Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Aku Tidak Akan Menikah Dengan Siapapun !


__ADS_3

Malam gelap penuh kalut kini sudah terhempas berganti dengan pagi yang cerah nan begitu indah, sang mentari mulai memancarkan sinarnya menghangatkan bumi semesta. Semua kehidupan bangun dari tidurnya untuk memulai hari sesuai porsi masing- masing. Ada hal yang terasa nikmat dalam hidup dan salah satunya adalah momen bangun pagi. Bukan tentang produktivitas, tetapi tentang kualitas jiwa kita, karena pagi hari merupakan momen refleksi diri sebelum kita memulai hari dengan penuh motivasi untuk kita melakukan perubahan serta perbaikan. Pagi itu sama seperti menikmati senja, sama- sama indah dan memberikan energi dalam hati, itu sih menurut orang yang puitis ya, karena bagi emak - emak pagi adalah waktunya meriweuh dengan segala kesibukana dirumah beserta tektek bengeknya.


Naz yang terlihat masih mengantuk seolah malas untuk memulai hari dengan semua yang ia rencanakan sebelumnya untuk menjadi dewan jurig dalam penyeleksian calon sekertaris di kantor sang kekasih, karena semalaman ia memikirkan perkataan sang Ayah yang memintanya untuk bertunangan dengan kekasihnya itu.


“Bagaiman mau diajak bertunangan,,, orang membahas pernikahan saja dia tidak suka,,, apalagi kan yang namanya sudah bertunangan pasti mendekati pernikahan,,, hadeuuhhh,,, gini nih kalo orang tua sudah pada ikut campur dalam hubungan asmara anak- anaknya,,,”, Naz menggerutu kesal lalu mengacak- acak rambutnya sendiri.


“Harus ngomong apa coba sama Kak Arfin??.... yang namanya bertunangan kan harus cowok yang ngajak,, masa iya gue yang ngajak,,?? murudul atuh harga diri gue aduuuhh,,, kesannya gue yang ngelamar dia,,, ampuun pemerintah”,Naz terus berdialog sendiri dan merasa pusing sendiri, “Udah ahh mending mandi aja deh,, lebih baik fokusin diri aja sama penyeleksian calon sekertaris entar”, ucap Naz lalu mengambil handuk dan bergegas ke kamar mandi.


Waktu sudah menunjukan pukul 07.30 WIB, setelah berpakaian rapi, Naz segera turun menuju ruang makan untuk sarapan, berbeda dari hari biasanya ia kini makan seorang diri karena kedua orang tua dan kakaknya sudah berangkat ke tempat kerja masing- masing.


Seperti biasa Naz pergi diantarkan oleh Pak Udin, setelah sampai di depan kantor Arfin, Naz pun turun, lalu menguncir rambutnya yang sebelumnya terurai setelah ia menyebrang




Suasana di luar nampak sepi, sepertinya jam kerja sudah dimulai, Naz pun berjalan memasuki area perkantoran dengan disambut baik oleh petugas keamanan serta oleh resepsionis yang sudah mengetahui bahwa Naz adalah kekasih dari Bos mereka. Naz pun menaiki lift menuju lantai 9, karena di sanalah ruangan kerja sang kekasih.


“Selamat pagi, Nona”,Dewi yang baru keluar dari ruangan Arfin menyapa Naz dengan melempar senyuman.


“Pagi juga Kak Dewi,,, jangan panggil Nona,, panggil saya Naz atau Nanaz aja”, Naz menyapa balik dan berbisik- bisik tetangga, karena melihat ada beberapa orang yang sedang duduk di sofa ruang tunggu.”Kak Arfin nya ada?”, tanya Naz.


“Ada di dalam,,, silahkan masuk,,, apa perlu saya antar?”, Dewi menawarkan diri.


“Gak usah Kak Dewi,, aku masuk sendiri aja,,,, duluan ya,,”, Naz pun melanjutkan langkahnya lagi untuk masuk ke ruangan Arfin.


Ceklek ,,,, Naz langsung masuk tanpa mengucapkan apa- apa, karena melihat Arfin yang nampak sibuk dengan laptopnya.


