
Cemburu adalah hal yang sering muncul dalam sebuah hubungan, entah hubungan pertemanan ataupun percintaan yang dipicu oleh beberapa hal, mulai dari rasa tidak aman, takut kehilangan, iri hati, kesepian, hingga amarah. Perasaan cemburu paling sering muncul dalam hubungan asmara atau pernikahan, karena ada rasa memiliki terhadap pasangan yang timbul sebagai akumulasi dari ketidaknyamanan dan rasa khawatir yang ditimbulkan dari sebuah hubungan.
Rasa cemburu dalam hubungan antar pasangan sebenarnya adalah reaksi yang wajar dan normal, selama tidak berlebihan. Hal ini sering diartikan sebagai salah satu bentuk kepedulian terhadap pasangan. Namun tentu saja, cemburu sebaiknya berada dalam batas wajar, sehingga bisa menjadi penguat hubungan. Sebaliknya, terlalu sering merasa cemburu malah bisa membuat hubungan menjadi tidak nyaman bahkan memicu pertengkaran. Perlu diketahui, rasa cemburu kemungkinan muncul karena “pengalaman” atau cerminan pandangan seseorang terhadap dirinya sendiri. Hal itu pada akhirnya bisa mendorong perasaan ragu dalam menjalani hubungan.
Dan rasa ini lah yang kini tengah melanda Naz, ia merasa cemburu pada teman kuliah suaminya yang tiba- tiba datang dalam kehidupan rumah tangga nya, bahkan wanita itu secara terang- terangan mengutarakan niat untuk merebut Arfin dari sisinya.
Bohong,, jika dirinya tidak merasa was-was dan takut akan keinginan Felisha yang bisa saja menjadi kenyataan suatu saat nanti, walaupun sedari tadi ia terus berusaha menenangkan dirinya, namun yang namanya seorang istri tetap saja merasa gelisah jika suaminya diganggu wanita lain. Apalagi wanita ini orang yang sangat dikenal suaminya sebelum ia mengenal Naz.
Naz yang sedang dalam perjalanan menuju rumah orang tua nya bersama sang suami, hanya diam tanpa kata tenggelam dalam lamunannya.
“Kenapa aku terus kepikiran perkataan si Tante Gembel itu ya,, dia ingin mengambil yang seharusnya menjadi miliknya,,, sebenarnya sedekat apa sih hubungan mereka dulu?? Kenapa Aa gak pernah cerita soal si Tante Gembel,, tapi tadi dia bilang gak ada hubungan apa- apa,, dan dia juga dulu bilang kalau aku ini cinta pertamanya sekaligus wanita pertama yang berpacaran dengannya,,,,”, gumamnya dalam hati kemudian menghela nafas panjang sambil memejamkan mata.
“Tenangkan dirimu Rheanazwa,,, jangan terpengaruh dengan perkataan si Tante Gembel,, aku percaya pada suamiku,, dia tidak akan mengkhianati ku karena dia sangat mencintaiku,,, eh tapi,, kucing kalau terus di kasih umpan ikan asin, lama- lama bisa tergoda juga,, arghhh,, kenapa si Tante Gembel musti datang sihhh,,, bikin hati ku gak tenang aja”, Naz kembali berdialog dalam hati.
“Sayang,,, kamu kok dari tadi melamun terus?? Kamu lagi mikirin apa??”, Arfin yang sedari tadi menyetir sesekali melirikkan pandangan pada istrinya, akhirnya melontarkan pertanyaan yang membuat Naz membuyarkan lamunannya.
“Eng,,, enggak kok,,, “, Naz yang merasa terkejut menjawab dengan gugup.
“Kamu masih kepikiran soal Felisha?”, Arfin seolah merasa kalau Naz masih meragukan dirinya, Naz hanya menunduk dan tidak menjawab.
Mereka pun telah sampai di kediaman orang tua Naz, Arfin memarkirkan mobilnya di pinggir jalan karena halaman depannya sudah di dekorasi, sehingga mobil tidak bisa masuk ke dalam.
