Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Dua Garis Merah


__ADS_3

Jika semalaman tidur nyenyak dan nyaman maka saat bangun di pagi hari, tubuh akan serasa segar. Namun lain halnya yang dialami oleh Arfin, meskipun ia bangun sejak subuh, tapi kepalanya masih terasa berat, karena si Ujang nya semalam gagal mendapatkan jatah. Setelah shalat ia kembali berbaring di tempat tidurnya, sedangkan istrinya beranjak keluar kamar.


Tak lama Naz kembali dengan membawa nampan yang berisikan dua sandwich dalam satu piring dan segelas kopi hitam, serta segelas ramuan susu kunyit telur madu. Ia menghampiri suaminya yang sedang pura- pura tidur karena kelihatan olehnya matanya hanya merem ayam. Dan ia menaruh nampannya di atas meja belajar sebrang tempat tidurnya.


“Selamat pagi suamiku sayang,,,”, sapa nya berbisik di telinga suaminya dengan nada lemah lembut.


“Hmmmm,,,,”.


“Cie,,, yang lagi ngambek,,,,”, Naz malah menggoda. “Mau bangun gak?? Aku udah bikinin minuman spesial nih”, rayu nya.


“Hmmmm”.


“Ya ampun,,, Aa teh mau nyanyi lagunya Nisa Sabyan ya yang,, hmmmmm,,,, hmmmmmm,,,, hmmmm,,, ”, Naz malah nyanyi, namun suaminya masih tak bergeming tetap tidak mau bangun. Kemudian ia mendekatkan bibirnya ke telinga suaminya dan berbisik,


“Mau Aa dulu yang bangun apa si ujang dulu”, rayuan maut pun dikeluarkan.


Namun tetap suaminya itu tak mau bangun dan masih pura- pura tidur. “Baiklah kalau gak mau,,, aku mau mandi aja dadah babhay”, Naz beranjak dari tempat tidur, Arfin membuka matanya lebar- lebar dan segera menarik tangan Naz hingga menimpa dirinya.


“Kamu harus bertanggung jawab,, karena membangunkan si ujang,, Hem".


“Oh,, yaa… sarapan dulu gih,, biar tenaganya pool,,,”, ucap Naz dengan nada menggoda sambil melirikkan matanya ke arah nampan yang ia letakan tadi.


Keduanya pun bangkit dari tempat tidur, Naz mengambil piring sandwich, dan memberikannya pada suaminya untuk di makan, sedangkan ia pergi ke kamar mandi. Arfin lalu melahap sarapannya.


Setelah menghabiskan satu sandwich, Arfin beranjak dari tempat tidur untuk mengambil minum, bertepatan dengan Naz yang baru keluar dari kamar mandi, “Sayang,, Aa minumnya yang mana ini?”, ia merasa bingung.


“Kalau kepalanya masih pusing minumnya kopi,, kalau mau nambah stamina, minumnya ramuan susyu…”, jawabnya lalu duduk di atas tempat tidur dengan bertumpang kaki.


“Emangnya nanti perut Aa gak akan buncit karena kebanyakan minum susu?”, tanyanya polos.


“Yaelah segelas doang,, mana ngaruh “, ucap Naz.


“Yang ini susunya segelas, yang itu dua”, Arfin menunjuk ke arah gunung kembar milik Naz.


“Kan belum ada air nya ini mah,,, wle”, Naz membusungkan dadanya dan menggoyang- goyangkannya dan membuat Arfin langsung menghabiskan minumannya dalam sekali teguk.Tanpa basa basi ia pun segera menyerang lalu menerkam istrinya tanpa ampun.


Tok tok tok …. Terdengar suara yang mengetuk pintu, sontak mengejutkan keduanya yang dalam keadaan tanpa busana, karena seperti biasa Arfin setelah melepas pakaian keduanya suka melemparkan ke sembarang arah.


“Naz,,,,!!”, seru Bu Rahmi dari balik pintu.


