Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Mohon Maaf Saya Tidak Bisa


__ADS_3

“Oh,, jadi ini ulah kalian??”, ucap seseorang yang ternyata menguping pembicaraan duo curut itu, tentunya membuat keduanya merasa terkejut kemudian membalikan badannya mengalihkan pandangan pada orang itu sambil cengengesan karena malu sudah ketahuan, dan ternyata orang itu tidak sendirian.


“Mami sama Bunda tega banget sih ngerjain kita sampai segitunya”, ucap Naz kesal.


“Hehehe,,, yang penting kan sekarang kalian sudah bersatu kembali,, kalau enggak kayak gitu,, mana mungkin orang yang berdiri di samping mu itu berani melamar mu, sayang”, Bu Hinda melontarkan pembelaan sambil menunjuk ke arah Arfin.


“Bunda minta maaf ya, Dek,,, abisnya Bunda juga greretan sama kalian yang masih saling cinta tapi tidak mau bersatu malah saling menyakiti,, kan kalau sudah begini mah kalian teh bahagia kita pun sebagai orang tua juga lebih bahagia”, ucap Bunda.


"Tapi kan gak kayak gitu caranya Mi,,,", Arfin pun ikut kesal karena sebenarnya dia lah yang sangat tersiksa akibat rencana duo curut tersebut.


“Lagian kan cinta itu butuh perjuangan, Al,, kamu kalo gak digituin susah dikasih saran nya,,, ya terpaksa lah Mami sama Mbak Anita turun tangan ”, Mami terus melakukan pembelaan karena tak mau disalahkan.


"Tapi Mi...Mami tuh.....", Arfin belum meneruskan perkataannya langsung di potong oleh Bunda.


“Iya Nda,,, kamu bener banget,,, udah yu ah kita gabung lagi ke sana,,, kami permisi ya,,calon suami istri,,, Ayo Nda”, Bunda malah mengajak Bu Hinda untuk meninggalkan ruang makan dan meninggalkan Naz yang sedang berdiri bersama Arfin itu, karena takut akan memperpanjang masalah. Mereka pun beranjak pergi sambil cekikikan.


“Dasar mereka itu,,, benar- benar duo curut seperti yang dikatakan Bunda,,, diam- diam ngerjain kita,,, gak tahu apa rasanya takut dipisahin lagi sama kamu”, Arfin menggerutu kesal melihat mereka yang pergi begitu saja, sedangkan ia belum selesai bicara.


“Hahaha,,, udahlah,,, Mami benar,, cinta butuh perjuangan,,, dan terimakasih kamu sudah berjuang demi aku, calon suamiku”, ucap Naz tersenyum agar meredakan kekesalan orang yang berdiri di sampingnya itu, “Kita ngobrol di gazebo halaman samping yuk dekat kolam renang”, Naz menggandeng lengan Arfin, kemudian mereka pun beranjak pergi berjalan menuju ke tempat yang disebutkan Naz.


“Kamu cantik banget sih hari ini, sayang”, ucap Arfin yang kini sedang duduk di gazebo depan kolam renang, dan menatap gadis yang duduk bersebelahan dengan ya itu sambil tersenyum.


“Dih,, mulai deh gombal gembel nya keluar,,, berarti kemarin- kemarin gak cantik dong”, ucap Naz.


“Cantik lah,,, setiap hari kamu selalu cantik,, walaupun sedang tidur kamu itu terlihat cantik”, Gombalan terus berlanjut.


“Dih,,, jangan suka ngarang deh,,, kapan Aa lihat aku lagi dalam keadaan tidur?”.


“Udah beberapa kali juga”, jawab Arfin.


“Kapan emang?”, tanya Naz lagi.


“Emmmm,,,, waktu kamu pingsan di ruang musik sekolah, terus saat kamu dirawat di rumah sakit pingsan juga setelah dari kamar mandi itu loh,,, tapi saat itu Aa sedih lihatnya karena kamu terlihat pucat… terus saat kamu pingsan di Bandung dan satu lagi saat kamu tidur di rumah Aa setelah pingsan juga karena abis tenggelam,,,, “.