Keduanya tidak langsung keluar dari dalam mobil, Arfin melihat ke arah Naz yang duduk di samping kemudi, ia menhgenggam tangan istrinya,
“Sayang,,, Aa kan sudah bilang kalau dia itu cuman teman biasa, gak lebih,,, Dulu memang dia sering datang ke rumah Kak Fatma dan menemani ke rumah sakit setiap Aa melakukan terapi untuk bisa berjalan lagi, tapi kami tidak hanya berdua, Mami dan Bang Evan selalu ikut,,, Dia sering datang karena dia itu anaknya sahabat Mami yang kebetulan baru pindah ke Amerika karena menikah dengan orang sana,,, dan Aa tidak memiliki perasaan apa- apa padanya baik dulu ataupun sekarang,, karena saat itu Aa tidak memiliki kepercayaan diri untuk mendekati wanita mana pun,, ditambah setelah itu Aa tahu kalau Aa terkena impoten, dan semenjak saat itu Aa memutuskan tidak akan menikah dengan siapa pun, Feli pun tahu itu,, makanya Aa menolak saat Mami berniat menjodohkan Aa dengan Feli,, Tolong kamu jangan meragukan Aa, karena hanya kamu satu- satunya yang Aa cintai sampai kapan pun,, “, Arfin kembali menjelaskan panjang lebar.
Naz menegakan kepalanya lalu menatap suaminya, ia tak melihat ada kebohongan ataupun kepura- puraan pada kedua manik suaminya, hanya ada ketulusan yang mampu membuat hatinya merasa tenang dan lega. Naz pun membalikan telapak tangannya dan membuat kedua tangan mereka saling berpegangan, Ia menghela nafas sejenak, “Aku percaya sama Aa,,, karena Aku juga sangat mencintaimu”, ucapnya dengan melemparkan senyuman pada suaminya, dan ia pun kini merasa lega karena istrinya nampak sudah tak meragukannya lagi.
“Tapi Aa harus janji, kalau bertemu teman atau rekan bisnis perempuan jangan suka peluk- peluk atau cipika cipiki segala”, Naz mengeluarkan aturan.
“Iya sayang,, lagian Aa gak pernah meluk perempuan lain, orang dia nya nyosor sendiri”, Arfin tak mau disalahkan.
“Tapi kan Aa bisa menghindar,,, atau menahan agar dia tidak meluk,,, “, Naz tak mau kalah.
“Iya nanti Aa usahakan”
“Apa? Usahakan?”, Naz menatap tajam.
“Ya kan kalau serangannya dadakan dan tiba- tiba Aa juga susah menghindar”, Arfin beralasan.
“Oh gitu ya,,, yasudah ,, nanti juga aku kalau ketemu Andes, si Embe atau teman laki- laki yang lainnya bakalan berpelukan sama mereka”, Naz malah sengaja memanas- manasi suaminya.
“Ih,, enak aja,, gak ada gak ada,, pokoknya kamu gak boleh berpelukan sama laki- laki lain”, Arfin langsung ngegas.
“Ya nanti aku usahakan,, kalau serangan dadakan kan aku mana bisa menghindar,,,”.
“Kok malah balik- balikin omongan Aa sih?”, protesnya.
“Nah kan,, Aa juga gak rela kan aku berpelukan sama laki- laki lain,, aku juga sama kayak gitu ke Aa,, pokoknya Aa gak boleh berpelukan sama perempuan lain, “, Naz mempertegas.
“Iya sayang,,, iya,,, udah ah jangan meributkan hal ini lagi ya,,, Aa gak mau kalau kita bertengkar cuma gara- gara hal yang gak jelas begini, pokoknya cuma istriku yang sangat cantik ini yang bisa meluk Aa”. Arfin kemudian melempar senyuman.
“Dasar gombal.... ", cicitnya,, "Aku juga gak mau kalau kita bertengkar,,, yasudah,, Ayok kita turun, nanti Mama bisa- bisa ngomel kalau kita datang terlambat”, Naz lalu melepaskan sabuk pengamannya dan bergegas keluar, begitu pun suaminya. Mereka berjalan bergandengan memasuki pintu gerbang kediaman orang tua Naz, dan di sana sudah mulai banyak orang yang berdatangan.
Setelah menyapa orang-orang yang sudah hadir, Naz dan Arfin pergi ke kamar Naz untuk berganti pakaian, karena tidak mungkin Naz memakai pakaian terbuka saat akan mengikuti pengajian pranikah.
