
Seusai pesta ulang tahun Cahaya, para tamu undangan pun bubar barisan, keluarga dan sahabat dari Jakarta juga kembali pulang, karena mereka datang sehari sebelum pesta, kecuali Bu Rahmi dan Bu Hinda yang masih kangen pada cucu mereka, padahal keduanya semalam tidur bersama Cahaya di kamarnya setelah Naz menyusuinya sampai tidur dan menyiapkan ASI perahnya dalam botol yang kemudian disimpan dalam cooler jika tengah malam Cahaya minta mimi.
Begitu pun malam ini, mereka meminta hal yang sama, dan tentunya itu adalah hal yang membahagiakan bagi Arfin, karena ia bisa dengan leluasa bermesraan dengan istrinya tanpa ada Cahaya di kamar mereka seperti malam- malam biasanya.
Kini Naz dan Arfin tengah siap tidur dengan posisi Naz berbaring menyamping dan tangannya memeluk dada suaminya. Tubuh polos keduanya pun hanya dibalut selimut, karena malas mengambil pakaian yang berserakan di lantai. Mereka nampak kelelahan seusai pergulatan panas yang telah dilakukan keduanya.
“Sayang,,,, “, Arfin mengusap kepala istrinya yang sudah memejamkan mata.
“Hemmmm,,, jangan minta lagi ah,, hayati lelah, Bang”, Naz seolah mengerti maksud panggilan suaminya.
“Ge- eR kamu,,, siapa juga yang mau lagi,, dua ronde aja udah cukup kok,,”, ternyata Naz salah mengira.
“Cukup bagimu,,, sangat melelahkan bagi ku,,,”, keluhnya sambil memejamkan mata dan berusaha untuk tidur.
“Yee,, orang Aa yang kerja keras,, kamu mah tinggal mendesah dan menikmati saja… masa iya sampai kecapek-an”, Arfin malah mengejek istrinya yang baru saja mengeluh itu.
“Ya tapi kan sama aja,,, mendesah itu melelahkan tau,,, suara ku sampai serak- serak banjir begini,,,”, Naz tak mau kalah telak.
Arfin terkekeh mendengar ucapan konyol istrinya, “Lebay ih kamu,,, siapa suruh terus terusan mendesah…”, Arfin tertawa geli.
“Abisnya enak sih,, susah diungkapkan dengan kata- kata,,, lagian kan jarang bisa mendesah selepas ini,, biasanya mendesah dalam hati, karena takut membangunkan Cahaya”, Naz memang tak pernah malu untuk berterus terang pada suaminya, walau itu hal konyol atau memalukan sekalipun.
“Hahahahaha,,, gimana caranya itu mendesah dalam hati?”, Arfin geleng- geleng kepala.
“Ya sama aja ahh ahh ahh gitu,, cuman ya gak bersuara di mulut aja...”, jawab Naz dengan polosnya.
“Pantesan kamu sering banget diam,, kirain merasa gak nikmat dan Aa kurang memuaskan,,, ternyata dipendam toh desahannya”, ternyata Arfin salah mengira selama ini.
“Ya abisnya dulu pernah mengeluarkan desahan,, eh Cahaya malah kebangun,, kan tanggung baru juga sebentar udahan… makanya sekarang capek karena kelamaan”.
“Seru juga ternyata kalau bercinta setelah punya bayi ya,,, Hahaha,,, masa sih sampai capek segala,,,?”, Arfin seolah masih tak percaya.
“Kalau gak percaya ,, Aa coba aja deh mendesah terus- terusan selama permainan,,, capek tahu,,, lebih capek dari cheerleader ,,,”, Naz malah menantang suaminya dan mengumpamakannya.
“Emangnya Aa lagi main basket apa pakai cheerleader segala”, Arfin meladeni candaan istrinya.
“Ya sama aja,,, kan masukin bola ke keranjangnya… bola nya si ujang ,, keranjangnya si imut,, gol,,, bles,,, aww,,, ”, Naz yang terus merem masih bisa bicara aneh.
