Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Durian Penangkal Jatah


__ADS_3

Selama dalam perjalanan, Bu Hinda yang meminta duduk di jok penumpang nampak melamun dan diam seribu bahasa, Naz pun tak berani untuk bertanya atau pun sekedar mengobrol basa- basi, ia hanya sesekali melirik diam- diam untuk melihat keadaan mertuanya yang duduk tepat di belakang jok Arfin yang tengah mengemudi. Wajahnya menampakan raut kesal, sedih kecewa seolah menjadi satu, bagaimana tidak, ia merasa telah dibohongi dan di permainkan serta di provokasi agar membenci menantu yang sangat ia sayangi oleh anak sahabatnya yang bahkan sudah ia anggap seperti anak sendiri.


Sesampainya di kediamannya pun, Bu Hinda masih tetap diam dan setelah keluar dari mobil ia langsung masuk ke dalam rumah seolah tak menghiraukan keberadaan putra dan menantunya.


Namun saat hendak berjalan ke arah kamarnya, Nervan yang sejak tadi sudah menunggu di ruang tengah, memanggil Mami nya,


“Mami,,, “, seru nya yang mampu menghentikan langkah Bu Hinda kemudian menoleh ke arah asal suara dimana Nervan tengah berjalan menghampirinya.


“Mami,, ada hal penting yang ingin aku bicarakan”, Nervan langsung mengatakan tujuan kedatangannya.


“Nanti saja, Bang,, Mami lagi capek mau istirahat”, Bu Hinda nampak lesu.


“Tapi Mi,, ini sangat penting mengenai Felisha”, ucapnya lagi.


Bu Hinda mendengus kesal, “Apalagi jika untuk membahas anak itu,, Mami lagi males mendengarnya”.


“Ini sangat penting Mi,,, ini tentang semua kebohongan yang sudah ia lakukan selama ini pada Mami dan aku membawa bukti- buktinya”, Nervan tak menyerah.


“Apa??.. bukti apa maksudmu Bang?”, Bu Hinda merasa terkejut sekaligus heran.


“Gak enak Mami kalau ngobrol sambil berdiri kayak gini,, mending kita duduk deh”, ajaknya.


“Ada apa Bang?”, Arfin yang sudah masuk bersama istrinya pun ikut bertanya.


“Udah ayok kita duduk untuk membahas ini?”, Nervan pun mengajak serta Arfin.


Keempat orang itu pun kini duduk di sofa ruang tengah, Nervan memperlihatkan berkas yang sebelumnya ia simpan di atas meja kepada Mami nya, “Ini Mi..”.


“Apa ini?”, Bu Hinda heran.


“Mami buka saja,, di situ ada bukti- bukti kalau selama ini Felisha sudah membohongi Mami”, Nervan sedikit menjelaskan.


Bu Hinda membuka berkas tersebut yang isinya tentang surat keterangan yang menyatakan Felisha tidak memiliki riwayat penyakit maag kronis serta beberapa lembar foto pernikahan Felisha dengan dua orang yang berbeda dan itu artinya ia pernah dua kali menikah dengan pria asal Amerika.


“Apa?? Jadi dia sudah pernah menikah?”, tanya Bu Hinda kaget.


“Iya Mi,, dan menurut keterangan yang didapatkan oleh Kak Fatma dari Tante Priska, pernikahan pertama tiga tahun yang lalu dan hanya bertahan enam bulan, sedangkan yang kedua satu tahun yang lalu, dan ia resmi bercerai bulan lalu”, Nervan kembali menjelaskan.


“Apa? Jadi selama ini dia benar- benar membohongi Mami yang katanya selalu menunggu Arfin sampai berubah pikiran untuk menikah?? Kenapa Priska juga menyembunyikan hal ini dari Mami?”.


“Felisha melarang Tante Priska memberitahu Mami,, katanya ia akan memberitahukan sendiri dengan alasan takut Mami kecewa katanya,,, dan Bukan hanya itu Mi,,, ada hal yang sangat mengejutkan yang baru aku ketahui”.


“Apa itu?”.