“Saya sudah sering bilang kalau masuk ke ruangan saya harus ketuk pintu dulu !”, ucapnya dengan dengan nada tegas tanpa menoleh pada orang yang baru masuk itu dan tetap fokus pada layar laptopnya.


“Idih,,, galak banget sih…”, ucapan Naz sontak mengagetkan Arfin dan langsung melihat ke asal suara Naz.


“Sayang,, kamu beneran datang kesini?”, tanya Arfin yang masih kaget dengan keberadaan Naz yang baru saja masuk ke ruangannya itu.


“Iyaa,,, lagian aku suntuk di rumah sendirian dan aku juga udah lihat para kandidat calon sekertaris mu itu tadi di luar”, Naz menjawab dengan santainya lalu duduk di kursi depan meja kerja Arfin sehingga mereka duduk berhadapan. “Kenapa sih kayak lihat hantu gitu? Gak seneng ya aku kesini?”,tanya Naz.


“Enggak,,,,, “, Naz yang mendengar jawaban Arfin langsung manyun, “Ehh,,, maksudnya seneng,, bukan enggak seneng,,, jadi enggak enggak seneng kan sama dengan seneng ”, ucap Arfin membolak balikan kata sambil tersenyum.”Bukannya semalam kamu bilang mau ke rumah Tante Rahmi ya?”, tanya Arfin membahas persoalan lain.


“Perasaan aku bilang deh semalam kalo sekarang mau ke sini,,,kalo ke rumah Mama bilangnya aku mau nginep di sana,, kalo nginep kan datangnya gak usah dari pagi juga kali,,, “, jawab Naz nyerocos, “Aa,, beneran gak suka ya aku datang kesini? Jadi maksudnya nanya gitu Aa ngusir aku?", tanya Naz, “Yaudah kalo gitu aku pulang,, maaf udah ganggu waktunya,,,”,ucapnya lalu berdiri.


“Bukan gitu sayang maksudnya,,, ih kamu mah gampang ngambekan,,, Ayok duduk lagi,,, apa mau duduk di sini ?”, Arfin menepuk paha nya sambil tersenyum jahil.


“Dih,,, ogah deh,,, kayak naik angkot yang penuh aja pakai di pangku segala”, Naz menolak lalu duduk kembali.


Tok tok tok…. Terdengar ada suara ketukan pintu,,


"Masuk,,,, “, seru Arfin.


“Maaf Pak, semua sudah siap,,, interview nya mau dimana Pak,? Di sini atau di ruang meeting ?”,Dewi melapor pada Arfin.


“Oke,, di ruang meeting saja,, nanti panggil satu- satu,,, tapi saya cuma punya waktu satu jam ya, Wi”,


"Siap Boss”, ucapnya dan segera melaksanakan titah bosnya itu.


Arfin pun mematikan laptopnya kemudian berdiri hendak pergi ke ruang meeting.


“Aku gak diajak?”, tanya Naz so so an polos.


“Kirain mau nunggu disini aja,,, makanya interview nya di ruang meeting”, Arfin menatap gemas pada kekasihnya yang cemberut lalu mencubit pipi Naz, “Unchhh,,,, kamu kalo cemberut itu menggemaskan,,, “, ucapnya terkekeh lalu Naz melepaskan tangan Arfin dari kedua pipinya.


“Iiihhh,,,sakit tahu,,,”, Naz meringis manjah.


“Yasudah,, ayok kita pergi,,, satu jam lagi Aa harus ke Bekasi, mau sidak ke kantor cabang di sana”, Arfin lalu berjalan beriringan bersama Naz keluar dari ruangannya menuju ruang meeting.


“Ikuut,,,, “, ucapnya dengan nada manja .


“Oh,,,ya ampuun,,, mimpi apa aku semalam,,,, sepertinya seharian ini akan dibuntuti oleh mu terus….”, Arfin pura- pura mengeluh.


“Hahahaha,,,,, biarin atuh,,, sekalian belajar”.ucap Naz.


