
Seusai makan, Bunda dan Mami serta Nala kembali ke ruang tamu sedangkan Naz membereskan bekas makan mereka dan membawa piring serta gelas kotor ke dapur, kemudian mencucinya.
“Mbak, tadi di halaman depan aku sepintas melihat banyak tanaman Aglonema dan Monstera Deliciosa yang sekarang lagi viral itu ya”, ucap Bu Hinda saat sampai di ruang tamu yang kemudian duduk.
“Monstera yang mana Nda?”, Bunda malah bingung.
“Tumbuhan hias yang daun nya bolong- bolong itu loh, Mbak”, Bu Hinda memperjelas perkataannya.
“Oh,, janda bolong atuh eta mah,, baru ngeuh aku teh,, iya aku teh punya beberapa pot di depan,, kalo aglonema mah ada beberapa jenis warna,, udah lama aku mah nanam nya juga, eh baru sekarang- sekarang viral nya,, mana mahal katanya teh ya janda bolong mah? makanya kalau sore mah suka dimasukin kedalam dan pagi dikeluarin lagi takut ada yang nyuri,,, hehe...padahal mah aku dulunya beli cuman puluhan ribu doang,, kalo sekarang dijual teh bisa untung besar, tapi da enggak mau jual ah,,, mending dipelihara aja,, lucu - lucu,, hehehe”, Bunda memang penyuka tanaman, meski yang sering merawatnya adalah Mbak Iyem.
“Iya,, Mbak, aku juga beli sampai jutaan gara- gara ngikutin tren”, ucap Bu Hinda yang jadi korban tren.
“Hahaha,,, padahal mah gak usah beli, tinggal minta kesini…”, ucap Bunda.
“Kan gak tahu kalau Mbak punya banyak,, tahu gitu mah dulu minta ya,, hehehe”.
“Ayok atuh kalau mau mah, ambil aja tinggal pilih,, masih banyak yang lain macamnya”, Bunda menawarkan.
“Enggak ah Mba terimakasih,, di rumah udah ada beberapa pot tanaman hias,, hehe,, takut gak keurus,, apalagi sekarang lebih sering ngurus cucu”, Bu Hinda jadi merasa tidak enak, basa- basi nya di anggap serius sama Bunda.
“Nena, Kak Nanas mana ih lama banet”, Nala merasa tidak tenang, karena takut Kak Nanas nya diserang monster.
“Sebentar ya Nala cantik,, paling Kak Nanaz lagi nyuci piring dulu, dia mah udah kebiasaannya gitu, sejak kecil udah belajar mandiri dan mengerjakan pekerjaan rumah”, Bunda memberi penjelasan pada Nala agar mau menunggu sebentar lagi.
“Mbak memang luar biasa dalam mendidik anak,, saya harus banyak belajar dari Mbak,,, anak- anak saya pada manja, apa- apa ngandelin ART,,”, Bu Hinda memuji Bunda.
“Aku mah dulu nya hidup prihatin, Nda,,, jadi sejak kecil sama orang tua diajarkan mandiri,,, makanya aku menerapkan hal yang sama pada anak- anak untuk hidup mandiri”, ucapnya kembali dan tiba- tiba ponselnya berdering, “Maaf ya Nda,, aku ngangkat telpon dulu “, Bunda melangkah keluar dan berbicara di teras depan.
“Nena,,, ayok kita ke Kak Nanas”, Nala malah merengek.
“Nala tunggu di sini sebentar ya, Nena panggil Kak Nanaz dulu ke belakang”, ucap Bu Hinda dan Nala pun mengangguki nya
Bu Hinda beranjak pergi ke ruang makan untuk memanggil Naz dan mengajaknya pulang. Beliau mendengar Naz yang nampak sedang berbicara dengan seseorang dan seperti ada suara laki- laki, beliau mempercepat langkahnya, dan saat sampai di dinding pembatas antara ruang tengah dan ruang makan, beliau melihat Naz yang tangannya di tarik oleh Arsen, kemudian ia melepaskannya dengan kasar.
