
Sore kian menuju malam ditandai dengan tenggelamya sang mentari di ufuk barat, langit berubah menggelap meski cuaca nampak cerah tanpa awan hitam si pembawa hujan, bintang mulai bermunculan berkelap- kelip menghiasi indahnya malam meski sang dewi malam hanya menampakkan diri membentuk bulan sabit, hawa dingin pun mulai menyeruak yang menjelma menjadi angin malam. Seorang gadis nampak menatap dirinya di cermin terlihat melamun karena tengah di rundung rasa gelisah dan entah apalagi yang sedang ia pikirkan.
Naz kini tengah menunggu kedatangan pria yang memberi janji akan menjemputnya pukul tujuh malam dengan perasaan dag dig dug dan gelisah tidak karuan, karena ini merupakan makan malam perdananya dengan Arfin. Sejak jam enam sore Naz sudah bersiap dengan mengenakan gaun malam biru dongker tanpa lengan dengan panjang menutup lutut dan pita di tengahnya namun tetap elegan, ternyata itulah isi dari godie bag yang diberikan Arfin. Naz menggunakan riasan simpel di wajahnya hanya beralaskan poundation dan dilapisi bedak tipis, bibirnya dipoles lipstik peach semu pink pastel, matanya hanya memakai riasan eyeliner dan mascara yang pernah diajarkan oleh Ruby tempo hari dan rambutnya dibiarkan terurai dengan poni yang dibelah menyamping.
Saat terdengar suara mobil di depan gerbang, Naz langsung bergegas turun dengan membawa tas kecil miliknya dan mengenakan sepatu dengan hak pendek karena tubuhnya sendiri sudah jangkung, dan ia duduk menunggu di ruang tamu dengan perasaan gelisah, tegang, grogi semua bercampur aduk. Di rumah hanya ada Mbak Iyem saja, karena Ayahnya Naz sudah kembali ke rumah sakit sejak sore, Bunda masih di butik, sedangkan Dandy sedang pergi bersama Arini.
Ting nong …. Suara bel rumah sontak membuat Naz semakin tegang dan membuatnya beberapa kali menghela nafas panjang untuk menstabilkan perasaannya, “Yassalam,, kenapa tanganku rasanya dingin sekali,, kenapa aku bisa setegang ini sih,, orang cuman mau diajak makan malam doang,,, tenang Rheanazwa ,,, tenangkan dirimu,, ini cuma makan malam bukan perang dunia”, gumamnya dalam hati lalu kembali menghela nafas panjang yang dibuang melalui mulutnya seperti wanita yang hendak ngeden melahirkan.
Lalu dibukakan lah pintu rumah oleh Mbak Iyem, kemudian pria yang sedari ditunggu kedatangannya itu akhirnya muncul dari balik pintu, Naz tersenyum sambil terus menghapus keringat dengan tisu yang di tepok-tepokan ke dahinya. “Huft,,, akhirnya dia datang juga”, Naz kembali bergumam dalam hatinya lalu Naz pun berdiri untuk menyambut kedatangan Arfin, saat mata mereka saling beradu keduanya pun terdiam mematung selama beberapa saat seolah saling mengagumi satu sama lain.
Arfin pun membuyarkan lamunannya dan kembali menebarkan senyum kepada gadis pujaan hatinya itu, “Sudah siap,,,?? Ayo kita berangkat”, ucap Arfin yang nampak tampan dengan stelan celana jeans, kemeja putih dilengkapi blazer biru dongker, sedangkan Naz hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Baru saja Naz melangkah, “Eh,, sebentar A,, aku mau ke kamar kecil dulu ya,,”, ucap Naz sambil nyengir, lalu ia pun bergegas pergi ke kamar mandi , “Yasalam,,, kenapa gue gemetaran gini sih aduhh,,, pakai pengen pipis segala lagi, PMS ku langsung hilang ini mah terkalahkan oleh keteganganku,, hadeuhh ”, Naz menggerutu dikamar mandi, setelah urusannya selesai Naz langsung keluar dan menghampiri Arfin yang menunggunya di ruang tamu.
“Sudah selesai ?? Ayo,, biar pulangnya gak kemalaman,, Bunda bilang paling lambat jam 10 malam kamu harus sudah kembali ke rumah”, ucap Arfin mengajak segera berangkat.
