
Hari ini begitu cerah dan matahari pun seolah meratakan sinar nya ke belahan bumi yang sedang dalam posisi siang hari, namun ada yang berbeda, kali ini cuacanya berbanding terbalik dengan perasaan Naz yang tengah mendung dipenuhi awan hitam hingga hujan air mata pun tak terbendung lagi setelah merasakan kilatan petir disiang bolong yang seolah menyambar dirinya dengan begitu dahsyatnya.
Naz yang masih syock dengan apa yang dilihat dan di dengarnya terus berlari dengan air mata yang terus mengalir membanjiri pipinya, rasa sesak di dada terus berkecamuk dalam dirinya, ia berlari menyusuri jalanan sepi. Saat tiba di depan jalan raya Naz mengedarkan pandangannya untuk menghentikan sebuah taksi, dan setelah menunggu beberapa saat sambil terus menyeka air matanya, akhirnya ada sebuah taksi lewat dan Naz menghentikannya, ia pun langsung masuk ke dalam taksi dan memberitahukan alamat tujuannya.
Naz mengeluarkan ponsel dari dalam tas nya lalu ia menghubungi seseorang, “Hallo Ra,, hiks hiks,, lo di rumah gak?,,, gue mau ke situ sekarang,,, hiks hiks…”, Naz bicara sambil sesenggukan.
“Naz ,,, lo kenapa? Kok lo nangis,,,, ?”, tanya Kiara yang terdengar panik.
“Nanti gue cerita di rumah lo, Ra,,, hiks hiks…”.
“Iya iya,,, gue lagi on the way pulang,,, kita ketemu di rumah gue ya,,,, ”,ucap Kiara.
Di sepanjang perjalanan Naz terus menangis dan setelah beberapa saat taksi yang ditumpangi Naz sampai di depan gerbang rumah Kiara dan berbarengan dengan sebuah mobil yang baru sampai juga di sana. Naz langsung membuka pintu lalu keluar dari taksi tersebut dan menutup pintunya kembali dan ternyata Kiara juga baru keluar dari mobil yang berhenti di belakang taksi tersebut, Naz langsung berlari memeluk Kiara.
“Kiara,,,, huwaaaaaa,,,,, huaaaaa”, Naz menanhis dengan kencangnya seolah meluapkan kesedihannya.
“Naz,, lo kenapa,,,, ayok kita masuk ke dalam”, ucap Kiara panik.
“Tunggu,,,,”, sopir taksi yang terlihat masih muda itu keluar dari mobilnya tiba- tiba berteriak dan menghampiri Naz yang sedang menangis di pelukan Kiara,”Saya minta maaf sebelumnya mbak,,,,, ”.
“Oh,,, jadi lo yang udah bikin sahabat gue nangis kejer kayak gini? Berani banget lo”, Kiara langsung ngegas pada sopir taksi tersebut, kemudian Kiara melepaskan pelukan Naz.
“Bu bukan,,,, bukan saya Mba,, eh maksud saya,,,, saya cuman….. “,,, bugh,,,, belum selesai sopir taksi itu bicara Kiara langsung memberinya bogeman dan sopir taksi itu langsung jatuh tersungkur.
“Heh,,, berani banget lo macem- macem sama sahabat gue,,, gue laporin lo sama perusahaan taksi lo,, bahkan laporin ke polisi sekalian,,, “,Kiara emosi.
“Kiara,,, ada apa ini,,,??”, tanya lelaki yang mengantar Kiara pulang.
“Udah diem aja,,, ini urusan ku,, siapa saja yang berani mengganggu sahabatku dia berurusan dengan ku”,ucap Kiara .
“Ra,,, lo ngapain sih malah nonjok sopir taksi itu,,,, ? gue kan belum selesai nangisnya…”, ucap Naz disela tangisannya.
“Lo nangis gara- gara sopir taksi itu macem- mecem sama lo kan?? “, tanya Kiara sotoy.
“Bukan,,, gue bukan nangis karena dia,,, hiks hiks,,, “, ucap Naz.
“Terus kenapa tadi dia bilang minta maaf sama Lo ,,?", tanya Kiara heran .
“Mana gue tahu,,, hiks hiks”.
