Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Gara- Gara Siluman Gio


__ADS_3

Gedung aula yang biasanya nampak sepi karena hanya dipakai saat ada acara saja seperti acara perpisahan kelas tiga, perlombaan antar kelas, pemilihan ketua OSIS, pertunjukan dari ekstrakulikuler sekolah dan lain sebagainya, kini panggungnya di sulap menjadi altar cinta yang dihiasi banyak bunga serta balon cinta dan balon ungkapan tanda cinta. Entah siapa yang dengan seenak jidatnya berani melakukan hal ini pada ruangan fasilitas sekolah, bisa dibayangkan bagaimana reaksi guru apalagi kepala sekolah jika mengetahui hal ini.


Kini dua sejoli tengah berada di atas panggung tepatnya dalam lingkaran lilin bersimbol cinta seolah menjadi lelakon dalam pementasan panggung sandiwara, sang gadis tengah berdiri sedangkan sang pria tengah berlutut dihadapannya dengan membawa buket bunga di salah satu tangannya yang disembunyikan di belakangnya bagaikan seorang pangeran dalam negri dongeng yang tengah menyatakan cintanya.


“Rheanazwa,,, gadis pujaan hatiku, sudah sejak lama aku menaruh hati padamu, sejak aku bertemu dengan mu aku tidak pernah berhenti memikirkan mu, bertemu dengan mu adalah takdir, menjadi temanmu adalah pilihan, tapi jatuh cinta denganmu benar- benar diluar dayaku, aku cinta sama kamu Rheanazwa,,,, maukah kamu menerima cintaku dan menjadi kekasihku?”, Pria itu menyatakan cintanya pada Naz, sedangkan Naz hanya diam mematung karena merasa sangat terkejut menatap pria yang sedang berlutut di hadapan nya itu, kemudian ia melirik ke tempat ketiga sahabatnya berdiri, mereka pun sama terkejutnya dengan menampakan mulut yang ternganga.


“Naz,,, aku menunggu jawaban mu”, ucap pria itu seolah membuyarkan lamunan Naz.


Naz menarik nafas panjang lalu menghembuskan nya dan menatap pria yang sedang berlutut di hadapannya itu, “Maaf,,, Gio,, aku tidak bisa menerima cintamu, lebih baik kita tetap berteman saja”, Naz menjawab dengan tenang.


Gio yang nampak terkejut kembali bertanya, “Kenapa Naz,, apa alasannya? Selama ini kamu baik padaku, di kelas juga saat aku tidak mengerti pelajaran kamu selalu mengajariku, saat aku butuh bantuan kau menolong ku”.


“Gio,,, aku hanya menganggap mu sebagai teman saja, lagi pula jika di kelas ada yang bertanya padaku soal pelajaran aku selalu membantu mereka bukan cuman kamu saja Gio,, tolong jangan menyalah artikan nya”, ucap Naz meluruskan.


“Kenapa Naz,, aku kurang apa? Apa aku kurang tampan atau kurang kaya?”, Gio pun berdiri dan terus mempertanyakan alasan Naz.


“Cukup ya Gio, aku tidak pernah memandang orang dari segi fisik atau materinya saja, aku memang menutup diri dari pertemanan orang luar, tapi jika ada yang butuh bantuan ku, aku akan membantu mereka semampuku, apalagi kalau hanya masalah pelajaran, jadi tolong jangan menyalah artikan kebaikanku.” Ucap Naz menjelaskan, “ Sebelumnya terimakasih sudah menjadikan aku orang spesial di hati mu dan terimakasih sudah repot- repot melakukan hal ini, tapi aku minta maaf sekali lagi, aku tidak bisa menerimanya karena aku tidak memiliki perasaan apapun terhadapmu Gio”, ucap Naz lalu melangkahkan kakinya hendak meninggalkan panggung hamparan bunga itu.


Baru saja dua langkah melewati Gio ia kembali bertanya, ”Apa aku tidak sebanding dengan pria yang suka mengantarkan mu ke sekolah menggunakan mobil mewahnya,, atau dengan pria pincang yang kau peluk saat di belakang ruang kepsek tempo hari?”.


Naz langsung menghentikan langkahnya,” Apa maksud ucapan mu Gio?”, Naz menatap tajam ke arah Gio.


“Kamu pikir aku tidak tahu siapa kau sebenarnya?”, ucap Gio tersenyum sinis, “Kau bisa berhubungan dengan dua pria sekaligus, lalu kenapa kau menolak ku ? apa karena tidak bisa membagi tiga cinta mu begitu?”.


