Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Naz, Kau Benar -Benar Gadis Pengacau ku


__ADS_3

Arfin POV


Flashback


Ku perhatikan tanah lapangan lumayan cukup luas jika untuk dijadikan beberapa ruangan kelas yang lebih layak digunakan untuk belajar dan mengajar. Aku memberanikan diri menanyakan tentang tanah lapangan itu kepada RT setempat, dan ternyata itu adalah tanah hibah dari seseorang untuk kepentingan umum. Aku meminta alamat pemilik tanah itu, dan dengan susah payah akhirnya beliau mau memberikannya. Tanpa pikir panjang aku menemui pemiliknya dan memaksanya untuk ku beli, tentunya beliau menolaknya karena sudah menghibahkan tanah itu. Setelah membujuknya beberapa kali akhirnya beliau setuju untuk menjualnya dan hasil penjualannya ia berniat menyumbangkannya untuk pembangunan masjid.


Hari itu seusai rapat di kantor aku mengambil ponselku yang ku tinggalkan karena yang sedang di charger di ruangan ku, saat ku buka terdapat beberapa panggilan di sana, dan salah satunya panggilan dari Naz, saat aku berniat menelpon Naz, tiba- tiba ada panggilan masuk.


“Hallo, assalamualaikum Pak Al ”, Suara pria diseberang sana.


“Wa'laikunmsalam,,,ada apa Pak Hasan, apakah ada masalah di proyek?”, Tanyaku.


“Proyek aman terkendali Pak, hanya saja tadi ada seseorang yang mencari Pak Al kesini”, Pak Hasan memberi laporan lain rupanya.


“Siapa Pak ?”, Tanyaku heran.


“Itu loh Pak anak gadis yang waktu itu bersama ketiga anak kecil yang bertabrakan dengan kita di proyek,,, Ah iya Pak, saya ingat tadi dia memperkenalkan dirinya namanya Rheanazwa kalau tidak salah Pak”, Pak Hasan menjelaskan.


“Naz, ada apa dia ke sana Pak? ”, Aku terkejut mendengarnya.


“Saya kurang tahu Pak, hanya saja tadi dia mencari- cari Pak Al kesini sambil menangis seperti orang kebingungan, sekitar dua jam yang lalu Pak”.


“Naz, menangis”.Gumamku.


Saat aku mendengarnya aku langsung menutup teleponnya dan bergegas pergi meninggalkan kantor untuk mencari Naz. Aku benar- benar khawatir padanya, ada apa lagi dengannya hingga dia sampai menangis dan kebingungan seperti itu. Aku terus mencoba menghubungi Naz, namun nomornya tidak aktif, berkali- kali ku hubungi kembali, namun hasilnya sama. Aku melajukan mobilku dengan penuh rasa cemas.


”Apa yang terjadi dengannya, apa ada yang menyakitinya lagi, apa ada yang berbuat jahat padanya” Pikiran negatif terus memenuhi otaku. Apalagi saat mobilku terhenti di lampu merah, rasanya aku ingin menghancurkan lampu lalu lintas itu yang sudah mengganggu perjalananku. Waktu terasa berjalan melambat sedangkan perasaanku dipenuhi kekhawatiran memikirkan keadaan Naz yang bahkan aku pun tidak tahu keberadaannya dimana.


“Tenang Arfin, tenangkan dirimu” ucapku mencoba menenangkan diri sendiri, tiba- tiba aku teringat untuk menghubungi Bunda. Ternyata Bunda bilang kalau Naz pergi ke teras belajar dan masih belum pulang. Akhirnya aku memiliki arah tujuan untuk mencari keberadaan Naz, setelah beberapa saat aku sampai di sana, aku keluar dari mobil dan berjalan dengan cepat meski terpincang- pincang. Hatiku merasa teriris melihatnya sendirian di teras belajar duduk menunduk memeluk kedua kakinya dengan mengeluarkan suara isak tangisnya. Ku hampiri perlahan dan duduk di hadapannya, sepertinya dia tidak menyadari kehadiranku


”Naz” ucapku dengan nafas yang masih terengah- engah.


