Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Ngidam Aneh


__ADS_3

Ceklek ,,, Naz membuka pintu kamar mandi dan menampakan senyuman termanis nya, sedangkan sang suami yang hasratnya sudah di ujung tanduk memberinya tatapan tajam.


“Makasih sayangku atas izinnya”, Naz semakin melebarkan senyumnya.


“Dasar licik kau ya, hem,,,, aku benar- benar akan memakan mu habis- habisan”, Arfin mendekat dan langsung menggendong istri tengil nya itu lalu membawanya ke tempat tidur, ia pun benar- benar menerkamnya tanpa ampun.


Keduanya kini tertidur pulas karena sudah kelelahan akibat pergulatan panas yang membawa keduanya seolah terbang ke langit ke tujuh, bukan hanya sekali, bahkan Arfin melakukannya hingga dua kali hingga tenaganya benar- benar terkuras habis.


Arfin terbangun pukul lima sore, ia membangunkan istrinya dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri alias mandi besar, Naz pun menghampiri suaminya sehingga keduanya mandi bersama. Setelah itu keduanya shalat ashar yang kesorean gara- gara bobo bareng kebablasan, jangan ditiru ya pemirsah.


Sejak hari itu, si imut sudah menjadi candu bagi si ujang, dan setiap malam keduanya selalu dipertemukan dalam pergulatan panas yang membawa kenikmatan bagi para empunya. Arfin yang merasa tidak puas hanya sekali, selalu minta lagi dan lagi. Naz yang sebenarnya sudah kelelahan pun, tak kuasa menolak keinginan suaminya yang selalu minta tambahan jatah, karena selalu mengeluarkan jurus terjitu nya yakni kalau kamu menolak suami hukumnya dosa. Ingin rasa nya yang namanya si dosa itu dikubur hidup- hidup agar tidak bisa menakut- nakuti lagi, itulah yang selalu ada di benak Naz tatkala suaminya menjadikan dosa sebagai alasan jika istrinya menolak memberinya bonus jatah.


Setiap hari Naz menjalani tugasnya sebagai seorang istri, pagi menyiapkan sarapan untuk suaminya, siangnya membuatkan makan siang dan mengantarkannya ke kantor, sorenya memasak untuk makan malam dan malam nya giliran ia yang dimakan oleh suaminya. Begitulah rutinitas kesehariannya kini setelah menjadi seorang istri sepenuhnya. Namun walau begitu, Naz tak pernah mengeluh dalam menjalankan tugas dan kewajibannya karena ia sadar betul ini sudah menjadi pilihan hidupnya untuk menikah muda dan mejalani biduk rumah tangga bersama pria yang sangat dicintainya. Hanya satu yang kadang ia keluhkan, yakni tambahan jatah disaat dirinya sudah K.O ..


Setiap malam seusai pergulatan panas, keduanya tak langsung tidur, terkadang ada obrolan kecil antara keduanya, atau Arfin yang bercerita tentang hal- hal yang terjadi saat ia bekerja sedangkan Naz menjadi pendengar setia, bahkan tak jarang saat suaminya masih bercerita Naz malah tertidur pulas bagaikan anak kecil yang sedang dibacakan dongeng sebagai pengantar tidur.


Lain hal nya dengan malam ini, keduanya masih terjaga karena Arfin sudah puas hanya dengan satu ronde saja, mungkin si ujang nya lagi sholeh, pikir Naz.


Mereka berbaring dengan selimut yang menutupi tubuh polos keduanya dengan posisi Naz yang berbaing menyamping dipelukan suaminya dan menjadikan lengan suaminya sebagai bantalan.


“Sayang,,, bagaimana kalau kita pergi honeymoon,”, Arfin tiba- tiba teringat jika mereka belum melakukan perjalanan untuk honeymoon setelah menikah.


“Honeymoon kemana?”, tanya Naz.


“Ya kemana aja gitu ke tempat yang menyenangkan dan ingin kamu kunjungi, sayang”, Arfin menyerahkan pilihan pada istrinya.