“Belajar apa? Belajar nginterview orang sama sidak?”,tanya Arfin.


“Bukanlah,,, belajar gangguin kamu,,, hahahha,,.”, ucap Naz tertawa.


Mereka pun sampai di ruang meeting yang terdapat meja panjang dilengkapi beberapa kursi, Arfin duduk di kursi utama dan Naz duduk di sisi kanannya sedangkan Dewi berdiri di sebelah Arfin dengan memegang berkas dari ketujuh pelamar itu, sedangkan ada satu orang petugas keamanan berdiri di depan pintu yang akan ditugaskan untuk memanggil satu- persatu yang akan di interview sesuai instruksi .


Dewi kemudian menyuruh petugas memanggil orang pertama yang akan di interview, lalu menyerahkan berkas CV orang tersebut pada Arfin. Masuklah seorang wanita cantik dan dipersilahkan duduk di sisi kiri Arfin yang sedang melihat- lihat berkas CV nya tanpa menoleh sedikit pun pada wanita tersebut.


“Namanya Alika Febrianti, umur 24 tahun, belum menikah, lulusan S1 Manajemen Bisnis dengan IPK 3.6, pengalaman kerja sebagai staff admin selama 1 tahun, hasil tesnya tertulisnya 81, Pak”, Dewi menyebutkan identitas pelamar sesuai yang ia catat di catatan pribadinya.


“Kenapa anda resign dari perusahaan sebelumnya?”, Tanya Arfin sambil membaca CV orang tersebut.


“Karena masa kontrak kerja saya sudah habis dan tidak diperpanjang, Pak”, jawab Alika.


“Apa Anda ada niat untuk menikah dalam waktu dekat ini?”, lanjut Arfin.

__ADS_1


“Aa kok nanya kayak gitu sih?”, Naz langsung nyamber.


Arfin memandang ke arah Naz, “Karena dalam kontrak kerja nanti ada peraturan selama 1 tahun kontrak berlangsung tidak diperbolehkan menikah dulu”, ucapnya tersenyum.


“Em,,, belum Pak,, kebetulan saya masih jomblo,, hehe”, jawab Alika.


“Perasaan gak ada pertanyaan Anda masih jomblo atau sudah punya pacar deh”, Naz langsung sewot, Arfin dan Dewi langsung menatap ke arahnya, sedangkan Alika langsung menunduk karena merasa malu.


“Kualitas apa yang menurut Anda paling penting untuk pekerjaan sebagai sekertaris?”, tanya Arfin lagi.


Alika terlihat tegang lalu ia menghela nafas sejenak, “ Kejujuran,profesional serta Ketelitian dan cermat dalam mengatur semua jadwal yang akan dilaksanakan Bos, misal jadwal rapat, jadwal pertemuan dengan klien, serta mempersiapkan perencanaan dengan baik, dan menjalankan tugas- tugas lainnya”.


“Okay,,, “, Arfin menganggukkan kepalanya, “Wi,,,”, ucapnya memberi isyarat.


“Baik Pak,,,, Bu Alika anda boleh kembali dan silahkan menunggu dulu di luar ya,”.ucap Dewi.


“Gimana, Pak… oke kan yang ini”, tanya Dewi setelah Alika keluar.


“Enggak,,,”, Naz langsung kembali nyamber, “Dia terlalu cantik”, ucapnya lagi sambil menatap tajam pada Arfin yang memandang ke arahnya lalu nyengir.


Arfin menghela nafas sejenak, “Wi selanjutnya”, Arfin memberi perintah dan Dewi pun segera melaksanakan titahnya. Setelah kandidat lain duduk, Dewi pun menyerahkan berkas dan menyebutkan identitas dari pelamar tersebut yang sejak masuk tidak berhenti memandangi Arfin, dan Naz pun terus memperhatikannya.


“Anda baru lulus tahun ini dan belum ada pengalaman kerja sama sekali, apa yang memotivasi anda untuk bekerja sebagai sekertaris disini? Sedangkan Anda lulusan sarjana pendidikan”, Arfin melontarkann pertanyaan.