“Hahahaa,,, kamu tuh menggemaskan sekali yaaa…”, Arfin mencubit pipi istrinya.
“Awww,,, rese ihh… sakit tau,,,“, Naz membuka matanya lalu mengusap pipinya yang sakit karena dicubit sang suami.
“Abisnya gemas,,, Aa ngobrol sama kamu yang terus merem,, kayak ngobrol sama Neng buta dari goa hantu hahaha,,, “, Arfin malah tertawa renyah melihatnya, “Oh iya sayang,, sejak menikah kita belum pernah honeymoon loh,,”, parah imit nikah udah hampir dua tahun belum pernah honeymoon.
“Yaelah,,, emang barusan kita habis ngapain,,,?? Apa bukan honeymoon namanya?”, dalam pikiran Naz honeymoon itu hanyalah pergulatan yang biasa dilakukan suami istri di atas ranjang.
“Ya beda lah sayang,,, kalau honeymoon kan kita bercinta sambil liburan,,”.
“Ah sama aja,, intinya mah bercinta ,,”, Naz kembali memejamkan matanya.
“Beda lah sayang,,, kita liburan yuk,,, “, Arfin terus berusaha mengajak istrinya untuk pergi honeymoon.
“Gak bisa A,,, kan Cahaya masih ngASI ke aku,,, mana bisa ditinggal jauh,,,”, Naz terus memberikan alasan.
“Ya kita bawa Cahaya lah,,,”, ucapnya membei solusi untuk memudahkan.
“Beuh,, makin sama aja kayak di rumah kalau gitu mah,, malahan bakal tambah repot, Cahaya yang lagi aktif- aktifnya gitu dibawa berlibur,, apalagi honeymoon, disana mana sempat kita bercinta.. yang ada ngejar-ngejar Cahaya yang merangkak kesana kemari”, Naz sudah membayangkan kerepotan yang akan dialami oleh mereka jika mengajak putrinya yang lincah itu.
“Ya kan ada Mama sama Mami,, kita ajak mereka sekalian,,, jadi kita honeymoon,, mereka ngurus Cahaya..”, Arfin tak menyerah.
“Astagfirullah,,, ngajakin orang tua liburan teh malah niat jadiin mereka baby sitter,,, gak sopan banget jadi anak dan menantu, kamu tuh ya”, Naz pun masih saja berusaha menolak.
“Hahaha,,, gak apa- apa kan kali- kali,,, yang penting kan mereka juga senang diajak liburan,,,”.
__ADS_1
“Ya terserah Aa aja deh,,, “, akhirnya Naz hanya bisa pasrah mengikuti ajakan suaminya yang nampak ingin sekali berlibur sambil honeymoon, mungkin karena ia sudah malas bicara efek sangat mengantuk.
“Yasudah,, ayok kita tidur,, sudah setengah sebelas malam nih,, Aa ngantuk banget,,,”, Arfin pun sama halnya dengan sang istri yang nampak sudah sangat lelah setelah seharian di acara ulang tahun Cahaya ditambah pergulatan dua ronde nya,, mereka pun tertidur pulas sambil berpelukan yang merupakan momen langka setelah mereka memiliki Cahaya.
**
Keesokan harinya seusai mandi dan shalat subuh, Arfin langsung memakai pakaian rapi tapi santai, pdahal seharusnya hari senin ini ia pergi ke kantor untuk bekerja. Namun jika tidak akan pergi kemana- mana, biasanya ia hanya akan memakai kaos dan celana pendek saja, seperti setiap weekend yang hanya akan diam di rumah menghabiskan waktunya bersama istri dan putri gembilnya yang menggemaskan.
“Aa mau kemana? Kok pakai baju gitu? Gak seperti biasanya kalau mau pergi kerja”, Naz yang sedang duduk di atas ranjang merasa heran dengan penampilan suaminya.
“Kan kita mau pergi liburan”, ucapnya dengan santai sambil menyisir rambutnya yang sudah diolesi minyak rambut di depan cermin.