“Itu Mama,,,,”, bisik Naz pada suaminya,


“Iya Ma….”, Naz menyahut setengah berteriak.


“Kamu mau ikut nganter Raline ke rumah Anita gak? Setengah jam lagi kita mau berangkat,, soalnya Papa mu siang harus ke kantor,,”.


Arfin yang masih berada di atas Naz melepaskan dirinya dan beranjak pergi ke kamar mandi.


”Iya Ma,,, aku siap- siap dulu”, Naz kembali berteriak lalu ia pun pergi ke kamar mandi mengikuti suaminya, mereka pun mandi bersama.


Dikarenakan waktunya sudah mepet, Naz tak sempat mengeringkan rambutnya dengan hairdryer, hanya menggunakan handuk saja, sehingga saat keluar rambutnya masih terlihat agak basah. Keduanya menghampiri anggota keluarga yang sudah siap masuk ke dalam mobil.


Saat Naz melihat Raline sudah berada di dalam mobil bersama Arsen, ia baru teringat sesuatu, “Raline,,, charger aku masih di kamu kan?”.


“Eh iya,, Naz,, ada di kamar ku, sebentar aku ambilkan ya”, Raline melepas kembali sabuk pengamannya dan ia hendak keluar dari mobil.


“Gak usah Raline,, biar aku aja yang ngambil,, disimpan dimana?”.


“Di laci putih dibawah televisi”, jawabnya.


“Oh okay”, Naz pun masuk kembali ke dalam rumah dan berjalan menuju kamar Raline. Saat ia masuk ia langsung ke tempat yang di sebutkan Raline, namun di sana ada tiga laci dan Naz pun membuka satu persatu.


“Nah,, ini dia ketemu”, ucapnya yang menemukan charger ponselnya yan disimpan dengan barang lain, “Hah,,, ini kan,,,,”, Naz melihat barang itu teringat akan sesuatu.


“Kak Naz,, ayok,, semua orang udah mau berangkat tuh”, seru Elsa yang menyusul Naz.


“Eh iya iya,,”, Naz pun mengambil charger nya yang talinya terlilit dengan barang itu, akhirnya karena terburu- buru barang itu pun terbawa olehnya dan dimasukan ke dalam tas. Naz bergegas pergi keluar bersama Elsa.


Naz pun masuk ke dalam mobil suaminya bersama Elsa yang duduk di jok penumpang. Arfin melajukan mobilnya mengikuti dua mobil di depannya.


“Habis ngapain dulu tadi?”, tanya Arfin.


“Ini,, abis ngambil charger, kemarin Raline pinjem charger aku”, Naz memberitahukan.


“Oh gitu,,,” jawabnya singkat.


Naz menoleh ke belakang pada Elsa yang duduk tepat di belakang jok Arfin , “Elsa,, hari ini kamu bolos sekolah ya?".


“Iya Kak,, udah dua hari sama Sabtu kemarin”, jawab Elsa.


“Elsa,, kalau kamu mau, kamu bisa tinggal sama Kakak di Surabaya”.


“Enggak Kak,, terimakasih,, aku gak mau ngerepotin Kakak”, Elsa merasa sungkan.


“Aku ini kan Kakak mu juga,, kamu gak usah sungkan”.


“Enggak Kak,, terimakasih,, lagian Tante Rahmi minta aku tetap tinggal di sini, katanya beliau kesepian karena Kakak sama Kak Raline pada ikut suami,,”.


“Tapi,, apa kamu betah tinggal di rumah tanpa kami,,?? Kemarin kan masih ada Raline”.


“Betah kok Kak,,, Tante Rahmi sangat baik,, aku diperlakukan seperti anak beliau sendiri,, tenang aja kok Kak,, mungkin Tante gak suka sama Ibu, tapi beliau sangat baik sama aku “, Elsa menjelaskan karena ia paham atas kekhawatiran Naz.


