
Hari ini merupakan hari yang sangat bersejarah di sepanjang hidup Arfin, untuk pertama kalinya ia menyatakan cinta yang ternyata kepada istri orang sampai mendapat hadiah cenderamata di wajah tampannya. Selain merasakan sakit di wajah, rasa malu dan kesal kini tengah menyelimuti dirinya, dan dia hanya bisa menggerutuki dirinya sendiri, “B*doh, b*go, sial, memalukan,,,,kenapa juga harus terpancing hasutan Mami yang menyuruhku segera menyatakan cinta,,, begini nih kalau terburu- buru tanpa persiapan dan hanya bermodalkan rasa takut di dahului orang,, apes kan gue jadinya,, bukannya mendapat balasan cinta malah dapat bogeman”, Afin yang kini sedang di dalam kamarnya terus menggerutu.
“Sebaiknya aku kembali ke rencana awal untuk mencari tahu tentang Naz kepada tiga sahabatnya”, ucap Arfin berdialog sendiri, kemudian ia mengambil ponsel yang ada di dalam saku celananya, “Ya ampuun, kenapa aku bisa lupa menyalakan ponselku kembali setelah di charger tadi”, Arfin kemudian menekan tombol yan berada di samping kanan atas ponselnya, teneneng tetetuit ,,,,,dan layar ponselnya pun menyala.
Ting ting ting ponselnya berbunyi yang menandakan beberapa pesan masuk, saat di lihat ada pesan dari teman- temannya, staff cabang Surabaya, Abangnya, dan yang berada di deretan teratas pesan dari gadis sang pujaan hati.
Naz
08:20
“Assalamu’alaikum Aa”
“Tadi dokter bilang aku udah bisa pulang hari ini”
08:43
“Aa masih di Jakarta atau sudah ke Surabaya lagi kah?”
09:13
“Aa aku udah di rumah”
09:48
“Kok gak di bales- bales sih ?”
“Aa marah ya sama aku?”
“Ya ampun,, ternyata Naz sudah memberitahukan kepulangannya padaku saat aku masih tidur tadi pagi,,, kenapa aku bisa sampai tidak membuka pesannya,,, ini semua gara- gara Mami yang terus ngomporin aku”, gerutu Arfin pada dirinya sendiri, lalu ia menekan tombol panggilan video call, saat sedang memanggil ia baru sadar kalau wajahnya babak belur dan langsung membatalkan panggilannya, “Arghh b*doh,,, aku gak mungkin melakukan panggilan video call dengannya, mau jawab apa kalau dia menanyakan soal wajahku bisa seperti ini,, lebih baik telepon biasa saja”, ucapnya lagi, namun tak disangka ternyata Naz menelponnya balik untuk panggilan video call, dan Arfin pun tidak mengangkat atau pun menolak panggilannya.
Setelah ponselnya berhenti berdering, barulah ia menelpon Naz kembali dengan panggilan telepon biasa, dan tak perlu menunggu waktu lama, Naz pun mengangkat panggilan teleponnya. “Hallo Assalamu’alaikum Naz”, ucapnya.
“Wa’alaikumsalam”, Naz menjawab dengan nada jutek.
“Ih galak banget sih jawabnya”, ucap Arfin.
“Maaf ini dengan siapa ya?”, Naz masih kesal rupanya.
“Ini sama Aa”, Arfin menjawab dengan nada menggoda.
“Aa siapa? Gak kenal tuh”, Mode kesal part 2
“Iya iya,,, maaf ya belum sempet jenguk lagi, tadi habis subuh tidur lagi kurang enak badan”, ucap Arfin menjelaskan.
“Aa sakit apa?”, Yang jutek jadi khawatir.
“Enggak cuman kecapean saja, di Surabaya lembur terus tiap hari, jadi pas pulang pengennya tidur,, syukurlah kamu sudah pulang berarti sudah sembuh ya”, ucap Arfin senang karena dikhawatirkan Naz.
“Iya, Aa banyakin istirahat aja jangan lupa makan makanan yang sehat dan makan tepat waktu”, asik semakin perhatian.
