Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Ganti Nama Kamu !!!


__ADS_3

Naz yang merasa terkejut mendengar nama suaminya disebut oleh Mama nya yang sedang berbicara lewat sambungan telpon hingga beliau mengatakan ruang ICU segala, tanpa sengaja menjatuhkan tas nya. Sontak itu membuat Bu Rahmi yang mendengarnya segera membalikan badannya dan melihat ke arah Naz yang berdiri d depan pintu dengan membekap mulutnya.


“Suamiku kenapa, Ma?”, Naz berbicara diiringi air mata yang jatuh membasahi pipinya, Bu Rahmi yang juga terkejut hanya diam saja,


“Ma,,,jawab,,, suami ku kenapa?? Apa terjadi sesuatu dengannya?? Kenapa Mama bilang ruang ICU segala? “, Naz yang terisak terus melontarkan pertanyaan.


Bu Rahmi segera menghampiri Naz lalu menggenggam kedua tangan putrinya, “Sayang,,, kamu tenang dulu ya,,, ayok kita duduk dulu”.


Naz melepaskan genggaman tangan Mama nya, “Mama jawab dulu,,, suamiku kenapa?? Apa yang terjadi dengannya?? hiks hiks”.


“Sayang,,, kamu tenang dulu ya, ingat sama bayi mu,,, “.


“Gimana aku bisa tenang Ma, kalau Mama belum jawab pertanyaan ku,,”.


“Ayok ikut Mama,,, kita duduk dulu,, nanti Mama akan jelaskan”, Naz pun akhirnya bersedia diajak duduk di atas tempat tidur Bu Rahmi, keduanya duduk bersebelahan dengan sedikit berjarak. Bu Rahmi menghadap ke arah Naz, ia kembali memegang tangan anaknya. Bu Rahmi menghela nafas berat,


”Sayang,, sebenarnya Mama datang ke sini karena mertua mu menghubungi Mama dan bilang kalau Arfin masuk rumah sakit,,,”.


“Apa??? Masuk rumah sakit?”, Naz kembali terkejut, air mata pun semakin tumpah.


“Iya,,, nak”.


“Dia sakit apa Ma…? kemarin pagi dia baik- baik saja kok...hiks hiks".


“Kemarin sekertaris nya menghubungi Jeng Hinda dan bilang kalau Arfin pingsan dan dibawa ke rumah sakit setelah ditangani oleh dokter klinik kantor, dia bilang Arfin kehilangan banyak cairan karena terus muntah- muntah sejak pagi hingga siang, tapi tidak masuk makanan apa pun,,”, Bu Rahmi menjelaskan.


“Apa??? Kenapa kalian gak ada yang ngasih tahu aku? aku ini istrinya, Ma,,, hiks hiks”.


“Sayang,,, Arfin sangat mengkhawatirkan mu dan calon anak kalian,, makanya ia meminta sekertaris nya menghubungi Jeng Hinda dan melarangnya memberitahu mu,, dia tidak mau kalau sampai kamu kepikiran atau kecapek- an, karena dia tahu pasti kamu akan merawatnya di rumah sakit kalau tahu tentang hal ini,,, makanya dia pura- pura ke luar kota”.


“Terus sekarang gimana keadaannya, Ma?”, Naz semakin khawatir.


“Jeng Hinda bilang Arfin masih harus dirawat, karena setiap ia diberi makan pasti kembali muntah- muntah,, ia hanya bisa masuk minum saja, makanya ia masih harus di infus”.


“Pantas saja dari kemarin perasaan ku gak enak,, semalaman aku terus gelisah,,, ternyata suamiku sakit,,, hiks hiks…. ", Naz kini tahu alasan kegelisahannya.


"Ayok kita ke sana Ma,, aku pengen lihat keadaannya,,,”, Naz kemudian bangkit dan menarik tangan Mama nya untuk mengajak beliau pergi.


“Kenapa Mama diam saja,,,? ayok kita ke rumah sakit,,, hiks hiks”, Naz yang semakin khawatir ingin segera menemui suaminya.


