
Naz yang sejak masuk kamar Arfin fokusnya hanya tertuju pada Arfin yang terbaring lemas, tidak menyadari di ruangan itu terpajang beberapa foto Arfin dan seorang wanita yang dikatakan Dinda adalah pacarnya Arfin. Saat ia selesai menyuapi Arfin, kemudian ia membereskan bekas makan Arfin dan bekas kompresannya, tanpa sengaja ia melihat sebuah foto di dalam figura kecil terpajang di atas meja laci tempat ia meletakan nampan, kemudian ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan dan melihat beberapa foto lainnya yang terpajang di dinding.
Betapa terkejutnya ia melihat sebuah foto seorang wanita cantik dengan figura besar dipajang di dinding yang tepat berhadapan dengan tempat tidur Arfin, dan jika ia bangun tidur tentulah foto itu yang akan pertama kali dilihat Arfin. Naz membekap mulutnya yang ternganga karena sangat terkejut melihat foto- foto itu,”Jadi wanita yang ada dalam foto itu yang dikatakan Dinda adalah pacarnya Kak Arfin,,”, gumam Naz dalam hati.
Rasa sedih, kecewa, sakit, dan terluka kini menyelimuti dirinya, dadanya terasa sesak dan perih melihat pria yang amat dicintainya ternyata benar- benar sudah berpaling darinya dan sudah menjadi milik wanita lain. Ia keluar dengan membawa nampan dengan tangan bergetar, saat bertemu Ayah dan Bundanya di luar kamar Arfin yang bertepatan dengan ruang tengah ia masih bisa tersenyum, kemudian ia pergi ke dapur, di sana ia melihat kedua ART nampak sedang membicarakan sesuatu, namun saat dirinya masuk ke dapur, mereka langsung diam dan berpura- pura melakukan pekerjaan. Naz langsung meletakan nampan dan bergegas pergi ke kamarnya lagi.
Ceklek ,,,, blam,,,, Naz membuka pintu lalu menutupnya kembali, ia menyender dibalik pintu dan memerosotkan tubuhnya menumpahkan tangis yang ia tahan sejak di kamar Arfin tadi. Ia menangis tanpa suara, namun air matanya mengalir deras deisertai isakan rasa sakit yang teramat dalam. “Kenapa dunia ini begitu kejam padaku, kenapa aku harus mengetahui ini semua di saat aku baru bertemu dengannya lagi, disaat aku memiliki secercah harapan untuk bersamanya lagi.. hiks hiks hiks,,,, rasanya sakit sekali melihat ia bersama wanita lain,, hiks hiks hiks,,,, apa itu alasan yang sebenarnya dia meninggalkanku?,,, Apa karena wanita itu ?,,,, hiks hiks hiks”, lirihnya sambil terisak.
Naz terus menangis hingga ia menjatuhkan tubuhnya ke lantai dan tak terasa ia tertidur dengan membawa luka yang terasa pedih seakan menusuk hatinya yang terdalam.
***
Waktu sudah menunjukan pukul lima lebih sepuluh menit, Bunda sudah di dapur membantu memasak tak kunjung melihat Naz keluar kamarnya, kemudian ia pergi ke kamar tersebut.
Tok tok tok ….” Dek,,, bangun atuh geulis,,, subuhan dulu ini udah jam lima lebih, nanti keburu terang, malu atuh sama matahari dan rumput yang bergoyang”, Bunda mengetuk pintu sambil memanggil Naz, namun setelah beberapa kali tak knjung mendapat sahutan, akhirnya Bunda membuka pintu kamarnya yang ternyata tidak dikunci.
Ceklek ,,,, beghh,,, “Eh,,, apa inih,,,kok ada yang menghalangi pintu,,, Adek,,,, bangun Dek,,,”, teriak Bunda dari selah- selah pintu yang sedikit terbuka.
“Aduhh,,, sakittt”, Naz yang baru terbangun merintih kesakitan sambil memegang bokongnya, kemudian ia menggeserkan dirinya menjauh dari pintu sehingga Bunda yang tadinya menempelkan wajah dibalik pintu langsung terdorong masuk bersamaan pintu yang terbuka karena tekanan dari tubuh Bunda.
“Astagfirullah,,,, untung gak jatuh,,,”, ucap Bunda kaget, lalu beliau melihat Naz tergeletak di lantai lalu menghampirinya, “Adek,,,, kamu teh ngapain tiduran di lantai gitu ihh… ayo bangun,,, ini teh sudah siang, kamu belum shalat subuh ihh ”,cerocos Bunda membangunkan Naz sambil menggoyang- goangkan lengan Naz.
