
Pagi ini seperti biasanya sebelum mengawali aktivitas Naz dan keluarga sarapan bersama, sesekali Naz terlihat melamun karena masih kepikiran penemuan semalam nya soal Nervan dan Arfin adalah kakak beradik.
"Bagaimana bisa mereka itu kakak beradik? mereka sampai berkelahi gara-gara aku,,, gimana kalau orang tua mereka tahu kalau mereka pernah memperebutkan aku,,,, aahhhh,,,, tahu gitu aku gak akan pilih salah satu dari mereka", Naz bergumam dalam hati.
"Rheanazwa", terdengar suara sentakan Dandy.
"Apaan sih Kak, ngagetin orang aja",Naz langsung membuyarkan lamunannya.
"Lagian kamu dari tadi dipanggil udah beberapa kali diam aja,,, ngelamunin apa sih pagi- pagi begini?? tuh Pak Udin udah nyalain klakson 9x melebihi kapasitas yang kamu suruh alias udah tiga kali tiga noh panggilannya", cerocos Dandy.
"Oh ya ampun,,, aku harus segera berangkat ke sekolah", Naz langsung meminum susu nya lalu menyalami kedua orang tua dan kakaknya, "Assalamualaikum,,, ", Naz pun berpamitan dan bergegas keluar rumah berjalan menuju mobil jemputan nya.
Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit sampailah Naz di depan gerbang sekolah dan langsung turun, ia berlari menuju kelas nya karena semua murid sudah mulai berkumpul di lapangan untuk melaksanakan upacara bendera. Setelah menyimpan tas nya, Naz pun pergi ke lapangan dengan menggunakan topi seragam di kepalanya.
Setelah rangkaian upacara selesai dilaksanakan, semua murid dan guru memasuki kelas masing- masing untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar.
Bel pun berbunyi menandakan jam istirahat telah tiba, dan seperti biasa geng bontot unyu pergi jajan ke kantin dan makan disana sambil duduk bercerita segala macam.
"Hai guys,,,, hape baru gue bagus kan?", Ruby memamerkan ponsel barunya pada ketiga sahabatnya.
"Dih,,, sombong lo ya,, mentang- mentang- dapat dorprize hape di pesta kemaren",Kiara langsung nyinyir.
"Iya... ihh,, itu kan hape harusnya dibagi dua sama Akmal,, kalian kan berduet jadi hadiahnya untuk berdua yee", Andes ikutan berkomentar.
"Mana ada hapenya dibagi dua,,, maksud Lo gue dapet layar depan dan Akmal dapet bagian belakang gitu,,,, ? mana bisa nyala hapenya coy,,, kalian sirik aja ih... ", Ruby langsung protes lalu melihat ke arah Naz,, "Naz, lo kok diem aja sih,, Lo ikutan gak seneng juga ya gue dapet dorprize dari Opa lo?", Tanya Ruby sedikit kesal.
" Dari semalam gue kepikiran sesuatu By,,, ternyata Bang Evan sama Kak Arfin itu kakak beradik,,,, ", ucap Naz.
"Apa....??", ketiga sahabat Naz bertanya sambil setengah teriak berbarengan.
"Seriurasan Naz,,,,?? gila gila gila.... ini sih gila namanya,, adik kakak itu dua- dua nya jatuh cinta sama lo ,,, pake pelet apa lo Naz ??", cerocos Ruby yang merasa tidak percaya dengan yang ia dengar barusan.
"Berarti waktu kita ke Bandara jemput kak Dandy, Bang Evan kan juga menjemput adiknya itu Kak Arfin gitu maksudnya?",tanya Andes.
" Lo yakin dengan berita itu?? terus lo tahu dari mana soal itu, apa dari Kak Arfin sendiri?", tanya Kiara penasaran.
Naz kemudian menceritakan kejadian semalam saat ia menemukan buku kenang- kenangan SMA milik Dandy hingga penjelasan dari sang Bunda.
" Jadi gitu ceritanya,, gue kepikiran terus,,, kalo gue tahu mereka bersaudara, gue gak akan nerima salah satu dari mereka,,, gue gak mau aja hubungan persaudaraan mereka rusak cuman gara- gara gue,,, ", ucap Naz panjang lebar.