“Iy iya sayang,,, tapi kamu tenang dulu ya,, jangan panik kayak gini,,, kalau kamu belum tenang Mama gak akan mengajak mu pergi ke sana,, kasihan bayi mu Nak,, udah yaa,, jangan nangis lagi ya,,,”, Bu Rahmi berusaha menenangkan Naz.


Naz pun mengangguk, lalu ia menghapus air matanya dan menghela nafas panjang berkali- kali untuk menenangkan dirinya. Setelah terlihat tenang Bu Rahmi mengantarkan Naz ke kamar nya.


“Kamu ganti baju mu dulu ya, Mama mau ke dapur menyiapkan makanan untuk suami mu,,, siapa tahu kalau masakan rumah dia mau makan,,, mungkin ia tak suka dengan makanan rumah sakit”, Bu Rahmi beranjak meninggalkan kamar Naz, lalu ia pun segera berganti pakaian.


Keduanya kini telah siap berangkat, Bu Rahmi membawa rantang susun yang berisi beberapa masakannya juga membawa satu cup buah yang sudah dipotong. Mereka pergi diantarkan oleh Pak Tejo.


Selama di perjalanan, Naz hanya diam saja, namun air matanya terus bercucuran. Ia sangat mengkhawatirkan suaminya, apalagi saat ia teringat Mama nya mengatakan ruang ICU, pikirnya Arfin sakit parah. Melihat hal itu, Bu Rahmi terus menenangkan dan meyakinkan Naz bahwa suaminya baik- baik saja. Beliau terus memeluk putrinya dengan terus mengusap- usap kepalanya.


Sesampainya di rumah sakit, Naz yang sudah berhenti menangis berjalan bersama Mama nya menuju kamar tempat Arfin di rawat yang sebelumnya sudah diberitahukan oleh Bu Hinda. Saat hendak sampai, mereka berpapasan dengan Om Aji dan Tante Ina yang baru keluar dari kamar tersebut, mereka pun bertegur sapa dan hal itu membuat Naz semakin sedih, karena ternyata ia sebagai istrinya adalah orang terakhir yang tahu jika suaminya sedang sakit.


Naz dan Bu Rahmi masuk ke dalam ruangan tersebut dan mengejutkan Bu Hinda serta sekertaris Arfin, Dilara beserta Lutfi yang ada di ruangan tersebut. Bu Hinda bermain mata dengan besannya seolah mempertanyakan kehadiran Naz di sana. Namun, Naz tidak memperdulikan kehadiran mereka yang tengah duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut dan melewati mereka begitu saja, karena yang ia inginkan hanyalah segera bertemu dengan suaminya. Ia pun langsung berjalan menuju ranjang tempat dimana Arfin berbaring.


Langkahnya semakin terasa berat dikala ia melihat suaminya terbaring lemah, air matanya kembali bercucuran. Hatinya terasa semakin remuk saat ia melihat jelas wajah pucat suaminya yang tengah tidur itu.


Naz yang masih berlinang air mata, membungkukkan tubuhnya lalu mencium pipi suaminya, ia kemudian ia duduk di kursi yang ada di sebelah ranjang tersebut.


Suara isak tangis nya mampu mengusik tidur sang suami. Perlahan Arfin membuka matanya, tatapannya tertuju pada orang yang menangis itu. Beberapa kali ia mengedipkan matanya, seolah ia merasa bermimpi bertemu dengan sosok wanita yang sangat dicintainya, mungkin karena saking sangat merindukannya, pikirnya. Namun air mata yang jatuh membasahi tangannya membuatnya tersadar bahwa itu bukan mimpi atau khayalannya semata, dan wanita yang tengah mengandung anaknya itu benar- benar terpampang nyata di hadapannya.


Rasa terkejut dan bahagia menjadi satu, ia terkejut dengan kehadiran Naz, karena sejak kemarin ia merahasiakan tentang kondisinya dari istrinya itu. Bahagia,, karena akhirnya bisa melihat wanita yang sangat ia rindukan sejak kemarin, bahkan yang membuatnya tidak bisa tidur semalaman karena tak bisa bertemu bahkan hanya mendengar suaranya pun tak bisa. Ia lupa jika istrinya ini sangat cerdik, apa pun yang ia sembunyikan, pasti bisa segera diketahui oleh istrinya itu.