“Maaf ya,, Kakak yang bawa kamu ke rumah, tapi malah ninggalin kamu,, sejak kemarin Kakak pengen ngobrol sama kamu tapi gak sempat mulu”.


“Gak apa- apa kok Kakak,, justru aku sangat berterima kasih, jadi aku punya keluarga baru, sedangkan keluarga ku sendiri _____ “.


“Elsa,,,,”, lirih Naz.


“Bahkan mereka di undang ke pernikahan Kak Raline pun gak ada yang hadir, cuman kakak nya Ibu aja yang hadir, keluarga dari ayah gak ada yang hadir, padahal kami mendatangi mereka satu persatu saat mengundangnya,,, pantas aja dulu ibu tidak pernah membawa kami menemui keluarga Ayah,, ternyata Ibu takut kami terluka… ”, Elsa merasa sedih.


“Maaf ya,, saat itu Kakak gak bisa bantu, karena masih di Surabaya”, Naz merasa bersalah.


“Enggak apa- apa kok Kak”, ucapnya tersenyum kembali.


“Elsa,,, kamu harus ingat, biarpun mereka seperti itu, kamu harus tetap menganggap mereka keluarga mu, jangan membalas kebencian dengan kebencian lagi ya,,, Kakak tahu kalau kamu orang yang berhati baik ,,, buatlah Ayah dan Ibu yang berada di surga sana bangga sama kamu,,, ”, Naz menasehati sang adik.


“Iya Kak,,,” Elsa mengangguk sambil tersenyum.


“Kalau ada apa- apa kamu bilang sama Kakak ya,,,”.


“Iya Kak,, tapi jangan sampai menghajar temen sekolah ku lagi seperti tempo hari”.

__ADS_1


“Hahahha,, orang itu kurang ajar Elsa,, berani- beraninya mengganggu adikku, belum tahu apa kalau kamu punya kakak preman”.


“Dan semenjak itu gak ada yang gangguin aku lagi,,, katanya aku punya kakak Rambowati,,,”.


“Hahhaa,,, meni gak elit dipanggil Rambowati ihh,, Wonder woman gitu biar kekinian”.


“Untung Kakak gak dipanggil Samsonwati juga”.


“Hahaha,,, oh iya,, kamu sekarang udah sabuk apa di taekwondo?”.


“Baru mencapai sabuk hijau Kak,,,”.


“Baguslah udah ada peningkatan, tapi awas latihnnya jangan sampai mengganggu pelajaran ya,,,”, Naz kembali menasehati.


“Iya Kak,, Tante Rahmi sangat mendisiplinkan aku kalau soal pelajaran”.


“Tapi gak galak kan?”, Naz tetap khawatir.


“Enggak Kak,,, kalau tegas wajar sih,, tapi aku senang sekarang punya pembimbing dalam belajar, kadang kalau ngerjain tugas juga suka dibibmbing Mas Hardi”.


“Syukurlah kalau begitu,,, “, Naz pun merasa lega.


Ketiga rombongan mobil itu pun sampai di kediaman Bunda, mereka disambut hangat oleh Bunda dan keluarganya dari Bandung yang masih berada di sana. Kedua belah pihak saling bersalaman kemudian masuk ke dalam rumah dimana di ruang tengah sudah digelar karpet permadani untuk duduk dan berkumpul di sana dengan suguhan berbagai macam makanan dan kue- kue.


“Bunda,,, Kak Dandy sama Kak Arini kemana? Kok gak kelihatan”, tanya Naz saat baru selesai mencium tangan Bunda nya.


“Mereka kan praktek, tadinya teh Dandy masih mau cuti, eh ada panggilan untuk operasi SC”, Bunda kembali menghampiri besan sekaligus kakak iparnya dan duduk bergabung bersama mereka.


Naz kemudian menghampiri Mimih-nya yang sedang duduk, setelah mencium tangan beliau, ia dan suami duduk bersebelahan dengan beliau.


