
Oek,,, oek,, oekk,,, oekk...
Arfin terbangun saat mendengar suara tangisan putrinya yang bersamaan dengan azan subuh. Perlahan ia membuka matanya, ia melihat sekelilingnya seperti orang bingung.
“Emhhh,,, dimana ini?”, Arfin terus mengerejapkan matanya berkali- kali, suara tangisan bayi yang semakin kencang membuat kesadarannya langsung terkumpul, pandangannya tertuju pada ranjang bayi yang diletakan di sebelah ranjang tempat ia dan sang istri tertidur,
“Oh,, ya ampun,, Cahaya,,, “, Arfin pun bangkit dan segera menghampiri ranjang bayi tersebut.
“Cup,,cup cup,,, sayang, kamu lapar ya, Nak”, Arfin menepok- nepok pelan lengan bayinya yang terbalut kain pernel itu.
Arfin merasa bingung karena belum bisa menggendong anaknya yang masih bayi merah itu,, ia takut salah walaupun sebelumnya sudah pernah melakukan latihan saat Naz masih hamil besar. Tapi, saat itu ia mempraktekannya pada boneka, jadi ia tetap masih merasa takut jika menggendong bayi beneran.
Ia menoleh ke arah tempat dimana Mama mertuanya tertidur pulas. Sebenarnya ia enggan dan merasa tidak tega jika harus membangunkan mertuanya itu, ia tahu pasti beliau sangat lelah. Namun apalah daya, baby Cahaya terus saja menangis dan suara tangisannya sama sekali tak membuat Bu Rahmi atau pun Naz terusik dari tidurnya. Akhirnya ia memberanikan diri menghampiri mertua nya yang tidur di atas sofa karena kasihan melihat putrinya yang belum berhenti menangis.
Arfin menepok pelan lengan mertuanya,”Ma,,, Mama,,, “, tak ada respon sama sekali, Arfin pun kembali menepok lengan mertuanya.
“Emhhh,,,, iya Ar,, ada apa?”, Bu Rahmi akhirnya bangun dan membuka matanya perlahan.
“Eng,,, itu,,, Cahaya nangis, Ma, aku gak bisa menggendongnya, takut salah”, ucapnya merasa canggung untuk meminta pertolongan mertuanya.
Bu Rahmi pun langung bangun, ia mengikat rambutnya dan setelah kesadarannya terkumpul, beliau beranjak menuju ranjang bayi tersebut. Bu Rahmi dengan segera menggendong sang bayi, sedangkan Arfin membangunkan Naz yang masih tidur pulas, sampai bayi nya menangis kencang pun tak mengusik tidurnya.
“Sayang,,, bangun”, Arfin menggoyangkan lengan Naz.
“Emh…. Aku masih ngantuk A,,, apa ini sudah siang?”, Naz yang tersadar namun masih memejamkan matanya.
“Sekarang masih subuh,,, itu Cahaya nangis,, kayaknya lapar”, ucapnya langsung memberitahukan keadaan putrinya.
Mendengar nama putri mungilnya disebut oleh Arfin, Naz langsung membuka matanya lebar- lebar, ia mengarahkan pandangan pada bayi yang masih menangis dalam pangkuan Mama
-nya.
“Ya ampun,, Cahaya udah lama nangisnya,,?”, Naz hendak bangun dan Arfin pun segera membantunya untuk duduk.
“Aa juga kebangun karena mendengar tangisan Cahaya”.
“Ini,, sayang,,, ayok kasih ASI nya,, di lapar banget kayaknya,,”, Bu Rahmi menyerahkan Cahaya pada pangkuan Naz yang sudah membuka sebelah baju nya, ia pun segera membuka bagian tengah bra khusus untuk busui yang membuat bagian tengah salah satu gunung kembarnya terlihat dan disodorkannya pada mulut sang bayi. Cahaya pun segera menangkap puti*ng sang ibu yang kemudian melahap dan menyedot ASI nya.
Kali ini berbeda dengan sebelumnya, ia tak merasakan sakit seperti saat pertama kali memberikan ASI pada putrinya, namun tetap ada rasa sedikit ngilu.