“Sayang,,, kamu jangan menangis seperti itu,, Aa belum meninggal,, Aa masih hidup kok”, Arfin yang masih lemas berusaha terlihat baik- baik saja, walau dari suaranya ia terdengar dalan kondisi lemah.


“Huhuhuhuu,,,, “, Naz malah semakin menangis.


“Ehhh,,,, kok malah makin nangis,,, kasihan kan nanti anaking ikut sedih ", suaranya yang lemas semakin membuat Naz sedih.


“Kenapa Aa bicara seperti itu, aku gak mu terjadi sesuatu sama Aa, apalagi kalau sampai meninggal…. Hiks hiks”.


Arfin malah tersenyum mendengar hal itu, “Ternyata sebegitu cintanya kamu sama Aa,, sampai gak mau kehilangan Aa ya”.


“Bukan begitu,,, hiks hiks,,, sejak kecil aku tidak pernah bercita- cita menjadi janda,, apalagi janda muda dalam keadaan hamil begini, orang- orang kan selalu menilai negatif pada janda muda yang katanya lebih menggoda,,, huhuhu”, Naz dalam keadaan sedih masih bisa mengisengi suaminya.


Senyuman Arfin seketika luntur, “Jadi seperti itu pemikiran mu,,, tidak perduli dengan suami mu ini, hem?”.


“Aku gak peduli,, biarin aja Aa mau sakit juga,, orang Aa juga gak nganggap aku ini istrimu,, buktinya saja Aa lagi sakit bukannya ngasih tahu aku, malah ngasih tahu Mami sama Mama,, dan aku malah jadi orang yang terakhir tahu,,, hiks hiks,,”, Naz masih merasa kecewa karena Arfin merahasiakan sakitnya.


Arfin kembali tersenyum melihat istrinya yang sedang merajuk itu, “Maaf sayang,,, Aa gak mau kalau kamu sampai khawatir dan kepikiran, Aa juga gak mau membuat mu dan anaking sedih,, makanya menyembunyikan hal ini,,, udah ya jangan nangis lagi”.


“Aa juga udah jangan ngomong lagi kalau masih lemas gitu,,, hiks hiks”.


Bu Hinda menghampiri Naz, “Naz,, udah ya jangan nangis lagi,, kasihan tuh suami mu sedih melihat mu seperti ini,, kasihan juga cucu Mami yang di dalam perutmu juga bisa ikutan sedih,, Arfin baik- baik aja kok,,”, ucapnya mengusap punggung Naz.


“Kalau baik- baik aja kenapa tadi Mama bilang soal ruang ICU saat lagi telponan sama Mami,,,hiks hiks?” .


“Arfin baik- baik saja,, hanya saja dia tidak bisa makan apa pun,, karena setiap makan pasti dimuntahkan lagi,,, dokter bilang kalau masih tidak bisa masuk makan terus dan kondisinya semakin melemah,, nanti dia akan dirawat di ruang ICU,, dan maaf yang kemarin ngirim pesan ke kamu itu Mami, tapi Arfin yang minta karena dia tak bisa mengetik pesannya dan jika menelpon mu ia takut kamu khawatir mendengar suaranya yang lemas”.


“Jeng,,, mungkin Arfin gak suka sama makanan rumah sakit,,,”, Bu Rahmi menduga.


“Tadi juga sudah beli makanan dari luar, bahkan buah pun tetap dimuntahkannya”, ucap Bu Hinda.

__ADS_1


“Aku udah bawakan masakan rumah,, siapa tahu dia bisa makan”.


“Sini Ma,, biar aku aja yang suapin”,ucap Naz sambil sesenggukan, lalu ia menghapus jejak air matanya dengan tisu basah yang diambil dari dalam tas nya.


“Bentar , Mama siapkan dulu ya di piring”, Bu Rahmi kembali ke meja tempat beliau menaruh rantang makanan yang dibawanya tadi.


“Gak usah sayang, Aa gak mau makan, lagian percuma nanti juga keluar lagi,, bukannya bertenaga malah makin lemas”, Arfin menolak makan padahal dia terlihat sangat lemas dan pucat.


“Dicoba aja dulu,, siapa tahu Aa gak mual lagi kalau makan masakan rumah”, bujuk Naz.


