
Menjalin hubungan asmara dengan seseorang memang tidaklah selalu berjalan mulus, bahkan ada kalanya kandas di tengah jalan. Berakhirnya sebuah hubungan percintaan yang telah dijalin oleh sepasang kekasih biasanya disebut dengan istilah putus cinta atau dalam bahasa Inggrisnya broken heart.
Putus cinta adalah salah satu situasi yang mengerikan, menyedihkan, dan paling tidak enak yang menggambarkan keadaan emosi dan perasaan seseorang yang hancur berantakan bagai sebuah gelas beling yang terbanting ke lantai sehingga berserakan berkeping- keping kemana- mana. Sedih, rindu, rasa sayang, marah, bingung, kaget, kecewa, penyesalan dan sejuta perasaan lainnya bercampur menjadi satu dalam ramuan yang membuatnya sakit dan ingin berlari sejauh- jauhnya. Jiwa seolah menggeliat, meregang dalam rasa sakit putus cinta yang tak kunjung mereda.
Putus hubungan dengan seseorang yang amat dicintai memang tidak mudah untuk dilakukan, apalagi jika keduanya masih memiliki perasaan cinta sangat besar, namun terkadang jika keduanya sudah merasa tidak nyaman atau merasa tersiksa, maka lebih baik putus saja. Mungkin di awal- awal akan merasakan kehilangan dan sakit yang begitu dahsyat, bayangan kenangan masa- masa indah yang telah dilewatkan bersama yang terekam di memori otak seolah terus menari- nari di dalam pikiran, namun lambat laun seiring berjalannya waktu rasa sakit itu akan sembuh dengan sendirinya. Apalagi jika sudah mendapat tambatan hati yang baru, dijamin bakalan cepat move on. Hanya saja entah itu hanya sebuah pelarian atau memang orang tersebut mudah jatuh cinta dan mudah melupakannya.
Dan itulah yang sedang dialami Rheanazwa dan Arfin. Pasangan yang baru saja memutuskan hubungan mereka yang sudah terjalin selama tiga bulan lamanya, kini tengah diliputi rasa sakit dan kesedihan yang amat mendalam. Di satu sisi Naz merasa kecewa karena selama ini telah dibohongi oleh pria yang sangat dicintainya, sedangkan Arfin merasa sedih karena telah menyakiti wanita yang sangat dicintainya. Memang benar ada kalimat yang mengatakan ‘Menyakiti orang yang sangat dicintai akan terasa beribu- ribu kali menyakitkan’, dan itulah yang dirasakan oleh Arfin. Entah apa yang membuatnya bisa setega itu kepada Naz, dan itulah yang membuat Naz terus bertanya- tanya dalam benaknya,, kenapa? Ada apa? Apa salahku?... Namun pertanyaan itu tak kunjung mendapatkan jawaban, sehingga hanya rasa sakit yang didapatkan yang membuatnya terus menangis.
Bunda sangat khawatir dengan keadaaan Naz, sehingga beliau terus menemani Naz di kamarnya, untuk makan pun Bunda membawakannya ke kamar dan makan bersama putri kesayangannya itu, karena Dandy dan Ayah sepulang kerja langsung berta'ziah ke panti, sehingga pulang terlambat. Saat Naz menolak untuk makan, Bunda pun mengancam tidak akan makan, sehingga Naz pun bersedia makan walaupun sambil sesenggukan karena tak tega jika membiarkan Bundanya itu kelaparan.
“Sayang,,, Bunda teh tahu ini sangat berat untukmu,,, tapi lambat laun kamu teh pasti bisa melupakannya, apa perlu kita teh pergi ke luar kota, ke pantai atau kemana gitu?”, tanya Bunda saat mereka selesai makan.
“Gak usah Bunda,, lagian aku kan baru masuk sekolah lagi, gak mungkin kan hanya gara- gara masalah ini aku sampai bolos sekolah, bisa ketinggalan pelajaran nanti,,, aku hanya butuh waktu saja untuk bisa menerima ini semua dan berusaha untuk melupakannya”, ucapnya sambil sesenggukan.