“Kok itu aku lagi pingsan semua,,, ?.hahaha”, ucap Naz tertawa renyah.


“Iya,,, kamu berat lagi saat digendong tuh”, keluh Arfin.


“Masa sih?? Aku kan langsing,,,masa berat?”, Naz merasa tak percaya.


“Emang berat sayang, kalau di banding menggendong Nala”, ucap Arfin terkekeh.


“Yee,,, dasar kamu mah,,, masa iya aku disamain sama anak kecil,,, “.


“Kamu lagi kamu lagi,,, Aa ih”, Arfin protes.


“Hahaha,,, iya iya maaf keceplosan”.


Arfin menghela nafas panjang sambil memandang ke arah kolam renang yang ada di depan gazebo tempatnya duduk, “Aa masih gak percaya kita sudah melangkah ke tahap ini, Aa pikir setelah kita putus tidak akan punya kesempatan lagi untuk bersama mu,,, “, ucapnya lalu menoleh pada Naz yang duduk di sebelah kanan nya, kemudian menggenggam kanan tangan Naz dengan memasukan jari-jari tangannya pada sela- sela tangan Naz , “Terimakasih sayang, untuk semuanya,”, ucapnya lalu mencium punggung tangan Naz, kemudian Naz pun menyenderkan kepalanya ke samping tepat di bahu Arfin.


“Sama,,, aku juga masih gak percaya,, ini serasa mimpi bagiku,, mimpi yang sangat indah bahkan terlalu indah sehingga aku tak ingin bangun dari tidurku jika memang ini mimpi,, terimakasih juga sudah memilihku untuk menjadi pendamping hidup mu kelak”, ucap Naz tersenyum bahagia begitu juga dengan Arfin yang masih menggenggam tangan Naz.


“Sayang….”,


“Hemmm…”, jawab Naz.


“Kalau kita menikah nanti, apa kamu mau tinggal di Surabaya dengan ku?”, tanya nya.


“Tentu saja,,, aku akan ikut dengan Aa kemana pun Aa pergi”,jawab Naz tanpa keraguan.


“Termasuk ke toilet juga?”, Arfin malah bicara nyeleneh.


“Iihh apaan sih,, ngapain ikut ke toilet,, gak ada kerjaan banget”, ucap Naz .


“Yee,,, tadi katanya mau ikut kemanapun Aa pergi”,


“Iiiihhh,,, bukan gitu,,, maksudnya tuh Aa tinggal dimana pun aku akan ikut”, Naz memperjelas pernyataannya.


“Hahaha,,, iya iya ngerti kok,,, tapi sayang,, nanti kamu akan jauh dari orang tua dan keluarga mu,, emangnya gak apa- apa?”, tanya Arfin lagi.


"Lah kan kalau sudah menikah memang seorang istri akan dibawa pergi oleh suaminya untuk tinggal bersama, lagian Jakarta – Surabaya mah gak terlalu jauh atuh A ,, jadi gampang kalau pengen ketemu sama orang tua dan keluarga lainnya. Sekarang juga kan zamannya canggih bisa video call kalau kangen sama mereka,,,", ucap Naz lalu tersenyum, " ituh Kak Rezki aja membawa Kak Fatma tinggal bersamanya di Amerika, itu lebih jauh malah,,, mana di sana gak ada sanak saudara sama sekali,,, kalau aku kan nanti ada Tante Ina,,, jadi masih ada keluarga yang tinggal dekat,,,”, lanjutnya.


Arfin pun bernafas lega mendengarkan jawaban Naz, “Syukurlah kalau begitu,, berarti nanti kamu kuliah di Surabaya juga ya?”.


“Iya,,, ehh,,, berarti aku harus cari info dong untuk mendaftar ke universitas yang ada di sana”, Naz kemudian menegakkan kepalanya .