“Emhh,,,, Iyaa Bunda,,, semalam aku susah tidur,, malah ketiduran di sini”, ucap Naz dengan nada serak khas bangun tidur yang kesadarannya belum 100% itu. Ia pun bangun, lalu berdiri dengan sempoyongan dan segera pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu, kemudian ia melaksanakan shalat di samping tempat tidurnya, Bunda pun kembali ke dapur untuk melanjutkan kegiatan memasaknya. Setelah itu, Naz pun kembali melanjutkan tidurnya, karena ia baru saja tidur satu jam lebih, namun kali ini ia tidur di atas kasur yang empuk.
***
Waktu menunjukan pukul sembilan pagi, Bunda kembali ke kamar Naz dengan membawakan sarapan untuknya di atas nampan, karena beliau khawatir pada Naz yang mempunyai penyakit maag. Saat masuk ternyata Naz sudah bangun dan baru keluar dari kamar mandi.
“Baguslah,, kamu teh sudah mandi, Dek,,,, nih sarapan dulu, habis ini kita ke rumah Ina, soalnya Mimih sama Uwa mu sudah ke rumah Ina duluan tadi pagi- pagi sekali setelah selesai sarapan”, ucap Bunda yang kemudian menaruh nampan di atas lemari laci.
“Oke,,,”, ucap Naz yang sedang mengenakan pakaiannya.
“Dek,, matamu kok agak bengkak gitu? Kamu teh habis nangis ya??”, tanya Bunda yang memperhatikan wajah Naz. ”Apa karena kamu melihat foto yang ada di kamar Arfin itu?”, tanya Bunda lagi, “Dek,, udahlah kamu teh gak usah mikirin Arfin lagi,,, kan udah lama kalian teh putusnya juga,,”, ucap Bunda menasehati.
Naz menghela nafas panjang, “Udah ah gak usah bahas itu Bunda,,, aku juga udah gak ada perasaan apa- apa kok sama dia,,, lagian dia nya juga sudah mendapatkan penggantiku,, untuk apa lagi aku mikirin dia,, iya kan…?“, ucap Naz tersenyum, padahal jauh dilubuk hatinya ia merasakan sakit yang teramat pedih. “Bunda masak apa nih,, baunya harum banget?”, Naz mengalihkan pembicaraannya pada makanan yang dibawakan Bundanya.
“Bunda bikin capcai, ayam teriyaki, sama bakwan jagung,, ayok cepat makan,,, Bunda mau ke kamar dulu ngambil tas sama hape, terus kita berangkat ke rumah Tante mu,,”, ucap Bunda yang kemudian beranjak pergi, sementara Naz memakan sarapannya.
Setelah selesai makan, Naz bersiap untuk pergi, dan ia pun keluar dari kamarnya dengan membawa nampan berisi piring bekas makannya untuk dibawa ke dapur. Sesampainya disana, Naz langsung menuju waastafel untuk mencuci piring dan gelas kotor beserta sendok bekas makannya. Di sana ia pun melihat ada nampan berisi mangkuk dan piring yang masih terisi makanan. Dan ternyata sabun pencuci piringnya habis, kemudian ia mencarinya di sekitaran wastafel dan di bawahnya, tapi tak menemukannya, bahkan ia mencari ke kamar mandi dekat dapur.
Saat ia masih di kamar mandi, ia mendengar ada suara Mbak Juminten,
‘nggeh Nyonya, Den Arfin sudah meminta saya menyimpannya semuanya dengan rapi di gudang, dan kemarin sudah diganti dengan yang baru yang dikirim oleh Non Dilara,,,,,, nggeh,,, sekarang Den Arfin sedang beristirahat setelah makan dan minum obat ",,,. Begitulah suara yang terdengar, lalu Naz keluar dari kamar mandi dan menghampiri Mbak Jumi yang sudah selesi menelpon dan sedang membuka kulkas.
“Mbak Jum,,,, “,sapa Naz.
“Astagfirulah,,, eh Non,,, Non Nanaz,,, iy iya ada apa Non?”, Mbak Juminten terkejut melihat keberdaan Naz di dapur.
“Mbak kok kayak melihat hantu gitu sih…?”, tanya Naz heran.
