
Naz dan Arfin yang saling berpandangan karena terkejut, kemudian membenahi pakaian mereka. Naz yang memakai baju tidur long dress hanya tinggal menurunkan roknya saja lalu mengenakan CD nya dengan terburu-buru. Arfin pun segera mengenakan CD dan celana boxer nya yang beruntung tak ia lempar ke sembarang arah.
Naz bangun dan naik ke atas ranjang untuk menghampiri putrinya. Sementara Arfin kembai membereskan bedcover bekas kegiatan mereka.
“Eh, Cahaya kok bangun ... ini masih malam sayang,” ucap Naz yang masih was- was jika putrinya benar- benar melihat kegiatan yang sudah ia dan suaminya lakukan tadi.
“Mau syusyu ....“ rengek nya masih dengan suara serak khas bangun tidur, sepertinya kesadarannya belum terkumpul semua.
“Sebentar ya sayang, Pagu bikinin dulu,“, ucapnya seolah tak terjadi apa- apa dan ia segera beranjak pergi ke dapur untuk menyeduh susu sesuai permintaan putrinya.
“Ayok kita ke kamar mandi, Cahaya pipis dulu ya. “ Naz lalu menggendong Cahaya yang terlihat masih ngantuk itu dan membawanya ke kamar mandi.
“Semoga tadi ia merasa bermimpi dan gak beneran melihat kami wikwik,” harap Naz dalam hati.
Setelah Naz dan Cahaya yang terlihat masih mengantuk keluar dari kamar mandi, Arfin pun datang dengan membawa segelas susu di tangannya. Arfin memberikannya pada sang putri dan ia pun segera meminumnya sampai habis. Cahaya kemudian kembali berbaring dan melanjutkan tidurnya sambil memeluk guling.
Naz bernafas lega karena putrinya yang biasanya cerewet, tak membahas apa yang dikatakannya main kuda- kudaan itu, ia pun kembali menyelimuti Cahaya lalu mencium keningnya.
“Dia udah tidur lagi?”, tanya Arfin yang baru kembali dari dapur untuk menyimpan gelas bekas minum susunya Cahaya.
“Udah, dia bangun cuman untuk minum susu dan pipis aja seperti biasanya. Apa ku bilang kan, harusnya tadi di kasih susu dulu biar dia gak bangun. Aa sih, jadi kan kita kegep sama Cahaya, gak malu apa?” Naz menggerutu dengan suara pelan.
“Iya maaf, kan gak tahu kalau dia tiba- tiba bangun … lain kali Aa bikinin susu dulu deh sebelum kita bergulat," ucap Arfin terkekeh.
Naz mendengus kesal, “Mudah- mudahan saja ia mengira kalau tadi yang ia lihat itu hanya dalam mimpinya saja,“ ucap Naz berharap.
“Sayang … Cahaya kan sudah mulai besar, sebaiknya kita mulai membiasakan dia supaya tidur di kamar nya saja ya, biar mandiri. Apalagi pertengahan tahun ini, dia kan sudah akan mulai sekolah.” Arfin malah menyarankan putrinya tidak tidur bersama mereka lagi.
“Iya juga sih, nanti kita coba ya," kali ini Naz pun berpikiran hal yang sama.
“Iya, biar kita juga bebas bercinta. Kita ini kan suami istri, tapi kalau mau bercinta harus kucing- kucingan kayak pasangan mesum takut kepergok orang sekampung tahu gak. Jadinya kan gak bisa menikmati sepenuhnya.” Ternyata itulah alasan Arfin yang sebenarnya.
“Heleh… Aa tuh bercinta aja yang dipikirin, sebal”.
“Tapi kan kamu juga suka, sayang.”
“Udah ah, ayok kita tidur, nanti kesiangan lagi,” ucapnya lalu keduanya pun tidur dengan posisi saling menyamping menghadap pada Cahaya tidur di tengah- tengah mereka.
**
Pagi nya setelah sang suami berangkat kerja, Naz memandikan Cahaya seperti biasanya, karena sejak bagun tidur ia akan menempel terus dengan Pagu- nya dan bisa lepas saat mengantarkan kepergian Pagu-nya untuk bekerja. Dan beruntung Cahaya tak membahas apa pun soal semalam, sepertinya memang ia merasa itu hanya mimpi.