Sejak pagi hingga siang Naz menerima beberapa panggilan video call dari keluarganya yang berada di Jakarta secara silih berganti, dari Raline dan Arsen, Oma dan Opa, Mimih yang sekarang tinggal besama Bunda, juga dari semua kakak dan kakak iparnya, bahkan kakaknya yang di Amerika pun menghubunginya, untuk mengucapkan selamat dan melihat baby Cahaya. Dan semua orang mengatakan hal yang sama, yakni wajah baby Cahaya lebih mirip dengan Arfin. Tentunya itu membuat Naz merasa sedih dam kecewa, karena ia yang sudah mengandung dan melahirkan baby Cahaya, namun semua orang malah bilang bayinya lebih mirip dengan Arfin.
“Ami,,, ini kenapa putri ku murung begini?”, tanya Pak Syarief yang baru datang kembali namun melihat ekspresi wajah Naz yang tak sebahagia semalam saat beliau meninggalkannya untuk pulang.
“Itu loh Pa,,, semua keluarga yang menghubungi Naz lewat video call bilang kalau cucu kita, Cahaya ini lebih mirip dengan Arfin”, Bu Rahmi menjelaskan alasan yang membuat Naz sedih dan kesal.
“Hahahahaa,,, ya gak apa-apa dong sayang,, orang Arfin itu Papa nya,, kalau Cahaya mirip sama tetangga, baru itu gak boleh, apalagi mirip sama sopir pribadi mu, beuh,, itu malah akan menambah masalah baru,, haaha”, Pak Syarief malah menertawakan dan mengejek Naz.
“Ya tapi kan aku yang mengandungnya selama sembilan bulan dan melahirkannya dengan susah payah,, kok tiba- tiba wajahnya mirip Aa,, malah aku gak kebagian,, sebal”, Naz masih saja kesal.
“Ya ampun sayang,, wajah anak kita mau mirip siapa kan gak bisa milih, begitu juga dengan jenis kelaminnya,, gimana sih kamu mah suka aneh deh,, emangnya beli barang bisa inden sesuai kemauan kita,, yang penting kan anak kalian sehat dan lahir tanpa kekurangan sesuatu apa pun,, mau mirip kamu atau suami mu kan sama saja,, toh kalian ini orang tuanya,,, ”,Bu Rahmi memberi pemahaman pada Naz.
“Benar itu kata Mama mu,,, oh iya,, omong- ngomong ,, suami mu mana?”. tanya Pak Syarief.
“Arfin lagi ke bawah nemuin ojek online ngambil pesanan makanan,,, tadi Naz minta dibelikan makanan dari luar,, katanya makanan rumah sakit gak enak,, jadinya pesan di aplikasi aja,, ”. malah Bu Rahmi yang menjawab.
“Eh,,, jangan makan sembarangan loh sayang… di rumah sakit itu makanannya sudah sesuai standar kesehatan,,”.
“Enggak sembarangan kok Pa,,, Mama juga mintanya dibelikan dari restoran,, lagi pula beli makanan sehat kok,,”,Bu Rahmi memberi penjelasan.
“Oh,, yasudah,, kamu jangan sedih lagi ya sayang,, kasihan loh nanti kalau suami mu tahu, kamu gak terima anak kalian mirip suami mu, dia kan bisa tersinggung,, lagi pula di juga kan yang kerja keras sampai biasa hamilin kamu,, hahaha”.
“Papa… ihh”, Bu Rahmi langsung mencubit tangan suaminya.
“Aww,,, ihh Mama hobi banget sih cubit- cubit, Papa ", Pak Syarief protes.
“Pantesan,, Naz suka nyubit aku,, ternyata nurun dari Mama,, toh…”, Arfin yang baru masuk langsung ikut nimbrung.
“Eh,, Arfin,,, kamu sudah datang?”,sapa Bu Rahmi.
“Iya,, Ma,,, ini makanannya,,”, Arfin memberikan dua buah kantong kresek pada Bu Rahmi, “Kalian lagi ngomongin apa? Kayaknya seru ya,, sampai Naz cemberut gitu… ”, Arfin malah mengejek istrinya.
“Biasalah,, Papa nya Naz ini memang suka usil, sama kayak Naz,, sebentar ya,, Mama siapin dulu makan buat Naz”, Bu Rahmi membawa kantong kresek ke meja.