“Breng*sek, jaga mulut lo Gio !” Ucap Kiara menunjuk Gio dari bawah panggung.


“Hehh,, gak usah sok suci kamu Naz,, untunglah kau menolak ku, jadi aku tidak perlu malu jika punya pacar kamu yang merupakan anak hasil perselingkuhan dari seorang wanita murahan”, Gio kembali melontarkan kalimat yang merendahkan Naz.


“Anj*ng lo Gio”, Kiara langsung loncat naik ke panggung tanpa melewati tangga bak kingkong yang kelaparan sedang berburu pisang, Bughh,,Kiara langsung menghadiahkan satu bogeman pada wajah Gio tanpa aba- aba,,kemudian Ruby dan Andes pun ikut naik ke panggung melewati anak tangga, dan menghampiri Kiara yang tengah murka, sedangkan Naz hanya diam mematung mendengar penghinaan Gio tadi.


“Heh,, Gio sialan, lo tuh ya kalo mau nembak cewek gak usah terlalu percaya diri bakal di terima, harusnya lo juga harus bisa nerima resiko kemungkinan lo bakal di tolak, ya harus fair dong, lagian perasaan itu gak di paksakan”, ucap Ruby sambil menunjukan jari telunjuk nya ke arah Gio yang sedang meringis kesakitan memegang pipinya.


“Iya,, dasar siluman lo,, untung aja Naz nolak lo laki- laki bermulut cabe setan”, Andes pun ikut memaki.


“Emangnya gue salah ngomong ? ,,Perempuan yang memiliki hubungan dengan dua orang pria sekaligus harus disebut apa emang kalo bukan perempuan murahan,,, MU RA HAN,,,”, Gio malah semakin memperjelas hinaan nya terhadap Naz.


Bugh ,,,”Bener- bener anj**g lo ya,,, “ Kiara kembali memukul Gio hingga ia jatuh tersungkur, disusul dengan Ruby dan Andes yang memukul dengan buket bunga yang berjejer di sana. Tanggung bener mukul pakai buket bunga hadeuh, pakai kursinya kek.


“Ada apa ini??”, terdengar suara bariton dari arah pintu masuk aula dan menghentikan kegiatan Ruby dan Andes yang terus memukul Gio dengan buket bunga yang diambil satu persatu dari jejeran kursi.


“By,,, kayaknya kok kenal sama suara itu”, ucap Andes pelan.


“Iya ,,wanjiirr,,, itu kok kayak suara Pak Emir si guru BK super galak itu”, Ruby menebak- nebak.


Kiara, Ruby, dan Andes pun membalikan badannya dan melihat ke arah asal suara, dan benar saja Pak Emir dan Pak Haris sedang berjalan menghampiri mereka yang tengah membulatkan matanya arena terkejut dan takut.


“Apa yang sedang kalian lakukan di sini? Dan apa ini berantakan sekali panggungnya?”, Tanya Pak Haris dengan nada tegas. Tiba- tiba Gio bangun dan berdiri dengan keadaan hidungnya mengeluarkan darah dan bonyok di bagian pipi nya.

__ADS_1


“Mereka semua mengeroyok dan menganiaya saya Pak”, ucapnya memberi laporan.


“Hei anji*g,,,,lo yang mulai ya,, dasar pengecut tukang ngadu lo”, ucap Kiara emosi lalu mendorong tubuh Gio sampai ia oleng.


“Kiara, kalau bicara itu yang sopan, jangan kasar seperti itu, anak perempuan ko hobi berkelahi ”, ucap Pak Emir dengan nada marah.


“Emang Gio yang mulai Pak, terus yang mendekor panggung ini dengan bunga- bunga juga dia “, Ruby ikut membela Kiara.


“Iya bener Pak,, kami cuman memberinya pelajaran,, ini kan melanggar aturan Pak, masa merias panggung aula untuk kepentingan pribadi tanpa seizin pihak sekolah, iya kan Pak?”, Andes pinter bermodus ternyata.


“Apa itu benar Gio? “, Pak Haris bertanya pada Gio.


“Iy iy Pak”, jawab Gio sambil menunduk.


“Sekarang juga kalian ikut saya ke ruang BK”, ucap Pak Emir mengeluarkan perintah.