Karena Cahaya belum bersekolah, Naz membelikannya buku- buku edukasi seperti buku cerita, buku doa- doa bergambar yang akan ia bacakan serta beberapa poster angka, huruf abjad dan hijayah, gambar alat transportasi, gambar hewan, buah- buahan, dan sayuran yang di tempelkan di dinding kamarnya.
Naz dan suaminya telah sepakat sebisa mungkin menjauhkan putrinya dari benda elektronik yang bernama gadget. Entah itu handphone, ipad, iphone, tab dan sebagainya. Karena miris melihat anak zaman sekarang banyak yang ketergantungan pada gadget. Bukannya digunakan sebagai sarana informasi dan komunikasi untuk pendidikan, malah lebih sering dipakai untuk main game online atau pun tik-tok-an yang sebenarnya tidak bermanfaat untuk pendidikan mereka.
Naz dan Arfin lebih memilih memberikan putri mereka berbagai jenis mainan edukasi, semisal lego, puzel, rubik kubus, congklak, shape sortir, mainan berbagai jenis hewan dan buah- buahan, dan tak lupa anak perempuan tentunya menyukai boneka, rumah- rumahan, dan alat masak- masakan. Serta membiarkannya menonton film atau acara anak- anak di televisi dari pada menonton youtube di gadget. Bahkan mereka sampai membeli kaset DVD acara kartun atau animasi kesukaannya, karena terkadang Cahaya akan menangis atau marah saat acara kesukaannya terjeda iklan.
Naz dan Arfin pun membiasakan mengajak serta putrinya untuk shalat bersama mereka jika sedang berjama’ah, atau hanya bersama Naz saja saat ia seharian bersama putrinya di rumah. Awalnya Cahaya yang mengenakan mukena akan mengikuti gerakan Magu-nya saat shalat, namun selanjutnya ia akan mengganggunya. Kadang ia tiduran di atas sajadah depan Magu-nya, atau memeluk kaki Magu-nya, bahkan saat Magu- nya duduk diantara dua sujud ia akan memeluk Magu- nya dari belakang, sehingga saat Naz sujud maka Cahaya mendaplok di punggung Naz.
Jika sedang tidak ada jadwal kuliah, Naz akan mengajak putrinya belajar sambil bermain, entah itu menyanyi, membacakan doa sehari- hari, belajar berhitung satu sampai sepuluh, menyebutkan nama- nama hewan, buah dan sayuran sesuai gambar yang ditunjukannya, nama- nama warna, baik itu dengan bahasa Indonesia atau pun dengan bahasa Inggris. Bukan Cahaya namanya kalau tidak membuat Magu- nya kesal serta gemas dengan kelakuannya.
“Cahaya… buah ini namanya apa?”, Naz menunjukkan salah satu mainan buah milik Cahaya dari hamparan mainan yang berserakan di atas karpet di ruang tengah.
“Itu namanya melon, dan Chaya syuka melon,” jawabnya dengan nada manja.
“Warnanya apa ya?” Naz kembali mengetesnya.
“Hijau ... eh green," jawaban Cahaya asih benar.
“Wah, pinter nya anak Magu… Kalau yang ini buah apa coba?” Naz kembali menunjuk buah lain.
“Itu Manyu, Chaya ndak syuka, buahnya bikin mulut gatel." Jawaban Cahaya mulai melenceng.
“Kok Manyu sih ... yang betul dong, sayang.” Naz mengoreksi.
“Kan namanya sama sama nama Manyu, peneaple ... hahaha.” Cahaya malah tertawa.
Naz hanya mendengus melihat putrinya menertawakan namanya. “Emm ... kalau lego ini warnanya apa sih, ko Magu lupa ya?” Naz kembali mengetes putrinya lagi.
“Itu warna yellow, masya Mangu ndak tau ih.” Cahaya malah mengejek Naz.
“Terus yang warna yellow ini ada berapa ya? Coba Cahaya hitung deh.”
“Wan, cu, cri, prot ....“ Cahaya menghitung dengan menggunakan bahasa Inggris.
“Four bukan prot ih. Emangnya kentut apa ...." Naz mengoreksi.
“Ih Manyu, kalau kentut itu duutt ... bukan proooot," ucapnya sambil memonyongkan bibirnya.
“Yang bener dong sayang bilangnya ih, nanti diledekin sama Onty Aliya loh.” Naz tahu jika Cahaya paling tidak suka kalau diledekin oleh Aliya yang terkadang menemaninya bermain saat sore hari atau pun hari minggu saat Aliya libur sekolah.
“Biarin, ndak takut. Nanti Chaya bilangin Pagu, wle ....” Rupanya tidak mempan.