“Alah ieuh,, anu pangantenan saha, anu tos adu gajret na saha”, ucap Mimih menggoda.


“Aduh ini yang pengantin siapa, yang sudah bergulat siapa”


“Apaan sih Mimih ah”, Naz merasa malu karena ketahuan.


“Ari eta rambutna baseuh kitu, tos kuramas nya? Kuat sabaraha ronde Neng?”, Mimih semakin menggoda Naz.


“Nah itu rambutnya basah begitu, udah keramas ya?”.


“Ih apaan ah Mimih”, Naz semakin malu.


“Cik wang tes ku Mimih, Nanaz tos tiasa gaya naon wae?”.


“Sini coba di tes sama Mimih, Nanaz sudah bisa gaya apa saja?”.


“Gaya naon wae lah nu penting raos,,,, Yassalam,,, Mimih **** yuswa atuh, naroskeun nu kitu sagala ih”, Naz menggerutu.


“Gaya apa aja yang penting enak,,, Yassalam,, Mimih inget umur, nanyain kayak gitu segala ih”.


“Hehehe,, keun wae atuh apanan edukasi,, kumaha atuh teh tos isi acan?”.


“Hehehe,, engak apa-apa kan edukasi, ,, gimana udah isi belum?”


“Isi apaan Mih? Isi bom?….”, Naz malah bercanda.


“Aeh aeh,,, eta tos hamil acan? Pan tos dua bulan nikah atuh nya naon deui nu di taroskeun salian ti momongan”, Mimih memperjelas.


“Aeh aeh,, sudah hamil belum? Kan sudah dua bulan menikah, apa lagi yang ditanyain selain soal momongan”.


“Belum Mih,, masih on proses”


“Oh enya atuh sok di do’a keun ku Mimih nya sing enggal gaduh bati, kahade sing getol nyitak na oge nya”, Mimih mengusap bahu Naz.


“Oh,, iya,,, Mimi do’akan semoga secepatnya punya momongan, makanya yang rajin nyetak nya ya”.


“Amiin,,, hahaha,,, naon ah Mimih, puguh da kueh meuni dicitak sagala“, Naz malah tertawa.


“Amiin,, Hhahahammm Apaan sih Mimih, emangnya kue pakai di cetak segala”.


“Enya atuh dicitak da dipelong hungkul mah moal matak hamil,,, hehehhe… Kumaha betah di Surabaya teh? Kade ah ulah sering teuing papanasan, Ina oge sabodas- bodas basa di Bandung mah, cicing di Surabaya jadi ngahideungan kabawakeun ku suami na hideung santen”.


“Iya donk dicetak, kalau dilihatin aja gak akan bisa hamil,,, hehehe,,, Gimana betah gak di Surabaya? Hat—hati jangan sering panas- panasan, Ina juga saatdi Bandun mah putih, setelah tinggal di Surabaya jadi menghitam ketularan suaminya yang kopi susu”.


“Nya henteu hideung atuh sakieu mah, Mih,,, sawo matang,,, keun wae lah hideung santen mah asal ulah hideung cakeutreuk,, hahaha”, Tante ina yang menyuguhkan kue tiba- tiba nimbrung.


“Ya enggak hitam kalau segini mah, Mih,, sawo matang.. gak apa- apa lah kopi susu juga asal jangan hitam blestereng”.


“Naon ah sawo matang kitu, eta mah sawo buruk”, Mimih mengejek anaknya.


"Apaan sawo matang, itu sawo mah busuk".


“Hahaha,,, tenang Mih,, Nanaz mah tara keluar pas tengah poe ereng- erengan, paling ge ka bumi na Tante Ina atawa mun ka kantor Aa ge naek mobil di AC terus, da liar jauh nyalira mah sieun diculik,”, ucap Naz.