" Naz, mau gimana lagi, nasi udah jadi bubur,, gak mungkin juga kan Lo mutusin Kak Arfin gara- gara masalah ini,, lagian kalo gue lihat Bang Evan baik- baik aja tuh gak kelihatan gak suka sama hubungan kalian, berarti dia udah legowo kan nerima lo sebagai adik iparnya,,, ", Ruby mencoba menasehati Naz.
" Iya sih lo bener juga,,, gue juga gak mau kali putus sama Kak Arfin,,, gue sayang banget sama dia", ucap Naz sambil senyam- senyum.
"Wanjir,,, najeess lo,,, udah bener- bener bucin sama cowok lo", Kiara mengejek.
"Bentar lagi juga Kiara yang bakalan bucin", celetuk Andes tiba- tiba.
"Maksud lo,,,?", Kiara langsung bertanya dengan tatapan tajam.
" Jangan pura- pura deh,,, aku udah tahu keleus ", ucap Andes dengan nada manja.
"Tahu apa Des,,, ko gue penasaran banget... ", Ruby is kepo.
"Itu loh, Kiara lagi Deket sama Pak Emir si guru BK killer itu", ucap Andes .
"Wanjiiir.... Kiara selera lo,,, lo suka sama bapa-bapa",Ruby mengejek.
" Gilaaaa lo Ra,,, keseringan dihukum jadi jatuh cinta niyee....", Naz pun ikutan mengejek.
"Diam kalian semua,,, itu cuma gosip murahan, gue gak ada apa- apa sama si killer itu,, amit- amit deh kudu jadi pacar si killer,, harus mikir 5000x dulu,,,, udah ah jangan bahas dia,, bisa rusak selera makan gue", Kiara nyerocos tiada henti sedangkan ketiga sahabatnya malah menertawakannya karena Kiara terlihat salah tingkah.
"Emm... sekarang aja amit- amit,, nanti mah amat minat.... hahaha", Ruby terus menggoda Kiara.
"Eh by the way any way buswey,,, itu si Raline kemarin beneran dilaporin ke polisi sama Kak Arfin???", tanya Andes yang teringat kejadian kemarin.
"Iya,, kemarin udah dilaporin,,, dan cowok gue udah dibujuk dengan segala macam rayuan sampe gue ngancem pun dia gak merubah keputusannya,,, tadi pagi gue juga tahu dari Pak Udin kalo Raline ditahan dari kemarin ashar",
"Syukurin tuh si Raline,,, jangan dibebasin deh biar membusuk di penjara,,, gemes gue,,, coba kemarin tahu penangkapannya udah gue rekam deh gue viralkan di yutub... biar dia tahu rasanya dipermalukan depan orang banyak ", Ruby menggerutu kesal.
"Iya,, gue juga bersyukur banget,,, akhirnya dia dapat hukuman juga,,, orang tua nya terlalu memanjakan dia sih,, udah ngelakuin kesalahan sebesar apa pun gak pernah dihukum,,, Kak Arfin keren banget sihh bisa ngehukum si mulut cabe itu,,, gak sia- sia gue jadi tim sukses nya dia buat dapetin lo Naz,,, dia bener- bener extra protektif sama lo,,,, ", Kiara terus memuji Arfin.
"Iya sih,,, tapi gue juga kasihan sama dia,,, harus kedinginan di tahanan,,, dan pastinya Mama Rahmi sedih banget"
"Udahlah Naz,, anggap aja itu azab buat mereka yang hobi banget nyakitin kamu,, apalagi kemaren pas nampar kamu,,, eugh,, kalo bukan orang tua udah aku tampar balik sama jambak rambutnya tahu gak,,ihhh kesel kesel kesel", Andes mengekspresikan kekesalannya.
__ADS_1
"Apa???", ucap Ruby dan Kiara serentak.
"Tante Rahmi nampar lo, Naz", Tanya Kiara memastikan dan Naz pun mengangguk sebagai jawaban iya.