__ADS_1
Naz menghela nafas kasar, “Hmhhh, dasar anak Arfin ....“ ucapnya kesal sekaligus gemas,
"Cahaya main nya ditemani Mbak Retno dulu ya, Magu mau ngerjain tugas dulu, boleh?“ ucapnya lalu meminta izin sang anak.
“Iya, boleh .…” Cahaya mengangguk.
Naz pun sedikit menjauh dari tempat putrinya bermain. Ia duduk di sofa ruang tengah, lalu membuka laptopnya yang sebelumnya diletakan di atas meja untuk memeriksa ulang hasil laporan magangnya yang sudah selesai revisi dan tinggal sidang laporan hasil magang atau seminar magang yang akan dilaksanakan minggu depan. Ia juga memeriksa hasil laporan yang sudah di print out olehnya serta kembali mempelajarinya.
Cahaya yang sedang bermain dengan Mbak Retno terus saja berisik, bernyanyi di atas motor pink nya, lalu berlarian kesana kemari sambil ketawa- ketiwi karena mengerjai Mbak Retno. Bahkan ia berlari mengelilingi Naz dengan membawa boneka sapi sambil teriak- teriak seolah dia tengah menaiki kuda lumping, yang tentunya itu sangat mengganggu. Akhirnya Naz meminta Mbak Retno untuk mengajak Cahaya bermain di halaman samping yang terdapat beberapa wahana permainan mini, seperti prosotan dan ayunan, sehingga Naz bisa belajar tanpa di ganggu oleh putrinya.
Bukan hanya bermain prosotan, tapi ia terus berlarian di halaman samping yang kemudian meminta untuk berenang di kolam renang yang ada di sana. Mbak Retno mengajak Cahaya kembali masuk ke rumah untuk meminta izin pada Magu- nya yang kemudian mengganti pakaiannya setelah mendapat izin, tentunya Mbak Retno menemani anak majikannya itu berenang.
Sorenya, Naz yang sudah selesai memasak hendak mengajak Cahaya untuk mandi, namun saat ia menghampiri putrinya yang sebelumnya berada di ruang makan, ternyata ia tertidur di kursi meja makan.
“Ya ampun anak ini, gak biasanya tidur jam segini. Kayaknya capek seharian ini main terus sampai kelelahan gitu”, Naz tersenyum sambil menggeleng- gelengkan kepalanya melihat posisi tidur sang anak.
Naz kemudian menggendong Cahaya dan membawanya untuk menidurkannya di kamarnya. Karena jika ia tidur siang atau bermain akan menggunakan kamarnya, sedangkan malamnya ia akan tidur bersama kedua orang tuanya.
Setelah ia membaringkan sang anak, Naz menyelimutinya lalu mencium kening putri kecilnya itu.
“Hah ... kok keningnya panas ?” Naz kemudian menyentuh leher putrinya yang ternyata panas juga.
Ia segera mengambil termometer dari laci yang khusus tempat P3K, kemudian digunakannya untuk mengecek suhu tubuh sang anak. Dan ternyata hasilnya menunjukan 37,3derajat celcius.
“Ya ampun, Cahaya demam. Haduh ... gimana ini, mana sebentar lagi aku ada seminar magang lagi.” Naz terkejut melihat angka yang tertera di termometer tesebut, karena ia sudah sangat hafal tingkah Cahaya saat sakit.
Naz segera pergi ke dapur, lalu ia mengambil air hangat yang dimasukan ke dalam wadah kecil dan kembali lagi ke kamar Cahaya. Naz membuka lemari pakaian dan mengambil sapu tangan berbahan seperti handuk yang kemudian dicelupkan ke dalam air hangat dan digunakan untuk mengompres dahi putrinya. Ia menarik kembali selimut sang anak, lalu berbaring di samping Cahaya untuk merawat dan menjaganya sembari menunggu Arfin yang sedang dalam perjalanan pulang untuk membawa Cahaya ke dokter yang telah ia hubungi untuk membuat janji.
Setelah shalat magrib, Arfin dan Naz membawa Cahaya ke dokter anak untuk memeriksakannya. Beruntung Cahaya hanya demam saja, sepertinya karena kelamaan bermain air tadi pagi di kolam renang. Setelah menebus resep obat mereka pun pulang.