“Bunda tahu kamu teh anak yang sangat kuat, dan pasti mampu melewati ini semua,,, sekarang mah kamu istirahat ya,, pasti sangat lelah… itu Ayah sama Dandy sudah pulang kayaknya”, ucapnya yang mendengar suara mobil diluar, beliau pun hendak keluar dari kamar Naz dengan membawa nampan yang berisi piring bekas makan mereka.
“Bunda,,,,,”, panggil Naz.
“Iya,, kenapa sayang?”,sahut Bunda.
“Jangan kasih tahu Ayah sama Kak Dandy dulu ya soal hal ini”, ucap Naz dan Bunda pun mengangguki nya, sambil tersenyum lalu beliau pun beranjak pergi meninggalkan kamar Naz.
Setelah menyelesaikan tugasnya, Bunda pun kembali ke kamar menemani Naz tidur karena beliau sadar Naz saat ini sangat membutuhkannya.
***
Keesokan harinya Naz yang biasanya sudah ikutan opsih mingguan, kali ini ia sama sekali tidak terlihat bahkan tidak keluar kamar, sehingga menimbulkan pertanyaan dari Pak Rizal dan Dandy. Bunda hanya mengatakan kalau Naz masih sedih karena kepergian Bude Hafsah yang selama ini sangat dekat dengannya, dan untunglah mereka berdua percaya dengan apa yang dikatakan Bunda. Namun Pak Rizal tetap ingin mengetahui keadaan putri bontotnya itu dan pergi ke kamar atas untuk menemui Naz.
Ceklek ,,, Pak Rizal membuka pintu kamar Naz yang ternyata tidak dikunci, terlihat putrinya itu sedang berbaring menyamping menghadap ke arah jendela sambil memeluk guling. Pak Rizal menghampirinya lalu duduk di tempat tidur Naz.
“Sayang… “, ucapnya sambil membelai rambut anaknya itu, Naz yang ternyata sedang menangis berpura- pura tidur supaya Ayahnya tidak mengetahuinya. “Sayang,, Ayah tahu kamu pasti sangat sedih dengan kepergian Bude mu,, tapi kamu jangan sampai berlarut- larut seperti ini, Nak,,,, Yakinlah Bude mu sudah tenang di alam sana,, jadi jangan terus meratapi kepergiannya,,, kalau dia melihat mu seperti ini pasti akan sedih juga,,, lebih baik kamu mendoakannya supaya dia diberi tempat terbaik di sisi-Nya”, ucap Pak Rizal sambil terus mengusap- usap kepala Naz.
“Ayok sini bangun,,, ayah tahu kamu pura- pura tidur,,, ayok sini peluk ayah, Sayang”, ucapnya sambil memegang lengan Naz, dan Naz pun bangun lalu mendekat dan memeluk ayahnya.
“Huwaaaaaaa,,,,, huwaaaaaa”, Tangis Naz kembali pecah di pelukan Ayahnya.
“Menangis lah sepuas mu dan sekencang yang kamu bisa, jika itu bisa membuat hatimu lebih tenang dan merasa plong, dan setelah itu kamu jangan menangis lagi, tidak baik terus menangisi orang yang sudah meninggal, kita semua sebagai makhluk ciptaan Allah pasti akan kembali pada-Nya”, ucap beliau dan Naz pun benar- benar menangis dengan kencang untuk meluapkan kesedihannya, dan setelah beberapa saat ia pun berhenti.
“Sudah selesai?? Apa kau ingin berteriak untuk melepaskan beban di pikiran mu?”, tanya Pak Rizal,,, ”Kalau mau Ayah temani, jadi kita teriak berjama'ah,, bagaimana?”, Tanya nya lagi, Naz mengangguk sambil tersenyum, “Baiklah,,, kita akan berteriak sekencang dan selepas mungkin, tapi dengan menutup kedua telinga kita yaa,,,, Ayah hitung 1 sampai 3, kita teriak sama- sama,,,, kita mulai ya ..satu,,,, dua,,, tiga,,, “.
