Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Akhirnya,,, Aku Menemukan Mu


__ADS_3

Suasana rumah sakit hari ini nampak ramai, selain perawat dan petugas lainnya yang hilir mudik silih berganti, juga banyak orang yang sedang mengantri duduk di kursi yang tersedia. Ada yang menunggu giliran untuk pendaftaran baik yang menggunakan asuransi, BPJS ataupun bayar sendiri, ada yang menunggu giliran masuk ke ruang Poli untuk memeriksakan kesehatannya, ada yang mengantri di apotek untuk menebus obat, ada pula yang mengantri di kasir untuk pembayaran, bahkan ada juga pengunjung pasien yang dirawat atau pun orang yang mengantarkan pasien berobat. Itulah sekiranya yang terjadi di lantai dasar rumah sakit dimana tempat Bu Rahmi dirawat.


Berbeda halnya dengan yang terjadi di lantai enam yang khusus untuk ruang rawat inap VVIP yang terlihat sepi, karena yang ada di sana hanya beberapa perawat, petugas kebersihan, petugas keamanan dan dokter yang datang saat visit saja, ada pun petugas catering rumah sakit yang datang 6x sehari ke kamar pasien untuk mengirimkan makan dan disert silih berganti sesuai jadwal. Selain itu paling hanya keluarga pasien yang sedang menunggui pasiennya juga pengunjung yang hendak menjenguk pasien, dan tentunya jangan luva pasien nya juga diabsen ya.


Bu Hindayanti baru saja keluar dari kamar VVIP nomor 619 tempat Bu Rahmi dirawat dengan raut wajah kesal, sambil menggerutu ia berjalan mengedarkan pandangannya mecari keberadaan Naz yang sudah keluar lebih dulu karena diusir dan dimaki oleh Bu Rahmi.


“Dasar tidak tahu terimakasih, kalau bukan karena pertolongan Naz, dia pasti sudah goodbye wassalam alias is dead”, beliau menggerutu kesal setelah melihat perlakuan Bu Rahmi kepada Naz calon menantu yang sudah terlanjur disayanginya itu.


“Naz kemana lagi?? Cepat banget ngilangnya,, kasihan anak itu pasti sangat sedih”, ucapnya berdialog sendiri dengan perasaan khawatir.


Bu Hinda turun ke lantai dasar dengan menggunakan lift, beliau berharap masih bisa mengejar Naz, namun ternyata ia tak menemukan Naz walaupun sudah mencarinya hingga keluar rumah sakit, kemudian beliau mengambil ponsel dari dalam tasnya lalu menghubungi seseorang hingga beberapa kali karena tak kunjung terhubung.


“Aduh,, pada kemana sih nih,,, Mbak Anita tidak mengangkat, Arfin tidak aktif, sekertaris nya juga sama, ini lagi si Papi ikutan gak bisa dihubungi,,, percuma mereka punya handphone kalau masih susah dihubungi,,, ya ampuun bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan Naz…. Ah ya sudah aku ke rumahnya saja untuk memastikan dia baik- baik saja”, Bu Hinda yang sangat mengkhawatirkan Naz kembali berdialog sendiri, lalu menghubungi sopirnya untuk menjemputnya di pintu depan rumah sakit, karena sang sopir sebelumnya menunggu beliau di parkiran.


Saat di perjalanan Bu Hinda tak berhenti menggerutu, karena baru setengah jalan tiba- tiba saja macet padahal beliau sedang buru- buru dan sangat mengkhawatirkan Naz.”Ya ampun,,, kenapa ini mendadak macet gini sih,,? tadi kan masih lancar? Gak tahu apa orang lagi buru- buru?”, ucapnya menggerutu kesal.”Mana gak tahu lagi nomor handphone Naz,,,", ucapnya lagi, kemudian beliau ingat sesuatu m, "oh ya ampun,, kan ada nomor telepon rumahnya,, kenapa aku gak kepikiran dari tadi”, ucap beliau sambil mencari nomor telepon rumah Naz di kontak hape nya.


“Nah ini dia,,,”, ucapnya lagi saat menemukan nomornya dan langsung menelpon ke nomor tersebut.


