Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Hello ... Siapa Lo ??


__ADS_3

Setelah setengah jam, Naz baru kembali ke area kolam renang dengan memakai kaca mata hitam, ia menghampiri Papa dan Mamanya untuk mengembalikan kartu akses kamar serta power bank yang diminta Papa nya.


“Kamu kok pakai kacamata hitam gitu sih sayang,, kayak tukang urut, hahaha”, Pak Syarief mengejek Naz.


“Ini sudah mulai panas Pa,,, jadi silau,, “, jawab Naz dengan santainya.


“Kakak lama banget sih ngambil ponselnya..”, Elsa menggerutu kesal.


“Iya maaf tadi ada urusan dulu,,, hehehe”, ucap Naz terkekeh.


“Huh,, dasar,,, ayok mulai foto- foto”, ucap Raline sambil bergaya di kolam renang.


Setelah beberapa kali mengambil foto Elsa dan Raline, Naz pun diminta nyebur ke kolam untuk foto- foto saja, dan ia terus menolak karena merasa sedikit trauma dengan kolam renang setelah tenggelam dua hari yang lalu.


“Kakiku dua hari yang lalu terkilir dan sekarang masih sakit,, aku gak mau nyebur ah… “, ucap Naz memberi alasan. Akhirnya mereka selesai dengan kegiatannya dan kembali ke kamar untuk mandi, karena mereka akan pergi ke tempat wisata Taman Harmoni Keputih di kota Surabaya, karena sorenya mereka akan kembali lagi ke Jakarta.


Mereka bepergian diantar dengan mobil travel beserta tour guide dari hotel tempat mereka menginap. Saat sampai taman mereka bersenang- senang sambil berfoto ria dengan bunga yang mereka sukai masing- masing, karena di sana terdapat berbagai macam bunga.


Naz






Raline


Sepulang dari sana mereka pergi ke beberapa tempat untuk berfoto ria saja, kemudian mereka berbelanja oleh- oleh khas Surabaya. Sepanjang perjalanan pulang, Naz nampak melamun seolah memikirkan sesuatu, saat sampai di kamar hotel pun ia terlihat seperti orang yang sedang kebingungan, namun saat ditanya dia hanya tersenyum dan bilang tidak apa- apa, hanya kecapean saja.


Seusai membereskan barang- barang, mereka pun check out dari hotel tersebut, namun Naz mengurungkan niatnya untuk pulang bersama mereka.


“Ma,, Pa,,, Naz gak jadi pulang hari ini ya”, ucap Naz.


“Loh,, kenapa kamu tiba- tiba gak mau pulang sayang?? Apa ada masalah”, tanya Pak Syarief heran.


“Enggak kok Pa,,, aku cuman pengen nemenin Dinda saja,, semenjak kepergian saudara kembarnya dia sedih banget,,, aku juga masih kangen sama Mimih,,, boleh ya Pa,, Ma,, aku masih tetap di sini ,, aku nanti pulangnya bareng Bunda saja ya,, ada beberapa tempat juga yang pengen aku kunjungi,,, boleh ya Pa,,, Ma,,,please”, Naz terus meminta izin.


Pak Syarief dan istrinya saling melempar pandangan, kemudian mereka menyetujui permintaan Naz, dan mereka pun belum tahu kalau Arfin tinggal di Surabaya, bahkan bertetanggaan dengan rumah Tantenya Naz.


“Terimakasih, Ma,,, Pa,,, aku sayang kalian..”, ucap Naz memeluk mereka lalu mencium pipi kedua orang tuanya itu secara bergantian.


“Yahhhh,,, padahal kita ke sini kan mau jemput Kakak,,, ehh Kak Nanaz malah gak ikut pulang”, ucap Elsa kecewa.


“Nanti abis ini kita liburan bareng dehh,,,, “, ucap Naz pada Elsa, kemudian mereka berpelukan bersama Raline juga, setelah itu mereka beranjak naik mobil untuk berangkat ke bandara, sedangkan Naz menunggu jemputan di lobi setelah ia menerima pesan dari seseorang.