“Aaaaaaaaaaakkkkkkk…..”, kedua ayah dan anak itu berteriak dengan kencangnya,, lalu keduanya tertawa bahagia karena merasa plong seolah telah melepas beban di dada dan pikiran.
Ceklek,,,, “Naz , Ayah,, kalian kenapa kok teriak begitu? Apa ada maling? Mana atuh malingnya?”, tanya Bunda yang baru datang dengan nafas terengah- engah, namun mereka bukannya menjawab malah tertawa melihat Bunda yang datang dengan wajah panik dengan membawa panci teflon di tangannya.
“Gak ada apa- apa, Bund,,,, orang Ayah cuman mengajak Naz berteriak untuk menghilangkan kesedihannya",ucap beliau sambil terkekeh.
“Astagfirullah,,, kalian teh bikin kaget saja,, Bunda teh lagi masak langsung kesini,, inih sayur aja sampai ditumpahin dari panci teflon ke wastafel saking kagetnya,,, dasar kalian tuh,,,, “, Bunda menggerutu kesal,
“Ini lagi si ayah ih,,,, ngapain berteriak- teriak di dalam rumah,, emangnya ini teh di hutan belantara apah ?.. jangan suka menurunkan jiwa tarzan Ayah pada anak gadis kita ini deh”, Bunda terus nyerocos.
“Hehe,,, Maaf sayang,,,,,”, ucap Ayah sambil terkekeh, Naz pun ikut tersenyum melihat Bunda yang mengomeli Ayah.
“Huh,,, yasudah terpaksalah kita teh makan tanpa sayur,,,,”, ucap Bunda lalu beranjak pergi,
”Sudah capek capek bikin sop iga, eh gara- gara duo tarzan jadi kebuang sia- sia,,, ampun deh mana bikinnya teh meni susah payah biar dagingnya empuk,”, Bunda menggerutu kesal sambil berjalan menuruni tangga dan kembali ke dapur.
Setelah selesai masak dan menyajikannya di meja makan, tiba- tiba terdengar suara bel pintu... tingnong... kemudian Mbak Iyem membukakan nya.
Masuklah tiga orang orang yang sudah tidak asing lagi yang masing- masing membawa kantong kresek, dan Mbak Iyem pun melapor pada Bunda, kemudian Bunda menghampiri mereka ke ruang tamu.
“Hai,, akhirnya kalian teh datang juga,,, “, Bunda menyapa ketiga sahabat Naz lalu mereka mencium tangan Bunda secara bergantian, “Sebelumnya Bunda teh minta maaf sudah megganggu waktu liburnya kalian,,, Bunda teh bingung harus meminta bantuan siapa lagi untuk menghibur Naz”.
“Ih Bunda kayak sama siapa aja,, kami ini kan sahabatnya Naz,,, kesedihan Naz ya kesedihan kami juga,,,”, ucap Ruby.
“Iya Bunda,,, gara- gara abis liburan kemaren, kita gak ada saat Naz butuh kita,, tapi sekarang kita akan selalu bersamanya Bunda,, supaya Naz cepat melupakan kesedihannya”, Kiara ikut bersuara.
“Terimakasih banyak ya,,, ehh tapi ingat ya,, jangan pernah membahas alasan kenapa mereka putus,,, takutnya nanti Naz keinget lagi dan tambah sedih lagi…”, ucap Bunda mewanti- wanti.
“Oke Bunda,,, tapi omong- ngomong kenapa kok mereka bisa sampai putus, Bund? Kak Arfin kan sayang banget sama Naz, begitu juga sebaliknya”, tanya Ruby penasaran.
