Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Cinta Salah Sasaran


__ADS_3

Suasana di ruang tengah kediaman orang tua Naz terasa mencekam, Raline yang terus menangis dengan tetap bungkam hingga tak satu pun pertanyaan dari semua orang yang dijawabnya tentang lelaki yang sudah menghamilinya, Pak Syarief yang sudah geram sampai naik pitam dengan diamnya Raline. Sementara Bu Rahmi terus memeluk Raline karena takut suaminya akan menyakiti putrinya itu. Naz pun terus berdiri di samping Papa nya untuk menahan beliau agar tidak berbuat kasar pada Raline, sedangkan Arfin berdiri di ujung sofa hanya sebagai penyimak karena bingung harus berbuat apa. Dan tanpa mereka ketahui, ketiga asisten rumah tangga di rumah itu pun memperhatikan secara diam- diam dari arah ruang makan sejak terdengar teriakan di ruang tengah, mereka pun kepo lovers.


“Jawab Raline,,, !! sebelum kesabaran Papa habis,, siapa lelaki yang sudah menghamili kamu?”, Pak Syarief kembali berteriak.


Raline melepaskan diri dari pelukan Mama nya dengan perlahan, saat ia duduk tegak ia merasa terkejut dengan kehadiran seseorang, pandangannya tertuju pada orang yang tengah berdiri itu, lalu ia mengangkat tangannya dan menunjuk pada orang tersebut sambil berderai air mata.


Semua orang melihat ke arah orang yang di tunjuk Raline, mereka sangat terkejut dan tidak percaya melihat orang yang di tunjuk Raline.


“Arfin….??”, ucap Pak Syarief, Bu Rahmi dan Hardi serentak.


Naz langsung membekap mulutnya dengan telapak tangannya karena merasa terkejut dan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, saat tangan Raline menunjuk pada suaminya. Arfin pun lebih terkejut lagi, karena merasa tidak tahu menahu, tiba- tiba Raline menunjuknya sebagai pelaku dan kini tatapan semua orang tertuju padanya, ia kemudian menatap pada istrinya dengan harapan Naz tidak mempercayai tuduhan Raline padanya. Naz beranjak pergi meninggalkan ruangan itu berlari dengan berlinang air mata, Arfin pun tanpa pikir panjang langsung mengejar Naz yang ternyata berlari keluar lewat pintu samping.


Kini ketiganya mengalihkan pandangan pada Raline dengan tatapan tajam.


“Raline,,, kamu jangan bercanda,, mana mungkin Arfin yang menghamili kamu,,, apa kamu ingin merusak rumah tangga Naz yang baru dibangun hah ?”, Pak Syarief malah semakin geram pada Raline.


“Arfin tidak mungkin seperti itu, Raline,, Mas sangat mengenalnya”, Hardi pun berkomentar.


“Raline,,, kamu jangan menuduh sembarangan,, apa kamu masih membenci Naz? tolong jangan merusak kebahagiaannya dengan cara seperti ini”, Bu Rahmi pun ikut marah.


Raline menggelengkan kepalanya dan menunjuk lagi pada orang yang baru datang dan tadi ia berdiri terhalang oleh Arfin. Ketiga orang itu pun kembali melihat ke arah yang Raline tunjuk.


“Kenapa kalian menatap ku seperti itu? ada apa ini?”, tanya nya merasa bingung. “Itu Naz kenapa lari gitu? apa pengantin baru itu sedang bertengkar?”, ia kembali bertanya.


“Arsen ??”, ucap Pak Syarief, Bu Rahmi dan Hardi serentak.


“Iya,,, kenapa? Kalian kok aneh gitu?”, Arsen menghampiri mereka dengan membawa godie bag di tangannya.”Ah iya,, ini dress pesanan Tante,, Bunda memintaku mengantarkannya ke sini,, dan maaf aku langsung masuk gitu aja, pintunya tadi sedikit terbuka”, ia mengatakan tujuan kedatangannya.


“Raline,,, apa dia yang kamu maksud?”, Pak Syarief mempertanyakan jawaban Raline yang tadi menunjuk ke arah Arsen, dan Raline pun mengangguk tanda mengiyakan.