“Siap 86... tapi besok Aa mau balik lagi ke Surabaya, karena masih banyak yang harus dikerjakan di sana”, ucapnya lagi.
“Kok cepet banget sih balik kesana lagi?”, Naz bertanya merasa kecewa.
“Kenapa…. Masih kangen ya”,.
“Engak”.
“Masa sih?”.
“Kan kata Aa jangan kangen, karena kangen itu berat, biar Aa saja yang naggung,, yasudah seperti itu saja terus?”.
“Hahahaha,,, perasaan bukan kangen deh tapi rindu”.
“Ya sama dengan kan,, kangen itu rindu”
“Naz,,, “, lirihnya.
“Iya”
Tiba- tiba hening seketika hingga beberapa menit tidak ada pembicaraan lagi diantara mereka, namun durasi panggilan terus berjalan dan ponsel pun sudah terasa panas di telinga masing- masing.
“Naz”
“Aa” mereka bicara berbarengan.
“Kamu aja dulu Naz”
“Aa aja duluan”.
“Kamu aja duluan, ladies first”.
“Aku cuman memastikan kok apakah disana masih ada orang apa enggak,, Aa mau ngomong apa”.
“Emmm,,, sama kok,,hehe”.
__ADS_1
“Aa.. makasih ya buat semuanya,, selama ini Aa baik banget sama aku, suka nolong aku, selalu ada di saat aku membutuhkan,, maaf ya selama ini aku sering merepotkan Aa,,, gara- gara aku Aa sampai bolak- balik ke Surabaya,,, emmm,,, apakah,,,, emm... kenapa Aa melakukan banyak hal itu untuk aku?”.
Deg ,,,”Karena aku sayang kamu Naz, aku cinta sama kamu,,,, argh tidak mungkin aku mengatakan hal sepenting ini hanya lewat telepon, itu sangat memalukan”, Arfin bergumam dalam hati.
“Hallo,, Hallo,,, Aaa masih disitu”.
“Ah, iya kenapa,,,?”.
“Gak jadi ahh,, udah dulu ya Bunda bilang ada tamu yang mau bertemu denganku,, assalamu’alaikum,, daah”
“Wa’alaikumsalam,,,” ucapnya membalas salam, “Fiuhhhh,,, untunglah Naz tidak menanyakan apa- apa lagi,, besok saja aku menemuinya langsung,”, ucapnya kembali lalu menyimpan ponselnya di atas tempat tidur.
********
Sementara di kediaman Naz kedatangan tiga orang tamu yang ingin bertemu dengan Naz dengan membawa buah tangan ciri khas untuk menjenguk orang sakit, Bunda pun mempersilahkan masuk dan mereka pun memperkenalkan diri dengan tujuan kedatangannya untuk menjenguk Naz, lalu Bunda memanggil Naz dan mengajaknya untuk turun menemui tamu tersebut. Saat Naz masuk ke ruang tamu ia terkejut melihat orang yang tengah duduk di kursi tamu itu. “Kak Sherly,,,?”, ucap Naz terkejut, dan yang disebutkan namanya hanya duduk sambil tertunduk.
“Iya Dek, katanya dia kakak kelas mu di sekolah, mau menjenguk mu? Dan yang itu Pak Indra dan Bu Mila orang tua Sherly”, ucap Bunda, lalu Naz menyalami ketiga orang tersebut secara bergantian, kemudian ikut duduk bergabung.
“Ekhem,,, begini Bu Anita,, maksud kedatangan kami ke sini selain untuk menjenguk Rheanazwa, kami juga ingin meminta maaf atas kesalahan yang telah anak saya, Sherly perbuat.”, ucap Pak Indra membuka pembicaraan.
“Kesalahan,,,,, kesalahan apa maksudnya?”. tanya Bunda merasa heran.
“Jadi begini Bu,, “, Pak Indra menghela nafas panjang, “Dulu Sherly dan Rheanazwa sempat terlibat suatu masalah yang menyebabkan keduanya bertengkar, dan Sherly diminta untuk meminta maaf secara terbuka saat upacara di sekolahnya, karena dia merasa dipermalukan,,saat baru masuk sekolah kemarin Sherly mengerjai Rheanazwa dengan menguncinya di ruang musik,,,”, Pak Indra menjelaskan.