“Biar Aa aja nanti yang bantu cariin,,, kalau perlu universitas yang bagus dan jaraknya gak terlalu jauh dari rumah atau dari kantor, jadi nanti kalau ada apa- apa gampang”.


“Iya terserah Aa saja,,, “, Jawab Naz tersenyum.


“Baiklah kalau begitu,,, ayo kita kembali ke dalam,, di luar panas banget”, ucapnya kemudian keduanya berdiri lalu beranjak pergi masuk ke rumah untuk ke ruang tengah lagi sambil bergandengan, “Oh iya sayang,, Aa udah ngirim foto- foto saat Aa melamar mu di tepi danau”, ucap Arfin sambil berjalan.


“Hah,,, siapa yang mengabadikannya?”, tanya Naz heran.


“Tentu saja orang suruhan ku,,, yang pasti bukan pelayan kafe yang gak becus menjalankan tugasnya… dia mengambil foto kita dengan bersembunyi di balik pohon besar ”, jawab Arfin menjelaskan.


“Hahaha,,, dasar ya Aa suka banget mendokumentasikan secara diam- diam,,,, untung aja saat di rumah sakit Surabaya , gak ada yang ngambil foto kita secara- diam- diam”, ucap Naz teringat saat mereka hampir berciuman.


“Siapa bilang?? Itu si Lutfi ngambil foto kita diam- diam sayang,,, udah gitu dikirim lagi ke Mami”, Ucapnya lagi.


“Masa sih ?”, tanya Naz merasa tidak percaya.


“Yee,, kan kamu juga tadi dengar sendiri saat Mami sama Bunda lagi membicarakan rencana mereka saat di Surabaya itu”, Arfin mengingatkan Naz tentang apa yang didengar mereka saat nguping di dapur tadi.


“Oh iya ya…hehehe”, Jawa Naz terkekeh.


Mereka berdua pun kembali bergabung dengan yang lainnya di tengah rumah, ternyata mereka sudah memutuskan hari pertunangannya akan diadakan minggu depan, di ballroom hotel milik Opa, jadi mereka hanya memiliki waktu 10 hari untuk persiapan. Acara pertemuan pun sudah berakhir karena telah mencapai mufakat, kemudian Arfin bersama kedua orangtuanya pun berpamitan pulang.


Raline dan Elsa sejak kedatangan tamu malah berdiam di kamar sambil menonton drakor karena mengira Nervan juga akan datang, sehingga Raline memilih untuk bersembunyi, mungkin merasa malu karena sempat mengejar cinta si playboy buaya kadal itu.


“Uuuunchhh senangnya,,,, akhirnya aku akan segera bertunangan dengan Kak Arfin, nanti bakalan nikah sama dia, dan kami tak akan terpisahkan lagi,,, “, ucapnya bahagia yang kini sedang tengkurap di tempat tidurnya sambil melihat foto- foto saat ia dilamar di danau sembari senyam senyum sendiri.


“Yassalam,, aku lupa mengabari ketiga sahabatku,,, bisa murka merea kalau gak dikasih tahu”, Naz kemudian teringat pada geng bontotnya, diambil lah ponselnya lalu ia membidik gambar yang memperlihatkan cincin di jari manis tangannya. Kemudian ia membuka aplikasi WhatsApp dan mengirim gambar tersebut ke grup geng nya itu.


The Bontot Unyu


Naz



"Sold out”


Ruby Marisol


“Beralih profesi nih jadi model iklan perhiasan”


“Sunligh like a diamond”


Kiara Rossi


“Ngapain di share kalau barangnya sudah sold out”


Andes Mami


“Sun bright like a diamond,Ruby,,,, kenapa gak sekalian aja sunligh mamalemon”


“Iiiiihhh,,, lutuna… bling- bling gitu cincin berliannya bikin mataku silau Man,,,”


Naz


“Yaelah,,, harusnya kalian tuh bukan geng The Bontot Unyu,, tapi Lemot Genk”

__ADS_1


Kiara Rossi


“Lemot apaan sih,,, lemah otak apa lemah otot?


