Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Maling Cantikk


__ADS_3

Tiga hari berlalu setelah kejadian Naz meninggalkan Arfin sendirian di taman danau, semenjak itu Arfin sulit dihubungi dan chat pun tidak pernah dibalas sebagai aksi ngambeknya karena merasa tidak di hargai dan ditinggalkan begitu saja oleh Naz. Naz yang awalnya terus membujuk Arfin, lama- kelamaan ia memutuskan untuk membiarkannya saja dan berfikir nanti juga akan baikan dengan sendirinya.


Naz melakukan kegiatan sekolah seperti biasanya, berangkat pagi dan pulang jam satu siang, tapi jika ada kegiatan ekstrakulikuler ia akan pulang sore. Hari ini Naz sepulang sekolah pergi ke toko buku bersama Ruby, dan kebetulan mereka satu kelompok jadi sepulang dari toko buku mereka hendak mengerjakan tugas di rumah Naz.


“Naz, gimana sekarang cowok lo masih pundung?” tanya Ruby.


“Ya gitu deh,,, gue biarin aja ah, ntar juga lama- lama dia datang sendiri,,, gue gak mau ambil pusing,, lagian kan dia juga udah dewasa bukan anak kecil lagi yang ngambek harus terus- terusan di bujuk,,, sebenernya mendingan dia di Surabaya sih,, jarang ketemu tapi gak suka bikin masalah,,, ini mah baru beberapa hari di Jakarta lagi dan bisa deket terus,, ehh malah bikin perkara,, hadeuhh,,, gini amat ya yang namanya pacaran,, kadang bikin ribet”, Naz malah curhat.


“Ya begitulah, lo mah masih baru,, masih anget- anget nya,,, ntar juga lama- lama terbiasa dengan keribetan pacaran,,, kayak gue nih,, pacaran udah ampir dua tahun,,, kerjaannya ribut mulu kalo ketemu, kalo gak ketemu pada nyariin,, hahahhaa”, Ruby berbagi pengalaman.


“Anget apaan lo,,,, anget- anget tahi ayam,, apa anget- anget ti embe,,, hahaha”,ucap Naz.


“Wanjiir,,, emang tahi embe anget gitu??”,Tanya Ruby.


“Ya bisa aja kali anget kalo dimasukin kedalam microwafe,,, hahahhaa”, jawab Naz.


“Ihh,,, jorok banget sih lo,, tahi embe tu buat pupuk, lah ngapain lo masukin ke microwafe”, Ruby protes.


“Kan supaya anget doang By,, hahhaa,,, eh udah nemu belum buku nya?? Gue mau beli komik nih,,,”, ucap Naz.


“Uh dasar,,, udah sana lo beli buku komik, gue beli buku pelajaran dulu biar cepet,,,”,Ruby membagi tugas.


Akhirnya mereka berdua berpencar untuk mencari buku yang mereka cari supaya lebih mengefisienkan waktu dan mereka bisa segera pulang. Dan benar saja, mereka pun telah selesai mencari buku lalu membayarnya di kasir, setelah itu mereka berdua bergegas pergi untuk segera pulang ke rumah Naz.


“By,, tunggu,, ini Kak Dandy minta gue ke apotek membeli beberapa obat dan perlengkapan P3K untuk di rumah katanya”, ucap Naz.


“Yaudah yuk kita ke apotek yang ada di depan aja,, tapi kita harus nyebrang deh,,,”, Ruby memberi saran.


Mereka berdua pun keluar dari toko buku dan berjalan lalu menyebrangi jalan menuju apotek. Naz masuk ke dalam apotek dan membeli beberapa barang yang dipesan oleh kakaknya dan juga membeli dua minuman botol karena ia merasa haus. Setelah urusannya selesai Naz pun keluar dan berjalan bersama Ruby untuk kembali menyebrang.


“Lepaskan saya,,, tolong,,, tolong”, terdengar suara seorang wanita meminta tolong.


“Eh By,, lo denger gak ada yang minta tolong?”, tanya Naz.