Setibanya di rumah, Cahaya langsung disuapi makan walau hanya sedikit, dan dilanjutkan meminum obat sirup yang dicampur obat bubuk. Untuk meminumkannya, Arfin dan Naz butuh perjuangan keras, karena sang anak yang susah sekali minum obat. Semalaman Cahaya susah tidur karena demamnya dan terus minta digendong oleh Arfin, sehingga keduanya bergantian menjaga Cahaya sampai begadang.
Keesokan harinya pun masih sama, Cahaya tidak mau lepas dari Arfin, sehingga ia terpaksa bolos kerja. Namun hal itu menguntungkan Naz, sehingga ia bisa konsentrasi pada persiapan seminarnya.
Arfin yang sudah tidak masuk kerja selama dua hari, saat akan kembali bekerja terjadi drama yang dilakukan Cahaya. Akhirnya Naz yang biasanya mengantarkan suaminya sampai depan rumah, kini terpaksa mengantarkan suaminya ke kantor bersama Cahaya. Karena ia tak mau lepas dari Arfin, maka Naz yang sudah satu tahun ini bisa menyetir yang mengemudikan mobil. Sedangkan Uje mengikuti dari belakang membawa mobil Arfin yang biasa dipakai ke kantor.
**
Selama satu bulan ini Naz disibukan dengan tugas- tugas kampusnya, belum lagi Cahaya yang mendadak berubah manja semenjak sakit. Walaupun ia sempat terbantu oleh keberadaan Bu Rahmi selama seminggu di sana , sehingga ia bisa konsentrasi pada seminar magangnya. Dan beruntung, seminarnya berjalan lancar dengan hasil yang memuaskan.
Naz kembali disibukan membuat proposal pengajuan judul skripsi dan menyerahkannya pada dosen pembimbing yang telah ditentukan pihak kampus. Dan setelah beberapa kali revisi, akhirnya bisa di- Acc juga. Kini ia tinggal mulai menyusun skripsinya dan obyek penelitiannya masih berhubungan dengan perusahaan suaminya yang bergerak di bidang kontruksi, agar lebih memudahkannya dalam pengerjaannya.
**
Weekend ini Arfin menghabiskan waktunya bersama Cahaya di rumah saja, karena Naz sedang merasa kurang enak badan dan setelah shalat subuh ia kembali tidur lagi. Ia bangun hanya untuk sarapan saja, dan itu pun makannya di kamar diantarkan oleh Mbak Retno, karena Arfin sedang menyuapi Cahaya makan. Seusai sarapan, Naz minum vitamin lalu melanjutkan lagi tidurnya.
Setelah kedatangan Aliya, Cahaya baru bisa lepas dari Arfin. Ia pun bermain dengan Aliya, sedangkan Arfin pergi ke kamar untuk melihat keadaan istrinya. Dan saat ia masuk, istrinya baru keluar dari kamar mandi nampak berjalan sambil memegang kepalanya. Ia pun dengan segera menghampiri Naz lalu menggendongnya dan membaringkannya di tempat tidur.
“Sayang, kita ke dokter aja yuk.“ ajaknya yang khawatir melihat keadaan istrinya.
“Ini kan hari minggu, mana ada dokter yang praktek … Aku gak apa- apa kok, cuman kecapek-an aja.“ Naz memberi alasan untuk menolak berobat ke dokter.
“Tapi wajahmu sampai pucat gitu, barusan aja kamu jalan sempoyongan. Aa khawatir kamu kenapa- napa, minum obat juga kan gak boleh ngasal tanpa tahu penyakitnya, Aa hubungi dokter aja ya biar kamu diperiksa di rumah aja.” Arfin tetap ingin Naz diperiksa oleh dokter, agar diobati secara tepat.
“Gak usah A, beneran deh aku gak apa- apa kok,,, tadi pagi juga setelah sarapan langsung minum vitamin. Jadi tinggal banyak istrahat aja, nanti juga baikan.” Naz masih tetap menolak.
Tok tok tok…
“Non, iki si Mbak ....” seru Mbak Jumin dari balik pintu.
“Masuk Mbak Jumin ....“ sahut Arfin mempersilahkan, dan Mbak Jumin pun masuk dengan membawa sesuatu di tangannya.
“Iki loh Den, ada tagihan telepon rumah sama wifi." Mbak Jumin menyerahkan dua lembar kertas yang ia bawa.
“Loh, sayang ... tumben kamu belum bayar tagihan?? Biasanya sebelum tanggalnya kamu udah bayar ....” Arfin bertanya pada Naz.