Nervan menghela nafas panjang seolah melakukan ancang- ancang, “Mami kenal bukan dengan suaminya Tante Priska?”.


“Iya,, dia dokter Arnold yang menangani Arfin saat terkena disfungsi ereksi”, Mami masih ingat walaupun sudah beberapa tahun silam, tentunya karena Dokter Arnold itu adalah suami dari sahabatnya, Priska.


“Ternyata Felisha yang meminta Dokter Arnold untuk mengatakan kalau Arfin terkena disfungsi ereksi permanen dan tidak bisa sembuh,,,”, Nervan langsung membeberkan berita yang telah ia terima.


“Apa??”, Bu Hinda dan Arfin terkejut.


“Iya,,, aku merasa curiga saat sehari sebelum pernikahan Arfin, Mami bilang Arfin sembuh setelah berobat di Surabaya, sedangkan saat di Amerika ia sudah divonis tidak bisa sembuh karena penyakitnya sudah permanen,, aku pikir mana mungkin bisa seperti itu, sedangkan di sana pasti peralatan medis nya sudah lebih canggih, tapi ternyata vonisnya bisa meleset ”, jelas Nervan.


“Astagfirullah,,, anak itu benar- benar kejam,, bagaimana bisa dia berbuat seperti itu?? dia sudah membuat Arfin terpuruk selama bertahun- tahun, dan Mami begitu percaya dengan ketulusannya yang ternyata itu hanya tipuan saja”, Bu Hinda masih merasa shock dan nampak tidak percaya orang yang sudah dianggap seperti putrinya sendiri, justru yang membuat putranya menderita.


“Dia benar- benar keterlaluan…”, Arfin pun merasa geram.


“Menurut ku tujuannya cuma satu, yaitu agar dia bisa menikah dengan Arfin dan menjadi satu- satunya wanita yang mau menerima Arfin dengan penyakit yang di deritanya kala itu, karena ia tahu Arfin tidak mau menikah dengan siapa pun karena penyakit itu”, Nervan berasumsi.


“Mami,,, dari dulu Al juga tidak pernah menyukainya, Al hanya menghargainya sebagai anak dari sahabat Mami, karena Tante Priska orang yang sangat baik,,, tapi Al tidak habis pikir, demi ambisinya Felisha sampai berbuat seperti ini”, Ucap Arfin.


“Kamu tahu dari mana soal ini Bang?”, tanya Bu Hinda.


“Dua hari yang lalu Arfin memberitahu ku kalau Felisha menghubunginya dan bilang akan pulang ke Indonesia,, Aku merasa curiga sepertinya dia memiliki niat terselubung dengan kedatangannya itu,, makanya aku meminta tolong Kak Fatma untuk menemui Tante Priska di Amerika dan ia berhasil mendapat informasi tentang pernikahan Felisha. Bahkan Kak Fatma menemui Dokter Arnold untuk menanyakan tentang penyakit Arfin. Awalnya ia tak mau mengakui, tapi Kak Fatma dan Kak Rezki mengancam akan mencari tahu sendiri yang nantinya bisa merusak karir Dokter Arnold. Ia pun akhirnya mengakui yang katanya ia terpaksa mengikuti keinginan Felisha karena mengancam akan bunuh diri,, kalau Mami tidak percaya, Kak Fatma mengirimkan bukti rekaman pembicaraannya dengan Tante Priska dan Dokter Arnold”. Nervan membeberkan.


Bu Hinda membekap mulutnya merasa tidak percaya dengan kebenaran yang baru ia ketahui, beliau pun menangisi kebodohannya yang sudah sangat percaya dan menyayangi Felisha selama ini. Naz yang tidak tega segera merangkul ibu mertuanya untuk menguatkan beliau, karena ia bisa merasakan pasti itu sangat menyakitkan bagi beliau.


“Mami,,, “, Lirihnya, kemudian ia memeluk ibu mertuanya yang terus menangis itu.


“Maaf Mi,, aku tidak bermaksud untuk menyakiti perasaan Mami,, tapi Mami berhak mengetahui hal yang sebenarnya, dan aku juga tidak bisa membiarkan Felisha kembali merusak hidup Arfin dengan memisahkannya dengan Naz”, Nervan merasa tidak enak pada Maminya.