"Apa???”, jadi Arsen yang sudah menghamili kamu, Raline?”, Pak Syarief yang dikejutkan kembali bertanya untuk memastikan dan Raline pun kembali mengangguk sambil menangis.


Pak Syarief yang sudah diliputi amarah langsung menghampiri Arsen lalu mencengkram dengan menarik kerah kemejanya.“Kurang ajar kamu Arsen, kamu harus mempertanggung jawabkan perbuatan mu !!”.


“Ada ada apa ini Om?? Maksudnya apa? Mempertanggung jawabkan apa??”, Arsen malah terlihat bingung dan kaget dengan sikap Pak Syarief.


Hardi menghampiri Papa nya, “Papa, tolong jangan seperti ini,, Papa harus tenang,, lepaskan Arsen, kita bicarakan ini baik- baik”, pintanya lalu Pak Syarief pun melepaskan tangannya.


“Sebenarnya ada apa ini, Mas?”, Arsen kembali bertanya.


“Ayok kita duduk dulu, baru kita bicarakan hal ini”, ajaknya, kemudian ketiganya duduk di sofa, “Begini Arsen, Mas mau tanya, apa kamu menjalin hubungan dengan Raline?”.


“Apa??... Enggak, Mas, kami tidak menjalin hubungan, bahkan aku baru bertemu Raline lagi kemarin saat di restoran setelah terakhir bertemu saat acara siraman Naz di rumah dulu,,, memangnya kenapa, Mas?”, Arsen yang masih merasa bingung kembali bertanya.


“Jangan mengelak kamu Arsen!”, sentak Pak Syarief.


“Papa,, tolong,, jangan emosi dulu”, Hardi kembali mencegah Papa nya, “Arsen, tadi saat Mas baru datang, disini sudah terjadi kekacauan, dan saat Mas tanya apa yang sedang terjadi, Mama bilang kalau Raline sedang hamil,, sejak tadi kami menanyakan siapa pria yang sudah membuatnya hamil, Raline terus bungkam dan tidak mengatakannya pada kami, tapi saat kamu datang ia menunjuk ke arah mu, Arsen”, Hardi menjelaskan duduk perkaranya.


“Apa?? Raline hamil? Dan dia menuduh ku yang melakukannya??”, Arsen merasa terkejut dengan apa yang dikatakan Hardi, kemudian pandangannya beralih pada Raline yang duduk di depannya hanya terhalang oleh meja.


”Raline,, apa maksud kamu menuduh ku seperti itu??”, tanya nya merasa kesal.


“Kamu masih mau pura- pura hah?? Kamu sudah berani menyentuh Raline sampai dia hamil dan kamu harus bertanggung jawab atas perbuatan mu !”, Pak Syarief terus nyolot pada Arsen.


“Tunggu Om, saya benar- benar tidak mengerti, terakhir bertemu dengan Raline saja sebulan yang lalu di acara siraman Naz, dan baru bertemu lagi kemarin di restoran,, bagaimana bisa saya menghamili Raline?”.


“Karena kamu memperkosa ku di malam sebelum Naz menikah !! hiks hiks”, Raline yang sejak tadi diam mengeluarkan suaranya dengan lantang dan mengejutkan semua orang termasuk Arsen sendiri.


“Apa??”, Arsen merasa terkejut begitu pula dengan ketiga orang yang sejak tadi menunggu pengakuan Raline.


Pak Syarief langsung berdiri dan menghampiri Arsen, lalu kembali menarik kerah kemejanya hingga ia berdiri. Bugh,,,, satu pukulan mendarat di pipi kanan Arsen, kini Pak Syarief benar- benar marah dan kembali memukul Arsen tanpa ampun, Hardi pun tak bisa menghentikan Papa nya yang sudah diliputi amarah.


Bi Surti yang melihat kejadian itu bersama dua rekan lainnya, berinisiatif untuk mencari Naz yang tadi sempat dilihatnya lari ke arah halaman samping dan dikejar oleh suaminya. Ia pun berlari lewat pintu belakang, dan saat tiba di sana Bi Surti melihat pasangan suami istri itu tengah berpelukan sambil duduk di atas rerumputan. Walau sebenarnya merasa malu dan tidak enak mengganggu mereka, dengan terpaksa Bi Surti menghampiri mereka masih dengan nafas ngos- ngosan karena habis berlari, “Maaf Non,,, “, mendengar suara Bi Surti, keduanya langsung melepas pelukannya,


“Maaf Non,, itu Pak Syarief ngamuk, den Hardi gak bisa menghentikannya”, ucapnya melapor.


