
Suasana kediaman Arfin yang biasanya sepi, kini menjadi ramai dengan kehadiran keluarga besar dia bersama istrinya, Naz. Para keponakan yang masih kecil berlarian kesana kemari, adapun yang sibuk memainkan gadget nya. Tak terkecuali Nala yang sangat senang mendapatkan teman bermain anak perempuan yang hampir sebayanya yaitu Aliya, anaknya Tante Ina, sedangkan yang anak kecil anak dari kakaknya Nervan, laki- laki.
Naz yang baru keluar dari kamar kembali ikut berkumpul di ruang tengah bersama para ibu- ibu dan Nervan, sedangkan bapa- bapa yang lainnya sedang mengobrol di ruang tamu. Mereka yang sudah selesai makan, kini tengah mengobrol ria dengan kehebohan para emak- emak, sedangkan para anak- anak dijaga oleh para pengasuh mereka. Arfin pun datang menghampiri mereka dan duduk di sebelah Naz.
“Hei kalian,,, jangan mentang mentang masih pengantin baru, siang- siang udah masuk kamar aja,,, gerah tahu kalo tarung jam segini”, Bu Hinda mulai menggoda pengantin baru mengundang gelak tawa semua orang.
“Mami lupa ya? kan pengantin wanitanya lagi bocor”, Nervan pun ikut menimpal.
“Wah,,, masa sih,,,?? “, tanga Bu Rahmi merasa kaget.
“Iya, Mbak,,, waktu mau siraman teh kan dia nyari- nyari pembalut ke kamar ku, ternyata lagi bocor,,, terus kata aku teh jangan bilang ke Arfin lagi bocor biar surprise”, ucap Bunda ikut bersuara yang mengundang gelak tawa.
“Pantesan waktu beresin tempat tidur Naz di hotel kok ada bercak darah, ternyata lagi banyak- banyak nya toh”, ucap Bu Rahmi lagi.
“Aduh,,, sia- sia ternyata aku nyimpen tisu magic di kamar pengantin”, Bu Hinda kembali mengakui.
“Oh,,, jadi kamu toh Jeng, yang nyimpen tisu yang membuat bibir Naz jadi jontor itu?”, Bu Rahmi kembali berkomentar.
“Hah,,, bibir Naz jontor,,,, astagfirullah,,, kamu udah gak tahan ya Al,,, sampai di ke mulutkan,,, hahaha”, Bu Hinda terkejut lalu menertawakan putranya.
“Bukan gitu, Jeng,,, Naz kira itu tisu basah biasa,, eh dipakai buat menghapus lipstick di bibirnya,, jadilah tragedi bibir jontor sampe gak bisa ngomong”, Bu Rahmi menjelaskan.
“Yassalam,, salah tempat ini gue,, kenapa tadi gak diem di kamar aja enak- enakan,,, kesini kok malah jadi sasaran empuk emak- emak otak ngeres”, jerit Naz dalam hati.
“Mami … lihat Nala gak?”, tanya Maira yang nampak kebingungan.
“Loh,,, bukannya tadi sama kamu?”, Nervan langsung bertanya.
“Iya tadi sama aku di taman dekat kolam renang,,, terus dia masuk ke dalam sama Shaka dan Aliya, katanya mau main di dalam,,, kalau mereka berdua ada tuh,, tapi Nala gak ada?”, ucap Maira menjelaskan.
“Kok bisa gak ada?”, Tanya Bu Hinda.
“Aku juga gak tahu, Mi,,, udah cari ke depan sama ke belakang juga gak ada?”, Maira menjadi khawatir.
“Yasudah ayok kita cari lagi”, Nervan kemudian bangun dari duduknya hendak mencari Nala.
“Lah,, itu Nala”, tunjuk Naz melihat anak yang berjalan dengan memeluk boneka spiderman kesayanannya.
“Nala,, kamu dari mana aja sayang? Mama khawatir nyariin kamu kemana- mana”, tanya Maira pada Nala yang baru saja menghampirinya, anaknya malah memeluk kaki Nervan.
“Papa,,, Nala tatut”, ucapnya.
Nervan melepaskan tangan Nala dari kakinya, lalu ia berjongkok,“Takut kenapa, sayang?”.
