
Arfin yang menerima amplop berisikan sepucuk surat dari Mami nya, kemudian membuka lipatan surat itu dan membacanya. Di sana tertera tulisan tangan istrinya, ia pun membaca kata demi kata yang ada di dalam setiap kalimat di tiap barisnya.
Seusai membaca semua isi surat tersebut, rasa sakit begitu menyayat hati bagaikan anak panah yang seketika ditancapkan tepat ke jantungnya, menambah rasa penyesalannya yang semakin tak berujung. Betapa tidak, ia yang bersalah telah membentak dan menuduh istrinya yang tidak-tidak, justru malah Naz yang berkali- kali meminta maaf padanya.
Ia berjalan mundur hingga tubuhnya mentok pada jendela kaca kamar, ia memerosotkan tubuhnya hingga tergeletak duduk di lantai dengan bersandar pada jendela kaca, meratapi kesedihannya dengan penuh penyesalan, hingga air mata pun jatuh begitu saja tanpa permisi.
Bu Hinda yang melihat keadaan Arfin seperti itu, segera menghampirinya dan mengambil surat yang masih dipegang oleh Arfin. Beliau pun membacanya dan langsung membekap mulutnya karena.
Teruntuk Suamiku,,,
Aa,,,, mungkin saat Aa membaca surat ini, aku sudah tidak berada di rumah ini lagi.
Maafkan aku,,, bukan maksudku untuk meninggalkan mu, aku pergi bukan karena membenci mu atau marah padamu. Aku pun tak menyalahkan mu yang marah pada ku, karena aku sadar itu pun bagian dari kesalahanku yang menutupi sesuatu yang menurutku hanya hal spele, tapi ternyata itu menyakiti perasaan mu. Alasan ku pergi tak lain hanya karena aku butuh waktu untuk menenangkan diri.
Maafkan aku,,, jika selama ini belum bisa menjalankan kewajiban ku sebagai sorang istri yang baik dan berbakti padamu sepenuhnya.
Maafkan aku yang dengan beraninya melangkahkan kaki ku keluar rumah tanpa seizin mu. Aku hanya takut tidak akan sanggup menerima kemarahan mu lagi, walau ku tahu kau marah bukan karena membenciku, tapi karena begitu mencintaiku.
Maafkan aku yang tak berterus terang tentang teman masa kecilku, jika karena hal itu membuat ku menyakiti mu.Tapi sungguh aku tidak ada hubungan apa pun dengannya seperti yang kau tuduhkan padaku, bahkan aku selalu menghindarinya, aku selalu menjaga jarak dengan laki- laki lain, karena aku sadar betul akan status ku sebagai seorang istri dan sebentar lagi akan menjadi seorang ibu.
Percayalah di hati ku hanya ada Aa dan calon anak kita. Dan rasanya sakit sekali hati ini, ternyata Aa masih meragukan cinta dan kesetiaan ku.
Maafkan aku jika pembicaraan ku dengan ketiga sahabat ku membuat mu tersinggung. Aku tertawa karena mereka ingin ikut andil memberi nama untuk calon anak kita, tapi nama yang mereka berikan aneh- aneh, bukan karena membahas soal orang itu.
Satu pinta ku,,
Tolong jangan mencari ku, karena untuk saat ini aku hanya ingin menyendiri, dan aku berjanji jika sudah merasa tenang, aku akan kembali dengan sendirinya. Mungkin dengan adanya jarak diantara kita seperti ini, bisa membuat kita saling introspeksi diri.
Aa tenang saja, aku berada di tempat yang aman dan dalam keadaan baik- baik saja, begitupun dengan kandunganku. Aku akan selalu menjaga diri dan anaking. Aku harap Aa juga selalu menjaga diri selama aku tak ada di samping mu, jaga kesehatan dan jangan lupa makan. Maaf,, aku tak bisa menyuapi mu lagi saat ku jauh dari mu.
^^^Istrimu, yang selalu mencintaimu.^^^
^^^Rheanazwa Eleanoor Harfi.^^^
“Al, bagaimana bisa kamu menuduh istrimu berselingkuh? “, Bu Hinda menyimpulkan dari apa yang dibacanya.
“Keterlaluan kamu Al,,, lihat ini,, kamu yang sudah menyakitinya, tapi dia yang meminta maaf pada mu,, Mami gak habis pikir sama kamu Al,, pantas saja dia meninggalkan mu, dan sebaiknya dia tidak usah kembali lagi pada pria bodoh seperti mu”, Bu Hinda pun murka.