“Apa?? Papa ngamuk?”, tanya Naz kaget, “Ya ampun Raline,,,,”, Naz langsung berdiri begitu juga Arfin, keduanya menghapus jejak air matanya lalu beranjak pergi untuk kembali masuk ke rumah.


"Tunggu,,,”, Naz tiba- tiba menghentikan langkahnya dan suaminya.

__ADS_1


“Ada apa??”, Arfin merasa heran.


“Sebaiknya Aa jangan ikut ke dalam,, bisa- bisa Papa marah sama Aa,, mereka pasti mengira kalau Aa yang sudah menghamili Raline”, Naz mencemaskan suaminya.


Arfin terdiam dan nampak memikirkan sesuatu, “Sayang,,, kalau mereka mempercayai Raline,, mungkin sejak tadi mereka sudah mengejar Aa ke sini,, tapi tidak bukan ?,,, berarti mereka tidak percaya kan,, sudah, ayok cepat sebaiknya kita masuk”, ucapnya mengajak Naz melanjutkan perjalanannya.


Dan setibanya di sana mereka sangat terkejut melihat Pak Syarief yang menghajar seseorang dengan membabi buta sampai orang itu jatuh nampak tergeletak di lantai tepat di samping sofa tempat Raline duduk yang masih menangis dan kembali dipeluk Bu Rahmi, orang itu nampak berusaha bangun. Hardi memeluk Papa nya dari belakang, untuk menghentikannya karena hendak menyerang kembali, kemudian Arfin pun ikut membantu Hardi untuk menahan mertuanya. Naz menghampiri mereka, dan betapa terkejutnya ia melihat orang yang dipukul Papa nya hingga babak belur ternyata adalah kakaknya.


“Kak Arsen….??”, lirihnya terkejut, lalu ia melangkah mendekati Arsen.


“Lepaskan,,,!!”, teriak Pak Syarief dengan amarah yang membara.


“Papa cukup , Pa,,, Arsen sudah babak belur,,, jangan memukulnya lagi,, dia tidak akan melawan, dia bisa mati, Pa,,,”, Hardi yang masih memeluk Papanya dari belakang terus berusaha menenangkannya.


“Lepaskan, Papa belum puas menghajar si brengs*k yang telah berani memperkosa putriku”, Pak Syarief terus berontak.


“Apa???”, Naz kembali dikejutkan dengan pernyataan Papa nya. “Kak,,, Kak Arsen sudah memperkosa Raline?”, ucapnya terbata- bata karena shock, lalu ia membekap mulutnya sendiri.


“Bohong,,, itu semua bohong, Naz,, itu fitnah”, Arsen menyangkal bicara dengan menahan rasa sakit akibat pukulan Pak Syarief.


Naz menoleh pada Raline, “Raline ,,, apa itu benar??”, Naz bertanya karena merasa tidak percaya, Raline pun mengangguk. Naz menggelengkan kepalanya merasa tidak habis pikir, Kakak nya ternyata sebejat itu, yang sebelumnya juga pernah berusaha memperkosanya.


“Bohong,,, itu semua bohong, Naz,,, aku tidak melakukannya”, Arsen yang kini dalam posisi duduk di lantai kembali menyangkal, lalu ia menggeserkan duduknya sehingga bisa bertatapan dengan Raline yang duduk di atas sofa, “Raline,, katakan semua itu bohong, aku tidak pernah melakukan hal itu pada mu”.


Raline melepaskan diri dari pelukan Mama nya, lalu ia menghela nafas panjang, “Kamu memang sudah melakukannya, Kak,,,,hiks hiks,,, kamu sudah memperkosa ku di malam sebelum pernikahan Naz,,,dan saat itu kamu dalam keadaan mabuk,,, hiks hiks”,ucapnya lalu menundukkan kepalanya tak kuat menahan tangisnya.