“Apa,,,?? Jadi anak anda yang sudah mengunci anak saya di ruang musik?”. Bunda nampak terkejut dengan perkataan Pak Indra yang tidak sesuai dengan pengakuan Naz sebelumnya.
“Iy iya Bu,,, “, jawabnya dengan gugup, “Kami benar- benar minta maaf Bu atas kesalahan, Sherly”, lanjut Pak Indra.
“Iya Tante,, saya benar- benar minta maaf,, saya tidak bermaksud mencelakai Naz,, hanya sekedar iseng saja”, Sherly pun buka suara.
Bunda langsung bangkit dari duduk nya, “Iseng,,,? Kamu teh bilang iseng,, kamu tahu tidak anak saya hampir mati gara- gara terkurung di ruangan dingin dan kedap suara selama berjam- jam,, kamu pikir nyawa anak saya ituh sebuah mainan buat keisengan kamu hah”, ucap Bunda dengan emosi sedangkan Naz yang duduk disebelahnya nampak cemas.
“Bunda, tolong tenang, jangan emosi nanti darah tinggi Bunda bisa kambuh lagi,,ayo kita duduk lagi “, Naz mencoba menenangkan Bunda.
“Saya benar- benar minta maaf tante,, saya sangat menyesal”, ucap Sherly sambil menunduk.
“Ini mah sudah termasuk tindakan kriminal, saya akan melaporkan kamu pada polisi,,,!”, Bunda bicara tegas.
“Bu,, saya mohon mari kita selesaikan ini dengan cara kekeluargaan,, kami tahu anak kami bersalah, tapi tolong jangan laporkan anak kami pada polisi, bagaimana dengan nasib anak kami nanti kedepannya kalau dia di penjara,, kami mohon kemurahan hati Ibu sekeluarga untuk memaafkan kesalahan anak kami, Sherly”, ucap Pak Indra memohon.
“ Maaf anda bilang,, ?? tadi anda bilang mereka pernah bermasalah di sekolah lalu anak anda sudah meminta maaf secara terbuka,,, lalu kenapa malah mencelakakan anak saya ??, apa anda bisa menjamin jika kami memaafkan dia tidak akan mencelakai anak saya lagi?”, ucap Bunda dengan tatapan marah, “Saya akan tetap melaporkannya pada polisi”.
“Bunda,, sudahlah,,, tolong maafkan Kak Serly,, dia hanya khilaf,, aku sudah memaafkannya kok,, lagi pula Ayah sama Bunda kan bilang kalo ada yang meminta maaf dan mengakui kesalahannya, kita harus memaafkannya dan jangan pernah menyimpan dendam, karena masa lalu tidak bisa diulang sedangkan masa depan masih bisa diperbaiki, dengan memaafkan hati kita bisa tenang jauh dari kegelisahan, aku sudah ikhlas”.ucap Naz ikut memohon.
“Anak kami juga sudah dikeluarkan dari sekolah Bu, dan kami akan memindahkannya ke luar kota agar tidak mengganggu anak ibu lagi,, kami mohon jangan melaporkannya pada polisi,, dan lagi pula jika anak kami dilaporkan kepada polisi , keluarga besar Harfi juga akan tercoreng Bu”.
“Karena Sherly melakukan itu bukan atas kehendaknya sendiri, tapi atas suruhan Raline anaknya Pak Syarif”.Pak Indra pun menyebutkan sangat dalang.
“Apaaa,,?? Raline?,, Anda jangan menuduh sembarangan ya,, jelas–jelas Raline tidak satu sekolah dengan Naz dan anak anda,, bagaimana bisa Raline ada di sana, dan lagi jarak sekolah mereka sangat jauh”, Bunda kembali tersulut emosi.