“Apa?? Liburan??”, Naz terkejut mendengarnya.
Arfin membalikan badannya dan mengarahkan pandangannya pada sang istri, “Iya,, Liburan… kan semalam kita sudah membicarakannya, sayang,,, apa kamu lupa hem?”.
“Hah,,? Sekarang??”, Naz kembali terkejut, Arfin berjalan menghampirinya lalu duduk di sebelahnya.
“Ya iya sekarang dong sayang,,,masa iya tahun depan,,”.
“Tapi kan ini hari senin, harusnya Aa masuk kerja kan,,,”, Naz mengingatkan suaminya.
“Masalah gampang itu mah,, Aa udah ngambil cuti kok,, mumpung kamu masih liburan semester,, Sana gih ganti baju,, masa iya mau mantai pakai daster gitu”, Arfin malah menyuruh Naz berganti pakaian.
“Tapi kan aku belum siap- siap A,, orang Aa bilangnya baru semalam, aku pikir minggu depan gitu kita perginya,, bukan sekarang,, belum lagi aku harus nyiapin keperluan Cahaya,,,”, keluhnya yang tidak siap untuk pergi.
“Sayang,,, semua sudah disiapkan,, kemarin itu tinggal menunggu kesedian ibu negara saja”, pantas saja ia terlihat tenang dan santai, ternyata semuanya sudah siap toh.
“Hah,,,?? Maksudnya,,??”, Naz semakin merasa bingung.
“Kejutan,,,, kamu terkejut kan, sayang?? Tadinya Aa mau bawa kamu saat kamu masih tidur,, jadi pas bangun kamu sudah ada di pantai,, tapi gak jadi dehh…”.
Naz mendengus kesal, “Kalo gitu ngapain semalam minta pendapat aku, kalau Aa sendiri sudah memutuskannya,, konyol..”, Naz merasa kesal.
“Maaf sayang,,, tadinya Aa mau bilang,, tapi kemarin- kemarin gak sempat karena kamu sangat sibuk dengan persiapan ulang tahunnya Cahaya,, makanya baru semalam sempat bilang… Seperti yang Aa bilang, tadinya mau bikin kejutan saat kamu tidur dibawa ke sana dan pas bangun sudah di sana,, tapi Mama sama Mami minta supaya aku bilang dulu sama kamu, takutnya kamu gak mau dan berabe bawa kamu yang masih tidur ke bandara,, “, Arfin memberi penjelasan,
“Pergi aja sana,, aku gak mau ikut…”, Naz membalikan badannya hingga ia duduk membelakangi suaminya.
“Yahh,, kok malah ngambek sih sayang,, gak seru dong kalau kamu gak mau ikut,, Aa udah susah- susah bujuk Papa sama Papi supaya ngizinin Mama dan Mami pergi bersama kita,, “.
“Bodo amat,,,”, Naz tidak memperdulikan suaminya.
“Jangan gitu dong sayang,,, Cahaya udah seneng banget dibeliin baju renang sama Mami,, masa gak jadi berangkat,, kita kan belum pernah ngajak dia ke pantai, seringnya ke tempat rekreasi yang ada di mall saja atau ke taman bunga,, yah,, mau ya sayang ya,,”, Arfin membujuk sang istri dengan menjadikan anaknya sebagai tameng.
“Kita kan udah pernah beberapa kali ke pantai yang ada di sini,,,”, Naz terus menolak.
“Tapi kan itu dulu saat kamu hamil,, kalau sekarang kan kita mau berlibur ke Bali, Aa sudah pesan resort pinggir pantai yang view nya bagus banget deh pokoknya,, kamu pasti suka, sayang”, Arfin terus membujuk Naz.
“Gak mau,,,”, Naz tetap kekeuh menolak ajakan suaminya karena masih merasa kesal.
Arfin menggeser lalu memeluk istrinya dari belakang, “Jangan gitu dong sayang,, kasihan kan mereka udah pada nungguin tuh di luar, mau ya,,,”.