“Iya Naz, gue denger,, kayaknya dari sebelah sana deh,,,,”, Ruby menunjuk ke sebelah kiri jalan dan mereka pun berlari menuju asal suara teriakan tersebut yang masih terdengar. “Hei,,, copet lo ya,,, tolong,,, tolong,,,”, Ruby ikut berteriak saat memergoki seorang wanita yang sedang berebut tas dengan seorang pria yang diperkirakan copet, sedangkan pria satu lagi menodongkan pisau. Copet itu melepaskan tangannya dari tas wanita itu dan berlari bersama pria satunya lagi ke arah Ruby dan hendak melewatinya, tapi Ruby menghalangi langkah pria itu dengan kakinya sehingga pria itu jatuh tersungkur begitu juga temannya.


“Kurang ajar lo ya,, berani sama gue”, ucap pria itu bangkit.


“Kita gak takut sama lo, copet pengecut,, beraninya cuma sama perempuan”, ucap Naz dengan suara lantang dan pria itu tersulut emosi karena di bilang pengecut alu menyerang Naz dan Naz pun melawannya dengan kemampuan bela diri yang dimilikinya Naz pun berhasil mengalahkan pria itu sampai jatuh tersungkur, sedangkan yang satunya lagi ikut menyerang dan sama juga Naz berhasil mengalahkannya walau salah satu tangan Naz tergores pisau yang dipegang copet itu.


“Aww,,,, ko perih ya By…. “, Naz meringis.


“Hahaha,,, cuman segitu kemampuan lo anak cantik,,,, sudah sini temani abang bersenang- senang”, mujar copet itu.


“Heh,,, jangan mendekat lo ya,,, gue bilangin bang Tigor lo”, ancam Naz.


“Bang Tigor,,,,?”, Kedua copet itu saling memandang dan ketakutan saat Naz menyebut nama itu.


Naz yang melihat wajah kedua orang itu nampak terkejut saat ia menyebut nama Bang Tigor, Naz kemudian punya ide konyol, “By,,, ayo cepet ambil foto wajah mereka,,, kita laporin ke Bang Tigor,,, biar nyaho mereka”, ucap Naz dan langsung dituruti oleh Ruby yang sedang memegang ponsel, lalu kedua copet itu kabur, lari dengan terbirit- birit.


“Uhhh,,, dasar lo,, baru segitu aja takut”,ucap Naz.


“Hahahaha,,,, eh Naz by the way, Bang Tigor itu siapa?”, tanya Ruby.


“Katanya sih Rajanya Preman,,, bodo amat,, yang penting bisa nakutin mereka,,, hahahhaa”,ucap Naz.


“Dasar gila lo,,, “, ucap Ruby menggelengkan kepalanya melihat tingkah tengil sahabatnya itu dan mereka berdua pun tertawa.


“Nak,,, terimakasih ya,,, kalian sudah menolong tante”, ucap wanita tersebut.


“Eh iya Tante,,, sama- sama,,, Tante gak apa- apa kan?? Apa ada barang yang mereka curi?”, tanya Naz.


“Enggak kok,, mereka belum sempat mengambil apa- apa,,, “.


“Loh itu tangan tante kenapa?? Sini saya obati dulu Tante,, kebetulan saya tadi abis dari apotek membeli perlengkapan P3K,,,”, ucap Naz menawarkan diri pada wanita itu, Naz menuntun wanita itu untuk duduk di sebuah kursi panjang di atas trotoar jalan sepi tersebut. Naz mengeluarkan tisu basah dan mengelap luka tersebut, lalu ia mencuci tangannya dengan menggunakan handsanitizer. Naz mengeluarkan kapas yang ia basahi dengan alkohol medis, “Maaf ya tante,, ini agak perih”, Naz membersihkan luka tersebut lalu ia memberi betadine dan diberi perban tipis memanjang sesuai garisan lukanya, lalu di tutup dengan plester, “udah selesai Tante”, ucapnya.


“Terimakasih ya cantik,,, kamu sepertinya sudah telaten ya mengobati luka seperti ini?”, ucap wanita itu.


“Kebetulan Ayah dan Kakak saya seorang dokter, jadi ya belajar sedikit- sedikit soal membalut luka,, tapi hanya luka ringan saja Tante,, kalo luka berat belum bisa,,, hehehe”.


“Sekali lagi terimakasih yaa,,, loh,,, itu tangan kamu juga terluka,,, kenapa malah mengobati saya?”, tanyanya heran.