“Hah ... Emang udah telat ya? Emangnya sekarang tanggal berapa?” tanya Naz yang sampe tanggal saja ia bisa tidak ingat.
“Tanggal 10 Non ....“ jawab Mbak Jumin.
“Astagfirullah, berarti udah kelewat empat hari ya?” Naz baru menyadari, “Ya ampun, kok aku bisa sampai lupa ya?” Naz memijat kepalanya yang terasa pusing.
“Yasudah biar Aa saja yang bayar tagihannya, sini kertasnya.“ Arfin meminta kertas tagihannya, kemudian ia merogoh sakunya untuk mengambil ponsel dan ternyata ia tak menemukannya.
“Kenapa A?” tanya Naz yang melihat suaminya nampak bingung.
__ADS_1
“Oh iya lupa… ponsel Aa tadi di charger di kamar Cahaya saat main dengannya. Aa ngambil ponsel dulu ya ke kamar Cahaya."
“Iya, A ....“ ucapnya lalu sang suami pun beranjak pergi.
“Si Mbak juga permisi, Non." Mbak Jumin pun pamit untuk pergi.
“Mbak Jumin, tolong pijitin kaki aku ya, rasanya pegel banget ...." Naz meminta tolong.
“Nggih, Non. “ Mbak Jumin pun menghampiri Naz dan duduk di pinggiran ranjang, kemudian mulai memijat kedua kaki Naz secara bergantian.
Naz yang duduk selonjoran pun memijat kepalanya yang terasa pusing. Tiba- tiba ia teringat sesuatu yang mengejutkan dirinya sendiri,
“Ya ampun ... kalau ini tanggal sepuluh, berarti aku _____ “ gumam Naz dalam hati lalu ia membekap mulutnya.
“Astagfirullah ... kenapa aku bisa sampai lupa, kalau bulan lalu Cahaya membuang semua pil KB-ku, dan aku belum membelinya lagi sampai sekarang. Walaupun kemarin- kemarin jarang berhubungan, tapi ___ argh … Yassalam, jangan- jangan aku____ . Berarti sekarang aku udah telat seminggu. Aduh gimana ini?? Bisa- bisa dia marah ….” Naz yang masih terkejut kembali bergumam dalam hatinya. Perasaannya tidak karuan, dan kepalanya terasa lebih pusing.
Beberapa kali ia terus menghela nafas panjang untuk menenangkan dirinya sendiri sembari memijat kepalanya.
“Mbak Jumin .... “ panggil Naz.
“Nggih, Non," sahut Mbak Jumin.
“Emmm … Mbak Jumin tolong ke apotek ya,” ucap Naz kembali minta tolong.
“Nggih, Non… mau beli obat apa ya Non?” tanya Mbak Jumin.
“Tolong belikan tespack ya,” ucap Naz pelan.
“Hah … Tespack? Non hamil lagi? Alhamdulillah ....” Mbak Jumin merasa senang majikannya hamil lagi.
“Sssttttt, jangan keras- keras ngomongnya … Mbak Jumin belinya diam- diam aja ya, jangan sampai ketahuan siapa pun, termasuk suami saya.” Naz meminta Mbak Jumin merahasiakannya.
“Oh ... siap Non,” ucapnya dengan semangat. Mbak Jumin berpikir jika Naz ingin memberikan kejutan untuk suaminya.
Naz membuka laci yang berada disebelah tempat tidurnya, ia mengambil dompet lalu memberikan uang pada Mbak Jumin.
“Ini uangnya Mbak… Beli tespack nya dua, sekalian mampir ke kios buah untuk beli buah naga sama melon ya. Cahaya suka banget, semalam aku lihat stok di kulkas sudah habis.” Naz memberitahukan apa saja yang perlu dibeli Mbak Jumin.
“Nggih, Non… si Mbak permisi dulu.” Mbak Jumin pun segera melaksanakan titah sang majikan.
Naz kembali berbaring dengan perasaan gelisah, ia terus mengubah posisi tidurnya, menyamping ke kanan, terlentang, menyamping ke kiri. Ia takut suaminya akan marah jika ia benar-benar hamil, karena mereka berdua sudah sepakat tidak akan memiliki anak lagi, lebih tepatnya Arfin yang memaksakan kehendaknya pada Naz untuk tidak hamil lagi.