__ADS_1
Bunda terdiam sejenak nampak memikirkan alasan apa yang akan ia katakan pada ketiga sahabat Naz tersebut. Bunda menengok ke kiri dan ke kanan seolah takut ketahuan, kemudian Bunda menghela nafas panjang, “Jadi gini,,, sebenarnya teh ini salah kami juga sih,, Bunda sama Ayah teh menyarankan mereka untuk bertunangan, begitu juga dengan Mami nya Arfin,, tapi karena mereka berdua teh belum siap, lalu terjadi masalah diantara mereka berdua dan berakhir dengan putusnya hubungan mereka,,”, Bunda menceritakan inti permasalahannya saja tanpa membeberkan semua kejadian yang sebenarnya.
“Kok aneh sih,,, disuruh bertunangan bukannya senang ko malah putus?”, tanya Andes heran.
“Iya kami juga merasa aneh,, makanya nanti kalian teh jangan bahas- bahas soal alasan putus mereka ya,,,”, ucap Bunda yang kemudian diangguki oleh ketiga sahabat Naz itu
"Ih,, kalian meuni pinter ya datangnya pas mau makan pagi, kalo kata orang sunda mah lempeng tikoro”, ucap Bunda terkekeh, “Sana gih ke atas,,, di kamar Naz lagi ada si Ayah,, usir aja dia mah, biar gak teriak- teriak lagi kayak tarzan,,”, ucap Bunda yang kemudian kembali ke dapur, sedangkan ketiga sahabat Naz pergi ke kamar Naz yang terletak di lantai dua rumah tersebut.
Saat sampai disana, mereka langsung masuk ke kamar Naz karena pintunya sedikit terbuka, ternyata Naz sedang duduk seorang diri di atas tempat tidurnya sambil memandangi keluar jendela yang terbuka lebar. Merek bertiga langsung menghampiri Naz yang nampak sedang melamun dengan berjalan pelan- pelan. Saat mereka berdiri tepat dibelakang Naz, Ruby memberi aba- aba untuk mengagetkan Naz, 1 2 3,,, Darrrrrr.
“Aaaakkkk”, teriak Naz karena terkejut, lalu membalikan badannya ke arah ketiga sahabatnya itu, “Kalian ?? ngapain pagi- pagi udah pada kesini?”, tanya Naz kaget.
“Ya mau mainlah,,, udah lama banget kan kita gak pernah main kesini,,, emangnya gak boleh?”, Kiara pura- pura tidak menghiraukan mata Naz yang bengkak.
“Yoyoy,,, dan kita udah bawa banyak cemilan,,,, “, Ruby mengangkat kantong kresek dengan label sebuah mini market.
“Iya nih,,,, ada titipan dari Umi,,, brownies lumer buatan Umi gue,,, kata Umi lo suka banget, saat lo maen ke rumah gue ternyata Umi suka merhatiin kalo lo suka ngabisin brownies yang disuguhkan Umi ke lo… “, Kiara pun menjelaskan isi kantong kresek bawaannya.
“Kalo aku bawa kaset DVD Detective Conan sama Detektif Qiu series yang terbaru,,,taraaa”, ucap Andes sambil memperlihatkan kedua kaset DVD nya itu.
“Heh,,, beneran kan itu isinya film Detective Conan??”, tanya Ruby curiga.
“Iya lo,,,, awas aja kalo kayak dulu lagi, bisa habis lo entar di gebukin sama Bunda,,, kita kan nontonnya nanti di ruang tengah”, Kiara ikut menimpal.
“Iya yakin,,, 1000%,, soalnya aku udah nyobain nonton di rumah, tapi baru satu judul aja”, ucap Andes meyakinkan.
“Emangnya kenapa?”, tanya Naz heran.
“Itu Naz,,, inget gak waktu kita main ke rumah Andes saat SMP dulu,, kita kan bosen tuh terus si Andes ngajakin nonton film dan dia ngambil kaset DVD nya dari kamar kakaknya… cover nya aja Doraemon,, pas diputar ternyata itu film -ahh ahh an-,,, anjirrr,,, ternoda deh mata gue”, Kiara menjelaskan.
“Yang kapan sih,, kok gue gak inget?”, tanya Naz yang masih bingung.