“ Tatut ada mostel”, ucapnya mengadu.
“Monster maksudnya? Mana ada sayang, monster itu cuma di film aja,, udah sini jangan berkeliaran terus,,, duduk aja sama Papa,, tuh sambil ngajak main Kakak Bayi”, ucapnya mendekatkan Nala pada anak dari kakaknya yang masih bayi.
“Abang,,, kamu gimana sih,,, anak gadis mu kok dikasih mainan boneka spiderman gitu,,, bukannya dikasih Barbie”, Tanya Atikah, sang Kakak yang sedang menyusui bayinya yang sudah berusia satu tahun itu.
“Dia nya gak mau barbie atau boneka seperti anak gadis lainnya,,, pokoknya boneka pahlawan grup marvels sama DC comic banyak di kamarnya,,, dia ngefans banget sama spiderman, tas, baju, topi, sepatu, sampe buku gambar sama buku tulisnya, pokoknya semua peralatan sekolah harus gambar spiderman, dinding kamarnya aja digambar spiderman”, Nervan membeberkan kesukaan putrinya yang beda dari anak perempuan kebanyakan.
“Sepilipemen,,, ihh Papa”, protesnya.
“Eh iya Sepilipemen,, maaf Papa lupa,, hahaha”, ucapnya meralat.
“Hahaha,,, Maniak spiderman,,,”, Atikah pun menertawakan keponakannya itu.
“Lebih parah lagi,, dia pakai baju sepilipemen malah nangis karena gak bisa terbang, dan dari tangannya gak bisa keluar jaring katanya”, Maira ikut menimpal.
“Mungkin tadinya anak mu mau laki kali, Bang,, eh yang brojol cewek”, Fatma kakak tertua Nervan ikut berkomentar.
“Iya kayaknya sih gitu,,, di sekolah aja udah berapa kali berantem”, ucap Nervan.
“Ya ampun Nala,,, ternyata kamu cewek tomboy ya,, syukurlah gak kayak Papa mu,, karena dia waktu kecil anak manja banget, apa- apa minta perlindungan Arfin, jangankan berkelahi,,kesandung aja nangis,,, hahahaha”, Fatma malah mengejek Nevan.
“Rasain lo, Bang,,, giliran Abang jadi bulan- bulanan”,Arfin merasa puas karena ada yang membalas si pengejek dari tadi, dan itu membuat Nala menatap tajam pada Arfin.
Setelah perbincangan segala macam sambil makan- makan dan bercanda gurau, akhirnya setelah shalat magrib rombongan pun mulai bubar, keluarga Pak Latief beserta anak, menantu, cucu pergi ke rumahnya yang sebelumnya pernah di tempati Arfin saat baru tinggal di Surabaya untuk menginap di sana, keluarga Bunda menginap di rumah Tante Ina, sedangkan keluarga Pak Syarief menginap di rumah Arfin, semua dipencar karena keterbatasan kamar yang tersedia.
“Nala sayang,,, ayok kita ke rumah Nena sama Engki”, ajak Maira pada Nala yang saat bubar di gendong terus oleh Naz.
“Ndak mahu,,, Nala mau bobo sama kak Nanas”, Nala yang memegang boneka spiderman mengeratkan pelukannya pada leher Naz.
“Eh,, gak boleh gitu ah,, Nala kan udah janji sama Mama, kalau ikut ke sini akan nurut sama Mama,, ayok sayang,,, itu Papa udah nungguin”, Maira terus memujuk.
“Ndak mahu,,,, huaaaaaaaaa,,, Nala mahu sama kak Nanas,, huaaaaa”, Nala pun mengeluarkan jurus andalannya.
“Udah gak apa- apa kak,, Nala biar di sini aja,,, mungkin dia masih kangen sama aku”, Naz merasa tidak tega melihat Nala sedih.
“Tapi Naz,,, takutnya dia malah ngerepotin kamu, lagian kan kalian masih pengantin baru, nanti dia ganggu lagi”, ucap Maira.
“Ndak mahu,,, huaaaa,, Mama jahat….Nala mau sama kaka Nanas”, Nala malah semakin kencang menangisnya.