“Apa?? Gak gak mungkin… Mas Hardi jelas- jelas bilang kalau dia menemukanku tergeletak di depan pintu kamar Naz saat aku mabuk,, lalu dia membawaku ke kamarnya,, bagaimana bisa aku ke kamar mu,, bahkan aku tidak tahu letak kamar mu dimana,, jangan mengarang cerita Raline,,, jangan melimpahkan kesalahan orang lain padaku”, Arsen merasa kesal sudah dituduh.


Raline kembali menegakan kepalanya dan menatap Arsen, “Aku tidak berbohong,, aku berani bersumpah, hiks hiks,, kamu mengira kalau aku Naz, dan memperkosa ku,, huhuhuhu”, Raline menutup wajah dengan kedua tangannya sambil terus menangis.


“Tidak mungkin,, aku……”


Plakk,,, satu tamparan mendarat di pipi Arsen yang sudah bonyok,


“Aku pikir Kakak sudah benar- benar berubah, tapi semua itu hanya omong kosong !!”, Naz meneriaki Arsen.


“Naz,,, Raline bohong, bagaimana mungkin aku memperkosa Raline, sedangkan aku berada di depan kamar mu”, Arsen terus menyangkal.


Arsen tercengang mendengar teriakan Naz, “Naz,, aku benar- benar tidak ingat dengan apa yang terjadi malam itu,, saat itu aku benar- benar mabuk,, yang aku tahu saat bangun sudah ada di kamar Mas Hardi”, ucapnya dengan perasaan yang masih bingung.


“Kakak harus bertanggung jawab,, Kakak harus menikahi Raline !!”, ucapnya dengan deru nafas gusar menahan amarah.


“Enggak,,,, itu gak mungkin,,, aku tidak memiliki perasaan apa pun pada Raline, dan jika memang itu terjadi, itu di luar kesadaran ku,,, siapa yang tahu kalau dia sudah tidur dengan orang lain dan malah mengkambing hitamkan aku”, Arsen terus membuka dirinya.


Bugh ,,,, satu bogeman kembali mendarat di wajah Arsen hingga ia kembali tersungkur, Pak Syarief benar- benar hilang kendali dan sangat marah mendengar perkataan Arsen,”Brengs*k,,, bajingan kau, Arsen !!”, teriaknya kemudian Hardi dan Arfin menarik beliau kembali dan menahannya supaya tidak memukul Arsen, walau sebenarnya Arfin sudah ingin menghajar Arsen.


Arsen kembali bangun sambil meringis menyentuh pipinya yang terasa sakit ,”Kalau aku brengs*ek dan bajingan,, lalu Om apa??,,, bukannya Om juga dulu menidurui ibunya Raline dalam keadaan mabuk,,,, apa saat itu Om bertanggung jawab?”, Arsen malah membalikan omongan Pak Syarief mengingatkan akan masa lalunya.


Pak Syarief tertegun mendengar perkataan Arsen, ia teringat dengan dosa di masa lalunya. Dirinya yang sudah diselimuti kabut kemarahan pun tiba- tiba terdiam, tubuhnya serasa bergetar, karna ia baru menyadari ternyata hal yang dialami Bu Mira, kini dialami oleh Raline juga. Ia terus melangkah mundur hingga mentok pada dinding tembok pembatas ruang tengah dengan sebuah kamar, dan beliau menyandarkan tubuh bagian belakangnya pada dinding tersebut kemudian memerosotkan dirinya hingga duduk di lantai dengan tangan yang memegang dadanya. Raut kesedihan dan penyesalan begitu terlihat jelas di wajahnya.


Raline yang merasa sangat terluka pun pergi meninggalkan ruang tengah, ia berlari menuju kamar nya, dan Bu Rahmi segera mengejarnya. Arfin dan Hardi pun terdiam membisu yang kemudian duduk di sofa dengan pemikiran masing- masing, yang sama- sama menahan kemarahan mereka pada Arsen.


Suasana yang sempat memanas kini tiba- tiba menjadi hening seketika, tak ada yang berucap satu pun, yang terdengar hanya deru nafas setiap orang yang terdengar gusar serta suara isak tangis Naz.