“Eng enggak kok Non,,, ada apa ya Non?” tanyanya yang terlihat gugup.
”Tadi saya mau cuci piring, tapi sabunnya habis,,, teru saya nyari ke kamar mandi,,, tapi sama juga gak menemukannya”, ucap Naz menjelaskan.
“Si Mbak tadi abis beli sabun pencuci piring dari toko di depan sana Non,, biar si Mbak saja yang cuci piring Non”, ucapnya.
“Adek,,, ayok atuh kita ke rumah Tante Ina,,, tadi Bunda cariin ke kamar kok kamu teh gak ada,, ternyata ada disini toh,,,”, ucap Bunda yang tiba- tiba datang.
“Yaudah kalau gitu,,, saya pergi dulu ya Mbak,,, permisi”, ucap Naz pamit pergi bersama Bundanya.
Mereka pun beranjak pergi meninggalkan rumah Arfin menuju ke rumah Tante Ina dengan berjalan kaki, walau sebenarnya kaki kanan Naz masih terasa agak sakit, namun itu tidak membuatnya bermaja ria, katena jaraknya yang cukup dekat. Di perjalanan mereka pun berbincang- bincang.
“Bunda,,, sampai kapan kita di sini?”, tanya Naz.
“Kalau Bunda sih nanti setelah tujuh harian Ayunda pulangnya,, tapi si ayah mah katanya hari minggu besok,,, kenapa emangnya? Kamu udah pengen pulang, Dek?? Besok aja atuh bareng Ayah”, ucap Bunda.
__ADS_1
“Yaudah deh,, besok aku ikut pulang sama Ayah,,, Emmm,,, tapi aku gak mau nginap di rumah Kak Arfin lagi,, kita nginap di rumah Tante Ina saja ya,, atau menyewa hotel gitu?”, Naz mengutarakan keinginannya pada sang Bunda.
“Iya,, sayang,,,”, ucap Bunda mengangguk, lalu merangkul putrinya dan berjalan bergandengan, beliau paham apa yang dirasakan Naz.
Setelah beberapa saat mereka pun sampai di rumah Tante Ina yang ternyata masih saja ada tamu yang berdatangan untuk bertakziah. Naz dan Bunda langsung ke ruang tengah untuk bergabung dengan sanak saudara yang sedang berkumpul di sana, baik dari pihak Tante Ina maupun dari pihak Om Aji, termasuk Mimih dan Uwa nya Naz juga bergabung. Mereka duduk lesehan diatas karpet, lalu saling memperkenalkan diri dan bertegur sapa, dilanjutkan dengan ngobrol basa- basi.
Saat sedang asyik- asyik bercengkrama, tiba- tiba ponsel Naz berdering, dan saat dilihat ternyata itu panggilan telepon dari Mama nya, ia pun pamit meninggalkan ruang tengah menuju ruang tamu yang kebetulan sedang tidak ada orang. Naz berbicara dengan Mama nya, beliau menanyakan kabar dan juga memberi kabar bahwa kedua orangtua Naz beserta kedua saudara perempuannya akan menyusul ke Surabaya dengan mengambil penerbangan sore. Naz merasa sangat senang mendengarnya, kemudian ia menutup sambungan teleponnya.
Saat ia hendak melangkah untuk kembali ke ruang tengah, ada yang membunyikan bel rumah, Naz pun mengurungkan niatnya dan berjalan menuju pintu depan kemudian membukakan pintu. Ia sangat terkejut melihat dua orang yang berdiri di hadapannya.
“Permisi,,, Pak Aji dan Bu Ina nya ada?”, tanya salah seorang itu pada Naz.
“A ada,, silahkan masuk”, ucap Naz yang masih terkejut mempersilahkan kedua orang itu masuk, “Si silahkan duduk,, sebentar saya panggilkan Om Aji”, ucapnya yang kemudian beranjak pergi kembali ke ruang tengah dan memberitahukan Om Aji bahwa ada tamu yang mencarinya.
Naz yang masih terkejut pun duduk kembali di antara keramaian ruang tengah tersebut.
“Mbak Nanaz kenapa tho,,, kok kayak orang abis lihat hantu gitu,,,”, tanya Dinda.
“Eng enggak apa- apa,,, “, ucapnya gelagapan lalu ponselnya tiba- tiba mati karena kehabisan baterai, “Aduh,,, ponsel ku mati,,, kamu punya charger tipe C gak?”, tanya Naz.