Naz menghela nafas panjang, ia terdiam sejenak nampak sedang memikirkan sesuatu, “Baiklah,, aku akan ikut,, tapi di sana aku akan memakai baju pantai dan aku tidurnya sama Mama, Mami dan Cahaya,,,”, Naz memberikan syarat yang mengejutkan Arfin.
“Apa??,, maksudnya baju pantai gimana?”, Arfin melepaskan pelukannya dan Naz pun membalikan tubuhnya lagi sehingga mereka kembali duduk saling berhadapan.
“Ya pakaian pantai pada umumnya yang menggunakan kain pantai”.
“Baiklah,, asal jangan pakai bikini,, dan jangan ketat- ketat,, dan jangan sampai memperlihatkan keindahan tubuhmu di tempat umum”, Arfin pun menyetujuinya tapi tetap memberikan syarat, “Tunggu,, kalau kamu tidur sekamar dengan Mama dan Mami, nanti Aa bobo sama siapa dong Yank?”, ia baru menyadari syarat kedua yang diberikan Naz.
“Sama ikan paus atau ikan hiu aja sana,,”, ucap Naz dengan entengnya.
“Loh kok gitu sih,, kan judulnya mau sekalian honeymoon,,,”, Arfin sepertinya tak bisa menerima syarat istrinya itu.
__ADS_1
“Terserah,,, kalau setuju, aku ikut,, tapi kalau gak setuju,, aku gak mau ikut,,,”, ancaman pun dikeluarkan.
Kini Arfin yang dibuat kesal oleh istrinya, ia hanya bisa pasrah untuk sementara ini, soal urusan nanti di Bali, ia akan memikirkannya lagi, “Baiklah,, Aa setuju,,,”.
“Oke,,,”, Naz pun akhirnya bersedia ikut setelah acara merajuk segala.
Naz segera berganti pakaian karena merasa dirinya sudah menang, sedangkan Arfin terus memperhatikan gerak- gerik istrinya sambil memikirkan cara untuk memuluskan niat honeymoon nya saat di Bali nanti. Arfin melihat sesuatu yang janggal dilakukan istrinya saat ia membuka laci yang kemudian menutupnya kembali, ia sadar betul akan istrinya yang super jahil itu, pastinya tak akan mengerjainya sampai disini saja.
Setelah semuanya selesai sarapan dan semua barang bawaan sudah masuk mobil, Arfin bersama Naz, Cahaya, Mami, Mama dan Mbak Retno berangkat ke bandara. Uje sudah menunggu di sana untuk membawa pulang mobil Arfin nantinya, dan mereka mengambil penerbangan pagi. Sementara Mbak Jumin tidak ikut serta karena ia takut naik pesawat dan lebih memilih tinggal di rumah saja bersama Uje, sang sopir yang nantinya ditugaskan untuk menjaga rumah selagi tuan rumah pergi berlibur.
Cahaya yang sudah selesai disuapi makan oleh Mbak Jumin pun terlihat senang sekali karena akan pergi bersama Nena dan Oma nya, ia tak mau jauh dari kedua neneknya itu. Bahkan selama di perjalanan dalam mobil pun, ia tak mau digendong oleh Pagu atau pun Magu nya.
Kedua neneknya terus mengajaknya bernyanyi, lagu kasih ibu, burung kakatua, naik- naik ke puncak gunung, bintang kecil, twinkle little star, dan balonku,, walau Cahaya hanya bisa mengikuti lirik tiap ujungnya saja dengan bahasa khas bayi yang cadel, karena belum bisa bicara dengan benar, ia terus bertepuk tangan sambil bersorak ceria, apalagi saat lagu balonku, ia dengan semangatnya bernyanyi yang hanya hafal satu kata di tengah lagunya saja, “Dolll,,,,,” setelah Oma nya menyanyikan lirik meletus balon hijau.