Tuttt,,,, tuuttt,,, tuuttt,,,


“Halo, Assalamu’alaikum,,,”, sapa seseorang disebrang sana.


“Wa’alaikmsalam,,, saya Hindayanti ibunya Arfin,, apakah Rheanazwa ada di rumah?”, tanya beliau.


“Oh iya Bu,,, Neng Nanaz ada di rumah baru saja datang, dan langsung pergi ke kamarnya mau beristirahat katanya,,, Ibu mau berbicara dengannya?”, ternyata Mbak Iyem yang menjawab telpon nya.


“Syukurlah kalau dia sudah pulang,, yasudah kalau begitu, biarkan saja dia beristirahat, terimakasih ya Bi,, Assalamu’alaikum”, Bu Hinda mengakhiri sambungan telponnya karena sudah mendapat info tentang Naz yang dikhawatirkannya, kemudian meminta sopir putar arah menuju jalan pulang.


Hari menjelang sore, jalanan kota pun mulai dipadati dengan berbagai laju kendaraan, baik itu kendaraan umum dan atau kendaraan pribadi karena membludaknya para pencari rupiah yang jam kerjanya telah berakhir dan hendak kembali ke tempat tinggal masing- masing.


Arfin dan Pak Latief kini tengah sampai di kediaman tempat mereka tinggal setelah melewati kesibukan yang melelahkan di kantor, ditambah dengan perjalanan yang cukup macet dan tentunya semakin menambah kepenatan di kepala.


“Huhf,,, akhirnya sampai rumah juga dan bisa beristirahat “, ucap Arfin yang baru saja masuk ke dalam rumah dan ia pun langsung pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Setelah beberapa saat ia keluar dari kamarnya dan pergi ke ruang tengah yang ternyata di sana ada Mami yang sedang ngobrol dengan Papi nya sambil menonton TV.


“Ngobrolin apa sih Mi?”, tanya Arfin yang kemudian duduk bergabung bersama mereka.


“Ini lagi,,, ngapain kamu punya handphone kalo tetap saja susah dihubungi?”,Mami langsung mengomel pada Arfin.


Arfin merasa heran tiba- tiba mendapat omelan,” Loh,, emangnya ada apa sih Mi? Tadi tuh di kantor sibuk banget, soalnya lagi tutup buku akhir tahun, ditambah tadi laporan pembukuan ada kesalahan, jadi seharian tadi semua karyawan sibuk, bahkan sekarang ada beberapa yang lembur karena besok semua laporan harus selesai. Dan tadi ponsel Al mati lalu dicharger, sehabis itu lupa dihidupkan kembali. Ada apa sih Mi ? tumben- tumbenan”, Arfin menjelaskan panjang lebar, lalu melontarkan pertanyaan karena Mami nya bersikap tak seperti biasanya.


Mami pun menceritakan apa yang terjadi di rumah sakit tadi pagi pada Arfin dan suaminya dengan detail sampai ia mengobrol dengan Mbak Iyem pun diceritakan secara rinci.


“Apa,,,, ?”, Arfin sangat terkejut mendengar kekasihnya yang diperlakukan tidak baik oleh Raline dan Ibunya, “Mereka sudah benar- benar keterlaluan”, ucap Arfin kesal.


“Kamu aja yang mendengarnya kesal Al, apalagi Mami yang menyaksikannya langsung,, kalau gak lagi sakit itu Jeng Rahmi udah Mami unyeng- unyeng, dan diperintil- perintil mulutnya itu”, ucap Mami sambil mencubit bantal sofa yang dipegangnya. Dan Arfin pun bergegas kembali pergi ke kamarnya.


“Mami,,, mungkin saja Naz itu mengingatkan Rahmi pada kesalahannya Syarief, jadi dia tidak menyukai Naz”, ucap Pak Latief.


“Papi gimana sih malah ngebelain Jeng Rahmi,,, bukan berarti dia harus kasar gitu dong sama Naz, yang salah kan Syarief, kenapa Naz yang tidak tahu apa- apa malah jadi pelampiasan kemarahannya,,,?”,Mami langsung ngegas mendengar perkataan suaminya itu, “ kasihan anak itu,, pasti hatinya sakit sekali”, lirih Mami.