“Mbak,, saya tadi minta maaf karena mau nagih ongkos taksi yang belum dibayar sama Mbak yang nangis itu,,, saya juga gak tahu kenapa Mbak itu nangis, karena sebelum menaiki taksi saya dia sudah menangis dan sepanjang jalan juga terus menangis,,, jadi bukan salah saya…. “, sopir taksi menjelaskan sambil meringis kesakitan.
“Yaelah,,, kenapa lo gak bilang dari tadi,,,," ucap Kiara pada sopir taksi, " lo lagi Naz bikin malu aja naik taksi gak bayar ongkosnya”, Kiara menggerutu kesal pada Naz.
“Maaf Mas,,, tadi saya lupa,, saking sedihnya saya pikir tadi saya diantar sopir pribadi saya,,, ternyata saya naik taksi yaa,,,hiks hiks,,, “, ucap Naz yang masih menangis, lalu ia mengambil dompet dari dalam tasnya dan mengambil lima lembar uang seratus ribuan,”Ini Mas ongkosnya,,,, hiks hiks”,Naz menyodorkan uang itu pada sopir taksinya.
“Tapi Mbak,,, ini kebanyakan,,, Cuma 42 ribu kok ongkosnya”, ucap Sopir taksi.
“Gak apa- apa Mas anggap aja itu uang bayaran karena tahan mendengar tangisan saya selama di perjalanan tadi,,, hiks hiks,,, sekalian buat berobat akibat bogeman Kiara”,ucap Naz
“Te terimakasih Mbak,,,, “, ucapnya.
“Ra,,, ayo kita masuk ,,, gue masih mau lanjutin acara nangis gue ini,,,,, huwaaaa,,,,,”, Naz yang terus menangis mengajak Kiara masuk seolah Kiara lah tamu dan Naz sang pemilik rumah.
Kiara menggelengkan kepalanya, “ Ternyata lo kalo lagi sedih bisa hilang akal juga ya,,, ayok kita masuk”, Kiara menuntun Naz dan mengajaknya masuk ke rumahnya,”Pak,, saya masuk dulu ya”, Kiara pun pamit pada pria yang tadi bersamanya itu.
Kiara membawa Naz masuk ke dalam kamarnya dan seperti biasa kalo Naz sedang menangis masuk ke kamarnya langsung tengkurap di atas tempat tidur dengan membenamkan wajahnya pada bantal.
Hwaaaaaaaa,,,,,, hwaaaaaaa,,,,, Naz terus menangis sekencang mungkin. Kiara meninggalkannya sebentar untuk membawakan Naz air minum dan cemilan. Saat kembali Naz masih menangis, dan Kiara pun menghampirinya dan duduk di atas tempat tidur di samping Naz yang masih sibuk menangis.
“Naz,,, lo sebenernya kenapa sih,,, kok bisa nangis kayak gini…?? Siapa yang udah bikin lo kayak gini?”, tanya Kiara.
“Sakit banget Ra hati gue,,, sakiiiitt,,,, hwaaaaaaaaaa,,,,, “.
“Iya,,, tapi kenapa?? Udah dong nangisnya,,, gue bosen banget lihat lo nangis,,, “,Kiara menggerutu.
“Kak Arfin, Ra,,,, ternyata dia punya mantan pacar saat SMA nya dulu hwaaaaaa”, ucap Naz.
“Yaelah,,,, gue pikir kenapa,,, yaa wajar kali,, dia kan umurnya udah 26 tahun dan hidupnya 9 tahun lebih dulu dari lo,, ya wajar aja kalo dia punya mantan,,, noh si Ruby aja punya banyak mantan,,, lagian ya Naz yang namanya mantan itu kan masa lalu,, yang penting kan masa sekarang Kak Arfin itu sama lo,,, dan dia juga kan sayang banget sama lo,,, udah deh gak usah nangisin mantan Kak Arfin, gak jelas banget tahu gak sih lo”, Kiara ngomel.
__ADS_1
“Huaaaaa,,, ini gak sesederhana yang lo pikiran Ra….”.
“Ya ya ya,,, gue tahu kok kalo gue ini belum punya pengalaman soal pacaran atau mantan apalah,,, tapi melihat pengalaman nya si Ruby, gue bisa sedikit tahu dari situ Naz,,, emangnya lo dapat info dari mana soal mantan Kak Arfin…?” tanya Kiara.