“Terimakasih Bang,,, maaf sudah merepotkan Abang karena masalah yang menimpa ku”, Arfin merasa sungkan.


“Kita ini saudara ,Al,,, gak usah basa- basi gitu”.


“Oh ya,, aku harap Mami sekarang berhenti mengirimi Felisha uang,, maaf Mi, Tante Priska juga bilang pada Kak Fatma kalau Mami selalu memanjakan Felisha dan sering mengirimkan uang pada nya,,”.


“Apa,, ??”, Arfin terkejut.


“Iya,,, Al,,, selama ini Felisha selalu bersikap baik dan Mami sudah menganggapnya seperti anak Mami sendiri,, ia selalu bilang sama Mami kalau dia sangat sedih dan akan selalu menunggu kamu Al… makanya Mami tak tega,, Mami selalu mengabulkan permintaannya, dan bahkan Mami selalu rutin mengirimkannya uang setiap bulannya,, hiks hiks”, Bu Hinda terus menangis.


“Ya ampun Mami,,, pantas saja dia baik sama Mami itu karena ada maunya,, apa Mami gak berpikir kalau selama ini Mami dimanfaatkan olehnya,,, ?”, Arfin merasa kesal.


“Mami baru sadar sekarang,,, hiks hiks,,, Mami minta maaf,,, “, sesalnya.


“Ini semua gara- gara mami pakai menjodoh- jodohkan aku segala sama dia dan begitu mendukungnya hingga membuatnya berharap terlalu tinggi sampai terobsesi pada ku”, Arfin terus menyalahkan Mami nya.

__ADS_1


“Mami minta maaf, Al,, hiks hiks,,, ”.


“Apa Papi tahu tentang hal ini, Mi?”, Nervan kembali bertanya.


“Papi tahu nya Mami sering mengirimkan uang ke Amerika itu untuk Fatma,, jadi Papi tak pernah mempermasalahkannya,, sepertinya Papi belum tahu jika uang itu Mami kirim untuk Felisha,, hiks hiks”.


“Mami,,, kenapa Mami bisa sampai sebodoh itu sih?”, Arfin kembali marah pada Mami nya.


“Maaf, Al,,, Mami minta maaf,,, hiks hiks”.


“Seharusnya Mami tidak menyambut baik kedatangannya ke rumah ini, sampai dia berani mengatakan hal- hal buruk dan menyakiti Naz”, Arfin tak henti menyalahkan Mami nya.


“Aa,, udah,, jangan terus menyalahkan dan memojokkan Mami,, kasihan kan Mami juga masih shock,, kalau Mami sampai sakit gimana? Lgi pula ini bukan sepenuhnya kesalahan Mami,, semua ini karena Felisha”, Naz merasa tak tahan mendengar ibu mertuanya terus dicerca oleh suami dan kakak iparnya.


“Mami sebaiknya istirahat ya,, Naz antar Mami ke kamar,,,”, ajaknya dan Bu Hinda pun bangkit dengan dibantu Naz.


“Mi,,, Tante Priska sedang dalam perjalanan untuk menjemput Felisha, setelah beliau mengetahui apa yang terjadi”, ucap Nervan.


Bu Hinda tak menjawab dan malah melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamar beliau bersama Naz yang memapahnya.


Arfin yang nampak diliputi amarah, bangkit dari duduknya dengan mengepalkan kedua tangannya, Nervan pun segera menghampirinya, “Mau kemana Al?”.


“Aku akan memberi perhitungan pada wanita licik itu”, ucapnya dengan geram.


“Jangan Al,, itulah yang diharapkannya, jika kau menemuinya maka ia akan menciptakan kesalahpahaman antara kau dengan istrimu,,,”, Nervan memberi pemahaman.