“Itu yang waktu kita nengokin Andes gara- gara bonyok abis ikutan berantem bantuin kita ngelawan geng si Raline dulu ih”, Ruby mengingatkan.
“Oh iya, gue inget,,, tapi perasaan kan kita gak jadi nonton, malahan main gapleh”, ucap Naz yang baru teringat.
“Jelas aja lo gak tahu, karena waktu itu lo lagi ke toilet,,,”, ucap Ruby pada Naz.
“Pantesan,, gue gak tahu”, Naz pun paham sekarang.
“Gue juga udah bawa dua mic buat kita karaokean,,,” , Andes kembali memperlihatkan barang bawaannya.
“Pokoknya hari ini kita bakalan memborbardir kamar ini buat bersenang- senang,,, “, ucap Ruby semangat.
Naz tersenyum melihat ketiga sahabatnya, “Makasih yaa,, kalian emang sahabat terbaik gue yang selalu ada buat gue,,, gue yakin kalian udah tahu soal gue dari Bunda ya?,,, karena gak biasanya kalian main sepagi ini, apalagi biasanya hari minggu kalian suka ada acara sendiri- sendiri”, ucap Naz terharu.
“Naz,,, kita minta maaf sebelumnya,, saat liburan kemaren kita jauh dari lo,,, dan ternyata banyak hal yang kita lewatkan,, tapi sekarang kita ada disini buat lo,,,, selain lo udah kehilangan Bude, lo juga udah bubaran sama Kak Arfin, gue tahu ini pasti sangat berat untuk lo, tapi kita disini buat menghibur lo,,, jadi jangan ada air mata kesedihan lagi ya,, jangan mellow- mellow-an lagi ahh,,,”, Kiara bicara panjang lebar.
“Iya Naz,, Kiara benar,,, awalnya aja berat,, tapi lama- lama lo akan terbiasa tanpa adanya dia dalam hidup lo,,, tenang aja masih banyak cowok ngantri yang naksir sama lo,,, mati satu tumbuh seribu, Naz,,, lo lihat gue kan,,, putus terus nemu lagi tambatan hati yang lain,, jadi bisa cepet move on“, Ruby berbagi pengalaman.
“Percaya dehh sama Miss Ruby mah,,, dia kan udah banyak pengalaman putus cinta berkali- kali,, bahkan diputusin,,, kalo kamu mah yang mutusin kan Naz,,,? Jadi lebih terhormat", ucap Andes yang seolah menyindir.
“Sialan lo Des,,, dengan kata lain lo ngatain gue Terhina dong,,,,”, Ruby protes.
“Aku gak ngomong gitu lo,,, “, Andes ngeles.
“Iya Naz,,, lo harus berguru sama Ruby deh kayaknya soal kayak beginian,,, asalkan lo jangan ngikutin kegilaannya aja,,, masa iya setelah dia diputusin sama si Embe dulu sampe guling- guling di tengah jalan,, kan malu- maluin”, Kiara malah mengejek Ruby.
“Ih Najess lo ya,,, fitnah banget sih lo,,, itu gue jatoh dari motor, bukan karena frustasi putus cinta,, dasar geblek lo”, Ruby tidak terima difitnah.
“Tapi kok bisa pas banget kejadiannya?? Ngaku aja deh lo… eh iya,, waktu itu kita pernah ketemu sama si Embe kan Naz”, ucap Kiara yang baru teringat.
“Iya,,, pas kita tanding itu kan? ,, pangling banget dia“, Naz mengiyakan.
“Iya By,,, sekarang si Embe jadi kurus mana ganteng banget lagi,, lo kalo ketemu sama dia,, dijamin bakalan klepek klepek dan pengen balikan lagi sama dia”, ucap Kiara seolah promosi.
“Wah,,, masa sih Ra,,, ?? kok bisa jadi kurus? Apa karena tekanan batin gara- gara putus sama kamu kali By”, tanya Andes.
