
Entah apa yang dipikirkan Naz, ia rela berdiri di balik pintu kamar Arfin hanya untuk menungguinya makan, sedangkan dirinya sendiri belum makan, bahkan sampai satu jam lamanya ia menjadi sang kuncen pintu bak pengawal sultan manjalita. Padahal niat sebelumnya ingin menyuapi Arfin makan, tapi malah diusir duluan
“Hufthh,,,, Lama amat sih makannya,,, Nasib,,, seorang mantan yang tak dianggap gini nih, mana laper lagi,,,”, keluh Naz pelan.
Karena sudah merasa pegal, akhirnya ia mengetuk pintu kamar Arfin.
Tok tok tok….. ceklek…. kali ini ia masuk tanpa mendengar izin dari sang pemilik kamar. Naz melangkahkan kakinya memasuki kamar Arfin dan ternyata ia malah tidur, ia pun tidak menyentuh makanannya sama sekali, karena terlihat masih utuh dan disimpan diatas lemari laci di samping tempat tidurnya.
“Ihhh,,, dasar menyebalkan, gue udah capek- capek masak, terus nganterin ke sini sampai diusir pula dan nunggu depan pintu kayak patung maling kundang yang dikutuk,,, ini malah gak dimakan sama sekali makanannya”, gerutu Naz dalam hati.
Kemudian ia menghampiri Arfin yang sedang enak- enak tidur sambil selimutan, lalu Naz menarik selimutnya.
“Banguuuunnnn,,,,,!!! “, teriak Naz kesal.
“Apa sih ganggu orang tidur saja”, ucap Arfin kesal sambil menarik lagi selimut yang sempat lepas dari tubuhnya.
“Kenapa gak dimakan makanannya??”, Tanya Naz kesal sambil berkecak pinggang.
“Aku maunya Mbak Juminten atau Mbak Retno yang nganter makanannya,,, baru aku mau makan”, ucap Arfin dengan santainya, sedangkan Naz memberi tatapan kesal dan marah, ia menghentakkan kakinya lalu beranjak pergi meninggalkan kamar Arfin.
Ia berjalan untuk kembali ke dapur, dan saat sampai di sana ia langsung menyampaikan pesan Arfin.
“Mbak Jum,,, antarkan makanan ke sana,, dia gak mau makan kalau aku yang mengantarnya”, ucapnya kesal lalu ia kembali berjalan menuju ke kamarnya sambil menghapus air mata nya yang terus berjatuhan karena merasa kesal, marah dan sakit hati akan jeripayah nya yang seolah tak dihargai sama sekali oleh Arfin. Naz yang awalnya bersemangat dan optimis untuk mendekati Arfin lagi, seolah putus asa dan menyerah karena rasa kesal serta marah. Ya... wajar saja namanya juga masih ababil... Abege labil.
Ceklek,,, blam,,,, Naz membuka pintu kamarnya lalu masuk dan kembali menutupnya.
Sementara dikamar Arfin, ia duduk di tempat tidurnya saat Mbak Jum datang ke kamarnya dengan membawa nampan berisi makanan yang sama dengan yang dibawa Naz namun sudah dihangatkan. Mba Jum memberitahukan bahwa makanan itu dimasak sendiri oleh Naz, dan ia pun menunggu lama di depan pintu untuk memastikan Arfin makan dan berharap Arfin menghabiskan makanan itu, sedangkan ia sendiri belum makan.
“Mbak Jum,,, antarkan makanan yang Mbak jum bawa ke kamar Naz,,, pasti dia sangat kecewa dengan perlakuanku tadi,,, pastikan dia makan dan setelah ia menghabiskan makanannya, baru aku akan makan”, ucap Arfin dengan raut wajah sedih.
“Tapi Den,, makanan itu sudah dingin tho”, ucap Mbak Jum mengingatkan.
“Gak apa- apa,, dia sudah susah payah membuatkannya untukku”, Jawabnya dengan tersenyum simpul.
“Yowis,,, saya permisi, Den…”, Mbak Jum pun langsung melaksanakan titah majikannya. Dan setelah Mbak Jum keluar, Arfin duduk termenung menyesali perbuatannya selama ini pada Naz.