“Awalnya gue tahu dari si Embe, terus gue tahu dari Kak Nadine, ditambah ada bukti foto kebersamaan mereka",Naz mulai menjelaskan.
“Hah,,, si Embe,,,? dia tahu dari mana coba,, kenal sama Kak Arfin aja enggak,,, kalo Kak Nadine itu kan lo tahu sendiri dia naksir berat sama Kak Arfin, jadi lo gak usah percaya sama semua omongannya,, yang ada tuh ya dia malah senang kalo lo ribut sama Kak Arfin, apalagi kalo kalian sampe putus, beuh bisa hajatan 7 hari 7 malam dia,,,,”, Kiara ngoceh.
“Waktu gue ketemu Embe abis pertandingan itu, dia nanyain gue udah punya pacar apa enggak, terus dia minta gue kasih lihat foto cowok gue,, ehh pas dilihatin si Embe kenal sama Kak Arfin bahkan dia tahu namanya itu Anas yang suka balapan, dan katanya dia suka nonton kalo Kak Arfin ikutan balapan motor. Si Embe juga bilang kalo dia sering lihat Kak Arfin ngebonceng mantannya itu karena tempat tinggalnya ngelewatin rumah neneknya si Embe,,, dan apa yang di bilang si Embe sama dengan yang dibilang Kak Nadine sama gue Ra,,, huhuhuhuhu”, Naz menjelaskan duduk perkaranya sambil terisak.
“Hah,,, rumah neneknya si Embe yang deket SD kita dulu ??”.
“Iya Ra,,, dan ternyata mantan pacarnya Kak Arfin itu namanya Humaira keponakannya Bude Hafsah,,,, huhuhuhuhu”, ucap Naz.
“Apa,,,, ?? keponakan Bude Hafsah pengurus panti asuhan deket SD kita dulu?”, tanya Kiara yang merasa terkejut.
“Iya Ra,,,, dan sekarang Kak Maira itu datang lagi kesini sama Ibu dan anaknya karena Bude Hafsah sakit, mau ikut ngurusin katanya”.
“Tunggu- tunggu ,,, kok gue bingung ya,,, kok lo bisa tahu kalo keponakan Bude itu mantannya Kak Arfin? ,,, lo berhenti dulu dong nangisnya,, cerita yang bener deh ,,,puyeng tau gak gue dengernya juga, otak gue sulit mencerna inih”, Kiara langsung protes sambil ngegas karena kesal.
Naz kemudian mulai berhenti sejenak dan ia meneruskan ceritanya walau sambil sesenggukan, “Kan seminggu yang lalu gue main ke panti, di sana gue melihat ada anak kecil yang menurut gue asing sedang main bersama anak panti lainnya, dan ternyata itu anaknya Kak Maira keponakannya Bude yang datang dari Jogja karena mendengar Bude sakit sampe dirawat di rumah sakit, Kak Maira itu tidak bisa melihat. Nah beberapa hari setelah itu gue denger cerita soal mantan Kak Arfin yang ternyata anak panti itu dari si Embe, tadinya gue mau nyari tahu siapa mantannya Kak Arfin jadi gue main ke panti”, ucapan Naz terhenti karena ia mengelap ingusnya dengan tisu.
“Terus saat ke sana gue malah ngobrol sama Kak Maira dan anaknya nangis karena bonekanya rusak, akhirnya gue ajak mereka jalan ke mall, karena gue merasa iba sama anaknya yang ternyata tidak tahu siapa ayah nya dan gak pernah main keluar. Nah saat gue di mall gue gak sengaja ketemu Kak Nadine, dan dia merasa heran gue bisa akrab dengan mantannya Kak Arfin yang ternyata orangnya itu Kak Maira. Gue kaget banget waktu itu Ra,, gue sampe diem lama di toilet”.
“Yaudah Naz,,, dia kan cuman mantannya Kak Arfin dan cuman bagian dari masa lalu nya, jadi jangan lo pikirin lagi, nanti malah merusak keharmonisan hubungan lo sama Kak Arfin deh”, Kiara menasehati.
“Masalahnya Ra,,, jumat kemaren pas gue baru mengetahuinya, Kak Arfin jemput gue ke panti, dan saat di dalam mobil gue lagi pasang sabuk pengaman dia melihat Kak Maira di depan pintu panti, dan dia terus memandanginya sampai gue ngomong aja gak digubris sama dia,,, nyesek rasanya Ra”.
