembunyikan sesuatu didalamnya dan Naz pun menghentikan tangisannya sejenak lalu mengangkat kepalanya yang sejak tadi menunduk, alangkah terkejutnya dia melihat orang yang duduk di hadapannya itu, tapi orang itumalah tersenyum.


“Ini sulap loh,, kalo kamu berhenti menangis maka saat kamu ketuk iya kan mengeluarkan hadiah, jika kamu masih menangis,,,,,,”., belum juga ucapannya selesai langsung dipotong oleh Naz.


“Cukup,,, hentikan,,,hiks hiks hiks,,, dari mana Kakak tahu tentang ini ?”, ucap Naz setengah berteriak disela- sela tangisannya.


“Aku minta maaf soal kejadian tadi Naz,,, aku tidak bermaksud berkata seperti itu,aku hanya takut jika dia menjadikan mu mainannya seperti gadis lainnya”, ucapnya dengan tatapan sendu.


“Aku tidak mempertanyakan kejadian tadi,,, dari mana Kakak tahu soal kalimat yang kakak ucapkan barusan”.Naz kembali bertanya sambil sesenggukan.


“Aku tidak perlu mencari tahu dari orang lain, karena kalimat itu aku sendiri yang melontarkannya saat pertama kali melihatmu menangis di sini”, ucapnya dengan memberi tatapan teduh pada Naz.


Naz malah menggelengkan kepalanya dan masih tidak percaya, “Bohong,,, pasti Kakak bohong”, ucapnya lalu bangkit dari duduknya dan melangkahkan kakinya hendak pergi.


Orang itu pun berdiri “Tujuh tahun yang lalu, aku sedang memuaskan diri memandangi danau yang akan ku tinggalkan pergi ke Amerika, tiba- tiba ada seorang anak bertubuh bongsor serta gemuk datang lalu dia duduk di bangku ini sambil menangis dengan menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya. Aku yang saat itu memakai kursi roda dengan kepala di perban dan wajahku masih memar karena sudah mengalami kecelakaan seminggu sebelumnya, menghampiri anak itu dan berusaha menenangkannya dan akhirnya ku berikan mainan ku yaitu be smile padanya untuk menghiburnya. Dan setelah tiga tahun kemudian aku menemukan akun facebook yang foto profilnya menggunakan foto be smile, dan kami pun sering berkomunikasi lewat inbox”, ucapnya menjelaskan dan mampu menghentikan langkah Naz.


“Dan ternyata pemilik akun itu adalah kamu Naz,,,, kamu adalah Eleanoor,,,, kamu adalah Cahayaku… Cahaya untuk sang Anas”., ucapnya lagi dan Naz pun membalikan badannya kembali menghadap ke orang itu.


“Kak Anas,,,,”, Lirih Naz.

__ADS_1


“Iya,,, akulah Anas,,, akulah Sang ANAS,,, Cahaya ku ”, ucapnya dengan suara lemah lembut.


----------------- TBC --------------


__ADS_2