“Terus nanti kalau honeymoon kita ngapain aja?”, Naz kembali bertanya.


“Tentu saja kita memanjakan si ujang dan si imut,,, kita bisa terus berduaan sampai sehari semalam diam di kamar saja untuk bercinta”, ucapnya tersenyum.


“Apa??? Yassalam,,, di rumah aja aku kewalahan melayani dia yang minta jatah udah kayak minum obat sehari dua sampai tiga kali, apalagi kalau honeymoon musti melayani dia sehari semalam,,, bisa gempor atuh eceu gini caranya mah,,, setelah sembuh kok dia doyan amat ya, di otaknya isinya si ujang sama si imut terus,, harus gimana atuh hamba ini,,,”, jerit Naz dalam hati.


“Sayang,, hei,, kok malah melamun,,?? Gimana? Mau kemana honeymoon nya?”, Arfin kembali bertanya karena istrinya tak kunjung menjawab


Naz terperanjat membuyarkan lamunannya, “Emm,, sayang,, kalo gitu mah apa bedanya, kan tiap malam kita honeymoon terus ini,, kayaknya gak usah deh,,”, Naz menolak pergi.


“Beda dong sayang,,, kan kita bisa sambil liburan,,, mau ya ?”, Arfin tetap ingin pergi.


“Emm,,, Aa kan lagi banyak kerjaan,, mana dalam dua bulan ini Aa udah beberapa kali bolos kerja lagi,,, gak enak kan sama para karyawan, nanti dikira Aa ngasih contoh yang gak baik karena gak disiplin dan lebih mementingkan urusan pribadi,,, emm,, mungkin sebaiknya honeymoon nya kapan- kapan aja, jangan dalam waktu dekat ini deh,, mana bentar lagi acara pernikahan Raline,, entar yang ada kita disangka latah lagi ikut- ikutan pengantin baru,,, “, Naz terus mencari alasan agar suaminya mengurungkan niatnya.


“Iya juga sih,, kamu benar sayang,,, yasudah nanti sajalah kalau kerjaan Aa udah nyantei,,“, ucapnya lalu mengajak istrinya itu tidur karena ia pun sudah merasa sangat lelah.


**


Hari berganti hari, tak terasa dua minggu sudah berlalu dan kini tiba saatnya waktu yang sudah dijanjikan oleh Arfin, yakni Naz boleh pulang duluan ke Jakarta empat hari sebelum hari H untuk membantu persiapan pernikahan Raline.


“Sayang,, bangun,,, udah jam empat lebih ini, sebentar lagi adzan, ayok mandi dulu”, Arfin yang baru bangun lalu membangunkan istrinya.


“Emhhhh,, lima menit lagi,,”, Naz bicara dengan mata yang masih tertutup, Arfin pun bergegas ke kamar mandi duluan. Seusai mandi ia pun kembali membangunkan Naz, namun ia masih tak bergeming dan minta waktu lima menit lagi, kemudian Arfin pergi ke masjid untuk shalat subuh berjama’ah.


Setelah Arfin kembali, ternyata istrinya masih belum bangun, “Sayang,, ayok bangun,, nanti keburu siang shalat subuh nya,, heii”, Arfin kembali membangunkan sambil menggoyang- goyangkan dengan istrinya.


“Emhhh,, iya,,”, Naz berusaha membuka matanya perlahan, “ini jam berapa?”, tanya nya dengan suara serak.


“Udah jam lima lebih lima menit, ayok bangun,,, mandi dulu gih,,”.


“He em,,,,”, Naz kemudian bangun dan duduk sambil memeluk guling.


“Aa ke dapur dulu ya, mau bikin lemon tea hangat,, kamu mau sayang?”.


“Aku pengen kopi”, jawab Naz yang kesadarannya belum penuh.


“Apa?? Kopi?”, Arfin merasa aneh


“Iya,, kopi hitam manis seperti Shahrukh Khan aktor bollywood itu,,, unchh”, Naz tersenyum seolah membayangkan aktor itu.