“Iya Al,, dicoba dulu ya,, dari kemarin kamu gak masuk makanan sama sekali, Al”, Bu Hinda ikut membujuk..


“Enggak ,, Mi,,, “, Arfin tetap menolak.


“Yaudah Mi,, biarin aja kalau dia gak mau makan gak usah dipaksa,, dia juga gak akan peduli sama aku dan anaking yang kelaparan,,”, Naz yang masih sesenggukan mengeluarkan jurus terjitu nya.


“Maksudnya? “, tanya Arfin heran.


“Kalau Aa gak mau makan,, aku juga gak akan mau makan,, gak akan minum vitamin,, gak akan minum susu,,,”, Ancaman pun segera dikeluarkannya.


“Sudah Al,, sebaiknya kamu coba dulu makan,,, emangnya kamu tega nanti istri dan calon anak kalian kelaparan?”, Bu Hinda mendukung muslihat menantunya.


“Baiklah,,, Al mau makan", akhirnya menyerah.


Naz yang sebenarnya ingin memperlihatkan senyuman kemenangan, menahan diri dengan berpura- pura merajuk, agar suaminya percaya dengan perkataannya. Ia pun menerima sepiring makanan yang sudah disajikan Bu Rahmi yang diserahkan padanya. Sementara Bu Hinda membantu Arfin bangun untuk duduk, beliau pun menekan tombol remot ranjang untuk mengubahnya supaya bisa dijadikan sandaran Arfin duduk.


Kemudian beliau mengambil kantong kresek yang sebelumnya ia sediakan jika Arfin kembali muntah.


Naz mulai menyendok makanannya lalu hendak menyuapkannya pada sang suami, “Bismillahirrahmanirrahim,,, aaakk”, Arfin yang sudah membaca doa pun mulai memakan makanan suapan pertama nya. Bu Hinda dan Bu Rahmi nampak harap- harap cemas terus memperhatikan Arfin yang sedang mengunyah makanannya, takutnya ia akan kembali memuntahkannya lagi.


Glek,,,


Terdengar suara Arfin menelan makanannya,, suapan pertama aman,,, Naz kembali menyuapinya, suapan kedua masih aman, namun saat suapan ke tiga, Arfin memegang dada nya.


“Kenapa Al? kamu mau muntah lagi?”, Bu Hinda yang sejak tadi terus memperhatikan kemudian mendekat pada Arfin yang malah berdehem, dan Bu Hinda memberikan kantong kresek tersebut pada Arfin.


“Seret Mi,, Al minta minum bukan minta kresek”, ucapnya dan Bu Hinda pun dengan segera mengambilkannya minum.


Arfin minta berhenti makan karena takut mual muntah lagi, namun Naz terus memaksanya makan supaya bisa cepat sembuh demi dirinya dan juga anaking. Akhirnya Arfin pun bersedia melanjutkan makannya, dan ternyata ia bisa menelan makanan yang disuapkan oleh Naz sampai habis tanpa kembali memuntahkannya.


“Alhamdulillah,,, “, Bu Hinda dan Bu Rahmi mengucap syukur, karena akhirnya Arfin bisa makan setelah dua hari tak bisa masuk makanan apa pun.


“Ternyata benar ya Jeng,, Arfin pengen masakan istrinya”, Bu Hinda merasa lega dan senang.


“Mama yang masak ,Mi,,, bukan aku,,, soalnya anak Mami ini semenjak tahu aku hamil selalu melarang ku memasak,, “, Naz melirik pada suaminya.


“Berarti Arfin itu emang pengen masakan rumah, Jeng”, ucap Bu Rahmi yang ikut senang melihatnya, “Yasudah nanti aku masakin lagi untuk makan Arfin”, tambahnya lagi.


“Jangan Jeng,,, biar aku saja,, kasihan nanti Jeng kecapek-an,, lagian gak enak, masa terus merepotkan Jeng”, Bu Hinda merasa sungkan.


“Itu mah pengen disuapin sama Istrinya, Bu”, Lutfi tiba- tiba nyamber.


“Kamu benar Lutfi, saking kangennya,,”,Bu Hinda mengamini.


