Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Dapat Restu Lagi,, yesss


__ADS_3

Malam yang semakin larut semakin menampakkan keindahannya, gelapnya malam diterangi sinar rembulan yang membulat sempurna, pula dihiasi cahaya bintang yang bertaburan acak berkelap kelip di atas sana, bahkan adapun yang membentuk rasi bintang seolah berpola dengan sendirinya semakin memperindah pemandangan langit yang begitu luas tanpa batas. Suasana malam seakan menggambarkan perasaan seseorang yang tengah berbunga- bunga, jantungnya serasa dag dig dug ser saat mendengar seorang perawat menyangka kalau yang sedang video call bersama Naz itu adalah pacar Naz, dan itu membuatnya senyam- senyum sendiri gak karuan seolah kehilangan sedikit kewarasannya sambil menatap layar ponsel yang menampakan foto seorang gadis yang memeluk boneka yang merupakan poto profil WA gadis pujaan hatinya itu.


Arfin POV


”Naz ,,, apakah kau sudah menganggap ku sebagai kekasihmu”, gumam ku dalam hati. Hal itu tentunya membuat ku bahagia, berarti benar Naz memiliki perasaan yang sama dengan ku seperti apa yang dikatakan Bunda padaku saat aku mengakui perasaanku terhadap Naz pada beliau di Bandung tempo hari. Dan membuatku sempat berfikir jika ucapan I love you much more itu memang sebenarnya untukku karena ia malu mengakuinya jadi ia bilang kalau itu untuk Bundanya. Terbukti saat di Bandung dia marah padaku karena menyangka kalau sekertaris ku Dewi adalah pacarku dan ia begitu cemburu pada Dewi, namun setelah dia tahu Dewi sepupuku baru dia kembali lagi bersikap manis.


Saat aku dipukuli oleh Kakaknya pun ia membela ku dan memarahi Arsen yang terlihat begitu menyayanginya, bahkan ia merawat luka ku dengan baik dan membuatkan sarapan untukku hingga tangannya terluka, dan aku pun memakannya walau aku tahu itu sangat membahayakan untukku. Dia terlihat begitu ketakutan saat aku sesak nafas karena alergi ku tehadap keju hingga ia menangis, aku tak tahan melihat itu dan aku terus menahan rasa sesak ku dengan terus tersenyum padanya, sampai aku mendapatkan penanganan dari Dandy.


Beruntunglah hari itu kami cepat pulang ke Jakarta karena aku tahu pasti aku akan berujung di rumah sakit, dan benar saja sesampainya di rumah aku langsung dilarikan ke rumah sakit karena sesak ku kembali lagi dan gatal dari bintik- bintik yang timbul begitu menyiksaku, namun aku berpesan pada Dandy untuk tidak memberitahukan Naz soal kondisi ku karena takut dia merasa bersalah, dan aku pun menitipkan bingkisan boneka besar yang telah ku pesan untuk Naz sebagai pengganti boneka yang dibawa ke Surabaya.


Tapi tak ku sangka entah kami ada ikatan batin atau apalah, dia menemukanku sedang dirawat di rumah sakit saat dia mengantar Bude Hafsah menjengukku, ia menangisiku karena melihat ku terbaring lemah dan pastinya di merasa bersalah. Aku sempat merasa itu mimpi namun ternyata dia benar- benar ada di hadapanku, bahkan ia tidak mau pulang saat Bude mengajaknya pulang, lalu dia menyuapiku makan dan memaksaku menghabiskan semua makanan rumah sakit yang rasanya hambar itu, namun karena Naz yang menyuapiku rasanya nikmat sekali.


Setelah aku sembuh aku tak pernah bertemu dengannya lagi selama beberapa hari dan membuatku begitu merindukannya, akhirnya aku ajak dia makan siang bersama, namun semua itu tidak terlaksana karena adiknya, Eris harus dioperasi, dan aku pun ke sana untuk menemaninya. Namun saat datang dia tengah menangis duduk sendirian, dan saat aku menyapanya dia langsung memelukku dan semakin menangis karena ternyata Eris meninggal. Sepertinya pelukanku sudah menjadi tempat ternyaman baginya untuk meluapkan kesedihannya. Dan ternyata aku salah perhitungan karena dia telah memeluk ku empat kali berarti dia masih berhutang dua pelukan lagi......


Alangkah terkejutnya aku saat Om Syarif datang ke pemakaman Eris, dan Naz memanggilnya Papa.