Setelah setengah jam menunggu, Naz pun keluar dari hotel berjalan menuju pintu gerbang dengan menyeret kopernya. Ia terlihat kembali melamun sambil berjalan.


“Mbak awas,,,, !!!“, teriak seseorang yang menarik tangan Naz lalu tubuh keduanya kehilangan keseimbangan dan mereka terjatuh bersama, gedebuk,,,


“Awww,,,, “, Naz meringis karena sikutnya terasa sakit.


“Kalau jalan tuh lihat- lihat dong Mbak, jangan melamun,, hampir saja saya menabrak Mbak,, bisa runyam urusannya”, seorang pengguna motor menggerutu dan membantu Naz bersama orang yang menyelamatkannya untuk bangun.


“Mbak gak apa- apa?”, tanya orang itu.


“Enggak apa- apa Mas,,, maaf maaf,,, saya tadi sedang melamun”, ucap Naz sambil mengusap- usap sikutnya yang sakit, kemudian ia menolehkan pandangan pada orang yang menyelamatkannya tadi, “Terimakasih, Mas,,, saya permisi”, ucapnya tersenyum lalu beranjak pergi meninggalkan si pengendara motor dan seseorang yang menyelamatkannya tadi. Orang itu nampak heran, kemudian ponselnya berbunyi dan ia pun langsung membuka pesan yang ada di ponselnya.


Naz kembali ke rumah Tantenya dengan diantar oleh orang yang menjemputnya dari depan hotel tempat sebelumnya menginap, lalu Bunda mengajaknya kembali menginap di rumah Arfin, karena di rumah Tante Ina masih banyak sanak saudara yang menginap. Naz yang awalnya menolak lalu ia pun bersedia daripada tidur kayak ‘barisan ikan pindang’, akhirnya ia pun bersedia walaupun masih terasa berat harus menginjakkan kaki di rumah itu lagi.


Mereka pun masuk ke dalam rumah Arfin, dan beruntung sang pemilik sedang tidak ada di rumah, kata Mbak Jum sedang pergi menjemput Mami nya ke bandara. Naz langsung masuk ke dalam kamar yang sebelumnya ditempati olehnya. Ia berbaring di atas tempat tidur, “Semoga ini jalan terbaik,,, dan semoga aku bisa melewati ini semua “, gumamnya dalam hati.


Seusai shalat magrib, Naz langsung makan kemudian kembali ke kamarnya, karena ia menghindari agar tidak bertemu dengan Arfin yang masih belum kembali. Setelah shalat isya ia mendengar ada suara mobil yang masuk ke garasi rumah itu, Naz langsung berdiri kemudian ia jatuh tersungkur karena kakinya tanpa sengaja menginjak ujung mukena atasannya (tikarijet), akhirnya dia merangkak menuju dinding samping pintu yang terdapat stopkontak lampu, lalu berdiri dan mematikan lampu kamarnya sambil hah heh hoh karena serasa mengikuti perlombaan balap merangkak.


Ia bangun dan berjalan meraba- raba menuju tempat tidurnya karena gelap, lalu berbaring sambil mengusap- usap dahinya yang tadi sudah mencium lantai saat jatuh, ia pun tertidur dengan masih menggunakan mukena yang serba putih itu.


Tengah malam Naz terbangun karena merasa kehausan, kemudian ia keluar dari kamarnya dengan membawa ponsel sebagai lampu senter karena di rumah itu setiap malam semua lampu ruangan dimatikan. Naz berjalan melewati ruang tengah menuju dapur.


“Astagfirullah,,,, “, ucap Arfin yang baru keluar kamar, “Itu tadi apa yang lewat?”. Ucapnya bertanya- tanya sambil memegang gelas kosong di tangannya, kemudian ia pun berjalan menuju dapur. Ia kembali melihat ada yang bergerak- gerak di dapur yang gelap itu dan membuka kulkas hanya nampak dari belakang saja.