“Dek,, kapan kamu bisa memaafkan Kakak,, Kakak benar- benar menyesal dengan apa yang pernah Kakak lakukan sama kamu,, tolong jangan bersikap seperti ini,,”, nampak ada raut penyesalan di wajah Arsen.
“Aku sudah berusaha memaafkan Kakak,, setelah dulu Kakak berusaha melecehkan ku di rumah ini,,, tapi Kakak malah mengulanginya lagi,, kalau saat itu aku yang ada di kamar hotel itu,, pasti aku yang Kakak perkosa bukan Raline, iya kan?”, ucap Naz terisak mengingat kelakuan Arsen.
Betapa terkejutnya Bu Hinda mendengar hal itu, “Apa,,,,?? Jadi Arsen pernah berusaha memperkosa kamu, Naz?”, beliau kemudian membekap mulutnya karena merasa terkejut dan tidak percaya dengan apa yang didengar nya barusan. Naz dan Arsen pun sama halnya, mereka lebih terkejut lagi saat menoleh ke arah Bu Hinda.
“Mami,,,, “, lirih Naz terkejut, ia melihat Bu Hinda melangkah mendekati tempat mereka berdiri dengan raut wajah terkejut dan terlihat marah. Ia pun segera menghapus jejak air matanya.
Plakk ….. satu tamparan mendarat di wajah Arsen.
“Dasar manusia tidak bermoral,,, berani sekali kamu berusaha melecehkan menantuku,,, apa kamu tidak sadar kalau dia itu adalah adik mu, hah?”, Bu Hinda meluapkan amarahnya seketika.
Naz langsung memegang tangan mertuanya, “Mami,, udah Mi,, tolong jangan diteruskan”, pintanya memohon.
“Baru saja saya memuji Bunda mu karena sudah mendidik anak- anaknya dengan sangat baik,, ternyata saya baru tahu kalau Mbak Anita memiliki anak bejat seperti kamu,, pantas saja Arfin sangat mengkhawatirkan Naz berada di sini,, jadi ini alasannya,, karena orang bejat ini?”, Bu Hinda semakin geram pada Arsen.
“Mami,,,, sudah Mi,, aku mohon,, jangan diteruskan,,, aku gak mau kalau sampai Bunda dengar dan tahu tentang hal ini,, aku mohon Mi,, aku gak mau kalau Bunda sampai sakit lagi”, Naz terus memohon.
“Apa?? Jadi Mbak Anita tidak mengetahui kebejatan anak ini?”, Bu Hinda kembali terkejut mendengar perkataan Naz.
“Enggak Mi,,, aku mohon udah ya jangan diteruskan, ayok kita pulang saja”, Naz yang merasa panik terus mengedarkan pandangan ke arah pembatas ruang tengah dan ruan makan, karena takut Bunda ya mendengar pembicaraan mereka.
Bu Hinda pun menghentikan omelan yang baru di mulai nya, mengingat besannya yang takut kembali sakit seperti sebelumnya, walau sebenarnya ia masih ingin memarahi Arsen habis- habisan. Bu Hinda mengarahkan jari telunjuk pada wajah Arsen yang sejak tadi hanya bisa menunduk.
Jangan pernah dekat- dekat dengan menantu saya apalagi sampai menyentuhnya,,, camkan itu,, !!".
“Ayo,,, Naz,, kita pulang”, ucap beliau mengajak Naz pergi.
Naz pun sedikit merasa lega karena berhasil meredam kemarahan Bu Hinda, namun ada perasaan was- was pula yang timbul karena pasti mertuanya menanyakan semua yang terjadi. Keduanya bersikap biasa saja saat bertemu dengan Bunda yang baru selesai menelpon di ruan tamu. Mereka pun berpamitan untuk pulang.
Sepanjang perjalanan Naz hanya diam seribu bahasa sambil menggendong Nala yang tertidur di pelukannya. Mami yang duduk di jok sebelah Naz pun ikut tak bersuara dan menahan diri untuk tak bertanya dulu, karena ia tak mau pembicaraan mereka didengar oleh sopir atau pun Nala.
Sesampainya di rumah, Naz menidurkan Nala di kamar yang selalu digunakannya saat ia menginap di rumah Nena nya itu. Kemudian Naz keluar dan memasuki kamar milik suaminya yang ternyata Mami sudah menunggunya di sana.