Flashback


Dandy


“Arfin, kalau sudah selesai dengan kerjaan lo, ditunggu ya di Solaria tempat biasa,, gue di sini sama anak- anak mau ngomongin Reunian SMA”.


Aku mendapat pesan dari Dandy, karena aku punya waktu luang dan kerjaan sudah selesai, aku pergi memenuhi ajakan Dandy, dan kebetulan mall nya dekat dengan kantorku. Setelah beberapa saat aku sampai di sana dan ada yang berteriak memanggil namaku dengan mengangkat tangannya, ternyata itu adalah Nadine teman SMA ku dulu yang tengah duduk bersama ketiga teman yang lainnya termasuk Dandy. Aku pun menghampiri dan sialnya saat aku bersalaman dengannya dia nyosor menempelkan pipinya pada pipiku secara bergantian, dan lebih sialnya aku mendapat tempat duduk yang bersebelahan dengan Nadine yang sejak SMA mengejar- ngejarku. Sebenarnya aku merasa tidak nyaman, karena dia mepet- mepet terus dan ketiga temanku yang lainnya malah menggoda kami, akhirnya aku hanya bertahan beberapa menit saja di sana aku sudah ingin pergi dari sana.


Saat aku mengalihkan pandangan ke sisi kananku, betapa terkejutnya aku melihat Naz yang memberi tatapan marah padaku seolah telah memergoki lelakinya berselingkuh, aku langsung berdiri berniat menghampiri Naz, si Nadine malah ikut berdiri lalu memegang lenganku dengan bergelayut manja, Naz terlihat semakin kesal, dan ia pun berdiri dan langsung pergi begitu saja melewati ku. Aku yang sempat terdiam mematung langsung tersadar, lalu berpamitan pulang pada yang lain padahal aku berniat mengejar Naz. Namun aku tak bisa mengejarnya, sepertinya tadi ia berjalan sangat cepat, akhirnya aku coba menghubunginya sembari berjalan menuju parkiran, tapi tak ada satupun panggilanku yang diangkatnya. “Argh,, sial,, kemana aku harus mengejarnya”, gumam ku kesal.


Aku masuk ke dalam mobil dan melajukan nya tanpa tujuan yang jelas, akhirnya aku putuskan untuk pergi ke rumah Bunda, dan setelah beberapa saat menempuh perjalanan, tibalah di sebelah pintu gerbang rumah Bunda dan aku langsung keluar dari mobilku. “Assalamu'alaikum Bund, sapa ku menghampiri Bunda yang tengah duduk di kursi teras.


“Wa’alaikumsalam Ar,,,kamu teh gak ikutan meeting sama Dandy buat acara reuni ?”, Bunda bertanya padaku.


“Baru saja habis dari sana Bunda,,, oh iya Naz nya ada Bunda?”, Aku bertanya sambil melemparkan senyuman.


“Loh, tadi teh kan ikut sama Dandy ke mall pengen maen game katanya,, emangnya kamu teh gak ketemu sama Naz di sana?”, Bunda malah balik bertanya padaku.


“Iya,, tadi lihat sih,,, aku pikir udah pulang”, jawabku seadanya, dan tiba- tiba terdengar suara mobil berhenti di depan gerbang yang hendak masuk ke halaman rumah , lalu Bunda memanggil Mbak Iyem untuk membukakan pintu gerbangnya, dan setelah mobil terparkir di halaman , keluarlah beberapa orang dari dalam mobil tersebut , sepasang kakek- nenek, Om Syarief dan seorang gadis seumuran Naz. Kami saling menyapa, lalu aku berpamitan pulang untuk kembali mencari keberadaan Naz. Saat melihat Om Syarif aku teringat suatu tempat yang mungkin Naz singgahi sekarang ini, dan aku pun melajukan mobilku ke tempat tersebut.

__ADS_1


Sesampainya di sana aku memarkirkan mobilku di dekat masjid, lalu aku turun dari mobil dan berjalan menuju rumah Bu Mira, ku ketuk pintunya kemudian yang membukanya ternyata wanita yang kemarin di pemakaman terus memeluk Bu Mira,” Assalamu’alaikum,, Bu Mira nya ada?”, tanyaku ramah pada orang tersebut.