“Iya A,, kalo jam 12 malam keburu berubah jadi upik abu lagi aku nya”, Naz mengajak bercanda untuk menghilangkan kegugupannya, Arfin pun tersenyum lebar mendengarnya. Mereka berpamitan pada Mbak Iyem yang masih menjaga pintu, lalu bergegas pergi menuju mobil, Arfin membukakan pintu mobil untuk Naz dan mempersilahkannya masuk, lalu ia pun masuk dan mengemudikan mobilnya.
“Aa,, emmm,,, kita ini mau pergi kemana?”, tanya Naz yang merasa heran dan kebingungan.
“Kan tadi siang Aa udah bilang kita akan makan malam”, Arfin menjawab dengan santainya sambil konsentrasi menyetir tanpa menoleh ke arah Naz.
Setelah beberapa saat menempuh perjalanan, tibalah mereka di sebuah restoran mewah berlantai tiga dengan dinding kaca di lantai atasnya. Arfin menghentikan mobilnya tepat di depan pintu masuk, ia pun turun lalu membukakan pintu mobil untuk mengajak Naz turun, lalu meminta Naz menggandeng tangan Arfin dan mereka pun berjalan memasuki restoran tersebut, sedangkan mobilnya diparkirkan oleh salah satu penjaga di sana.
Baru saja memasuki pintu masuk seorang pelayan wanita telah menyambut mereka, “Selamat datang Tuan AL Arifin dan Nona Rheanazwa, ini untuk anda”, ucap pelayan tersebut memberikan sekuntum mawar merah kepada Naz, namun ia merasa bingung dan memandang mata pria yang sedang menggandengnya itu, dan Arfin pun mengangguk sambil tersenyum sebagai tanda mengiya kan, akhirnya Naz menerima bunga mawar itu dan melanjutkan langkah mereka menyusuri karpet merah yang telah digelarkan memanjang di sana.
Begitupun saat mereka hendak menaiki tangga ada pelayan yang menyambut dengan memberikan sekuntum bunga mawar merah lagi, di ujung tangga pun seperti itu, dan itu terjadi hingga ke lantai tiga. Sudah mah hati dag dig dug ser gak karuan ditambah naik tangga sampai ke lantai tiga, pendingin ruangan di restoran itu seperti sedang rusak, karena Naz terus mengeluarkan keringat, namun Arfin terlihat nampak tenang terus menebarkan senyum dari bibir manisnya.
Saat tiba di lantai tiga Naz menerima bunga kembali dan melangkahkan kakinya bersama Arfin yang ternyata menyusuri lantai kumparan bunga mawar sepanjang karpet merah,suasana ruangan yang sepi pengunjung ditambah alunan musik piano membuat nya terbuai serasa dunia ini hanya ada mereka berdua saja. Keduanya kini tiba di sebuah meja yang terletak tepat di samping kaca sehingga terlihat jelas pemandangan kota malam di luar, meja yang dibalut kain putih hingga menjuntai ke bawah itu sudah ditata sedemikian rupa dengan makan pembuka dan minuman jus yang baru saja diletakan dua orang pelayan, dihiasi cahaya lilin dan satu pot bunga mawar peach yang semakin menambah keromantisan.
Arfin menarik sebuah kursi dan mempersilahkan Naz duduk, kemudian ia duduk di kursi yang lain yang membuat mereka duduk berhadapan hanya terhalang oleh meja saja. Kedua pelayan itu pun pamit pergi dengan memberikan sekuntum bunga mawar dari masing- masing orang kepada Naz. Kini Naz tengah duduk dengan memegang tujuh tangkai bunga mawar merah di tangannya, memandangnya dengan senyum penuh bahagia.
“Kamu suka Naz”, tanya Arfin.
“He em,,,, “, ucapnya sambil menganggukkan kepala dengan tersenyum bahagia, “Terimakasih Aa”, ucapnya terharu sampai tak terasa keluar butiran bening dari mata indahnya, Naz pun segera menghapus dengan jemari tangannya, lalu disimpan lah bunga tersebut di atas meja sebelah pinggirnya makanan Naz.