“Sekarang kan Pak Bos udah mulai membaik, aku dan Dilara kembali ke kantor ya Bu,, kalau ada apa-apa atau butuh bantuan kami, Ibu langsung hubungi kami saja”.


“Iya,, terimakasih banyak ya”, ucap Bu Hinda.


“Kami permisi Bu, Tante,,, kita pamit Bozz, Bumil", Lutfi pamit pada semua orang.


“Cepet sembuh ya,, kasihan tuh Bumil nya sedih kalau Papa nya utun sakit”, Ucap Dilara..


“Thanks ya bro.... Anakku gak dipanggil utun, Dilara,, tapi dipanggil anaking”, Arfin mengoreksi ucapan Dilara.


“Woww,,,, anak raja,, oh iya Pak,, aku udah dapet bodyguard merangkap sopir yang Bapak minta,,”, ucap ya lagi.


“Iya,, nanti kalau aku sudah sembuh, suruh dia ke kantor menemui ku”.


“Ashiapp… kita balik ke kantor dulu ya,,, cepat sembuh ya Pak,,”.


“Terimakasih,,, “, ucap Arfin.


“Mari Bumil,, Duo Tante,, aku pamit ya”.


“Iya Kak,,, terimakasih…”, ucap Naz tersenyum.


“Terimakasih”, Bu Rahmi dan Bu Hinda ikut berterimakasih.


Dilara dan Lutfi pun beranjak pergi meninggalkan rumah sakit untuk kembali melanjutkan pekerjaan mereka di kantor. Tak lama, Bu Hinda mengajak Bu Rahmi untuk keluar dengan alasan sejak kemarin belum menghirup udara segar, karena terus berada di dalam kamar.


Dan kini tinggalah Naz dan Arfin berdua saja di dalam kamar tersebut. Arfin kembali berbaring menyandarkan tubuhnya pada ranjang yang sudah di posisikan seperti sofa bed, ia menutup pengunci infusan sementara.


“Sini,, sayang”, Arfin meminta Naz ikut berbaring di ranjang rumah sakit yang ukurannya jauh lebih kecil dibanding ranjang di kamar mereka. Naz pun naik ke atas ranjang dan berbaring menyamping di sebelah suaminya, sehingga keduanya saling berhadapan.


Arfin mencium kening istrinya itu lalu beralih ke seluruh bagian wajah istrinya yang berakhir dengan ciuman bibir. Seusai itu, Naz mengganti posisi dengan berbaring terlentang. Arfin lalu mengelus- elus perut istrinya.


“Anaking kangen tahu sama Pagu- nya,, semalam aja gak bisa tidur,,,”, Naz melapor.


“Aa juga semalaman gak bisa tidur, terus mikirin kalian”, ucapnya yang masih mengelus perut Naz dengan tangan yang di infus.


“Mama bilang aku kayak Mama dulu waktu lagi hamil aku,, gak akan bisa tidur sebelum perut Mama dielus sama Papa,,”.

__ADS_1


“Oh,, ya,,,?? Jangan- jangan anak kita perempuan lagi”, Arfin asal tebak.


“Iya,, tapi beruntung semalam aku bisa tidur dielus sama Mama juga,,, masa sih anak kita perempuan?? Gak apa- apalah biar cantik dan baik hati serta tidak sombong juga rajin menabung kayak Magu- nya”, Naz malah menuju dirinya sendiri.


“Iya cantik dan baik hati,, asal jangan tengil”, Arfin terkekeh.


“Tengil juga harus dibudidaya kan,,, biar hidupnya berwarna,, kalau pendiam kan gak seru, yank,, kalau bukan karena ketengilan ku, kita tidak akan bertemu lagi setelah sekian tahun terpisah”, Naz teringat awal-awal pertemuannya kembali dengan Arfin sepulang dia dari Amerika.


“Tentu saja Aa tidak akan lupa dengan hal itu,, kamu melempar Aa dengan kue tart sampai kita bertemu di rumah Bunda,,", Arfin terkekeh mengingat hal itu, "Sayang, kamu tahu nggak?”, tanya nya.


“Hahaha,, Aa masih ingat aja ihh,, tahu apa? Tahu itu bulat? Tahu itu kotak? Tahu itu dari kacang kedelai?Hahaha”, Naz malah bercanda.


