Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Kenapa Kamu Jadi berubah ??


__ADS_3

Perjalanan ke puncak yang begitu macet tidak membuat kesal atau marah ataupun badmood ketiga wanita penumpang dalam mobil ini, justru mereka sangat bergembira ria dan terus berkicau tertawa sampai menyanyi seolah bernostalgia mengingat masa lampau.


“Eh,, kalian inget gak,, dulu waktu masih TK kan kita liburan ke puncak, dan sepanjang jalan kalian menyanyi lagu naik- naik ke puncak gunung, karena menurut kalian puncak itu adalah ujung gunung dari semua gunung", ucap Bu Rahmi.


“Iya iya aku ingat,,, terus pas nyanyi ada yang diganti lirik nya, karena melihat pohon stroberi dan pohon teh”, Raline ikut berkomentar.


“Hahaa,,, dan akulah yang marah- marah minta diganti liriknya itu,, malah menyalahkan pencipta lagunya,, haha”, Naz ternyata tengil sejak kecil ya.


“Naik naik ke puncak gunung tinggi tinggi sekali


Naik naik ke puncak gunung tinggi tinggi sekali


Kiri kanan kulihat saja banyak pohon stroberiiiiii


Kiri kanan kulihat saja banyak pohon daun teh…”


“Hahahahhaaa….. “.mereka bernyanyi bersamaan lalu tertawa bersama juga,, sedangkan Papa malah tertidur lelap dan anehnya tidak terganggu dengan penumpang yang sangat berisik itu. Hardi masih konsentrasi menyetir karena jalanan begitu padat, ya wajar saja karena ini hari libur tahun baru dan juga long weekend, yang biasanya hanya membutuhkan waktu satu setengah jam, karena macet mereka baru sampai setelah tiga jam lebih perjalanan.


Mereka sampai di sebuah vila milik Opa Harfi yang terletak di Cisarua, Bogor. Bangunan Vila nya begitu luas dengan kolam renang dan area outdoor, dan di sana tersedia 5 kamar dimana dari setiap kamar dilengkapi jendela kaca besar yang menyuguhkan pemandangan hijau di sekeliling villa. Area makan dan tempat santainya pun dengan konsep semi outdoor, sehingga udara sejuknya terasa di seluruh ruangan. Area rootof nya menyuguhkan view yang memanjakan mata dengan keindahan pemandangan alam disekitarnya.



Mereka pun memasuki kamar yang disiapkan untuk beristirahat sejenak sekalian menyimpan barang- barang mereka. Raline dan Naz memutuskan untuk satu kamar dan memilih kamar yang terdapat dua bed. Pak Syarief tentunya satu kamar dengan istrinya, sedangkan Hardi seorang diri karena belum memiliki teman bobo.


Naz dan Raline sangat bergembira, mereka seperti anak kecil yang baru bertemu kembali setelah sekian lama berpisah. Berlarian ke sana kemari sesekali menjahili Papa atau pun Kakak mereka, sedangkan Bu Rahmi sedang memanaskan makan yang sebelumnya dibawa dari rumah untuk makan siang mereka dengan dibantu oleh asisten rumah tangga yang selama ini merawat villa tersebut.


Setelah semuanya siap, mereka pun makan bersama dengan duduk lesehan sambil menikmati indahnya pemandangan alam.


Seusai makan mereka kembali ke kamar masing- masing melanjutkan istirahat mereka. Berbeda halnya Raline dan Naz mereka sibuk bercerita tentang sekolah dan lain sebagainya, kecuali tentang cowok karena mereka sedang patah hati. Naz yang sedang bermasalah dengan Arfin, sedangkan Raline yang selama ini naksir Nervan dan sempat dekat tapi sekarang tidak lagi karena istri Nervan ternyata sudah kembali.


***


Malamnya mereka pesta BBQ walaupun hanya berempat saja, tapi rasa hangatnya kebersamaan dengan keluarga begitu terasa. Inilah yang selama ini diimpikan Naz, bisa berkumpul dengan orang tua kandungnya dan mendapatkan kasih sayang dari mereka, sungguh kebahagiaan yang luar biasa baginya. Mereka pun terus mengabadikan setiap momen dengan kamera ponsel, baik itu foto maupun dibuat video.