“Siapa kamu?? Kamu maling ya”, teriaknya.


“Hah,,,, yassalam,,, ketahuan dehh gue sama dia kalau ada disini,,”, gumam Naz dalam hati, ia baru sadar kalau ia masih memakai mukena putih, kemudian ia melihat ada dus kecil berisi tepung maizena terlihat dari merk nya. Dasar emang suka iseng,, Ia melumuri wajahnya dengan tepung itu , lalu menutup kulkasnya dan membalikan badan secara perlahan.


“Hihihihihihihihihi ,,,, hihihihihihi”, Naz mengeluarkan suara melengking seperti kuntilanak untuk menakut- nakuti Arfin.


“Ha ha hantuuu…… “, Arfin yang melihat Naz memakai mukena serta wajahnya dibedak dengan maizena terkejut dan berteriak ketakutan, lalu ia pun langsung ngacir kembali ke kamar.


“Hahahaha…. Ternyata dia penakut juga,,, rasain lo,,, hahahhaa”, ucapnya tertawa pelan, ia mengambil sebotol air dingin dari kulkas untuk minum, kemudian menuangkannya ke dalam gelas yang sudah ia ambil dari rak piring,,


“Kak Nanaz,,,,,, “, terdengar suara bisikan seorang wanita, namun Naz anteng saja meminum air dari gelas yang ia pegang tanpa menghiraukan suara itu.


“Kak Nanaz,,,,”, suara itu datang lagi kemudian ia teringat kalau adik sepupunya kan baru meninggal…

__ADS_1


Byur ,,,, “Aaaaaaakkkkkkkkkk,,,,,,”, Naz langsung menyemburkan air yang ia minum dan berteriak ketakutan lalu langsung berlari terbirit- birit dan masuk ke dalam kamar.


"Yasslam,,, senjata makan tuan gue,,,, jangan- jangan itu hantu Ayunda,,,”, ucapnya lalu meraba- raba menuju tempat tidurnya. Ia langsung naik ke tempat tidur dan berbaring menyamping, kemudian menarik badcover untuk diselimutkan hingga menutupi seluruh tubuh dan wajahnya sambil terus komat kamit membaca ayat kursi yang tak kunjung tamat.


Setelah merasa sedikit tenang, Naz membuka selimut badcover yang menutupi kepalanya karena merasa susah bernafas.


Krusuk ,,,, “Eh,, kok di belakang ku ada yang gerak sih?,,, jangan- jangan hantunya ngikutin kesini lagi... ampuun Ayunda ampuun...jangan ganggu Kak Nanaz,, Kakak udah ikhlas waktu kamu utang dua ribu lima ratus buat jajan cilok,,, beneran deh ikhlas gak usah dibayar... ”, ucapnya dalam hati sambil ketakutan lalu ia menarik badcover nya. Namun dari arah belakang terasa berat dan malah menarik badcover, sehingga mereka saling tarik menarik badcover dengan mulut Naz yang terus komat- kamit.


Kemudian ia memberanikan diri membalikan badannya, dan ternyata yang dibelakangnya pun sama,,dan saat mereka saling memandang keduanya terkejut dan saling berteriak dengan kencang dengan durasi cukup panjang,,


“Aaaaaaaaakkkkkkkkk...... !!!!! ”.


Teriakan mereka membuat semua orang di rumah itu terbangun,,, kemudian terdengar ada yang membukakan pintu kamar dan menyalakan stopkontak listrik yang terletak di samping pintu, “Astagfirullahaladziim,,,, kalian ngapain berdua- duaan di kamar begini?”, teriak Bu Hinda yang melihat Arfin dan Naz ada di atas ranjang yang sama.


