
Hari menjelang sore langit pun nampak bersahabat mempertontonkan cuaca yang masih cerah, namun berbeda dengan apa yang di rasakan Bunda yang nampak diselimuti awan gelap dengan raut bermuram durja berjalan mondar- mandir sambil menempelkan ponsel ke telinga nya dan berbicara dengan seseorang, kemudian dimatikannya dan ternyata kembali menelpon seseorang lagi sepertinya dengan orang yang berbeda hingga ia melakukan beberapa kali panggilan.
Wajahnya kini nampak kusut dipenuhi rasa cemas sambil terus mondar- mandir seperti setrikaan yang sedang melicinkan pakaian yang tak kunjung rapi di teras rumahnya, sesekali melirik ke pintu gerbang, “Kemana anak itu, sudah lewat ashar begini belum juga pulang, bahkan tidak mengabari sama sekali”, ucapnya kesal bercampur panik dan tiba- tiba terdengar ada suara mobil berhenti di balik pintu gerbang, itu membuatnya bisa bernafas lega, kemudian tak lama setelah itu ada seseorang yang berperawakan tinggi memakai celana jeans, kaos putih dengan jaket biru dongker dengan membawa tentengan goodie bag ditangannya membuka pintu gerbang dan berjalan menghampiri Bunda. “Arfin, kamu tuh kalau mau pergi ngajak Naz bilang dong sama Bunda”, ucap Bunda dengan nada ketus sambil berkecak pinggang, sedangkan Arfin merasa terkejut baru saja tiba sudah kena semprot.
“Pergi sama Naz? Enggak kok Bunda”, jawabnya dan merasa heran.” Aku baru saja sampai dari Surabaya dan langsung kesini, memangnya Naz gak ada Bunda?”, Arfin malah balik bertanya.
“Hah,,, terus Naz kemana atuh, dari tadi belum pulang dan susah dihubungi,,aduh masa iya Naz hilang,,”, Bunda kembali panik, “ Ayah,,, ayah….”, saking paniknya Bunda malah berteriak gak jelas.
Ayah pun datang menghampiri sepertinya berlari dari dalam, “Ada apa Bund,,Kenapa teriak- teriak begitu? Apa ada maling atau ada apa?”,Ayah pun ikut panik karena tidak biasanya istrinya berteriak- teriak seperti itu.
“Ayah gimana ini teh, Naz hilang,, dia belum pulang dan gak ada kabar sama sekali,,,aduh gimana atuh ini teh,, ponselnya aktif tapi ditelpon gak diangkat- angkat,,,jangan sampai dia diculik lagi atuh Yah,,”, Bunda merengek karena saking panik dan takut Naz kenapa- kenapa.
“Apa Bunda sudah coba hubungi teman- temannya?”, Arfin yang ikut cemas langsung menghampiri Bunda dan Ayahnya Naz.
“Udah Ar,, Bunda teh udah nelepon Kiara, Ruby, Andes dan mereka pun tidak tahu keberadaan Naz karena sepulang sekolah tidak bertemu dengan Naz lagi katanya teh, bahkan Pak Udin supirnya pun tidak tahu keberadaan Naz karena dia sedang ke Bekasi nganterin Mbak Rahmi,, gimana atuh Yah,,, Naz dimana ini...hiks hiks”, Bunda yang sudah kelewat panik pun akhirnya sampai menangis.” Giman kalau kita teh lapor polisi aja atuh Yah”.Bunda mengusulkan.
“Tenangkan dirimu dulu,,, kita belum bisa melaporkan kehilangan ke kantor polisi karena Naz menghilang belum 24 jam,,lagi pula kita belum mencarinya kan,, “, Ucap ayah menenangkan Bunda.
“Maaf Om mungkin sebaiknya kita mencari ke tempat yang biasa Naz kunjungi”, Arfin memberi saran.
“Iya, kamu benar Ar.. yasudah Ayah ganti pakaian dulu dan mengambil kunci mobil di dalam, kita akan mencari Naz”, Ayah pun kembali masuk ke dalam rumah.
Tak lama setelah Ayah masuk datang lah Kiara bersama Ruby yang menaiki motor melewati pintu gerbang yang masih terbuka bekas Arfin masuk tadi. Ruby langsung turun dan berlari menghampiri Bunda sedangkan Kiara memarkirkan motor terlebih dahulu, “Bunda, gimana udah ada kabar dari Naz??”, Ruby langsung menanyai Bunda yang sedang duduk dan sesekali menghapus air matanya.