Naz melangkah perlahan mendekat ke sofa tempat Mami mertua nya duduk itu, dan ia pun duduk bersebelahan di sofa tersebut masih dengan mode silent nya.
“Naz,,, kamu harus menjelaskan semuanya pada Mami”, Bu Hinda yang sejak tadi kepalnya dipenuhi banyak pertanyaan langsung meminta penjelasan dari Naz.
Naz menghela nafas panjang sejenak, “Aku akan ceritakan semuanya, tapi Mami harus janji tak akan menceritakan hal ini pada siapa pun, termasuk pada Papi apalagi orang tua ku”, Naz memberi syarat.
“Baiklah, Mami janji”, Bu Hinda tak mempermasalahkan syarat yang diberikan Naz, karena ia sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya.
Naz pun menceritakan semuanya dengan berlinang air mata karena harus mengingat kejadian itu lagi, mulai dari kejadian ia yang hampir diperkosa seusai ia dan Arfin mendaftarkan pernikahan mereka ke KUA serta terbongkarnya Arsen yang ternyata mencintainya, sampai kejadian yang menimpa Raline di hotel tepat di malam sebelum pernikahan Naz yang baru diketahuinya setelah Raline ketahuan hamil, bahkan ia pun menceritakan Papa nya yang menyembunyikan pemerkosaan itu dari keluarga Ayah dan Bunda.
“Astagfirullah,, kenapa si Arsen bisa sebejat itu,,”, Bu Hinda merasa sangat terkejut mendengar semua yang diceritakan Naz.
“Aku juga gak tahu Mami,, hiks hiks,, sebenarnya sejak saat itu aku merasa takut untuk kembali ke rumah Bunda, tapi aku gak mu membuat Ayah dan Bunda sedih jika aku tak pernah mengunjunginya, bahkan saat siraman pun aku terus melawan ketakutan ku dan semenjak hari itu hingga kini aku tak berani meginjakan kaki di kamar ku lagi,, aku takut Mi, hiks hiks”.
__ADS_1
Bu Hinda menggeser duduknya mendekat pada Naz dan beliau pun memeluk menantunya yang tengah menangis itu. Beliau paham dengan apa yang dirasakan Naz, dan tidak menyangka selama ini menantunya bisa sekuat dan setegar itu, “Sudah sayang,, kamu jangan takut,,, Mami dan suami mu akan selalu melindungi mu,, jadi ini sebabnya Raline dan Arsen menikah secara mendadak ?”.
“Iya Mi,,, dan aku terus dihantui asa bersalah, karena sudah menyebabkan Raline mengalami hal buruk itu,, jika saja waktu itu aku tidak pergi ke kamar Bunda,, pasti semua ini tak akan terjadi,, hiks hiks,,, aku tidak tahu bagaimana caranya untuk menebus kesalahanku pada Raline,, hiks hiks,, ”, Naz mengungkapkan apa yang mengganjal dihatinya.
“Jangan menyalahkan dirimu sayang, ini bukan salah mu, sudah jalannya seperti ini,, semuanya sudah terjadi,,, yang penting sekarang kan Arsen bersedia mempertanggung jawabkan perbuatannya dengan menikahi Raline,,, doakan saja semoga mereka hidup bahagia, walaupun awalnya dengan cara seperti ini,,, kamu lihat Mami sama Papi juga dulunya gak saling cinta, tapi setelah menikah dan menjalankan biduk rumah tangga, cinta itu datang dengan sendirinya hingga kami bisa hidup bahagia,,, jadi kamu jangan bersedih lagi ya sayang”, Bu Hinda mencoba menenangkan Naz dan memberi pemahaman padanya.
“Iya Mi,, makasih ya Mami,,, “, ucapnya sambil sesenggukan.
Bu Hinda melepaskan pelukannya perlahan karena melihat Naz sudah tenang, “Sudah jangan menangis lagi ya,, nanti cantik ya luntur,,,hehehe... Oh iya,,kamu malam ini mau nginep di sini kan?”. tanya beliau.