“Iya iya,, kamu bakalan sama kakak kok, tapi jangan nangis lagi ya”, Naz mencoba menenangkannya.
“Yasudah,, nanti Mama jemput lagi kesini ya,, Mama ambil pakaian ganti mu dulu ya,, tadi kan sudah diangkut ke sana sama sopir kantornya Om Arfin,, titip dia sebentar ya Naz”, ucap Maira yang sebenarnya merasa tidak enak.
“Iya Kak,, nyantei aja,, hehe, lagian di sini ada anak- anaknya Bang Raka, jadi Nala ada temennya”, ucapnya dan Maira pergi bersama suaminya ke rumah milik mertuanya, Nala pun berhenti menangis.
“Kaka,, Nala mahu pipis”.
“Ayok kita ke kamar mandi”, Naz membawa Nala ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya, ia pun membantu Nala melepaskan celananya, lalu menaikannya ke kloset duduk, setelah selesai mereka keluar dan Naz kembali memakaikan celana Nala, anak itu pun langsung berlari naik ke tempat tidur, Naz pun menghampirinya.
“Nala mahu bobo sama kak Nanas ya”.ucap Nala.
“Hah,,, kalo Nala bobo sama kak Nanaz, nanti Om Apin Ipin sama siapa dong ?”.
“Bialin aja Om Apin Ipin jahat, dia mostel, sama kaya halimau,, ihhh seyemm”, Nala bergidik ngeri.
“Hahaha,, masa sih,, dia kan orangnya baik,, sayang lagi sama Nala”.
__ADS_1
“Iya, tapi sekalang jahat,, kak Nanas tenang aja, Nala sama sepilipemen akan jagain kak Nanas”, ucapnya antusias.
Ceklek … Arfin yang baru kembali dari mushola membuka pintu kamar dan langsung masuk menghampiri istrinya.
“Nala,,,? Kok kamu ada di sini? Gak ikut sama Papa dan Mama mu tadi?”, Arfin merasa terkejut melihat kehadran Nala di kamarnya.
“Nala mahu bobo sama kak Nanas”, ucapnya ketus.
“Apa??”, Arfin kembali terkejut.
“Iya,,, Nala sama sepilipemen mahu melindungi kak Nanas dali mostel halimau”, Nala menatap tajam pada Arfin.
“Hahaha,,, mana ada monster harimau disini Nala,,, udah ayok Om anterin kamu ke rumah Nena”, ajaknya.
“Ndak mahu,,, Om Apin ipin aja sana ke lumah Nena”, ucapnya langsung memeluk Naz, “Tenang ya kak Nanas janan tatut, Nala sama sepilipemen mahu jagain kaka”.
Arfin mendekati Naz dan berbisik, “Sayang,, tadi abis magrib Aa sudah minum obat, dan sekarang sudah satu jam,, sebentar lagi obatnya bereaksi”, ucapnya dan Naz teringat dengan obat untuk impoten yang di derita suaminya tersebut.
“Nala sayang,,, kak Nanaz kan udah ada Om yang jagain,, kalau ada monsternya ke sini nanti Om yang akan lawan,, lagian kan Nala masih kecil, nanti malah Nala yang dimakan monsternya”, Naz membujuk Nala supaya mau pulang.
“Ihhh,,, Om Apin Ipin sana pelgi,,, ndak boleh bobo sini,, sana bobo di lual”, Nala malah mengusir Arfin.
“Apa?? Apa- apaan ini,,, awas kau Bang,, ini pasti kerjaan mu untuk menggagalkan malam pengantinku lagi”, gumam Arfin dalam hati. Arfin kemudian mengambil ponsel dari dalam saku celananya dan bergegas keluar kamar, ia menghubungi Abangnya itu.
“Hallo, Bang,, maksud Abang apa nyuruh Nala tidur di kamar ku?”, Arfin yang merasa kesal langsung to the poin.
“Bukan Abang yang nyuruh,, dia nya mau sendiri, maksa malahan, katanya pengen bobo sama Kak Nanaz”.
“Ya ampun,, Abang kan bisa membujuknya,, kalian mau menggagalkan malam pengantinku, hah”, Arfin merasa kesal.