“Jangan sebut nama laki- laki lain di hadapanku, sayang”, Arfin memang keterlaluan sama artis aja cemburu,


Naz langsung mencebikan bibirnya, “Ya ya ya,, sekalian saja aku gak boleh nyebut Papa Syarief, Ayah Rizal, Papi Latief, Kak Dandy, Mas Hardi, Bang Raka, Kak Rezki, Kak Ars……. “, Naz malah sengaja menyensus nama keluarganya yang berjenis kelamin laki- laki, namun saat Naz akan menyebutkan nama Arsen langsung di hentikan oleh Arfin.


“Stop,,, aku gak mau dengar nama dia disebut”, ucapnya tegas.


“Yaudah sana katanya mau bikinin aku kopi ihh”.


“Iya iya,, ehh,, kok tumben sayang,, biasanya kamu pengen lemon tea hangat?”, Arfin malah kembali bertanya.


“Lagi pengen kopi aja, soalnya aku ngantuk pake banget”.


“Oke,, kalau gitu Aa ke dapur dulu, kamu cepetan mandi gih”, ucapnya dan Naz hanya mengangguk, kemudian Arfin pun beranjak keluar kamar.


10 menit kemudian


Arfin kembali ke kamar dengan membawa nampan yang berisi segelas lemon tea hangat dan segelas kopi hitam pesanan Mbah Nanaz, saat masuk ke kamar betapa terkejutnya ia melihat istrinya tidur sambil memeluk guling,


“Astagfirullah,, sayang,, kamu disuruh mandi malah tidur lagi,, ayok cepetan bangun,, nanti shalat subuh nya kesiangan, kamu tuh ya”, Arfin menggerutu lalu meletakan nampan di atas meja sebelah tempat tidur.


“Ahhh,,, nanti lima menit lagi,,,”, Naz merengek tanpa membuka matanya.


“Ya ampun dari tadi lima menit melulu, gak biasanya kamu gembul kayak gini tidurnya,, katanya mau berangkat pagi ke Jakarta nya, nanti ketinggalan pesawat loh”, Arfin menggerutu.


“Aa sih semalam sampai dua ronde setengah, kan aku gempor”, Naz masih enggan membuka matanya.


“Oke baiklah,, kalau gak bangun juga,, Aa tambahin lagi dua ronde,, sini Aa makan kamu ya”, Arfin memberi ancaman.


Naz langsung membuka matanya lebar- lebar, “Iya iya iya,, aku mandi ,,,”, Naz bangkit lalu berjalan tanpa mengenakan sehelai benang pun pada tubuhnya sambil memeluk guling.


“Sayang,,, kamu mau kemana?”, tanya Arfin heran.


“Apalagi sih?? Ya mau mandi lah”, Naz yang merasa kesal karena tidurnya terus diganggu lalu menghentakkan kaki nya.


“Gak usah bawa guling juga kali ke kamar mandinya, emangnya kamu mau tidur di kloset, sayang ? ”, Arfin terkekeh melihat kelakuan istrinya, kemudian Naz melempar guling nya tepat mengenai wajah Arfin dan ia pun langsung ngacir ke kamar mandi.


"Astagfirullah,,, punya bini jahil nya gak ketulungan,,, untuk gue cinta,, ”, ia menggelengkan kepalanya dan kembali terkekeh.

__ADS_1


Seusai mandi Naz pun berpakaian dan melaksanakan shalat subuh, kemudian ia meminum kopi nya yang ternyata sudah suam- suam kuku. Naz bersiap- siap karena setelah sarapan ia akan diantar ke bandara oleh suaminya. Sebenarnya Arfin tak tega membiarkan Naz pergi sendirian, kalau bukan karena sedang banyak pekerjaan ia pasti sudah mengantarkan istrinya ke Jakarta.