“ Charger Tipe C,,,,?? Gak ada Mbak,, adanya yang charger Micro USB”, jawab Dinda.
“Yah,,, gumana ya,,, charger ku di rumah Kak Arfin,,,emmm,,,, antar aku kesana yuk Dind..”, Naz meminta tolong dan Dinda pun menanguuk tanda bersedia, mereka pun bangkit lalu beranjak pergi hendak ke rumah Arfin. Mereka berjalan melewati ruang tamu, Naz kembali melirik pada kedua orang tamu tadi sekilas.
“Adinda mau kemana?”, tanya Johan yang baru pulang dan berpapasan di depan pintu pagar.
“Mau ke rumah Om Arfin nganterin Mbak Nanaz ngambil charger, Mas”, jawab Dinda.
“Oh,, kalau begitu,, sekalian pinjam tongkat buat mengganti lampu, soale punya kita rusak, itu lampu dapur mati,,”, ucap Johan minta bantuan.
“Oh,,,nggeh Mas”, Dinda mengiyakan.
Mereka berdua pun berangkat dengan berjalan kaki menuju rumah Arfin, “Dinda,,, yang tadi itu siapa?”, tanya Naz pura- pura tidak tahu.
“Yang mana Mbak? Itu kan Mas Johan kakak ku lho,,”, Dinda malah balik bertanya, dan mengira Naz menanyakan kakak nya.
“Ihh.. bukan,,, kalo dia mah tahu atuh dari orok juga,,, Itu tamu yang lagi ngobrol sama Om Aji dan Tante Ina di ruang tamu”. Naz memperjelas pertanyaannya.
“Apa??? Sekertaris Kak Arfin ?? dan laki- laki itu pacarnya?”, tanya Naz terkejut.
“Iyo Mbak,,, aku beberapa kali pernah bertemu dengannya saat main ke kantor tempat Ayah kerja,, dan aku juga pernah ketemu Kak Dilara sama pacarnya itu di rumah Om Arfin”, Dinda kembali meyakinkan.
“Apa,..?? bagaimana bisa??,,, apa maksud dari semua ini?? Wanita yang ada di foto itu adalah sekertarisnya Kak Arfin,, bahkan sudah punya pacar…lalu untuk apa Kak Arfin memajang foto wanita itu di kamarnya?”, Naz beranya- tanya dalam hatinya.
“Dilara…?? Spertinya aku pernah mendengar nama itu?”, gumam Naz dalam hati.
Selama di perjalanan Naz terhanyut dalam lamunannya dimana isi kepalanya dipenuhi banyak pertanyaan. Saat sampai ia langsung masuk ke kamar lalu mencari keberadaan charger di dalam kopernya, dan ia pun menemukannya, kemudian langsung digunakannya.
“Dinda,, kita disini dulu ya sebentar,,, sampai ponsel ku bisa nyala,,, baru kita kembali”, ucap Naz.
“Lah,, kan aku disuruh Mas Johan meminjam tongkat untuk masangin lampu tho,,, aku ke Mbak Jum dulu ya,,, “, ucap Dinda.
“Yasudah sana gih,,, aku tunggu di sini saja”, ucap Naz.
“Ehh tapi Mbak,,, temenin aku yuk,, pasti tongkatnya disimpan di gudang,,, aku takut kalo sendirian… temenin yo,,,”, ucap Dinda memohon dan Naz pun mau tidak mau mengikuti permintaan Dinda.
Mereka berdua beranjak keluar dari kamar, Dinda berjalan menuju dapur untuk meminta izin pada Mbak Jum dan meminjam kunci gudangnya, sedangkan Naz ke halaman samping duluan, karena kata Dinda untuk masuk ke gudang lewat jalan pintu samping.
Tak lama Dinda pun datang dengan membawa kunci gudang, lalu mereka berjalan menuju gudang yang terletak di pojok penghubung antara halaman samping dan halaman belakang. Dinda memasukan kucinya, setelah diputar ia pun membuka pintunya. Mereka berdua masuk bersama, karena ternyata Dinda itu seorang penakut, ia pun menyalakan lampu gudang tersebut. Tentunya di gudang itu banyak sekali beberapa barang dan kardus barang yang tertata rapi.
Saat Dinda sedang mencari tongkat tersebut, Naz iseng membuka lemari yang agak besar di disana,,, betapa terkejutnya ia melihat benda yang tersimpan rapi di sana, yang besar diletakan paling belakang, dan kecilnya dibariskan tertata rapi.