Keenam orang tersebut kini tengah berada di dalam pesawat yang sudah mengepakkan sayapnya di udara. Cahaya yang kini berusia satu tahun pun duduk di kursi penumpang, namun hanya betah beberapa saat saja yang akhirnya merengek ingin duduk di pangkuan Magu- nya, tentunya karena ia merasa haus. Bahkan sudah diganggu beberapa kali oleh Arfin pun, ia masih saja anteng mimi dan tak bisa diganggu gugat, hingga Arfin menekan hidungnya barulah Cahaya melepaskan put**ing magu-nya. Namun bukannya mau diajak main oleh Pagu-nya, ia malah menangis karena merasa ngantuk setelah sepanjang jalan tadi bernyanyi ria. Akhirnya Naz kembali menyusuinya dan Cahaya pun berhenti menangis.
“Sayang,,,”, panggil Arfin pelan.
“Hemmm,,,,”, sahut Naz.
“Kok Aa merasa kita ini lucu ya….”.
“Lucu apanya?”, Naz merasa heran.
“Niatnya mau honeymoon malah membawa rombongan begini,,”, Arfin yang merencanakan, namun ia malah baru menyadarinya sekarang.
“Iya,, ini sih namanya honeymoon rasa Family moon,, hahaha”, Naz malah tertawa renyah.
“Hahaha,,, kamu tuh bisa aja dapat istilah aneh,, mana ada Family moon,, ada juga Family gathering kali..".
“Baru tau ya,,, kalau istrimu ini aneh bin ajaib??”, ucapnya nyengir.
“Udah lama kali tau nya,, malahan karena kelakuan aneh bin ajaib mu itu, Aa jadi jatuh cinta sama kamu,,,”.
“Eaa,,,, Prettt,, ahh,, katanya kalau sudah punya anak gak suka gombal gambel lagi”, Naz menyindir suaminya.
“Keceplosan, Yank,,,”, Arfin meralat perkataannya.
“Hahaha,,, ngeles bae ah,,”, Naz kembali menertawakan suaminya.
Arfin membungkukan tubuhnya dan menatap lekat putrinya yang sudah tidur namun belum melepaskan mimi nya.
”Ngantuk ternyata kamu ya,,, sampai gak mau digendong Pagu ihh,,, gak kangen apa semalaman gak ketemu,,,”, ia menatap gemas pada putrinya.
“Jangan dicubit awas ya,,, nanti dia rewel kalau tidurnya keganggu”, Naz langsung mengultimatum, karena ia tahu betul jika suaminya sedang merasa gemas selalu mencubit obyek yang dianggapnya menggemaskan itu, entah itu dirinya atau putri mereka.
“Enggak, Yank,,,”, Arfin menegakkan lagi tubuhnya dan ia malah mencubit pipi istrinya.
“Aww,,, ihhh,,, kok jadi malah nyubit aku sih?”, protes Naz.
“Abisnya kamu juga menggemaskan,, lagian kan gak boleh nyubit Cahaya,, jadi ditalangin ya sama Magu- nya,,, hehee”, Abisa ae nyari alasan.
“Dasar borokokok pikasebeleun,, nurus tunjung pisan ih”, Naz menggerutu kesal.
“Kamu tuh ya,, kalau memaki suka pakai bahasa Sunda,,,”, Arfin kembali menjembel pipi Naz.
“Adudu,, ihh,, Aa tuh ben___ emmhhhhh”, belum selesai Naz menggerutu, Arfin langsung memagut bibir ranum istrinya dengan bibirnya sehingga kedunya berciuman.
Plakk ,,,, tangan mungil Cahaya menabok kedua bibir yang tengah beradu itu dan mereka pun segera mengakhiri ciumannya karena terkejut sang putri melihat kelakuan mereka. Namun saat keduanya mengarahkan pandangan pada Cahaya, ia masih tidur pulas walau mulutnya masih menyedot ASI.
“Ya ampun,, ini anak,,, lagi tidur pulas juga masih aja ngelindur jadi wasit…ckckckck”, Arfin menggelengkan kepala melihat kelakuan putrinya itu. Naz pun terkekeh dibuatnya.
---------- Extra_Part 03---------
__ADS_1
*********************
Happy Reading….🤩😍