Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Ternyata Kak Arfin Yang Menyelamatkanku.....


__ADS_3

Pagi menjelang siang Naz si gadis jahil yang dengan keceriaannya suka sekali ngisengin orang lain kini terbaring lemah di ranjang rumah sakit, kondisinya pun berangsur membaik, sejak semalam ia tidur, bangun pagi pun setelah makan tidur kembali, dan kini saat bangun Naz dibawa ke ruangan lain melakukan berbagai pemeriksaan sesuai usulan sang Ayah karena takut hipotermia ringan yang dialaminya berefek tidak baik pada beberapa bagian organ dalamnya.


Seusai pemeriksaan Naz kembali di bawa ke ruangannya dan suasana kamar rawat inap yang di tempati Naz kini mulai ramai kunjungan dari keluarga dan orang- orang terdekat yang datang silih berganti hingga sore hari, tak ketinggalan pula ketiga sahabatnya yang menjenguknya sepulang sekolah. Setiap ada yang membuka pintu pandangan Naz selalu tertuju pada orang yang masuk dengan perasaan harap- harap si eta, namun saat melihat orang yang datang ia seperti menampakan raut wajah kecewa, seolah Naz mengharapkan kedatangan seseorang. Nungguin yaaa,,,


Saat tidak ada siapapun di ruangan karena Bunda sedang mengantar keluar geng nya yang habis menengok, terdengar ada yang membuka pintu namun Naz yang tengah berbaring seolah tak ingin memandang ke sana lagi dan ia hanya memandang ke arah jendela. Terdengar langkah kaki seseorang mendekat ke arahnya, dan saat ia sudah berdiri tepat di samping ranjang Naz dengan menyembunyikan wajahnya di balik buket bunga mawar merah yang dibawanya, Naz melirikan matanya jika dilihat dari pakaiannya ternyata itu adalah seorang pria, lalu Naz langsung mengalihkan pandangan pada pria berperawakan tinggi itu dan tersenyum bahagia melihatnya menyembunyikan wajah di balik buket bunga. “Akhirnya kau datang”, gumamn Naz dalam hati sambil- senyam- senyum sendiri. “Masih peduli sama aku rupanya ya,, kok baru datang nengokin aku sih ?”, Ucap Naz dengan sedikit jutek.


“Jadi kamu nungguin kedatanganku ya, cantik”, ucap pria yang masih menyembunyikan wajahnya di balik buket bunga mawar merah itu.


Naz terkejut mendengar suara pria itu, “Bang Evan….”, ucapnya dan Nervan pun meyodorkan buket bunga itu pada Naz. Weyaah siahh bukan si eta euy.


“Iya,,, ini Abang...nih bunga yang cantik untuk gadis yang cantik”, ucapnya tersenyum sedangkan Naz hanya bengong dan terlihat raut kecewa di wajahnya. “Loh kok malah bengong, kamu gak suka bunga mawar nya ya?”, tanya Nervan heran.


“Hehe,, terimakasih ya Bang bunganya,, tolong simpan saja di meja, kalau di ranjang nanti bisa rusak ketindihan aku,,,”, Ucap Naz dan Nervan pun mengikuti perkataan Naz lalu ia duduk di kursi sebelah ranjang Naz.


“Syukurlah sekarang kamu sudah baikan, tidak seperti saat ditemukan di sekolah, kamu sangat pucat menggigil kedinginan dan terus merancau gak jelas”, ucap Nervan yang terus memandang Naz sambil tersenyum manis.


“Hah,,, Bang Evan ada di sekolahku kemarin?”, tanya Naz.


“Iya,, kamu pikir darimana aku tahu kondisimu sedetail itu cantik”, Nervan menjawab.


“Jadi yang menolongku kemarin itu Bang Evan,,, tapi,,,,kenapa aku merasa itu adalah Kak Arfin”, gumam Naz dalam hati.


“Hei,, ko malah bengong”, Nervan mengibaskan pelan telapak tangannya di depan wajah Naz.


“Eng enggak ko Bang,,, terimakasih banyak ya Bang”, ucap Naz tersenyum.


“Sama- sama cantik,,,”, Nervan pun membalas senyuman Naz, tiba- tiba datang seorang petugas rumah sakit yang membawa nampan makanan untuk pasien, dan menyimpannya di meja khusus makanan lalu ia pun berpamitan pergi kembali. “Naz, Abang suapin ya”, Nervan menawarkan diri.


“Jangan Bang, biar nanti sama Bunda aja”, Naz menolak.