“Ternyata Naz juga suka nyubit kamu ya, Ar,,,?”, tanya Pak Syarief.
“Sering Pa,,, semenjak masih pacaran malah ,,, “, Arfin ngadu.
“Berarti benar itu,, turunan dari Mama nya,,, “, ucap Pak Syarief.
“Iya,, kalau usil dan jahil nya Naz, nurun dari Papa,,”, Bu Rahmi tak mau kalah.
“Gak apa- apa kan Ma,, biar adil,, jadi Naz nurunin sifat- sifat dari kedua orang tua nya”, Arfin jadi penengah.
“Tuh dengerin suami mu, Naz,,, benar itu,, setiap anak pasti ada nurunin apa pun dari orang tuanya, bukan hanya kemiripan wajah saja,, soalnya dulu ada yang pernah bilang ke Papa, kalau kita itu adalah cerminan keturunan kita di masa depan,,, ”.
“Ya semoga nurunya yang baik- baik nya saja.. kalau yang buruknya mah jangan dong,,,”, ucap Bu Rahmi.
“Ya iya dong Ma,,, “, Pak Syarief kali ini setuju dengan perkataan istrinya.
Seusai Bu Rahmi menyiapkan makanan untuk Naz, Arfin lah yang menyuapi istrinya, padahal Naz meminta makan sendiri, namun Arfin tak membiarkannya dan kekeuh ingin menyuapinya, walaupun tangan kanan Naz sudah tidak diinfus lagi. Akhirnya Naz manut saja pada suaminya yang selalu memanjakannya itu.
__ADS_1
Naz bersama baby Cahaya yang baru dilahirkannya semalam, sore ini sudah diperbolehkan pulang, karena setelah melakukan pemeriksaan dan observasi, baik ibu maupun bayinya tidak mengalami masalah kesehatan dan kondisi keduanya baik- baik saja.
Sejak keluar dari ruangan dan selama perjalanan di dalam mobil, baby Cahaya digendong oleh Bu Rahmi,, karena Naz masih terasa kaku dan takut salah jika menggendongya sambil berjalan. Berbeda halnya saat ia menyusui yang sudah berani menggendong bayinya karena ia dengan posisi duduk dan diam di tempat. Namun saat di dalam mobil pun, Naz tetap membiarkan baby Cahaya di gendongan Bu Rahmi.
Seampainya di rumah, mereka dikejutkan dengan pesta kecil- kecilan untuk menyambut kedatangan Baby Cahaya ke rumah nya, dan itu merupakan ulah ketiga sahabatnya dibantu oleh Bu Hinda serta kedua ART di rumah itu. Ruang tengah didekorasi dengan beberapa buah balon serta bunga- bunga dengan aksen warna putih dan pink.
“Welcome home,, Baby Cahaya,,,,”, teriak semua orang saat Naz memasuki pintu rumah.
“Woah,,,, terimakasih…”, ucap Naz tersenyum bahagia, ia berjalan dituntun oleh sang suami, sedangkan bayi mereka masih dalam gendongan Bu Rahmi. Mereka pun masuk ke dalam rumah dan kembali dikejutkn dengan dekorasi di ruang tengah.
Naz dan Arfin duduk di kursi yang sudah disediakan di depan dekorasi sesuai arahan Andes. Bu Rahmi memberikan baby Cahaya pada Naz, dan ia pun menggendongnya. Dasar memang anak zaman now, orang baru keluar dari rumah sakit, malah diajak berfoto ria, tapi Naz malah menikmati keseruan dari ulah ketiga sahabatnya itu dan sangat berterimakasih pada mereka juga tim yang sudah menyiapkan pesta dadakan itu.
Kiara dan Ruby terus menempel pada Naz dan tak hentinya memandangi baby Cahaya, berbeda dengan Andes yang memandangnya dari kejauhan, seolah masih trauma dan takut kena jambakan Naz lagi.
“uunchh,,, lucu banget sih anak lo, Naz,,,, gemesinnn”, Ruby ingin sekali mencubit pipi bayi nya Naz itu.