Mereka berlima pun mengikuti perintah Pak Emir mengikutinya yang beranjak pergi keluar aula lalu menuju ruang BK. Sesampainya di sana mereka di interogasi satu persatu dan mendapatkan ceramah dari sang guru BK yang katanya super galak itu, lalu mereka diberi hukuman sepulang sekolah harus membersihkan seluruh pekarangan sekolah, dan setelah jam istirahat mereka diperbolehkan masuk ke kelas masing- masing untuk menyelesaikan prosesi pembelajaran.


Setelah bel berbunyi menandakan waktunya pulang, kelima orang yang akan menjalankan hukuman itu dipanggil satu- persatu melalui micropon yang terdengar ke seluruh penjuru sekolahan ini.


“Dasar guru killer, pake diumumin segala lagi manggilin nama-nama kita”, ucap Kiara menggerutu sambil berjalan bersama Andes menuju kelas 2IPA1 tempat Naz dan Ruby berada.


“Ya ampun, Pak Emir emang orang terniat banget bikin kita famous gini”, ucap Ruby pada ketiga sahabatnya yang tengah berkumpul.


“Maafin gue ya,, gara- gara gue kalian jadi kena masalah dan di hukum,,,”, Ucap Naz merasa bersalah.


“Ini bukan salah lo kali,, jelas- jelas ini salah si siluman Gio itu”, ucap Andes.


“Iya,, gue juga belum puas ngobrak- ngabrik semua bunga di sana,, eh tapi untung ya kita gak diminta beresin aula cuman halaman doang”, ucap Ruby.


“Mending beresin aula deh cuman panggung doang, lah ini satu halaman sekolah, luas Marisol”, ucap Andes protes.


“Eh,, udah- udah,, ayo berangkat sebelum Mr. Emir manggil lagi,, gak enak banget gue denger suara rombeng nya”, ajak Kiara.


Mereka pun bergegas menuju ke ruang BK berkumpul di sana dan menerima arahan dari Pak Emir untuk melaksanakan hukuman mereka, kelima orang tersebut dibagi dua grup Andes bersama Gio, sedangkan Naz bersama Ruby dan Kiara, mereka mulai membersihkan pekarangan sekolah dengan memungut semua sampah yang ada, menyapukan dedaunan kering yang berserakan sampai selesai.


Setelah satu jam berlalu hukuman pun selesai dan mereka akhirnya bisa pulang, seperti biasa Kiara bersama Ruby naik motor, Andes dan Naz menunggu jemputan di pintu gerbang sekolah. Tiba- tiba datang sebuah mobil mercy di pinggir jalan yang tak jauh dari pintu gerbang dan keluarlah seorang pria dari dalam mobil menghampiri Andes dan Naz, “Hai cantik,,, Ayo Abang antar pulang”, ucap Nervan mengajak Naz pulang.


“Aku gak diajak nih?”, tanya Andes yang merasa gak dianggap keberadaanya karena pandangan Nervan hanya tertuju pada Naz.


“Enggak ahh,, saya maunya menjemput orang cantik saja,, kamu kan gak cantik Andes,,,”, ucap Nervan dengan kata- kata nyelenehnya.


“Cape dehh,,, cuman orang yang gak waras bilang aku cantik”, Andes menatap jengah.


“Iya sih kamu gak cantik,, tapi gak ganteng juga sih,,”, Nervan malah mengejek.


“Maksud Bang Evan, aku inih jelek gitu?,, kasar”, ucap Andes dengan tatapan tajam.

__ADS_1


“Saya gak bilang gitu loh,, kamu sendiri ngaku ituh”, Nervan emang bener sih.


“Iiih,, itu kan bilang aku gak cantik tapi juga gak ganteng berarti kan secara tidak langsung Bang Evan ngatain aku jelek”, Andes protes dengan nada manja.


“Andes,, saya harus ngomong apa emangnya? Saya ini gak bisa merayu laki- laki, karena masih suka sama perempuan”, Nervan semakin menggoda Andes.


Naz hanya menertawakan obrolan aneh dua lelaki di hadapannya itu. Di saat yang bersaman Gio baru saja keluar dari pintu gerbang menggunakan mobil sport nya lalu membuka kaca mobilnya dan melihat ke arah Naz lalu memperlihatkan senyum sinis nya seakan tengah mengejeknya, dan seketika hal itu mengubah raut wajah Naz.


“Hei cantik,, ayo kita pulang”, ajak Nervan.