“Kalo lemah otak si Ruby,,, kalo lemah otot si Andes


“Hahaha”


Andes Mami


“Iya,,, dan kamu Kiara adalah cewek perkasa”


Ruby Marisol


“Hati- hati Des,, untung lo gak salah ketik atau typo otomatis”


“Bisa- bisa ngetik perkasa jadi perkosa”


“Hahahaha,,, “


Andes Mami


“Oh Ya ampun Ruby,,, mataku siwer”


Kiara Rossi


“Sialan kalian berdua”


Naz


“Hadeuh kalian tuh ya bener- bener gak peka”


“efek kelamaan semedi saat liburan jadi otak kalian nge-heng”


Ruby Marisol


“Eh tunggu- tunggu,,,, “


“anjir gue baru ngeuh”


“Itu cincin melingkar di jari manis tangan kiri lo Naz ??”


“O em ji helo,,,, lo udah di lamar orang Naz?”


Andes Mami


“WHAT,,,,,??”


Kiara Rossi


“Seriusan wanjirrr,,,??”


“Dilamar sama siapa lo Naz?”


“Gila lo ya gak bilang- bilang sama kita kalo lo mau di lamar”


“Lo anggap kita apa hah??”


Ruby Marisol


“Iya lo Naz,, bener- bener gak nganggap kita banget”


“Kacang lupa dikunyah lo mah”


Andes Mami


“Iya ihh,, tega nian nya cara mu”


Naz


“Sellow atuh sellow sodara- sodara”


“Ini juga gue ngasih tahu kalian”


“Orang gue juga gak tahu kalau gue bakalan dilamar”


Kiara Rossi


“Terus siapa yang ngelamar lo?”


Andes Mami


“Iya ih siapa? Aku pinisirin “


“Orangnya jelek apa ganteng Naz?


Ruby Marisol


“Jangan bilang kalau si eta tea”


Kiara Rossi


“Siapa By si eta teh?”


Andes Mami


“Iya siapa ih?”


“Jangan bilang kalau Kak Bagas kakak kelas kita yang rumahnya tetanggaan sama Bunda”


Kiara Rossi


“Kok lo bisa mikir ke sana Des?”


Andes Mami


“Lah,, kan emang tiap Naz ke rumah Bunda, pasti Kak Bagas nemuin Naz”


“Seolah dia itu selalu tahu saat Naz nginep di rumah Bunda, kayak janjian gitu”


Ruby Marisol


“Iya juga ya,, kan si Nanaz gak pernah ngobrol kayak gitu dulu mah sama Kak Bagas”


“Wah si eta kalah gercep atuh sama Kak Bagas”


Naz


“Permisi,,, apakah pergibahannya sudah selesai?”


“Nih biar gak penasaran gue kasih fotonya”



Kiara Rossi


“Astagfirullah,,, yang bener raja lo Naz,,, ngasih foto ko cuman tangan kalian doang”


Andes Mami


“Iya ih,,, kok wajahnya di sensor sih?”

__ADS_1


“Jelek ya orangnya?”


Naz


“Sembarangan lo Des,,, orang cowok gue ganteng banget”


“Nih”



Kiara Rossi


“O My God,,,, gilaa,,, 😱😱😱


"lo udah balikan lagi sama Kak Arfin, dan dia udah melamar lo?”


Ruby Marisol


“Kok bisa🙄??”


“Jadi dia udah berhasil mendapatkan restu Bunda dan orang tua lo yang lainnya?”