“Belum By, ini kita teh mau nyariin Naz”, Bunda menjawab sambil terus meneteskan air matanya.
“Ruby, apa kamu tahu tempat yang biasanya dikunjungi Naz kalau pulang sekolah atau di waktu senggangnya??”, Arfin yang duduk di kursi berlainan bertanya pada Ruby.
“Tahu, Kak,,, Naz biasanya sama kita suka pergi ke teras belajar, atau makan dan nongkrong ke The Raos Café, ke panti asuhan kasih Ibu, dan,,, dan,,,emm ,,,dan”, Ruby tidak melanjutkan perkataanya karena tidak enak hati pada Bunda.
“Dan kemana Ruby?”, Arfin yang menunggu perkataan Ruby tak kunjung terucap.
“Ke rumah Bu Mira, Kak”, Jawan Kiara yang baru menghampiri mereka.
“Ayo kita berangkat mulai mencari Naz”, Ayah yang baru keluar rumah dan sudah siap mengajak segera berangkat.
“Maaf Om, tadi setelah mendengar penjelasan Ruby dan Kiara ada empat tempat yang biasanya dikunjungi Naz sepulang sekolah atau di waktu senggangnya, mungkin sebaiknya kita membagi tugas untuk mencarinya ke masing- masing tempat agar mengefisienkan waktu dan mempermudah pencariannya”, Arfin menyarankan strategi pencarian.
“Iya,, saya setuju dengan ide mu Ar,, memangnya kemana saja biasanya Naz pergi? ", tanya, Ayah.
“Biasanya ke Teras belajar, The raos café, ke panti asuhan kasih ibu, dan ke rumahnya Bu Mira, Om”, Kiara menjawab.
“Kalau begitu kita ke rumah Mira saja Mas”, Bunda langsung mengusulkan.
“Berarti sekarang tinggal 3 tempat lagi,, karena Teras belajar searah dengan The Raos Cafe, aku saja dan Ruby yang mencari ke sana Bunda”, Kiara pun mengajukan diri.
“Oke, kalau begitu saya yang ke Panti asuhan kasih ibu”, ucap Arfin yang kebagian sisanya.
Setelah semuanya menyepakati pembagian tempat pencarian akhirnya mereka bergegas berangkat memulai pencarian ke tempat tujuan masing- masing, Bunda bersama Ayah, Ruby bersama Kiara dan Arfin seorang diri. Ayah dan Bunda telah masuk ke dalam mobi, begitupun Kiara dan Naz sudah menaiki motor, saat Arfin berjalan menuju pintu gerbang datang seseorang, “Haii,,, guys,, Gimana Naz udah ketemu belum??”, Andes berlari kecil memasuki gerbang sambil berteriak.
“Eh bencong lo baru datang lagi, minggir lo,,,kita mau berangkat mencari Naz”, Kiara malah memarahi Andes yang datang terlambat.
__ADS_1
“Hah,, terus aku gimana dong?”, tanyanya dengan polos.
Arfin menghela nafas kasar dan menggelengkan kepalanya dengan raut muka kesal, ”Ayo kamu ikut dengan saya”, ucapnya sambil berjalan melewati Andes lalu masuk ke dalam mobilnya yang diparkir di samping gerbang.
Andes malah berdiri sambil bengong “yess naik ferarry”, gumamnya dalam hati.
Tin Tin.. suara klakson yang dibunyikan Arfin membuyarkan lamunan Andes, lalu ia membalikan badannya, dan mobil sudah ada di hadapannya Arfin membuka kaca pintu mobil ,”Ayo tunggu apalagi”. ucap Arfin sedikit kesal.
“Iy iya Kak,,”, ucapnya tersentak lalu berjalan menjadi mobil, “ ko bukan ferary sih“, gumamnya pelan lalu ia menaiki mobilnya.
Ketiga kendaraan itu pun berangkat ke tempat tujuannya masing- masing. Arfin menyetir dengan perasaan khawatir, namun ia mencoba menenangkan diri sebisa mungkin dengan berfikiran positif kalau Naz akan baik- baik saja. Ia terus melajukan mobilnya menuju panti asuhan kasih ibu, dan setelah beberapa saat sampailah di tempat tujuan. Arfin memarkirkan mobilnya tepat di halaman panti yang sudah tidak asing lagi baginya tersebut, kemudian ia dan Andes keluar dari mobil.
“Assalamu'alaikum,,, Bude”, Arfin memberi salam pada Bude yang tengah duduk di kursi teras panti sambil menyulam.