Seperti sudah janjian ponsel mereka kehabisan baterai secara bersamaan, jadi lah kedua ponselnya di charger di kamar, sementara mereka turun ke bawah untuk mengikuti jalannya acara yang akan segera dimulai.
Acara yang dihadiri keluarga, sanak saudara dekat serta para tetangga pun berlangsung dengan lancar dan penuh haru, seusai pengajian Raline berganti pakaian dan dilanjutkan pada acara siraman, sehingga saat dzuhur semua acara sudah selesai. Para tamu yang hadir pun menikmati hidangan yang telah disediakan oleh tim catering.
Naz dan Arfin kembali ke kamarnya karena teringat ponsel mereka yang di charger sudah terlalu lama sampai empat jam, sekalian mereka shalat dan beristirahat. Setelah selesai shalat keduanya melihat ponsel yang tadi baru dicabut saja charger nya saat mereka masuk ke kamar, dan ternyata di ponsel keduanya terdapat beberapa panggilan tak terjawab serta pesan dari Bu Hinda.
Baru saja akan membuka pesan, tiba- tiba ponsel Arfin berdering dan ternyata itu panggilan telpon dari Mami nya, Arfin pun segera mengangkatnya.
“Hallo,,, Al,,, kamu kemana saja sih dari tadi susah dihubungi ?", Bu Hinda yang nampak panik langsung nyerocos tanpa mengucap salam.
“Tadi ponselnya di charger di kamar, Al baru selesai ngikutin acara pengajian dan siraman nya Raline,,, Ada apa Mi, kok kedengarannya Mami panik gitu?”.
“Al,,, Felisha masuk rumah sakit,,”.
“Apa?? Felisha masuk rumah sakit??? Emangnya kenapa Mi,, bukannya tadi dia baik- baik saja?”.
Deg ,,,, Naz yang mendengar perkataan Arfin langsung terkejut, “Waduh,,, kenapa si Tante Gembel bisa masuk rumah sakit,,, apa sampai separah itu?”, gumamnya dalam hati.
“Iya,, Mi,, AL segera ke sana”, Arfin kemudian mengakhiri sambungan teleponnya. “Sayang,, Mami bilang Felisha masuk rumah sakit, sejak kita pergi dia bolak- balik kamar mandi sampai pingsan katanya tadi”, Arfin memberitahukan Naz.
__ADS_1
“Hah,,, eng,,,, terus?”, tanya Naz yang merasa gugup.
“Aa mau ke rumah sakit,, kamu mau ikut?”, Arfin secara tidak langsung meminta izin pada istrinya.
“Aduh,, gimana nih,, aku ikut enggak ya,,, ?? kalau ke sana nanti ketahuan aku yang bikin dia sakit,, tapi kalau gak ikut nanti dia macam- macam lagi sama suamiku”, Naz yang merasa bimbang bergumam dalam hati.
“Hei,, kok malah ngelamun,,, mau ikut gak?”, Arfin menepuk bahu Naz.
“Iy Iya,,, aku ikut,, bentar ya aku ganti baju dulu,, gerah soalnya kalau pakai baju panjang kayak gini,, mana di luar panas”, ucapnya, kemudian Naz mengganti baju nya dengan yang tadi pagi ia pakai, karena belum kotor baru dipakai sebentar.
Keduanya berangkat menuju rumah sakit setelah berpamitan pada orang tua Naz. Setelah menempuh perjalanan beberapa saat mereka pun sampai, dan segera menemui Felisha yang ditemani Bu Hinda di ruang rawat inap yang sudah diberitahukan oleh beliau melalui pesan WhatsApp.
Saat keduanya masuk mereka langsung menghampiri Bu Hinda yang tengah duduk di sofa yang tersedia di sana, yang ternyata ada Nervan juga tengah duduk sambil memainkan ponselnya.
“Mami,,, gimana keadaan Feli?”, Arfin langsung menanyakan Felisha.
“Dia sudah mulai membaik,, “, Bu Hinda sudah nampak tenang dibanding saat menelpon tadi.
“Terus dokter bilang apa?”,Arfin kembali bertanya.
“Katanya Feli keracunan makanan,,, dan Feli bilang ia punya penyakit maag kronis sebelumnya, jadi sekarang dia terbaring lemah, satu jam yang lalu baru bisa tidur, tadi dia bolak- balik terus ke kamar mandi sampai ia pingsan,,, mana sopir gak ada, kamu susah dihubungi,, terus Mami nelpon Abang deh minta tolong diantar ke rumah sakit ”, Mami menceritakan kronologi nya.