Sepanjang perjalanan Arfin terus mendikte Naz dengan berbagai macam peraturannya, harus selalu mengabarinya dan pergi kemana pun harus izin dulu serta mengirimkan foto keberadaannya, ponsel harus on terus, gak boleh keluyuran, gak boleh tidur larut, gak boleh makan sembarangan, gak boleh pergi ke rumah bunda sendirian, dan banyak lagi sampai membuat Naz yang terus menguap bosan mendengar nya dan ia tak menduga kalau suaminya bisa sebawel itu melebihi kapasitas kebawelan Bunda nya.


“Sayang,,, kalau sudah sampai langsung kabarin ya,, “, ucapnya saat istrinya sudah mengambil boarding pass.


“Iya, sayang,,,”, Naz mengangguk lalu kembali menguap.


“Kamu masih ngantuk? Nanti pas masuk pesawat langsung tidur saja, biar pas nyampe Jakarta segar,,, kalo tidur di pertengahan jalan, nanti saat yang lain turun kamu sendirian tidur di pesawat”.


“Iya tenang aja,, nanti aku pasang alarm biar bangun pas nyampe,, eh gak usah alarm,, lagian ada pramugari ini nanti yang bangunin,, paling kalau terakhir turun dibangunin pilot ganteng”, Naz malah menggoda suaminya.


“Kalau begitu gak usah jadi berangkat, ayok pulang lagi aja ke rumah,, apa- apaan itu sudah punya niat terselubung pengen dibangunin pilot ganteng segala”, Arfin langsung merasa kesal.


“Hahaha,,, aku bercanda sayang,,, biasanya pilotnya juga bapak- bapak,,,".


“Hmmmmm”, Arfin nampak masih kesal.


“Tapi ganteng,,, hahaha", Naz malah makin sengaja.


“Kamu tuh ya… emangnya Aa kurang ganteng apa??”, ucapnya ketus.


“Enggak kok,,, ganteng banget malah,,,”, Naz tersenyum lebar.


“Gombal,,,”, cicitnya.


“Hahahhaa,, udah ahh,, aku pamit dulu “, Naz mencium tangan suaminya lalu memeluknya selama beberapa saat, setelah melepas pelukannya, Arfin mencium bibir istrinya.


“Hati- hati sayang,,, kalau sudah sampai kabarin,, Mama bilang kamu nanti dijemput sama Pak Udin dan Elsa”, ia melepas kepergian istrinya yang beranjak ke tempat menunggu panggilan keberangkatan, karena ia pun harus segera pergi ke kantor untuk menghadiri meeting.


**


Selama satu setengah jam di dalam pesawat Naz tertidur lelap, bahkan saat dibangunkan oleh pramugari pun ia berpikir masih berada di Surabaya alias ngelindur dan itu membuatnya ditertawakan.


Kini Naz telah tiba di kediaman orang tuanya, ia langsung ke kamarnya dan setelah memberi kabar pada suaminya ia pun melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu saat di pesawat tadi, karena saat dalam perjalanan menuju rumah orang tuanya, Elsa terus megajaknya ngobrol sehingga ia tak bisa tidur di mobil.


Malam nya Naz merasa sangat senang, hal yang ia rindukan setelah menikah dan pindah, yakni berkumpul bersama orang tua dan kakak serta saudari perempuannya di ruang tengah sambil ngobrol segala macam seusai makan malam, kini bisa dialaminya lagi. Canda tawa nampak menghiasi obrolan mereka, apalagi saat Pak Syarief mengejek Hardi yang tak kunjung menikah sampai akan dilangkahi kedua kalinya oleh adik perempuannya, tentunya membuat Hardi terus menjadi bulan- bulanan mereka, sampai berniat menjodoh- jodohkannya. Acara pun berakhir saat mereka sudah merasa ngantuk,kemudian kembali ke kamar masing- masing.


Saat masuk ke kamar, Naz melihat ponselnya yang tergeletak di atas tempat tidur dan ia baru teringat kalau dia sudah punya suami. Naz kemudian berbaring di tempat tidur dan langsung mengambil ponselnya yang ternyata sudah ada 37 panggilan tak terjawab serta beberapa pesan dan saat dilihat itu semua ulah suaminya.


