Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Selamat Malam Aa Lutung Kasarung


__ADS_3

Arfin yang tengah berjalan menyusuri lantai rumah sakit dengan raut wajah marah menuju kembali ke kamar tempat Naz dirawat terus di kejar oleh Raline, bahkan lengan Arfin pun di pegangi dan di tarik- Tarik oleh kedua tangan Raline seolah mereka seperti pasangan yang sedang bertengkar dimana si pria nya marah dan si wanita nya berusaha membujuk pria yang terus berjalan tanpa menghiraukan rengekan permohonan si wanita.


“Ku mohon please,, jangan berikan rekaman itu pada Papa,, aku mohon”, ucap Raline yang terus berusaha menghentikan langkah Arfin yang tampak penuh amarah, namun tidak sedikitpun dia menggubris permohonan Raline, dan sampailah mereka di depan pintu kamar tempat Naz dirawat.


“Baiklah aku janji tidak akan mengganggu atau menyakiti Naz lagi, tapi ku mohon jangan berikan rekaman itu pada Papa,,aku gak mau kalau keluargaku tahu mengenai hal ini, apalagi Opa,, please aku mohon?”, Ralin terus memohon hingga dia menangis.


Ceklek ,,,, Arfin membuka pintu kamar dan langsung masuk ke dalam, Raline yang sangat terkejut hanya diam mematung dan menutup mulut dengan telapak tangannya, “Habislah sudah riwayatku”, ucapnya dalam hati lalu ia menghapus air matanya dan ikut masuk ke dalam mengikuti Arfin yang ternyata sudah menghampiri Naz di tempat tidurnya, sedangkan langkah Raline terhenti di depan pintu kamar mandi.


“Loh kok kamu balik lagi Arfin,, bukannya tadi sudah pamit pulang?”, Pak Syarif yang masih duduk di kursi sebelah tempat tidurnya Naz bertanya heran.


“Maaf Om,, sebenarnya tujuan saya kembali lagi untuk….”, belum selesai Arfin berbicara, tiba- tiba ponsel milik Pak Syarif berdering dan di ambilah ponsel dari saku celananya,


“Maaf ,,, sebentar ya Arfin,, Om permisi angkat telepon dulu”. Ucap Pak Syarif bangkit dari duduknya dan bergegas keluar kamar untuk menerima panggilan teleponnya, saat melewati Raline Pak Syarif hanya melontarkan senyuman.


Arfin melirik Raline yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi masih dengan mode memohon, sedangkan Arfin hanya nyengir sinis. “Aa,,, belum mau pulang ya”, Naz mengajak bicara Arfin yang masih berdiri di dekat ujung ranjang. “Sebentar lagi “, jawabnya sambil melemparkan senyuman. Kemudian Pak Syarif pun masuk dan menghampiri Arfin lalu duduk kembali di kursi semula.


“Gimana Arfin,, tadi mau bicara apa?”, Pak Syarif bertanya.


Arfin melirik Raline yang memberi isyarat memohon dengan mata dan raut wajahnya, seolah terlihat sedang bermain mata, “Itu Om,, maaf saya kesini mau ngambil jaket saya yang ada di sandaran kursi yang sedang Om pakai”, ucap Arfin lalu mendekati tempat duduk Pak Syarif.


“Oh,, Om pikir ada hal penting yang ingin kamu sampaikan”, Ucapnya ber oh ria


“Permisi Om, saya ambil jaketnya ya,,”, Arfin pun mengambil jaket dari sandaran kursi yang di duduki Pak Syarif, “ Mari Om, saya pulang dulu,, assalamu’alaikum”, ucapnya kembali pamit dan bergegas keluar seusai salamnya dijawab oleh Naz dan Papanya, ia pun kembali bermain mata dengan Ralin memberi isyarat saat melewatinya.


Ceklek ….“ Raline, kok kamu ada disini, bukannya tadi izin mau ke bawah”. Ucap Bu Rahmi yang baru keluar dari kamar mandi dan sontak mengagetkan Raline.


