Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Dia Pergi....


__ADS_3

“Kok udah balik lagi sih, say_____ ”, betapa terkejutnya Naz saat melihat orang yang memegang tangannya, yang membuatnya tidak melanjutkan perkataannya. Ia pun berusaha melepaskan tangannya dengan kasar, namun orang itu memegang erat tangan Naz.


“Lepaskan,,,!!!”, Naz berontak dengan memberi tatapan tajam pada orang itu yang akhirnya melepaskan tangan Naz.


“Kamu kenapa jadi sombong sih, Naz? di kampus juga kamu terus menghindari ku.. ”, Orang itu merasakan perubahan Naz yang dulu dikenalnya ramah.


“Saya hanya membatasi diri untuk tidak bergaul dengan laki- laki”, Naz mengemukakan alasannya lalu menundukkan kepalanya.


“Tapi kenapa, bukan kah dulu kita berteman ?", orang itu nampak masih penasaran pada Naz.


“Karena saya sudah _____ “, Belum selesai Naz berbicara, tiba- tiba ada suara yang memotong perkataannya.


“Bisma,,, !!“, seseorang memanggil pria itu dan menghampirinya, beliau menoleh pada Naz, “Siapa gadis cantik ini? Pacar kamu ya, Bisma?”, tanya beliau dengan senyum sumringah, seolah senang putranya memiliki teman dekat wanita.


“Bukan Tante…..”, Naz langsung menyangkalnya.


“Ini Rheanazwa, Ma ,,,, Nanaz yang dulu satu SD sama aku,, dia adik kelas ku itu loh,, dan sekarang dia jadi adik kelas ku juga di kampus”, pria yang bernama Bisma itu menjelaskan pada ibunya.


Ibu itu mengingat ingat, “Oh,,, ini Nanaz ya,,, apa kabar ?”, ucapnya lalu bersalaman dan cipika- cipiki dengan Naz.


“Alhamdulillah,,, baik Tante,,, Tante sendiri gimana kabarnya?”, Naz bersikap ramah pada ibunya Bisma.


“Ya beginilah baik- baik saja dan semakin menua,,, hehehe,, kamu pangling banget ya,, sekarang kurusan ya,, dulu waktu masih SD kan sering dipanggil bolo- bolo sama teman- teman mu”, Beliau nampaknya ingat betul kalau dulu Naz tubuhnya gendut.


“Dan Kak Arsen akan memarahi mereka yang ngatain Naz seperti itu, Ma”, Bisma yang melihat Naz bersikap ramah pada ibunya ikut nimbrung, berharap Naz akan ramah juga padanya.


“Iya,, kamu juga suka belain Nanaz kan,, karena kamu juga dulu sama bertubuh bongsor,,, hahaha,,, dan ternyata diam- diam kamu suka sama Nanaz, sampai kamu menulis surat cinta pada Nanaz kan”, ternyata soal itu pun ibunya Bisma mengetahuinya dan itu membuat Naz merasa malu sekaligus kesal.


“Mama apaan sih,,, malu kan jadinya kalau bahas itu”, ucap Bisma yang tak berhenti memandangi Naz yang terus menundukan pandangannya.


“Iya lah malu,, karena waktu itu kamu ditolak,, dan kamu malah ngatain Nanaz buntelan kentut sampai Opa nya marah sama kamu,, hahaa,,,”, Ibunya Bisma malah menertawakan anaknya.


“Udah deh Ma,,, jangan bahas hal memalukan itu lagi”, Bisma merasa malu.


“Tapi kan sekarang kalian sudah bertemu kembali, dan satu kampus lagi,, siapa tahu kalau ini pertanda kalian itu berjodoh, Bisma masih jomblo loh…”, Sampai mempromosikan sang anak.


“Mama punya anak jomblo kok pakai diumumkan segala,,,”, ucap seseorang yang baru saja menghampiri mereka dari arah belakang Naz, yang ternyata orang itu datang bersama Arfin.