Malam hari di puncak terasa dingin jauh berbeda dengan di ibukota, seusai makan- makan, mereka kembali ke kamar masing- masing karena hari sudah larut. Raline langsung nyungseb di kasur yang sepertinya sudah sangat mengantuk, sedangkan Naz yang belum bisa tidur malah memainkan ponselnya melihat- lihat hasil jepretan dan Video sejak siang tadi. Lalu ia membuka chat, yang ada hanya chat dari Ayah, Bunda dan ketiga sahabatnya, sedangkan yang dinanti tak kunjung menghubunginya baik itu chat ataupun panggilan telepon, bahkan saat ia lihat daftar yang melihat unggahannya tak menemukan orang itu, namun saat melihat kontaknya terakhir online satu jam yang lalu.


“Apa dia benar- benar tidak berniat menjelaskan apa pun padaku? Jangankan untuk menghubungiku, melihat status ku saja tidak,, padahal itu hal yang sering ia lakukan tiap aku update status,,, Bang Evan aja melihat smua status WA ku dari pagi hingga barusan”, gumam Naz dalam hati sambil menatap sendu pada layar ponselnya.


“Kenapa kamu jadi seperti ini?? Aku sangat merindukan mu,, aku sangat merindukan mu,,, hiks hiks”, lirihnya sambil melihat foto kebersamaan mereka di layar ponselnya yang sempat ia simpan di email-nya, sampai ia tertidur.


Ternyata rasa benci yang ia ucapkan hanya sebagai ungkapan kemarahan dan kekecewaannya sesaat, sesungguhnya dalam hatinya masih sangat mencintai pria yang sudah menjadi pacarnya selama tiga bulan lebih itu. Entah karena keduanya keras kepala, entah karena Arfin merasa bersalah ataukah Naz yang merasa gengsi untuk tidak menghubungi lebih dahulu.


***


Keesokan harinya, pagi- pagi setelah sarapan Naz bersama keluarganya pergi ke perkebunan teh, dan di sana mereka bertiga bermain- main sambil berfoto ria, sedangkan kedua orang tuanya mengunjungi pabrik teh yang merupakan milik keluarga Harfi.





Sorenya trio kwek- kwek Naz, Raline dan Hardi pergi ke taman bunga, dan banyak bunga warna warni di sana.






Seusai itu mereka membeli oleh- oleh untuk dibawa pulang nanti, diantaranya beberapa makanan khas dari sana. Naz benar- benar menikmati liburannya, walau sesekali ia tetap teringat pada Arfin yang ia rindukan.


Mereka memutuskan untuk pulang minggu subuh karena Naz dan Raline esok harinya sudah mulai sekolah, sehingga mereka bisa istirahat dulu di rumah seharian.


Dan mereka pun tiba di rumah jam 7 pagi. Mereka langsung sarapan kemudian Naz diantar pulang ke rumah Bunda, karena ia hanya berjanji akan menginap 3 hari saja di rumah Mama nya. Dengan berat hati Bu Rahmi pun mengizinkan Naz pulang, walau sebenarnya masih ingin berlama- lama bersama putrinya itu.


Sesampainya di rumah Bunda, Naz langsung menyerahkan oleh- oleh pada Mbak Iyem yang dibantu dibawakan oleh Pak Udin karena lumayan banyak.”Mbak,,, Bunda dimana?”, tanya Naz.


“Ibu ada di kamar, lagi siap- siap”, jawabnya.


“Lagi siap- siap ?,, emangnya mau kemana?”,tanya Naz heran.

__ADS_1


“Katanya mau jenguk Bude Hafsah ke rumah sakit”, jawab Mbak Iyem lagi.


“Eh,,,, iyaa,, aku juga belum jenguk Bude lagi,,, aku mau ikut ahh,, aku naik ke atas dulu ya Mbak,, ini cucian semua ya,, hehee”, ucap Naz sambil menyerahkan koper pakaiannya, kemudian ia pun naik ke lantai dua.


Tok tok tok,,,,, “Bundaa,,,, “, teriak Naz.


“Masuk,,, “, ucap Bunda.


“Pagi Bunda,,, mau kemana nih udah rapi gitu?“ ,tanya Naz pura-pura tidak tahu.


“Eh,, kamu udah pulang Dek? Bunda mau ke rumah sakit,, jenguk Bude Hafsah,,, baru sempet sekarang inih “, jawab Bunda.


“Aku ikut ya,, aku juga belum sempet jenguk lagi,, padahal Bude udah dirawat seminggu lebih”,ucap Naz.


“Emangnya gak capek apa? Baru juga pulang udah mau ikut keluar”, tanya Bunda.