“Gampang kok Tante,,, saya bisa obati sendiri kok… hehehe”, ucap Naz yang kemudian melakukan hal yang sama terhadap luka di lengannya, membersihkannya lalu memberinya betadine dan diperban lalu ditutup dengan plester, “Beres deh,,,,”, ucapnya tersenyum, lalu Ruby membantu membereskan peralatan medis yang tadi Naz pergunakan.


“Oh iya,,, sebagai tanda terimakasih,,, Tante traktir kalian makan yaa,,, gak boleh ada penolakan,, ini bersifat memaksa loh”, ucap wanita itu memaksa.


“Tapi Tante,, saya malu,,, temen saya yang satu badannya aja yang kurus, tapi makannya banyak kayak boboho”, ucap Ruby mengejek Naz.


“Hahaha,,, gak apa- apa…. Kalo perlu kita borong sekalian semua makanan yang ada di restorannya,, biar kalian kenyang”, ucap wanita itu terkekeh dan akhirnya mereka pun pergi bersama wanita itu ke sebuah restoran dengan menaiki mobilnya, sedangkan Pak Udin mengikutinya dari belakang.


Sesampainya di restoran mereka pun dipersilahkan memesan makanan pilihan masing- masing, lalu Naz meminta dibungkus kan satu porsi makanan untuk sopirnya lalu diantarkannya ke parkiran, dan setelah kembali ke dalam restoran Naz, Ruby dan wanita tadi makan bersama.


Seusai makan mereka pun berbincang- bincang sebentar karena Naz dan Ruby berpamitan dengan alasan akan mengerjakan tugas sekolah takut pulang kesorean, dan dengan berat hati wanita itu pun mengiyakan nya walau sebenarnya ia terlihat masih ingin berbincang dengan dua bocah yang sudah menyelematkan nya dari copet tadi. Setelah berterimakasih, Naz dan Ruby pergi meninggalkan wanita tersebut seorang diri di restoran itu, ia bilang akan menunggu anaknya dan sopirnya datang menjemput, karena merasa takut jika harus pulang dan menyetir sendiri.


“Naz,,, Tante itu baik banget yaa,, orangnya ramah dan ngobrolnya gaul gak kaku kayak orang tua biasanya”, ucap Ruby.


“Iya,,, nyambung ya ngobrol sama kita,,, ehh namanya siapa yaa,, tadi kita gak sempat kenalan ya?”, Naz baru menyadari.


“Eh iyaa,,, gue juga baru nyadar sekarang,,, hahahhaa,,, gila yaa,,, kita ditraktir makan sama orang yang gak kita kenali,,, untung aja kita gak diculik juga,,, hahaha,,”, ucap Ruby dan mereka berdua malah menertawakan kekonyolan mereka.


Ruby dan Naz mengerjakan tugas sampai magrib, padahal besok nya libur sekolah karena ada rapat guru- guru. Setelah shalat Ruby diantarkan pulang oleh Pak Udin, sedangkan Naz kembali ke kamarnya.



“Sampai kapan sihh dia ngambeknya,,,, menyebalkan ihh,, cowok kok ngambeknya lama,,, pakai cara apa ya?”, Naz memikirkan cara supaya Arfin berhenti ngambeknya, kemudian ia mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan pada Arfin.


Aa

__ADS_1


“Aa Sayang,,,,”


“Sampai kapan sih mau diemin aku terus?”


“Aku kan udah beberapa kali meminta maaf”


“Lagian kamu juga sih dadakan banget mau ngenalin aku sama Mami kamu, kan aku belum siap”


“Sayang,,,,”


“Udah dong ngambeknya”


“Yudah deh terserah mau ngambek juga,,, aku mau nelpon Bang Evan aja yang gak julid orangnya”


Tak lama setelah pesan itu terbaca, ponsel Naz langsung berdering menandakan panggilan masuk.


Aa is caling……….


“Hahaha,,, manjur ternyata,,, kenapa gak dari kemaren- kmaren gue bawa- bawa nama Bang Evan,,, hahhaa,,,, biarin dulu ah,, gak mau angkat,,, rasain lo,, gimana rasanya di diemin…. hahahhaa”, Naz malah tertawa sendiri dan Naz membiarkan panggilan dari Arfin begitu saja hingga beberapa kali, lalu Ruby menelpon memberitahukan bahwa ia sudah samapi di rumahnya dengan selamat jadi telepon Arfin kelelep oleh telepon dari Ruby.