“Bagaimana bisa foto- foto ku bersama Kak Arfin ada disini??”, Ucap Naz masih dengan ekspresi terkejutnya, kemudian ia teringat dengan apa yang ia dengar saat di sedang kamar mandi mencari sabun cuci piring.
“Tunggu,,, Mbak Juminten bilang,,, ia sudah menyimpan rapi di gudang dan sudah digantikan dengan kiriman dari Dilara kemarin,,, Apa saat itu ia sedang membicarakan soal foto??,,,,, Jika benar,,, Itu berarti…. Sebelumnya foto- foto ini lah yang ada di kamar Kak Arfin,,,, berarti mereka menggantinya dengan foto Dilara kemarin”, Naz yang merasa sangat terkejut, menerka- nerka berdialog sendiri.
__ADS_1
“Apa maksud semua ini,,,??? Apa yang direncanakan Kak Arfin??? Apa mungkin ia ingin aku benar- benar menjauh darinya?? Ada apa sebenarnya dengan dia,,,, ??,,,, Oh,,, Ya Allah,, kenapa semua ini begitu rumit,,,,, Apa yang harus aku lakukan???”, gumamnya dalam hati sambil memijat- mijat pelipisnya karena merasa bingung dan tidak mengerti dengan apa yang dialaminya.
“Mbak,,, Ayok,,, udah ketemu nih tongkatnya”, Dinda yang datang dari arah belakang Naz tiba- tiba mengagetkan Naz yang sedang melamun.
“Ah,,,, iy iya,,,, ayok”, ucap Naz gelagapan yang kemudian menutup lemarinya.
“Mbak kenapa? Kok kayak pucat gitu? Apa Mbak lihat hantu gitu? Iiihhhh”, Tanya Dinda sambil bergidik.
“Eng enggak kok,, ayok ah kita keluar,, disini pengap”, ucap Naz beralasan, kemudian mereka pun keluar dari gudang dan Dinda kembali mengunci pintunya. Mereka berjalan memasuki rumah, Naz langsung ke kamarnya dan meminta Dinda pulang duluan, sedangkan Dinda ke dapur mengembalikan kunci pada Mbak Jum, kemudian ia langsung pulang membawa tongkat pemasang lampu yang akan digunakan oleh Kakaknya dirumahnya.
Naz masuk ke dalam kamar dan nampak masih memikirkan soal penemuan foto- foto dirinya bersama Arfin di gudang tadi, ia menghela nafas kasar berkali- kali, “Dinda bilang Mbak Jum dan Mbak Retno belum pernah bertemu dengan wanita dalam foto yang dipajang di kamar Kak Arfin, tapi semalam Mbak Retno bilang udah ketemu,,,, terus waktu aku pertama kali datang ke sini, Mbak Jum bersikap seolah pernah melihatku, padahal aku tidak pernah ke sini sebelumnya,,,, Dan jika memang yang di foto itu sekertaris nya Kak Arfin, pasti mereka sudah pernah bertemu kan,,, karena Dinda bilang Dilara pernah main ke sini bersama pacarnya,,,, bagaimana bisa Kak Arfin memajang foto wanita yang sudah punya pacar,,,, arghhhh,,,, ada apa sih ini sebenarnya??”, ucapnya sambil mondar- mandir dengan perasaan gelisah dan penuh tanda tanya memikirkan hal itu.
Naz beberapa kali menghela nafas kasar lalu ia seolah mendapatkan ide untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, “Baiklah,,, aku akan mencari tahu dengan caraku sendiri “, ucapnya optimis.
Naz kemudian beranjak keluar dari kamarnya dan ia berjalan menuju dapur. Di sana terlihat Mbak Jum sedang membersihkan sayuran yang ia keluarkan dari tas belanjaan.
“Mbak Jum,,, baru abis belanja ya?”, tanya Naz yang menghampirinya.
“Retno yang abis dari pasar, si Mbak lagi mencuci sayurannya dulu sebelum dimasukan ke dalam kulkas”,jawabnya.
“Emm,,, Mbak Jum mau masak apa hari ini?”, tanya Naz.
“Tadi si Mbak udah merebus ayam kampung di presto, biar dagingnya empuk,, jadi sekarang tinggal mengolah”, jawabnya lagi..
“Emmm,,, gimana kalau saya bantu masak”, Naz menawarkan diri.