“Gak apa- apa Al,,, itung- itung belajar gimana caranya bercinta setelah punya anak nanti,, seru loh,, hahaha”, Nervan malah sengaja menjahilinya.
“Jemput Nala sekarang juga, cepetan,, sebelum gue kasih ke pengepul”, ancamnya lalu mengakhiri percakapan dan menutup sambungan teleponnya begitu saja.
Sementara di dalam Nala terus memeluk Naz bersama boneka kesayangannya.
“Nala sayang,,, Om Apin Ipin nya jangan disuruh tidur di luar ya,, nanti Om bisa sakit karena kedinginan,, kita kan bisa tidur bertiga”, Naz kembali membujuk.
“Ndak boleh,, Om Apin Ipin jahat,, Mama bilang kalo Nala halus menolong teman yang kesusahan, Papa bilang bialpun Nala pelempuan tapi halus kuat bial bisa jagain adik- adik nantinya dan olang yang Nala sayang, Nala sekalang mahu jagain Kak Nanas dali mostel halimau”, ucapnya kekeh.
“Yassalam,,, ini anak udah terkontaminasi film pahlawan bertopeng kayaknya,, tari tadi ngomongin monster melulu”, gumam Naz dalam hati.
“Kaka Nanas,,, Nala ndak akan bialkan Kaka dimakan sama Om Apin Ipin mostel halimau itu”, Nala berdialog dalam hatinya.
Flashback
Tiga bocah berlarian dari taman dekat kolam renang menuju ke dalam rumah, mereka adalah Shaka, Aliya dan Syanala.
“Hei hei,, kita main petak umpet yuk”, ajak Aliya yang merupakan paling tua diantara ketiga anak tersebut, karena ia berusia 5 setengah tahun, sedangkan Nala 3 setengah tahun dan Shaka 4 tahun.
“Yukk”, ucap Shaka mengangguk.
“Petak umpet bukan petak upet Nala,,, jadi nanti kita hompimpa, yang kalah nanti jaga, terus yang menang sembunyi,, nanti yang jaga mencari yang sembunyi sampai ketemu”, Aliya menjelaskan.
“Oh iya iya,, Nala mahu”,
“Ayok kita hompimpa”, ajak Aliya
“Hompimpa apa?”, tanya Shaka.
“Em,,, kita batu kertas gunting aja tahu kan?”, Shaka dan Nala mengangguk, lalu mereka pun melakukan sesuai intruksi Aliya, dan yang kalah ternyata Shaka,
“Shaka kalah,,, berarti kamu yang jaga,, kamu menghadap ke tembok lalu menutup matamu hitung sampai 10, aku sama Nala akan bersembunyi, dan kamu nanti mencari kita ya”, ucap Aliya, kemudian permainan pun di mulai, Shaka menutup matanya bersidekap ke tembok dengan menghitung acak acakan,
"Satu, dua, tiga, lima, empat, delapan, tiga,,,,,,, "
Aliya segera berlari ke dapur, sedangkan Nala membuka sebuah pintu dan masuk ke ruangan tersebut. Nala mengedarkan pandangannya, lalu ia memutuskan untuk bersembunyi di balik tirai jendela kaca di ruangan tersebut bersama boneka kesayangannya. Tak lama ada yang membuka pintu, dan saat Nala mengintip ternyata itu adalah Arfin, setelahnya ada yang masuk dan itu adalah Naz. Nala mendengar semua percakapan mereka, dan saat Arfin mengatakan bahwa nanti malam ia akan memakan dan menggigit Naz habis- habisan, Nala merasa terkejut.
“Hah,,, Om Apin Ipin mahu gigit dan memakan Kak Nanas nanti malam? Om Apin Ipin jadi mostel, Nala tatut,,,”, gmam Nala dalam hati,
“Ndak boleh,,, Nala ndak boleh tatut, Nala anak kuat, Nala halus melindungi kak Nanas dali Om mostel halimau”, Nala kembali bergumam dalam hatinya sambil mengintip dari balik tirai dengan tatapan tidak senang.