“Mana Bundanya juga gak ada,, udah ya Abang suapin aja, gak ada penolakan lagian kamu masih terlihat lemas begitu”, Nervan langsung menyiapkan makanan Naz lalu ia mengatur ranjangnya menjadikan sofa sandaran untuk Naz duduk dengan menggunakan remot, kemudian Nervan menyuapinya dengan telaten dan sesekali menjahili Naz dengan melayang- layangkan sendok yang sudah diisi makanan padahal Naz sudah membuka mulutnya untuk melahapnya.


Seusai makan sesekali Nervan mengajaknya bercanda dengan gombalan atau perkataan nyelenehnya yang mengundang tawa keduanya.


Saat sedang asyik bercanda ada yang membuka pintu, dan rupanya itu adalah Dandy, Arini, dan Hardi. “Wah wah,, ngapain kalian berduaan di sini,, hati- hati loh nanti orang ketiganya setan, tapi bukan gue ya”, ucap Hardi yang menghampiri mereka berdua.


“Pinter lo ya, langsung menolak bala karena takut dikatai setan”, Nervan menimpali candaan Hardi.


“Hai Naz,, “, sapa Arini yang membawa parsel buah di tangannya dan menghampiri Naz,” Gimana keadaan kamu sekarang, sudah baikan?”, tanya Arini sambil menyimpan parselnya di atas meja di samping nampan makanan.


“Alhamdulillah Kak,, sekarang sudah lebih baik, cuman masih agak lemas aja, dan gerah juga karena harus pakai selimut berlapis- lapis gini, hehe”, jawabnya dengan ramah..


“Sabar ya,,nanti kalau suhu tubuh sudah mulai stabil baru bisa pakai satu selimut saja, karena ruangan ini ber-Ac gak ada fentilasi soalnya, ya jalan satu- satunya mempertebal selimutmu, hehe”, Arini sedikit memberi penjelasan, ”Oh iya,, bukannya kalian empat sekawan ya,, kemana satu orang lagi yang tempo hari sakit itu loh?”, tanya Arini pada ketiga pria itu.


“Arfin maksudnya,,? Dia mah lagi di Surabaya lagi sibuk sama kerjaannya, mungkin sekalian cari jodoh juga di sana”, Nervan menjawab seenaknya yang tanpa ia sadari ucapannya itu mampu membuat pasien di ruangan itu semakin kepanasan serasa di tambah lagi selimut yang sangat tebal.


“Iya bener tuh, biar penyakit jomblo akutnya yang udah stadium 4 itu sembuh” ucap Dandy mengamini perkataan Nervan. Kompor dua menyala.


“Ya ampun,, sejak kapan ada penyakit yang namanya jomblo akut,, kayak kanker aja pake stadium 4 segala”,Ucap Arini yang tertawa kecil mendengarnya.


“Ah,,mentang- mentang lo udah sembuh duluan Dan, malah ngejekin Arfin”, Hardi malah mengejek Dandy, “Eh tapi bener sih, Arfin tuh dari dulu paling anti sama cewek, saat sekolah dilarang juga kan sama bokapnya buat pacaran,, tapi kan sekarang mah udah kerja udah punya penghasilan sendiri titel bagus, umur udah cukup, ya tinggal nyari jodoh, bahkan katanya dia sampe beberapa bulan ke depan di Surabaya nya,, ya kita doakan saja semoga dia segera mendapatkan jodohnya di sana, karena di sini gak dapet- dapet, siapa tahu di sana ceweknya lebih bening- bening dari pada di sini”, ucap Hardi panjang lebar yang di amini oleh Nervan, Dandy, dan Arini, Aamiin.


Setelah kompor ketiga menyala Naz sudah tidak tahan lagi mendengarnya, ”Maaf kepala ku agak pusing, aku mau istirahat dulu ya”, ucap Naz mengambil remot pengatur ranjang dan menekannya agar ranjangnya kembali ke posisi semula dan Naz membaringkan tubuhnya.

__ADS_1


“Yasudah kamu yang banyak istrahat ya biar cepat sembuh”, ucap Arini dan ia mengajak ketiga pria itu duduk di sofa dan meninggalkan Naz yang hendak beristirahat, kemudian ia menutup tirai nya.


“Kak Arfin benar- benar tidak mempedulikan ku, aku yakin dia pasti tahu kalau aku sakit dari ketiga sahabatnya, tapi dia tetap di Surabaya malah mencari jodoh segala lagi,, dasar menyebalkan,, menyebalkan”, Naz menggerutu dalam hatinya dan tak terasa air mata pun mengalir begitu saja karena pria yang dinanti kedatangannya tak kunjung datang sampai ia pun tertidur membawa kekesalannya.