“Kenalkan Ma,,, ini Pak Al Arifin yang perusahannya baru- baru ini bekerja sama dengan perusahaan kita”, ucapnya memperkenalkan.


Mendengar nama suaminya disebut, Naz langsung membalikan badannya, ia tersenyum dan bernafas lega karena akhirnya ia bisa menghindar dari kehebohan ibunya Bisma yang seolah berusaha mendekatkan dirinya pada Bisma.


Arfin mendekat dan berdiri di samping Naz, ia mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan ibunya Bisma tersebut, mereka pun bersalaman, dan ia juga menyalami Bisma.


“Arfin,,,”, ucapnya memperkenalkan diri, lalu ia melingkarkan tangannya pada pinggang Naz,


“Dan ini istri saya, Rheanazwa”, ia pun memperkenalkan Naz dan sontak itu membuat ibu dan anak itu terkejut.


“Istri…??”, tanya keduanya serentak.

__ADS_1


“Iya,, Naz ini istri saya,, dan sekarang ia sedang mengandung anak kami”, ucapnya lagi lalu mengelus perut istrinya.


“Mama kok terkejut gitu sih,,, Pak Al Arifin ini kan memang sudah menikah, dan dia juga mengundang kita ke pernikahan mereka,, cuman saat itu kita berhalangan hadir,, jadinya diwakilkan oleh Zidan sama istrinya”, ucap beliau yang melihat ekspresi istri dan anaknya, kemudian ia mengarahkan pandangan pada Naz,


“Saya Pandri, rekan bisnisnya Pak Al.. “,beliau pun memperkenalkan diri dan mengulurkan tangan pada Naz, lalu Naz pun menyalami-nya sambil mengulas senyum dan menganggukkan kepalanya.


“Oh,,, jadi Pak Al Arifin nikahnya sama Rheanazwa yang ini toh,,, tapi Mami baca di undangan nya dulu nama orang tuanya Razan dan Rahmi kalau nggak salah, bukannya Naz ini anaknya dokter Rizal sama Anita”, Beliau merasa heran dan bingung.


“Mereka orang tua kandung saya, Tante,,, kan teman- teman SD saya pada tahu kalau saya ini anak angkatnya Ayah Rizal sama Bunda Anita”, Naz memberi penjelasan.


“Oh,, pantesan,,, “, Ibunya Bisma menganggukkan kepalanya, sementara Bisma yang masih shock hanya berdiam diri, dan Arfin memberikan tatapan sinis padanya.


“Kok Mama tahu kalau istrinya Pak Al Arifin ini anaknya dokter Rizal?”, Pak Pandri merasa heran.


“Loh kan Nanaz ini dulunya satu SD sama Bisma,, dia ini adik kelasnya Bisma, bahkan sekarang mereka satu kampus, Pa ", Ibunya Bisma kembali menjelaskan.


“Acaranya sebentar lagi dimulai, mari kita duduk “, Pak Pandri yang mendengar suara MC yang hendak membuka acara pun mengajak duduk.


“Iya, Pak,, rekan- rekan saya sudah menunggu di meja sana,, permisi Pak,,, “, Arfin berjalan dengan menggandeng istrinya menuju meja yang ditempati teman sekantornya, Lutfi, Dilara dan Om Aji.


Selama pesta berlangsung Arfin nampak diam saja tak banyak bicara, jika ditanya menjawab seperlunya, dan jika tidak ada yang mengajak bicara akan diam saja, padahal keempat orang di meja tersebut ada saja hal yang dibicarakan.


Raut wajahnya nampak sedang memendam kekesalan, Naz yang menyadari hal itu merasa takut jika Arfin tadi mendengar apa yang dibicarakan oleh ibunya Bisma, dan ia takut jika suami nya akan salah paham padanya. Ada rasa penyesalan yang dirasakannya, karena ia tak berterus terang dari awal pada suaminya tentang pria yang bernama Bisma itu.