“Itu Ma,, anu,,emm,, aku salah membawa tas tadi pas berangkat ke sini, dan ternyata dompetku ketinggalan di tas yang satunya lagi jadi gak ada uang,, minta uang dong ,,hehe” Raline menjawab dengan gugup lalu menjulurkan telapak tangannya pada Bu Rahmi, dan beliau pun mengambil tasnya yang ada di sofa lalu memberi Raline uang. “Makasih ya Ma,,, aku pergi dulu”, ucap Raline dan langsung pergi keluar. Dan ternyata Arfin sudah menunggunya di luar.


“Aku sudah memenuhi permohonan mu untuk tidak melaporkan mu pada Pak Syarif,, aku harap ucapan mu bisa dipegang untuk tidak mengganggu Naz lagi”, ucapnya to the poin.


“Tentu saja, aku akan memegang janjiku, tapi aku minta lenyap kan barang bukti itu”, pinta Raline.


“Heh,, kau pikir aku sebodoh itu”, Arfin tersenyum miring.


Tiba- tiba datang seorang pria yang menghampiri mereka berdua, “Permisi Pak Al Arifin, maaf saya terlambat,, ini berkas yang Bapak minta”, ucap Pria itu menyodorkan barang yang ia bawa.


Arfin menerima berkas yang berupa map itu, lalu membuka nya dan menyodorkannya pada Raline, “ Sekarang kau tanda tangani surat perjanjian ini”.


“Surat perjanjian apa ini?”, tanya Raline heran.


“Kau tidak buta huruf bukan, baca saja sendiri”, Arfin bicara ketus.


Raline pun membaca isi surat perjanjian itu, “Apa- apaan ini maksudnya?”.


“Selain tidak buta huruf aku yakin kau juga tidak bodoh,,,, intinya dengan kau menandatangani surat perjanjian itu, aku akan mempercayaimu kalau kau tidak akan menganggu Naz lagi", Arfin menjawab.


“Ini terlalu berlebihan, lebay tahu gak”, Raline malah mengejek.


“Tentu saja tidak, karena aku tahu wanita licik sepertimu tidak mudah dipercaya, orang tua dan keluargamu saja bisa kau bodohi, apalagi orang lain,,, cepat jangan banyak cingcong, tanda tangani surat itu, atau kau mau aku masuk lagi ke dalam dan memberikan bukti rekaman kejahatan mu ?“, ucap Arfin dengan ancaman lalu menyodorkan bolpoin pada Raline.


“Iya,, iya,,, aku tanda tangan”, Raline pun mengambil bolpoin dan segera menandatangani kedua surat perjanjian yang bermaterai tersebut, tentunya sambil direkam menggunakan kamera video ponsel oleh Arfin, “Nih sudah, puas ?”, Raline menyerahkan map tersebut kepada Arfin dengan perasaan kesal.


“Pak Pengacara,, surat ini sudah sah bukan, ini tolong berkasnya di simpan satu dan yang satunya lagi saya bawa, terima kasih banyak atas bantuannya, mohon maaf sudah merepotkan”, ucap Arfin kepada pria tersebut.


“Sama- sama Pak, sudah menjadi tugas kami melayani keluarga anda Pak untuk masalah yang berkaitan dengan surat perjanjian hitam di atas putih,,, baiklah kalau begitu saya permisi dulu, selamat malam Pak”, Pria itu pun berpamitan dan kembali pergi.


“Terimakasih atas kerja samanya Raline, permisi “, ucap Arfin sambil mengangkat map dan memberi senyuman miring, lalu ia pun bergegas pergi meninggalkan Raline yang terlihat sangat kesal. Karena Arfin tidak membawa kendaraan, maka ia pulang dengan menggunakan jasa ojek online. Setelah beberapa saat sampailah ia di kediamannya., dan ia pun langsung masuk ke dalam rumah.


“ Hemmm,,, ternyata sekarang penerbangan Surabaya- Jakarta itu sembilan jam ya Al”, baru saja Arfin masuk sudah di sambut sindiran Mami nya yang tengah duduk selonjoran di sofa sambil dipijat oleh Bi Darmi.