Naz berlutut lalu duduk berhadapan dengan Arsen di lantai, “Kenapa Kakak jadi seperti ini,,? kenapa?? Hiks hiks”, Lirih Naz memecah keheningan, ia merasa terpukul dengan sikap dan ucapan Arsen.


“Dimana kakak ku yang ku kenal sangat baik, penyayang, penyabar, tidak pernah menyakiti perasaan orang lain, terutama aku dan Raline,, hiks hiks”, tambahnya lagi, Arsen hanya melihat ke arah Naz namun dengan tatapan kosong.


“Sejak kecil aku sangat menyayangi mu lebih dari kakak yang lainnya, karena kakak merupakan yang paling dekat denganku, kau selalu melindungi dan menjagaku juga Raline, sampai kau jarang bergaul dengan teman- teman sebaya mu karena selalu menemani kami berdua. Apa Kakak tahu,,? banyak hal yang sudah dilakukan Raline untuk Kakak, banyak pengorbanan yang sudah dia lakukan selama ini untuk Kakak, bahkan dia sampai menuruti perintah Kakak untuk menyakiti ku, tapi kenapa kakak melakukan ini padanya? Hiks hiks”.


“Naz,,,,”, lirihnya,


“Dari dulu Raline sangat mengagumi mu karena selalu menjaga dan melindungi kami, bahkan dia hanya bersedia dibawa ke dokter jika kau ikut dengannya, dia bisa melawan rasa takutnya saat kau ada di sampingnya, dia selalu berusaha untuk sembuh dari penyakitnya karena ingin selalu ada di dekatmu dan selalu bersama mu, karena Kakak begitu berarti baginya…. Bahkan saat Kakak dikurung di gudang oleh Ayah karena kakak dihukum setelah berkelahi di sekolah mu, Raline yang memohon pada Ayah untuk mengeluarkan mu dan dia terus berdiri di depan pintu kamar Ayah sampai malam, dan akhirnya Ayah mengabulkan permohonannya karena tak tega melihat Raline yang terus menangis. Saat dulu Kakak sakit demam tinggi sampai tak sadarkan diri, dia ikut merawat dan menjaga Kakak, dia mengompres terus- terusan semalaman, sampai besoknya dia yang jatuh sakit,, hiks hiks”. Naz mulai mengingatkan Arsen pada masa kecil mereka.


“Apa Kakak ingat saat Kakak datang dari Bandung dan menjemput kami ke kolam renang umum, disana Kakak berkelahi sampai di dorong ke kolam renang yang dalam sedangkan kakak tidak bisa berenang, Raline lah yang menolong Kakak, karena aku tak bisa berenang dan setelah itu dia langsung dirawat di rumah sakit karena terlalu lama di air dan penyakit jantungnya memburuk hingga ia harus menjalani operasi transpaltasi jantung”, Naz membuka satu demi satu hal yang Raline lakukan untuk Arsen.


“Apa?? Jadi semua itu Raline yang melakukannya?? Bukan kamu??”, Arsen terkejut dan ternyata baru mengetahui hal itu.


“Iya, Kak,,, dan masih banyak lagi hal yang Raline lakukan untuk mu, kakak bisa tanyakan pada Mama dan Bunda jika tidak percaya”, ucapnya meyakinkan Arsen.

__ADS_1


“Lalu kenapa saat ada teman- teman perempuan datang ke rumah atau mendekati ku, kamu selalu mengganggu, mengerjai bahkan sampai mengusir mereka dan menjauhkan mereka dari ku, bahkan kamu bilang kakak tidak boleh menikah dengan wanita mana pun karena kamu yang akan menjadi pengantin wanita untuk ku”, Arsen kembali bertanya.


“Aku tidak pernah berbicara seperti itu,, aku bilang Kakak tidak boleh menikah dengan wanita mana pun karena aku akan membawa pengantin wanita untuk Kakak,, dan pengantin wanita nya itu adalah Raline,,, hiks hiks ,,,”, ucapnya sambil terisak dan membuat Arsen kembali terkejut.