Pak Latief yang mendengar ucapan istrinya, meminta surat yang masih berada di tangan istrinya itu, kemudian beliau membacanya.
Pak Latief menghela nafas berat lalu mengelengkan kepalanya,
"Sekarang apa yang akan kau lakukan, Al?? mencarinya atau mengikuti permintaannya untuk tidak mencari nya?”.
Arfin yang masih shock akan isi surat yang ia baca, hanya terdiam dan hanya isakan tangis yang sesekali terdengar karena ia terus menundukan kepalanya.
“Pi,, apa kita lapor polisi saja..,,”, Bu Hinda yang sangat mengkhawatirkan Naz pun memberi saran.
“Jangan Mi,, sebaiknya kita beri dia waktu untuk menenangkan diri sesuai permintaannya, jika dipaksakan mempertemukan mereka, takutnya berakibat kurang baik terhadap psikologis nya dan juga pada kandungannya,, lagi pula ini urusan rumah tangga, malu kan jika diketahui banyak orang”, Pak Latif menolak usulan istrinya dengan memberi alasan.
“Lalu apa yang harus kita katakan jika orang tua Naz menanyakan keberadaannya?”, Bu Hinda teringat pada besannya.
Pak Latief kembali menghela nafas berat, “Begini saja,, untuk sekarang sebaiknya jangan memberitahukan mereka dulu, jika mereka tidak mempertanyakan Naz pada Arfin atau pun pada kita,, dan kita beri Naz waktu seminggu untuk menenangkan diri. Jika setelah seminggu Naz tidak mengabari Arfin atau kita maupun orang tuanya, barulah kita akan mencarinya bersama- sama,, dan kita katakan yang sebenarnya pada orang tua Naz tentang hal ini, dan masalah kedepannya bagaimana tanggapan orang tua Naz dalam menyikapi hal ini, Papi angkat tangan”.
“Tapi Pi,, apa seminggu itu gak terlalu lama,,? Mami benar- benar takut terjadi sesuatu dengannya”, Bu Hinda nampak keberatan.
“Tidak ada pilihan, selain menuruti permintaan Naz dan mempercayainya bahwa ia akan menjaga dirinya baik- baik,, dan dia juga bilang ada yang di tempat yang aman bukan?", Pak Latief mengingatkan istrinya akan isi surat Naz, beliau beralih pada Arfin yang masih duduk menunduk sambil menangis dengan penuh penyesalan.
“Bangun Al,, jadi laki- laki itu jangan cengeng dan jangan menjadi seorang pengecut,,, daripada meratapi kepergian istrimu, lebih baik kau mulai memperbaiki diri dan sikap mu untuk menebus kesalahan yang telah kau perbuat pada istrimu, supaya saat istri mu kembali, ia tak menyesali menjalani hidup dengan mu,, dan satu hal lagi,, buang jauh- jauh sikap tempramen mu itu.. ”, ucap beliau memberi nasehat.
“Iya,,, Al,, ayok bangun,,, Mbak Retno bilang kamu belum makan apa- apa dari pagi”, Bu Hinda yang masih sangat kesal pada Arfin pun, tak tega melihat keadaan putranya seperti ini. Seolah ada rasa takut jika Arfin mengalami depresi kembali seperti saat putus dengan Naz dulu.
“Istrimu, bilang kamu harus menjaga kesehatan mu, bukan,,?? ayok bangun,, kamu makan dulu,,, jangan sampai saat istri mu kembali nanti, kamu dalam keadaan kurus kering,, itu akan membuatnya sangat sedih,,,”,bujuk beliau.
Arfin yang mendengar perkataan kedua orang tuanya kemudian bangkit dan menghapus jejak air matanya. Mereka bertiga pun keluar dari kamar itu. Arfin bukannya berjalan menuju ruang makan, ia malah melangkahkan kakinya ke arah lain.
“Al,,, mau kemana? Ruang makan sebelah sini,, kenapa mau ke sana?”, ucap Bu Hinda sambil menunjuk arah dengan jari telunjuknya.
“Al mau ke kamar dulu Mi,, belum shalat,, sekalian mencharger ponsel,, dua- dua nya habis baterai”, ucapnya menjelaskan.
“Dua?? Sejak kapan kamu memakai dua ponsel?”, Bu Hinda merasa heran.