“Seriusan ,,, masa iya gue bohong,, tanyain tuh sama Naz,,kalo gak salah dia turun hampir 40 kg-an lah kira- kira”, ucap Kiara lagi.
__ADS_1
“Iya bener By”, Naz kembali mengiyakan.
“Wahh,,, alamat bisa balikan lagi kamu By sama si Embe,,, lagian ya kamu lebih cocok sama si Embe,,, kan panggilan kamu Ayang Emby,,, kalo dia Ayang Embe,,, jadi kan cucok meong “, Andes terus promosi.
“Kurang Ajar lo ya Des,,, “, Ruby kesal lalu melempar Andes dengan bantal.
“Hahahhaa,,,, bener juga si Andes”, Kiara mengamini.
“Heh,,, udah deh kasian tahu Akmal,,, Ruby sama Akmal kan udah lama tuh pacarannya,,, dasar kalian teman laknut ya”, Naz membela Ruby.
“Unchhh,, makasih Naz,, lo emang sekutu terbaik gue”, ucap Ruby dengan nada manja lalu memeluk Naz.
“Hehe,,, oh iya By,,, gue punya nomor kontaknya si Embe,, lo mau gak? “, Naz malah menawarkan nomor Embe, dan Ruby pun langsung melepsakan pelukannya.
“Huh,,, dasar sama aja lo sama mereka”, Ruby menggerutu kesal dan membuat ketiga sahabatnya menertawakannya.
“Hahahaha,,,, Naz lebih parah malah… lebih laknut”, ucap Andes.
Tiba- tiba Mbak Iyem datang dan menyampaikan pesan Bunda agar mereka segera turun untuk makan pagi bersama di ruang makan, kemudian empat sekawan itu pun melaksanakan titah Bunda.
Seusai makan mereka pun melakukan banyak hal, bermain kejar- kejaran di halaman samping layaknya anak TK, bermain petak umpet, menonton film DVD Detektive Conan bersama di ruang tengah sambil makan cemilan, karaokean, bahkan mereka pun bermain kartu bersama Ayah dan Bunda dengan hukuman yang menang wajahnya dicora- coret menggunakan lipstik. Memang aneh kedengarannya, tapi Ruby mengatakan kalau yang menang hanya satu orang sedangkan yang kalah lima orang, jadi yang satu orang mendapat coretan dari yang kalah jauh lebih seru.
Hari demi hari dilewati Naz dengan terus ditemani ketiga sahabatnya, baik itu disekolah atau pun di rumah, dan setiap hari minggu mereka akan pergi ke jalan bareng ke mall, bahkan Raline pun sering ikut bersama mereka, karena setiap sabtu minggu Naz menginap di rumah orang tua kandungnya. Dengan begitu, perlahan Naz mulai bisa melupakan kenangannya bersama Arfin, dan menghapus nama Arfin dari ingatnnya, namun entah lah dengan hatinya mah.
Keluarganya pun akhirnya diberitahu tentang kandasnya hubungan Naz dan Arfin, namun saat ditanya kenapa alasannya, Naz hanya mengatakan sudah tidak ada kecocokan diantara mereka. Tentunya Naz memiliki banyak pertimbangan untuk menyembunyikan hal yang sebenarnya terjadi, yakni karena ia tidak ingin ada permusuhan diantara keluarga Arfin dan keluarganya. Di satu sisi orang tua Arfin adalah besan dari Ayah dan Bundanya, sedangkan di sisi lain Pak Latief adalah sahabat Papanya.
Arfin pun menghilang bak ditelan bumi, sepertinya ia mengikuti keinginan Naz agar tidak menampakan dirinya lagi di hadapan Naz. Bahkan saat sahabatnya, Dandy menikah pun Arfin tidak menghadirinya, karena tak ada yang tahu dimana keberadaan Arfin kecuali keluarganya, dan mereka pun seolah menutupinya, walaupun yang bertanya adalah Pak Syarief ataupun Bunda.