“Gue juga lucu kali,,”, Naz tak mau kalah.
“Ah lo mah pikalucueun pereup tau gak”, Kiara malah mengejek.
“Kurang asem lo ya…”, Naz mendelik tajam pada Kiara.
“Sorry ya ,,, kita gak bisa nemein lo sampai lahiran,, soalnya di sana udah banyak orang juga,,, jadi kita cuman bias pantau by phone aja,,, kita terus aja nelponin Mami.,…. hehehe”, ucap Ruby.
“Gak apa- apa,,, makasih banyak ya kalian udah banyak bantu,,, maaf juga selama kalian di sini gue malah ngerepotin kalian terus”, Naz merasa tidak enak hati sudah merepotkan ketiga sahabatnya.
“Ihh,,, lo kayak sama siapa aja deh, kita ini kan sahabat rasa sodara”, Kiara mengingatkan.
“Eh bay the way any way busway,,, ini seriusan anak lo dikasih nama akun pesbuk kalian berdua?”, Ruby memaatikan.
“Iyalah serius,,, “, jawab Naz.
“Jadi nama dari kitaa gak ada yang kepakai dong?”, Andes merasa kecewa.
“Apaan sih lo, Des,, masa iya anak gue mau dikasih nama Bambangwati atau Arnoldwati,, mendingan Cahaya ,,, bagus dan penuh arti”.
“Iya,, iya,,, iya,,, deh”,Andes mengalah.
“Eh,, Naz,, anak lo kan cewek nih,,, gue perhatin kok lebih mirip sama Kak Arfin….”, Ruby ternyata lebih jeli dibanding kedua sahabatnya yang lain.
Naz yang sejak tadi terlihat sumringah langsung cemberut,
“Aaahh,,, Mama,,, kenapa anak aku gak mirip aku sihh,,,,?? ”, Naz malah merengek pada Mama nya dan sontak itu membuat semua orang menertawakannya, namun justru itu membuat Naz menangis.
Suami dan trio emak nya yang melihat hal itu, kemudian segera membujuk Naz silih berganti agar berhenti menangis. Bukannya berhenti, malah semakin kencang dan itu membuat baby Cahaya ikut menangis, sehingga ruang tengah dihebohkan dengan suara tangisan ibu dan bayi yang baru saja datang ke rumahnya itu.
Akhirnya Bu Rahmi mengamankan sang bayi, menggendongnya dan membawanya masuk ke dalam kamar bayi ditemani Ruby dan Kiara. Sementara Arfin segera membawa Naz masuk ke kamarnya dengan menggendong istrinya ala bridal style.
“Tadi tuh di rumah sakit Naz udah sedih karena semua keluarga yang menghubunginya lewat video call mengatakan hal yang sama, kalau bayi mereka lebih mirip Arfin,,, ehh sekarang malah nambah yang bilang gitu,,, yasudah gini jadinya”, ucap Pak Syarief.
“Iya,, ya Mbak,,, “, Mami pun setuju.
“Mungkin karena Naz merasakan gimana susahnya hamil dan melahirkan,, eh.. pas brojol anaknya malah mirip Arfin,, makanya dia gak rela gitu,,,, Yaa kita kan juga tahu,, kalau Naz itu masih sangat muda,,, beda lah pikirannya sama kita”,Pak Latief membela sang mantu.
“Mas benar,,, khawatirnya karena hal ini bisa menyebabkan Naz terkena baby blues”, Pak Rizal malah membayangkan hal lain yang akan terjadi.
“Aduh,,, bahaya atuh, Yah,, kalau Naz terkena baby blues,, nanti dia gak mau dekat sama bayi nya,,, gimana atuh ini teh ,,”, Bunda jadi khawatir.
“Iya ya Mbak,,, gimana ya,,, ”, Mami pun ikut khawatir.
“Sebaiknya kalian para ibu- ibu yang memberi penjelasan pada Naz, karena kalian lebih berpengalaman, tapi penyampaiannya harus perlahan yang bisa membuatnya paham tanpa menyinggung perasaannya,, soalnya sekarang ini dia terlihat sangat sensitive,, Arfin juga pasti bingung menghadapinya”, Pak Rizal menyarankan.