“Yang satu ini ponsel Naz,, dia meninggalkan ponselnya saat pergi,, makanya Al gak bisa melacaknya sama sekali, Al ke kamar dulu Mi”, ia kemudian masuk ke kamar nya.
“Iya,,, nanti nyusul ya ke ruang makan”, Bu Hinda pun membiarkan putranya pergi ke kamar nya,
“Ayok Pi,, katanya tadi Papi lapar banget”, keduanya pun berjalan menuju ruang makan.
Bu Hinda mengambilkan nasi beserta lauknya lalu menyajikannya pada sang suami,
"Ini disebut makan siang kesorean, makan malam terlalu awal,,, “, Pak Latief terkekeh. “Mami gak makan?”, tanya beliau.
__ADS_1
“Mami gak selera Pi,,, Mami inget Naz terus,, dia sudah makan apa belum ya?”.
“Mi,,, Naz kan bilang kalau dia akan menjaga diri dan juga bayi dalam kandungannya,,, sesedih apa pun dia, pasti dia akan memaksakan diri untuk makan demi bayi nya”, Pak Latief berpikiran positif.
“Mami masih belum bisa tenang kalau belum bertemu dengannya, Pi”, ucap Bu Hinda.
“Bagaimana kita mau bertemu dengannya,, orang kita aja gak tahu dia ada di mana, bahkan dia pun meninggalkan ponselnya di sini,,, lebih baik yakinkan diri Mami kalau Naz dalam keadaan baik- baik saja sesuai yang ia katakan dalam surat itu,, sekarang Mami makan ya,, tadi siang kan kita cuma makan sedikit di bandara”, bujuknya.
“Mami nanti aja makannya”, tetap menolak makan.
“Yasudah,, Papi juga nanti saja mkannya”, Pak Latief pun membiarkan makanan yang sudah tersaji dihadapannya.
“Eh,, itu kan sudah disajikan, nanti dingin gak enak loh”, Bu Hinda protes.
“Lebih gak enak lagi kalau Papi makan, tapi Mami gak makan dan malah sedih gitu,,, apa mau makan sepiring berdua?”, Beliau menawarkan.
“Ih,, Papi apaan sih,, kayak orang pacaran aja”, Bu Hinda langsung menolak.
“Emang kita ini setiap hari serasa pacaran kan,, di rumah hanya berdua,, anak- anak udah pada rumah tangga dan punya rumah sendiri,, gimana? Istriku yang cantik bak bidadari kahyangan ini mau gak disuapin sama Papi?”,bujuk rayu pun dikeluarkan.
Bu Hinda mendengus kesal, “Ternyata gombalan mukidi si Abang tuh nurun dari Papi ya”.
“Ya dari siapa lagi? Masa dari tetangga,,,”, Ucap beliau dengan santainya.
“Iya,, iya,, karena Papi itu mantan pacarnya sealaihim,, sampe temen arisan Mami juga ada tuh mantan Papi”, mantan segala dibahas.
“Itu sih ngaku- ngaku,, orang Papi dulu gak pernah pacaran,,,”, Pak Latief menyangkal.
“Iya gak pacaran,, tapi gebetan banyak..”, Bu Hinda tak mau kalah.
“Itu karena mereka terpesona dengan ketampanan Papi”.
“Iya tampan di masa nya,, kalau sekarang mah enggak”,
“Engak berkurang ya Mi,, ketampanannya,, hahaha”.
“Udah ah cepetan makan,, Papi kalau udah narsis susah di rem”, Bu Hinda malah kesal.
“Mami juga makan ya”, bujuknya kembali.
“Iya,, iya”, akhirnya mau juga.
Saat keduanya selesai makan, Arfin baru datang. Bu Hinda pun kembali mengambilkan makanan, namun kali ini beliau menyajikannya untuk putra bungsunya itu.
“Ayo makan, Al”, beliau menyodorkan piring yang berisi nasi dan lauknya.
“Iya,, Mi,,,”, sahutnya dengan nada malas.
Arfin memakan makanan yang sudah disajikan Mami-nya itu, walau sebenarnya ia tak berselera, namun perutnya merasa lapar, karena sejak pagi baru masuk roti saja, ia pun memaksakan diri untuk makan. Dan ternyata kali ini ia bisa makan tanpa mual muntah walau tidak disuapi oleh istrinya.