“Dek,, sayang,,, bangun sayang,, ini sudah jam enam lebih,, ayo shalat magrib dulu,, magrib itu waktunya singkat”, Bunda membangunkan Naz yang bari tidur satu jam itu.


“Emmmh,,, iya Bunda”, Naz pun mulai membuka matanya dan mengumpulkan nyawanya terlebih dahulu.


“Kalau lagi gak sakit mah kamu teh udah Bunda larang tidur sareupna,,, sekarang kamu tayamum lagi ya seperti tadi dzuhur sama ashar tadi”, ucap Bunda lalu membantu Naz duduk dengan hati- hati agar tidak menganggu jalannya kateter yang dipasang di saluran urethral opening nya, kemudian Naz menghadap tembok samping jendela, Naz pun membaca niat lalu menempelkan kedua telapak tangannya ke tembok dan melakukan tayamum. Kemudian bunda memasangkan mukena pada Naz dan ia pun shalat dengan posisi duduk.


Seusai shalat Naz melepaskan kembali mukenanya dan memberikan pada Bunda nya, saat Bunda menyimpan ke dalam lemari Naz melihat sesuatu di atas lemari itu, “Bunda, itu apa?”, Tanya Naz menunjuk ke benda tersebut.


“Oh iya Bunda lupa, ini paket buat kamu “, Bunda membawa bingkisan tersebut dan di berikan kepada Naz, dan iapun menerimanya.


Saat membukanya Naz sangat terkejut dan merasa tidak percaya hingga mengamati betul- betul benda yang ia dapatkan dari dalam bingkisan itu,” Aaaahhh,,, Tedy bear ku,,akhirnya kamu kembali”, ucap Naz bahagia dan menciumi bonekanya dan memeluknya, lalu ia melihat kembali isi bingkisannya ternyata di dalamnya masih ada barang, ”Ini kan Almond Crispy yang lagi booming di Surabaya itu,,, wahh banyak banget ini Bunda,,,buat aku semua ini??”, Naz memastikan pada Bundanya dan beliau pun mengangguk.


“Iya atuh buat siapa lagi, kan tadi tadi teh Bunda udah bilang itu teh paket buat kamu,, bonekanya kamu ambil saja, tapi cemilannya gak boleh dimakan dulu, nanti aja kalau kamu sudah sembuh”, ucap Bunda lalu merebut bingkisan dari tangan Naz.


“Tapi Bunda,,, itu sembunyiin ya,, nanti dimakan sama Kak Dandy lagi”, Naz pelit sekali rupanya, tiba- tiba terdengar suara deringan ponsel yang ternyata dari tas milik Bunda, dan beliau pun bergegas mengambil ponselnya lalu mengangkat nya. “Halo assalamualaikum Aliya”, ucap Bunda sambil mendadah- dadahkan tangannya. Ternyata itu panggilan video call.


“Wa'alaikumsalam Wawa Anita”, terdengar suara perempuan yang menyerupai anak kecil membantu menjawab salamnya Bunda. “Teh, gimana kabarnya Nanaz sekarang?” tanyanya .


“Alhamdulillah sudah membaik Na, nih kamu ngobrol langsung aja atuh ya, teteh mau ke kamar kecil dulu”, ucap Bunda sambil menyerahkan ponselnya pada Naz.


“Hai Nanaz,,, Aliya ayo sapa kak Nanaz nya”, ucap Tante Ina yang mengajari puteri bungsunya untuk menyapa kakaknya,,” Hallo kak Nanas”,ucap gadis kecil itu.


“Hallo juga Aliya cantik,, tante Ina apa kabar?”, tanyanya.


“Alhamdulillah baik,,, bagaimana dengan mu apa sudah baikan?”.


“Wahh sudah sampai ke sang empu nya rupanya,, maaf ya sayang waktu itu Aliya gak mau lepas dari bonekanya jadi terpaksa dibawa pulang,,, dan katanya kamu sampai mogok makan dan pingsan ya gara- gara tedy bear nya diculik Aliya?”.


“Hehehe,, gossip itu Tante,, pasti Bunda yang ngadu ya,,,?,,, oh ya memangnya Aliya gak apa- apa gitu bonekanya di balikin ke Aku?”.


“Gak apa- apa kok sayang, lagian kan boneka mu itu katanya ada nilai sejarahnya gitu,,hahaha”, Tante Ina malah menggoda Naz, sedangkan Naz tampak malu- malu.