Karena sudah kasihan akhirnya Naz menerima video call dari Arfin yang tidak berhenti menghubunginya dari tadi.


“Hallo,,,, assalamu’alaikum….”, sapa Naz dengan polosnya sambil tersenyum semanis mungkin.


“Kamu ngapain teleponan sama Bang Evan?”, Arfin langsung ngegas.


“Sayang,, kalo salam itu wajib dijawab loh,,, kok langsung nyerocos sih?”, Naz malah menggodanya.


“Wa’alaikumsalam,,, sekarang jawab ngapain kamu nelpon Bang Evan?” Arfin kembali bertanya.


“Tadinya mau ngadu sama Bang Evan kalo adiknya nakal,, tapi gak jadi deh karena Aa nya malah nelpon”, ucap Naz dengan nada santai.


“Bohong,,, terus kenapa tadi telepon aku gak diangkat- angkat,, ?”tanyanya lagi.


“Kemarin- kemarin juga telepon aku gak diangkat- angkat,, wle,,,, gimana rasanya kesel kan,,,,??”, Naz masih dengan nada santai seolah mengejek.


“Terus tadi kenapa telepon kamu sibuk,,, telepon Bang Evan juga sibuk,,, tadi teleponan sama dia ya??”, Arfin terus menginterogasi.


“Tadi itu Ruby nelpon, katanya dia udah sampai di rumahnya, karena tadi siang abis kerja kelompok di sini, dan abis magrib tadi dianterin pulang deh sama Pak Udin, begitulah duduk perkaranya Paduka Yang Mulia”, Naz terus menjawab dengan santai dan ia pun sudah tak bisa menahan tawanya.


“Kenapa kamu ketawa?”


“Abisnya Aa lucu kalo lagi ngambek gitu,,, udah gitu rambutnya berantakan gitu,, hahahhaa”, ucap Naz menertawakan kekasihnya itu.


“Udah dong ngambeknya,,, ntar gantengnya ilang loh”, rayuan dikeluakan.


“Iya”, jawab Arfin dengan nada jutek.


“Dih,,, masih jutek gitu,,, kalo ada orangnya mau aku cubit tau,,, gemesss”, ucap Naz sambil tersenyum, "Senyum aja kali gak usah di tahan gitu,,, nanti malah keluar kentut,,, hahaha”, ucap Naz terkekeh.



“Iya dong,,, aku kan cerdik bagai kancil”


“Licik bukan cerdik”


“Biarin,,, wle….. “.


“Dasar kamu,,,,”


“Aku kangen….. “


“Oh ya?”


“Iya,,,, emangnya Aa enggak?”


“Emmm,,, enggak tuh"


“Enggak cuman kangen tapi pakai banget,,,,”


“Uhhh,,, dasar ,,, udah dulu ya ,, udah dipanggil bunda mau makan,,, Aa juga makan ya,,, babahay,,, assalamu’alaikum”, Naz langsung mengakhiri panggilan video call nya setelah mendengar jawabans salam dari Arfin, lalu ia langsug turun ke bawah untuk makan malam bersama keluarganya.


Keesokan hari nya Naz hanya diam sendiri di rumah karena hari libur ini ketiga sahabatnya punya acara masing- masing sedangkan sang kekasih tentu saja bekerja. Naz yang merasa gabut padahal di luar nampak mendung akhirnya memutuskan untuk pergi jalan- jalan ke mall, ia langsung menghubungi Pak Udin lalu ia mandi dan bersiap- siap sambil menunggu jemputannya itu.


Setelah Pak Udin datang Naz pun langsung berangkat, mobil pun langsung melaju menuju mall yang menjadi tempat tujuan Naz. Namu di tengah jalan ia melihat sebuah gedung yang bertuliskan Akbarsyah Group di seberang sana dan Naz memutuskan untuk turun di depan masjid tepat seberang gedung tersebut.



“Pak Udin, aku berhenti disini aja ya,, Pak Udin langsung pergi aja karena aku mau nyamperin Kak Arfin ke tempat kerjanya” ucap Naz.


“Baik Neng,,,”.