Arfin POV
“Maafkan aku Naz,,, maafkan aku,,,, aku terpaksa melakukan ini semua agar kau membenciku dan menjauh dari ku,,, walaupun ini juga terasa berat dan sangat menyakitkan bagiku. Seharusnya sejak awal aku tak usah menyatakan perasaanku padamu dan tetap memendamnya saja, tapi aku tak sanggup melihatmu di dekati pria lain, sehingga dorongan untuk memilikimu begitu kuat, walaupun aku sadar tak akan bisa memilikimu selamanya. Maafkan aku...", lirih ku dalam hati.
Semenjak kejadian satu tahun yang lalu.. hanya kalimat itu yang terus ku ucapkan saat aku teringat pada Naz... Apalagi kini ia malah muncul kembali di hadapanku,,, saat melihat wajah cantik mu yang setiap saat selalu ku rindukan, rasa bersalah terus menghantui ku...
"Maafkan aku Naz.. maafkan aku"
Flashback
Aku baru pulang dari kantor setelah melewati hari yang melelahkan dengan kesibukan di kantor dan melakukan inspeksi mendadak ke kantor cabang, yang ternyata di sana aku menemukan beberapa kesalahan dan kelalaian pegawai, ditambah dengan laporan keuangan yang tidak balance dan mencium adanya tindakan korupsi yang tentunya membuatku marah besar di sana.
Dan saat aku baru masuk ke dalam rumah, aku bertemu dengan Mami, kemudian kami pun duduk di sofa ruang tengah yang terdapat boneka dan beberapa buku gambar lengkap dengan pensil warna. Entah dapat bisikan dari mana Mami mengusulkan agar aku bertunangan dengan Naz, padahal Mami tahu betul bahwa aku tidak akan mau menikah, namun beliau terus membujukku sampai membuatku naik pitam.
__ADS_1
“Sekali lagi aku tegaskan, aku tidak akan menikah dan tidak akan menikah dengan siapapun, termasuk dengan Naz”, aku berteriak sambil berdiri. Lalu aku mendengar suara yang memanggilku dengan panggilan Om Apin Ipin,,, siapa lagi yang memanggilku seperti itu selain Syanala, keponakanku. Aku pun membalikan tubuhku menoleh ke asal suara, namun betapa terkejutnya aku, karena bukan hanya Syanala yang kulihat, tetapi juga ada Naz yang berdiri dibelakang Syanala. Sama halnya denganku ia pun menunjukan ekspresi wajah yang terkejut.
Bagaikan tersambar petir di siang bolong, itulah yang sama- sama kami rasakan, dia pasti terkejut dan sakit hati mendengar perkataan ku itu, seolah aku menolaknya untuk menjadi istriku, dan hanya mempermainkan perasannya saja tanpa ada niatan serius dengannya. Hatiku pun terasa sakit melihatnya seperti itu, aku terdiam mematung terus dan mata kami saling bertatapan satu sama lain, hingga ia beranjak pergi berlalu yang ku yakini membawa rasa sakit yang mendalam.
Aku terus diam mematung tanpa ingin mengejarnya, karena menurut ku itu hanya akan sia- sia. Mami terus meneriaki ku untuk mengajar Naz,
“Al,,, kejar dia,,, kejar Naz,,, ayok cepat kejar dia dan beri dia penjelasan,,, Arfin…”, teriak Mami sambil menggoyang- goyangkan lenganku, namun aku tak bergeming dan hanya diam mematung. Mami berlari hendak mengejar Naz namun suara tangisan Nala menghentikan langkahnya.
Aku pun menjatuhkan diriku ke sofa dengan tatapan kosong dan perasaan bersalah serta penyesalan yang begitu dalam,
"Maafkan aku Naz,,,, maafkan aku,,,”, lirihku dalam hati.
Rasa sakit yang begitu menyesakkan dada seolah menjalar ke seluruh tubuhku karena aku telah menyakiti gadis yang sangat aku cintai, dan dia juga begitu mencintaiku. Tubuhku serasa bergetar, bibir seakan kebas yang tiba- tiba membisu tak mampu berkata- kata.
“Semuanya sudah berakhir,,, semuanya sudah berakhir”, ucapku dalam hati, lalu aku bangkit dan beranjak pergi meninggalkan ruang tengah menuju kamarku. Aku mengunci diriku di kamar, aku berteriak- teriak dan mengobrak- abrik kamarku serta melempar semua barang yang ada di kamarku untuk meluapkan kemarahan ku pada diriku sendiri.