“Kayaknya sekarang enggak deh Mi,, aku masih nginep di rumah Mama,, nanti saja kalau usai pernikahan Raline, gak apa- apa kan Mi?”, ucap Naz sambil menghapus jejak air matanya.
“Iya,, gak apa- apa,, mungkin kamu juga mau bantu- bantu di rumah Mama mu,,,”, Beliau pun memahami.
“Lebih tepatnya ngerecokin sih Mi,,, hehehe”, ucap Naz terkekeh.
Setelah beberapa saat Naz pun diantarkan oleh sopir ke rumah Bu Rahmi, dan di halaman depan rumah sudah dipasang tenda untuk acara pernikahan Raline, Naz pun masuk ke dalam rumah yang ternyata sudah ada Oma dan Opa nya yang sedang ngobrol bersama Raline dan Mama nya di ruang tengah. Naz menghampiri dan ikut bergabung bersama mereka.
Keesokan harinya Naz bangun kesiangan karena malamnya ia merasa kesal pada suaminya yang tak kunjung menghubunginya dan saat ia hubungi telponnya malah sibuk akhirnya ia mematikan ponselnya lalu pergi ke kamar Raline. Ia malah begadang sampai jam dua pagi menamani Raline ngobrol sambil makan rujak hingga ia tidur di kamar Raline.
Kini di kediaman orang tua Naz, orang-orang mulai sibuk dengan segala macam pesiapan untuk pernikahan Raline, karena esoknya sehari sebelum menikah akan dilaksanakan pengajian dan siraman. Walaupun sudah menggunakan jasa WO tetap saja Bu Rahmi ikut terlibat dan mengawasi pekerjaan mereka agar sesuai dengan keinginannya.
Naz diminta menemani Raline ke klinik kecantikan untuk melakukan perawatan sebelum pernikahan dan ia pun ikut- ikutan melakukan perawatan. Setelah itu mereka malah jalan dan belanja ke mall sembari Naz mencari kado untuk Raline yang sesuai dengan keinginan calon pengantin itu. Ia meminta Raline mematikan ponselnya setelah ia mengabari Mama nya tentang mereka yang pergi nge-mall. Rupanya ia masih belum puas mngerjai suaminya. Mereka pulang ashar sehingga mendapat omelan dari Bu Rahmi, terutama Naz, karena Arfin terus menghubungi Bu Rahmi menanyakan Naz yang ponselnya tidak aktif sejak semalam.
Setelah mandi dan shalat, Naz baru mengaktifkan kembali ponselnya dan tentunya banyak panggilan tak terjawab serta pesan dari Arfin di aplikasi whatsapp nya. Naz kembali pergi keluar rumah diantar Pak Udin, namun kali ini bukan untuk keluyuran melainkan untuk menjemput suaminya ke bandara setelah membaca salah satu pesan dari suaminya yang mengatakan ia sudah take off satu setengah jam yang lalu. Judulnya saja pengen ikut membantu persiapan pernikahan Raline, namun kenyataannya sejak datang ke Jakarta ia hanya sibuk kesana kemari dengan urusannya sendiri.
Arfin yang sudah sampai di bandara langsung menghubungi Naz yang masih dalam perjalanan yang lumayan macet. Ia terus mengomel dan mencerca Naz dengan berbagai pertanyaan karena sejak semalam ponsel Naz tidak aktif sampai tadi ashar, sementara Naz hanya menjawab dengan santai yang tidak jauh dari kata ‘iya,, oh,, he em,, enggak ‘ dan berujung dengan minta maaf karena telinga nya sudah jengah mendengar omelan suaminya itu lalu menutup sambungan telponnya.
Setelah beberapa saat, Naz pun tiba di Bandara dan mereka bertemu usai Arfin menghubunginya kembali kemudian menghampiri istrinya yang menunggu di dekat pintu keluar. Arfin yang menggendong tas ransel, memakai t shirt dilengkapi dengan jaket dan mengenakan topi di kepalanya, ia pun menggunakan kacamata yang semakin memperlihatkan ketampanannya.