“Ada apa Nda,,, barusan aku teh denger teriakan dari kamar ini?”, tanya Bunda yang baru masuk, lalu melihat ke arah ranjang, “Astagfirullah,,,, kalian teh lagi ngapain itu di atas ranjang berduaan sambil selimutan gitu,,, Ya Allah.... kalian teh belum muhrim atuhh... ”, Bunda berteriak sambil berkecak pinggang karena sagat terkejut dengan apa yang mereka lihat.


“Ini,,ini tidak seperti yang kalian bayangkan,,, kami gak melakukan apa- apa,,, ini ini cuman salah faham”, ucap Naz dengan terbata- bata karena takut mereka menyangka yang tidak- tidak.


“Iya Mi,,, Bunda,,, kami tidak melakukan apa- apa,,, “, Arfin pun ikut menjelaskan.


“Terus ngapain kamu teh ada di kamar Naz, Arfin?”, tanya Bunda masih dengan tatapan marah.


“Kamar Naz?? “, tanyanya sambil mengedarkan pandangan, “Aku,, aku ,,, aku tadi sangat terkejut melihat hantu saat masuk ke dapur jadi aku lari ke kamar ini yang lebih cepat untuk ku masuki, karena aku pikir kamar ini kosong”, Arfin menjawab dengan bingung, sampe ngomong aja pabeulit.


“Terus kamu ngapain itu teh pakai mukena gitu sampai wajah dicemong- cemongin bedak gitu?”, Bunda bertanya pada Naz.


“Ini bukan bedak Bunda,, tapi tepung maizena dari dalam kulkas”, Jawab Naz polos.


“Astagfirullah,,, ngapain kamu bedakan pakai maizena,, wajah kamu mau dibikin donat apah?”, Tanya Bunda sambil melotot.


Naz hanya cengengesan,,, “Gak mungkin juga gue ngaku mau nakut- nakutin si suranas ini”, gumam Naz dalam hati.


“Oh,,, jadi kamu tadi yang nakut- nakutin aku,,, pake nyamar- nyamar jadi hantu kuntilanak segala lagi”, ucap Arfin menatap kesal pada Naz yang duduk di sebelahnya.


“Oh,, jadi kamu teh berpenampilan seperti itu buat nakut- nakutin Arfin??”, tanya Bunda.


“Bukan gitu Bunda,,, tapi tadi ...... ", Belum selesai Naz berbicara langsung disambar Bunda.


“Malu- maluin kamu mah di rumah orang malah bikin sensasi ,, gak ada kerjaan pisan kamu mah ih,,, tengah malam begini bukannya tidur malah nakut- nakutin orang,,, itu mukena fungsinya buat shalat buat ibadah bukan buat maksiat tahu gak,,, yang ada teh kamu shalat tahajud bangun tengah malam gini mah”, Bunda terus nyerocos mengomeli Naz.


“Sudah Mbak Nita,,, jangan marah- marah dulu,,, kita dengarkan alasan Naz,,,,”, ucap Bu Hinda melerai.


“Aku gak niat nakut- nakutin Bunda,,, tadi aku bangun karena merasa haus,, terus aku pergi ke dapur buat ambil minum”, ucap Naz menjelaskan.


“Terus ngapain kamu ke dapur pakai mukena segala?”, Bunda bertanya lagi.


Terus ngapain bedakan pake tepung maizena segala... bukannya kamu udah bedak sendiri yang katanya bikin glowing... pakai maizena mah bukannya glowing malah camerong mirip kuntilanak", cerocos Bunda.


“Itu,,, itu,, itu karena pas aku lagi buka kulkas untuk ambil air minum, Kak Arfin memergoki aku dan nyangkanya aku maling,,, dan saat itu aku baru sadar kalo aku masih memakai mukena,, yasuduah saat aku lihat ada tepung maizena aku balurin aja ke wajahku deh,,, terus ketawa nyelengking,,,, lagian mana ada kuntilanak cantik kayak aku”, ucap Naz lalu nyengir.


“Astagfirullah,,, kamu tuh jahil banget jadi orang,,, terus kenapa kamu bisa gak nyadar ada Arfin di kamar mu sampai kalian seranjang begitu kayak suami istri?”