Wanita itu tidak langsung menjawab malah terus memandangi Arfin, ”Wahh,,, ganteng banget calon bos gue ini, bisa betah ni gue kerja disini dan bakalan terus berdekatan sama cowok ini”,gumamnya dalam hati sambil tersenyum terkagum- kagum.


“Mbak,,, ditanya ko malah bengong, ngapain ngeliatin sampai segitunya?”, tanya Naz ketus, namun dia masih tetap memandang Arfin seperti terkagum- kagum,, Arfin pun melihat ke wanita tersebut,, kemudian Dewi menepuk pundak wanita itu, dan ia pun langsung tersadar dari lamunannya.


“Bapak ganteng banget”, ucapnya keceplosan dan ia langsung membekap mulutnya dengan telapak tangannya.


Naz langsung terkejut dan melotot pada wanita itu,”Silahkan Anda keluar, karena anda tidak lolos dan tidak diterima kerja disini,,, baru interview aja udah keganjenan”, ucap Naz dengan nada ketus karena merasa kesal.


Wanita itu nampak terkejut dan seolah malu dengan ucapannya tadi, dan dari raut wajahnya ia nampak kecewa, kemudian ia pun beranjak lalu Dewi yang memanggil kandidat selanjutnya.


“Sayang, kamu galak banget sih,,, padahal nilai IPK nya bagus dan dia aktif berorganisasi di kampusnya, hasil test tertulisnya juga bagus,“,ucap Arfin.


“Lagian dia ngeliatin Aa sampai segitunya,,, gimana entar kalo udah kerja bareng Aa, pasti mepet- mepet terus godain Aa… ”,jawabnya masih dengan nada kesal.


Selanjutnya, sisa dari ketujuh kandidat itu satu- persatu masuk silih berganti. Kemudian Arfin dan Dewi bermusyawarah untuk memutuskan siapa yang lolos dan diterima untuk selanjutnya ditraining, tentu saja Naz juga ikut- ikutan mengemukakan pendapatnya, tapi lebih ke dia yang memutuskan sih sebenarnya. Ia memilih dua orang wanita yang satu bertubuh gemuk dan sang satu lagi yang berjilbab, karena wanita yang ketiga dilarang diterima oleh Naz karena berpenampilan menor, wanita yang ke empat pun sama karena memakai pakaian ketat dengan rok mini dan kemeja yang kancingnya dibuka sehingga belahan dada nya sedikit terlihat. Sedangkan wanita kelima, yang sebelumnya tidak terlihat oleh Naz saat ia datang ke kantor ini, langsung minta Arfin menolaknya karena wanita itu tidak lain adalah Nadine teman Arfin yang selalu mengejar- ngejar sejak masih sekolah.


Mereka bertiga pun sempat beradu mulut karena tidak setuju dengan pendapat Naz, tapi Naz yang kekeh Arfin harus mengikuti keinginannya, tidak bisa ditolak lagi oleh Arfin.


“Bos,, kok gue pusing ya?”, bisik Dewi.



“Kalian ngapain sih malah bisik- bisik? deket- deketan gitu lagi”, Naz jadi sewot melihatnya.


“Sayang,,, yang kamu pilih itu belum memiliki pengalaman sama sekali, sedangkan empat orang yang kamu tolak semuanya berpengalaman dan nilai mereka juga bagus- bagus,, mereka pun menjawab pertanyaan dengan baik,,, lagi pula yang aku butuhkan cuman satu orang kenapa musti dua- duanya?”, Arfin kembali protes.


“Tapi, kan dua orang ini aku lihat di berkasnya, nilai IPK yang pada bagus,, lagian kan nanti mereka bakalan di training bukan,,,? aku rasa mereka bisa belajar memahami pekerjaan yang akan mereka lakoni nantinya…dan nanti yang terbaik bisa Aa pilih untuk jadi sekertaris,,,, Kak Dewi juga resign nya sebulan lagi kan? bukan resign besok? Jadi cukup lah mereka ditraining sebulan”, Naz terus mencari alasan.