Baru saja setengah jam duduk di sana, Arfin mengajak Naz pulang dengan alasan tidak ingin pulang terlalu malam mengingat istrinya yang sedang mengandung. Ia pun tak sempat berpamitan pada Pak Pandri, hanya titip pesan saja pada rekan-rekan nya kalau ia dan istrinya pulang duluan.


Selama di perjalanan Arfin hanya konsentrasi menyetir, tetap diam seribu bahasa. Naz pun tak berani memulai pembicaraan, takutnya akan membuat suaminya marah.


Baru saja ia keluar, Arfin yang memegang ponsel Naz langsung memberi tatapan tajam. Naz kemudian melangkah mendekat ke tempat tidur, lalu ia duduk di tepian tempat tidur.


“Siapa laki- laki itu?”, Arfin mulai menginterogasi sang istri.


“Si siapa maksud Aa?”, Naz menjawab dengan gugup, seolah firasatnya menjadi kenyataan.


“Apa laki- laki itu yang membayarkan makanan mu tempo hari karena dompet mu tertinggal di rumah?”, Arfin yang nampak menahan amarah, masih bicara seperti biasanya.


Naz menundukkan kepalanya,”Iya,,, “.


Arfin mendengus kesal, “Jadi laki- laki itu adalah orang yang dulu pernah memberimu surat cinta ??", tanyanya lagi.


Naz menegakkan kepalanya, "Iy iya... tapi itu kan saat masih SD,,, dan hanya main- main saja,, enggak beneran, A", Naz berusaha memberi penjelasan.


" Lalu kenapa kamu tidak berterus terang tentang pria itu? kamu bilang kamu tidak mengenalnya? Apa ini yang menyebabkan kamu bersikeras untuk ikut ospek padahal aku sudah melarang mu? Apa karena dia hah?”, Arfin mulai menaikan nada bicaranya.


“Eng enggak gitu,, Aa salah paham,,, aku sama sekali gak tahu kalau dia kuliah di kampus yang sama dengan ku”, Naz mulai ketakutan dan terus berusaha menjelaskan.


“Dan setelah kamu tahu dia satu kampus dengan mu, kamu menyembunyikan identitas mu yang sudah menikah bahkan sedang hamil,, iya kan?”, Arfin semakin geram.


“Eng enggak,, aku____ “, Naz belum selesai melanjutkan perkataannya karena merasakan sesak di dadanya mendengar tuduhan suaminya.

__ADS_1


“Kalau tidak ,,, kenapa tadi dia sangat terkejut saat aku bilang kamu itu istriku?”, Arfin terus menaikan nada suara nya.


”Hehh,, Bahkan ibunya yang nampak akrab sekali dengan mu sampai bilang kalau kalian berjodoh karena sekarang dipertemukan kembali,,”, Arfin masih menahan marahnya.


“Aa salah paham,,, aku gak ada apa- apa sama dia,,, ", Naz terus berusaha menjelaskan dengan mata yang berkaca- kaca.


“Aku tidak tuli !!! aku benar- benar mendengar jelas ibunya laki- laki itu mengatakan hal itu pada kalian !!”, Arfin meneriaki Naz. dengan deru nafas yang menggebu-gebu,


“Aku mengizinkan mu kuliah untuk memenuhi janjiku pada mu dan orang tua mu, agar kamu bisa meraih apa yang kamu cita- cita kan,, bukan untuk kecentilan atau berselingkuh dengan laki- laki lain,,, apa kamu tidak sadar kamu itu sudah punya suami bahkan sekarang kamu sedang hamil,,, apa kamu lupa itu hah??”, Arfin terus membentak.


Arfin menunjukan ponsel Naz yang dipegangnya, “Dan ini,,, sepanjang perjalan tadi kamu terus tertawa ceria saat chating bersama ketiga sahabatmu,, yang ternyata membahas laki- laki itu, apa kamu tidak malu membahas laki- laki lain dengan ketiga sahabatmu, sementara aku,, suami mu duduk di sebelah mu,, hahh???”.Arfin kembali meneriaki Naz yang sudah bercucuran air mata, ia benar- benar dibutakan api cemburu.