Arfin yang sudah masuk ke kamarnya langsung mencari keberadaan ponselnya dari dalam tasnya, dan saat diambil ternyata masih dalam keadaan mati, ia pun langsung menghidupkannya.


Teng neneneng… Benar saja banyak pesan chat dan pesan panggilan dari beberapa nomor yang masuk ke ponselnya. Ia tidak memperdulikan pesan dari yang lainnya , yang ia cari hanya pesan dari kekasih nya itu.


Cahayaku


10:21


“Aa… “


“ 😞😭”


Dan ia menerima pesan laporan bahwa nomor Naz beberapa kalo menghubunginya. Arfin pun langsung melakukan panggilan pada nomo Naz, panggilan pertama tidak ada jawaban alias tidak diangkat, dan saat memanggil kedua kalinya nomornya jadi tidak aktif.


Saat ia hendak menelpon lagi, tiba-tiba ada telepon dari Bunda, lalu ia pun langsung mengangkatnya. “Hallo,, assalamu’alaikum Bund…”, sapa nya.


“Wa’laikumsalam Ar,,, Naz lagi sama kamu atau Mami mu gak, Ar?” tanya Bunda panik.

__ADS_1


“Enggak Bunda, aku baru pulang setengah jam yang lalu… Memangnya Naz gak ada di rumah, Bunda? Kata Mami tadi siang Naz udah pulang ke rumah dan beristirahat”, Arfin merasa bingung dengan dua keterangan yang berbeda antara Bunda dan Mami.


“Iya,, tadi siang mah dia pulang, tapi barusan Bunda cari ke kamarnya teh gak ada, ke toilet gak ada, di seluruh ruangan rumah gak ada,, udah gitu teh nomornya gak bisa dihubungin lagi,, dia teh kan baru sembuh dan ini juga udah mau magrib, gimana atuh Ar ini teh, masa iya Naz hilang lagi??”, Bunda terdengar cemas dan panik.


“Apa? Naz hilang lagi? Gimana ceritanya Bunda?”, tanya Arfin khawatir, “Bunda udah tanya ke teman- temannya?”.


“Udah Ar,,, Bunda teh udah nelpon ketiga sahabatnya, mereka pada gak tahu karena lagi pada di luar kota lagi liburan,,, tadi kata Mbak Iyem mah sepulang dari rumah sakit langsung masuk kamar, terus bilangnya teh mau istirahat. Terus Mbak Iyem teh pergi ke super market belanja bahan makanan yang sudah pada habis, Naz masih ada di kamarnya karena Mbak Iyem sempat pamit. Tadi sore karena khawatir Naz dari siang gak keluar kamar, Bunda samperin ke kamarnya, eh ternyata enggak ada,,, gimana atuh ini teh Ar,, masa Naz hilang lagi,,, bunda masih trauma yang waktu itu juga ?”, Bunda menceritakan kronologi nya.


“Bunda tenang dulu, aku bantu cari Naz ke tempat yang sering dia datangi ya?”, Arfin hendak segera bertindak.


“Iya Ar,, Tapi jangan sekarang ya”, larang Bunda.


“Memangnya kenapa Bunda?”, tanya Arfin heran.


“Nanti aja atuh habis magrib, tanggung soalnya sekarang mah sareupna, pamali jangan berkeliaran”, ucap Bunda dan merekapun mengakhiri panggilan teleponnya.


Arfin merasa sangat khawatir, iya kemudian menelpon Humaira menanyakan keberadaan Naz di sana, dan ternyata tidak ada juga, bahkan Arfin meminta Humaira menyuruh seseorang memeriksanya ke danau. Setelah beberapa saat Humaira kembali menghubungi Arfin dan memberi tahukan bahwa Naz tidak ada di danau juga.


Setelah shalat magrib, Arfin berganti pakaian dan langsung berangkat mencari Naz. Ia tidak memberitahukan kedua orang tuanya, karena takut mereka panik, apalagi Mami nya yang sejak tadi mengkhawatirkan Naz.



Arfin pergi kafe tempat nongkrong Naz dan ketiga sahabatnya, setelah ia berkeliling menelusuri seluruh tempat di dalam kafe itu, tetap tidak menemukan Naz.