“Enggak lah,,, lagian kan naik mobil gak jalan kaki,,,hehehe,, aku mandi terus siap- siap dulu ya”, ucap Naz yang kemudian beranjak pergi dan masuk ke kamarnya. Ia menyimpan tas lalu mengambil handuk serta pakaian ganti dan bergegas ke kamar mandi.


Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Naz menyisir rambut dan memakai pelembab di wajahnya lalu memakai bedak, serta memoleskan liptint di bibirnya. Naz mengeluarkan isi tasnya lalu memindahkan barangnya ke tas lain, seperti dompet, liptint, bedak, tisu basah dan ttisu kering mini pack, serta ponsel yang ternyata belum ia nyalakan setelah semalaman di charger. Saat baru beberapa menit dinyalakan langsung ada panggilan vieo call.


“Hallo,,, assalamu'alaikum nyonya Emir,, hahaha”, sapa Naz.


“Wa’alaikumsalam,,, sialan lo,,, siapa juga yang udah jadi nyonya Emir”. Kiara langsung ngegas.


“Hahaha,,, masih belum ngaku juga ya lo, Ra…. Gimana liburannya, asyik gak?”, tanya Naz.


“Ya gitu deh,,, lo kemana aja sih? Nomor lo sempat gak aktif- aktif,, kemaren yang baru gak aktif juga”, Kiara balik bertanya.


“Sory sory,,, ceritanya panjang banget,,,gue sampai kehilangan ponsel dua kali tahu gak… ehh itu lo lagi dimana sih?”, Naz melihat banyak orang duduk di kursi yang berjejer.


“Gue lagi di rumah sakit,,, tadinya kita bertiga mau ke rumah lo nganterin oleh- oleh sekalian cerita- cerita, soalnya kemarin kita shock berat karena nomor lo yang baru aktif lagi tiba- tiba lo upload foto bareng si Raline,, eh ternyata Kakak gue yang lagi hamil ada pendarahan dan langsung deh dibawa ke rumah sakit”, Kiara menjelaskan.


“Ya ampun kasian banget,,, sekarang kondisinya gimana Ra?”, tanya Naz ikut prihatin.


“Alhamdulillah hanya pendarahan ringan, jadi kakak gue sama bayinya baik- baik aja,, cuman ya gitu harus bedrest dan gak boleh beraktifitas dulu… oh iya, tadi gue juga ketemu sama Bang Evan disini, sempet ngobrol juga dan …….”, belum selesai Kiara berbicara, terpotong oleh suara Bunda.


“Dek,, ayok,,, nanti keburu siang”, ucap Bunda yang tiba- tiba datang.


“Oh,, yaudah kalau gitu,, babhay juga,, wa’alaikumsalam…”,jawab Kiara mengakhiri panggilan.


Naz dan Bunda pun berangkat ke rumah sakit tempat Bude Hafsah dirawat.


“Bude teh masih muda sakitnya udah kronis gitu ya kasihan,,,, “, ucap Bunda sambil menyetir.


“Iya, Bunda,,, mana gak punya siapa- siapa,,, untunglah ada Kak Maira dan ibunya datang dari Jogja”, ucap Naz.


“Padahal mah umurnya jauh banget dibawah Bunda,,, kalau gak salah mah baru berumur 38 apa 39 tahunan gitu,,, cuman ya dulu kan nikahnya sama yang punya panti udah umuran gitu suaminya, karena suaminya dipanggil Pakde, jadi Hafsah juga di panggil Bude,,, padahal cocoknya mah dipanggil Dede kalo sama Bunda,,, hehe,, tapi ya dia yang minta semua orang manggil dia Bude, walaupun suaminya teh sudah meninggal,, ”.


“Pantesan,,, aku juga heran, kenapa semua orang manggil Bude, sampe Bunda, Mama, Mami juga pada manggil Bude, padahal kan kalian lebih tua dari Bude,,,”, ucap Naz yang baru tahu. “Emmm,,, oh iya Bunda,,, omong- ngomong Bunda udah ketemu sama Mami?”, tanya Naz penuh harap.


“Belum, dek,,, kemarin kita sempat ngobrol di telpon sebentar, katanya dia teh lagi sibuk ngurus bayi Atikah yang baru lahir, jadi dia bolak balik ke Depok, Mas Latief nya juga lagi di Surabaya, makanya belum ada waktu buat ketemu sama Bunda,, lagian gak enak juga kan kalau mereka lagi bahagia dengan kehadiran cucu baru, terus kita membahas masalah ini,,, “, ucap Bunda panjang lebar, "Memangnya Arfin belum menghubungi kamu?”, tanya Bunda.