“Wa'alaikumsalam,,, eh ada Arfin dan Andes ”, Bude menjawab salam dan menyapa Arfin yang menyalaminya dan diikuti oleh Andes.
“Gimana kabarnya Bude”,tanya nya basa- basi.
“Alhamdulillah baik,,, syukurlah kamu sudah sehat kembali”, ucapnya yang mengingat terakhir kali bertemu dengan Arfin saat ia dirawat.
“Iya Bude, alhamdulillah, oh iya Bude apa tadi ada Rheanazwa adiknya Dandy berkunjung ke sini?”, tanya Arfin.
“Naz maksudnya?? Enggak tuh,,dia gak ada main kesini,,semenjak mengantar Bude menjenguk mu ke rumah sakit tempo hari, Naz belum pernah kesini lagi ", jawab Bude lalu menghentikan kegiatan menyulam nya.
“Hah,, Bude yakin??”, tanya Arfin memastikan.
“Iya, Bude yakin ,, karena Bude tidak pernah bepergian selama beberapa hari ini,, memangnya kenapa Ar kamu terlihat khawatir begitu?”, Bude merasa ada yang aneh.
“Gini Bude, tadi saat saya ke rumah Dandy, Bunda sedang gelisah karena Naz belum pulang ke rumah dan tidak ada kabar bahkan tidak bisa di hubungi, jadi kami berpencar mencari ke tempat yang bisa Naz kunjungi, aku pikir dia ada disini”, Arfin menjelaskan.
“Apa ? Danau?,,, maksud Bude danau kecil yang dekat taman itu?”, tanya Arfin yang merasa terkejut.
“Iya, danau mana lagi Ar, masa iya ke danau Toba, kejauhan atuh", Bude malah ngajak bercanda orang lagi serius juga.
“Naz suka pergi ke danau itu Bude?”, pertanyaan yang kesekian kali nya, hadeuh Aa Arfin kayak lagi ngintrogasi aja.
“Iya, setiap kali dia kesini pasti pergi ke danau, selain untuk menenangkan diri dia juga ke sana untuk….”, Bude belum selesai menjelaskan Arfin langsung bergegas pergi meninggalkan Bude dan Andes.
Arfin tanpa berpikir panjang langsung berjalan menuju danau, walaupun dengan terpincang-pincang ia berusaha berjalan secepat mungkin dengan perasaan gelisah dan raut wajah yang mulai berantakan. Setelah beberapa saat sampailah ia di taman tersebut ia berteriak- teriak memanggil nama Naz, namun tidak ada sahutan sama sekali, ia terus mengarahkan pandangan ke berbagai arah mencari keberadaan Naz namun tetap nihil, " Naz……. Kamu dimana Naz”, ucapnya berteriak lalu mendudukkan dirinya di bangku besi yang menghadap ke danau. Arfin mendapatkan telepon dari Bunda bahwa mereka pun tidak menemukan Naz di rumah Bu Mira, begitu pula Kiara dan Ruby tidak menemukannya, ia menutup sambungan teleponnya dan terus menghela nafas kasar , “Dimana kamu Naz,, jangan membuat ku khawatir seperti ini,,,arghhhh”, ia mengusap kasar kepalanya, lalu ia memutuskan untuk kembali ke Panti.
Sesampainya di panti ia langsung disambut oleh Bude dan Andes yang mengkhawatirkan Naz dan menunggu kabarnya, "Arfin, gimana ,, apakah Naz ada di sana?? “Tanya Bude harap- harap cemas, sedangkan Arfin yang nampak kacau hanya menggelengkan kepala saja tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. “Ya ampuun, dimana anak itu, tadi Andes dapat kabar dari yang lain pun belum menemukan keberadaan Naz”, ucap Bude semakin khawatir.
Tiba- tiba terdengar suara motor yang kemudian memasuki halaman panti dan berhenti di sebelah mobil Arfin, “Gimana Kak Arfin, apa kalian menemukan Naz?”, Tanya Ruby yang baru turun dari motor. Sama seperti tadi Arfin hanya menggelengkan kepala tanpa berkata apa pun,” Ya ampuun,, gimana ini, hari udah makin sore sebentar lagi magrib, Naz masih belum ada kabar, hiks hiks,,,, aku nyesel kenapa tadi aku gak nganter Naz ke ruang musik”.
“Apaaa??”, Arfin, Andes dan Kiara bertanya serentak.