Arfin pun menghampiri Mami dan menyalami nya, “Maaf Mi,, Al tadi jenguk teman dulu ke rumah sakit, terus ada sedikit urusan,, Mami gimana sehat? Kata Abang sempet sakit?”, ucapnya lalu duduk di sofa dekat kaki Mami nya yang sedang dipijat.


“Ya biasa lah kalau sudah tua begini banyak yang terasa, apalagi jauh dari anak- anaknya,, Abang mu lebih suka tinggal di apartemen, sedangkan kamu sekarang malah ke Surabaya,, punya anak empat juga serasa gak punya anak”, Mami berkeluh kesah.


“Mami,,, jangan ngomong gitu, walaupun berjauhan kami tetap sayang sama Mami, lagi pula kan kakak- kakak sudah menikah, ya mau gak mau harus ikut suami mereka ", ucap Arfin.


“Aduhh,, bi pelan- pelan itu sakit banget sebelah situ”, Mami mengeluh kesakitan.


“Mami kakinya kenapa emangnya, sini Al lihat?”, Arfin memeriksa kaki Mami nya.


“Tadi Mami abis dari dapur jatuh, ternyata kaki Mami terkilir”, Mami menjelaskan.


“Yasudah sini Al pijitin ya,,, “, Arfin pun mengambil alih kaki sang Bunda lalu menggerak- gerakan sedikit, “Tahan ya Mi,, agak sakit soalnya”, krek…


“Aduhhh,, ini bukan agak sakit namanya,, tapi sakit banget Al,, kamu itu anak durhaka ya,, mau matahin kaki Mami hah?”, Mami nyerocos kesakitan.


“Ya enggak lah Mami,, Al gak sekejam itu kali, masa iya Mami harus ikutan pincang kaya Al sih,,, coba deh gerakin kakinya”, pinta Arfin .


“Eh,, iya,, sudah mendingan, gak seperti tadi yang sakit banget, kok kamu bisa sih?”, tanya Mami merasa heran.


“Mami lupa ya,, dulunya aku ini tukang berantem sama suka ikutan ekskul cabang bela diri,, ngurut terkilir gini mah gampang”, si Aa mulai menyombongkan diri.


“Hahaha,, iya Mami lupa kalau anak Mami ini preman, sampe- sampe ketua preman yang banyak ditakuti orang pun, tunduk sama kamu ya,,,”, Mami tertawa mengingatnya.


“Iya dong,, preman kasep”, beuh sombong part 2


“Kasep,, apa itu kasep?”, Mami merasa asing.

__ADS_1


“Kasep itu artinya ganteng Mi,, itu bahasa Sunda”, Arfin menjelaskan.


“Ohh,,,Iya sih kamu ganteng Al,,, tapi kok gak laku- laku ya,,,, percuma ganteng juga kalo mubadzir”, uluh- uluh kasian yang udah sombong dibebeutkeun.


“Astagfirullah Mami,, mendoakan anak tuh yang baik- baik gitu,, siapa bilang gak laku,, ada kok yang mau sama Al”.


“Oh ya,,, Alhamdulillah Ya Allah akhirnya anak hamba yang jomblo akut ini sudah punya pacar,,, oh ya Siapa namanya ? Orang mana? Cantik gak orangnya? Mana coba lihat ponsel mu pasti ada fotonya kan di galeri mu Al?”, Emak- emak di manapun selalu kepo.


“Ya adalah,,, tapi sayang sekali ponsel ku mati karena habis baterai,,, ?”.


“Tapi Al,,, apakah dia …”, Mami tidak kuasa melanjutkan perkataannya.


“Tenang saja Mi,, dia gadis yang baik yang tidak suka menilai orang hanya dari penampilannya saja,,, tapi,, kami belum meresmikan hubungan kami,, ya kalau kata anak ABG masih proses PDKT,,, Mami doa in ya, supaya aku punya keberanian untuk menyatakannya,, rasa takut ku masih sangat besar Mi”, ucapnya lalu menunduk.