”Aku selalu mengganggu teman- teman perempuan yang mendekatimu, karena itu membuat Raline sedih, dia selalu bilang Olin sayang Kak Chen, Kak Chen hanya untuk Olin, kalau sudah besar nanti Olin cuma mau menikah sama Kak Chen,,, dia sangat mencintai mu Kak, Raline yang mencintai mu, bukan aku,, dia sudah banyak berkorban untuk mu,, bahkan sampai membahayakan nyawanya sendiri.. tapi dia melakukannya secara diam- diam agar kau tidak mengetahuinya,,, hiks hiks”, Naz membeberkan segalanya yang selama ini dilakukan Raline secara diam- diam.


“Gak,,, gak mungkin,,,”, Arsen menggelengkan kepalanya merasa tidak percaya dengan semua yang diceritakan oleh Naz.


“Kakak pikir untuk apa Raline menuruti semua perintah mu, sampai dia menjauhi ku dan selalu membuatku dijauhi oleh teman- teman yang lain, bahkan tanpa rasa malu dia sampai mendekati Bang Evan saat tahu Bang Evan mendekatiku, hanya untuk memenuhi permintaan mu,,, itu karena dia mencintai mu, dia rela melakukan apa pun untuk mu,,, hiks hiks”.


“Jadi selama ini yang melakukan semua hal itu adalah Raline, bukan Naz,, jadi selama ini prasangku salah yang mengira Naz juga mencintaiku bukan hanya sebagai kakaknya,,, dan aku mencintai orang yang salah,,, gak gak mungkin,,, gak mungkin selama bertahun- tahun ini aku mencintai orang yang salah,,, Raline mengikuti perintahku karena dia takut dengan ancaman ku, bukan karena dia mencintaiku,,, ini gak mungkin,,,’”, Arsen bergumam di dalam hati sambil mengusap kasar kepalanya karena merasa tidak percaya dengan kenyataan yang sudah ia dengar dari Naz.


Naz memegang kedua tangan Arsen, “Kakak harus bertanggung jawab atas apa yang sudah Kakak lakukan pada Raline, dia sedang mengandung anak mu Kak, tolong jangan biarkan Raline mengalami apa yang Ibu alami, jangan biarkan anak itu seperti ku yang mendapatkan hinaan dan cemoohan dari semua orang karena itu sangat menyakitkan, Kak,,,, jangan biarkan ada dendam baru yang menghancurkan keluarga kita lagi,, aku mohon,,, aku mohon dengan sangat,, nikahi Raline,, jika perlu, aku akan bersujud di kaki mu agar kau mau menikahi Raline,”, ucapnya menundukan kepala dengan dengan linangan air mata yang terus membasahi pipinya.


Arsen terdiam membisu dengan berbagai pemikiran yang berkecamuk di benaknya, tentang kenyataan yang baru diketahuinya dari Naz, tentang pemerkosaan yang ia lakukan tanpa sadar, tentang kehamilan Raline, belum lagi ia memikirkan Bunda nya yang baru saja sembuh.


Arsen melepaskan genggaman tangan Naz dari tangan nya,“Ini sangat mengejutkan bagiku, dan aku butuh waktu untuk memikirkan semua ini, Naz,,,, “, Arsen kemudian bangkit dan berdiri,


“Jangan beritahukan hal ini pada Bunda,, aku tidak mau sesuatu terjadi lagi pada Bunda karena ulah mu”, ucap Naz yang masih duduk tanpa menoleh sedikit pun pada Arsen.


“Aku pamit pulang,,, “, ucapnya.


Hardi langsung berdiri dan menghadang Arsen, “ Arsen…. Ini belum selesai, kamu tidak pergi begitu saja”.


“Mas Hardi,,, biarkan dia pergi,, beri dia waktu untuk merenungkan kesalahannya”, ucap Naz.


“Baiklah,,, tapi jika kau berani melarikan diri,, aku pastikan kau akan jadi buronan polisi”, Hardi memberi ancaman.


“Iya,,, permisi”, ucapnya lalu beranjak pergi meninggalkan ruangan itu dan bergegas keluar rumah dengan mengusap wajah dan memegang perutnya yang terasa sakit.


Bruk …. Terdengar suara sesuatu yang jatuh ke lantai, Hardi dan Arfin melihat ke asal suara dan ternyata itu Pak Syarief yang jatuh pingsan.