“Dari sini kita juga bisa melihat pemandangan kota di malam hari, walau hanya terlihat lampu- lampu saja, hehe ”, ucapnya lagi, “Ayo kita makan makanan pembukanya”, Arfin pun mengajak Naz makan, setelah selesai Arfin mengangkat tangannya dan dua orang pelayan pun datang membawa hidangan utama untuk mereka, dan kemudian mereka pun makan kembali.
“Mau dessert nya sekarang?”, Tanya Arfin setelah mereka berdua selesai makan.
“Enggak ahh,, udah kenyang hehe,,”, ucap Naz malu- malu,” Aa,,,emm apa ini ya yang dinamakan candle light dinner?”, tanya Naz dengan polosnya.
“Emmm,,, bisa disebut seperti itu...”, jawabnya sambil tersenyum.
“Kenapa disini sepi sekali pengunjung.. padahal makannya nya enak banget loh”, Naz bertanya setelah melihat sekeliling.
“Entahlah,, mungkin mereka tahu kita akan ke sini, jadi mundur alon- alon”, Arfin menjawab dengan seenaknya.
“Hahaha,,, mana ada,,, emangnya kita ini sultan”, ucap Naz menertawakan Arfin, “ Mendengar alunan musik piano itu serasa sedang pesta di dansa kerajaan saja,,,”, ucap Naz mengungkapkan khayalan nya.
“Dan kamu putri Cinderella nya gitu??", Arfin menebak.
" Aa pangerannya,,, hahaha,,, kita kayak lagi halu berjamaah deh", ucap Naz tertawa.
"Katanya nanti jam 12 malam kamu berubah lagi jadi upik abu,,", Ucap Arfin mengingat perkataan Naz saat masih di rumah tadi, dan tentunya itu mengundang tawa keduanya,, " Naz,, apa kamu suka?”, tanya, Arfin.
"Su suka apa? ", tanya Naz bingung.
" Suka tempat ini dengan alunan musik piano nya", ucap Arfin memperjelas pertanyaan sebelumnya.
“Ohhh.. suka,,, malahan jadinya aku pengen belajar main piano”, ucapnya senang.
“Oh ya ?,, kenapa gak les piano saja?”, Arfin kembali bertanya.
“Enggak ah,,, aku lagi ngurangin kegiatan di luar sekolah,, kan sebentar lagi kelas tiga, nanti banyak les- les mata pelajaran”, ucap Naz.
“Kamu suka nyanyi?”.
“Suka,, tapi di kamar mandi aja,,, kalo di depan orang takutnya merusak telinga orang”, Naz menjawab seadanya.
“Hahaha,,,, “, Arfin pun menertawakannya.
“Aa bisa main alat musik apa aja?”, tanya Naz penasaran.
“Gitar sama piano”, jawab Arfin singkat.
“Wow,,,, nanti ajarin aku ya”, ucap Naz, berharap.
“Oh jadi mau les nya, sama Aa nih.... Mau diajarin sekarang?”.
__ADS_1
“Hehe.... Emang bisa?”, tanya Naz heran.
“Ayo kita ke sana,, kita hentikan si pianis itu,, digantikan dengan penampilan Aa”, ucap Arfin dengan percaya diri.
“Hahahaha,,,, boleh boleh”.
Arfin pun mengajak Naz naik ke panggung tempat pianis itu memainkan pianonya, Arfin meminta untuk menghentikannya dengan isyarat, “Maaf , Bolehkah kami pinjam piano nya sebentar? Nona ini ingin belajar memainkannya”, ucap Arfin pada pianis itu.
“Oh iya,, silahkan”, Pianis itu pun bangkit dari duduknya dan mempersilahkan Arfin dan Naz mengambil alih piano tersebut dan ia pun turun dari panggungnya.
Arfin mengangkat tangan dan seorang pelayan menghampirinya,” Mas tolong minta satu kursi lagi untuk Nona ini", pintanya menunjuk ke arah Naz.