“Unchhh,,, suamiku keren sekali,, Brad Pitt aja lewat”, gumam Naz terkagum- kagum saat melihat suaminya yang tengah berjalan menghampirinya.
Naz langsung menyambut suaminya yang nampak masih kesal, ia langsung mencium tangannya dan memeluk suaminya yang dirindukannya itu, walau sebenarnya Naz juga masih sedikit kesal padanya, tapi kerinduannya mengalahkan rasa kesalnya.
“Kamu lama banget sih ”, keluh Arfin saat melepaskan pelukannya.
Naz melingkarkan kedua tangannya pada leher belakang Arfin dan langsung mencium bibir suaminya, “Maaf,,, tadi agak macet,, yuk kita langsung pulang aja”, ucapnya tersenyum dan bertingkah seolah tidak terjadi apa- apa. Begitulah cara wanita melunakan hati lelakinya yang tengah marah padanya, namun kelihatannya Arfin masih terlihat kesal. Kemudian keduanya pun beranjak keluar dan menaiki mobil yang sudah ada di depan, Pak Udin pun segera melajukan mobilnya.
“Malam ini kita nginep di rumah Mami dulu, besok baru kita ke rumah Mama”, Arfin masih dalam mode kesalnya.
“Oke “, Naz hanya menurut saja karena ia malas berdebat, padahal sebenarnya ia masih ingin menginap di rumah Mama nya.
Naz yang merasa diacuhan kemudian menyibukan diri dengan berselfie ria menggunakan aplikasi editor photo dan memposting fotonya di status whatsappnya, entah sedang kerasukanapa tiba- tiba dia eksis seperti itu.
Saat mobil terhenti karena lampu merah menyala, Naz melihat ada mobil bak di depannya yang mengangkut durian.
“Sayang, aku pengen beli durian itu”, Naz menunjuk ke mobil bak tersebut, namun Arfin tak menjawab malah sibuk dengan ponselnya, Naz langsung merebut ponsel dari tangan suaminya.
“Naz,, kamu apaan sih main rebut ponsel segala”, protes Arfin.
“Abisnya Aa gak dengerin aku ngomong”, Naz malah balik protes.
“Denger kok”, ucapnya menyangkal tuduhan Naz.
“Apa,,,??”, tanya Naz mengetes.
“Kamu bilang pengen durian yang ada di mobil bak itu kan”, Arfin melirik mobil bak yang ada di depan mobil yang ditumpanginya.
“Terus kenapa gak dijawab?”, Naz kembali bertanya.
“Ya itu kan punya orang, masa iya kamu mau ngambil punya orang,, nanti aja kita beli di toko buah,,, sini balikin ponsel Aa”, Arfin malah lebih mementingkan ponselnya.
Naz bukan nya mengembalikan ponselnya, ia malah menangis karena merasa kesal pada suaminya. “Eh,, kok kamu malah nangis,, jangan kayak anak kecil gitu dong”, protes Arfin.
“Habisnya Aa dari tadi sibuk main hape terus,, katanya rindu setengah mati sama aku,, tapi udah ketemu aku nya malah terus diacuhkan,,, huhuhuhuhu hiks hiks,,, semalam juga gak nelpon aku malah telponnya sibuk terus,, huhuhuu “, ucapnya sambil menangis, “Pak Udin, nanti di depan berhenti, aku mau turun,, hiks hiks”, titahnya pada sang sopir.
“Enggak,,, terus aja jalan Pak Udin”, Arfin melarang berhenti.
“Aku mau turun,,,, hiks hiks,,,”, Naz tetap kekeh.
Arfin menghela nafas panjang, ia mentap sendu pada istrinya karena merasa bersalah dan ia baru menyadari alasan istrinya mematikan ponselnya sejak semalam, ”Sayang,, jangan seperti ini,, Aa minta maaf,, sudah sini jangan menangis ya,,”, tangan Afin hendak merangkul Naz, ia pun segera menempasnya, namun Arfin tak menyerah sampai berhasil memeluk istrinya itu. “Sudah jangan menangis lagi ya,, maaf sayang,,, maaf ”, ucapnya sambil mengusap bahu istrinya lalu mencium pucuk kepala istrinya, perlahan Naz pun berhenti menangis dan mengembalikan ponsel suaminya.