“Kok bisa keracunan makanan Mi?”, Arfin merasa heran.
“Mampus gue,,,, seharusnya tadi gak usah ikut ke sini,, bisa kena semprot atuh gini caranya mah”, Naz menggerutu dalam hati.
“Mi,, aku keluar dulu,,mau ngangkat telpon”, Nervan yang sejak tadi diam, kemudian pamit keluar. “Tenang aja Al,, si Feli gak apa- apa kok,, itu Mami aja yang terlalu khawatir,, Abang keluar dulu ya”, Nervan menepuk pundak Arfin dan menoleh ke arah Naz memberi isyarat pamit, kemudian beranjak keluar.
“Emh,,, Mami,,,”, Felisha nampaknya sudah sadar, Bu Hinda dan Arfin segera menghampirinya,sedangkan Naz masih tetap berdiri di tempat semula hanya membalikan tubuhnya saja melihat ke arah Felisha.
“Feli,, kamu istirahat saja,,, jangan memaksakan bangun”, Mami langsung menghampiri.
“Aku gak apa- apa kok Mi,, tenang aja…”, uap Felisha yang masih terlihat lemas.
“Kamu sebenarnya makan apa sih kok bisa sampai keracunan?,, perasaan tadi kita abis sarapan gak apa- apa”, Bu Hinda langsung bertanya, karena merasa penasaran bagaimana bisa Feli keracunan saat sedang berada di rumahnya.
Felisha melihat ke arah Naz yang nampak menundukkan kepalanya, seperti merasa bersalah dan tentunya Feli tidak menyia- nyiakan kesempatan ini, “Mami,,, sebenarnya selain aku sarapan tadi, saat aku baru datang aku dibuat kan lemon tea panas oleh istrinya Arfin, yang aku pikir dia adalah seorang pembantu, dan rasa teh nya itu beda dari biasanya, sangat asam,, seperti bukan asam dari lemon”.
“Apa??”, Arfin dan Maminya terkejut.
“Yassalam,, tamatlah riwayat ku ",Naz hanya bicara dalam hati.
“Naz,,, apa benar itu?”, Arfin langsung bertanya pada istrinya.
Naz terus menundukkan kepalanya, “Iy iya”, jawabnya terbata-bata dengan perasaan takut.
“Terus kenapa lemon tea nya bisa sangat asam,, bukannya ada teh celup yang rasa lemon tea,, ? atau kah kamu terlalu banyak menambahkan perasan lemon nya, sayang?”, Bu Hinda bertanya pada Naz.
“Eng,,,, engak Mi,,, lemon nya cuma sedikit, kok”, Naz menjawab dengan gugup.
“Kalau sedikit kenapa bisa terasa sangat asam?”,Felisha yang terlihat lemah kembali mempertanyakannya.
“Eng,,,, aku,,, aku,,,aku menambahkan cuka ke dalam lemon tea tersebut?”, Naz berterus terang.
“Apa???”, tanya ketiganya serentak,
“Naz,, maksud kamu apa melakukan itu padaku? Apa kamu tidak suka kalau aku mengunjungi Arfin setelah dua tahun kami tidak bertemu? Kami ini hanya berteman,,, tidak lebih… dan pastinya kamu tahu kan kalau cuka itu sangat bahaya untuk lambung ”, Felisha terus berusaha membuat Naz dipersalahkan dan seolah dia adalah korban.
“Yassalam,,, wanita undel itu benar- benar membuat ku mati kutu,, dasar licik, bagaimana ini?”, Naz tak kuasa mengeluarkan suara dan hanya bicara dalam hati.
Arfin yang terlihat kesal menghampiri Naz, ia menarik tangannya dan mengajak Naz keluar
“Naz,,, maksud kamu apa mencampurkan cuka pada teh nya Feli?”, Arfin mulai mengnterogasi dengan nada tegas.
“Aku,,, aku ,, gak bermaksud apa- apa,,”, Naz menunduk dan melirikkan pandangan ke segala arah.
“Kalau kamu marah sama dia gara- gara dia memeluk Aa, bukan begini caranya, kamu kan bisa menegur dia baik- baik”, Arfin bicara ketus.