“Iya,, Tante,, saya melakukannya atas permintaan Raline,, saat itu saya sedang menelpon Raline karena janjian pergi ke mall,, saat saya akan pulang melewati kelas 2IPA1 dan mendengar kalau Naz belum menyerahkan tugasnya ke ruang musik dan dia sedang di toilet, saat saya bilang pada Raline dia memberi saya ide untuk ngerjain Naz, dan saya langsung ke ruang musik. Di sana saya lihat Bu Tika baru saja keluar, lalu saya menghampirinya dan mengatakan saya ketinggalan barang di dalam, saya juga bilang agar saya saja yang mengunci pintunya dan akan saya serahkan kuncinya ke Pa Diman. Raline pun meminta saya untuk mengatur AC di suhu paling rendah lalu membawa remotnya, karena saya panik, saya membuang remot ke semak- semak taman sekolah dan saya bersembunyi di balik tiang temnok, tak lama Naz datang saat dia masuk ke dalam saya menguncinya dari luar”, Sherly menceritakan kronologinya.
“Astagfirullah,, kalian benar- benar kriminal,,, bagaimana kalau saat itu anak saya terlambat ditemukan hah?? Kamu akan menjadi seorang pembunuh tahu gak?",Bunda membentak Sherly.
“Maaf tante,, tadinya saya mau ke sekolah lagi sepulang dari mall untuk membuka kembali pintunya, tapi Raline membuang kuncinya ,, maaf… sekali lagi saya minta maaf,, saya sangat menyesal tante”, Ucap Sherly menangis.
“Kami juga tidak mengetahui hal ini, namun saat Mas Haris dan Arfin datang ke rumah mencari Sherly, barulah kami tahu, dan mereka pun hendak melaporkan anak kami, tapi setelah mendengar pengakuan Sherly, mereka mempertimbangkannya kembali dan meminta Sherly untuk menandatangani surat perjanjian agar tidak mengganggu Naz lagi”. Pak Indra kembali menjelaskan.
“Arfin?”
“Kak Arfin?” Bunda dan Naz bicara bersamaan.
“Iya, Arfin anaknya Pak Latief, dia datang ke rumah saya sambil marah- marah dan hendak menyeret Sherly ke kantor polisi, bahkan dia pula yang membuat surat perjanjian di atas materai yang ditanda tangani oleh Sherly dan Raline yang berisikan mereka tidak akan menganggu atau mencelakai Naz dalam bentuk apapun dengan sanksi akan dilaporkan kepada polisi jika mereka melanggarnya”.
Bunda dan Naz sangat terkejut saat mendengar Arfin disebutkan oleh Pak Indra, Bunda menyenderkan tubuhnya ke sandaran kursi sambil memijat kepalanya karena merasa pusing.
“Bunda, udah ya kita maafin mereka,,,”, Naz membujuk Bunda.
Bunda menarik nafas kasar,, “Baiklah, kali ini saya memaafkan kamu Sherly, tapi saya ingatkan jika sekali lagi kamu mengganggu atau melukai anak saya lagi,, saya akan pastikan kamu membusuk di dalam penjara,, dan kalian beruntung Ayah dan Kakak nya Naz tidak sedang di rumah, jika tidak saya tidak bisa membayangkan apa yang akan mereka lakukan”, Akhirnya Bunda pun luluh.
“Terima kasih banyak atas kemurahan hati Ibu dan Naz bersedia memaafkan Sherly, saya akan menjamin Sherly tidak akan mengganggu Naz lagi,, kalau begitu kami permisi “, ucap Pak Indra mengakhiri perbincangan kemudian mereka berpamitan dan kembali pulang. Dan kini tinggal Naz dan Bunda di ruang tamu, Naz nampak menunduk.
“Naz,, sejak awal kamu tahu tentang hal ini kan,, kenapa kamu menyembunyikannya dari kami semua dan malah membohongi kami?”. Bunda menyelidik.
“Maaf Bunda,, aku cuman gak mau ada pertikaian lagi di dalam keluarga besar kita,, dulu gara- gara aku, Opa dan Ayah hubungannya menjadi tidak baik, dan sekarang sudah kembali membaik lagi. Aku gak mau gara- gara aku keluarga kita bermasalah lagi, mungkin Raline merasa iri karena dulu sempat menjadi satu- satu nya kesayangan Opa setelah aku berbaikan lagi dengan Opa aku mendapatkan perhatian lebih, hanya saja caranya yang salah. Jika Opa, Papa, dan Ayah tahu tentang hal ini pasti akan menimbulkan masalah baru dan Raline pun akan terkena dampaknya sedangkan dia belum lama ini baru sembuh Bunda, tolong jangan bilang pada siapa pun tentang hal ini Bunda, aku mohon”. Ucap Naz mengutarakan alasan kebohongannya.