Setelah Naz keluar, dan Arfin pun ikut keluar, Nala juga keluar dari persembunyiannya, “Sepilipemen,,, kita punya misi halasia balu, untuk melindungi Kak Nanas dali kedahatannya Om Apin Ipin yang sudah belubah jadi mostel halimau pemakan olang”, ucapnya pada boneka kesayangannya itu.
Flashback off
“Kak Nanas,,, Nala haus”, ucapnya.
“Sebentar ya, Kaka ambilkan minum dulu ke dapur”, Naz kemudian beranjak dan keluar dari kamarnya, saat ia berjalan ke dapur ia melewati sebuah kamar yang pintunya setengah terbuka, kemudian ia mendekat ke pintu itu, dan saat akan masuk, ia sangat terkejut melihat pemandangan yang ada di dalam, ia membekap mulutnya yang ternganga dan mengurungkan niatnya untuk masuk. Ia berjalan terburu- buru menuju dapur dengan perasaan yang masih terkejut dan tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.
Setibanya di dapur, Naz mengambil gelas dari lemari rak piring, kemuian mengisinya dengan air minum, ia meminum segelas air dengan sekali teguk.
“Naz,,, kamu sedang apa di sini?”, tanya Bu Rahmi menghampiri.
Naz langung terperanjat karena kaget, “A aku haus Ma,,, abis minum,,, eh iya,, Nala kan minta minum”, ucap Naz yang kemudian kembali mengambil gelas untuk minum Nala, ia pun mengisinya dengan air minum.
“Sayang,, Mama senang kamu sudah baikan sama suami mu,,”, ucap beliau tersenyum bahagia, ”Sayang, jika kamu kesal atau marah pada suami mu, ingatlah pada setiap perjuangannya untuk mendapatkan mu, ingatlah pada semua kebaikan dan ketulusannya pada mu, dan ingatlah akan cinta dan kasih sayang nya pada mu”, lanjut beliau yang kembali memberi wejangan.
“Iya Ma,,, makasih ya,, Mama selalu ngingetin aku pada kebaikan,,, oh iya,, Elsa kemana Ma? Kok aku gak lihat dia ?”.
“Elsa lagi ke mini market sama Hardi,, katanya ada yang mau mereka beli, besok kan kami berangkat dengan penerbangan pagi, mungkin takut gak sempat”, jawab Bu Rahmi.
“Mau beli apa Ma…? Aku udah nyiapin oleh- oleh khas Surabaya yang akan kalian bawa pulang besok, sekalian aku titip buat Opa sama Oma yang gak bisa ikut ke sini”, ucap Naz.
“Entah lah,, mungkin mau beli keperluannya”, Bu Rahmi mengedikkan bahu.
“Yasudah,, aku balik ke kamar ya Ma,,,”, ucapnya pamit dan beranjak pergi setelah sang Mama menganggukinya.
**
“Nala,,, maaf ya kaka agak lama,, tadi ada Mama nya Kaka di dapur,, ini minumnya,,,”, Naz memberikan air minum itu pada Nala.
__ADS_1
Naz mengambil sweather nya yang berbahan seperti selimut bulu namun ini lebih halus dan memberikannya pada Nala untuk dipegangnya karena tak ada selimut bulu di kamarnya, hanya ada selimut badcover.
Kemudian Naz membacakan cerita tentang dongeng seorang putri kerajaan supaya Nala cepat tidur, dan benar saja, baru setengah jalan cerita, Nala sudah tertidur pulas. Naz menyelimutinya, lalu ia menunggu suaminya yang sejak tadi keluar dan belum kembali. Ia merasa gelisah dan terus mondar mandir kesana kemari, karena sudah setengah jam lebih Arfin tak kunjung datang.
Ceklek ,,,, mendengar suara pintu terbuka, pandangan Naz langsung tertuju pada pintu tersebut, dan masuklah orang yang sejak tadi ditunggu- tunggu.
“Bang Evan udah ada di depan”.
“Ssstttt,, Nala sudah tidur,, jangan berisik,,, Aa dari mana saja,,? dari tadi aku nungguin”.
“Maaf sayang,, tadi Aa nelpon Bang Evan, terus ke dapur ngambil minum, eh ada Papa,, jadinya ngobrol dulu sebentar,,,, tadi juga Aa,,,,,”
Tok tok tok,,, suara ketukan pintu mengehentikan percakapan suami istri itu. Naz segera membukakan pintu, karena takut Nala akan terbangun jika mendengar suara berisik.