“Papa,,,, “, teriaknya, Hardi dan Arfin segera menghampiri Pak Syarief yang tergeletak sambil memegang dadanya, Naz pun langsung berdiri bergegas menghampiri Papa nya. Hardi dan Arfin segera menggotongnya dan membawa beliau ke kamar, lalu membaringkannya di atas tempat tidur, sedangkan Naz menghubungi dokter.


Tak lama dokter pun datang dan segera memeriksa Pak Syarief, yang ternyata hanya kelelahan dan tekanan darahnya naik, setelah memberikan resep obat dokter pun pamit pulang, dan Hardi langsung pergi ke apotek untuk membeli obat tersebut.


Arfin memeluk istrinya yang kembali menangis karena merasa sangat sedih dan terpukul atas masalah yang menimpa keluarganya, “Sudah,,, jangan menangis lagi,, setiap masalah pasti ada jalan keluarnya”, Arfin berusaha menenangkan istrinya.


“Ini semua salahku,,, coba malam itu aku gak meningalkan Raline sendirian di kamar hotel, pasti semua ini tidak akan terjadi,, hiks hiks,, sekarang hidupnya sudah dihancurkan oleh orang yang sangat dicintainya,,, hiks hiks”, Naz merasa sangat bersalah.


“Ssssttt,, sudah- sudah jangan menyalahkan dirimu sendiri,, semua sudah terjadi, mungkin jalan takdirnya seperti ini, kamu harus kuat sayang, kamu harus menguatkan Raline dan kedua orang tua mu, mereka juga sangat terpukul karena masalah ini”.


“Aku juga takut terjadi sesuatu sama Bunda jika mengetahui hal ini,,, dia kan baru saja sembuh,,, gimana kalau Bunda sakit lagi,,, hiks hiks”.


“Jangan berpikir hal- hal buruk sayang,, nanti kita pikirkan cara menyelesaikan masalah ini bersama ya,,, sudah ya,, jangan nangis lagi”, ucapnya mengecup kepala istrinya itu,


“Kamu tahu sayang, setelah memperhatian pembicaraan mu dengan Arsen tadi, sepertinya Arsen salah sangka terhadap mu, mungkin dia mengira kamu orang yang selama ini selalu melakukan banyak hal untuk dirinya sehingga dia mencintai mu, padahal semua itu Raline yang melakukannya,, berarti cinta nya salah sasaran,,”.


Naz yang mulai berhenti menangis melepaskan pelukan suaminya, “Maksudnya?”.


“Jadi maksudnya gini, kalau dia mencintai orang itu karena kebaikan dan pengorbanan orang itu untuknya, berarti dia mencintai Raline dan bukan kamu, karena dia salah mengira bahwa orang itu adalah kamu, jadi dia mencintai kamu,, itu artinya dia salah mencintai orang”, Arfin menjelaskan.


“Hah,,,,?? Iya ya,, Aa benar juga,,, berarti selama ini cinta Raline gak bertepuk sebelah tangan dong,,”.tanya Naz.


“Mungkin bisa dibilang seperti itu”.


“Sepertinya aku harus bicarakan hal ini dengan Kak Arsen, untuk meluruskannya”, ucap Naz.


“Bicara sih bicara saja, jangan kayak tadi,, apa- apaan itu bicara dengan jarak sangat dekat sambil memegang tangannya lagi,, gak tahu apa tangan suami mu ini sudah gatal ingin menghajarnya, tapi kasihan wajahnya nanti tidak dikenali pas dia pulang”, gerutu Arfin.


“Aaaahhh,, sayang aku minta maaf,, tadi aku reflex”.


“Hmmmmmm….”, Arfin malah cemberut.


“Ihh,, jangan gitu dong”, Naz tiba- tiba mencium bibir suaminya, dan ternyata yang ngambek itu malah membalas ciumannya.


“Kalau mau bermesraan jangan di sini,, sana ke kamar kalian!!”, suara itu mengejutkan keduanya yang langsung saling melepaskan pagutan bibir mereka.


--------------------- TBC -----------------------

__ADS_1


*************************


__ADS_2