Mami mengganti posisi duduk nya dari selonjoran kemudian kakinya di turunkan ke bawah perlahan dan duduk bersandar ke sandaran sofa. “Al,,,, kamu jangan merasa rendah diri seperti itu,,, vonis dokter bukanlah sebuah takdir yang tidak dapat di ubah,,, itu hanyalah perhitungan dari perkiraan manusia tidak bisa melampaui ketetapan Tuhan,,,kita masih bisa berusaha dan berikhtiar“, sang Mami pun mengeluarkan nasehatnya.


“Aku takut Mi,,,jika suatu saat aku akan menyakitinya”, Liriknya masih dalam mode menunduk.


“Al.. sini duduk dekat Mami,,," Arfin pun menggeser kan duduknya hingga duduk bersebelahan dengan Mami nya.." Al...jika kamu sungguh- sungguh mencintainya dan dia bersedia menerima mu apa adanya, maka kejarlah dia, jadikan dia sebagai motivasi terbesarmu “, ucapnya sambil mengusap pundak Arfin yang duduk disebelahnya." Heii... Jangan bersedih seperti ini nanti enggak kasep lagi", ucap Mami kalau tertawa kecil.


“ Oh.,iya ...ngomong- ngomong memangnya sudah berapa lama kamu dekat dengan gadis itu?”


“Ya, sekitar tiga bulanan ke belakang lahh,,,, “, Arfin mulai mencair kembali.


“Apa,,,?? Sudah selama itu kalian belum resmi pacaran?? Kenapa gak langsung di lama raja biar cepet?",Wahh ini mah bukan lampu hijau lagii,, tapi lampu disco.


“Mami yang bener aja,, kalau Al melamar sekarang- sekarang yang ada Al bakal ditolak mentah- mentah,,”.


“Loh emangnya kenapa,, bukannya kalian sudah saling mengenal cukup lama lah tiga bulan itu,,, kalau kelamaan nanti dia keburu disamber orang,, memangnya kamu rela Al jadi penjaga jodoh orang ?".


“Ya enggak lah,,, tapi Mi,, dia itu masih sekolah,, “.


“Astagfirullah Al Arifin,,,, kamu itu kelamaan jadi jomblo akut ya,,kalau nyari pasangan yang kira- kira dong ,, ngincer ko anak sekolahan ,,, mau jadi Pedofil kamu hah,, pantesan kamu gak mau buru- buru melamar?, " jiwa the power of emak- emak keluar.


“Ya ampun,,, Mami juga nuduh yang kira- kira dong, masa iya aku naksir sama anak SD,,, aku tidak semengerikan itu Mi,,, gadis yang ku maksud anak sekolahan ini sudah mau 17 tahun Mi,, dia itu murid SMA,,".


“Oh begitu,, kirain,,,, abisnya kamu kan sering main ke panti asuhannya Bude Hafsah, di sana kan banyak anak gadis kecil- kecil,, pas kamu bilang anak sekolahan,, dikira salah satu dari mereka,,, hahahaha” , ucap Mami sampai tertawa.


“Gimana,, apa kakinya masih sakit Mi?”


“Udah lumayan lah gak sesakit tadi,,, oh iya Mami jadi teringat kejadian waktu Mami ke rumah sakit saat kamu sakit Al"


“Kejadian apa Mi?”, tanya Arfin penasaran.


“Waktu itu Mami kan pulang dulu gantian sama Bi Darmi untuk membawa keperluan mu selama dirawat,, Eh supir malah disuruh ke kantor nganterin berkas Papi yang ketinggalan, sedangkan Mami baru saja sampai rumah, yasudah Mami titip pakaian dan keperluan mu saja ke supir sekalian lewat rumah sakit, karena Mami mau istirahat sejenak terus membersihkan diri. Tahu sendiri Abang mu itu kalau sudah sibuk dengan pekerjaan atau pun kesibukan lainnya susah untuk diganggu, jadilah Mami ke rumah sakit naik taksi, nah pas sampai di depan gerbang, ehh malah kelewat jadi Mami turun di pinggir jalan deh. Saat berjalan di trotoar Mami kurang hati- hati dan kaki Mami tersandung batu sampai jatuh tersungkur dan susah untuk berdiri karena kaki sebelah kiri sakit. Tiba- tiba ada seorang gadis cantik menghampiri dan menolong Mami, dia memeriksa kaki Mami yang ternyata terkilir katanya, dia memijat dan melakukan hal yang tadi kamu lakukan Al hingga kaki Mami sakitnya mereda dan bisa berjalan lagi. Tapi sayang Mami belum sempat menanyakan nama gadis cantik yang baik hati itu, karena mobil jemputan nya sudah datang , dan dia pun pamit pergi walau nampak sekali dia berat meninggalkan Mami yang masih agak kesulitan berjalan, tapi Mami memintanya untuk segera pergi takutnya mobil jemputan nya menyebabkan kemacetan”, Mami bercerita panjang lebar.