“Arghhhh,,,, Kenapa aku begitu bodoh, kenapa aku sangat egois, kenapa aku begitu kejam telah melibatkan gadis polos sebaik Naz dalam kehidupanku dan dengan teganya aku sudah menyakitinya seperti ini,,, maafkan aku Naz,,,maafkan aku,,,”, ucapku penuh sesal dengan mengusap kasar kepalaku, lalu aku memukul cermin dengan kepalan tanganku hingga pecah dan tanganku pun berdarah.
Aku berjalan mundur dan menjatuhkan diriku di samping tempat tidur dan menyenderkan kan tubuhku pada tepian ranjang dengan air mata penyesalan yang mengalir deras.
“Al,,, buka pintunya Al,,,!!”, kudengar Mami sejak tadi berteriak dan mengetuk bahkan sampai menggedor- gedor pintu, namun tak ku hiraukan, sampai Bang Evan datang dan ia pun melakukan hal yang sama, terus menggedor dan berteriak memanggilku agar membukakan pintu. Akhirnya Bang Evan mendobrak pintu kamarku, dan setelah terbuka ia masuk bersama Mami yang berteriak histeris melihat keadaanku yang sangat kacau dengan tangan kanan ku yang berlumuran darah.
“Arfin,,,,,, !!”, teriak Mami dan langsung menghampiriku yang tergeletak duduk menyandar ke ranjang, kemudian beliau memelukku sambil menangisi keadaanku, sedangkan aku hanya diam mematung dengan air mata yang terus mengalir, “Anakku,,, anakku,,,hiks hiks,,, maafin Mami nak,,, hiks hiks,,, ini semua salah Mami,,, hiks hiks”, Mami terus melontarkan kata maaf padaku sambil menangis, namun aku tak bergeming.
Mami melepaskan pelukannya lalu menoleh pada Bang Evan dan Bi Darmih yang berdiri dibelakangnya, “Cepat panggilkan dokter,,,, !! kenapa kalian diam saja melihat anakku seperti ini !!”, Mami berteriak pada kedua orang tersebut sambil terisak, Bang Evan menyodorkan tisu kemudian menghubungi dokter.
”Kenapa kau melukai dirimu seperti ini ,Al,,,hiks hiks hiks”, Mami memegang tanganku yang belumuran darah lalu di-lap menggunakan beberapa lembar tisu.
“Jangan bicara seperti itu Al,,,hiks hiks... sakit hati Mami mendengarnya, nak..., hiks hiks,,, Mami akan melakukan apa pun untuk mu Al,, asalkan kamu bahagia,, Mami akan selalu ada dan menemani mu dalam menghadapi semua ini,,, hiks hiks ,,,jangan seperti ini lagi ,Nak,, jangan terus menyakiti dirimu sendiri….hiks hiks hiks,,, “, Mami terus menangis.
Bang Evan menghampiriku dan duduk di sebelahku menghadap pada ku sehingga aku berada ditengah antara Bang Evan dan Mami, “Ini semua salahku Al,,, ini semua salahku,,, jika bukan karena aku, kau tidak akan mengalami kecelakaan yang banyak merubah kehidupanmu menjadi seperti ini,,, maafkan aku Al,, aku sudah menjadi Abang yang gagal dan tidak berguna,,,”, ucapnya penuh sesal, “Aku akan menjelaskan semuanya pada Naz,,, aku akan membantumu memperbaiki hubungan kalian”, ucapnya lalu hendak bangkit dari duduknya, namun aku memegang tangannya.
“Jangan Bang,,, cepat atau lambat semua ini akan terjadi,,, aku tidak ingin lebih menyakitinya lagi,,, Abang tidak usah menemuinya dan jangan katakan apa pun padanya”, ucapku dengan masih dengan tatapan kosong.
“Tapi Al,,, aku yakin dia bisa menerima ini semua,,, dia bisa menerima kekuranganmu bukan,,, ?? jadi dia harus mengetahui semua ini”, Bang Evan tetap kekeh.
“Jika kau berani menemuinya, aku pastikan semua pecahan cermin itu menancap di tubuhku”, ancam ku untuk menghentikannya.