Andes Mami


“Nyimak”


Naz


“Iya,, dia udah dapat doa restu dari semua orang tua gue,, dant tadi abis pertemuan keluarga untuk membahas pertunangan kami yang akan diselenggarakan Minggu depan”


“Maka dari itu hamba memberitakan kepada kalian wahai orang- orang kepo tapi lemot sejagad kebun Raya”


Kiara Rossi


“Naz gue masih gak percaya, tahu gak”


“Guys kita ke rumah Naz yuk”


“Jiwa kepo gue meronta – ronta pengen tahu sampai ke akar- akarnya ini berita”


Andes Mami


“Ayok- ayok,,,”


"Cuusss"


Ruby Marisol


“Oke,,, gue mandi dulu”


Kiara Rossi


“Najong banget sih lo,, itu kayaknya dari pagi belom mandi ya”


Ruby Marisol


“Emberan cinn,,,, “


“Namanya juga hari libur,, santai aja kali gak usah mandi pagi”


Kiara Rossi


“Berarti kalau gue gak ngajakin lo ke rumah Naz, lo pasti gak bakalan mandi ya seharian”


“Jorok banget sih lo,,, daki dipelihara”


Ruby Marisol


“Diem lo,,, udah ah,, babhay”


Andes Mami


“Bhay,, sampe ketemu di rumah Nanaz”.


Chatingan empat sekawan itu pun berakhir, kemudian Naz pun berganti pakaian dengan pakaian kaos seperti biasanya.


Setelah beberapa saat ketiga sahabatnya pun berdatangan ke rumahnya. Dan tentunya mereka benar- benar mencerca Naz dengan segala macam pertanyaan. Naz pun menceritakan awal kejadiannya mulai dari ia datang ke rumah orang tua Arfin saat tahu dia sakit sampai ke acara pertemuan dan rencana acara pertunangan, kecuali soal penyakit Arfin, ia tetap menyembunyikannya rapat- rapat.


***


Tak terasa hari yang ditungu- tunggu pun tiba, Naz yang memakai gaun kebaya modern kini sedang dirias oleh penata rias khusus di salah satu kamar hotel dimana akan diselenggarakannya acara pertunangannya dengan Arfin.


Semua keluarga dan sanak saudara yang dekat pun turut hadir, sedangkan yang tinggal di luar kota atau di luar negri tidak bisa hadir dan mereka menjanjikan kehadirannya di pernikahan Naz nanti.


Ballroom hotel pun sudah di dekorasi sedemikian rupa, sederhana tapi terlihat elegan. Di depan kursi pelaminan untuk pertunangan terdapat dua barisan kursi yang di tata saling berhadapan berjarak 2 meter, barisan kanan untuk pihak perempuan, dan barisan kiri untuk pihak laki- laki. Dan setelah acara tukar cincin kursi pun nantinya akan ditata menghadap kursi pelaminan oleh panitia.


Naz yang sudah selesai dirias pun kini sedang menunggu seorang diri di kamar. Id melihat dirinya di cermin sambil tersenyum bahagia. Naz menerima pesan dari Arfin kalau ia dan kekuarganya sudah sampai di parkiran hotel. Rasa degdegan dan nervous tiba- tiba datang menghampirinya. Naz mondar mandir sambil menghela nafas panjang untuk menenangkan dirinya sendiri.


"Kok jadi degdegan gini ya... apalagi kalau nikah nanti.... yassalam....", Naz berdialog sendiri.


Tiba- tiba ponselnya berdering,, dan saat dilihat ternyata ada panggilan telpon untuknya, Naz segera mengangkat telponnya.


Setelah beberapa saat Bunda dan Mama-nya pun datang, "Dek,, ayo kita ke ballroom,, Arfin dan keluarganya sudah datang", ajak Bunda.


"Kamu kenapa Naz, kok terlihat sedih ??",tanya Bu Rahmi.


"Emm.... gak apa- apa kok Mah,,, ayo kita ke sana,,", ucap Naz yang nampak lesu dan dipaksakan tersenyum.


Kemudian ketiga wanita itu pun keluar dari kamar dan berjalan menuju tempat acara yang ternyata sudah dipenuhi oleh keluarga dari kedua belah pihak. Naz melangkah perlahan dengan didampingi Bunda dan Mamanya menuju kursi yang sudah disediakan, semua mata tertuju pada trio angels itu.