Dia mengangkat kepalanya dan melihat ke arah ku “Kak Arfin, hiks hiks” Ternyata dia masih menangis, wajahnya sembab dan matanya mulai membengkak. Ya Tuhan, berarti sudah dua jam lebih dia menangis sendirian disini. Dada ku rasanya sesak sekali, kenapa tadi ponselku harus habis baterai segala, jika tidak aku sudah datang sejak tadi.


“Kamu kenapa Naz, apa ada yang jahatin kamu” Tanyaku khawatir.


“Mana ada ,, kalo ada yang jahatin aku, tinggal aku hajar aja” Naz menjawab di sela- sela tangisannya. Aku pun merasa sedikit tenang mendengar jawabannya, apalagi semakin diajak bicara dia semakin melantur malah membahas soal tanah dan aku pun malah menjawab ngasal supaya mencairkan suasana. Karena terdengar suara perut Naz yang keroncongan dan aku pun belum sempat makan siang usai rapat tadi, kami pun pergi makan ke sebuah kafe. Belajar dari kejadian yang lalu, aku meminta Naz menghubungi Bunda kalau dia pulang terlambat pergi bersamaku menggunakan ponselku karena ponsel Naz kehabisan baterei, sementara aku pergi ke toilet.


Saat aku kembali Naz terlihat kaget memperlihatkan dan mempertanyakan video permintaan maaf terbuka keponakan Pak Haris yang ada di ponselku, dan aku pun menjelaskannya. Ku pikir dia akan marah padaku karena mencampuri urusannya, ternyata dia malah berterima kasih padaku dan memegang kedua tanganku. Sentuhannya bagaikan sengatan listrik yang merambat dan mempercepat debaran jantungku, mata kami pun saling bertatapan untuk beberapa saat. Mungkinkah dia merasakan perasaan yang sama denganku?.

__ADS_1


Seusai makan Naz menceritakan penyebabnya menangis, dan ternyata aku lah yang menyebabkannya menangis, Ya Tuhan apa yang sudah ku lakukan. Dia sedih karena ada yang membeli tanah lapangan beserta tanah teras belajar, saat ku beri tahu akulah orangnya dia sempat marah padaku, memalingkan dirinya dari ku, namun setelah ku jelaskan segalanya dia begitu senangnya sampai dia memelukku dengan erat dan sangat sulit dilepaskan, aku benar- benar merasa tidak karuan hingga dahi ku terus mengucurkan keringat, dan akhirnya aku bisa melepaskan pelukannya.


Tiba- tiba Naz menerima panggilan dari seseorang dan dia langsung segera akan pergi, aku pun tak membiarkannya pergi sendiri memaksa untuk mengantarnya. Naz menunjukan arah ke tempat tujuannya dan aku hanya manut saja tak banyak bertanya karena dia terlihat sangat khawatir. Sesampainya di sana Naz langsung keluar dari mobil dan tak lama datang kembali menggendong seorang anak laki- laki dan berjalan bersama seorang anak perempuan, Naz meminta ku membawanya ke rumah sakit terdekat. Setelah anak itu mendapatkan pertolongan pertama akhirnya dipindahkan ke ruang rawat inap, dan kemudian datanglah seorang ibu- ibu ke ruangan itu dan sempat berbicara dengan Naz lalu memaksa Naz untuk pulang.


Selama di rumah sakit aku tidak bertanya apa pun walau sebenarnya banyak sekali yang ingin ku tanyakan, sampai saat dijalan pulang ku


beranikan diri bertanya, dan ternyata ibu itu adalah ibu kandungnya Naz. Dia terlihat sedih dan aku berinisiatif mengajaknya ke pasar malam yang tak sengaja ku lihat di perjalanan pulang, kami pun bersenang-senang di sana.