“Sudah sudah Bang,,, turuti saja kemauannya,,, Mami tidak mau hal buruk terjadi lagi padanya,,, hiks hiks hiks”, Mami yang sudah tahu tabiat ku yang tak pernah main- main dengan ucapan ku, meminta Abang untuk tidak menemui Naz.
Setelah beberapa saat dokter pun datang dan segera mengobati luka di tangan ku, bahkan sampai di jahit karena terdapat luka sobek akibat terkena pecahan kaca. Aku masih tak bergeming, hanya diam dengan tatapan kosong layaknya orang depresi. Seharusnya dokter tidak perlu menyuntikan obat bius saat menjahit luka di tangan ku, karena luka di hatiku terlalu dalam sehingga aku tak akan merasakan sakit apa pun walau dokter membedah tubuhku.
“Aku sudah menyakitinya Mi,,, aku sudah menyakitinya,,, semuanya sudah berakhir,,,, “, aku terus mengatakan hal itu seperti orang yang hilang akal karena kejadian itu benar- benar mengguncang jiwaku. Aku tidak menyadari keberadaan siapa pun, yang ku dengar hanya tangisan Mami yang terus memeluk ku, hingga aku tak sadarkan diri.
***
Saat terbangun aku tengah berada di dalam ruangan sebuah rumah sakit, dengan tangan yang sudah dipasang infusan, tubuhku serasa panas dan lemas tak berdaya. Ku lihat ada Mami yang terus menangis ditemani oleh Bang Evan dan Bi Darmih sembari duduk di sofa, sedangkan Papi tidak nampak karena sedang melakukan perjalanan bisnis ke hongkong bersama suaminya Mbak Atikah, kakak perempuanku.
__ADS_1
“Al,,, kamu sudah sadar, nak”,ucap Mami dan langsung menghampiriku, ”Abang cepat panggilkan dokter”, titahnya pada Bang Evan, dan ia pun menekan tombol pemanggil perawat. Tak lama, suster pun datang memeriksa keadaanku, dan ternyata suhu tubuh ku tinggi hingga 39,4°celcius. Akupun diminta untuk melakukan cek lab. dengan mengambil sampel darah ku.
Setelah satu jam hasilnya keluar berbarengan dengan jadwal visit dokter dan aku dinyatakan terkena demam berdarah. Dokter menyarankan aku agar banyak makan dan minum supaya kondisi ku tidak drop karena trombosit selama beberapa hari akan turun, katanya itulah yang akan terjadi dalam fase demam berdarah. Namun, jangankan untuk makan banyak, melihat makanan pun aku tidak bernafsu.
“Al,,, ayolah makan,,, kamu sejak kemarin sore belum makan,,, biar kamu cepat sembuh”, Mami terus membjukku untuk makan dengan makanan yang dibawakan dari rumah, yakni semangkuk bbur dan semangkuk sup ayam.
“Aku gak nafsu makan, Mi”, jawabku dengan tatapan sendu.
“Iya, Al,,, lo harus makan,, jangan menyiksa dirimu seperti ini, jika kau tidak ingin memikirkan dirimu,, pikirkan juga Mami yang sejak kemarin tidak mau makan juga, karena melihatmu seperti ini”, Bang Evan pun turut membujukku. “Nih ponselmu,, siapa tahu kau ingin melihat Naz”, ucap Bang Evan sembil menyodorkan ponsel miliku pada ku.
“Abang,,,, !!“, seru Mami sambil melotot.
“Maksud Abang apa?”, tanyaku heran.
“Nomor Naz sudah aktif kembali, beberapa menit yang lalu ia meng-upload foto di satus whatsapp nya”, ucap Bang Evan memberitahu ku.
Aku pun membuka aplikasi whatsapp di ponselku dan aku melihat di pembaharuan status, benar saja Naz sudah upadate status dengan menggunakan nomor lamanya, sepertinya sudah selesai diurus setelah kecopetan tempo hari.
Aku tidak sabar ingin melihatnya, dan saat jari ku hendak menyentuh layar ponselku tepat di bagian status WA Naz, aku mengurungkan niatku, mungkin lebih baik aku tidak melihatnya, karena dia akan mengetahui jika aku mengintip statusnya dan aku belum siap berkomunikasi dengannya dan belum siap untuk menjelaskan apa pun padanya. Tapi,, aku sangat ingin mengetahui kondisinya sekarang.