"Dan itu gara- gara si Raline menghina Bu Mira, Naz kan membela ibu nya eh malah di tampar sama Tante Rahmi,,, terus Kak Arfin datang sama Kak Hardi,,, terus Naz digendong ala bridal style dan dibawa pergi,,, unchhh romantis banget,,, "
"Pantesan kemarin kita gak lihat lo lagi setelah lo pergi ke lobi,,, sorry ya Naz gue gak nemenin lo kemarin, tahu gitu gue bakal ngawal lo", Ruby menyesalkan kejadian kemarin.
"Gak apa- apa kok By,,, lagian kemarin kejadiaannya di luar dugaan,,, yang penting kan gue gak kenapa- kenapa ", ucap Naz mengakhiri pembicaraan mereka karena bel masuk telah berbunyi sehingga mereka bergegas kembali ke kelas masing- masing.
Setelah jam pelajaran sekolah selesai, semua murid pun membludak keluar dari kelas masing- masing untuk pulang. Naz pun seperti biasa pulang dijemput oleh Pak Udin. Saat di perjalanan Naz menerima pesan dari Papa nya kalo Bu Rahmi sakit, kemudian Naz pun meminta Pak Udin merubah arah tujuannya dan memutar arah menuju kediaman Pak Syarief, Naz pun mengirim pesan pada Bundanya bahwa akan pulang terlambat karena pergi menjenguk Bu Rahmi yang sedang sakit.
Setelah beberapa saat Naz pun sampai di rumah Bu Rahmi, ia menekan bel rumah lalu dibukakan pintu oleh salah satu asisten rumah tangga, "Assalamualaikum Bi,,, katanya Tante Rahma sakit, bolehkah aku menjenguk beliau ?", ucap Naz dengan sopan.
" Wa'alaikumsalam,,, silahkan masuk Non,,, mari Bibi antar ke kamar Nyonya",
"Iya,,, terimakasih Bi", ucap Naz mengikuti langkah asisten rumah tangga tersebut menuju kamar Bu Rahmi.
Ia pun membukakan pintu kamar Bu Rahmi, "Anakku,,, kamu dimana nak, Mama kangen.... ", Bu Rahmi mengigau dalam tidurnya.
" Nyonya panasnya tinggi, tadi pagi sudah diperiksa oleh dokter dan diberi resep obat, tapi masih demam Non, Tuan mau membawanya ke rumah sakit, tapi nyonya menolak,,, ", ucapnya menjelaskan.
Naz mendekati tempat tidur Bu Rahmi dimana ia terbaring, " Bi, bolehkah aku minta baskom kecil, handuk kecil bersih sama air termos untuk mengompres Ma,,, eh Tante Rahmi?", tanya Naz, kemudian Bi Surti pun segera pergi ke dapur mengambil beberapa barang yang diminta oleh Naz.
Tak lama Bi Surti kembali datang, lalu Naz mengambil air dari kran kamar mandi lalu dicampur dengan air termos, kemudian Naz memasukan handuk kecil ke dalam air di baskom kecil tersebut, lalu ia memerasnya sedikit hingga air tidak bercucuran lagi dan handuk itu pun dilipatnya kemudian dikompres kan ke dahi Bu Rahmi. Naz terus melakukan hal yang sama hingga beberapa kali jika kompresan ya sudah mulai dingin.
Naz membalur kaki dan tangan Bu Rahmi dengan minyak kayu putih, " Non, bibi tinggal dulu ya, mau masak", ucap Bi Surti berpamitan.
"Iya Bi, biar aku aja yang jagain Tante Rahmi", Jawab Naz dengan melempar senyuman dan Bi Surti pun pergi meninggalkan kamar.
" Anakku.... Anakku... Elea sayang.... ", Bu Rahmi kembali mengigau.