Naz perlahan mulai menceritakan masa lalunya yang ternyata begitu menyedihkan dan amat menyesakan dada, aku tak sanggup lagi mendengarnya dan melihat Naz terus menangis, ku dekati dia ku peluk dia ku usap-usap kepalanya untuk menenangkannya. Bodohnya aku mengajaknya ke tempat pasar malam untuk menghiburnya tapi ujung- ujungnya dia berakhir menangis. Tapi setidak nya itu bisa meringankan beban yang ia pendam selama ini.


Sejak saat itu aku semakin gesit mendekatinya, walaupun intensitas bertemu sangat jarang, aku selalu menghubunginya setiap malam dengan alasan membahas soal pembangunan sekolah teras belajar. Meskipun pembangunan telah usai namun kami tetap selalu berkomunikasi, seakan ini menjadi kebiasaan bagi kami, bahkan tak jarang Naz yang akan menghubungiku lebih dulu jika ia sudah selesai belajar atau pun mengerjakan tugas sekolahnya. Yah beginilah kalau pedekate sama anak OSIS.


Hari ini aku memenuhi undangan dari Pak Haris untuk menghadiri acara Perpisahan kelas 3 di SMA, karena di kantor sedang senggang aku memutuskan untuk hadir, dan tentunya aku akan bertemu dengan gadisku setelah hampir sebulan tidak bertemu. Aku ke kantor terlebih dahulu dan sekitar jam 10 an aku baru sampai di Aula SMA tempat acara berlangsung. Aku duduk di jajaran tamu undangan.


“Ar, lo kesini juga” Hardi menyapaku.


“Iya, baru nyampe gue, tadi ada urusan dulu sekalian ngambil mobil gue di kantor, oh iya,,angkatan kita siapa aja yang datang” Tanyaku yang melihat Hardi hanya sendirian.


“Sama Nervan doang gue kesininya, gak tahu deh yang lain”, Jawabnya.


“Mana orangnya, gak kelihatan?”, Aku mencari keberadaan orang itu.


“Bilangnya sih mau ke toilet, tapi lama banget, kayaknya lagi cuci mata lihat yang bening- bening”, Hardi tau persis kelakuan pria hidung belang itu.


" Hai kalian juga ada disini...apa kabar? Mana Dandy sama Nervan biasanya kalian empat sekawan suka barengan", Elina teman seangkatan kami datang menyapa.


"Kabar baik El" Jawabku singkat.


"Biasa El Dokter Dandy lagi banyak pasien, sedangkan Nervan lagi cuci mata nyari yang bening" Hardi menjawab keberadaan kedua personil yang lain.


“ Wah sudah masuk sesi pengumuman murid berprestasi, gue mau ke depan dulu ya mau ambil foto”. Elina ternyata fotografer yang disewa panitia untuk mendokumentasikan acara ini.


Tiba- tiba terdengar nama Rheanazwa dipanggil ke atas panggung, aku langsung melihat ke arah panggung. Ternyata gadis yang ku rindukan itu mendapatkan penghargaan sebagai murid berprestasi menjadi juara umum di kelas 1, aku tersenyum bangga melihatnya. Setelah menerima hadiah penghargaan dan piala dia memperlihatkan senyum bahagianya. Aku terus memperhatikannya hingga dia turun dari panggung dan disambut oleh ketiga sahabatnya, namun tak lama senyumnya sirna, raut sedih nampak dari wajahnya, kemudian setelah mendengar pengumuman semua murid memasuki kelas masing- masing untuk dibagikan raport, dia terlihat berjalan dengan gontai.