Benar saja, Arfin tak bisa membujuk Naz sama sekali, pikirnya mau bagaimana lagi ia tak bisa merubah wajah bayi mereka menjadi mirip dengan Naz, karna udah dari sono nya mirip dengannya. Akhirnya ketiga emak rempong pun silih berganti masuk ke kamar Naz untuk memberikan pemahaman pada Naz agar ia tak merasa sedih lagi, karena bayi baru lahir wajahnya masih berubah- ubah jadi belum paten mirip dengan siapa nya.
Dari ucapan ketiga emak rempong nya itu, Mami lah yang berhasil membujuk Naz dengan mengatakan, “Tidak masalah kalau anak pertama mirip dengan Arfin, nantinya anak kedua dan ketiga bahkan selanjutnya kan bisa mirip dengan kamu, Naz”.
Naz pun akhirnya berhenti menangis, ia seolah mendapat angin segar dari sang mertua, karena mendapat dukungan untuk menambah anak lagi, sedangkan ia ingat betul jika suaminya semalam bilang tidak mau punya anak lagi. Namun ia tetap masih merasa kesal pada suaminya, sehingga ia menjulurkan lidahnya saat melihat ke arah sang suami sebagai tanda mengejek. Karena di pikiran Naz, suaminya itu licik, sudah pasti pengen bikinnya doang, tapi gak mau punya anak lagi.
Kelakuan Naz memang selalu aneh dan bisa hampir diluar nalar orang waras, bahkan othor saja suka dibikin geleng- geleng kepala dengan tingkah Naz itu. Untung saja orang tua dan mertuanya sangat menyayanginya, sehingga tak pernah protes, kecuali Bunda sih, dan lebih beruntung lagi ia memiliki suami yang penyabar dan sangat mencintainya seperti Aa Arfin.
Mulai hari itu kehidupan rumah tangga Naz dan Arfin terasa semakin berwarna dan lebih bahagia dengan hadirnya baby Cahaya. Naz yang setiap hari menghabiskan waktu bersama sang buah hati yang awalnya ditemani Mama dan Mami mertua hingga dua minggu lamanya, padahal yang lainnya hanya menginap dua hari saja setelah Naz melahirkan, karena semuanya memiliki kesibukan masing- masing dan kembali lagi saat acara aqiqah baby Cahaya. Bunda pun sama halnya, karena beliau membantu merawat bayi nya Raline dan Arsen, jadi tak bisa berlama- lama tinggal di Surabaya.
Selama didampingi Mami dan Mama- nya, baik Naz maupun Arfin banyak belajar cara mengurus bayi mereka, mulai dari cara memandikannya, menjemurnya setiap pagi, cara memakaikan pakaian, cara membedong, menggantikan popok hingga membersihkan saat anaknya pop, cara menggendong, bahkan caranya membuat sang bayi bersendawa setelah selesai minum ASI.
Kedua emaknya itu mewanti- wanti pada Naz maupun Arfin agar jangan membiasakan menggendong bayi apalagi mengayun- ayun nya, karena nantinya bisa menjadi kebiasaan, kalau kata orang tua zaman dulu mah ‘bau gendongan’. Sehingga mereka lebih menyarankan bayinya dibaringkan saja entah itu di atas tempat tidur, di stroller, ataupun pada baby bouncher, dan mereka bisa mengajak main si bayi dengan posisi bayinya tiduran seperti itu.
Setelah kedua emaknya pulang, Naz dibantu oleh kedua ART nya jika mereka selesai mengerjakan pekerjaan rumah, itu pun hanya untuk menjaga bayinya saat ia akan shalat, makan atau pun mandi, atau pun akan memasak untuk suaminya, karena ia sudah bertekad akan mengurus anaknya sendiri tanpa bantuan baby suster. Meskipun sang suami sudah beberapa kali menawarkan jasa baby suster, ia tetap menolak, karena tak ingin kehilangan momen sekecil apa pun akan tumbuh kembang bayinya, rasanya tidak rela jika momen itu pertama diketahui oleh orang lain, pikirnya.
Setiap pagi Naz akan membawa bayinya yang sudah ia mandikan keluar rumah untuk berjemur selama 10 sampai 15 menit untuk mendapatkan vitamin D dari matahari yang baru terbit. Kadang sambil digendong, namun lebih sering diletakan di atas stroller bayi.