"Hahaha,,, tenang Nih, Nanaz gak pernah keluar pas tengah hari, paling juga ke rumah Tante Ina atau ke kantor Aa juga naik mobil pakai AC terus, kalau bepergian jauh takut diculik".


“Barina oge atuh da apaleun kanu herang mah tukang culik ge,, lamun Nanaz diculik mah engka si kasep bisi ngamuk satengah edan”, Mimih terkekeh.


"Iya kan tahu sama yang bening mah penculiknya juga, kalau Nanaz diculik nanti si Kasep bisa- bisa marah setengah gila".


“Sanes satengah edan deui Mih,, tapi saedan-na,, hahha”, Naz terus meladeni candaan Mimih nya.


"Bukan setengah gila lagi Nih,, tapi segila- gila nya,, hahha".


“Maneh- maneh lagi ngomongin apa sih?”, tanya Arfin yang sejak tadi nyimak.


“Astagfirullah, si kasep meuni henteu sopan ka Mimih nyebut maneh,,”, Mimih malah marah.


"Astaghfirullah, si Kasep gak sopan ke Mimih bilang maneh,,, ".


“Eh,,, emang salah ya Mih?”,Arfin yang sudah percaya diri jadi kikuk.


“Nya salah atuh, maenya ka kolot nyebut maneh,,,”, Cerocos Mimih.


"Ya salah, masa ke orang tua manggil maneh,,,".


“Mimih ngomong apa aku gak ngerti, Yank”, Arfin berbisik pada Naz.


“Makanya kalau gak bisa gak usah ngomong bahasa Sunda,,”, Naz malah ngomel.


“Kan dulu kamu bilang maneh itu artinya kamu berarti kalau kalian maneh- maneh”, Arfin merasa tidak salah.

__ADS_1


“Itu mah bahasa kasar, yassalam,,,, “,ucap Naz gemas.


“Apa??”, Arfin terkejut dan jadi malu dibuatnya.


“Iya makanya diem aja gak usah so so an nimbrung bicara pakai bahasa Sunda, biasa aja pakai bahasa Indonesia, Mimih juga ngerti kok”, Naz memberi saran agar suaminya tidak mengeluarkan bahasa kasar yang sempat diajarkannya dulu.


Semua orang yang berkumpul bercengkrama membiacarakan segala macam hal yang penting nyambung. Suasana kehangatan keluarga begitu terasa, karena memang pada dasarnya ayah dari kedua mempelai pengantin adalah kakak beradik, sehingga tidak ada jarak atau kecanggungan diantara mereka.


Ting nong,,, terdengar suara bel rumah berbunyi, Tane Ina pergi ke depan untuk membukakan pintu.


“Aa,, aku ke kamar mandi dulu ya,, kebelet “, Naz bangkit kemudian ia segera beranjak ke kamar mandi, Arfin pun bangkit karena mendapat panggilan telpon dari Nervan, ia pergi keluar ke halaman samping menjauh dari keramaian agar ia merasa leluasa berbicara di telpon.


Tante Ina kembali bersama anak- anak yang bermain di ruang tamu kemudian memberi tahu Bunda bahwa ada dua orang tamu yang ingin bertemu dan menunggu Bunda di ruang tamu, Bunda pun bergegas ke sana dan meminta tolong mengambilkan minum untuk tamu pada Tante Ina.


“Hai,, Mbak Anita”, tamu itu kembali berdiri saat melihat kedatangan Bunda.


Bunda menatap lekat tamu nya itu sambil mengingat- ingat, “Priska,, “, ucapnya kemudian mereka berpeluka dan cipika cipiki. “Ya ampun kamu apa kabar,,? kamu teh kamana wae ih meni hilang bak di telan bumi?”.


“Setelah menikah lagi aku menetap di Amerika bersama putri ku ini, perkenalkan itu Mbak Anita teman seperjuangan Mama saat dulu merintis di bidang desain fashion”, beliau memperkenalkan.


“Hai,, Tante, Saya Felisha”, ucapnya menyalami Bunda.