“Yassalam,,kenapa aku bisa lupa,, kalau kemana- mana harus bawa ponsel,,, bisa murka ini baginda Raja”, gumamnya lalu menepok jidatnya, kemudian ia menghubngi suaminya lewat panggilan video call.


“Hallo assalamu’alaikum suamiku sayang”, sapanya sambil tersenyum.


“Wa’alaikumsalam,,, kamu kemana aja sih, sudah banget dihubungin, kan Aa sudah bilang kalau...... "


“Maaf sayangku, cintaku,, tadi aku keasyikan ngobrol sama Papa Mama dan yang lainnya,, kan sudah dua bulan lebih gak pernah kayak gini,, jadi aku kangen masa- masa itu”.


“Oh,,, jadi kamu gak kangen sama suami mu yang merindukan mu setengah mati ini, hem ??”.


“Hahaha,,, apaan sih sayang, orang kita baru berpisah beberapa jam saja, sudah rindu setengah mati padaku, lebay deh".


“Jangan Ge-er,, orang Aa ridunya sama si imut”.


“Enggak tuh”


“Ih dasar,,, “, cicit Naz.


“Biasanya malam- malam begini udah mainin si imut,, sekarang cuman meluk guling aja,, gak asik”. keluh Arfin.


“Uluh uluh,, kacian,,, suamiku sayang lagi gegana”,


“Apaan tuh gegana? “.


“Gelisah galau merana,,, hahaha”.


“Ya bisa dibilang seperti itu,, mana malam ini dingin banget lagi".


“Matiin dong AC nya biar gak dingin”.


“Diluar juga dingin sayang,,, kasihan kan si ujang mengerut terus, karena kedinginan”.


“Hahaha,,, angetin donk “.


“Penghangatnya juga malah ke Jakarta”.


“Tinggal ke dapur aja kenapa sih “.


“Ngapain ke dapur,,,? meluk Mbak Retno atau Mabak Jumin? Gak selera tuh”.


“Ehh,,, kuarang asem punya pikiran kayak gitu kamu ya”, gerutu Naz.


“Ya terus ngapain nyuruh Aa ke dapur? orang gak lapar,,, pengennya makan kamu tahu gak...”.


“Kan buat ngangetin si ujang”.


“Caranya?”.


“Aa naik ke atas kompor dan membuka lebar kakinya, terus nyalain kompornya,, hahaha”.


“Kurang ajar,, kamu pengen Aa membakar si ujang?”.


“Hahaha,,, jangan atuh ih udah item masa dibakar, entar tambah angus,, hahaha”


“Dasar tengil,,, item juga lucu dan bisa bikin kamu ketagihan ”.


“Hahaha,,, dihh.. orang Aa yang suka ketagihan minta tambahan jatah melulu,,, wle", Naz malah mengejek dan gak mau kalah.


"Oh iya,, Aa tadi Bunda chat aku dan minta aku main ke rumah nya besok,, boleh gak?”.


“Kalau sendirian gak boleh, kalau ada yang nemenin boleh”.


“Hah,, terus sama siapa dong? kan Raline udah mulai di pingit, sedangkan Elsa besok sekolah, Mama sibuk karena besok ada yang mau pasang dekorasi”.

__ADS_1


“Sama Hardi aja,, besok dia gak ada jadwal mengajar kan? Nanti Aa telpon dia untuk minta tolong nemenin kamu ke Rumah Bunda”., ucapnya menyarankan.


“Oke deh,,, kalau gitu aku tidur dulu,, ngantuk banget ini”.


“Iya,,, “.


“I love you,,, muach muach,, Assalamu’alaikum”.


“Love you too,, wa’alaikumsalam”


Naz pun mengakhiri sambungan video call nya, kemudian ia langsung tidur sambil tersenyum bahagia memeluk gulingnya, karena malam ini ia bisa terbebas sementara dari tugas untuk melayani suaminya seperti malam- malam sebelumnya.