“Bagaimana bisa aku diam saja Bang,,, dia sudah membuat ku terus meratapi nasib buruk ku selama delapan tahun ini, bahkan sampai sekarang pun aku selalu dirundung rasa takut akan tidak bisa membahagiakan istriku , bahkan aku takut jika aku tak bisa memberinya keturunan,, di harus membayar semuanya, Bang”, Arfin semakin geram mengingat apa yang dilakukan Felisha padanya yang memberi dampak berkepanjangan dalam hidupnya.


“Abang tahu,, kau pasti sangat marah, Al,, jika kau ingin menemuinya jangan sendirian,, Abang akan menemani mu,, tapi menurut Abang sih sebaiknya besok saja saat ada Tante Priska, sekalian dengan Mami juga kita ke sana nya, untuk mencari jalan penyelesaian terbaik, sehingga bisa membuat Felisha tak akan berani mengganggu rumah tangga mu lagi, terutama mengganggu Naz,,, dia kan masih labil, takutnya ia terpengaruh dengan kelicikan Feli”.


Arfin terdiam memikirkan saran Nervan, dan ia pun mengurungkan niatnya untuk pergi. Sementara Naz terus menemani Bu Hinda di dalam kamar sampai beliau berhenti menangis dan merasa tenang. Tak lama Maira pun datang bersama Nala untuk menemani Bu Hinda, karena Naz dan Arfin harus kembali pulang ke kediaman orang tua Naz.


Sepanjang perjalanan tak ada percakapan antara sepasang suami istri itu, keduanya seolah terhanyut dalam lamunan masing- masing yang tanpa saling mengetahui kalau mereka memikirkan hal yang sama, yakni tentang Felisha dan Bu Hinda. Naz tak berani menyinggungnya karena takut akan membuat suaminya marah, sedangkan Arfin tengah memikirkan hukuman setimpal apa yang akan dia berikan pada Felisha atas apa yang selama ini telah diperbuat pada dirinya dan Mami-nya.


Sesampainya di rumah, orang tua Naz bersama Hardi, Oma, Opa , Om dan Tante ya Naz, tengah bekumpul sambil ngobrol- ngobrol , Naz dan Arfin pun menghampiri mereka untuk ikut bergabung, dan saat magrib mereka pun kembali ke kemar masing- masing, begitu pula dengan Naz dan Arfin.


Malam nya seusai makan malam, Naz mengajak Arfin ke balkon yang terletak di lantai dua untuk duduk santai di sana meninggalkan keramaian yang biasanya terjadi di rumah ibu hajat. Keduanya seolah sudah janjian memakai baju serba putih, Naz mencepol rambutnya dengan bentuk sembarang.


“Kamu ngapain sih ngajak Aa kesini, hem?”, Arfin yang baru saja duduk langsung melempar pertanyaan pada istrinya. Naz pun duduk di sebelah suaminya.


“Emm,,, pengen mojok aja sama Aa sambil melihat bintang di langit yang cerah ini”, jawabnya tersenyum gemas.


“Ini malam sayang,, kok cerah sih,, orang gelap juga,, ”, Arfin duduk bersandar pada bantal di kursi yang menyerupai sofa bed tersebut.


“Baiklah,,, malam yang gelap bertaburan bintang- bintang dan tanpa hujan,, jadi kan kalau gak hujan berarti cerah,,,”, ucapnya memperjelas, kemudain ia berbaring miring menatap suaminya dengan menjadikan dada suaminya sebagai bantal.



“Berarti kalau gemas, aku dicium dong”, Naz malah mancing- mancing.


“Hahaha,,, tumben minta di cium,, biasanya gak mau”, Arfin bukannya mencium malah mnertawakan istrinya.


“Itu kan saat kita belum nikah,,, kalau sekarang mah kan setiap inci yang ada pada diriku semuanya adalah milikmu”, Entah apa yang merasukinya Naz sedari tadi seolah tengah merayu suaminya.


“Cie,,, mengakui ya sekarang”, Arfin terkekeh.


“Iya dong,,, “, ucapnya bergelayut manja pada suaminya, Arfin pun mengecup kening istrinya


“Aa,,,”, ucap Naz sambil memainkan jemari di dada suaminya.


“Hemmmm”. Sahut Arfin.