Naz pun turun dari mobil sambil membawa payung lipat dari rumahnya karena cuaca terlihat mendung dan ternyata ia merasa kebelet, akhirnya ia pergi ke toilet yang ada di masjid tersebut. Ia membuka sepatunya lalu berjalan masuk menuju toilet wanita. Saat ia keluar ternyata di luar sudh turun hujan, Naz langsung berlari hendak mengamankan sepatunya agar tidak terkena hujan, dan naas ternyata sepatunya sudah tidak ada di tempat yang sebelumnya ia meninggalkannya. Naz mencari ke beberapa tempat di pinggiran masjid itu, tetap tidak menemukannya.


“Yasalam,,, udah mah hujan,, sepatu gue ada yang ngambil lagi,,, apes banget sihh gue hari ini,,, Bundaaaa,,,,, “, Naz berdialog sendiri, “ Coba aja tadi gue diem di rumah aja,,, haduhhh,, mana hujannya deras banget lagi”, ucapnya kesal dan akhirnya ia berteduh di luar masjid sambil menunggu hujannya reda sambil memainkan ponselnya. Setelah menunggu hampir setengah jam, hujan pun mulai reda dan tinggal gerimis saja. Naz keluar dari halaman masjid tersebut sambil nyeker dan kebetulan ia melihat ada sebuah warung, ia pun ke warung tersebut hendak membeli sandal jepit, dan beruntung di warung itu masih ada satu pasang sandal jepit swallow warna putih dengan capitan biru. Naz pun membelinya dan langsung memakainya, ia pun membeli kantong kresek untuk melindungi tas nya supaya tidak terkena air hujan.


Naz membungkus tas H nya dengan kantong kresek hitam, lalu ia menyebrang dengan menggunakan payung sebagai pelindung dari hujan dan berjalan menuju kantor Akbarsyah Group. Sesampainya di gedung tersebut Naz menutup kembali payungnya dan menitipkannya pada satpam, kemudian ia masuk.


“Maaf Nona,,, anda sedang mencari siapa?”,tanya seorang satpam.


“Emm,,, resepsionis sebelah mana ya Pak?”,tanya Naz.


“Oh di sebelah sana Nona”.


“Terimakasih,,, “ Naz berjalan menuju tempat resepsionis yang ditunjukan orang yang berpakaian hitam- hitam tadi, ia terus melangkah dengan membawa kantong kresek hitam.


“Permisi, bisakah anda memberi tahu saya dimana ruangan kerja Pak Arfin?”.

__ADS_1


“Mohon maaf Mbak, apakah sudah ada janji sebelumnya?”, tanyanya sambil melihat penampilan Naz dari atas kepala hingga ujung kaki.


“Emm,,, gak ada, bilang aja ada Naz di sini”.


“Iya mba,,, silahkan tunggu sebentar ,, mbak bisa duduk di sofa sana”, ucapnya menunjukan tempa duduk.


“Terimakasih mbak”, Naz pun berjalan menuju sofa dan duduk di sana, setelah menunggu setengah jam lebih, masih tidak ada kabar dari resepsionis itu, Naz mencoba menelpon Arfin ternyata kuota internet dan pulsanya telah habis.


"Aduhh,,,, ini apes yang ke berapa kali sihh,,, sepatu ada yang maling sekarang kuota sama pulsa abis pula,,, gimana cara aku menghubungi Kak Arfin,, yasalam,,,”, Naz menggerutu dalam hati. Lalu Naz berdiri hendak bertanya kembeli ke resepsionis.


Brukk,,, seseorang menabrak Naz hingga terjatuh,,, “Maaf mba saya gak sengaja, maaf ya mba”, ucap orang itu membantu Naz bangun lalu lari.


“Pak,, itu Pak tangkap orangnya….”, ucap seorang wanita menunjuk ke arah Naz lalu kedua tangan Naz pun dipegang oleh dua orang tim keamanan.


“Apa- apaan ini,, kenapa kalian nangkap saya,,,?”,tanya Naz.


“Heh,, kamu itu udah berani maling ya di perusahaan ini”, ucap wanita yang berteriak tadi lalu mengambil kantong kresek yang dipegang Naz


“Eh,, jangan sebarangan ya kalau ngomong,,, mana ada tampang maling kayak saya,,, balikin itu punya saya”,ucap Naz.


“Ini buktinya,,, Udah Pak,,, bawa aja ke keamanan kita periksa di sana”, ucap wanita yang satu nya lagi.