“Baik Pak,,,,”, ucap pelayan itu lalu mengambilkan kursi lalu mengantarkannya ke atas panggung dan di letakan di sebelah kursi pianis yang tengah diduduki Arfin. Dan kini Arfin bersama Naz tengah duduk bersebalahan, “Ayo kita mulai pelajaran dasar ya,, nada dasar tuts piano itu ada lima, yaitu nada dasar tengah, nada datar yg sebelah kiri ini, nada tajam yang sebelah kanan ini, nada bas dan nada tinggi”, ucap Arfin sambil menunjukkan posisi nada tuts pada Naz, “Kalau membahas teorinya bisa sampai subuh kita, mending coba kamu mainkan sajalah haha”, Arfin lalu memainkan nada do re mi pa sol laa si do,,,, kemudian Naz pun menirukannya dengan jari- jarinya yang terasa kaku.
“Aa jarinya udah jalan semua,, aku cuma bisa pakai telunjuk doang,, hahaha”, ucap Naz menertawakan dirinya sendiri.
“Gak apa- apa namanya juga baru belajar pasti kaku”, ucap Arfin.
“Aku gak tau nada nya sebelah mana– mana nya,, coba di tiap tuts ada tulisan do re mi pa sol la si do nya, kayak piano mainan pasti gampang mainin nya”, Naz bicara ngasal.
“Mana ada Naz,, ada juga pakai pakai abjad A-G atau kalau yang mainan 1-7,, hahhaa”, Arfin menertawakan kekonyolan Naz.
“Ya ampun jadi inget lagu dangdut kesukaan Bunda tuh kalo belajar piano gini,, yang gini loh Pak Guru yang ini apa namanya,,, hahahahaha”, Naz menyanyi dengan menekan beberapa tuts.
“Dasar kamu penggemar Bang Roma Irama ya,,,”, Arfin menebak dan menertawakannya.
“Bukan aku tapi Bunda,,, hahaha”, jadi gibahin Bunda.
“Aa,,, nyanyi dong sambil memainkan Piano”, pinta Naz.
“Nyanyi apa? Aku gak bisa”, ucapnya merendah.
“Aaahhh bohong,, ayo nyanyi,,,yaaa,,, nyanyi yaa,, please,, dari tadi aku denger alunan piano aja yang nyanyinya gak ada,, serasa lagi berduka cita aja”, Naz terus memohon.
“Hahaha,,, baiklah,, tapi jangan di ketawain ya,, suara Aa jelek soalnya”, akhirnya Arfin pun bersedia.
“Oke,,,, aku akan jadi pendengar setia yang gak banyak protes kaya Kiara”, ucap Naz sambil tersenyum sedangkan Arfin nampak beberapa kali menghela nafas panjang untuk menstabilkan kegugupan nya, “Ya ampun Aa,, ini kan mau nyanyi doank bukan mau perang, mukanya kok kayak tegang gitu sih”, ucap Naz sambil menyenggol lengan Arfin yang berada di sebelahnya.
“Emmm,, kamu pindah duduknya gih,, jangan disini,, aku jadi nervous”, ucap Arfin pada Naz, dan Naz pun menggeser kan tempat duduknya agak menjauh dari Arfin lalu Naz duduk di samping piano yang akan dimainkan Arfin seolah sedang menonton aksi pria di depannya itu.
Arfin mulai memainkan piano nya sebagai intro pembuka untuk lagu yang akan dimainkannya.
Kulihat dirimu hadir
Rasa hati ini inginkan dirimu
Hati tenang mendengar
Suara indah menyapa
Geloranya hati ini tak ku sangka
Rasa ini tak tertahan
Hati ini slalu untukmu
Terimalah lagu ini dari orang biasa
Tapi cintaku padamu luar biasa
Aku tak punya bunga aku tak punya harta
Yang ku punya hanyalah hati yang setia tulus padamu
Hari hari berganti
Kini cinta pun hadir
Melihatmu, memandang mu bagai bidadari
Lentik indah matamu
Manis senyum bibirmu
Hitam panjang rambutmu anggun terurai
Rasa ini tak tertahankan
Hati ini slalu untukmu
__ADS_1
Terimalah lagu ini dari orang biasa
Tapi cintaku padamu luar biasa
Aku tak punya bunga aku tak punya harta
Yang ku punya hanyalah hati yang setia tulus padamu........