Naz mendekati dan ikut berbaring di tempat tidur Bu Rahmi " Iya Ma,,, aku disini,,,", ucap Naz sambil memeluk Bu Rahmi dari samping, " Aku disini Ma,,, aku disini,,, aku kangen sama Mama,,, aku rindu pelukan Mama,, aku sayang sama Mama,,, aku ingin selalu dekat seperti ini sama Mama,,, tolong jangan benci aku lagi Ma,,, itu sangat menyiksaku,,, tolong sayangi aku lagi seperti dulu,,Ma,,,, aku sayang Mama,,, aku sayang Mama" Lirih Naz sambil menangis dan terus memeluk Bu Rahmi sampai ia pun tertidur.
Ceklek,,,, terdengar suara ada yang membuka pintu kemudian masuk ke dalam kamar,,, " Kenapa mereka terlihat mirip ya layaknya ibu dan anak?,,, gaya tidurnya pun sama seperti itu", ucap Pak Syarief yang memperhatikan Naz dan istrinya yang tengah tertidur lelap.
"Iya Tuan,,, mungkin karena sejak bayi Non Naz selalu diasuh sama Nyonya, apalagi sampai dikasih ASI full, mungkin ada ikatan batin diantara keduanya,, Non Naz terlihat sangat merindukan Nyonya", ucap Bi Surti berkomentar.
" Yasudah Bi, biarkan mereka istirahat, ayo kita keluar lagi, nampaknya demam Rahmi sudah turun", ucap Pak Syarief setelah menyentuh dahi istrinya, kemudian pergi meninggalkan kamar tersebut.
Naz tertidur pulas sekali sampai ia tidak menyadari kehadiran Papa nya dan Bi Surti. Setelah hampir dua jam mereka berdua tidur, Bu Rahmi mulai terbangun dari tidurnya, betapa terkejutnya ia melihat ada Naz tidur disebelahnya.
"Emhh,,, aku masih ngantuk Bunda,,, ", ucap Naz dengan nada serak khas bangun tidur dan matanya pun masih terpejam.
"Bangun,,, Rheanazwa,,,, ngapain kamu tidur di kamar saya", Bu Rahmi langsung membentak Naz dan Naz pun langsung membuka matanya, ia langsung bangun dan memposisikan duduk di tempat tidur.
"Mama..... Mama sudah baikan sekarang?", tanyanya dengan melempar senyuman sambil memegang kedua lengan Bu Rahmi.
" Lepaskan... jangan sentuh saya,,, pergi kamu dari sini,,, pergi ,,,, !!", Bu Rahmi langsung melepaskan tangan Naz dari lengannya dan mendorong Naz serta mengusirnya.
"Mama.... " Lirih Naz
"Jangan panggil saya Mama,,,, saya tidak sudi mendengarnya,,, lagipula saya bukan ibu kamu, kita tidak ada hubungan apa- apa,,, jadi jangan pernah memanggil saya Mama lagi,,,, pergi dari sini,,,, pergi,,,,, saya benci sama kamu,,, gara- gara kamu anak saya ditahan dikantor polisi,,,, saya benar- benar benci sama kamu Rheanazwa,,, pergii !!!! saya bilang pergi,,, dan jangan pernah memperlihatkan wajahmu di hadapanku lagi, saya tidak mau melihat mu lagi,,,, puas sekarang kamu puas sudah membuatku lebih menderita,,,hah", Bu Rahmi berteriak- teriak sambil memaki Naz yang terus menangis mendengar cacian Bu Rahmi.
Naz bergegas pergi keluar dari kamar Bu Rahmi, ia berlari dengan terus menghapus air matanya yang tidak berhenti mengalir, kebahagian yang baru saja ia rasakan bisa dekat dengan orang yang dipanggilnya Mama itu kini kembali sirna, rasa sakit yang teramat menyesakkan dada yang kini ia rasakan, ia berlari mencari keberadaan Pak Udin di halaman depan rumah Papa nya itu, dan setelah menemukannya ia masuk ke dalam mobil dan meminta Pak Udin mengantarnya ke danau.
Sepanjang perjalanan Naz terus menangis seolah kata- kata yang dilontarkan Bu Rahmi terus terngiang di telinganya, tatapan kebencian terus terbayang di kepalanya, sampai tidak terasa mobil yang ditumpanginya telah tiba di taman danau. Naz langsung turun dari mobil sedangkan Pak Udin nampak sedang menerima panggilan telepon, lalu Naz berlari menuju tepi danau dan duduk di bangku favoritnya untuk melanjutkan kembali acara menangisinya.