“Ya mana aku tahu ada orang lain di sini,, tadi tuh aku denger suara perempuan memanggil- manggil namaku,,, karena aku takut langsung lari dan masuk ke kamar lalu bersembunyi dalam selimut,,, “


“Sukurin,,, kualat kamu nakut- nakutin orang jadi didatengin hantu beneran”, ucap Arfin.


“Dihh,,, kalo aku tahu ada kamu disini, aku juga gak akan sudi kali satu ranjang apalagi satu selimut sama kamu,,, iihhhh ”, ucap Naz nyerongot pada Arfin yang ada di sebelahnya kemudian bergidik sambil mencebikan bibir.


“Halah,,, kamu gak mau gak mau,, kenapa itu masih satu selimut sama Arfin,,, anget yaa”, ucap Bu Hinda mengejek, lalu sontak keduanya hendak beranjak dari tempat tidur bersamaan.


“Untung ya,,, Ayah sama Uwa kamu teh sudah pulang, coba kalau melihat kejadian ini ,,, kalian bisa digiring ke KUA”, cerocos Bunda.


“Kita aja Mbak yang giring mereka sekarang”, usul Bu Hinda.


“Gak mau Bunda,,, ihhh,,,, aku gak mau dibawa ke KUA sama dia ih,,, ogah deh”, Tolak Naz dengan nada merengek.


Arfin yang mendengar perkataan Naz langsung melengos begitu saja tanpa berkata apa- pun.


Bu Hinda menghampiri Naz dan Bunda yang kini sedang duduk di tepian ranjang dan ia pun bergabung sehingga Naz duduk di tengah ,, " Naz,, dari tadi Mami bertanya- tanya kamu kok bisa ada di sini di rumah Arfin??", tanya Bu Hinda merasa heran, kemudian Naz menjelaskan tujuan kedatangannya ke Surabaya hingga ia bertemu Arfin dan sampai menginap di rumah Arfin. Namun masalah yang terjadi antara dirinya dan Arfin tidak dikatakannya, apalagi soal nafas buatan, ia takut akan benar- benar digiring ke KUA oleh duo emak- emak rempong itu.


"Oh... jadi begitu ceritanya,,, Mami minta maaf ya soal masalah yang menimpa kamu dan Arfin dulu,,, dia seperti itu karena dulu sempat dijodoh- jodohkan dengan seorang gadis saat dia akan kuliah di Amerika,, Setelah setahun dekat dan mengenal gadis itu, dia setuju dan siap untuk menikah, tiba- tiba gadis itu meninggalkannya dan menghilang entah kemana dengan alasan karena tidak mau menikahi pria cacat,,, Jadi dia trauma dengan yang namanya pernikahan,,", Bu Hinda menjelaskan sambil menundukkan kepalanya seolah merasa bersalah dan malu atas sikap anaknya.


"Apa?? Jadi karena itu alasannya ??", Tanya Naz kaget dan memastikan sambil menatap Bu Hinda, namun beliau nampak menghindari tatapan Naz, "Kenapa Bunda terlihat gak kaget mendengarnya?", Naz beralih pada Bundanya.


"Bunda minta maaf,,, Bunda teh sudah tahu akan hal ini sebelumnya, Bunda juga marah dan sangat kecewa pada Arfin, lalu bicara dengannya dan dia teh sangat menyesalinya, Dek... Bunda juga tidak tahu harus berbuat apa, karena memang trauma dalam diri seseorang sulit untuk dihilangkan, percuma jika Bunda terus menyalahkan Arfin pun tidak akan merubah apa- apa,,, Bunda teh benar- benar minta maaf udah nyembunyiin dari kamu , dek,,,", ucap Bunda sambil memegang tangan Naz.


"Bunda... aku ngantuk banget,,, ini masih jam satu malam,, aku pengen tidur lagi tapi sama Bunda ya disini ,,", ucap Naz yang terus menguap seolah mengalihkan pembicaraan.