Ponsel ku bergetar dan aku pamit meninggalkan Hardi, saat ku ambil ponsel dari saku celanaku ternyata ada panggilan masuk dari sekertarisku, aku pun keluar dari aula untuk menerima panggilan di ponselku ternyata dia memberitahukan ada rapat dadakan jam satu siang nanti, menyebalkan sekali padahal aku ingin sekali menemui Naz. Saat panggilan berakhir aku membuka aplikasi whatsapp ingin melihat status Naz, ternyata yang kulihat malah status Bunda yang meng-upload foto Naz dengan caption selamat dan permintaan maaf karena tidak bisa hadir. Aku memberi selamat pada Bunda dan menanyakan penyebab ketidak hadirannya, ternyata ibunya di Bandung sakit dan Ayahnya Naz mendadak ada tindakan operasi.


Sekarang aku tahu penyebab perubahan raut wajah Naz tadi, akhirnya ku putuskan untuk mencari kelasnya Naz bertanya kepada salah satu guru dan dia bersedia mengantarkan ku ke kelas 1A. dan benar saja kulihat Naz tengah duduk di kursi nya dengan menunduk, sedangkan yang lainnya adalah ibu- ibu selaku orang tua murid. Aku mengetuk pintu dan mengatakan aku perwakilan dari orang tua Naz, dan dipersilahkan masuk. Naz yang masih terkejut melihat keberadaan ku memberikan tempat duduknya padaku dan aku hanya bisa memberikan senyuman termanis ku pada gadis yang sangat ku rindukan itu.


Selesai pembagian raport aku keluar bersama Naz dan mengucapkan selamat bersalaman dengannya dan mengusap- usap kepalanya, kemudian ketiga sahabatnya datang dan malah menggoda kami, ditambah kedatangan guru yang tadi di kelas Naz mengajakku berkenalan, kulihat Naz nampak kesal. Mungkinkah dia cemburu, apa itu berarti dia memiliki perasaan padaku, namun karena ada getaran ponsel di saku celanaku dengan berat hati membuat ku harus berpamitan meninggalkan mereka, karena ku yakin itu adalah panggilan dari sekertaris ku.

__ADS_1


Saat di kantor aku menerima pesan dari Naz yang menanyakan keberadaan ku dan alasanku bisa datang ke kelasnya dan aku pun menjelaskannya, namun pas pesan terakhir dia mengirim pesan “I love you much more” disertai emotikon kiss, aku benar- benar terkejut membacanya, aku mengucek- ngucek mataku takutnya aku salah baca, tapi ternyata itu benar- benar pesan dari Naz.


“Apakah dia menyatakan perasaanya padaku" Gumamku dalam hati, aku merasa seperti seorang pengecut yang hanya bisa memendam perasaanku sedangkan dia menyatakannya padaku, saat aku hendak membalas pesannya, sekertaris ku sudah memanggil bahwa klien telah datang dan rapat akan segera dimulai. Sepanjang jalannya rapat aku seperti orang tidak waras terus senyam- senyum sendiri sampai aku beberapa kali diperingatkan oleh sekertaris ku karena tidak konsentrasi. Rapat yang berlangsung dua jam itu seperti setahun rasanya lama sekali, dan akhirnya selesai juga, aku sudah tidak sabar ingin segera menghubungi Naz.


Aku kembali ke ruangan ku dan segera membuka ponselku, tapi aku bingung harus berbuat apa, mengirimnya pesan atau menelponnya atau bagaimana, astaga aku benar- benar seperti orang bodoh malah mondar- mandir tidak jelas. Seumur- umur baru kali ini aku merasakan jatuh cinta benar- benar norak rasanya. Aku kembali membuka pesan yang Naz kirim, aku terus membacanya berulang- ulang, ingin rasanya aku membalas “ I love you too Naz, aku juga sangat mencintaimu lebih dari apapun, bahkan lebih dari diriku sendiri”. Namun apa daya aku tidak punya keberanian sebesar itu, jari- jariku ini tiba- tiba terasa kaku, mendadak tidak bisa mengetik apa pun di ponselku dan hanya bisa mengetik kata- kata ambigu.