"Lagi pula Aliya udah dapat gantinya yang lebih besar malah sepantaran sama badannya Aliya,, gak mau lepas dia “, ucapnya sambil memperlihatkan Aliya yang tengah memeluk boneka barunya itu.


" Sudah dulu ya, nanti disambung lagi , itu Papa nya Aliya memanggil,, semoga cepat sembuh ya sayang, salam buat semuanya ya, Assalamualaikum”.


“Amiin ,, iya salam juga buat Tante Ina sekeluarga di sana, Wa'alaikumsalam”, Naz pun mengakhiri panggilan video callnya. “uuunchh,, tedy bear sayangku, aku sangat merindukan mu,, tapi aku sebal dengan tuan mu itu,, kamu harus ada di pihak ku ya”, ucapnya sambil memeluk bonekanya itu.


“Sudah selesai video call nya?”, Tanya Bunda yang baru saja keluar dari kamar mandi.


“Udah Bunda, katanya Tante Ina titip salam buat semuanya, nih ponselnya”, Naz menyerahkan kembali ponsel Bunda nya, “Oh iya Bunda, ponsel aku mana?”, Naz baru mengingat seharian ini ia tidak memegang ponselnya. Lalu bunda mengambilkan ponsel Naz dari dalam laci yang tadi pagi sudah di charger nya, dan diserahkan kepada Naz, dan ia pun langsung melihat isi ponselnya, terdapat banyak panggilan tak terjawab yang ternyata itu di hari kemarin saat ia menghilang, begitu pun saat melihat pesan kebanyakan pesan yang kemarin. Gaaleun


“Dia benar- benar tidak peduli padaku lagi, bahkan tidak menelpon atau mengirim pesan menanyakan keadaanku”, Lirih Naz sedih dalam hatinya, lalu ia menyimpan ponselnya di meja kecil yang berlaci di sebelah tempat tidurnya.


Tak terasa Naz dirawat di rumah sakit sudah tiga hari, dan selama itu pun keluarga dan sahabatnya selalu datang menjenguknya silih berganti, bahkan Nervan pun selalu datang di saat- saat jam makan Naz dan selalu memaksa menyuapinya, dan mereka pun jadi semakin akab,,modus pendekatannya berhasil rupanya. Selama itu pula Naz masih mengharapkan Arfin datang atau sekedar mnghubunginya untuk menanyakan kabarnya, namun harapannya itu tak kunjung terpenuhi dan membuatnya merasa tidak ingin mengenal Arfin lagi.


Hari ini hari keempat Naz dirawat di rumah sakit, seperti biasa ketiga sahabatnya datang mengunjunginya sepulang sekolah, karena kebetulan mereka pulang lebih awal karena di sekolah akan diadakan rapat para guru.


“Naz, cepet sembuh dong, gak asik tahu di sekolah gak ada lo, serasa ada yang kurang gitu”, Ucap Ruby yang duduk di kasur dekat kaki Naz .

__ADS_1


“Iya ih kangen banget sama kamu tahu”, Andes yang duduk di kursi sebelah ranjang pun ikut bicara.


“Kangen apaan sih,, kan kalian tiap hari kesini”, tanya Naz heran.


“Maksudnya kangen ditraktir”, Andes berkata dengan empuknya.


“Uhh dasar kampret lo”, Kiara yang sedang selonjoran di sofa melempar Andes dengan bantal sofa.


“Iiih, Kiara sakit tau,, gimana kalau nanti aku geger otak, terus amnesia jadi gak inget lagi sama kalian,, kan kalian pasti sedih,, aku gak mau bikin kalian jadi sedih”, Andes bicara dengan nada manja.


“Nazis lo Des, itu buktinya lo baik- baik aja,, Ra lempar dia pakai meja kaca itu untuk mengabulkan keinginannya supaya amnesia,, siapa tahu kalau amnesia dia jadi laki macho”,Ucapan Ruby mengundang gelak tawa para sahabatnya.


“Iiih,, kalian itu memang jahat ya sama aku, gini- gini juga kan aku sayang sama kalian, kalau aku macho nanti aku gak bergaul dengan kalian lagi para cewek- cewek dong, bergaulnya kan harus sama cowok lagi”, ucap Andes.


“Naz, sejak gue duduk di sini kok ada getaran mulu, ponsel lo bergetar terus tuh, kayaknya ada telepon, angkat napa sih”, ucap Ruby.