“Maksud kamu apa Ruby?”, Arfin bertanya kembali.
“Iya tadi tuh pas jam pelajaran kesenian kami diboyong ke ruang musik oleh Bu Tika, setelah beliau selesai menjelaskan kami diberi tugas. Saat sedang mengerjakan tugas Naz izin ke toilet tapi lama tidak kembali sampai bel pulang berbunyi,, terus Naz kembali ke kelas saat kami akan pulang, tapi dia belum menyerahkan lembar tugas nya pada Bu Tika, lalu dia bergegas menghampiri Bu Tika ke ruang musik untuk menyerahkan lembar tugasnya,, sedangkan aku buru- buru pulang karena kakakku sedang ngidam minta dibelikan mie ayam,, seandainya aku terus bersama Naz pasti dia gak akan hilang gini,,hiks hiks”, Ruby menceritakan kejadian terakhir saat bersama Naz, lalu ia menangis dan dipeluk oleh Kiara.
“Kenapa kamu gak bilang dari tadi”, Ucap Arfin dengan nada membentak.
__ADS_1
“Maaf Kak,, aku gak tahu kalau bakal jadi seperti ini,,, tau gini aku bakalan terus nemenin dia..hiks hiks hiks”, Ruby semakin merasa bersalah
“Yausudah ayo kita coba cari ke sekolah, siapa tahu ada yang melihatnya di sana, atau melihat Naz pergi bersama siapa “, Andes menyarankan.
“Apa mungkin dia dijemput sama……..”, perkataan Ruby langsung terhenti karena Kiara langsung menyikut Ruby.
" Sama siapa? ", Tanya Arfin.
“Enggak Kak,,,maksud aku, emm...maksudku dijemput sama Pak Udin”, ucap Ruby yang hampir keceplosan.
" Bunda bilang Pak Udin sedang ke Bekasi mengantar tante Rahmi,,, Yasudah ayo kita berangkat ke sekolah”, ucap Arfin.
Mereka berempat pun berpamitan pada Bude Hafsah dan bergegas melajukan kendaraan masing- masing menuju ke sekolah, Arfin mengabari Bunda dan juga Dandy bahwa mereka akan pergi ke sekolah sesuai dengan penjelasan Ruby dimana ia terakhir melihat Naz, dan mereka pun akan segera menyusul. Setelah beberapa saat tibalah mereka di gerbang sekolah yang sudah ditutup namun ternyata belum digembok.
Tin tin….. Arfin membunyikan klakson berkali-kali kali supaya penjaga membukakan gerbangnya, dan munculah seorang penjaga menghampiri mobil Arfin dan ia pun menurunkan kaca pintu mobilnya, "Buka gerbangnya”, ucap Arfin dengan nada bossy.
Pria itu membungkukkan tubuhnya dan mendekatkan kepalanya ke kaca pintu Arfin, “Maaf Mas, sekolahnya sudah tutup “.
Arfin menarik kerah baju penjaga itu, “Buka gerbangnya sekarang juga?” Arfin mulai marah.
“Maaf Mas tapi…”, penjaga itu mencoba melepaskan cengkraman Arfin namun cengkeramannya sangat kuat.
“Gue bilang buka ya buka, cepat,, atau saya tabrak pintu gerbangnya”, Arfin melepaskan cengkeramannya lalu mendorong penjaga tersebut. “Cepat buka !! “ ucap Arfin penuh emosi, dan sang penjaganya pun merasa ketakutan melihat kemarahan Arfin, lalu ia pun membukakannya, mobil Arfin masuk menuju parkiran sekolah diikuti motor Kiara. Mereka menanyakan kepada penjaga sekolah yang ada dua orang itu, mungkin mereka melihat Naz di sekitaran sekolah dengan memperlihatkan fotonya, namun mereka tidak melihatnya.
Kemudian mereka bergegas mencari Naz dengan cara berpencar, Kiara mencari ke kelas- kelas ditelusurinya yang semua sudah terkunci, Ruby mencari ke toilet karena mengingat Naz tadi siang sakit perut, Andes mencari ke masjid berfikiran Naz ketiduran setelah shalat dzuhur, dan Arfin mencari ke beberapa koridor dan ke kantin,, mereka semua berkeliling tetap nihil tidak menemukan keberadaan Naz dimana pun.