“Kurang ajar kamu tuh sama orang tua”, Mami menabok lengan Arfin.


“Hahaha,,, udah ah Al ke kamar dulu ya udah lengket nih pengen mandi dan belum shalat lagi”.


“Pasti belum makan malam juga ya?”.


“Iya nanti aku makan, aku masuk kamar dulu ya”. Arfin pun bangkit dari duduknya lalu bergegas ke kamar, setelah masuk hal yang pertama dilakukannya adalah men charger ponselnya lalu mandi kemudian berganti pakaian dan shalat isya. Karena Mami nya terus memanggil akhirnya Arfin keluar kamar untuk akan malam bersama Mami nya itu, tidak ada obrolan lagi diantara keduanya setelah menyudahi makan malam keduanya pun kembali ke kamar masing- masing.


Arfin menyalakan ponselnya dan duduk selonjoran di tempat tidurnya, wajahnya langsung berseri- seri tatkala melihat ada pesan yang dikirim gadi pujaan hatinya.


Naz


“Aa sudah sampai rumah?”


“Jangan lupa makan ya”


Arfin hanya tersenyum membacanya dan ia tidak berniat membalasnya tapi ia langsung menekan tombol panggilan video call…. Tak perlu menunggu lama panggilan pun tersambung ,,,


“Hallo,,, assalamu’alaikum Aa”,sapa Naz tersenyum malu.


“Wa’alaikumsalam Naz,,, kok belum tidur?”.


“Abisnya ada ponselku berdering ada panggilan video call”. ucapnya manja.


“Oh,, jadi Aa mengganggu tidur nya nih?”.


“Enggak kok,, aku kan belum tidur,, baru niat mau tidur aja, kan segala sesuatu itu diawali dengan niat”.


“Iya dan di akhiri dengan Aamiin”.


“Hahaha,,, gak semuanya juga kali,, masa iya niat jahat harus di amini juga”.


“Emang siapa yang berniat jahat sama kamu, nanti Aa pites orangnya”.


“Ada,, malahan dia udah jahat banget sama aku”.


“Siapa orangnya, bilang sama Aa”.


“Emmm,,, itu,,, emmm..”. bau- bau mencurigakan.


“Emm,, siapa,, ayo bilang”.

__ADS_1


“Itu Aa nyamuk disini pada jahat, masa aku digigit sama mereka, nih lihat nih merah kan “. yasalam gini aja laporan.


“Haha,,,Ya ampun kamu digigit sama nyamuk aja pake bilang sama Aa ihh, lebay”. Arfin menertawakan kekonyolan Naz.


“Katanya tadi siapa aja yang jahatin aku bilang ke Aa ihh,, harusnya tuh lebih spesifik, siapa saja orang yang jahatin kamu bilang ke Aa,,gitu ,, kal gak pakai orang kan berarti hewan juga bisa termasuk, ya kan”. Naz tidak terima ditertawakan.


“Yasudah nanti kalo Aa ke sana lagi, nyamuknya dipitesin satu- satu,,, eh tapi kok bisa ada nyamuk sih disana?”. Arfin pun meladeni.


“Gak tau,, kayaknya bawaan Kak Dandy deh, soalnya sebelum ada dia gak ada nyamuk,, eh pas dia udah datang tiba- tiba ada nyamuk,, “. kali ini Dandy korban gibahan.