“Emmm,,, Aa jangan marah lagi ya sama Mami”, Naz memberanikan diri mengatakan hal yang sejak tadi ingin ia utarakan pada suaminya.


Arfin menghela nafas berat seolah ada sesuatu yang menyesakkan dada nya yang membuatnya hanya diam tanpa kata, seolah tak memperdulikan Naz yang ikut terdiam menunggu jawaban dari nya. Suasana pun tiba- tiba hening seketika, raut wajahnya nampak berubah seiring dengan hilangnya senyuman yang sejak tadi terukir di birbir manisnya.


“Sayang,,, Mami itu sangat menyayangi mu, Mami selalu memikirkan kebahagian mu, tadi tuh Mami sedih banget dan mengira Aa membencinya, Mami terus menyalahkan dirinya atas apa yang dialami Aa selama ini, jika Aa ingin membenci, Felisha lah yang lebih pantas mendapat kebencian Aa,,”, Naz kembali berbicara karena ia tak kunjung mendapat sahutan dari sang suami.


“Walau bagaimana pun akar dari permasalahan itu berasal dari Mami,, coba saja kalau Mami gak ada niatan menjodohkan Felisha dengan ku,, pasti semua ini tak akan terjadi”, Arfin pun akhirnya buka suara.


“Aa,,, mungkin saat itu Mami menilai kalau Felisha wanita yang baik dan pantas untuk Aa,, karena setiap orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya,, Jika sejak awal Mami tahu Felisha seburuk itu, tidak mungkin kan Mami mau menjerumuskan Aa dengan menikahkannya dengan Aa,,, Disini Mami juga sebagai korban, malah Mami pastinya jauh lebih tersakiti di banding Aa,, sudah mah di tipu, dimanfaatkan, anaknya pula dibuat menderita selama bertahun- tahun... “, Naz menghela nafas sejenak.


“Bunda pernah bilang, jika anak disakiti maka orang tua akan merasa jauh lebih sakit, dan itulah yang kini dirasakan Mami setelah mengetahui semua kebenaran itu,, Aku harap Aa gak benci sama Mami, karena itu akan menambah rasa sakit di hatinya,, Aa juga pasti sangat menyayangi Mami kan? Aku yakin Aa juga gak mau membuat Mami sedih…. Yang lalu biarlah berlalu,, karena masa lalu tidak bisa diubah,, lebih baik kita ambil hikmahnya dari kejadian yang telah kita lalui,,, Mami pernah bilang kalau dari dulu mami lebih memperhatikan Bang Evan dibanding Aa,, tapi setelah kejadian itu Mami justru lebih memprioritaskan Aa dan lebih dekat dengan Aa, bukan ?”, ucapnya panjang lebar.


Arfin kembali terdiam seolah tengah merenungkan perkataan istrinya, ia kemudian mengusap- usap kepala istrinya sambil mengulas senyum di bibir nya. Betapa merasa beruntungnya ia memiliki istri yang jauh lebih muda namun bisa berpikir jauh lebih dewasa dari dirinya sementara ia terkadang bertingkah kekanak- kanakan, juga istrinya ini begitu memahami serta memperdulikan dia dan juga keluarganya.


Semilir angin malam berhembus seolah mengayunkan bibir mata untuk menutup dan membawa sang empunya untuk menenggelamkan diri ke alam mimpi. Arfin yang terbuai dalam lamunan perlahan memejamkam kedua matanya, entah undangan dari mana rasa kantuk pun tiba- tiba datang tanpa permisi.



Naz yang mendengar suara nafas beraturan, mengangkat kepalanya untuk memandang wajah suaminya dan benar saja dugaannya ternyata suaminya itu tertidur. Naz pun kembali membenamkan wajah pada dada suaminya, ia pun ikut tertidur.


Semakin malam udara semakin dingin, Arfin pun tersadar seolah tak menyadari jika ia tertidur, kalau kata orang Sunda mah itu namanya “Ngalenyap”.



Ia melihat istrinya pun tertidur, ia bangun dengan perlahan agar tak mengusik tidur sang bidadari cantiknya itu. ia menggendong istrinya dan membawanya ke kamar untuk melanjutkan tidur mereka.