Jika siang, Naz akan mengasuh bayinya seharian di kamar bayi bahkan tidur pun disana, karena selain ada ranjang bayi, ada juga ranjang besar sebagai tempat Naz untuk menyusui bayinya. Namun jika malam hari, sang bayi akan tidur bersama kedua orang tuanya di kamar Arfin dan Naz. Tak jarang Naz bergadang jika sang putri terbangun tengah malam, entah itu menangis karena lapar atau popoknya penuh, atau pun pup. Beruntung sang suami selalu menemani dan membantunya, walaupun ia merasa kecapek- an setelah seharian bekerja, namun melihat wajah putrinya membuat rasa lelah dan ngantuknya hilang, ia pun menyadari bahwa mengurus anak bukan hanya tugas istrinya, melainkan tugas mereka bersama.
Saat weekend pun mereka lebih sering menghabiskan waktu di rumah bersama baby Cahaya. Arfin akan menjaga sang bayi, dan membiarkan istrinya beristirahat, ia hanya akan memanggil Naz jika baby Cahaya menangis, yang ia tahu bahwa tangisannya itu menandakan bayi nya lapar. Namun, Naz bukanlah tipe yang senang berleha- leha begitu saja, justru ia malah menghabiskan waktu di dapur membuatkan makanan untuk suaminya.
Naz baru saja selesai menyusui baby Cahaya hingga ia tertidur pulas dan melepaskan put**ing sang Magu- nya. Naz meletakan bayinya di pelukannya sampai sang bayi besendawa, barulah membaringkannya di atas tempat tidur bayi.
__ADS_1
“Cahaya sudah tidur?”, Tanya Arfin dengan suara serak khas bangun tidur.
“Sudah,,,,hehehe,,, ini mah yang dikelonin siapa,, yang tidur nyenyak siapa,,,”, Naz terkekeh melihat suaminya yang baru saja bangun, ia pun menghampiri Arfin lalu duduk di ranjang yang sama.
“Abisnya kamu nyusuin Cahaya, tapi tangan mu ngelus- ngelus kepala Aa,, jadinya ketiduran…”, Arfin bangkit lalu duduk.
“Hahaha,,, dasar aja Aa nya *****,, nempel sama bantal langsung moyoy,,,”, Naz malah mengejek sang suami.
Arfin mendekat pada Naz dan langsung memeluknya dari belakang,“Oh ya,, hem,,,”, Arfin menciumi leher Naz dan membuatnya terus menggeliat.
“Geli ihh,,,,”.
Arfin pun menghentikannya namun tangannya tetap memeluk Naz, “Sayang,,,”.
“Hemm,,,”, sahut Naz.
“Udah bersih belum?”, Tanya Arfin.
“Apannya?”, Naz malah balik bertanya.
“Nifasnya”, Arfin memperjelas maksud pertanyaannya.
“Udah.. keluar darahnya cuman tiga sampai empat mingguan kok”.
“Loh,, kok gak bilang?”, Arfin merasa heran.
“Kan harus nunggu 40 hari, sayang,,, lagian ke sininya masih suka ada flek”, Naz memberikan kejelasan.
“Sekarang masih ada flek nya?”, sesi tanya jawab berlanjut.
“Udah enggak dong,,,”, ucap Naz dengan pedenya.
“Berarti udah boleh dong??”, ada maksud terselubung rupanya.
“Boleh apa?”, tanya Naz merasa bingung.
“si Ujang udah boleh nengokin si imut kan?”, ujung- ujungnya si ujang.
“Emangnya mie instannya udah abis satu dus?”, Naz malah memberikan pertanyaan aneh.
“Yaelah,,, ini udah 41 hari, sayang,, jangankan mie instan, kardusnya saja habis,,,”, Arfin malah menimpali candaan Naz,
"Yank,, kasian si Ujang nih,, nanti bisa karatan loh”.
“Ih geleuh ahh kalau udah karatan mah,, jadi warna coklat bergerinjul dong,,, gak mau ahh …”, Naz malah terus mengajaknya bercanda.