“Sayang,, kenapa kamu masih memikirkan Raline sedangkan dia hampir membuat kamu kehilangan nyawamu”, tanya Bunda.
“Bunda lupa ya,, seburuk apapun Raline dia tetap saudaraku, sebenarnya dia itu anak yang baik Bunda, hanya saja karena sangat dimanja jadi saat dia melakukan hal yang salah menurutnya serasa benar, mungkin kita sebagai keluarganya harus mengingatkan dan menyadarkannya”.ucap Naz.
“Sayang,,, Bunda bangga sama kamu,,,dan terimakasih setelah musibah yang kamu alami, kamu masih memikirkan kebahagiaan keluargamu,,, Bunda sangat menyayangimu”, ucap Bunda lalu memeluk Naz dan mencium pucuk kepalanya, “Lalu kenapa Arfin bisa mengetahui kalau Sherly pelakunya?”, lanjutnya mempertanyakan.
“Entahlah, aku juga gak tahu Bunda,,,”.
“Hmmm,,, anak itu benar- benar ingin menjaga dan melindungi Naz, terimakasih banyak Arfin”, Bunda bergumam dalam hatinya.
__ADS_1
Sesuai permintaan Naz , Bunda tidak memberitahukan hal itu pada siapapun termasuk kepada suaminya sehingga keadaan aman dan terkendali. Naz pun merasa tenang akhirnya masalahnya telah selesai.
Sedangkan Arfin mendadak dihubungi Papi nya diminta harus kembali ke Surabaya hari itu juga karena ada masalah serius dengan kantornya di sana, dan mereka pun berangkat menggunakan jet pribadi agar cepat sampai, dan tentunya rencana untuk menemui Naz esok hari pun batal lagi, ada saja halangan nya. Tentunya saat Arfin mengabari Naz mengenai keberangkatannya yang mendadak, membuat Naz menjadi gegana alias gelisah galau merana.
Setelah dua hari istirahat di rumah untuk pemulihan, hari Naz sudah kembali lagi masuk sekolah, tentunya itu membuat bahagia ketiga sahabatnya, dan di sekolah pun tidak ada yang mengetahui kejadian yang menimpa Naz karena kepala sekolah telah mengultimatum para penjaga sekolah dan petugas kebersihan untuk tidak membocorkannya pada siapapun, termasuk ketiga sahabat Naz juga di minta untuk tutup mulut.
Bel pun berbunyi menandakan jam istirahat telah datang, seperti biasa Naz dan ketiga sahabatnya pergi ke kantin, jajan dan makan di sana.
“Naz, pinjam ponsel bentar dong, mau nelpon kakak gue, pulsa gue abis nih ternyata”, ucap Ruby.
“Yaelah dasar kismin lo, nih”, Naz menyodorkan ponselnya, “ Gue mau beli jus dulu ya”, ucapnya lalu pergi menuju kios jus yang ada di kantin, setelah beberapa saat kemudian Naz kembali dengan membawa jus alpukat kesukaannya, dan Ruby pun telah selesai melakukan panggilannya.
Saat akan mengembalikan ponsel pada Naz, ada pesan masuk Ting Ting,,Ruby pun iseng membukanya.
“Wanjiirr,,, Naz udah punya pacar ni ye”, Ucap Ruby terkejut.
“Gak usah ngadi- ngadi lo By”, Naz menyangkal dengan santainya.
“Lah, ini buktinya”, Ruby memperlihatkan layar ponsel Naz yang menunjukan pesan dari seseorang.
“Gilaaa,,, lo Naz,,, gak ngasih tahu kita- kita ya lo udah jadian,,, udah gak nganggep kita lo ya”, Kiara protes.
“Ampuuun pemerintah,,,, tega kamu ya Naz”, Andes ikut heboh.
Naz langsung merebut ponselnya dari tangan Ruby, ”Sini lo,, gak sopan banget sih maen buka- buka chat orang”, Naz merasa kesal.