Arfin menghela nafas kasar lalu ia pun dengan terpaksa memenuhi keinginan kekasihnya itu, dengan memutuskan kedua orang itu yang akan mengikuti training karena sudah malas untuk berdebat dan ia pun harus segera berangka ke kantor cabang.


“Dewi urus semuanya,,, lima belas menit lagi kita berangkat,,, aku akan keruangan ku dulu”, ucapnya lalu berdiri dan beranjak pergi meninggalkan ruang meeting tanpa mengajak Naz pergi dengannya, sepertinya Arfin merasa kesal pada Naz. Dewi pun melaksanakan tugasnya dan Naz juga pergi meninggalkan ruang rapat tersebut dan berjalan menuju ruangan Arfin.


Naz masuk ke ruangan Arfin, dan di sana Arfin yang baru saja selesai menelpon seseorang sedang memasukan laptop pada tas laptopnya dan mengambil sebuah berkas dari laci mejanya. Naz melangkah perlahan menuju meja kerja Arfin untuk menghampirinya dengan menunduk seolah ia merasa bersalah karena telah membuat Arfin kesal.


Ceklek ,,,,, terdengar suara ada yang membuka pintu


“Arfin,,, kenapa gue bisa gak diterima? Bukannya pengalaman kerja gue udah lumayan banyak dan kinerja gue di perusahaan sebelumnya pun sangat baik, lo tahu itu kan? Sedangkan yang lo pilih masih pada bau kencur dan baru pada lulus kuliah,”, Nadine yang datang tanpa permisi langsung nyerocos protes.


“Sorry, Nadine, gue butuh lulusan yang fresh dan mereka juga cumlaude, dan dengan pertimbangan lainnya jadi dua orang itu yang terpilih untuk mengikuti training,, jadi gue minta maaf”, Arfin menjelaskan.


“Pertimbangan lainnya? Maksudnya pertimbangan dari anak ingusan ini?”, Ucap Nadine dengan nada kesal sambil menunjuk ke arah Naz.


“Maaf ya,, yang melamar kerja itu kan ada beberapa orang bukan cuman anda saja, sedangkan yang dibutuhkan hanya satu orang,,, lagian yang namanya melamar kerja itu kan ada dua kemungkinan, bisa diterima dan juga bisa saja ditolak,,,, yang menentukan diterima tidaknya juga kan bukan anda,,, jadi gak usah marah- marah gitu dong,,, biasa aja kali”, Naz ikut berkomentar karena Nadine sudah menunjuk- nunjuk ke arah nya.


“Heh,, lo diem aja ya anak ingusan,,, gak usah ikut campur urusan orang dewasa,,,”, ucap Nadine pada Naz yang berdiri di sebelahnya, sedangkan Naz hanya mencebikan bibirnya karena sebal.


“Cukup Nadine, tolong jangan bikin maslah disini, saya Rasa yang dikatakan oleh Naz tadi sudah cukup jelas”,, ucap Arfin.


“Baru tahu gue Ar,,, lo yang dikenal tegas dan professional bisa dengan mudahnya dipengaruhi sama anak kecil kayak gini?”,Nadine tersenyum sinis lalu ia pergi meninggalkan ruangan Arfin dan menutup pintu dengan keras.


Arfin menghela nafas panjang lalu ia melihat ke arah Naz dan menghampirinya,”Sayang,,, aku mau ke kantor cabang dulu,, kamu nanti diantar pulang sama sopir ya?”, ucapnya yang kini berdiri saling berhadapan dengan Naz.


“Kok pulang,,, aku kan pengen ikut”, Naz menolak pulang.


“Tempat nya lumayan jauh dan pastinya di sana lama, bisa- bisa sampai sore,,, nanti kamu malah bete lagi,, jadi mending kamu pulang aja ya,,,”, Arfin memberi alasan, padahal yang sebenarnya dia tidak mau kalau pekerjaannya kembali terganggu oleh Naz.


“Aaahh,,, aku mau ikut,,, aku janji tidak akan merepotkan mu atau menyusahkan mu,,,, boleh ya ikut,,,,”, Naz merengek tetap ingin ikut.