“Dimana kamu Naz,,,dimana?”, Arfin hampir putus asa mencari keberadaan Naz semakin diliputi rasa khawatir. Saat dia berjalan ia melihat diatas pintu terdapat kata Ruang Musik/ Music Room, ia teringat perkataan Ruby kalau Naz pergi ke ruang musik untuk menyerahkan tugasnya, tok tok tok “Apa ada orang di dalam”, Arfin mengetuk pintu yang terkunci itu ,”Naz,,, Naz,, apakah kamu di dalam”, Teriaknya lalu menggedor pintu seperti orang gila sampai tak terasa ia mengeluarkan air matanya, karena tidak bisa menemukan keberadaan Naz dan sangat takut jika terjadi sesuatu dengannya. Ia memerosotkan tubuhnya dan bersandar pada pintu, “Naz,, dimana kamu Naz,,, arghh,, “ gubrukkk,,Arfin menonjok kan kepalan tangannya pada pintu tersebut karena merasa frustasi, Arfin pun bangkit dan ia melangkah mundur ke samping sampai kakinya tanpa sengaja menyenggol ember kosong yang ada di sana, ia pun berbalik dan langsung menendang ember itu, “Brengs*k,,,”.
Tiba- tiba terdengar suara adzan magrib berkumandang, Arfin pun melangkahkan kakinya berjalan menuju masjid sekolah untuk melaksanakan shalat, selain itu adalah kewajiban bagi umat muslim untuk mendekatkan diri pada Sang Ilahi, dengan shalat juga bisa menenangkan hati dan menjernihkan pikiran.
Ternyata di sana sudah ada Andes dan Ruby, saat memandang ke arah Arfin, tatapan mereka seakan mempertanyakan keberadaan Naz dan Arfin hanya bisa menggelengkan kepala dengan raut wajah sedih. Mereka pun masing- masing mengambil air wudhu lalu masuk ke dalam masjid, melaksanakan shalat berjamaah bersama dua penjaga sekolah dan dua orang pria lainnya.
Seusai shalat Arfin berdzikir lalu memohon diberikan petunjuk mengenai keberadaan Naz dengan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya seperti anak kecil yang tengah menangis karena pundung. Arfin dan Andes yang duduk bersebelahan tanpa sengaja mendengar percakapan dua orang pria yang tengah membereskan sajadah dan mukena di depan lemari kecil yang tak jauh dari tempat mereka duduk, yang satu pria paruh baya dan yang satu lagi masih muda, “Paman, saya mau pulang saja,,, saya gak betah kerja di sini”, ucap pria yang masih muda itu.
“Kamu gimana sih, baru saja tiga hari kerja disini sudah mau pulang, katanya pengen membantu orang tua mu membiayai sekolah adikmu di kampung, masa baru tiga hari kerja saja sudah menyerah dan mau berhenti”, ucap pria paruh baya itu.
“Tapi paman, saya takut di sini, masa tadi siang ada hantu”, ucapnya sambil bergidik.
“Ngaco kamu, Paman sudah bertahun- tahun kerja di sini, gak pernah tuh lihat hantu apalagi di siang bolong begitu”, ucap sang Paman tidak percaya.
“Beneran Paman, tadi siang itu aku mau mengepel lab. bahasa, aku simpan ember berisi air yang sudah ku campurkan pembersih lantai dan disimpan di luar, lalu aku masuk ke dalam untuk menyapu ruangan terlebih dahulu, saat aku mengambil lap pel dan mau mencelupkannya ke ember, ternyata air di ember itu sudah tidak ada tapi lantai di sekitarnya tidak ada bekas tumpahan air, saat aku melihat ke sana– kemari tidak ada orang satu pun, tiba- tiba ada yang menggedor- gedor pintu, tapi saat ku gedor kembali pintu itu dan aku tanya ada siapa di dalam tidak ada sahutan sama sekali, malah pintu itu semakin kencang di gedor dari dalam, tentu saja aku langsung lari ketakutan, itu kan berarti hantu”, ucapnya panjang lebar.
Mendengar ucapan pria itu, Arfin dan Andes saling bertukar pandangan lalu bangkit dari duduknya, dan hendak menghampiri mereka, namun langkahnya terhenti saat mendengar teriakan seseorang yang baru masuk dari kedalam masjid, “Andes,, Kak Arfin aku menemukan petunjuk keberadaan Naz”, Kiara berteriak dengan membawa sesuatu di tangannya.
----------- TBC --------------
************************
Apa kira-kira ya yang dibawa Kiara sebagai petunjuk keberadaan Naz????
Happy Reading 😉
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejakmu,,,
like, komen, rate bintang 5 , dan vote.... 😉