“Bagaimana ini? Pasti dia akan sangat marah kalau aku sampai hamil lagi … Mana sekarang lagi sibuk- sibuknya ngurusin skripsi … Kenapa aku bisa sampai lupa gak beli pil KB lagi sih? Kok aku bisa sampai gak sadar kalau sebulan ini gak minum pil KB, bego bego bego ....“ Naz yang gelisah terus mengerutuki kecerobohannya, hingga tak terasa ia pun tertidur.
Setengah jam kemudian, Mbak Jumin sudah kembali, ia masuk ke kamar Naz dan menghampiri majikannya yang tengah tidur.
“Non… Non…” Mbak Jumin membangunkan Naz karena takut ketahuan oleh Arfin.
“Emhhh…. Kenapa Mbak?” Naz terbangun mendengar suara Mbak Jumin, ia masih berusaha membuka matanya.
“Maaf Non, si Mbak main masuk aja, dari tadi diketok pintunya gak ada yang nyahut. Oh iya, Iki tespack-nya, Non.” Mbak Jumin menyerahkan kantong kresek kecil.
Naz langsung membuka matanya dan bangkit lalu duduk. Ia mengarahkan pandangannya ke sekeliling kamarnya seperti mencari keberadaan seseorang.
“Tenang Non, Den Arfin sedang menemani Non Cahaya bermain sepeda di luar”, Mbak Jumin seolah mengerti jika majikannya itu tidak mau soal tespack diketahui oleh suaminya.
"Oh iya Non, iki akua gelas-nya, karena si Mbak bingung mau bawa apa buat air seni nya Non nanti.” Mbak Jumin pun memberikan air mineral dalam kemasan gelas plastik.
“Makasih ya Mbak ….” Naz menerima kantong kresek kecil berisi tespack dan air mineral yang disodorkan Mbak Jumin.
“Nggih Non, si Mbak permisi dulu." Ia pun pamit pergi.
“Iya, Mbak.“ Naz memperhatikan benda yang ada di tangannya, ia nampak masih merasa takut. Padahal seharusnya ia bahagia jika ia hamil lagi, tapi ia terus memikirkan reaksi suaminya saat mengetahui jika ternyata ia hamil.
Naz menghela nafas panjang beberapa kali, lalu ia beranjak dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi dengan langkah gontai dan pikiran yang berkecamuk. Naz membuang isian akua gelas, lalu menggantinya dengan air seni-nya. Setelah ia selesai dan mencuci tangannya, ia lalu membuka kemasan tespack dan mencelupkan ujungnya kedalam gelas berisi air seni-nya yang ia letakan di wastafel.
Tiktok,,tiktok,,tiktok,,,
Menunggu satu menit rasanya seperti menunggu setahun untuk melihat hasil tespack tersebut. Ia mengangkat tespack dari akua gelas lalu memperhatikan benda itu dengan perasaan harap- harap cemas dan waswas. Betapa terkejutnya ia, saat melihat hasil tespack-nya menunjukan dua garis merah yang menandakan bahwa dia positif hamil.
Naz membekap mulutnya, “Ya ampun, aku beneran hamil… gimana ini?” gumamnya dalam hati.
Pertanyaan Naz membuatnya menjadi seperti orang terkonyol di dunia dan jika ada orang yang mendengarnya, pastilah akan menertawakannya. Yang benar saja ia merasa ketakutan saat mengetahui dirinya hamil, padahal jelas- jelas ia punya suami dan yang menghamilinya tentu saja siapa lagi kalau bukan pemilik si Ujang, Aa Arfin seorang.
Naz membuang air seninya ke kloset dan memasukan gelas plastik bekasnya ke dalam kantong kresek. Ia pun mencuci tespack tersebut menggunakan sabun. Ia terus memegangi tespack tersebut, lalu duduk di atas kloset yang sudah ditutupnya.
Tak bisa dipungkiri sebenarnya ada rasa bahagia yang membuncah di dalam dadanya saat mengetahui ia hamil untuk yang kedua kalinya. Ia melihat ke arah perutnya yang masih rata lalu mengusapnya dengan lembut. Namun rasa takut tiba- tiba menghampiri dirinya saat memikirkan reaksi suaminya jika mengetahui hal itu. Entah itu takut karena kesensitifan wanita hamil, entah Naz saja yang terlalu berpikir berlebihan.
Ceklek ….
Tiba- tiba ada yang membuka pintu dan mengagetkan Naz, sehingga tanpa sengaja ia menjatuhkan tespack yang sejak tadi dipegangnya ke lantai tepat di depan kaki orang yang baru saja masuk ke dalam kamar mandi.
--------- Extra_Part07-------
__ADS_1