Arfin menyanyikannya dengan penuh penghayatan, sesekali memandang ke arah Naz dan tentunya itu membuat hati Naz meleleh serta terharu mendengar Arfin menyanyikan lagu cinta luar biasa dari Andmesh itu. Naz tidak berhenti memandang Arfin dengan terkagum- kagum dan terus tersenyum sumringah, selain suaranya bagus lagunya seakan tengah meluapkan isi hatinya kepada Naz.
Arfin pun selesai menyanyi dan menghentikan permainan pianonya, ia melihat ke arah Naz yang terus melemparkan senyuman dan terus memandang ke arah nya, Arfin berdiri dan melangkah menghampiri Naz, lalu ia memegang tangan Naz mengajaknya berdiri, namun saat Naz berdiri Arfin malah berlutut sembari menggenggam lembut kedua telapak tangan Naz yang di telungkup kan.
Arfin menarik nafas panjang lalu menghembuskan nya, “Naz… aku tak pernah tahu apa itu yang dinamakan cinta sebelum kamu datang dalam kehidupanku, ketika aku menatapmu seolah ku menemukan wanita yang ku anggap sebagai idola karena aku mengagumi mu, mengagumi kebaikan hatimu, mengagumi ketegaran hatimu, mengagumi kepedulian mu terhadap oran lain, mengagumi kesederhanaan mu, mengagumi keceriaan mu, bahkan aku mengagumi keisengan mu, Naz.”, ucapnya.
“Setiap kali aku bersamamu, aku tidak bisa menghindari merasakan sesuatu yang sangat istimewa di hatiku, awalnya ku pikir itu hanya rasa kagum semata, tapi ternyata lebih dari itu. Aku senang melihatmu tertawa bahagia, hatiku sakit saat melihat mu sedih dan menangis karena terluka. Telah banyak waktuku terlewati bersamamu yang telah menghiasi hari- hariku, aku selalu mencari alasan agar bisa terus berkomunikasi denganmu, hanya untuk mendengar suara mu atau melihatmu berbicara di layar ponsel. Aku ingin menjadi pengobat kesedihanmu, pembawa tawa kebahagiaanmu, membuat mu tersenyum setiap harinya.”, Lanjutnya lagi.
“Aku sangat menyadari bahwa aku ini hanya lelaki yang memiliki banyak kekurangan dan tak mungkin juga tak pantas mengharapkan cintamu, aku pun bukan lelaki yang romantis yang memberimu bunga ataupun kata-kata mesra untukmu, namun dengan ketidakberdayaan ku ini sudah tak bisa menahan perasaan yang semakin hari semakin tumbuh bersemi di dalam hatiku,”, Arfin menunduk sejenak kembali menari nafas panjang dan menghembuskan nya, lalu memandang Naz kembali.
“Rheanazwa, aku mencintaimu melebihi apa yang bisa ku ucapkan, aku mencintaimu melebihi tindakan yang bisa ku lakukan, aku sungguh mencintaimu melebihi apapun itu, aku mencintaimu dari lubuk hatiku yang terdalam”, ucap Arfin dengan menatap mata Naz dalam- dalam.
“Maukah kau menerima cintaku,, Rheanazwa?”, Arfin menanyakan jawaban Naz atas ungkapan cintanya. Naz hanya diam mematung karena terkejut dan merasa tidak percaya mendengar semua ungkapan perasaan Arfin padanya, tangannya menjadi dingin, getaran sakan menggelenyar di seluruh tubuhnya, namun matanya masih saling bertatapan dengan Arfin yang masih dalam keadaan berlutut di hadapannya.
“Kak Arfin,,,,,”, Lirihnya pelan dan ia pun menghela nafas panjang,, “Kak Arfin aku,,,,,,”,mendadak bibir Naz terasa kaku, seakan sulit untuk mengeluarkan kata- kata, dan saat Naz hendak mengatakan sesuatu, tiba- tiba ia terdiam seakan mengingat sesuatu dan menatap hanya sendu pada Arfin.
-------------- To Be Continue -------------
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Nungguin yaa....???
-
-
-
-
-
-
-
-------------- TBC ------------
*************************
Nantikan episode selanjutnya.....
Happy Reading..... 😉🥰
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejakmu... 😉😘