**


Keesokan harinya, setelah selesai sarapan pagi, Naz pergi ke rumah Bunda nya bersama Hardi. Saat hendak sampai, Naz melihat Arsen sedang bersama bapak- bapak botak yang hanya memakai kolor dan kaos dalam saja di bawah pohon kedondong milik salah satu tetangganya. Naz meminta Hardi untuk menghentikan mobilnya, dan ia menurunkan kaca pintu mobilnya.


“Kak Arsen,, lagi ngapain?”, suara Naz mengagetkan keduanya dan membuat mereka membalikan badannya melihat ke arah Naz.


“Nah,,, adik saya yang ini, Pak”, tiba- tiba Arsen menghampiri Naz, “Dek, ayok sini keluar”, pintanya, Naz yang merasa heran dan bingng pun keluar dari mobil. “Pak Cakra kenal kan dengan adik saya ini?”.


“Iya lah kenal,, in kan Nanaz”, jawab Pak Cakra.


“Nah,, jadi gimana Pak,,?”, tanya Arsen.


“Yasudah,, iya- iya,, tapi benar kan dibayar,, ”, ucapnya lagi.


“Iya Pak,, dibayar tunai…”, Arsen kayak maskawin aja dibayar tunai.


Pak Cakra kemudian memanjat dengan susah payah dan mengambil beberapa buah kedondong dan dimasukan ke dalam kantong kresek yang ia bawa. Naz yang merasa bingung kembali masuk ke dalam mobil.


Tak lama setelah Pak Cakra turun, ia memberikan kantong kresek yang sudah terisi penuh itu pada Arsen, dan Arsen memberikannya sebuah amplop pada Pak Cakra. Kemudian Arsen menghampiri mobil Hardi.


“Mau ke rumah Bunda kan?”, tanya Arsen.


“Iya lah,, emangnya mau kemana lagi,,”, Hardi menjawab ketus.


“Titip ini ya,,, aku mau ke toko di pertigaan sana”, Arsen memberikan kantong kresek berisi kedondong itu pada Naz, kemudian Hardi kembali melajukan mobilnya menuju rumah Bunda yang hanya tinggal 300 meter saja.


Naz lalu turun dan langsung menemui Bundanya yang tengah menyiram tanaman di halaman depan, ia mencium tangan dan memeluk bundanya, mereka pun masuk ke dalam sedangkan Hardi setelah menyalami Bunda, ia mendapat telpon lalu mengangkatnya dan kembali masuk ke dalam mobil.


“Kamu bawa apa itu, Dek?”, Tanya Bunda heran saat keduanya tengah duduk di ruang tamu.


“Ini kedondong Bunda,, tadi Kak Arsen di depan abis beli dari Pak Cakra, eh orangnya malah pergi ke toko yang ada di pertigaan sana”, Naz menjelaskan.


“Ya ampun anak itu teh tiap hari ngidam makan yang aneh- aneh”, Bunda mendengus kesal.


“Bunda teh nya meni gak habis pikir Arsen bisa sampai seperti ini,, Bunda kira sebandel- bandelnya dia gak akan sampai menghamili anak orang,,,, emang bener kata orang tua zaman dulu mah, kalau punya banyak anak gak akan mulus semua, pasti ada aja yang beda salah satunya,, dan sekarang Bunda teh ngalamin, Arsen yang menjadi ujian untuk Ayah dan Bunda karena kelakuannya,, Bunda teh rasanya udah gagal mendidik kakak mu itu, Dek,,”, Bunda mengeluhkan soal Arsen.


“Bunda,,, jangan bicara seperti itu,, Bunda sama Ayah adalah orang tua hebat yang bisa mendidik dan membesarkan kami dengan sangat baik,, yang terjadi pada Kak Arsen dan Raline kan kecelakaan, gak ada yang mau seperti ini, Bunda,,, mungkin ini sudah nasibnya mereka seperti ini”, ucap Naz.


“Iya sih dek kamu benar,,, kami juga gak menyangka kalau selama ini dia suka kontekan sama Raline sampai menjalin hubungan,,, dan malah terjadi hal seperti ini”, Beliau nampak menyesal atas apa yang menimpa Raline dan Arsen.