“Wa’alaikumsalam,,,Maaf,, Mira nya lagi ke makam Eris sama anaknya setengah jam yang lalu”, ucapnya memberi tahukan keberadaan Bu Mira, dan aku yakin yang bersama Bu Mira itu adalah Naz.


“Kalo begitu saya susul saja kesana,, mari Bu,, Assalam'alaikum”, aku bergegas pergi ke pemakaman umum yang letaknya sekitar 1 km dari tempat tinggal Bu Mira, ku lajukan mobil menuju pemakaman. Sesampainya di sana ternyata Bu Mira terlihat sedang berdoa bersama seseorang, lalu ku hampiri, ternyata itu Elsa bukan Naz yang kucari.


“Assalamu’alaikim Bu Mira, Elsa”, aku menyapa mereka.


“Wa’alaikum salam,,,”, mereka menjawab serentak dan Bu Mira nampak memandang lekat ke arah ku seperti mengingat- ingat sesuatu.


“Loh Kak Arfin,,,kesini sama Kak Nanaz?”, tanya Elsa padaku.


“Enggak Elsa,, justru saya kesini mau mencari Naz, saya kira ada di sini sama Bu Mira,,”, jawabku.


“Kakak sudah pulang tadi siang dijemput supirnya, katanya nanti sore mau kesini lagi mau ikut tahlilan ba’da magrib nanti”., Elsa menjelaskan padaku.


“Nak Arfin, terima kasih banyak atas bantuannya, mohon maaf sekali jadi merepotkan Nak Arfin kemarin, dan mohon maaf juga ibu baru sempat mengucapkannya”, Bu Mira mulai berbicara padaku.


“Gak apa- apa Bu,, jangan sungkan seperti itu, saya senang bisa membantu, saya tidak merasa di repotkan kok Bu”, ucapku tersenyum.


“Nak Arfin sepertinya sangat dekat dengan Nanaz ya,,, “, ucapan Bu Mira membuatku merasa kikuk, dan aku hanya membalas dengan senyuman saja.


“Mari masuk Nan Arfin,,, maaf ya rumah ibu cuma sepetak dan tidak ada pendingin ruangannya cuma pakai angin gelebuk dari kipas saja”, ucapnya saat kami masuk, aku pun duduk bersila beralaskan karpet, sedangkan Bu Mira mengambilkan ku minum dan makanan , “Silahkan diminum dan ini ada sedikit kue- kue “, aku pun dipersilahkan menikmati suguhannya dan benar saja tak lama hujan pun turun.


“Terimakasih, Bu”, aku pun meneguk teh yang disuguhkan padaku.


“Maaf Nak Arfin,, kemarin Ibu perhatikan sepertinya kamu bingung dengan keberadaannya Syarif yang dipanggil Papa oleh Nanaz,,, “, Bu Mira membuka percakapan.


“Iya Bu,, tapi saya tidak berani bertanya pada Naz karena kemarin dia terlihat masih sangat sedih”.


“Sepertinya hubungan kalian sudah sangat dekat ya,,, semalam pun ibu dengar Nanaz dan Elsa membicarakan seorang pria yang tengah dekat dengan Nanaz,, Elsa terus mencerca pertanyaan pada Nanaz soal kedekatannya dengan Nak Arfin”. Ucap Bu Mira yang membuatku sangat grogi.


“Nak Arfin,, sebelumnya Nanaz tidak pernah dekat dengan lelaki manapun selain dengan sahabatnya Andes, apa Nak Arfin menyukai Nanaz?”, dan akhirnya pertanyaan todongan seperti yang bunda tanyakan terlontar juga dari mulut Bu Mira.


Aku menarik nafas dalam- dalam lalu menghembuskan nya untuk menetralkan rasa gugup ku, “Iya Bu, saya menyukai anak ibu, Rheanazwa", akhirnya ku lontarkan juga dan Bu Mira pun nampak tersenyum lega mendengarnya.

__ADS_1


“Kenapa kamu menyukainya ? ,,,Apa kamu masih akan menyukainya meski tahu identitasnya yang sebenarnya dan mungkin itu akan membuat mu malu jika tetap bersamanya?”, tanya Bu Mira yang membuat ku heran.


“Maksud ibu apa Bu?”,aku malah balik bertanya.


“Jawab dulu pertanyaan saya, baru akan saya jelaskan”, ucapnya kembali meminta jawaban, dan tentunya ini serasa lebih menyeramkan dibanding menghadapi Bos Kejam.