“Apa,,,?? Kak Arfin udah ketemu sama mantannya itu?”, Kiara kembali terkejut.
“Dan waktu itu dia baru pulang dari Singapura sengaja jemput gue ke panti, tapi pas di jalan dia gak ngomong apa- apa, kayak ngelamun gitu, bahkan dia gak mau mampir dengan alasan capek pengen istirahat,,,, saat itu perasaan gue gak enak Ra,,, dan lo tahu,,, tadi gue baru tahu kalo ternyata Kak Arfin gak langsung pulang tapi dia malah balik lagi ke panti untuk menemui Kak Maira ,,,, huwaaaaaaaa, sakiit hati gue Ra sakiiitt…. ”, ucap Naz yang kembali menangis mengingat kebohongan Arfin itu.
Kiara malah diam mematung setelah mendengar penjelasan Naz itu, “Naz,,, gue gak tahu musti ngomong apa,,, tapi gue masih gak percaya kalo Kak Arfin bisa bohongin lo untuk bertemu dengan mantan nya,,, selama ini gue lihat dari tindakan nya Kak Arfin itu sayang banget sama lo Naz”.
“Gue juga awalnya gak percaya Ra,,, sejak dia nganter gue itu terakhir ketemu, dia gak pernah nemuin gue cuman by phone aja, dan hari ini dia janji sama gue mau ngajak jalan, tapi subuhnya dia nelpon gue dan membatalkan janjinya dengan alasan mau nganter Mami nya ke Depok menjenguk sodara nya yang sakit,,, tapi waktu tadi siang gue ke panti,,, gue lihat dia ada di sana lagi main sama anaknya Kak Maira,,, dan Kak Mina bilang sejak jumat sore itu Kak Arfin setiap hari datang ke panti,,, hiks hiks hiks,,,, lo bayangin Ra, dia gak ada waktu ketemu sama gue, tapi dia datang setiap hari ke panti untuk bertemu mantannya itu Ra,,,, makin sakit hati gue Ra,,,huhuhuhuhuhu”.
“Ada satu hal lagi yang bikin hati gue hancur sehancur hancur nya Ra,,, tadi anaknya Kak Maira bermain bersama Kak Arfin dan anak itu memanggilnya Papa,,,, hwuaaaaaaaaa”.
“Apa,,,,? Jadi maksud lo Kak Arfin ayahnya anak itu??”, Kiara terkejut kesekian kalinya.
“Kayaknya sih gitu Ra,,,, saat gue denger ceritanya dia bilang kalo cowoknya itu kuliah di luar negeri dan setelah cowoknya pulang seusai wisuda, Kak Maira bilang dia ninggalin cowoknya itu karena di gak bisa melihat lagi,, dan kalau di hitung berarti saat itu dia baru hamil anaknya. Dan lo tahu Kak Arfin bilang dia sempat pulang saat lebaran dan sehabis wisuda S1 nya,,, “.
“Naz,,, Kak Arfin kan rajin ibadah,,, gak mungkin dia sebejat itu sampai ngehamilin anak orang,,, apa selama ini dia suka macam- macam sama lo?” tanya Kiara penasaran.
“Enggak,,,, dia gak pernah macam- macam sama gue Ra,,, dia bener- bener menjaga gue,,,,”, jawab Naz.
“Terus kenapa lo bisa yakin kalo anak itu anaknya Kak Arfin,,, ? bisa aja anak itu asal manggil Kak Arfin dengan sebutan Papa karena dia gak pernah tahu siapa ayahnya kan, jadi dia butuh figur seorang ayah,,, “ucap Kiara berfikiran positif, “Naz, terkadang apa yang kita lihat dan kita dengar itu tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya,,, kalo menurut gue lebih baik lo bicarain ini langsung dengan Kak Arfin, karena yang gue tangkep dari tadi lo tahu semua itu dari orang lain bukan langsung dari dua lelakon itu,,, apa lo udah tanya sama Kak Maira itu soal kebenaran ini?”.
Naz menggelengkan kepala, “Tapi kata Bunda, Kak Arfin dulunya anak yang bandel dan suka bergaul dengan preman,, kan bisa saja dulu dia khilaf…..”, ucap Naz ngelantur.