“Aku______ ", Naz belum melanjutkan perkataannya langsung dipotong.
“Aa tahu kamu suka menjahili orang, tapi jangan sampai keterlaluan begini,, kamu bisa membahayakan nyawa orang lain,, apalagi Feli punya penyakit maag kronis, kalau tadi dia sampai terlambat mendapatkan penanganan bagaimana? Apa kamu mau bertanggung jawab?”, Arfin yang merasa kesal terus menceramahi Naz.
“Aku,,, aku minta maaf”, Lirih Naz.
“Aa gak habis pikir, rasa cemburu mu bisa sampai membutakan hati dan pikiran mu, Naz,,”, Arfin terus mencerca Naz.
__ADS_1
“Aku _______”.
“Kamu tahu kan kalau dia sakit saat dia mau masuk ke kamar mandi tadi pagi,, ?? lalu kenapa kamu malah membiarkannya bahkan kita meninggalkannya begitu saja,,, apa kamu sengaja melakukan itu, hah?? Biar dia mati gitu?? Keterlaluan kamu, Naz,,, Aa gak nyangka kamu bisa sekejam ini “, cerca Arfin yang sudah benar- benar marah dengan kelakuan Naz.
“Aa,, aku gak bermaksud ______ ”
“Cukup,,,!! Aku tidak mau dengar lagi,,, sekarang kamu minta maaf sama Feli”, Arfin menaikan level suaranya.
“Tapi A ______ ".Naz menegakkan kepalanya.
“Gak ada tapi- tapi an,, minta maaf sekarang,, dan akui kesalahan mu,, ayok kita masuk… ”, Arfin bicara dengan nada tegas lalu kembali menarik tangan Naz, namun Naz melepaskan tangannya dengan kasar.
“Aku gak mau minta maaf sama perempuan murahan itu !!”, seru Naz.
“Naz,,,,,, !!”, Arfin meneriaki Naz, dan membuatnya terkejut,, ini kedua kalinya ia dibentak oleh suaminya semenjak mereka menikah dan membuat hatinya begitu sakit. Ia menatap suaminya yang memberinya tatapan kemarahan, membuat hatinya semakin sakit, hingga ia tak sanggup menatapnya lagi. Naz membhsng muka lalu membalikan tubuhnya dan beranjak pergi meninggalkan Arfin.
“Naz,,, berhenti !!”, Arfin kembali berteriak dan suaranya itu bukan hanya masuk ke telinga Naz tapi lebih menusuk ke hatinya, ia pun tak menghiraukan suaminya. Ia terus melangkah pergi dengan berderai air mata, yang entah kemana arah tujuannya. Pikirnya yang penting ia bisa menjauh dari suaminya yang sudah memarahinya hanya karena seorang wanita yang dibilangnya hanya teman biasa itu.
Rasa sakit semakin dalam kala ia menoleh ke belakang, tak ada pergerakan dari suaminya untuk mengejarnya sama sekali,
“Dia benar- benar tidak peduli padaku,, yang dia pedulikan hanya wanita itu,,, hiks hiks”,lirihnya dalam hati, dan ia pun terus berjalan hanya satu yang ada di pikirannya, ingin segera meninggalkan tempat itu yang membuat dada nya terasa sesak.
Seolah tak menyadari setiap langkahnya, kini ia sudah keluar dari pintu gerbang rumah sakit, ia mengedarkan pandangannya, ia pun menghentikan sebuah taksi, setelah terhenti ia pun segera menaikinya. Air mata solah tak ingin berhenti mengalir membasahi kedua pipinya, ia menumpahkan kesedihannya dan menangis sekeras mungkin di dalam taksi itu yang membuat sang pengendara terkejut dan panik.
“Mbak,,, Mbak kenapa?”, tanya sopir taksi.
“Bapak jangan banyak tanya,, gak usah ngomong sekalian… fokus menyetir saja,,, huuaaaaaa,,,,, “, Bentak Naz lalu kembali melanjutkan tangisannya.