Kemudian Arfin mencarinya ke rumah Ibu Mira, dan hasilnya pun sama, ia tidak menemukan Naz. Bu Mira yang khawatir dan penasaran lalu menanyakan kenapa Naz bisa menghilang, Arfin pun menceritakan semuanya yang dialami Naz kepada Bu Mira, dan beliau malah menangis sejadi- jadinya.


“Ini semua salah ku…. Ini semua salah ku,,, huhuhuhu”, ucap Bu Mira di sela tangisannya, “Maafkan Ibu Naz,,, maafkan Ibu,, karena Ibu kamu harus mengalami banyak penderitaan,,, huhuhuhu”, Bu Mira terus menangis dengan penuh penyesalan.


“Bu,, tenangkan diri Ibu,,, “, Arfin mencoba menenangkan.


“Bagaimana bisa tenang nak Arfin,, , Rahmi sudah sangat keterlaluan pada Naz, selama ini juga dia tidak bernah bersikap baik pada Naz,,, Ibu harus menemuinya sekarang juga”, ucapnya sambil menghapus air matanya yang terus bercucuran.


“Jangan Bu, ini sudah malam,, lagi pula jika Ibu ke sana takutnya akan terjadi masalah yang ujung- ujungnya Ibu lah yang akan dipersalahkan,, lagi pula Naz pasti tidak akan setuju tentang hal ini jika dia ada disini,, sebaiknya Ibu istirahat saja, dan saya juga pamit pulang, Ibu doakan saja semoga Naz baik- baik saja dan segera ditemukan”, Arfin mencoba menenangkan Bu Mira padahal dirinya sendiri masih dipenuhi rasa khawatir.


Arfin sudah merasa buntu dan bingung kemana lagi harus mencari Naz, karena di semua tempat yang sering ia datangi tak menemukan keberadaannya. Entah apa yang dipikirkan Arfin, ia mendatangi rumah sakit tempat Bu Rahmi dirawat. Ia masuk ke dalam kamar nomor 619 VVIP itu dengan tanpa permisi alias selenong boy.


“Naz tidak ada di sini, Arfin”, jawab Pak Syarief yang sedang duduk di sebelah ranjang Bu Rahmi.


“Itu yang dibilang anak baik- baik? Jam segini kok masih berkeliaran”, ucap Raline secara tidak langsung menghina Naz, dan tentunya itu menyulut emosi Arfin. Dia langsung menghampiri Raline yang sedang berdiri di dekat sofa, lalu mecengkramnya dan menempelkan tubuh Raline ke dinding tembok.



“Ak sudah sering memperingatkan mu untuk menjaga bicaramu terhadap Naz, jangan pernah menghinanya lagi !!!”, Arfin berteriak dan membuat Raline ketakutan.


“Arfin,,, lepaskan anak saya !”, seru Bu Rahmi, lalu Pak Syarief dan segera menghampiri mereka.”Arfin,,, lepaskan,, jangan sampai saya melupakan kalau kamu anak sahabat saya”, Pak Syarief mencoba menarik Arfin agar melepaskan cengkramannya.


“Jika kau terlibat dalam hilangnya Naz lagi dan jika sampai terjadi sesuatu dengannya karena ulahmu, aku pastikan kau akan menerima balasan seribu kali lipat dari apa yang kau lakukan pada Naz,,,, camkan itu,,, aku tidak pernah main- main dengan ucapanku”, ucapnya memperingatkan Raline dengan tatapan kemarahan, lalu melepaskan cengkramannya.


“Apa ? Naz hilang?”, Pak Syarief terkejut mendengar perktaan Arfin soal hilangnya Naz.


“Iya, dan itu setelah dia pulang dari sini dan menerima perlakuan tidak baik dari istri dan anak Om ini”, Arfin menoleh ke arah Raline, “Saya permisi Om”, ucapnya kemudian dia beranjak pergi meninggalkan ruangan tersebut.


Arfin berjalan kembali ke parkiran, kemudian ia masuk ke dalam mobilnya.