"Hei.... kamu kenapa ko sampai menangis gini,,, ?" tanya seseorang yang menepuk pundak Naz dari belakang.
Naz langsung menoleh "Aa.... huhuhuhuhu,,, huaaaaa", Naz malah menangis semakin kencang dan Arfin pun langsung menghampirinya dan duduk di sebelahnya.
" Kamu kenapa sayang,,,hemmm"
" Mama benci sama aku,,, Mama gak mau bertemu atau melihatku lagi huaaaaaaa",ucapnya di sela tangisannya.
Arfin menarik Naz dan memeluknya, "Sssstttt,,,, cup cup,,,sayang,,, Aa kan kemarin sudah bilang,, Tante Rahmi itu gak benci sama kamu,, beliau hanya belum bisa menerima kenyataan kalo kamu adalah anak suaminya dengan wanita lain,".
" Tapi tadi Mama bilang sendiri,, Mama benci sama aku, Mama gak mau lihat aku lagi,,,, katanya gara- gara aku Raline masuk penjara huhuhuhuhu",
"Sudah,,,, sayang sudah,,, jangan menangis lagi,,, mata mu sudah terlalu sering mengeluarkan air mata,,, nanti bisa kering sayang,,, ",ucapnya mencoba menghentikan tangisan Naz dan benar saja Naz sudah mulai agak tenang, ia pun melepaskan pelukannya.
"Nih minum dulu", Arfin memberikan minuman botol kemasan kecil pada Naz yang diambilnya dari dalam tas.
"Aa kenapa ada di sini?? bukannya harusnya ada di Surabaya?", tanya Naz sambil sesenggukan.
__ADS_1
"Aa lagi main ke Panti, tadinya mau ke rumahmu eh,,, ponselmu gak bisa dihubungi, terus Aa tanya ke Pak Udin, katanya kamu lagi ke rumah Tante Rahmi menjenguk beliau karena sedang sakit,,,, Siapa bilang Aa balik lagi ke Surabaya??",Arfin menjelaskan.
"Kenapa Aa gak ke Surabaya lagi?", tanya Naz lagi.
"Emangnya kamu mau kalo kita terus berjauhan hem???", Arfin terkekeh melihat Naz yang menggelengkan kepalanya, " Kerjaan Aa disana sudah selesai, jadi sekarang udah balik kerja lagi di kantor pusat, jadi kita gak usah LDR an lagi".
"Oh ya,,,,?? bagus dong,,, tapi,,, aku lagi sebel sama Aa,,,,", Naz langsung ke mode cemberut.
"Sebel ...? sebel kenapa?? kalo masalah Raline, Aa sudah mencabut laporannya,,, walau rencananya mau lusa sih", ucapnya.
"Aku sebel bukan karena hal itu,, eh tapi bagus deh kalo laporannya udah dicabut,,, makasih yaa untuk itu,,, tapi sebel nya masih ya", Naz kekeh sebel sama Arfin.
" Sebel kenapa sih sayang?", tanya nya lagi.
" Aa kok gak jujur sama aku,,, Aa ko gak pernah bilang kalo Aa sama Bang Evan itu adik kakak?? katanya diantara kita gak boleh ada rahasia", Naz mengutarakan rasa kesalnya.
"Loh,,, Aa pikir kamu sudah tahu soal hal itu...", Arfin malah berfikir Naz sudah tahu.
" Tahu dari mana,,,? orang aku baru tahu semalam, itu pun gara- gara aku lihat buku kenang- kenangan masa SMA Aa", Naz masih mode sebal.
"Aku gak ada niatan merahasiakannya sayang, kirain kamu udah tahu dari Bunda atau Dandy gitu,,, karena selama ini kamu gak pernah menanyakannya juga,,, emangnya kenapa kalo kami kakak beradik?", Arfin kembali bertanya.