Naz menggelengkan kepalanya dengan raut wajah sendu, “Yasudah,, mungkin kalian teh perlu waktu untuk saling menenangkan diri,, dan mungkin Arfin juga ikutan sibuk nganter Mami nya bolak- balik Depok sekalian jagain kedua ponakannya yang lain,,, mereka juga kan masih kecil- kecil, kita positif thinking saja Dek,,,”,Bunda memberi nasehat pada anak bontotnya itu.


Bunda mampir sebentar ke toko buah untuk membeli parsel buah sebagai buah tangan, kemudian kembali melajukan mobilnya. Setelah beberapa saat mereka pun sampai di rumah sakit.


Bunda dan Naz kini sedang di ruangan tempat Bude Hafsah dirawat, di sana ada Mina dan Bu Dasimah,ibunya Maira. Bunda hanya bisa berbicara dengan Bu Dasimah, karena Bude sedang beristirahat. “Bagaimana keadaan Bude sekarang? Maaf saya baru sempat menjenguk, kemarin- kemarin kakak ipar saya juga dirawat, jadi saya menemani dia”.


“Alhamdulilah dokter bilang sudah berangsur membaik, Bu,,, terimakasih Bu sudah meluangkan waktu menjenguk adik saya”, ucap Bu Dasimah.


“Naz bilang kalau penyakitnya sudah kronis ya?”, tanya Bunda.


“Iya Bu,,, padahal adik saya ini masih muda,,, dulu juga almarhum ibunya sakit seperti ini,, Hafsah ini adik saya dari lain Ibu,,, tapi kami sangat dekat walaupun sempat lama tidak bertemu, hanya berkomunikasi lewat hape saja”, Bu Dasimah menjelaskan.


“Ibu berdua saja jaga disini?”, tanya Bunda.


“Iya,, kadang ada Nak Arsyad datang kesini, biasanya sepulang kerja pasti datang,, tapi sudah tiga hari ini tumben belum kesini lagi,, mungkin sedang sibuk”, ucap Bu Dasimah.


Mereka pun terus berbincang- bincang, sedangkan Naz hanya duduk menyimak saja, dan setelah beberapa saat, Bunda dan Naz berpamitan pulang. Kemudian Naz mengajak Bunda pergi ke mall untuk membeli peralatan sekolahnya yang sudah habis, dan Bunda pun mengabulkan permintaannya.


Bukan Naz namanya kalau ke mall gak ke wahana permainan setelah selesai berbelanja, “Kamu mah yaa,, badan aja tinggi kayak model, umur udah 17 tahun, etdah masih aja suka permainan anak-anak kayak gini”,Bunda menggerutu saat Naz sudah selesai bermain, kemudian mereka berjalan mencari tempat makan karena sudah merasa lapar.


“Biarin aja,,, kan lumayan bunda bisa refresh otak,,, menghilangkan penat”, ucapnya sambil melihat- lihat,” Bunda,, kita makan di situ yuk”, Naz menunjuk tempat makan favorite nya, dan mereka pun masuk ke sana kemudian duduk.

__ADS_1


“Dek,, Bunda ke toilet dulu ya, pesanan makanannya samain sama kamu,, yang penting pakai nasi”


Naz sudah memilih makanan dari buku menunya dan kini ia sedang menunggu pesanannya sambil memainkan ponselnya.


Tiba- tiba ada seorang pria tampan menghampiri, “Permisi,,, sendirian aja Nona,,, bolehkah saya duduk disini”, sapanya dan langsung duduk.


Naz tidak menjawab hanya menatapnya sekilah,”Dih,,, apaan ni orang, belum dizinin udah maen duduk aja”, gerutu Naz dalam hati.


“Kenalin,, namaku Gerar,,,, nama kamu siapa?”, ucapnya mengulurkan tangan untuk berkenalan.


“Hadeuh,,, ni orang so kecakapan banget sih ngajak gue kenalan,,, gue kerjain ahh”, gumam Naz dalam hati.


“Kok dari tadi gak jawab sih, cantik,, “, tanya pria itu.


“ a’mah ? nga’mu ngo’mong nya’ma nyayah (apa? Kamu ngomong sama saya?”)”, ucap Naz dengan nada seperti yang gagu sambil mencebik- cebikan bibir seperti orang kena stroke di bibir.