“Kak Maira,,?”, Naz terkejut.
“Maaf ya mengganggu, kakak kesini mau membujuk Nala agar mau pulang”, ucapnya.
“Dia sudah tidur Kak, mari masuk”.
“Oh,, baguslah kalau begitu, itu lebih baik jadi tidak usah perang untuk mengajaknya pulang” ucap Maira sambil berjalan menuju tempat tidur.
“Arsyad terlalu memanjakannya,,, jadi sekarang Nala jadi agak susah diatur”, keluhnya lalu ia menggendong Nala yang sudah tertidur pulas, “Maaf ya jadi mengganggu acara malam pengantin kalian,,, hehehe,, Kami pulang dulu ya,, semoga sukses,,,”, ucapnya tersenyum lalu beranjak pergi, Naz pun mengantarkan Maira ke depan pintu.
“Akhirnya,, sudah tidak ada gangguan lagi”, ucap Arfin yang memeluk dari belakang istrinya yang baru saja menutup pintu,, kemudian tangannya mulai gerayangan meraba- meraba bagian depan Naz, sedangkan bibirnya menciumi leher belakang Naz dan itu membuat Naz terus menggeliat geli. Arfin membalikan badan Naz, ia mencium keningnya lalu merengkuhkan kepalanya dan mencium setiap bagian wajah istrinya, baru saja mendaratkan ciuman di bibir, terdengar suara teriakan Nala yang menangis kencang. Keduanya terperanjat dan menghentikan aktifitasnya.
“Ya ampun,, kenapa lagi anak itu?”, keluh Arfin.
“Entahlah,,, hari ini dia aneh sekali,, dia menganggap Aa monster harimau,, “, ucap Naz terkekeh, kemudian mereka keluar dari kamar.
Nala langsung berlari menghampiri Naz lalu memeluknya, “Nala ndak mahu pulang,,, huaaaaaaa,,, Nala mahu bobo sama kaka Nanas,, huaaaa”.
“Nala,, kamu jangan begitu, sayang,,, nanti Papa marah loh, ayok pulang sayang ya”, Maira terus membujuk, tapi Nala malah mengeratkan pelukannya pada kaki Naz.
“Nala,,, kalau kamu gak mau pulang, Papa akan memberikan semua boneka spiderman mu pada anak tetangga di rumah, dan nanti Papa ganti semuanya dengan beoneka chucky”, ancam Nervan.
Nala langsung mengehentikan tangisannya saat mendengar ancaman dari Nervan,ia melepaskan pelukannya dan membalikan badannya menatap Papa nya, “Papa bilang Nala halus jadi anak yang kuat bial bisa lindungi adik- adik Nala nanti, sekalang Nala mahu lindungi kak Nanas dali Om Mostel Halimau”.
“Apa? Monster Harimau?”, tanya Nervan.
“Iya,, mostel halimau yang di film kancil, yang mahu makan kancil,,”.
“Disini gak ada monster seperti itu sayang”.
“Ada Papa,,, Om Apin Ipin sekalang jadi mostel halimau”, Nala kekeh.
“Apa,,, ? maksud kamu apa sayang”, Nervan tambah bingung.
“Tadi ciang Nala lagi sembunyi di kamal Kak Nanas telus dengal kalau Om Apin Ipin mau gigit sama memakan kak Nanas habis- habisan,, Nala sayang sama Kak Nanas, Nala gak mahu kalo Kak Nanas dimakan sama Om mostel halimau, jadi Nala halus lindungi Kak Nanas”, mendengar penjelasan Nala, Nervan bersama istrinya malah tertawa. Sedangkan Naz dan Arfin malah saling beradu pandang karena terkejut, ternyata Nala mendengar percakapan mereka tadi siang.
“Sayang,, Om Apin Ipin mu itu cuma bercanda,, mana mungkin dia bisa makan kak Nanaz seperti Harimau makan kancil,,, tuh lihat Om kamu gak ada taring nya kan,, sudah ah ayok kita pulang,,, jangan ganggu mereka”.