Naz duduk di barisan paling depan bersama keempat orang tuanya beserta Opa dan Oma, sedangkan Arfin duduk di barisan depan bersama orang tua, kakek dan kakak- kakaknya,, sehingga kedua belah pihak duduk saling berhadapan.


Sang MC pun membuka acara, dan tahapan demi tahapan acara pun telah dilaksanakan mulai dari sambutan dari pihak keluarga perempuan dilanjut dari pihak laki- laki. Dan kini sudah masuk pada acara inti, ayah dari pihak keduanya berbicara menggunakan micropon. Setelah dari pihak laki- laki mengutarakan niat kedatangannya untuk melamar Naz.


"Saya selaku orang tua Naz, merasa sangat bahagia mendengar hal ini akan niatan Nak Arfin untuk mempersunting putri kami, namun saya tidak bisa menjawabnya, karena yang bersangkutan lah yang berhak memberi jawaban dan keputusan ada ditangannya,,,", ucap beliau lalu menoleh pada putrinya yang duduk di sebelahnya dengan menunduk, entah karena nervous atau malu,


" Naz, putri Papa yang sangat Papa sayangi, Papa persilahkan kamu untuk menjawab lamaran dari keluarga kekasih hatimu. Ini menjadi suatu titik bagi kamu untuk mengambil keputusan, walaupun Papa tahu kamu masih terlalu muda, dan ini adalah keputusan penting dalam hidup mu yang akan membawa mu ke sesuatu hal yang berbeda, silahkan kamu utarakan keputusan mu di depan kami semua", ucap Pak Syarief lalu memberikan mikropon pada Naz.


Naz yang masih menundukan kepalanya pun menerima mikropon tersebut dengan tangan yang bergetar mungkin karena degdegan, tegang, nervous yang dirasakannya, " Pertama tama saya ucapkan terimakasih atas kedatangan Kak Arfin beserta keluarga dengan niatan meminang saya untuk menjadikan teman hidupnya Kak Arfin,,, dan tanpa mengurangi rasa hormat saya,, mohon maaf saya tidak bisa...", ucap Naz sambil menunduk dan sontak itu membuat semua orang terkejut dengan jawaban Naz, apalagi Arfin. Ia terus mengarahkan pandangannya pada Naz yang terus menunduk.


"Sayang.... kamu jangan bercanda,, apa kamu salah bicara?", tanya Pak Syarif berbisik.


"Enggak Pa... Aku gak bercanda,, aku benar- benar gak bisa", jawab Naz sambil menunduk.


"Dek... kamu teh yang bener aja,,kok membatalkan pas hari H gini,,, kan kami juga sudah menyuruh kamu memikirkannya matang- matang,, tapi gak gini juga atuh, Rheanazwa,, bikin malu tahu gak", Bunda berbisik dengan nada kesal, karena ruangan itu pun mendadak menjadi panas dengan orang- orang yang berbisik bisik tetangga.


Arfin tak melepaskan pandangan nya dari gadis yang sangat dicintainya itu dengan rasa terkejut yang luar biasa, seolah goncangan dahsyat menerpa dirinya, "Kenapa Naz tiba- tiba menolak lamaran ini, apa dia berubah pikiran karena sudah sadar kalau dia akan menikah dengan pria tidak berguna seperti ku?", gumam Arfin dengan perasaan yang sangat terpukul.


--------------- TBC ------------------


***************************


Apakah yang membuat Naz tiba- tiba berubah pikiran?? padahal dia ngebet syekali pengen nikah....


Hanya Naz yang tahu......


Ceuceu mariceu hei hei juga tahu sihh... tapi.... nanti aja ah ngasih tahunya...🤭😂


Mon maaf ceuceu lagi sibuk RL ini jadi baru sempat up lagi.... 🙏


Happy Reading....😉

__ADS_1


Jangan luva tinggalkan jejakmu....😉😍


Tilimikicih.. alapyu oll...😘😘😘


__ADS_2