Aku


“Apa? “


“Apa Naz?”


“Maksudnya?”


“Naz?”


“Itu maksudnya apa?”


Naz


“Maksudnya, maksudnya apa Kak? Aku gak ngerti.


Saat ku membaca balasan pesan dari Naz, aku menjadi bertanya- tanya “kenapa dia malah balik tanya, apakah dia tidak menyadari pesan yang ia kirim sebelumnya, atau kah itu pesan yang iseng dikirim oleh temannya dari ponsel Naz, ataukah pesan itu ditujukan untuk orang lain” Berbagai pertanyaan muncul di benakku, ku tarik nafas dalam- dalam untuk menstabilkan emosiku dan menenangkan pikiranku.


Aku


“Coba kamu lihat ke atas baca chat dari kamu deh”.


Setelah itu tidak ada jawaban lagi dari Naz, aku benar- benar tidak mengerti sebenarnya apa yang sedang terjadi, apa aku salah paham kah, hingga aku terus berulang kali membaca pesan cinta itu. Aku terus menunggu balasan dari Naz tapi tak kunjung datang, aku benar- benar gelisah tidak karuan, mondar mandir gak jelas sambil menatap layar ponselku, sebelum kewarasan ku benar- benar hilang, ku putuskan untuk menelpon Naz. Panggilan pertama tersambung namun tak kunjung mendapat jawaban, panggilan kedua sama pula, dan panggilan ketiga saat nada sambung hendak berakhir, dia mengangkat telponnya. Akhirnya ,,,,,,hufh lega rasanya.


Suaranya terdengar gugup, entah apa yang sedang ia rasakan, apakah sama halnya dengan yang aku rasakan. Namun saat aku tanyakan soal pesan itu ternyata dia malah meninta maaf dan bilang itu pesan salah kirim, pikiranku sudah mulai kemana- mana mengira bahwa Naz menyukai pria lain, dia sangat mencintai pria itu karena terbaca dari ucapan cintanya itu, hatiku langsung meluruh lantah, aku memerosotkan tubuhku ke lantai terduduk lemas seakan duniaku runtuh, gadis yang kucintai ternyata mencintai pria lain. Sia- sia usahaku mendekatinya selama ini, padahal aku sudah sangat percaya diri untuk berjuang mendapatkannya, Naz,,,gadisku,,,apakah tidak ada tempat untukku di hatimu.


“Halo,,Halo Kak Arfin”, Suara Naz membuyarkan lamunanku, dan mengingatkan ku bahwa sambungan telepon belum berakhir.


“Eh, iya Naz maaf,,, Emm kalo boleh tahu memangnya tadi ditujukan untuk siapa?” Ku beranikan diri bertanya padanya.


“It itu, tadi waktu aku sedang chating sama Kaka, tiba- tiba Bunda mengirim aku pesan ucapan selamat gitu dan saat aku akan membalasnya Ruby mengajak ku ngobrol, saat aku kembali membuka chat nya aku mengetik dan langsung mengirim saja dan tidak memeriksanya kembali, dan ternyata itu malah dikirim ke Kak Arfin, ma maaf ya Kak, aku benar- benar minta maaf sudah mengirim pesan yang kurang sopan”. Jawabannya benar- benar memberiku angin segar.


“Oh, iya gak apa- apa Naz,, maaf juga ya sudah mengganggu waktu mu, aku tutup dulu teleponnya ya,,,,assalamualaikum”. Aku menutup sambungan teleponnya setelah mendengar dia menjawab salamku. Aku merasa malu pada diriku sendiri, tapi kini aku benar- benar senang ternyata prasangka ku salah, Naz mengirim itu untuk bundanya, bukan untuk pria lain. Meskipun itu pesan salah kirim namun itu mampu membuat ku melayang terbang di atas awan.

__ADS_1


Naz, kau benar- benar gadis pengacau ku.


------------ TBC -------------


__ADS_2