“Peje mana peje…”, ucap Ruby.
“Peje apaan maksud lo”, Tanya Naz kesal.
“Pajak jadian oneng markoneng”, Kiara yang menjawab.
“Siapa juga yang jadian, enggak ada”, Naz menyangkal.
“Lah itu buktinya terpampang nyata”, Ruby kekeh.
“Iya ih Naz,, kamu ya masih gak mau ngaku”, Andes pun sama.
“Itu buktinya lo manggil Kak Arfin dengan sebutan Aa,, hayoo,, mau ngeles apa lagi lo”, ucap Ruby yg tadi membaca chat Arfin.
“Iya Lo Naz,, orang sunda kan kalo manggil kabogoh alias pacarnya itu dengan sebutan Aa,,, cieeee,, akhirnya kalian jadian juga”, Kiara menggoda Naz.
“Yasalam,, kalian semua itu salah faham,, kita belom jadian kok,, dia gak pernah nyatain perasaanya ke gue”, ucap Naz sambil menggenggam ponselnya yang masih terpampang chat dari Arfin.
“Tapi,, lo cinta kan sama Kak Arfin, dia juga pastinya punya perasaan yang sama kan sama lo,, kalian sering telponan, VC an, chatingan, pernah jalan bareng, apa itu belum cukup membuktikan, gue inget ya waktu lo pingsan dia rela gendong lo dengan jalan terpincang- pincang dan gue yakin lo itu berat, keliatanya aja kurus padahal padat berisi, itu bikin gue baper tau gak”, Ucap Ruby panjang lebar.
“Iya sih, lo bener gue sayang sama dia, tapi hubungan kami ini belum ada kejelasan By, gak mungkin lah gue nyatain perasaan gue duluan sama dia, apa kata tetangga,,,,ya gue sebagai seorang cewek cuman bisa menunggu “, Ucap Naz blak- blakan dengan nada pasrah.
Drtttt drttt,,, ponsel yang ada di genggaman Naz bergetar dan saat dilihat ada pesan.
Kak Arfin
“Kamu sayang sama siapa Naz?? “
“Menunggu siapa?”
“Yasalam,,,, O em Ji,,, Astagfirullahaladziim,,, Bundaaa,,,,, ini gimana atuhh?”. Ucap Naz panik dan terkejut lalu menutup mulut mangap nya dengan telapak tangannya..
“Lo kenapa Naz,,, ada apa,,,?? Jangan bikin kita panik deh”, ucap Ruby yang sudah panik.
“Apa ada yang meninggal, kok kamu kayak mau nangis gitu Naz?” Andes menebak.
“Diem lo Des, jangan sekate- kate kalo ngomong,, Lo kenapa sih Naz?”, Kiara si tukang protes.
“Nih lihat,,,,,”, Naz memperlihatkan layar ponselnya pada ketiga sahabatnya.
“Kok Kak Arfin bisa nanya gitu? Dia punya mata- mata ya disini?”, ucap Ruby heran.
“Lo lihat pesan sebelum Kak Arfin nanya itu”, pinta Naz.
“Voice note??” Tanya Andes.
“Coba lo tekan”, kata Naz.
Dan saat ditekan keluarlah suara “Iya sih, lo bener gue sayang sama dia, tapi hubungan kami ini belum ada kejelasan By, gak mungkin lah gue nyatain perasaan gue duluan sama dia, apa kata tetangga, ya gue sebagai seorang cewek cuman bisa menunggu “.
“Oh….My…. God,, Naz dia udah tahu perasaan lo”, Ruby kembali heboh.
“Wanjiiirrr,,, jadi ini mah jadian euy….”, Kiara menggoda Naz.
“Asikk ,, dapat pajak jadian dari Voice Note Katakan Cinta,, hahahaha”, Andes seksi perpajakan.
“Gimana ini,,, gue malu banget,,, semalu- malunya,, ini kan terkesan gue yang nyatain cinta ke dia ,,,huaaaaaaa,,,,Bundaaa,,, aku maluuu”. ucap Naz panik hendak menangis.
--------- TBC -----------
__ADS_1
**********************
Happy Reading