“Sayangku,,, kamu ini kan pacar Aa yan paling cantik, paling baik, dan paling pengertian,,, besok jumat kan libur tahun baru, kita bisa menghabiskan long weekend bersama, kalau perlu kita akan pergi kemana pun yang kamu mau,, jadi sekarang izinkan Kekasih tercintamu ini untuk menyelesaikan pekerjaannya dulu ya,,,”, ucapnya kembali membujuk Naz supaya mau pulang, sedangkan Naz malah manyun,, “Jangan cemberut gitu dong nanti dicubit lagi pipinya loh”, ucapnya terkekeh lalu mencolek pipi Naz.


“Iya deh,,, aku mau pulang,,, tapi janji ya besok kita jalan kemana pun aku mau”, Naz pun akhirnya manut.

__ADS_1


“Iya,, sayang,,,, ayok kita keluar “, ucap Arfin tersenyum dan mengusap pucuk kepala Naz, lalu menggandengnya untuk berjalan bersamanya meninggalkan ruang kerjanya yang ternyata diluar Dewi sudah siap untuk berangkat, mereka pun menaiki lift dan turun di lantai dasar.


Saat mereka keluar dari pintu utama, dua mobil lengkap dengan sopir di dalamnya sudah mampang di depan sana, yang satu untuk dinaiki oleh Arfin dan Dewi, sedangkan yang satu lagi untuk mengantarkan Naz pulang.


Arfin membukakan pintu mobil untuk Naz, dan ia pun segera masuk ke dalam mobil, “Hati- hati ya,, “, ucapnya pada Naz.


“Aa juga hati- hati,,, daahh”, ucap Naz lalu sang sopir segera melajukan mobilnya.


“Harrghh,,, gila ya bos gue yang super tegas dan ditakuti orang- orang di kantor, bisa takluk dan tunduk sama gadis ABG,,, memang ya kalo orang udah bucin suka hilang akalnya,,, hahaha”, Dewi menertawakan bos yang sekaligus sepupunya itu.


“Diam lo,, udah ayo berangkat… pastikan orang kantor cabang gak ada yang tahu kalo kita akan kesana”, ucap Arfin.


“Tenang bos,, ini misi rahasia,, orang kantor sini tahunya kita mau meeting di luar”, ucap Dewi yang kemudian masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah sopir di depan sedangkan Arfin duduk sendiri di belakang, mereka pun berangkat menuju Bekasi untuk melakukan sidak ke kantor cabang.


**


Sementara Naz yang sedang dalam perjalanan nampak sedang melamun, sepertinya ia merasa terganggu dengan kehadiran Nadine tadi di kantor. “Kenapa Kak Nadine melamar jadi sekertaris Kak Arfin ?, apa dia masih belum nyerah juga mendekati Kak Arfin?,,, arghh,,, ngapain sih aku mikirin itu,,, Kak Arfin kan gak pernah peduli sama dia,,, lagian dia sayangnya cuman sama aku”, Naz bergumam dalam hati.


“Apa aku ikutin aja saran Ayah semalam ya untuk bertunangan dengan Kak Arfin?”, Naz tiba- tiba teringat dengan pembicaraan kemarin dengan Ayahnya.


Suara deringan ponselnya membuyarkan lamunan Naz, kemudian ia mengangkatnya, “Hallo,, Assalamu’alaikum”, sapanya.


“Oh iya iya baiklah, aku akan segera ke sana,,, wa'alaikumsalam,,, “,ucapnya mengakhiri sambungan telponnya.


“Pak sopir, aku gak jadi pulang, tolong antarkan aku ke tempat lain ya”, ucapnya.


“Baik Nona”.


***


Sorenya, Arfin baru kembali ke kantornya, karena mobilnya masih disimpan di parkiran kantor dan ada barangnya yang tertinggal di ruangannya. Saat ia kembali ke parkiran ia bertemu dengan sopir yang tadi mengantarkan Naz pulang.