"Tenang Arfin, ini belum seberapa dibanding nanti aku harus menghadapai pertanyaan yang sama yang akan dilontarkan oleh Om Syarif atau Om Rizal”, gumam ku dalam hati.


“Saya menyukai Naz karena dia adalah gadis yang tulus, periang dan baik hati meskipun kadang suka jahil, saya sudah mengetahui banyak hal mengenai masa lalunya Bu, saya akan menerima dia apa adanya Bu, karena dia pun tidak mempermasalahkan kekurangan saya”. Ucapku menjelaskan.


“Baiklah,, mungkin kamu bertanya- tanya kenapa Syarif dipanggil Papa oleh Nanaz,, karena dia memang Papa kandungnya Nanaz. Dulu kami bekerja dalam satu perusahaan, dan suatu malam sepulang dari pesta bersama kolega bisnis, karena mabuk kami melakukan kesalahan dan beberapa waktu kemudian saya hamil sedangkan dia tidak mau bertanggung jawab karena istrinya, Rahmi pun sedang hamil. Saat itu saya sangat membenci Syarif, tapi saya tetap mempertahankan kehamilan saya dan saya menyembunyikan diri dari keluarga saya dengan berpura- pura meneruskan kuliah. Sampai saya melahirkan anak perempuan di sebuah rumah sakit, dan ternyata sore hari nya Rahmi pun melahirkan di rumah sakit yang sama. Kemudian keesokan harinya saya membawa bayi saya untuk pulang secara diam- diam ,, saat itu saya tidak punya biaya karena ternyata rekening saya sudah diblokir oleh Papa saya yang sudah mengetahui kebohongan dan kehamilan saya”, ucapan Bu Mira terhenti karena tak kuasa menahan tangisnya.


“Dan saat itu saya tertangkap security tapi beruntung saya bertemu Anita dan Rizal,, mereka membantu membayar biaya persalinan saya, namun naas saat itu Anita yang tengah hamil 8 bulan jatuh dengan posisi tengkurap, dia langsung mendapatkan penanganan dan harus operasi Caesar. Saat itu saya terus menemani Anita dan Rizal, karena tidak etis rasanya mereka sudah menolong saya, sedangkan saat mereka terkena musibah saya pergi. Saya terus menggendong bayi menunggu di ruang rawat untuk Anita, sementara dia sedang dioperasi”, Bu Mira menghela nafas sejenak.


“Setelah beberapa jam Rizal datang ke ruangan tempat saya menunggu, dia menangis karena ternyata bayinya meninggal dan rahim Anita diangkat karena mengalami komplikasi akibat benturan saat jatuh. Rizal bingung harus mengatakan apa pada istrinya yang masih di ruang pemulihan dan terus menanyakan bayinya, sampai tiba- tiba suster membawa masuk Anita ke ruangan dengan keadaan mata terbuka tapi dengan tatapan kosong dan air mata pun terus mengalir, suster mengatakan Anita sudah tau bayinya meninggal karena terus menanyakannya. Kondisi Anita sangat menghawatirkan, akhirnya dengan berat hati saya memberikan bayi yang berada di pangkuan saya kepada mereka, karena saya juga bingung tidak memiliki biaya untuk mengurusnya”, ucap nya sambil terus menghapus air matanya.


“Setelah setahun dari kejadian itu saya menikah dengan kekasih lama saya yang sempat menghilang, dan saya memiliki Elsa. Tujuh tahun kemudian kami pindah rumah dan Elsa pun pindah sekolah yang ternyata satu sekolah dengan Nanaz. Saya selalu mengantar Elsa sekolah, dan betapa terkejutnya saya melihat Syarif mengantar dua anak perempuan ke sekolah tersebut. Saya menyelidikinya dan ternyata itu adalah puteri dan keponakannya yang ternyata anak Rizal dan Anita. Saat itu saya baru tahu kalau Rizal adalah adiknya Syarif. Saya sangat membenci Syarif, bahkan saat mereka mengadakan acara ulang tahun Nanaz dan Raline, saya sengaja datang kesana untuk membongkar kebusukan Syarif di depan keluarganya dengan mengatakan bahwa Rhenazwa adalah anak saya dan Syarif dan bukan anak Rizal dan Anita”, Bu Mira hampir menghentikan ceritanya, terlihat raut penyesalan.