“Jadi Om Apin Ipin gak akan makan kak Nanas?”, tanya Nala.
“Enggak sayang,,, sudah ya kita pulang,, jangan ganggu mereka,, soalnya mereka mau bikin dedek bayi,,, biar Nala nanti bisa main sama dedek bayik nya Kak Nanas, ya”, ucapnya memberi pemahaman, dan Nala pun akhirnya bersedia untuk pulang.
“Pantes aja dari tadi dia bilang mau melindungiku dari Om monster harimau jahat,,, ternyata Nala menguping pembicaraan kita,, hahaha”, Naz tak kuat menahan tawa akan kelakuan keponakannya itu.
“Ya,, dan untung saja tadi kita gak ngapa- ngapain di kamar,, gak kebayang kita bercinta diintipin anak kecil,,, hahaha,,, sudah yu ah kita masuk”, ajaknya, dan mereka pun masuk kembali ke kamarnya.
“Aduh,, kok perut aku mules ya,,, mungkin kebanyakan makan sambal tadi saat makan siang,, aku ke tolilet dulu ya”, Naz yang sudah berada di dalam kamar bergegas ke kamar mandi. Lalu Arfin membaringkan tubuhnya di atas ranjang untuk menunggu istrinya dan tak terasa ia pun tertidur .
Setelah beberapa saat Naz pun selesai dengan urusannya dan keluar dari kamar mandi, namun ia mendapati suaminya sudah tertidur lelap, “Yah,,, kok malah tidur sih,,, katanya mau itu,,,ihh”, cicitnya kesal, kemudian ia melaksanakan shalat isya dan setelah itu ia pun membaringkan dirinya di tempat tidur di samping suaminya.
Tengah malam tiba- tiba ia terbangun, dan rasa gelisah mendatangi dirinya sehingga membuatnya tidak bisa tidur lagi. Ia terus mengganti posisi tidurnya, menyamping ke kiri, terlentang , menyamping ke kanan, hingga tengkurap pun masih tetap tidak bisa tidur.
Entah apa yang merasukinya, tiba- tiba ia meraba- raba dada suaminya, lalu menciumi setiap bagian wajah suaminya yang tidur terlentang tapi wajahnya miring ke arah dirinya.
Grep ,,, Arfin menahan sentuhan tangan Naz di dadanya, “Kau menggoda ku, sayang?”.
“Hhehehe”, Naz tersenyum malu.
“Kau yang memulai,, sayang,,, apa kau menginginkannya,, hem?”,ucapnya dan itu membuat Naz tersipu malu seolah enggan mengakui bahwa ia menginginkan suaminya menyentuhnya.
“Baiklah kalau begitu”, Arfin pun bangkit lalu ia membisikan sebuah doa di telinga istrinya dan diikuti oleh istrinya.
Sang monster harimau pun memulai aksinya yang sudah tertunda beberapa kali, dan kali ini sudah tidak akan ada gangguan lagi sehingga memuluskan jalan mereka untuk saling menyatukan diri dalam balutan gairah cinta yang tengah membakar keduanya. Arfin melakukannya dengan penuh kelembutan, karena ini merupakan hal pertama kalinya untuk mereka, sehingga ingin meninggalkan kesan indah bagi keduanya.
Malam semakin larut bahkan menuju dini hari, keduanya kini tengah terkapar lemas setelah melewati pergulatan panas yang saling memberikan kenikmatan diantara keduanya, Naz pun jatuh tertidur dalam pelukan ternyaman yang pernah ia rasakan dengan mengulas senyum bahagia dari bibirnya.
“Terimakasih, monster harimau-ku”, ucapnya sambil memejamkan mata, Arfin pun mengecup pucuk kepala istrinya dan mengehela nafas panjang.
---------------- The End ---------------
-
Ehh salah
---------- BERSAMBUNG ----------
**************************
Akhirnya,,,nyampe juga ya Aa sama Nanaz…
Ternyata othor baru tahu banyak fans Arsen,,, sepertinya jadi inspirasi buat mengkisahkan Arsen,,, wkwkwkw
Happy Reading….
Jangan luva tinggalkan jejak mu,,,
Tilimikicih,,, aylapyu oll….😘😘
__ADS_1