“Kebetulan sekali bertemu disini Pak,,, tadinya saya mau ke ruangan Bapak setelah mendengar dari Pak Ucup Bapak sudah kembali dari kantor cabang”, ucapnya.


“Memangnya ada apa Pak? Naz sudah diantarkan dengan selamat kan?”, tanya Arfin heran.


“Iya Pak,,, tadi saat saya mencuci mobil, di jok belakang menemukan sebuah ponsel, sepertinya ini milik nona yang tadi Pak”, ucapnya menyodorkan sebuah ponsel.


“Oh iya benar ini milik Naz, terimakasih ya Pak”, Arfin menerima ponselnya.


“Sama- sama Pak,,, tadinya mau saya antarkan tapi berhubung Bapak masih ada disini saya kasih ke Bapak saja, soalnya Nona tadi ,,,,, “, belum sempat menyelesaikan ucapannya, Arfin memberikan dua lembar uang merah dan disalamkan ke tangan sopir tersebut.”Eh,, jangan Pak,,,saya,,,”.


“Udah gak apa- apa buat beli rokok,,, terimakasih ya Pak,, saya pulang dulu”, ucapnya pamit pergi.


“Sama- sama Pak, terimakasih banyak”, ucapnya.


**


Setelah menempuh perjalanan beberapa saat, Arfin pun sampai di rumahnya, ia langsung masuk dan saat hendak pergi ke kamarnya ia bertemu dengan sang Mami di ruang tengah.


“Baru pulang Al,,, “, sapa nya, lalu Arfin mencium tangan ibunya itu.


“Iya, Mi,, abis dari kantor cabang tadi,, ucapnya lalu mereka duduk di sofa.”Ini boneka siapa Mi,,, anak- anaknya Kak Atikah lagi main disini?”, tanya Arfin yang melihat ada beberapa boneka di sofa dan di lantai.


“Tadi Mami abis jenguk Bude Hafsah ke rumah sakit, pas mau pulang ketemu Abang di parkiran yang lagi membujuk Nala supaya gak ikut masuk, tapi Nala gak mau dititipkan ke Mina, akhirnya Mami samperin deh dan membujuk dia supaya ikut sama Mami dengan mengajaknya membeli boneka, mau deh, yasudah Mami bawa pulang”, Mami menjelaskan.


“Oh,, pantesan,,, Mami pasti beli banyak ya bonekanya”, tebak Arfin.


“Iya donk,,, oh iya Al,, tadi Mama sempat ngobrol sama Mbak Anita soal hubungan mu dengan Naz,, emmm,,, bagaimana kalau kalian bertunangan?",ucap Mami mengusulkan.


“Apa? Bertunangan?,,, enggak- enggak ah,,, Naz kan masih sekolah Mi, dan juga baru kelas dua”,Arfin menolak.


“Ya gak apa- apa,, kan sah sah aja bertunangan walaupun masih sekolah”, bujuk Mami.


“Mi,, yang namanya tunangan berarti menjurus ke pernikahan,,, sudah berapa kali Al, bilang,, jangan bahas soal pernikahan”, Arfin mulai menaikan nada bicaranya.


“Mau sampai kapan sih Al kamu berpikiran seperti itu terus? Suatu saat kamu juga pasti akan menikah”, Mami jadi tersulut.


Arfin langsung berdiri, “Sekali lagi aku tegaskan, aku tidak akan menikah, dan tidak akan pernah menikah dengan siapa pun, termasuk dengan Naz”, ucapnya setengah berteriak.


“Om Apin ipin,,,,,!! “, teriak Nala dari arah belakang Arfin, dan saat Arfin membalikan badannya betapa terkejutnya ia melihat orang yang berdiri bersama Nala yang sama terkejutnya dengan dirinya.


“Naz…….. “. Lirihnya


----------------- TBC -------------------


Pararimpa dubidudidu,,,,,,, Mimpi apa kamu semalam Aa Arfin…


Happy Reading,,,🤩


Jangan luva tinggalkan jejakmu,, like, komen, vote, rate bintang 5😉


Terimakasi banyak,,,,😘


__ADS_1


__ADS_2