"Yasudah kalau begitu kalian istirahat,,, aku juga mau ke kamar lagi", Bu Hinda pun pamit undur diri.


***


Naz terbangun saat adzan subuh berkumandang, setelah selesai menunaikan kewajibannya, Naz bergegas ke dapur untuk memasak, dan seusai menyajikan hasil masakannya serta mencuci peralatan bekas masaknya sehingga dapur kembali bersih dan beres, ia pun kembali ke kamar untuk mandi dan bersiap pergi ke rumah Tantenya.


Saat yang lainnya sarapan, Naz sengaja tidak ikut dan malah pergi ke rumah Tantenya duluan. Dan ia akan kembali ke rumah Arfin siang hari, dan sorenya akan memasak untuk makan malam. Itulah yang menjadi rutinitasnya selama dua hari ini.

__ADS_1


***


Malam ini setelah makan malam Arfin kedatangan tamu, karena Mbak Jum dan Mbak Retno sedang membantu Mami membuat kue, akhirnya Naz yang diminta menyuguhkan minum dan kue pada tamu Arfin. Ia pun melaksanakan titah Bu Hinda.


Naz pergi ke ruang tamu dengan membawa nampan berisi dua cangkir teh dan sepiring kue, ia terus menundukkan kepala saat menaruh isian nampan di atas meja tamu. Orang yang menjadi tamu Arfin terus memperhatikan Naz, dan itu membuat Arfin tidak suka melihatnya.


"Mbak,,, sepertinya kita pernah bertemu", ucap orang itu pada Naz.


Kemudian Naz yang sejak tadi menunduk mengalihkan pandangannya pada orang tersebut. Naz mengerutkan dahinya seperti sedang mengingat- ingat." Loh ... Mas ini yang menyelamatkan saya tempo hari ya, saat saya hampir ketabrak motor", ucap Naz yang sudah ingat.


" Oh Iya. iya,,, yang di depan Shangri-La hotel ya?", orang itu pun ingat, ",Kamu kerja di sini toh?", tanya nya.


"Dia keponakannya Pak Purnomo Aji", Arfin tiba- tiba ikut nimbrung.


"Owalah... Pak Aji punya keponakan yang sangat cantik rupanya ya", ucap pria itu memuji, "Kenalkan nama saya Lutfi,, saya salah satu staff kesayangan di perusahaan Pak Arfin",ucapnya memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan pada Naz untuk bersalaman.


"Saya Eleanoor,,, ", ucap Naz dan bersalaman dengan pria itu, tentunya membuat Arfin panas, kemudian Naz ikut duduk di kursi tamu.


"Apa- apaan dia memperkenalkan nama tengahnya begitu", Arfin menggerutu kesal dalam hatinya.


"Gak usah lama- lama juga kali salamannya", ucapnya menyindir dan sontak keduanya saling melepaskan tangan mereka.


"Ah si Bos suka merusak moment aja", ucap Lutfi.


"Namanya Eleanoor ya,,, itu kan artinya cahaya,,, cocok sekali dengan rupa mu yang cantik bercahaya", ucapnya mengeluarkan rayuan gombal. " Kok aku baru tahu ya kalau Pak Aji punya keponakan secantik kamu",


"Dih...gombal... sebenernya aku keponakan Tante Ina istrinya Om Aji, dan masih ada lagi dua yang cantik- cantik,, Teh Indri sama Teh Putri,, tapi mereka sudah sold out", ucap Naz yang terlihat mulai mengakrabkan diri dengan Lutfi.


"Sold out ?? maksudnya ??", tanya Lutfi heran.


"Maksudnya sudah laku,,, Teh Indri sudah menikah, kalau Teh Putri sudah bertunangan ", Jawab Naz.


" Kalau kamu sendiri ?", tanya Lutfi lagi yang tidak memperdulikan kehadiran Arfin di sana.