“Saya Anita,,, wah cantik sekali ya,, ayok- ayok silahkan duduk”, Bunda mempersilahkan dan mereka pun duduk kembali.


“Ini ada sedikit oleh- oleh”, Bu Priska menyerahkan dua buah godie bag.


“Ya ampun kamu teh meni repot- repot ih,,, “, Bunda pun menerimanya.


“Kayaknya lagi banyak orang ya.,,, aduh maaf yah jadi ganggu”, Bu Priska merasa tidak enak.


“Engak kok enggak ganggu,, kebetulan lagi pada ngobrol santai aja,,, kan anakku, Arsen baru nikah kemarin dan tadi pagi istri bersama mertuanya pada datang kesini”, ucap Bunda dan Tante Ina datang membawa nampan yang berisi tiga cangkir teh dan sepiring kue, kemudian ia menaruhnya di atas meja.


“Tante,, maaf,, bolehkah saya numpang ke toilet”, ucap Felisha.


“Oh,,, mari saya antar”, Tante Ina menawarkan bantuan, mereka berdua pun berjalan melewati ruang tengah, dan Tante Ina menunjukkan kamar mandinya yang terletak dekat ruang makan, Felisha pun berjalan sendiri ke sana. Betapa terkejutnya ia saat melihat Naz baru saja keluar dari kamar mandi.


“Kamu…??", ucapnya menunjuk Naz.


“Loh Tante Felisha,, ?ngapain Tante di sini?”, Naz pun sama terkejutnya.


“Loh kamu sendiri ngapain di sini”, Feli malah balik nanya.


“Ya terserah aku dong,,, orang ini rumah Bunda ku”, jawab Naz agak jutek.


“Apa,,,??”, Felisha kembali terkejut.


“Iya… emang kenapa Tante Sundel licik?”, Naz tersenyum ketir.


“Kamu suka banget ngatain saya”, Felisha tak terima disebut sundel licik.


“Bukan ngatain, orang memang gitu kenyataannya kok?”, Naz seolah menantang.


“Baiklah terserah kata mu saja, aku tahu satu rahasia terbesar Arfin,, dan aku yakin kamu belum mengetahuinya”, Felisha kembali cari ribut.


“Jangan so tahu ya,,, diantara aku dan suamiku tidak pernah ada rahasia, dan sekali lagi aku peringatkan jangan pernah menggganggu kehidupan rumah tangga ku lagi, karena aku bisa melakukan hal yang lebih buruk dari kemarin, permisi”, ucapnya dengan nada tegas lalu oergi begitu saja


“Heh tunggu,,, “, Felisha mengejar Naz yang berjalan ke ruang tengah dimana tempat bayak orang yang tengh berkumpul di sana, “Naz, apa kamu tahu kalau Arfin mengalami disungsi Ereksi alias impoten”, Felisha dengan sengaja berteriak.


Deg ,,, Naz tertegun mendengar perkataan Felisha yang bersamaan dengan Arfin yang baru saja kembali masuk dari halaman samping.


Semua orang yang ada di ruang tengah itu pun mendengar jelas apa yang Felisha katakan termasuk Arfin sendiri, ia sangat terkejut dengan keberadaan Felisha di rumah Bunda, dan ia tak menyangka Felisha akan sampai berbuat seperti itu, ia pun melangkah gontai menghampiri Naz.


Bu Rahmi, Pak Syarief dan Pak Rizal langsung bangkit dan berdiri mendengar hal itu.


“Apa,,,? Arfin impoten?”, Bu Rahmi yang sangat terkejut menatap Arfin.“Naz,,, apa itu benar?”, Bu Rahmi beralih menatap Naz yang berdiri di samping Arfin untuk memastikannya.


Naz yang masih tertegun karena shock dengan kelakuan Felisha, ia memejamkan mata dan menarik nafas panjang untuk menetralkan kemarahannya. Ia berbalik dan mengarahkan pandangan pada Felisha yang tadinya berdiri di belakangnya.