Sesampainya di halaman rumah, Arfin kemudian turun dari mobil dan menggendong kembali tas ranselnya. Namun Naz masih di dalam mobil.
“Sayang,,, ayok turun”, ajaknya.
__ADS_1
“Gendong,,,,”, ucapnya dengan nada manja sambil mengangkat kedua tangannya lurus ke depan seperti anak kecil minta di gendong.
“Apaan sih kamu ih,, ayo turun ah,,,”, Arfin menolak.
“Gak mau turun kalau gak di gendong,,,”, Naz merengek manja.
“Ya ampun,,, kamu kerasukan apa sih, sayang,, dari tadi kaya anak kecil terus,, udah ayok ah turun”, Arfin menggerutu.
“Yaudah aku gak mau turun,, mau pulang ke rumah Mama aja”, Naz malah merajuk.
Arfin mendengus kesal melihat kelakuan aneh istrinya itu, mau tidak mau ia pun menuruti kemauan istrinya. Naz turun dari mobil kemudian ia digendong ala bridal style dan membuat Arfin kesusahan karena di depan ia menggendong istrinya sedangkan di belakang ia menggendong tas ranselnya, nasib. Tapi masih untung Pak Udin tak minta digendong juga.🤭
Saat di depan pintu Arfin menurunkan Naz, lalu menekan bel.
“Kok aku diturunin?”, protes Naz.
“Mau lepas sepatu dulu sayang, susah kalau sambil gendong kamu”, ucapnya yang kemudian melepas sepatu dan kaos kaki nya, serta tas ransel yang digendongnya tadi, Naz pun melepaskan sepatunya.
Arfin kembali menggendong Naz dan mereka masuk setelah dibukakan pintu oleh Bi Darmih,
“Bi tolong bawakan tas sama sepatu saya dan Naz ke dalam, simpan saja di belakang”, titahnya dan sang ART itu pun melakasanakannya dengan raut wajah yang nampak menahan tawa melihat kelakuan anak majikannya itu. Belum lagi Arfin diejek dan ditertawakan oleh Mami dan Papi nya saat melewati ruang tengah, namun ia tak menghiraukannya dan terus berjalan menuju kamarnya.
“Sayang,,, buka pintunya, tangan Aa susah nih”, Naz pun memutar pegangan pintu ke bawah hingga pintu kamarnya dan keduanya masuk, lalu menutup kembali pintunya, tangan Naz nampak mengunci pintu dan ia kemudian melingkarkan tangannya pada leher Arfin.
Arfin melanjutkan langkahnya lalu membaringkan Naz di atas tempat tidur, ia sama sekali tak melepaskan tangannya yang masih melingkar di leher suaminya.
“Sayang,,, aku sangat merindukan mu”, ucap Naz dengan nada menggoda, kemudian ia mencium bibir suaminya dan tentunya Arfin pun membalas ciumannya karena ia pun sama halnya, sangat merindukan istrinya, ciuman panas pun terjadi dengan Naz yang meremas rambut dikepala suaminya. Setelah beberapa saat, Arfin pun melepaskan pagutan bibir mereka, dan melepaskan perlahan tangan Naz yang mencengkramnya. Ia pun bangun kemudian duduk, Naz pun ikut bangun dengan nafas yang terengah- engah.
Bukannya bangun dari tempat tidur, Naz malah mendorong suaminya hingga berbaring terlentang, Naz langsung menyerang suaminya dan naik ke atas tubuhnya. Arfin merasa terkejut dengan tingkah istrinya yang tangannya sudah masuk ke dalam kaosnya dan mulai menggeryangi dadanya.
Tangan Arfin memegang dan menghentikan tangan Naz, “Kamu mau apa sayang? Apa kau ingin memperkosa ku hem??”, tanyanya tersenyum.
Naz membungkukan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya ke wajah suaminya, ”Unchhh,,, memperkosa suami sendiri itu tidak berdosa kan…?? maka dari itu aku akan meperkosa mu,,, Ha-ha-ha-ha- ha“, Naz bertingkah seperti pereman sambil tertawa jahat seperti saat Shinchan memperagakan pahlawan bertopeng tertawa.