“Arghhhh,,,,”, Arfin melemparkan ponsel Naz ke tempat tidur. Naz yang tengah menangis lalu memejamkan matanya dengan menempelkan kedua telapak tangan pada perutnya karena takut ponsel itu akan dilemparkan padanya.


Saat ia melihat Naz menangis sambil memegang perutnya, barulah ia sadar bahwa ia telah membentak wanita yang sedang mengandung anaknya itu. Arfin mengusap kasar kepalanya, kemudian beranjak pergi keluar dari kamar dengan membanting pintu, sedangkan Naz terus menangis.


Tak lama terdengar suara mobil, dan sepertinya Arfin pergi keluar untuk menenangkan diri entah untuk menemui pria yang bernama Bisma itu.


Tengah malam Arfin baru kembali, ia tak masuk ke kamarnya, bahkan untuk sekedar melihat keadaan istrinya, ia malah rebahan di sofa ruang tengah hingga ia tertidur tanpa mengganti pakaiannya.


**


Keesokan harinya Arfin terbangun saat mendengar adzan subuh, ia kemudian bangkit dan berjalan menuju kamar nya, entah kesadarannya belum terkumpul, entah ia lupa kalau dirinya sedang marah pada istrinya, ia langsung masuk begitu saja.


Dinyalakanlah lampu kamar tersebut, terlihat tempat tidurnya nampak rapi, ia tak melihat keberadaan istrinya di sana dan hanya ada ponsel nya saja, mungkin sudah dibereskan pikirnya. Ia mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi.


Seusai mandi ia membuka lemari untuk mengambil pakaian, ia merasa ada yang aneh, lalu setelah berpakaian dan shalat, ia keluar berjalan menuju ke dapur sambil mengedarkan pandangannya ke segala arah.


“Mbak,, tolong bikinkan lemon tea panas ya”, ucapnya lalu ia beranjak ke ruang makan dan duduk di sana.


“Nggih, Den”, Mbak Retno segera melaksanakan titah majikannya.


Tak lama Mbak Retno datang membawa minuman yang diminta Arfin tadi lalu menyuguhkannya pada sang majikan. Arfin mengambil gelas tersebut dan segera menyeruput lemon tea hangat semu panas pesanannya.


“Nona kok tumben belum keluar kamar, biasanya jam segini udah minta dibuatkan makanan pengganjal sebelum sarapan, katanya kalau abis subuh tidur lagi takut kesiangan ke kampus nya", Mbak Retno mempertanyakan Naz yang belum dilihat keberadaannya.


“Apa?? Dia belum keluar kamar??”,, Arfin terkejut mendengar nya.


“Belum Den..”, Mbak Retno menggelengkan kepalanya.


Arfin bangkit dan bergegas pergi menuju kamar nya, ia mencari keberadaan Naz di kamar atau pun di kamar mandi, tapi tak menemukannya, dan hanya ada ponsel Naz di atas tempat tidur. Ia keluar mencari ke semua kamar kosong yang ada di rumah itu, tetap tak menemukannya. Ia teringat saat tadi membuka lemari pakaian, ia pun kembali ke kamar nya dan melihat isi lemari, dan koper milik Naz tidak ada dan pakaian Naz terlihat berkurang dari sebelumnya.


Arfin mengusap kasar kepalanya, tubuhnya mendadak terasa lemas, ia menjatuhkan dirinya ke lantai,


“Dia pergi,,,..”. lirihnya yang kini tengah duduk di atas lantai, rasa penyesalan yang begitu dalam kini dirasakannya, ia baru menyadari jika semalam ia telah lepas kendali memarahi istrinya karena terbakar api cemburu.


--------------- TBC --------------


*********************

__ADS_1


Happy Reading…..


__ADS_2