“Bukan ihh,,, ", Arfin menyanggah.


"Terus apa donk?", tanya Naz.


"Setelah kita bertabrakan di bandara dan komik kita tertukar,, saat di perjalanan pulang ke rumah Aa hendak membaca komik,, ehh malah melihat foto kamu,, dan tepat saat di lampu merah Aa lihat kamu lagi membantu seorang nenek menyebrang,, Sejak saat itu Aa selalu ingat sama kamu, setiap saat melihat foto mu dan selalu berharap akan bertemu dengan mu,,, dan ternyata hari dimana kamu melempar wajah Aa dengan kue tart merupakan hari keberuntungan dibalik kesialan Aa”.


“Masa sih,,, ? waktu itu aku malah gak inget- inget tuh sama Aa”, Naz menjawab polos.


“Dasar kamu tuh ya,,, “, Arfin mencium pipi istrinya yang menurutnya sangat menggemaskan kala sudah membuatnya kesal.


"Dan Aa tau.. Kak Dandy nyuruh aku mencuci kemeja Aa yang kena krim kue itu, dia bilang itung- itung belajar mencuci pakaian suamiku kelak,, ehh ternyata Aa malah beneran jadi suamiku", Naz terkekeh mengingat nya, Arfin pun tersenyum.


“Jika flashback ke belakang, ternyata takdir mempertemukan kita dengan cara yang unik ya,, mempersatukan kita dengan penuh perjuangan,, “, Arfin menghela nafas sejenak,


“Terkadang Aa masih merasa ini adalah mimpi,, bisa menikahi gadis yang pernah Aa berikan be smile kesayangan Aa untuk menghiburnya saat menangis, dan selalu bertemu dengannya saat dia menangis, sehingga Aa merasa gadis itu sangat membutuhkan Aa untuk menjadi tempat sandaran dan tempatnya berbagi kesedihan,, dengan menguatkan mu seolah memberiku cerminan jika aku juga harus bisa kuat sama seperti dirimu ”.


“Karena itulah aku sangat mencintai mu,,, Aa selalu ada setiap saat aku berada di titik terendah ku, selalu memberiku rasa aman dan nyaman saat bersama mu,,, tetaplah seperti itu, terus bersama ku mencintaiku serta menjagaku dan anak- anak kita kelak”, ucapnya menatap mata sang suami.


“Tentu sayang,, Aa akan melakukan apa pun sekuat tenaga untuk menjaga dan membahagiakan mu bersama anak- anak kita kelak,, demi kalian yang begitu berarti dan sangat Aa cintai dalam hidup Aa“


Naz kembali mengubah posisinya dengan berbaring menyamping sehingga kembali saling berhadapan dengan suaminya, ia mengusap lembut pipi suaminya,“Lain kali jangan seperti ini lagi,, Aa kan sudah janji tidak akan menyembunyikan apa pun dari ku”.


“Iya sayang,,, “, Arfin kembali mengecup kening istrinya, kemudian ia membuka pengunci infusan nya kembali, dan mereka tertidur dengan saling berpelukan di ranjang yang sempit itu.


**


Setelah itu barulah diketahui, bahwa Arfin hanya bisa makan jika disuapi oleh istrinya, karena saat disuapi oleh Mami nya, ia kembali memuntahkan makanan yang baru ia telan. Dan keesokan harinya pun Arfin sudah diperbolehkan pulang, karena ia tidak menderita penyakit apa pun, selain syndrom kehamilan simpatik.


Hari ini Naz tidak ke kampus karena masih merawat suaminya yang baru keluar dari rumah sakit, lebih tepatnya ia hanya bertugas menyuapi suaminya makan saja bahkan mereka saling suap- suapan, karena segala sesuatunya sudah dikerjakan oleh kedua ART dengan campur tangan Mama serta Mami mertuanya.


Karena Arfin yang sudah membaik, sorenya Mama dan Mertuanya Naz kembali pulang ke Jakarta dan mewanti- wanti agar Naz harus banyak istirahat dan tidak boleh melakukan banyak kegiatan di rumah, hanya bertugas menyuapi dan ngelonin suaminya saja, pekerjaan lainnya akan dilakukan oleh kedua ART di rumah nya.