Sementara Bu Hinda terus memperhatikan Arfin layaknya mengawasi anak kecil yang susah makan sedang dipaksa makan oleh ibunya, dan setiap Arfin berniat berhenti dengan menaruh garpu dan sendok di piringnya, beliau kembali mengingatkan Arfin, bahwa istrinya akan sedih jika ia tidak makan, Arfin pun menghabiskan makanan yang terasa hambar di lidahnya, padahal itu adalah makanan yang enak.
Pak Latief hanya tersenyum lalu menggelengkan kepala melihat kelakuan istrinya, padahal tadinya Bu Hinda pun susah disuruh makan, dan sekarang malah memaksa putra kesayangannya itu.
Seusai makan, Arfin kembali ke kamarnya, Bu Hinda pun sama, namun Pak Latief tak mengikuti istrinya, melainkan malah ke kamar Arfin. Beliau masuk setelah mengetuk dan dipersilahkan oleh Arfin.
Mendengar langkah Pak Latief yang mendekat padanya, Arfin yang tengah duduk di atas tempat tidur terus menundukan kepalanya, seolah bersiap menerima kemarahan Papi- nya lagi setelah beliau membaca surat yang ditulis Naz.
Pak Latief duduk di sisi ranjang yang sama dengan putra bungsu nya itu, sehingga kini mereka berdua duduk bersebelahan.
Selama beberapa saat tak ada kata yang terucap dari keduanya yang nampak terdiam dengan pemikiran masing- masing, hanya suara deru nafas yang terdengar di kamar yang terasa sunyi itu.
“Papi minta maaf,, sudah lepas kendali hingga manampar mu,,”, Pak Latief membuka percakapan diantara mereka, raut penyesalan begitu nampak pada wajah beliau. Bagaimana tidak, itu merupakan pertama kalinya ia menampar putranya.
Arfin tersenyum mendengarnya, “Al memang pantas mendapatkannya, Pi,, bahkan seharusnya Naz yang melakukan hal itu pada Al”.
“Mungkin ini ujian terberat dalam rumah tangga mu, Papi tidak bisa ikut camput terlalu dalam, Jika memang keinginan istrimu agar tidak mencarinya, maka Papi pun tidak akan mencarinya, dan untuk sekarang Papi hanya bisa mencoba percaya bahwa dia bisa menjaga dirinya dengan baik,, Tapi itu terserah padamu, jika kamu ingin tetap mencarinya, silahkan,, hanya saja Papi sarankan jika kamu sudah menemukan tempat persembunyiannya, sebaiknya jangan langsung menemuinya, mungkin kamu bisa mengawasinya secara diam- diam, takutnya jika dia belum siap bertemu dengan mu, dia akan pergi semakin jauh dari mu”.
“Iya Pi,,, terimakasih, maaf sudah memberi kalian sambutan yang tidak mengenakan saat berkunjung ke sini”.
“Papi yakin kamu bisa menghadapi ini semua,, Dan jika dia sudah kembali, perlakukanlah dia dengan sangat baik, jangan pernah memarahi atau membentaknya lagi,, apalagi dia sedang mengandung anak mu,, wanita hamil itu sangat sensitif dan butuh perhatian lebih, karena akan sering mengalami ketidaknyamanan baik itu perasaan ataupun pada perubahan tubuhnya”, Pak Latif kemudian bangkit dari duduknya,
“Jika Naz memang berniat akan kembali, berarti dia masih memberi kesempatan padamu untuk berubah, maka perbaikilah sikap mu”, Pak Latief menghela nafas panjang,
“ istirahatlah,, pasti kau sangat lelah setelah seharian mencari istrimu”, ucapnya lalu menepuk pundak putranya itu, kemudian beranjak pergi meninggalkan kamar Arfin.
Arfin merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, matanya menatap kosong ke arah langit- langit kamarnya dengan pikiran yang masih tertuju pada sang istri yang kini tak tahu entah dimana keberadaannya. Ia hanya bisa berharap jika Naz benar- benar dalam keadaan baik- baik saja dan berada di tempat yang aman sesuai perkataannya di alam surat itu.
“Kamu dimana sayang,,, Aa sangat merindukan mu,,, maafkan aku,,, aafkan aku…”, lirinya sendu.
Ting Ting,, terdengar suara bunyi dari salah satu ponsel yang sedang di charger di atas meja kerjanya.
__ADS_1
Arfin bangkit dan lalu beranjak untuk melihat kedua ponsel tersebut, dan ternyata bunyi itu berasal dari ponsel milik Naz, lalu ia mencabut ponsel yang daya baterainya baru mecapai 40%. Dibuka nya aplikasi whatsapp di ponsel istrinya tersebut, dan ternyata ada banya pesan di sana. Arfin merasa bingung apa yang harus dilakukannya, membalasnya atau membiarkannya saja.