“Makanya,, harus cepet- cepet sebelum karatan,,”, masih mode merayu.
“Tapi kan aku belum pakai alat kontrasepsi,, kalau aku hamil lagi gimana? Cahaya kan masih bayi,, masa iya udah mau punya adik,,,”, Naz beralasan.
“Ihh,,, siapa juga yang mau punya anak lagi,,,??”, Arfin masih teguh pendirian tidak mau punya anak lagi, tapi bikinnya pengen, hadeuh.
“Yasudah,, jangan dulu kalau gitu,, nanti aja setelah konsultasi sama dokter soal alat kontrasepsi yang akan aku gunakan,,,”, Naz seolah menolak.
“Kan pengennya sekarang, Yank,,, Aa udah beli balon kok,, sementara bisa pakai itu dulu”, Arfin ternyata sudah siap sedia.
“Hah,,?? Balon?? Maksudnya balon yang suka ditiup itu, yang untuk ulang tahun??,,, Apa hubungannya balon sama alat kontrasepsi?”, Naz belum tahu ternyata.
“Bukan Yank,,, ini balon khusus buat sarung si Ujang,,, jadi nanti gak bakalan muncrat di dalam,, ayok dong Yank,,, si Ujang udah bangun nih”, Arfin sudah benar- benar menginginkannya.
“Sekarang?”, tanya Naz yang merasa heran.
“Enggak,, nanti tahun depan,,,”, Arfin mulai merasa kesal, “Ya iya lah sekarang Yank,, mumpung Cahaya tidur,, yukk”.
“Tapi ini baru jam 2 siang,, nanti malam saja ya…”, Naz masih terus menolak.
“Udh yuk ahh,,, sekarang,,,”, Arfin hendak membuka bajunya, namun segera dicegah oleh Naz.
“Ehh,, jangan di sini,, dikamar kita aja”, Naz akhirnya bersedia dan mengajak suaminya ke kamar mereka, sedangkan Cahaya dititipkan dulu pada Mbak Retno dengan alasan ia mau mandi.
Kini kedunya tengah berada di dalam kamar yang pintunya sudah di kunci oleh Arfin. Ia segera mengambil balon yang disebutkannya dari dalam laci, kemudian ia mulai menggerayangi istrinya untuk melakukan pemanasan yang berlanjut pada acara inti untuk membuka ‘gumurih’ yang hanya dimiliki oleh wanita yang sudah melahirkan dan habis masa nifasnya.
Naz tak menyangka ia akan merasakan sakit lagi saat pertama kali si Ujang membobol si imutnya, namun tak sesakit saat malam pertama, dan si Ujang pun awalnya mengalami kesulitan untuk masuk, tapi lama kelamaan ia pun kembali memberikan kenikmatan pada sang empu nya juga pada sang pemilki si imut.
Saat setengah perjalanan, Arfin berhenti sejenak untuk memasangkan balon pada si Ujang, dan itu membuat Naz memberengut.
“Kok berhenti sih??”, tanya nya dengan raut wajah kecewa.
“Sebentar sayang,, pasang balon dulu”, Arfin membuka kemasan balonnya dan langsung memasangkannya pada si Ujang, Naz pun terus memperhatikannya. Arfin lalu kembali melanjutkan permainan hingga keduanya mencapai puncak klimaks dan membuat keduanya terkulai lemas.
“Kok jadi keset ya?”, ucap Naz yang merasakan hal aneh.
“Iya,, rasanya agak panas”, Arfin yang baru pertama kali menggunakan balon pun merasa tak nyaman.
“Nanti jangan pakai balon lagi ahh,,, gak enak,,”, Naz memang suka ceplas ceplos.
“Iya,,, gak enak pake banget,,”, Arfin pun merasa kapok, “ Besok kita ke dokter ya, buat konsultasi kontrasepsi”.
“He eum,,, Jangan ada balon lagi diantara kita”, Naz yang merasa lemas langsung tertidur, lain halnya dengan Arfin, ia langsung ke kamar mandi untuk melepaskan balon nya sebelum si Ujang nya kembali menciut.
---------------- Masih Ada lagi Ext.Part nya -----------
__ADS_1
Happy Reading....😍