“Udahlah biarin aja, gak penting”, ucap Naz dengan nada malas, tiba- tiba Bunda masuk tanpa permisi lalu menghampiri Naz.


“Dek, ini Arfin telepon, katanya teh mau bicara sama kamu”.


“Nanti aja Bunda, bilang aja aku nya lagi ngobrol sama Kiara, Andes, dan Ruby, gak bisa diganggu".


“Halo Arfin, kamu teh sudah dengar sendiri kan perkataan Naz barusan, mohon maaf ya,,” Bunda pun mengakhiri panggilan telepon. “Dek, jangan gitu atuh ah,, kasihan itu teh Arfin dari semalam susah banget menghubungi kamu, katanya telepon sama video call gak diangkat, chat gak dibalas, dia teh kan cuman pengen tahu keadaan kamu setelah kejadian di sekolah itu”, Bunda menceramahi Naz sebagai jubir yang merupakan sekutu Arfin yang nomor satu. Sedangkan yang diceramahi nampak manyun karena merasa kesal Bundanya malah membela orang yang sedang ia benci saat ini. “Yasudah atuh ya Bunda pulang dulu, nanti ashar ke sini lagi, titip Naz yaa geng ceriwis, Bunda pergi dulu, assalamualaikum”, Bunda pun pergi setelah salamnya dijawab serentak oleh Naz dan ketiga sahabatnya.


“Jadi yang dari tadi ponsel lo bergetar itu telepon dari Kak Arfin?”, tanya Ruby dan diangguki oleh Naz yang masih cemberut, “Naz gak boleh gitu dong, kasihan kan Kak Arfin pasti khawatir banget sama lo”, Ruby ikutan jadi sekutu Arfin.


“Iya ih Naz,,, kamu gak tahu apa perjuangan Kak Arfin mencari- cari kamu udah kayak orang gila tahu gak,,,opsss”, Andes langsung menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


“Andes,,,”, Ruby langsung melotot.


“Maksudnya apa Des?,, kalian nyembunyiin sesuatu ya dari gue?”, Naz memandangi satu persatu sahabatnya secara bergantian, “Kalian nyembunyiin apa dari gue?”, Tanyanya dengan nada sedikit marah.


Kiara bangkit dari duduknya lalu menghampiri Naz dan duduk di ranjang mengahadap Naz yang sedang duduk bersila, “Naz, sebenernya kita gak mau membahas apa yang terjadi sama lo di sekolah kemaren, kita takut kalo lo masih trauma akan hal itu, karena sebelumnya lo pernah kan trauma akan sesuatu dan sampai sekarang jika ada hujan gledek sama petir pasti lo ketakutan, jadi Bunda melarang kami untuk membahas kejadian yang menimpa lo kemarin sampai lo sembuh nanti”, ucap Kiara.


“Ra, emang gue sempat ketakutan tapi saat gue denger ada suara kalian di balik pintu gue yakin gue gak akan mati kedinginan di sana dan kalian bisa nyelamatin gue,,, terimakasih banyak kalau bukan karena kalian mungkin gue udah,,,,”.


“Naz,, kalo lo mau berterima kasih lo salah orang, Kak Arfin sama kita nyariin Lo, terus dia juga yang mendobrak pintu untuk nyelamatin lo dan segera memberi pertolongan pertama sama lo sebelum ambulan datang“. Ruby menjelaskan.


“Jadi yang menyelamatkan ku itu Kak Arfin bukan Bang Evan”, Gumam Naz dalam hati.


Setelah banyak bercerita dan bercanda segala macamnya, ketiga sahabat Naz pun pamit pulang karena Bunda sudah datang kembali. Naz nampak kelelahan ia membaringkan dirinya sambil memandang ke arah jendela dengan tatapan sendu karena sudah mengacuhkan Arfin tapi ia terlalu gengsi untuk menghubungi Arfin duluan.


Tok tok tok,,,ceklek,,, terdengar suara ketukan pintu dan kemudian dibukanya pintu tersebut, langkah kaki seseorang mendekati tempat tidur Naz,,, “Permisi, Neng ini makanannya “, ucap orang tersebut dan menyimpan makanan di meja khusus untuk makanan pasien. Suara orang itu membuyarkan lamunan Naz dan membuatnya menolehkan pandangan ke pengirim makanan tersebut.


“Kak Arfin,,,,,”, ucapnya terkejut.


---------- TBC ------------


************************


Siapa hayooo yang kangen sama Aa Arfin....


__ADS_1


Happy Reading.... 😉


Jangan lupa tinggalkan jejak... 😉🥰


__ADS_2