Tiba – tiba ponselnya berdering menandakan ada panggilan masuk, dan betapa terkejutnya ia melihat si pemanggil yakni Bunda, yang merupakan ibu mertuanya.
Rasa takut muncul begitu saja, karena ia tahu sifat Bunda seperti apa,, jika ia salah bicara atau keceplosan, maka akan panjang urusannya. Ia pun membiarkan nya saja, namun ponselnya terus berdering. Dan setelah deringan yang ke tiga kali nya, akhirnya ia memberanikan diri untuk mengangkatnya.
“Hallo,, Assalamu’alaikum, Dek,,, kok lama banget sih ngangkat teleponnya?”.
“Hallo,, wa’alaikumsalam Bunda”, Arfin menjawab dengan hati-hati.
“Eh,, kok Arfin yang ngangkat,, Naz nya kemana, Ar?”.
“Eng,,, itu Bunda,, Naz nya lagi mandi”, ucapnya berbohong.
“Oh,, lagi mandi ya,, tapi Naz teh baik- baik aja kan?”.
“Iy iya,, Bunda Naz baik- baik saja”.
“Sejak semalam teh perasaan Bunda gak enak,, udah ditelpon semua anak-anak Bunda teh, takutnya terjadi sesuatu, dan alhamdulillah mereka baik- baik saja,,, eh,, dari siang nomor Naz teh meuni susah pisan dihubungi,, kan Bunda teh jadi khawatir,, Mbak Rahmi juga nanyain nomor Naz sama nomor kamu teh kenapa gak aktif- aktif sejak siang tadi,, dan gak biasanya chat enggak dibalas- balas,, bikin kita khawatir tahu gak, Kita teh takutnya Naz sakit atau kenapa- napa, kan udah mulai kuliah, mana lagi hamil muda,,”,cerocos Bunda.
“Eng,, Naz baik- baik aja kok Bunda”.
“Alhamdulillah atuh kalau gitu mah,, inget ya Ar,, kamu teh harus jadi suami siaga dan protektif sama Naz teh ya,, jangan sampai Naz dan calon anak kalian teh sampai kenapa- napa,, yasudah atuh ya, Bunda titip salam aja buat Naz,, assalamu’alaikum”.
“Wa’alaikumsalam”, Arfin pun menyudahi panggilan teleponnya.
Ia akhirnya bisa bernafas lega untuk saat ini, namun untuk ke depannya, entah alasan apa lagi yang akan ia gunakan untuk menutupi ketidak beradaan Naz di rumahnya, jika orang tua Naz menghubunginya selama Naz belum kembali. Karena tidak mungkin setiap mereka menelpon, Arfin terus memberi alasan, lama- mereka pun akan curiga.
Semenjak itu, Arfin yang memegang ponsel Naz hanya bisa membalas chat yang masuk, itu pun hanya pada keluarga nya saja, jika yang chat temannya, ia jarang membalasnya, paling hanya dengan iya atau tidak. Jika ada yang mengubunginya lewat telpon atau bahkan video call, ia tidak akan mengangkatnya, hanya mengirim pesan kalau ia sedang di kampus lah, sedang makan, atau kecapek-an dan hendak beristirahat, dan alasan lainnya.
**
Dua minggu telah berlalu, namun Naz masih belum kembali juga ke rumah, jangankan kabar berita, sampai sekarang saja Arfin masih tidak tahu keberadaan Naz dimana. Arfin masih sabar menantikan istrinya dengan menjalani hari- harinya yang terasa hampa. Miris rasanya memiliki istri tapi serasa duda.
Selama itu setiap pagi ia akan pergi ke kampus dengan berharap Naz ada di sana karena perkuliahannya sudah di mulai. Bahkan ia sampai menugaskan Uje untuk stay di kampus setiap hari, sudah seperti penjaga kampus saja, datang pagi pulang sore, namun tetap tak pernah menemukan Naz. Ia pun tak bisa melacak Naz dari kartu debit miliknya, karena selama 2 Minggu ini, tidak ada tanda-tanda kartu itu digunakan, dan itu semakin menambah kekhawatiran Arfin pada Naz, bagaimana ia bisa makan jika tak pernah mengambil uang dari ATM nya, pikirnya.