“Astaga Naz,,, lo jangan berpikiran negatif gitu yang nantinya akan menimbulkan prasangka buruk di pikiran lo,,, selama ini lo tahu dan merasakan sendiri bagaimana kebaikan Kak Arfin sama lo,,, jangan cuman karena hasutan orang atau gossip yang belum tentu kebenarannya membuat lo salah menilai cowok lo sendiri dan berpikiran buruk tentangnya,,, kalo lo terus kayak gini hubungan kalian bisa langsung the end tahu gak“, Kiara kembali menasehati.
“Terus gue musti gimana Ra…?? Gue bener- bener bingung,,, di satu sisi gue sayang banget sama Kak Arfin dan gue gak mau kehilangan dia,,, tapi di sisi lain jika memang benar Syanala itu anaknya Kak Arfin dan Kak Maira, mereka jauh lebih membutuhkan Kak Arfin dibanding gue Ra,,,, huhuhuhu”.
“Kalo menurut saran gue, lebih baik lo bicarain semua ini langsung sama Kak Arfin biar semua nya jelas,,, udah ah jangan nangis lagi, bosen gue lihat lo nangis mulu kalo dateng kesini,,,, “, Kiara memberi saran lalu mengejek Naz, “Eh sumpah ya gue ngenes sama si Embe,, baru ketemu lagi kok malah jadi biang kerok gini, ntar gue pites tuh anak”, ucap Kiara kesal.
“Makasih ya Ra,,, lo emang sahabat gue paling T.O.P B.G.T,,,”, ucap Naz lalau memeluk sahabatnya, “Eh,, tunggu ,,, kok gue baru nyadar tadi lo abis jalan sama Pak Emir ya?”, tanya Naz saat melepaskan pelukannya dan Kiara langsung gelagapan.
“It itu,,, emm,,, tadi gue,, emmm,,,”, Kiara bingung harus berkata apa.
“Ngaku aja kali Ra,,, jadi lo beneran pacaran sama Pak Emir?”.
“Eng enggak kok Naz,,, gue cuma deket aja sama dia, gak lebih”, jawab Kiara gugup.
“Halah,,, deket nantinya lama- lama kalian sama kayak gue dulu sama Kak Arfin,, hahahhaa”, Naz tertawa di tengah sesenggukan nya.
“Gak usah ngarang deh lo…..”.
Setelah curhat habis- habisan dengan sahabatnya, Naz pun sudah merasa tenang dan ia pun berencana menjalankan saran dari sahabatnya itu untuk berbicara langsung pada Arfin, namun untuk saat ini ia lebih memilih pulang saja untuk menenangkan diri dan tidak menghubungi Arfin dulu.
__ADS_1
Selama tiga hari ini Naz dan Arfin hanya berkomunikasi lewat chat saja, karena saat Arfin ingin menelponnya atau video call Naz selalu beralasan mengerjakan tugas padahal dia masih merasa belum siap untuk berbicara dengan Arfin.
Hari kamis ini Arfin yang sudah sangat merindukan kekasihnya itu sudah tidak bisa menahan dirinya lagi dan ia pun menjemput Naz ke sekolah untuk mengajaknya makan siang di luar. Naz pun tidak bisa menghindar lagi dan ia pun menerima ajakan Arfin tersebut, ia berfikir mungkin ini sudah saatnya ia menanyakan hal itu langsung pada Arfin.
Kini mereka telah duduk di sebuah kafe dan sedang menunggu pesanan makanannya.
“Sayang,,, aku kangen banget sama kamu,, akhirnya kita bisa bertemu juga”,ucap Arfin memegang tangan Naz.
“Aku juga,,, “, jawab Naz tersenyum.
“Maaf ya selama seminggu ini aku sibuk terus,,, dan sebenarnya aku ngajak kamu kesini mau membicarakan sesuatu sama kamu”.
“Oh ya?? Aku juga ingin membicarakan sesuatu sama Aa,,,”, ucap Naz.
“Soal apa ?”, tanya Arfin.
“Emmm,,, sebenarnya aku mau menanyakan soal………..”, belum selesai Naz berbicara ponsel Arfin berdering yang menandakan ada panggilan telepon.