“Kemana lagi aku harus mencarimu Naz,,, ??”, gumamnya yang sudah mulai frustasi karena nomor Naz yang sejak tadi ia hubungi masih saja tidak aktif. Ia menundukan kepala pada tangannya di atas setir mobil, setelah dirinya merasa sedikit tenang ia pun melajukkan mobilnya menuju rumah Bunda.


Saat Arfin masuk ke dalam rumah, Dandy dan Ayahnya disana sudah berharap mendapatkan kabar baik dari Arfin, dan ternyata nihil. Dandy, Bunda dan suaminya yang sudah mencari ke beberapa tempat pun tak menemukan Naz, malah sempat beranggapan kalau Naz diculik.


“Ayah,, apa mungkin Naz diculik?”, tanya Dandy.


“Gak mungkin Dan,,, saat Mbak Iyem kembali dari supermarket, rumah masih dalam keadaan terkunci karena dia menguncinya dari luar sebelum pergi, dan dilihat dari CCTV yang ada diluar, tidak ada orang lain yang masuk ke rumah ini, bahkan Naz pun tidak terlihat keluar”,ucap Ayah sambil memperlihatkan rekaman CCTV di layar ponselnya.


“Om,, apa mungkin Naz keluar lewat pintu pagar samping?”, tanya Arfin yang sudah hafal seluk beluk rumah itu.


“Sepertinya begitu Al, karena Naz tidak memiliki kunci serep, dan sialnya CCTV di samping sudah dua hari ini rusak “. jawab Pak Rizal


“Apa Opa sudah tahu Yah?”, tanya Dandy lagi.

__ADS_1


“Kami tidak memberitahunya, karena Opa mu sedang kurang sehat, tadi pun kami mencari Naz kesana sekalian melihat kondisi beliau”.


“Apa kita lapor polisi saja Om? Gak mungkin kan jika kita terus berdiam diri seperti ini,, sedangkan kita tidak tahu kondisi Naz baik- baik saja atau tidak”, Arfin mengusulkan.


“Tadi Om juga sudah menelpon Polisi kenalan Om dan menceritakan kronologinya, dia malah menyarankan agar kami mencarinya ke rumah teman- teman terdekat atau saudara dulu, jika setelah dua puluh empat jam, barulah kami melapor kehilangan”, ucap Pak Rizal lalu beliau menghela nafas kasar. “Yang membuat kita sulit mencarinya karena ponselnya mati, sehingga sulit dihubungi dan sulit untuk dilacak, mana Anita terus menangis itu di kamar Naz,, ayok kita temui dia”, ajaknya.


Mereka bertiga beranjak naik ke lantai dua menuju kamar Naz, dan disana Bunda sedang duduk menangis di ranjang Naz sambil memeluk boneka tedy bear jumbo kesayangan Naz, ditemani oleh Mbak Iyem.


“Arfin,, apa kamu sudah menemukan Naz?”, tanya Bunda penuh harap, namun Arfin hanya menggelengkan kepala dengan raut wajah sedih.


“Huhuhuhuhu,,, gimana atuh Yah,,, Naz dimana? Ini sudah larut malam, gimana kalau dia teh kedinginan diluar sana, huhuhuhu”, Bunda terus menangis sambil terus memeluk boneka itu.


“Kita semua juga sangat mengkhwatirkan Naz,,, besok kita lanjutkn mencarinya ya,, sekarang kamu istrahat dulu, kita berdoa saja semoga Naz baik- baik saja”, ucap Ayah yang ikut duduk di samping Bunda .


“Gimana bisa tidur atuh Yah, sedangkan aku gak tahu Naz tidur dimana, di tempat siapa, tempatnya seperti apa,, huhuhuhu”, Bunda semakin cemas.


Saat Arfin meihat boneka tedy bear yang dipeluk Bunda, ia teringat dengan boneka yang satunya lagi yang lebih kecil dari si jumbo. Arfin mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, namun tak menemukannya, kemudian ia teringat sesuatu.


“Bunda, ada satu tempat yang belum aku datangi untuk mencari Naz, mudah- mudahan dia ada disana,,”, ucapnya seolah memberi harapan pada kedua orang tua Naz, “Dan, ayok kita pergi”, Arfin mengajak Dandy untuk ikut serta.