**


Keesokan harinya, Arfin sudah benar- benar sehat dan sudah bisa kembali masuk kerja, Naz pun kembali ngampus karena kegiatan ospek nya belum selesai.


Saat sarapan Arfin meminta Naz makan lebih dulu, setelah itu barulah menyuapinya. Dan begitulah saat makan siang, Arfin datang ke kampus Naz, keduanya makan di dalam mobil di parkiran kampus dengan makanan yang sudah dibawakan Arfin yang sebelumnya sudah dipesankan oleh sekertaris nya. Ia merasa malu jika makan diluar dan takut ditertawakan orang karena ia makan disuapi oleh istrinya.


Hari ini Naz pulang lebih cepat, pukul setengah tiga kegiatan pun sudah selesai, ia dijemput oleh sopir dan bukannya pulang, tapi ia malah ke kantor suaminya.


Ceklek ,,,


Naz langsung membuka pintu dan masuk ke ruangan suaminya tanpa mengetuk.


“Saya sudah sering bilang kalau masuk ketuk pintu dulu”. Ucap Arfin dengan nada tegas tanpa menoleh.


“Jadi ibu negara juga harus ketuk pintu dulu kalau mau masuk ke ruangan suaminya?”, Naz berjalan menuju meja kera suaminya.


Arfin terkejut mendengar suara istrinya yang berbicara, ia langsung mengarahkan pandangannya pada Naz dan kemudian berdiri untuk menyambut kedatangan istrinya itu,


“Maaf sayang,, Aa kira staff di kantor ini,,, tumben udah pulang jam segini?? kok gak bilang mau ke sini hem?”, ucapnya lalu mencium kening sang istri sambil mengelus perutnya, Naz pun kemudian mencium tangan suaminya.


“Anaking pengen ketemu sama Pagu- nya”, ucap Naz malu- malu.


“Hmmm,, alasan saja,, bilang saja kamu yang kangen,, “, Arfin membungkukkan tubuhnya, lalu mencium perut istrinya.


Tok tok tok…


terdengar suara ketukan pintu, Arfin pun kembali menegakkan tubuhnya.


“Masuk…”, seru Arfin.


“Maaf Pak,, ini sopir pribadi untuk Ibu Naz yang saya bicarakan tempo hari, kemarin Pak Lutfi sudah menerimanya setelah di interview, ini kontrak kerjanya beserta data diri nya”, Dilara datang bersama seorang pria lalu menyerahkan dokumen pada Arfin.


“Kamu yakin dia ini bisa ilmu bela diri? Kok gak meyakinkan sih? Kurus begitu? Lutfi apa-apan itu main terima saja, saya belum Acc juga”, Bisik Arfin pada Dilara.


“Tenang Pak,, sudah diuji coba,, emang Bapak gak lihat memar di wajah Pak Lutfi?”, Dilara membalas bisikan bosnya.


"Ekhem.... ", Naz berdehem melihat dua orang yang berbisik-bisik tetangga itu, membuat keduanya melihat ke arah Naz yang nampak kesal.


"Oke,,, Dilara... berarti bagus ya dia bisa mengalahkan si Lutfi kampret itu”, ucapnya tersenyum puas, ia mengajak Naz duduk di kursi tamu yang ada di ruangan kerjanya, Dilara pun mengajak serta pria itu duduk di kursi tamu yang berhadapan dengan kursi yang diduduki Arfin hanya terhalang oleh meja.


“Siapa nama kamu?”,tanya nya lalau membuka dokumen yang diberikan Dilara.


“Ujang, Pak”, jawab pria itu yang membuat Arfin terkejut, ia kemudian beradu pandang dengan istrinya yang sama- sama terkejut. Namun Naz nampak menahan tawanya karena nama panggilan milik suaminya ternyata sama dengan nama orang yang akan menjadi pengawal serta sopir pribadinya.


“Ganti nama kamu,,,, !!”, Arfin mengeluarkan perintah dengan nada tegas, karena ia tak mau jika istrinya akan memanggil orang itu dengan panggilan kesayangan sang istri pada jagoan miliknya.


--------------- TBC -----------------

__ADS_1


****************************


Happy Reading.....😘😘


__ADS_2