__ADS_1


***


Keesokan harinya sejak subuh para wanita sudah mulai disibukan dengan acara rias merias. Padahal yang akan menikahnya saja santai walau sebenarnya degdegan, namun Mama dan tante- tentenya Naz yang menginap di sana yang pada rempong. Belum lagi ada yang mencari setrikaan karena pakaian suami nya belum di setrika atau kembali kusut setelah dilipat di dalam tas dan lupa tidak digantung di dalam lemari, padahal kemarin mereka memiliki banyak waktu luang. Belum lagi yang mencari sepatu ada yang hilang sebelah karena di simpan dengan sepatu yang lainnya, entah terlempar entah tertukar entah lupa nyimpen. Belum lagi yang di rias minta dipakaikan bulu mata anti badai sedangkan penata riasnya hanya membawa bulu mata standar untuk pesta, dasar emak- emak emang suka riweuh sampai tidak meperdulikan para suami yang untungnya mereka tidak minta di rias pula.


Tahapan demi tahapan dalam acara pernikahan Raline dan Arsen berjalan dengan lancar dan mengharukan, lain halnya dengan Arfin, Arsen justru bisa mengucapkan akad nikah dengan benar dan lancar hanya dengan sekali latihan saja. Setelah akad dilanjut pada resepsi, pengantinnya pun hanya sekali ganti baju saja, saat akad dengan pakaian adat sunda, dan saat resepsi dengan gaya modern.


Acara pun berakhir pada jam dua siang, selain karena tamu undangannya sedikit hanya tetangga, kerabat dan teman dekat saja, Raline yang sedang hamil muda sering merasa cepat lelah menjadi salah satu alasannya juga untuk segera turun dari pelaminan. Ia didampingi oleh Naz dan Mama nya berjalan menuju kamar nya.


“Naz,,, aku boleh pinjam charger gak? Charger ku rusak,, ponsel kita sama kan, chargernya pasti sama juga”, Raline minta tolong.


“Oh,, oke,, aku ambil dulu ya ke kamar ku”, Naz pun beranjak ke kamarnya yang berada di lantai dua untuk mengambil charger miliknya, dan ia kembali ke kamar Raline untuk memberikannya.


**


Hari mulai sore, para tamu dan kerabat pun sudah pada pulang dan kini penghuni rumah yang nampak kelelahan pun bisa beristirahat di kamar masing- masing, termasuk Naz dan Arfin.


Naz yang sudah selesai mandi dan berganti pakaian malah berbaring di tempat tidur, sedangkan Arfin berbaring di kursi sambil memainkan ponselnya.



“Sayang,,,, “, panggilnya.


“Hemmm,,,”, Sahut Naz.


“Aa keluar sebentar ya,, ini katanya mobil Hardi mogok setelah nganterin Opa sama Oma,, Aa mau nyamperin ke sana”, Arfin melapor sebelum pergi.


“He em,,,”, Naz nampaknya sedang malas bicara karena sedang kelelahan hanya he em he em saja, Arfin pun mengambil jaket dan kunci mobilnya, lalu beranjak pergi untuk menjemput Hardi.


**


Sudah malam dan Arfin pun belum kembali, padahal ia bilang hanya akan pergi sebentar, dan itu membuat Naz merasa cemas dan gelisah, ditambah baik nomor suaminya atau pun Hardi, kakak nya sama- sama tidak aktif. Hingga menimbulkan pikiran bahwa Arfin sedang menemui Felisha. Naz hanya bisa mondar mandir di kamarnya menunggu suaminya yang tak kunjung datang. Akhirnya jam sembilan malam ia mendengar ada suara mobil masuk ke halaman rumah, dan saat ia intip ternyata itu mobil suaminya.


Ceklek ,,, Arfin membuka pintu kamar kemudian masuk dan melihat istrinya tengah duduk di kursi sambil memainkan ponsel


“Katanya sebentar,,, kok jam segini baru pulang?”, ucap Naz tanpa menoleh pada suami ya.