"Ya,,, aku kan jadi gak enak, kalian pernah berantem gara- gara aku,,, kalo aku tahu dari awal kalo kalian bersaudara aku ....", Naz ragu untuk melanjutkan kata- katanya.
" Aku apa,,,,?? aku akan menerima cinta Bang Evan gitu maksudnya??", Arfin malah menebak yang tidak- tidak.
"Bukan gitu ih kamu,,, aku gak ada niatan nerima dia jadi cowok aku dari dia pertama kali nembak juga,,,, opsss", Naz keceplosan.
"Apa,,,,?? jadi Bang Evan pernah menyatakan perasaannya sama kamu?? dia pernah nembak kamu?", sekarang Arfin yang menjadi kesal.
"Yasalam,,,, kenapa gue pake keceplosan segala haduhhh,,, beigo beigo,,,,", Naz bergumam dalam hati.
" Naz,,, kenapa pertanyaanku gak dijawab??",Arfin bertanya lagi.
"Em... sayang itu kan udah lewat,,, lagian dia ngomong ya juga sambil bercanda, gak serius gitu, jadi aku anggap angin lalu aja,,, hehehe",Naz menjawab dengan salah tingkah karena takut semua yang dilakukan Nervan bisa terbongkar .
"Berarti yang main rahasia disini itu bukan Aa tapi kamu, Naz"
" Loh kok jadi aku??", tanya Naz semakin gugup.
"Lah itu kamu nyembunyiin hal itu dari ku,, apalagi soal Bang Evan yang kamu sembunyikan lagi dariku?? Apa dia ngasih kamu sesuatu atau barang apa", Arfin terus menyelidik.
"Gak ada sayang,,, dia gak pernah ngasih apa-apa ih,,,, udah ahh,,, Aa nanti ngomongnya makin ngelantur kemana- mana,, mendingan aku pulang aja ah",Naz langsung bangkit dari duduknya, saat ia hendak melangkah Arfin langsung menegang tangan Naz.
"Kamu mau kemana??? gak boleh pulang dulu,,, itu Mami mau ketemu sama kamu", ucapnya.
"Mami,,,??? maksudnya Mami nya Aa gitu?", tanya Naz memastikan.
" Ya iyalah sayang,, siapa lagi ?? dan sekarang beliau lagi nunggu di panti pengen ketemu sama pacarku", ucapnya lagi.
"Apa,,,? ada di panti ?? sekarang??,,,, yasalam,,,,,", Naz langsung terkejut mendengarnya.
"Sayang,,, please jangan sekarang,, aku belum siap,, tampilan berantakan gini, mana habis nangis ,belum mandi pula,,,, enggak enggak enggak,,, aku gak mau ketemu sekarang please", Naz menolak bertemu.
"Gak apa- apa sayang,,, kamu tinggal bersihkan wajahmu dengan tisu basah,, bereskan,,,? Ayok", Arfin mengajak Naz berjalan bersamanya.
"Sayang jangan sekarang,,, nanti saja ya", Naz masih menolak bertemu.
"Sekarang atau pun nanti sama saja kan", Arfin tetap memaksa.
Naz menghela nafas kasar lalu memijat- mijat keningnya, "Sayang,,, tisu basah nya mana??", tanya Naz dan Arfin pun memberikan tisu basah dari dalam tas nya.
"Sayang, aku masuk ke mobil dulu mau bersihin muka yaa,, ", setelah Arfin mengangguki Naz pun masuk ke dalam mobil sedangkan Arfin menunggu di luar, lalu ia menelpon Mami nya. Saat sambungan telepon diangkat oleh Mami nya, ternyata mobil yang dikendarai Pak Udin sudah meninggalkan taman.
"Naz..... ", Arfin berteriak karena kekasihnya itu telah kabur, " Dasar anak tengil...!!", ucap Arfin kesal.
" Maaf sayang,,, aku belum siap bertemu dengan calon mertua,,, ", ucap Naz melihat pria yang ditinggalkannya dari kaca mobil.
---------------- TBC --------------
*************************
__ADS_1
Bagaimana perasaan anda saat akan bertemu dengan calon mertua??? adakah yang kabur seperti Naz???...
Happy Reading.....😘