“Enggak Bang, aku bisa pulang sendiri”, Naz menolak dengan nada jutek.


“Loh kok gitu sih,, Abang udah bela- belain kesini loh jemput kamu cantik”, bukan Nervan namanya kalo enggak memaksa.


“Maaf Bang,, tapi aku lagi di jemput sama Pak Udin, dan beliau masih di jalan menuju ke sini”, Naz beralasan.


“Itu masalah gampang, nanti Abang telepon pak Udin nya”, Nervan masih tidak menyerah.


" Enggak Bang,, maaf aku tetap mau nungguin Pak Udin”, Naz pun tetap kekeh.


“Udah ahh,, kamu jangan keras kepala gitu dong cantik,, ayo lah”, Nervan tetap memaksa lalu menggenggam tangan Naz dan menariknya.


“Lepas Bang,, aku bilang enggak ya enggak,,,”, Naz melepaskan tangannya dari genggaman Nervan dengan kasar, lalu Naz menghentikan taksi yang lewat dan kemudian langsung menaikinya.


“Naz,, tunggu”, Nervan berteriak dan hendak melangkah untuk menghampiri Naz.


“Bang Evan,, jangan dikejar,, Naz sedang butuh waktu menyendiri”, ucap Andes dengan nada serius.


“Memangnya dia kenapa?? Apa dia punya masalah?”, tanya Nervan yang merasa heran dengan perubahan sikap Naz yang tiba- tiba.


Andes berfikir sejenak, “Emm,,, maklum lah Bang,, namanya juga perempuan lagi PMS ya gitu mood nya susah ditebak, suka berubah- ubah,, aneh gitu lah,, aku juga gak ngerti”, ucap Andes menjawab seenaknya, “Eh Bang aku duluan ya,, itu mobil Mami aku udah datang,, babay Bang Evan”, Andes pun berpamitan langsung menghampiri mobil jemputan dan menaikinya.


“Ada apa dengan Naz,,, apa dia marah padaku?? Ahh…Yasudah lah nanti ku tanyakan padanya”, ucapnya lalu kembali menaiki mobil mercy miliknya dan kemudian melajukannya.


Sementara Naz yang menaiki taksi sedang menuju alamat yang sudah diberitahukannya pada supir taksi tersebut, ia mengirim pesan kepada Pak Udin dan juga Bunda mengabari keberadaanya, sepanjang jalan Naz melamun dan nampak memikirkan sesuatu. Selang beberapa saat tibalah dia di sebuah taman, kemudian Naz turun setelah membayar argo taksinya. Naz berjalan dengan gontai masih dalam mode melamun, kemudian ia duduk di kursi besi tempat kesukaannya itu dan memandang ke danau.


“Mengapa kata- kata Gio begitu menyesakkan dadaku,,, apa semua orang juga berpikiran hal yang sama terhadapku?? Apa aku hanya akan membuat pasanganku malu nantinya karena identitas ku? Hiks,,, Hiks,,, hiks,,,”, ucap Naz sambil memegang dada nya, dan tanpa terasa air mata yang sejak tadi ditahannya mengalir deras membasahi kedua pipinya. “Apa itu juga alasan dia tidak pernah menghubungiku lagi, setelah dia mengetahui perasaanku, apa dia juga takut jika identitas ku akan mempermalukannya??,,, huhhuhuhuhu,, hiks hiks ….”, ucap Naz kemudian ia mengangkat kedua kakinya ke atas kursi dan duduk menyamping, lalu menekuk kedua kakinya dan memeluknya , ia pun menangis sambil menundukkan kepalanya.


Setelah beberapa saat Naz menangis dalam kondisi seperti itu, tiba- tiba ada yang mengusap kepalanya, “Kenapa menangis seperti ini, apa ada yang menyakitimu Naz??”, tanya oang itu,, dan saat Naz mendengar suara orang yang mengusap- usap rambutnya, ia langsung mengangkat kepalanya dan melihat orang tersebut yang ternyata sedang duduk di kursi yang sama dengannya.


---------- TBC ----------


************************


Kurang asem emang Gio itu ya gak terima karena cintanya ditolak jadi kek bagitu..... siapa hayo dari kalian yang tebakannya benar pria yang nembak kemarin...??? 😜


ikuti kisah selanjutnya ....

__ADS_1


Happy Reading 😉🥰


Jangan lupa tinggalkan jejakmu 😉😘


__ADS_2