***
Satu tahun telah berlalu dan sudah banyak hal yang terjadi, termasuk pada diri Naz yang sudah kembali menjadi gadis periang dan kini sudah mulai belajar dewasa serta tidak kekanak- kanakan lagi, bahkan kini ia sudah pandai memasak karena sering diajarkan oleh Mama nya, namun sifat tengil dan manjanya masih saja ada, mungkin itu sudah mendarah daging.
Naz yang semenjak naik ke kelas tiga sudah tinggal bersama orang tua kandungnya, karena Ayah dan Bunda yang selalu sibuk dengan pekerjaannya masing- masing, sedangkan Naz butuh pembimbing dalam belajarnya untuk menhadapi UN kelak. Dengan alasan itulah Bu Rahmi yang hanya seorang ibu rumah tangga meminta dan membujuk Bunda utuk mengizinkan Naz tinggal bersamanya, dan Naz pun memberikan syarat ia bersedia tinggal di rumah orang tuanya asalkan Elsa juga diizinkan tinggal di sana, sehingga ia pun bisa belajar bersama Raline serta Elsa, namun seminggu sekali Naz pun menginap di rumah Bundanya.
Hari minggu ini Naz bersama ketiga sahabatnya berkumpul di rumah Kiara untuk mengerjakan tugas sekolah dan seperti biasa bertempat di gazebo teras samping rumah Kiara. Setelah selesai mengerjakan tugas, Kiara membawa keponakannya yang baru bangun tidur ke gazebo tersebut.
“Udah cocok lo jadi emak satu anak”, ucap Ruby saat melihat Kiara yang baru kembali dengan menggendong bayi.
"Lucunya.... namanya siapa ? udah berapa bulan usianya Ra?", tanya Naz.
"Namanya Shava,,, usianya baru tujuh bulan", jawab Kiara.
"Eh.. sayang udah bangun... sini sama Mama ", Kakaknya Kiara tiba- tiba datang dan mengambil alih putrinya dari gendongan Kiara, kemudian pamit dan membawanya masuk kedalam rumah.
"Yahhh... baru aja dibawa kesini, udah diambil lagi,,, ", keluh Naz.
"Eh, Ra... kok kakak lo jadi gemuk gitu?", tanya Ruby.
"Itu kan semenjak setahun lalu hampir keguguran disuruh bedrest,, kerjaannya makan sama tidur doang,,, dan setelah lahiran juga gitu, makan, tidur, nyusuin bayi,, suaminya over protektif", ucap Kiara menjelaskan.
"Oh... pantesan,,, jadi yang waktu kita pulang liburan itu kakak lo gak jadi keguguran?? padahal waktu itu banyak keluar darah ya?". tanya Ruby yang teringat kejadian itu.
"Iya Alhamdulillah bayinya masih selamat,,, dan setelah lahir lucu banget", ucap Kiara tersenyum,, Eh..kok gue jadi inget, waktu itu gue ketemu Bang Evan di rumah sakit yang katanya lagi nungguin Kak Arfin yang lagi sakit... oopsss...", Kiara keceplosan menyebut nama Arfin.
"Kiara !!", Ruby langsung melotot.
"Sakit...? dia sakit?.. sakit apa Ra?", tanya Naz sambil mengingat- ingat waktu yang disebutkan Kiara, saat mereka selesai liburan.
"Gue gak tahu,,cuman tahu dia sakit aja,, dan saat itu sudah dirawat 3 hari kata Bang Evan... ehh sorry Naz,, gue gak bermaksud ngingetin Lo sama dia", Kiara merasa bersalah.
"Dia sakit....?? sakit apa??,,,, pantas saja saat itu dia terlihat pucat.... Astaga... apa itu alasan dia,,, gak,,, gak mungkin... gak mungkin", Naz bergumam dalam hati sambil membekap mulutnya dan menggelengkan kepalanya merasa tidak percaya dengan apa yang ia pikirkan sendiri.
-------------- TBC ----------------
*************************
Happy Reading.....😍
Jangan luva tinggalkan jejak mu... like,komen, vote, rate bintang5.👌😉
__ADS_1