“Oalah,,, jangan Non,, nanti tangannya bisa kotor”, Mbak Jum melarang secara halus.
“Gak apa- apa kali Mbak,, orang aku di Jakarta juga suka masak,,, hehehe,,, Emm,, gimana kalau aku bikin sup ayam?.,... ada daging sapi, tempe. sama telur gak? Sekalian alat penggiling dagingnya juga ada?”, tanya Naz.
“Yowis kalo gitu,,, ada,, sebentar si Mbak ambilin “, kemudian ia pun mengambilkan bahan yang diminta Naz.”Kalo Non masak, si Mbak ngapain toh?”, tanyanya bingung.
“Mbak Jum bantuin ngupas bawang sama potong sayuran ya,, hehe”, ucap Naz, lalu ia memakai celemek dan mulai beraksi. Naz membuat sup ayam kampung, tempe goreng, dan telur dadar gulung isi daging giling dan potongan sayuran kecil- kecil.
Setelah semuanya selesai, Naz mengambil sebuah nampan yang diatasnya diisi satu piring nasi, semangkuk sup, dan piring satunya lagi diisi 4 potong telur dadar gulung yang di tata bersama tempe goreng, satu buah jeruk, sendok, garpu dan tak lupa segelas teh hangat.
“Wahh,,, kayaknya enak banget ini,, pasti Den Arfin suka,,, Sini biar si Mbak yang antar ke kamar Den Arfin”, ucap Mbak Jum.
“Gak usah Mbak,, biar saya saja yang anter”, tolak Naz.
“Tapi Non…”, Mbak Juminten hendak melarang lagi.
“Udah Mbak,,, biar saya saja,,, “,ucap Naz lalu mengangkat nampan tersebut, kemudian membawanya ke kamar Arfin.
Naz mengetuk pintu dan setelah mendapat izin dari Afin, ia pun masuk. Berbeda dengan saat ia pertama kali masuk, kini ia merasa tenang walaupun rasa penasaran terus menghantui dirinya. Perlahan ia melangkah dengan kakinya yang masih terasa sakit, sepertinya kini ia merasakan menjadi Arfin yang berjalan terpincang- pincang.
“Kamu,,,,? Kenapa kamu yang mengantarkan makanan untukku?”, tanya Arfin heran saat melihat Naz masuk ke dalam kamarnya dan sekarang tengah berdiri di samping tempat tidurnya.
“Kebetulan lagi gak ada kerjaan aja dan bosan hanya berdiam diri di kamar, yasudah bantuin Mbak Jum aja nganter makanan ke sini,,, terus ini taruh dimana?”, tanya Naz.
“Di sini saja”, Arfin membuka selimutnya dan ia duduk bersila di atas tempat tidurnya, kemudian Naz pun menaruh nampan yang dibawanya di atas tempat tidur Arfin, dan ia diam berdiri memandangi Arfin.
“Ngapain di situ? Mbak Jum kalo sudah antar makanan langsung keluar”, ucap Arfin seolah mengusir.
“Aku cuman mau mastiin aja, Kak Arfin memakan makanannya, gak kayak tadi pagi”, ucap Naz menyindir.
“Itu bukan urusan mu,,, sekarang silahkan keluar”, Arfin terus meminta Naz keluar.
“Gak mau,,,” Naz terus menolak.
“Keluar atau aku tidak akan makan”, Arfin sampai mengeluarkan ancaman.
Naz menghela nafas kasar, “Ya baiklah,,, “, ucapnya lalu berjalan menuju pintu, kemudian ia membukanya dan keluar, tapi tidak menutup pintunya dengan rapat. Ia mengintip dari balik pintu untuk melihat Arfin.
“Jangan ngintip,, tutup pintunya”, teriak Arfin.
“Cihh,,, kok dia tahu sih,,,”, Naz berdecih sebal, “Kok dia bicaranya jadi seperti itu ya,,, hadeuhh jadi semakin bikin penasaran,,, lihat saja nanti,, sampai kapan kau akan terus berusaha menjauhkan ku dari mu,, ? semakin kau seperti itu aku akan semakin mendekatimu, Aa Arfin sayang,,,, “, ucap Naz tersenyum licik.
------------ TBC ---------------
******************************
Happy Reading 😉
Jangan liva tinggalkan jejakmu like, komen, vote, hadiah, rate bintang 5… 😉😘😘
__ADS_1
Terimakasih bnayak,,, I love U all😘😘