“Bunda juga ikut, Ar”, ucap Bunda.


“Bunda,, ini sudah jam dua belas lebih, sebaiknya Bunda istirahat saja dan berdoa supaya kami segera menemukan Naz. Aku janji nanti setelah ketemu akan segera mengabari Bunda”, ucap Arfin.


“Ayo Dand,,, gue pinjam jaket lo ya,,, “, ucapnya lalu pergi bersama Dandy menuruni tangga menuju kamar Dandy membawa jaket, kemudian mereka pun langsung pergi berangkat ke tempat yang dimaksudkan Arfin.


Setelah beberapa saat menempuh perjalanan, Arfin merasa sudah tidak kuat menyetir dan hendak minta digantikan oleh Dandy. “Dandy, lo ngantuk gak? Gue ngantuk nih,, tukeran nyetir dulu ya”.


“Gue juga ngantuk, Ar,,, kita cari pom bensin aja deh istirahat sebentar, sekalian juga gue kebelet nih”, Dandy menyarankan.


“Oh iya, sekalian gue juga belum shalat isya,, kayaknya udah deket tuh ada pom bensin”, ucap Arfin, lalu membelokan mobilnya ke pom bensin yang tadi dilihatnya. Arfin memarkirkan mobilnya dekat mushola pom tersebut. Ia pun turun dan mereka berdua langsung pergi ke toilet lalu Arfin mengambil wudhu, kemudian ia shalat di mushola. Setelah itu mereka berbaring untuk tidur sebentar tentunya dengan memasang alarm di ponsel. Dan setelah satu jam mereka tidur, lalu bangun dan mencuci muka, kemudian mereka pun melanjutkan perjalanan.


Setelah beberpa saat, akhirnya mereka sampai di depan sebuah rumah yang merupakan tempat yang dimaksud Arfin. Mereka memasuki pintu pagar dengan meloncatinya seperti maling karena pagarnya di gembok. Kemudian mereka pun berjalan menuju teras rumah itu.


“Gila ya kita bertamu jam segini,, pakai melompati pagar lagi, untungnya gak tinggi”, ucap Dandy mengomentari kelakuan mereka.


“Lebih untungnya lagi gak ada yang lihat”, Arfin menimpai dengan raut wajah yang masih was- was.


“Darimana lo yakin gak ada yang lihat kita tadi?”, tanya Dandy heran.


“Soalnya gak ada yang meneriaki kita maling”, jawa Arfin sambi tersenyum sinis.


“Hahahaha,,,, “, Dandy dalam keadaan seperti ini masih bisa tertawa, dan mereka pun kini sudah berdiri di depan pintu rumah tersebut.


Ting nong,,,,, ting nong,,,, Dandi yang berdiri depan jendela kaca sebelah pintu memencet bel, namun belum ada yang membukakan pintu, sedangkan Arfin berdiri tepat di depan pintu.


Ting nong,,, ting nong,,,,, Dandy kembali memencet bel.


“Iya,, sebentar,,,”, teriak seseorang dari dalam, “ siapa sih yang bertamu jam segini”, terdengar orang mengerutu dan sepertinya ia sedang membuka kunci pintu.


Ceklek ,,,,, pintu pun dibuka oleh seseorang, dan saat pintu terbuka lebar, Arfin akhirnya bisa bernafas lega, ia tersenyum melihat seseorang yang memakai mukena membukakan pintu itu.


Grepp,,, Arfin langsung memeluknya. “Akhirnya,,, aku menemukan mu sayang,,,, “, ucapnya merasa lega, bahagia, terharu, bercampur jadi satu, karena melihat gadis yang sangat dicintainya dalam keadaan baik- baik saja.


------------- TBC ----------------


***********************


Nanaz hoby banget bikin orang khawatir ih…. Kenapa ya Naz sampai pergi diam- diam seperti itu?


Saksikan episode selanjutnya,,,, wadidaw,,,,,,


Happy Reading,,,,


Jangan luva tinggalkan jejakmu, Like Komen, Rate Bintang 5, dan Vote,,,


Terimakasih banyak,,,

__ADS_1


__ADS_2