“Hehehe,,, maaf sayang,,, tadi mobilnya dibenerin montir tapi tetep mesinya mati, jadi nunggu mobil derek, dan lama,, eh pas pulang, Hardi ngajak makan dan ternyata ia malah memanggil Bang Evan juga Dandy,, malah ngumpul dan keasyilan ngobrol sampai lupa waktu,, maaf ya sayang”, Arfin menghampiri Naz.


Naz berdiri lalu ia mencium bau sesuatu dari suaminya, ia terus mengendus- endus mendekat ke wajah suaminya, “Ihhh,,, abis makan duren ya?”.


“Iya,,, tadi Dandy bawa satu cup besar durian montong yang udah dikupas, katanya dikasih mertuanya”.


“Emmm,,, enak ya,,,”, Tanya Naz dengan tatapan kesal.


“Ya enak dong,, dagingnya tebal dan rasanya manis banget”, ucapnya membuat Naz hampir ngeces membayangkannya.


“Kenapa gak bawa buat aku sih? Kan dari dua hari yang lalu aku pengen duren”, Naz menggerutu kesal.


“Orang dimakan berempat aja habis, sayang,,”, ucapnya yang baru sadar kalau istrinya pernah merengek pengen duren,


“Maaf sayang,, Aa lupa,,, yaudah sini,,,”, Arfin mendekat pada tubuh Naz lalu ia membuang nafas pada hidung Naz, hoahhh... “Noh bau nya aja,,, hahaha”, Arfin langsung ngacir ke kamar mandi sebelum istrinya marah.


Naz yang merasa kesal kemudian menggerutu, “Awas kau ya,, tunggu pembalasanku”, Naz kemudian naik ke tempat tidur, berbaring lalu selimutan.


Arfin yang sudah selesai dari kamar mandi kemudian mengganti pakaiannya dengan piama, lalu naik ke atas ranjang ikut berbaring bersama istrinya yang membelakanginya karena tidur menyamping ke arah sisi tempat tidur.


Arfin menarik selimut Naz, kemudian ia mendekat dan memeluk istrinya dari belakang. Ia meraba- raba tubuh istrinya.


“Sayang,, main yuk”, bisiknya.


“Apaan sih,,, yang nikah siapa yang mau malam pengantinan siapa ini mah, aku capek banget ahhh...”, Naz menolak.


“Ayok donk,, kan kemarin malam enggak, si ujang udah kangen ini sama si imut”, Arfin terus membujuk rayu.


“Aku ngantuk ahh,,, nanti gak bisa menikmati”, Naz beralasan.


“Biar Aa aja yang bekerja, kamu merem aja juga gak apa- apa kok”, Arfin tak menyerah.


“Aaaahhh,,, aku lagi malas mendesah”, Naz memberi alasan aneh.


“Gak usah mendesah, Yank,,, diem aja juga gak apa- apa kok”, Arfin pantang menyerah.


Naz mengubah posisi tidurnya menyamping ke arah suaminya sehingga tubuh keduanya saling berhadapan, Naz tersenyum lalu memasukan tangan kanan ke dalam celananya, kemudian ia mengeluarkan tangannya kembali dalam posisi mengepal. Naz mengangkat tangannya dan membuka kepalan tangannya tepat di wajah suaminya seolah sedang memberikan semburan gas kentut.


Wushh,,,, “Noh,, bau nya aja,,, “, Naz kemudian menarik kembali selimutnya dan membalikan badannya lagi ke posisi awal sambil menahan tawa.


Arfin tertegun melihat kelakuan istrinya itu,


"Yank kok gitu sih, baunya aja mana enak", Arfin mengeluh.


"Emangnya duren enak apa dikasih baunya doank... inget ya soal hukuman kalo bikin aku sedih, si Ujang yang kena imbas....",ucap Naz dengan santainya sambil merem.


"Sial,,,, gara- gara durian jadi gak dapat jatah ,,,, nasib.... yang sabar ya Ujang ",Arfin menggerutu dalam hati dan menatap iba pada si ujang yang sudah bangun dari semedinya.


----------------- TBC ---------------


***************************

__ADS_1


Happy Reading...😘🤩


__ADS_2