"Kalau aku masih jomblo,, hehe ", ucapnya terkekeh.


" Masa sih,,, ? masih jomblo belum punya pacar atau belum pernah pacaran?", Lutfi kepo maksimal.


"Dulu sih pernah punya pacar,,, tapi udah putus" ,jawab Naz polos sambil melirik pada Arfin.


"Wahh masa,,, lelaki bodoh mana yang sudah melepaskan gadis secantik kamu??", Tanyanya yang membuat Arfin semakin kesal dan geram.


"Entahlah.... eh tapi aku kok yang mutusin....hahaha", ucapnya tertawa, sebenarnya ia tertawa karena melihat raut wajah Arfin yang sedang memendam amarah karena api cemburu.


" Oh iya,, Eleanoor,,, boleh minta nomor hape nya,,,untuk memudahkan komunikasi?", Lutfi pinter juga ngemodus.


"Emmm.... boleh deh ,,,", ucap Naz yang kemudian menyebutkan nomor ponsel nya yang sudah ia hafal di luar kepala dan Lutfi pun memasukan nomor Naz ke dalam kontak ponselnya.


" Lutfi ,,, aku rasa urusan kita sudah selesai,,, kita akan bahas soal ini besok di kantor", ucap Arfin secara tidak langsung mengusir Lutfi.


"Tapi bos gue masih betah di sini", Lutfi menolak pulang .


"Ini sudah malam Lutfi,,, dia juga akan segera tidur karena Bundanya ada di sini dan menginap di sini", Arfin terus berusaha mengusir.


"Oke deh,,, Eleanoor aku pergi dulu ya,,, selamat malam", ucapnya pamit lalu menggoyangkan tangan di dekat telinganya membentuk telepon, seolah mengisyaratkan ia akan menghubungi Naz, tentunya membuat Arfin membulatkan matanya.


Setelah Lutfi keluar, Naz pun berdiri dan hendak melangkah pergi meninggalkan ruang tamu, namun Arfin berdiri tepat di hadapannya dan menghalangi langkahnya.


"Maksud kamu apa meladeni dia ngobrol di depanku ?", tanya Arfin kesal.


"Lah orang dia nanya, ya aku jawab,, lagian dia orang yang baik kok,, dan udah pernah menyelamatkan nyawaku", Naz menjawab dengan santai


"Ya kalo untuk berterimakasih kamu kan tinggal bilang aja,, gak perlu ngasih nomor ponselmu segala", Ucapnya semakin kesal karena melihat Naz yang watados.


"Ya terserah aku lah,,, aku mau ngasih nomor ke siapa kek, mau ngobrol sama siapa kek, mau temenan sama siapa kek, mau pacaran sama siapa juga itu kan bukan urusan kamu,,", ucap Naz masih dengan nada santai sambil tersenyum.


"Aku gak suka lihat kamu dekat- dekat sama dia", ucap Arfin dengan tegas.


"Dih.... hello siapa Lo....??? kamu gak berhak ngatur- ngatur hidup aku,,, orang tuaku aja santuy.... lupa ya...? apa amnesia? kalo kita ini udah gak ada hubungan apa- apa lagi... sini aku pukul kepalamu supaya ingat,,, ", ucap Naz yang terdengar mengejek. Lalu ia beranjak pergi meninggalkan Arfin sendiri di ruang tamu.


"Arghhhhh...... ", Arfin memukul kursi dengan kepalan tangannya merasa kesal dan marah karena terbakar api cemburu.


Maman kop tah😂


-------------- TBC ---------------.


************************


Dasar kecebong kou Aa,,, ku Batur ulah ku sorangan ditinggalkan,, yassalam...


Mari kita sedikit siksa Aa Arfin sebagai pembalasan Nyi Ratu Nanaz yang sudah kou sakiti..... 😎


Happy Reading....😍


Jangan Luva tinggalkan jejak mu....😉

__ADS_1


Terimakasih.... Aylapyu oll...😘😘😘😘


__ADS_2