“Gak usah ngarang deh Tante,,,”, Naz berusaha untuk bicara tenang agar semua orang tidak curiga.


“Saya gak ngarang, tanya aja langsung sama orang yang disebelah kamu itu… dia mengalami impoten permanen setelah kecelakaan yang dialaminya delapan tahun yang lalu, bahkan saat di Amerika juga dokter bilang dia tidak akan bisa sembuh”, Felisha tanpa rasa bersalah membongkar rahasia Arfin dengan seenak jidatnya.


“Gak usah so tahu deh,, hentikan kebohongan anda, Tante Felisha”, Naz masih bisa bicara dengan santai dan tenang, padahal di dalam hatinya sudah benar- benar murka rasanya ingin mencakar wanita sundel yang ada di hadapannya itu.


“Aku tidak berbohong,, mungkin Arfin malu mengatakannya pada mu”, Felisha terus meyakinkan kebenaran perkataannya.


“Kamu itu siapa? datang- datang kok bikin keributan di rumah saya”, Pak Rizal mempertanyakan keberadaan Felisha.


Naz memijat pelipisnya karena merasakan pusing, kemudian mengambil sesuatu dari dalam tas nya dan memperlihatkannya pada Felisha dan terlihat oleh semua orang, “Lihat ini ...!“.



Felisha sangat terkejut melihatnya dan merasa tidak percaya, “Gak mungkin,,,,”, ia menggelengkan kepala dengan mata yang membulat sempurna solah bola matanya hendak loncat.


“Gak mungkin apa,,? Tante pikir aku tadi dari kamar mandi habis ngapain? Ya habis ngecek dan ini hasilnya,,,”, Naz bicara dengan santainya sedangkan Felisha nampak semakin kesal dan gelagapan.


Bu Hinda menghampiri Naz lalu mengambil barang yang ditunjukan oleh Naz pada Felisha dari tangan Naz,


“Naz,,, kamu hamil??”,Bu Rahmi memperhatikan baik- baik benda tersebut yang menunjukkan dua garis merah.


Naz malah terkejut seolah ia baru menyadari di tempat ia bicara sedang banyak orang, tatapannya kembali tertuju pada Felisha, lalu ia pun mengangguk sambil tersenyum.


Bu Rahmi beralih pada Arfin, “Lihat ini Ar,,, dua garis merah yang berarti hasilnya positif”, beliau memberikan barang yang bernama tespack itu pada Arfin dengan perasaan bahagia.


Saat Arfin menerima lalu melihatnya dengan seksama, ia kembali terkejut, namun kali ini terkejut yang diiringi perasaan bahagia yang membuncah di dalam dadanya, karena ketakutannya selama ini tidak menjadi kenyataan, yang ternyata setelah impoten nya sembuh ia masih bisa memiliki keturunan.


Arfin tersenyum bahagia tanpa melepaskan pandangan dari benda yang dipegangnya itu yang membuat matanya berkaca- kaca. Dua garis merah yang menandakan kalau sebentar lagi ia akan menyandang status sebagai seorang Ayah.


Ia mendekat pada istrinya, membalikan tubuh istrinya perlahan, kemudian memeluk wanita yang sangat dicintainya itu tanpa memperdulikan banyak orang yang melihatnya.


"Terimakasih sayang....", ucapnya lalu mencium pucuk kepala istrinya hingga tak terasa tetesan air mata kebahagiaan pun mengalir begitu saja membasahi pipinya.


---------------------- TBC ------------------------


***********************************


Happy Reading....


Jangan luva tinggalkan jejak mu...😉🤩


Tilimikicih .... aylapyu oll....😘😘😘

__ADS_1


Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan...


Mohon maaf lahir dan batin ya jika selama ini othor sering mengobrak ngabrik perasaan kalian para reader tercintah 🙏🙏


__ADS_2