Arfin mengambil ponsel dari saku celananya dan dia terlihat terkejut saat melihat layar ponselnya, “Sebentar ya sayang,,, aku angkat telepon dulu”, Arfin lalu berdiri dan berjalan agak menjauh dari meja mereka.
Naz memperhatikan Arfin yang sedang berbicara entah dengan siapa dan terlihat serius, lalu Arfin menghampiri Naz kembali setelah mematikan sambungan teleponnya, “Sayang,,, aku benar- benar minta maaf,, aku harus segera pergi ada urusan penting,,, “, ucapnya.
“Tapi makanannya,,,? kita kan udah pesan”,Naz protes.
“Maaf sayang kamu makan sendiri aja ya,, aku benar- benar harus pergi,,, nanti aku telepon Pak Udin buat jemput kamu di sini ya… aku benar- benar minta maaf sayang,, aku pergi dulu,,, ini buat bayar makanannya”, Arfin menyimpan beberapa lembar uang seratus ribuan di atas meja lalu ia bergegas pergi.
Naz hanya terdiam sejenak seolah meratapi kepergian Arfin yang meninggalkannya sendirian di kafe tersebut, “Hal penting apa yang membuatnya meninggalkan ku di sini,,, dia tidak pernah melakukan ini sebelumnya,,, ada apa lagi ini?”, Naz bertanya- tanya dalam hatinya.
Tiba- tiba pelayan datang membawa makanan yang sebelumnya dipesan oleh Naz dan Arfin, akhirnya Naz meminta makanannya agar dibungkus saja, ia berfikir lebih baik dibawa pulang daripada mubazir, karena selera makannya sudah hilang.
Naz pulang dengan menaiki taksi, karena jika menunggu Pak Udin pasti lama. Sesampainya di rumah Naz memberikan bungkusan makanan itu pada Mbak Iyem sedangkan ia langsung pergi ke kamarnya. Naz mandi lalu berganti pakaian rumahan, ia pun duduk santai di tempat tidurnya sambil membaca komik kesukaannya.
Entah mengapa ia teringat pada Bude Hafsah yang sebelumnya Naz tidak jadi menemuinya saat beliau pulang dari rumah sakit, lalu ia pun menelpon Bude Hafsah.
“Hallo assalamu’alaikum, Bude”,ucapnya.
“Wa’alaikumsalam Naz,,, “, Bude menjawab.
“Bude, maaf aku belum sempat menjenguk lagi setelah Bude pulang dari rumah sakit”, ucap Naz.
“Gak apa- apa Naz,, terimakasih banyak ya,, kamu dan Papa mu sudah banyak membantu Bude,, semoga Allah membalas kebaikan kalian”.
“Amiin yarobal’alamiin,,, sekarang bagaimana kondisi kesehatan Bude?”.
“Alhamdulilllah sudah membaik,,, sekarang malah Nala yang sakit”, Bude memberitakan.
" Nala sakit apa Bude?", tanya Naz.
“Nala demam tinggi sejak semalam,,, dan anehnya dia terus mengigau ingin bertemu dengan Arfin”, jawab Bude.
“Hah,,, ingin bertemu Kak Arfin?”, tanya Naz heran.
“Iya,, Arfin pacar mu itu sudah beberapa hari ini sering kesini kata Mina, dan ia sering menemani Nala bermain,, mungkin karena itu Nala merasa dekat dengannya, dan anehnya tadi setelah Arfin datang panasnya mulai reda, sekarang aja Arfin masih di sini karena Nala tidak mau lepas dari gendongannya, sampai makan dan minum obat saja mau sama Arfin”.
Naz sangat terkejut mendengar penjelasan Bude, “Oh gitu ya Bude,,, oh ya Bude udah dulu yaa aku mau shalat ashar dulu,,inget ya Bude harus selalu jaga kesehatan jangan terlalu capek,,, assalamu’alaikum Bude”.
“Iya Naz , wa’aalikumsalam”.
Setelah menutup sambungan teleponnya Naz langsung tengkurap dan membenamkan wajahnya pada bantalnya, ia menangis sejadi- jadinya.
" Hwaaaaaaaa..... hwaaaaaaa.... tega kamu ya ninggalin aku demi Nala....hwaaaaaaa", ucap Naz disela tangisannya.
---------- TBC ---------
**********************
mohon bersabar ini adalah ujian.....
Happy Reading.....
__ADS_1