“Saat itu target saya adalah Syarief, tapi saya melupakan ternyata saya telah menyakiti Anita dan anak itu, menyakiti Nanaz yang baru berusia 10 tahun. Setelah kejadian itu selama di sekolah saya selalu mengamatinya secara diam- diam karena tidak berani menampakan diri di hadapannya, dia selalu di ejek dan dihina oleh teman- temannya sekolahnya karena hasutan Raline, tapi beruntung ketiga sahabatnya selalu membela Nanaz. Karena saya tidak tega, saya secara diam- diam mengancam akan melaporkan kepada polisi anak- anak yang suka mengejek Nanaz itu, dan mereka pun tak pernah mengejek atau menghina Nanaz lagi, sedangkan Raline selalu bertindak seenaknya padahal sebelumnya hubungan mereka terlihat sangat baik. Nanaz tidak pernah melawan Raline, dia anak yang sangat baik, tapi semakin hari badannya yang tadinya gemuk dan bongsor berangsur menjadi kurus, mungkin ia mengalami tekanan batin, dan itu karena kesalahanku, hiks hiks”.


“Saat dia masuk SMP saya tidak bisa melihatnya lagi karena usia Elsa dan dia terpaut dua tahun, dan selama setahun aku tak pernah bertemu atau melihatnya lagi, sampai suatu hari suamiku mengalami kecelakaan dan dia pernah berwasiat jika meninggal ingin mendonorkan organ tubuhnya bagi yang membutuhkan, dan ternyata saat itu Raline menderita penyakit jantung dan harus melakukan transpaltasi jantung. Syarif mendapatkan informasi itu dari dokter bahwa ada yang berniat mendonorkan jantung dan sedang kritis. Syarif mendatangi saya dan memohon sampai bersujud, tapi karena rasa benci yang besar padanya saya pun menolaknya, tapi saat Nanaz memohon padaku dengan memegang kedua tanganku dan bersimpuh di hadapanku, hatiku pun luluh, dan itu pertama kalinya dia memanggil ku ibu”, ucapnya lalu tersenyum di sela tangisnya.


“Sejak saat itu Nanaz menerima ku sebagai ibu kandungnya dan ia pun sering mengunjungi ku dan bermain bersama Elsa dan anak kedua ku Eris yang masih balita. Tapi Anita tidak menyukainya, karena takut saya akan mengambil Nanaz kembali, ia selalu melarang Nanaz mendekati saya, hingga Nanaz selalu diam- diam jika ingin menemui kami, untuk menjaga perasaan Anita. Sepeninggalnya suamiku saya menjual rumah dan beberapa aset yang kami miliki untuk bertahan hidup, dan saya membeli rumah petak ini untuk kami tinggali, sedangkan sisanya untuk biaya hidup dan sekolah anak-anak, tapi setahun yang lalu Eris menderita penyakit jantung dan membutuhkan biaya banyak, akhirnya saya menggunakan bpjs untuk berobatnya, dan Nanaz slalu membantu keuangan kami meski saya sering menolaknya, namun dia, selalu bersih keras karena saya hanya bekerja sebagai pelayan restoran, dan ternyata itu adalah bantuan dari Syarif karena pernah menolong Raline.” Ucapnya mengakhiri.


“Maaf Bu,, karena saya ibu jadi sedih seperti ini”, ucapku merasa bersalah.


“Tidak apa,, akan lebih baik kamu mengetahuinya secara langsung, dari pada dari orang lain yang belum tentu tahu kebenarannya”, ucapnya seolah merasa lega.


“Terimakasih ibu sudah mempercayai saya dan menceritakan semua ini pada saya”.


“Saya yakin nak Arfin pria dewasa yang bisa menganggap keseriusan dalam hubungan, saya harap kamu tidak mempermainkan perasaan Nanaz, saya sangat menyayangi nya, jadi tolong jika kamu benar- benar sayang sama Nanaz, jagalah dia jangan membuatnya sedih dan bahagiakan lah dia “. Ucapan Bu Mira pun hanya bisa ku angguki dengan melempar senyuman, entah mengapa bibir ini rasanya kelu untuk melontarkan kata.


Hujan pun telah reda dan aku berhasil menghubungi Naz, syukurlah dia sedang dirumah Kiara. Akhirnya aku berpamitan dan aku pun bisa pulang dengan perasaan tenang dan bahagia karena sudah mengantongi restu lagi yess.


------------- TBC ------------

__ADS_1


******************


Happy Reading.... 😉😘


__ADS_2