Dan benar saja pria itu sangat terkejut mendengar Naz bicara seperti itu dan tak mampu berkata- kata hanya cengo saja, “Hah,,, gila,, cantik- cantik ternyata gagu,,, kayaknya pernah kena stroke ringan sampe bibirnya kayak gitu,,, ihhhh”, gumamnya dalam hati sambil bergidik ngeri karena ilfil.


“eh mas,,ngo maya niem nyih,, na’ni nanyak ngena’an, ngo nya’ni ni’em a’nyah (eh mas,, kok malah diem sih, tadi ngajak kenalan, ko jadi diem ajah)”, Naz kembali berbicara gagu dengan menahan tawanya.


“Maaf,, maaf Mbak ,, saya salah orang,,, permisi…”, ucap orang itu dan langsung beranjak pergi meninggalkan Naz bahkan keluar dari tempat makan tersebut dengan terbirit- birit sambil bergidik.


Setelah orang itu sudah tak terlihat lagi, akhirnya Naz melepaskan tawanya yang sejak tadi ia tahan,,”Rasain lo,, hahahhahhaa”, Naz tertawa sambil membekap longgar mulutnya.


“Dek,, kamu teh kenapa ketawa gitu ? kayak orang gila ih,,, aduhh ya ampun,,jangan gara- gara lagi selek sama Arfin kamu teh berubah jadi gila ihh,,, amit- amit Bunda mah gak mau punya anak geulis- geulis tapi gelo,,, ararembung teuing ih “, cerocos Bunda sambil bergidik ngeri, lalu Naz pun menjelaskan kejadian tadi,eh malah Bunda tertawa terbahak- bahak dan menjadi pusat perhatian orang.


“Bunda,, jangan ketawa kayak gitu ih,, malu tahu,,nanti disangkanya Bunda sinting gelo miring,,, hahahhaa”, Naz mengembalikan perkataan Bunda sambil menertawakannya. Kemudian mereka pun makan, dan setelah selesai makan, merekapun langsung pulang.


***


Keesokan harinya Naz kembali sekolah, karena masa liburan telah berakhir, dan ia pun sangat merindukan ketiga sahabatnya yang selama dua minggu ini tidak bertemu. Saat jam istirahat Naz menceritakan semua yang dialami nya selama liburan sekolah mulai dari misi mempersatukan Nervan dan Maira, bertemu camer, kecelakaan yang dialami Mamanya sampai mereka mengetahui kebenaran orang tua kandung Naz dan ia bisa bersatu kembali dengan ibu kandungnya yang selama ini sangat ia rindukan, bahkan sampai ia bisa berbaikan dengan Raline. Namun permasalahan yang sedang ia hadapi dengan Arfin, tetap ia rahasiakan dari ketiga sahabatnya, karena belum tahu kejelasannya seperti apa.


***


Hari berganti hari, tak terasa hampir seminggu Naz kembali bersekolah dan beraktivitas seperyi biasanya, dan selama itu pula Arfin tak pernah menghubunginya atau pun datang menemuinya. Hari- hari berat seperti ini pun terulang lagi padanya, bedanya dulu ia sengaja menghindar, sedangkan kali ini mereka berdua seolah saling menghindari, walaupun sebenarnya rasa rindu sangat menyiksa keduanya. Hanya melihat foto saja yang bisa mengobati rasa rindu sekaligus semakin memberikan rasa sakit atas ketidakjelasan hubungan mereka.


Sabtu ini saat pulang sekolah rumah nampak sepi, Naz langsung pergi ke kamarnya dan mencharger ponselnya yang sudah kehabisan baterai dan ternyata tadi ia ke sekolah membawa ponsel dalam keadaan mati. Naz kemudian mandi lalu berganti pakaian kemudian makan di ruang makan.


Setelah itu ia kembali lagi ke kamar lalu menyalakan ponselnya,,,, baru saja menyala sudah banyak pesan yang masuk,,,, “Hah,,,banyak amat pesan masuk,,, “, Naz kemudian melihat satu persatu, dan betapa terkejutnya ia mendapat pesan dari Bunda, Mina bahkan ketiga sahabatnya.