“Oh,, tidak,,, lepaskan aku sayang,, jangan,,, jangan nodai aku”, Arfin meladeni candaan Naz sambil menyilangkan kedua tangannya di dada seolah ia anak perawan yang akan diperkaos.
“Gak boleh loh menolak istri yang ingin melayani suaminya, itu dosa sayang”, Naz mengembalikan perkataan suaminya yang selama ini selalu dijadikan senjata untuk minta jatah tambahan.
Arfin tertawa geli mendengarnya, “Oh ya,,, baiklah sayang, karena kau yang memaksa, lakukanlah,, Aa hanya akan pasrah dan menikmatinya,, kamu lah yang akan bekerja dan menguasai permainan ini”.
Naz pun membuka pakaiannya sendiri dan kini ia yang membuka pakaian suaminya, entah dapat ilmu dari mana Naz bisa seagresif itu, yang pasti itu membuat suaminya senang. Ia melakukan apa yang biasanya suaminya lakukan saat pemanasan, namun tangan Arfin pun tak berdiam diri yang ikut membantu istrinya untuk pemanasan, hingga ke acara inti pun ia membiarkan Naz tetap diatas tubuhnya.
Naz yang awalnya nampak malu dan ragu, namun saat si imutnya sudah melahap si ujang, lama kelamaan ia pun menikmati perannya sebagai penguasa permainan dalam pergulatan panas mereka hingga keduanya mencapai puncak bersamaan yang membuat Naz terkulai lemas menjatuhkan dirinya di atas tubuh suaminya, dan suaminya pun memeluknya dengan tersenyum bahagia.
“Anak pintar,,,”, bisiknya memuji lalu mencium pucuk kepala istrinya.
“Ternyata kalau di atas itu capek ya, kapok ah”, keluh Naz sambil memejamkan mata.
Arfin terkekeh mendengarnya, “Kamu hebat sayang,, sekarang sudah jadi wanita gagah perkosa,, hahhahaha”, ia pun menertawakan perkataannya sendiri.
“Jangan ketawa ih,, si imut kegelian itu”, protes Naz, namun Arfin malah semakin tertawa, “Tuh kan lepas ah,,,”, Naz mengerutu.
“Kan udahan sayang,,, si ujang nya juga udah menciut lagi,,, jadi si Ujang pamit undur diri".
“Aaahh,, masih pengen,,,,,”, Rengeknya dengan nada manja dan masih memejamkan matanya.
“Kamu kerasukan apa sayang? Biasanya baru satu ronde juga udah minta udahan,,, udah ah ayo bangun,, kamu berat sayang”, Arfin meminta Naz bangun dari atas tubuhnya.
“Aaaahhhh,,,,”, Naz malah merengek, lalu Arfin menggulingkan tubuh istrinya perlahan ke samping, dan kini wajah keduanya saling berhadapan dengan Naz yang terus memejamkan matanya.
“Kamu sexy banget kalau udah K.O begini,, “, Arfin entah memuji atau meledek Naz.
“Gak sexy gimana orang gak pakai baju”, Naz bicara masih memejamkan matanya.
Arfin kembali terkekeh, “Sayang, kamu tahu gak?”, Arfin merapikan rambut istrinya yang menghalangi wajah Naz.
“Apa?”, tanyanya.
“Si imut rasanya lebih nikmat dari biasanya”, Arfin memuji si imut.
“Gombal,,, “, cicitnya.
“Beneran sayang,,, lebih hot,, apalagi melihat kamu agresif gitu,, yang sering ya sayang”, Arfin malah maruk.
“Tuh kan ngegombal karena ada maunya”, Naz sudah bisa membaca pikiran mesum suaminya.
“Katanya masih pengen”, Arfin malah meledek.
“Gak jadi ah, capek,,, gak mau lagi jadi wanita gagah perkosa,,, kapok”, ucapan Naz kembali mengundang tawa suaminya.
-------------------- TBC ----------------------
__ADS_1
********************************
Happy Reading…. 😘😍🤩