“Abang,, boleh aku pinjam ponselmu sebentar?”, pintaku pada Bang Evan.
“Oke,,, tapi kau harus makan dulu”, Dia malah membeirku syarat seolah sedang membujuk anak kecil saja, karena rasa penasaranku lebih besar, akhirnya aku mnegikuti syarat darinya, aku bersedia makan dengan posisi duduk menyender pada ranjang yang sudah dinaikan seperti sofa bed. Namun baru empat suapan aku sudah merasa mual dan eneg, akhirnya dihentikan, kemudian aku pun minum.
Sesuai janjinya, Bang Evan memberikan ponselnya padaku tanpa banyak bertanya. Aku langsung membuka aplikasi whatsapp-nya yang ternyata masih banyak chat dari beberapa wanita yang belum dibacanya dan aku tidak peduli akan itu, aku langsung menggeser layar ponselnya ke bagian Status, akhirnya aku bisa melihat foto- foto yang Naz upload, semua pembaharuan status ya aku lihat.
Aku senang bisa melihatnya sudah berkumpul dengan ibu kandungnya, bahkan foto itu menunjukkan kalau dia juga sudah akur dengan Raline. Aku merasa senang melihat senyumannya, walau sebenarnya ia menyembunyikan luka dan kesedihan didalamnya,
”Dia kembali menjadi Naz yang dulu,,, yang pandai menyembunyikan kesedihannya dengan tersenyum pada orang lain dan berpura- pura bahagia di depan orang lain,,, maafkan aku Naz,,,, maafkan aku,, yang sudah memberimu luka sedalam ini" lirihku dalam hati.
Aku pun memberikan kembali ponsel Bang Evan padanya, ia pu melihat foto- foto yang di upload -Naz, “Al,,,, kau tidak usah khawatir,,, kau lihat sendiri bukan, Naz sudah baik- baik saja,,, buktinya ia terlihat bahagia pergi liburan dengan keluarganya”, ucap Bang Evan
“Apa?? Naz pergi liburan?? Apa dia tidak tahu keadaan Arfin seperti ini karena memikirkannya?, sedangkan dia malah pergi liburan dan bersenang- senang? Apa dia tidak memikirkan keadaan mu atau perasaanu, Al? ”, Mami langsung sewot mengetahui ihal itu.
Aku menghela nafas sejenak, “Mami, Abang,, kalian belum mengenal Naz seperti apa,,,, dia tipikal orang yang suka memendam kesedihannya seorang diri, dan di depan orang lain ia kan bersikap ceria dan pura- pura bahagia, termasuk di depan orang tuanya sendiri, dan itulah yang sedang ia lakukan. Dia tidak mau melibatkan orang lain dan berbagi kesedihannya pada siapa pun,,, dan selama empat tahun ini ia hanya membaginya denganku,, tapi sekarang,,, akulah yang menyakitinya,,,akulah yang memberinya kesedihan,,, akulah yang melukai hatinya,,, dan entah pada siapa ia akan membagi kesedihannya”, ucapku dengan perasan bersalah.
Mereka pun terdiam setelah enengar penjelasanku, aku pun kembali berbaring karena kepalaku terasa pusing dan tubuhku terasa semakin panas, serta bintik- bintik merah sudah mulai bermunculan di permukaan kulitku.
“Kamu bisa memafkan Raline yang selama ini selalu berbuat jahat padamu, kamu bisa memafkan Tante Rahmi yang selalu menolak keberadaan mu dan tak pernah bersikap baik pada mu,,, Akankah kau memaafkanku kelak ?”, lirihku dalam hati, aku pun menutup mataku untuk tidur dan beharap semua ini hanyalah mimpi buruk belaka, yang setelah bangun nanti semua dalam keadan baik- baik saja, termasuk dengan hubunganku dengan Naz, Cahayaku.
------------------- TBC ----------------
*************************
Sepertinya ada beberapa episode flashback untuk menjelaskan kemana sang Anas selama satu tahun ini,,,, semoga tidak bosan dengan si Aa ya,,,,,,
Happy Reading….😘
Jangan Luva tinggalkan jejakmu,, like, komen, vote, hadiah, ate bintang 5 😉
__ADS_1
Tilimikicih,,, Alapyu ol,,,, 😍😍😍😘😘😘