“Innalilahi wainnailaihi rajiuun,,, Ya Allah,, Bude,,,,, hiks hiks ,,,,huhuhuhuu…hiks hiks”, Naz yang merasa shock langsung menangis, kemudian ia memesan ojek online untuk pergi ke pemakaman, karena dalam pesannya pun mereka sudah menuju ke pemakaman. Naz pun berganti pakaian dan memakai kerudung hitam, lalu segera turun ke bawah, sambil terus menghapus air matanya.


Setelah beberapa saat ojek online pesanan Naz pun datang, dan mereka langsung kerangkat ke pemakaman sesuai alamat yang Naz berikan di aplikasi. Sesampainya disana Naz langsung berlari menuju kerumunan orang yang sedang memakamkan jenazah Bude, saat sampai disana Naz langsung menghampiri Bunda yang ada dintara kerumunan pelayat.


“Bunda,,, kapan Bude meninggalnya? Bukankah dokter bilang Bude sudah berangsur membaik”, Tanya Naz berbisik sambil sesenggukan dipelukan Bundanya


“Bunda juga gak tahu,, katanya tadi subuh meninggalnya,, “, ucapnya sambil mengusap kepala Naz.


Setelah prosesi pemakaman selesai yang ditutup dengan doa serta membaca yaasin bersama, para pelayat satu persatu membuarkan diri untuk kembali pulang, bgitupun dengan Bu Dasimah yang terus menangis dipapah oleh dua orang dari panti.


Naz ditemani Bunda menghampiri makam Bude, lalu Naz berjongkok dan memeluk nisan kayu sambil menangis,”Bude,,,, Bude,,,, hiks hiks hiks,,, huhuhuhu,,, kenapa Bude pergi secepat ini,,, hiks,,, aku minta maaf belum sempat menjenguk Bude lagi,,,hiks,,, kalau Bude pergi nanti kalau ke danau dan ke panti aku curhat sama siapa? Hiks hiks,,, huhuhuhu… aku sayang ude,,, huhuhu”.


“Dek,,, udah udah jangan nangis lagi,, gak boleh nangis di kuburan kayak gini,kamu harus ikhlas biar Bude bisa pergi dengan tenang,, ayok udah- udah yaa”, Bunda memegang kedua pundak Naz dari belakang untuk mengajaknya bangun.


Naz melepaskan kedua tangannya dari nisan kayu tersebut, lalu menghapus air matanya sambil menunduk menatap tanah kuburan yang bertabur dengan bunga. Kemudian ia melihat ada dua orang yang baru datang dan berdiri tepat di hadapannya yang terhalang oleh kuburan Bude, dan yang terlihat oleh Naz hanya kaki mereka.


Perlahan Naz pun berdiri dibantu oleh Bunda, dan saat ia memengangkat wajahnya yang sejak tadi menunduk menatap tanah kuburan, betapa terkejutnya ia saat pandangannya lurus kedepan, ia beradu pandang dengan orang yang selama seminggu lebih ini sangat dirindukannya.


“Kak Arfin,,,,, “, lirihnya dalam hati, senyuman


m kebahagiaan terukir dari bibir manisnya, wajahnya yang tadinya dirundung kesedihan kini menjadi berseri, dan matanya tak henti memandangi sang pujaan hati. Namun kebahagiaannya tak berlangsung lama, melihat raut wajah Arfin yang nampak biasa saja dan terkesan acuh, yang kemudian ia berjongkok untuk mendoakan mendiang Bude Hafsah, tanpa membalas senyuman dari Naz dan tampak tak menghiraukan keberadaan Naz. Tentunya itu membuat Naz kembali terluka, seakan luka yang sebelumnya kembali disiram air garam… peurihhh emak,,,


“Ayok Dek,,,, “, ajak Bunda dengan merangkul Naz, dan ia pun mulai melankahkan kakinya tanpa melepaskan pandangannya pada Arfin yang tengah berjongkok dan menundukan wajahnya itu, air mata pun kembali mengalir membasahi kedua pipi Naz.


“Hinda,, kami duluan ya”, Bunda berpamitan pada Bu Hinda yang menemani Arfin, beliau un mengangguk dengan tatapan sendu.


“Ayok Dek,,,”, ucap Bunda lagi, dan Naz pun membalikan badannya berjalan bersama Bundanya menuju tempat parkiran.


“Kenapa Kak Arfin seperti itu ? kenapa dia menganggapku seolah tidak ada?” kamu kok jadi berubah ", Naz bertanya- tanya dalam hatinya sambil menghapus air matanya yang terus berjatuhan.


---------- TBC --------


***********************

__ADS_1


__ADS_2