Arfin yang awalnya susah makan karena tak berselera, setelah dibujuk oleh Mbak Jumin, dengan mengatakan,
“Jika Den Arfin susah makan, takutnya bayi yang di dalam kandungan Nona merasakan hal yang sama karena ada ikatan batin dengan ayahnya, sehingga membuat Nona akan susah makan pula”. Akhirnya ia pun selalu memaksakan untuk makan, karena takut jika perkataan Mbak Jumin akan benar- benar terjadi.
Arfin yang baru selesai mandi kini tengah membuka lemari untuk mengambil pakaian yang akan dikenakannya. Baru saja selesai berpakaian, Mbak Retno mengetuk pintu dan masuk setelah diizinkan leh Arfin, ia membawa sekeranjang pakaian yang baru selesai disetrika.
“Mbak, kok banyak banget sih bajunya? Itu gak nyetrika berapa hari?”, tanyanya memperhatikan isi keranjang itu.
“Anu Den, tiga hari kemarin tangan saya terkilir, jadi cucian selama seminggu ini baru sempat saya setrika,,”, ucapnya mengutarakan alasannya, karena takut dikira ia bermalas-malasan.
“Udah diobatin belum, Mbak?”, tanya Arfin.
“Sudah kok, Den”, jawabnya.
“Syukurlah kalau begitu,, loh,, perasaan baju itu belum sempat saya pakai, kok udah di setrika aja? yang itu juga,, kemeja ini saya cariin kok bisa ada di cucian, kan belum saya pakai?”, Arfin merasa aneh sambil menunjuk baju yang dimaksud.
“Ndak tahu Den,, saya ngambil cucian kotor yang ada di keranjang dari kamar ini aja, terus saya cuci dan setrika”.
“Oh,, yasudah,, mungkin saya lupa,,”, sepertinya saking merindukan istrinya ia jadi pelupa gitu.
Hari demi hari ia lewati tanpa kehadiran sang istri di sampingnya, tidur memeluk guling dan bangun pun hanya memeluk guling yang ia pakaikan baju istrinya. Namun setelah membereskan tempat tidurnya, ia akan melepas kembali pakaian istrinya dari guling tersebut, karena ia tidak mau ART nya mengetahui hal gila yang ia lakukan yang diakrenakan terlalu merindukan istrinya.
**
Sebulan telah berlalu, Naz masih belum kembali dan selama itu pun ponsel Naz menjadi sepi, mungkin karena Arfin sudah tidak pernah membalas chat atau pun mengangkat panggilan telpon di ponsel Naz tersebut. Bahkan Mami dan Papi nya yang selalu menanyakan apakah Naz sudah pulang atau belum pun, sekarang tak menanyakan lagi, mungkin mereka tak ingin membuatnya lebih sedih dan lebih baik menunggu Arfin yang mengabari mereka.
Arfin terus menantikan Naz yang tak kunjung datang, dan kini ia hanya bisa pasrah dengan apa pun yang akan terjadi dengan nasib rumah tangganya yang baru seumur jagung itu. Arfin yang tak mau terus larut dalam kesdihan karena menahan rindu pada istri dan calon anaknya, serta meratapi penyesalan yang tak berujung pun, hanya bisa melampiaskannya pada pekerjaan, dan setiap hari ia selalu pulang malam, bahkan tak jarang weekend pun ia akan bekerja, entah itu di kantor atau pergi ke proyek.
Pagi ini Arfin hendak mengambil dokumen penting perusahaannya yang ia simpan bersama surat- surat berharga di berangkas yang ada di dalam lemari kamar nya.
Setelah ia mengambil dokumen tersebut dan ia hendak menutup kembali, ia merasa ada yang aneh, ada satu barang yang hilang dari sana.
“Loh.. kenapa bisa tidak ada di sini?”, Arfin kembali memeriksanya dan benar benda itu tidak ada di sana,
“Siapa yang mengambilnya ya?? brankas ini kan menggunakan kode dan yang tahu hanya aku dan _____ “, Arfin bergumam dan tak melanjutkan perkataanya.
“Naz,,,?? apa dia yang mengambilnya??”, ucapnya dengan raut wajah terkejut yang kemudian tersenyum sumringah. Lalu ia mengambil sesuatu dan membukanya, ia akhirnya bisa bernafas lega.
"Akhirnya aku akan segera menemukan mu dengan petunjuk ini, sayang ", ucapnya penuh harap dengan raut wajah berbinar.
------------- TBC--------------
*********************
Happy Reading…..
__ADS_1