“Lepasin ih,, lepasin saya,, saya bukan maling,, lepasin Pak,, tangan saya sakit ih”.


“Sudah mba,, lebih baik anda jangan melawan, ayo cepat ikut kami”, ucap pria itu.


“Yasalam,,, kesialan apa lagi ini,,, mimpi apa sih gue semalam”, Naz menggerutu dalam hati dan akhirnya Naz dibawa ke ruangan keamanan, ia pun disuruh duduk di sebuah kursi.


“Siapa nama anda?” tanyanya.


“Rheanazwa”,jawab Naz.


“Apa tujuan anda datang kemari,,, sepertinya anda bukan pegawai di sini?”.


“Saya mau ketemu pacar saya, dia kerja di sini”.


“Halah ngeles aja kamu,, emang apa posisi pacar mu di sini?”,ucap wanita yang memegang tas Naz.


“Gak tahu,,, orang saya ketemu nya juga diproyek”,jawab Naz.


“Hahaha,, jangan- jangan pacar kamu itu mandor ya, mana ada dia kerja di kantor”.


“Kamu tuh ngaku aja kalo kamu maling,,, kenapa tas H saya ada di kamu?”.


“Itu tas punya saya, hadiah ulang tahun dari pacar saya, kalo gak percaya lihat aja di dalamnya ada dompet saya”,ucap Naz.


“Halah, bisa aja kan kamu masukin dompet kamu setelah nyolong tas saya, tadi juga saya lihat kalo tas yang dicuri dimasukin ke dalam kantong kresek hitam”.


“Yasudah kalau begitu saya pinjam telepon, biar saya panggil pacar saya supaya kesini, pulsa saya kehabisan”, ucap Naz dan salah satu pria tim keamananan itu memberikan ponselnya, Naz menekan nomor Arfin yang ternyata diponsel orang itu sudah ada namanya BOS, pria itu nampak terkejut.


“Nona, sebaiknya saya antarkan anda ke ruangan pacar anda tadi”, ucap pria tersebut yang sudah nampak ketakutan.


“Gak usah,, biar dia jemput saya aja ke sini”,ucap Naz.


“Tapi Nona,,”.


“Hallo sayang ini aku,,,, sayang aku lagi di kantor tempat kamu kerja tapi nyasab ke pos keamanan,, kamu bisa jemput aku di sini kan,,,, oke,,, bhay”, ucapnya mengakhiri telepon, “Nih ponselnya, terimakasih”, ucap Naz pada pria itu yang nampak masih ketakutan dan sudah mulai berkeringat.


“Lo kenapa sih,,, ?”, tanya temennya.


“Ini gawat ….”, jawab orang itu berbisik.


“Gawat apanya,,?”, tanya temannya lagi.


“Celaka kita,,,”, jawabnya lagi dan setelah beberapa saat Arfin pun datang ke pos keamanan.



“Naz,,, “, ucapnya dari pintu masuk.


“Pak Al Arifin”, ucap kedua wanita tadi terkejut.


“Sayang,,, kamu lama banget sih,, aku udah bete di sini”, ucap Naz dengan nada manja karena melihat keempat orang tadi nampak ketakutan.


“Kok kamu ada di sini?”, tanya Arfin.


“Sayang,, tuh lihat tangan aku merah- merah gini dipaksa diseret kesini?”,ucap Naz menunjukan tangannya.


“Siapa yang berani nyeret kamu hem,,,?”, tanya Arfin.


“Tuh,,, mereka”, ucap Naz menunjuk ke dua orang tim keamanan.


“Sayang,,, kamu kenal tas itu kan?”, Naz menunjuk tas yang dipegang salah satu wanita yang menuduhnya maling.


“Tentu saja,,, itu hadiah ulang tahun mu”,jawab Arfin.


“Tuh kan bener itu punya aku,,, mereka bilang aku maling tas itu”, ucap Naz mengadu.


“Siapa yang sudah berani bilang kamu maling, sayang ?”, tanya Arfin dengan raut wajah marah sedangkan keempat orang tadi terus menunduk ketakutan karena melihat wajah Arfin yang nampak menahan amarah yang sebentar lagi akan membludak.


"Mereka", tunjuk Naz pada kedua wanita tadi.


-------- TBC ------


-


-

__ADS_1


Happy Reading😘


__ADS_2