Sang sopir pun tak berani bertanya lagi, ia kembali fokus menyetir dan pura- pura tidak mendengar apa- pun walau sebenarnya telinga nya serasa tersiksa karena sepanjang jalan terus mendengarkan tangisan Naz. Ia pun mempercepat laju kendaraannya karena kebetulan jalanan sengang, dan setelah beberapa saat taksi yang dikendarainya pun sampai di tempat yang dituju oleh Naz. Namun orangnya masih sibuk menangis tanpa menyadari kalau mereka sudah sampai. Sang sopir pun merasa bingung, mau bicara takut dimarahi lagi, kalau tidak bicara telinga nya bisa rusak, akhirnya munculah sebuah ide di kepalanya.
Tin tin tin……. Sang sopir membunyikan klaskson sebanyak tiga kali dengan ditekan lama sehingga bunyi nya nyaring, dan itu mampu menghentikan tangisan Naz.
“Bapak berisik banget sih,,!! ,”, keluhnya sambil sesenggukan.
“Ya ampun,,, salah lagi,,,, yang sejak tadi berisik kan dia,,, Ya Tuhan,,,“, Guam sopir dalam hati.
“Maaf Mbak,, kita sudah sampai di alamat yang Mbak sebutkan tadi”,ucapnya memberanikan diri.
“Kenapa gak ngomong ,,?”, Naz protes dengan nada ketus sambil sesenggukan.
“Lah kan ini juga saya ngomong,,,”, ucapnya dalam hati.
“Kan tadi Mbak bilang kalau saya jangan banyak omong, jadi saya diam aja,, makanya saya kasih isyarat dengan membunyikan klakson”.
“Itu Bapa lagi banyak omong,,, “, Naz kembali membentak.
“Astagfirullah,, sebenarnya wanita ini manusia jenis apa, Ya allah,,, siluman betina bukan sih,, salah terus perasaan saya dari tadi”, Pak Sopir menjerit dalam hati.
“Nih,,, ambil aja kembaliannya”, Naz menyodorkan uang seratus ribuan sebanyak lima lembar kemudian turun.
“Terimakasih Mbak,,, eh tapi ini kebanyakan, Mbak”, ucapnya saat menerima uangnya.
”Saya bilang jangan banyak ngomong,,, pergi sana !!”, teriak Naz.
“Iya,, iya baiklah,,, makasih Mbak,,,”, Sopir taksi pun segera memutar kan mobilnya untuk bergegas pergi dari temat itu, “Alhhamdulillah,, Rezeki nomplok,, gak apa- apa deh nangis sepanjang jalan bikin telinga hampir rusak dan kena semprot juga,, tapi ongkosnya lumayan tebel”.
Naz melangkahkan kakinya dengan wajah berantakan karena basah oleh air mata, ia berjalan menuju kursi panjang tempat biasanya ia membagi luka dan kesedihannya di sana, ia duduk dengan pandangan lurus ke depan.
Tepi Danau, ya disinilah ia sekarang, tempatnya untuk menenangkan diri dari segala kesedihan dan permasalahan yang menimpanya. Hanya di tempat ini ia bisa meluapkan kesedihannya tanpa harus menyembunykan air matanya dari orang- orang terdekatnya.
Menyendiri,, itulah yang ingin ia lakukan sampai hatinya merasa tenang, hingga dia tak usah membawa kesedihan dan luka saat pulang ke rumahnya, karena telah dititipkan d tepi danau ini.
Air matanya kembali bercucuran dikala ia teringat dengan bentakan suaminya, baru saja tadi pagi kata- kata manis keluar dari mulutnya, namun lebur oleh bentakan dan segala cercaan yang dilontakan suaminya.
Sakit ,,, satu kata yang kini dirasakannya, amat sakit dan sangat sakit.
"Wanita sundel itu benar-benar licik... hiks.. hiks...",gumamnya kesal.
Naz menundukkan kepala dengan tangan yang ditempelkan di dada, seolah menahan rasa sakit, hingga ia tak menyadari ada derap langkah seseorang dari arah belakang mendekat padanya yang tengah duduk menghadap ke danau itu.
Naz terkesiap dikala ada tangan yang menyentuh pundaknya. Ia pun menegakkan kepalanya, telapak tangannya segera menghapus jejak air mata yang sedari tadi mengalir deras membasahi pipi nya. Perasaannya dilanda kebimbangan antara menyambut kedatangan orang itu, atau mengacuhkannya.
---------------- TBC ----------------
*****************************
__ADS_1
Sabarrrr....ini adalah ujian....
Happy Reading ....😉😘