“Berarti Dandy pawang nyamuk dong,, gak elit banget sih”.


“Oh iya,, Aa udah makan belum? “ .


“Udah barusan, tapi gak enak”.


“Gak enak masakannya?”.


“Bukan,, gak enak karena gak disuapin sama kamu”. eaaaa.....


“Gombal banget sih,,, geleuh ih”. Naz berkecak sebal.


“Abis kamu curang katanya mau nyuapin Aa,, tapi malah anteng disuapin sama Aa sampe dimsumnya habis”. protesnya baru sekarang yasalam.


“Abisnya enak sih”.


“Tuh kan kamu juga enak di suapin sama Aa”. kena kamu Naz.


“iiiihh,, bukan itu maksudnya,, tapi dimsumnya yang enak”. Naz menyangkal.


“Ih kamu meni gak rela gombalin Aa”. merajuk.


“Minta aja gombalin sama Raline sanah”. ucapnya kesal.


“Raline sodara tiri kamu itu?”.


“Iya siapa lagi?”. ucapnya jutek.


“Dih gak banget deh”.


“Gak banget gak banget,, terus tadi apa main lirik- lirikan mata segala sama dia,,Aa naksir ya sama Raline?”. kesal bercampur jutek.


“Naz kamu sama Raline tuh kalau diibaratkan, Kamu Bawang Putih, Raline Bawang Merahnya,, kamu Candra Kirana, Raline Galuh Ajeng nya,,,, kamu Purbasari, Raline Purbararang nya,,, jauh atuh bagai langit dan bumi ih”. ucap Arfin mengumpamakan.


“Hahahahahhahaha”. Naz malah tertawa renyah.


“Kamu kenapa malah tertawa gitu?”.


“Bentar A,,,aku masih pengen ketawa”.


“Udah kenyang ketawanya?”


“Udah Aa”. ucapnya berhenti tertawa.


“Kenapa ketawa,,,??”, tanyanya heran.


“Kan gini,,aku mikirnya kalau dalam Bawang Putih Bawang Merah berarti Aa adalah sang Pangeran,, kalau dalam Candra Kirana dan Galuh Ajeng,, Aa adalah Raden Inu Kertajaya, tapi pas dalam Purbasari dan Purbararang,,,, Aa berarti……”.


“Lutung Kasarung maksud kamu,,,”.


“Hahhahaha,,, iya iya iya,,,bukan aku yang ngomong loh”


“Dasar kamu,, aku kan cuman mengumpamakan kamu dan Raline ih,, kok aku jadi kebawa- bawa?”. tak terima disebut lutung.


“Salah siapa menjadikan ku tokoh protagonis yang selalu ditindas,, wlee”


“Iya tapi kan berujung bahagia”.


“Yang elit atuh meni kabaheulaan tokohnya ih”.


“Kabaheulaan teh apa?”


“Kuno Aa”


“Maaf mbak saya cek tensi sama suhu tubuhnya dulu ya”, terdengar suara suster yang berbicara pada Naz, lalu ia melakukan pemeriksaan rutin hariannya pada Naz, saat selesai melakukannya suster itu pamit.


Maaf ya mba saya sudah mengganggu percakapan dengan pacarnya yang tadi itu, saya permisi”. Ucap suster itu yang membuat Naz jadi salah tingkah dan terlihat raut wajah Naz berubah seketika karena malu, karena Arfin terus memberikannya senyuman di layar ponselnya itu.


“Aa udah dulu ya, aku mau istirahat, assalamualaikum,,, selamat malam Aa Lutung Kasarung”, Naz langsung menutup panggilannya tanpa mendengar jawaban salam dari Arfin karena melihat Arfin yang melotot karena dipanggil Lutung Kasarung.


“Wa’alaikumsalam,,, dasar gadis tengil yang menggemaskan”, ucap Arfin menggelengkan kepala sambil senyam- senyum sendiri menatap layar ponselnya.


------------- TBC --------------


******************************


Happy Reading...... 😘😉

__ADS_1


__ADS_2