Naz hanya tersenyum canggung mendengar pemaparan Bunda nya, mungkin karena merasa tidak enak juga sudah ikut menyembunyikan hal yang sebenarnya terjadi dan seolah ia mendukung kebohongan Papa nya yang mengatakan bahwa Raline dan Arsen menjalin hubungan sejak lama.


“Hei,, kalian membicarakan ku ya?”, Arsen yang tiba- tiba datang langsung bertanya.


“Dih,,, ge er”, jawab Naz lalu mencebikan bibirnya.


“Kamu teh kemana aja? pagi- pagi bukannya bantuin Bunda nyiram tanaman, malah keluyuran”, tanya Bunda kesal.


“Aku pengen kedondong Bund,, jadi minta deh sama Pak Cakra”, Arsen memberitahukan.


“Hahh?? Kok dia bisa ngasih? Kan dia teh terkenal pelit banget”, Bunda merasa kaget dan heran.


“Aku bilang kalau adik ku sedang ngidam pengen kedondong yang langsung dipetik dari pohonnya, dan meminta Pak Cakra manjat dan mengambilkan buahnya tanpa pakai baju terus aku kasih sejumlah uang”, ucapnya menjelaskan.


“Apa?? ,, pantesan aja tadi kakak ngomong gitu di depan Pak Cakra,, ternyata Kakak menjual nama ku buat ngerjain orang”, protes Naz kesal.


"Beuhh... itu mah atuh sama aja beli bukan minta,, pantesan aja dia ngasih ", cerocos Bunda pada Arsen, lalu beralih pada Naz, "Emang bener kamu lagi ngidam, Dek?”, tanya beliau.


“Enggak Bunda,, itu mah Kak Arsen aja ngarang”, Naz menyangkal.


“Masa iya aku bilang kalau aku yang lagi ngidam,, kan malu Bund”, ucap Arsen.


“Oh,, sekarang teh sudah tahu malu kamu ya”, Bunda menyindir.


“Udah deh Bunda tahan dulu khotbah nya,, aku mau makan kedondong dulu pakai bubuk cabai dan garam”, ucapnya mengambil kantong kresek dan pergi begitu saja menuju ke dapur.


“Tuh lihat dek, dia mah suka ngidam yang aneh- aneh, kemarin aja sehabis pulang dari tempat menyewa kotak hantaran dia teh lihat ada orang botak, langsung dihampiri lalu mengusap- usap kepalanya tanpa izin terus mencium kepala botak itu,, ihhh gareleuh teuing, ternyata orang itu teh banci kaleng,, atuh Arsen teh dikejar- kejar,,, hahaha ”, Bunda tertawa setelah menceritakan kekonyolan Arsen.


“Hahaha,, kebayang itu si banci kayaknya pengen nyium balik deh ,,, hahaha ”.Naz pun ikut menertawakan.


“Bunda mah pura-pura gak kenal we sama Arsen dan langsung masuk ke dalam mobil,, abisnya teh malu banyak orang yang lihat kejadian itu”.


“Hahaha,, ngidam yang aneh,,, kayaknya Kak Arsen lagi suka yang botak- botak deh,, itu juga Pak Cakra kan botak, sampai disuruh gak pakai baju juga kan sama Kak Arsen,,, hahaha", Naz tak hentinya menertawakan keanehan Arsen, begitu juga Bunda.


"Rasain tuh Kak Arsen kena karma akibat perbuatan bejatnya”, ucap Naz disela tertawanya.


Bunda langsung berhenti tertawa, “Perbuatan bejat apa maksud kamu, Dek?”, tanya beliau dengan raut wajah heran dan kaget.


Naz langsung membekap mulutnya, “Oh Emji,,,, kenapa aku bisa keceplosan lagi yassalam,,,,”.


-------------- TBC ----------------


****************************


Happy Reading....😉


Jangan Luva tinggalkan jejakmu....😘


Tilimikicih... aylapyu oll.....


othor kenalin ya... ini Kak Arsen yang terkena sindrome kehamilan simpatik🤭😂

__ADS_1



__ADS_2