Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Terungkapnya Rahasia Naz


__ADS_3

Duo sahabat, Arfin dan Dandy seharian ini menjelma menjadi dua orang baby suster dari anak gadis tengil yang bernama Rheanazwa Eleanoor Harfi. Mereka mengikuti apa pun yang diinginkan gadis itu demi untuk menghiburnya, termasuk menaiki wahana ekstrim yang tidak pernah dilakukan Dandy sebelumnya, dan itu berakhir dengan ejekan dari sepasang kekasih tersebut hingga mereka sampai di rumah sekali pun.


Kini ketiganya tengah berada di teras depan untuk masuk ke dalam rumah, Naz membuka pintu yang ternyata tidak dikunci, padahal Dandy sudah bersiap untuk menekan bel yang ada di samping pintu tersebut.


Ceklek …. Naz membuka pintu lalu masuk dimana Arfin dan Dandy mengekorinya dari belakang. Betapa terkejutnya Naz melihat orang yang sedang duduk di kursi tamu.


Salah seorang yang kondisinya nampak agak pucat dengan perban di kepala serta di tangannya, tersenyum bahagia dan nampak haru saat melihat Naz, “Naz,,, putriku”, ucapnya dengan mata yang berkaca- kaca lalu ia berdiri dan berjalan menghampiri Naz yang nampak terkejut juga takut melihatnya, Naz pun berjalan mundur hingga salah satu lengannya menubruk Arfin, lalu ia bersembunyi di balik tubuh Arfin seolah meminta perlindungan.


“Naz,,, “, panggilnya lagi dengan mengulurkan tangannya hendak menyentuh Naz namun tangannya segera ditangkap oleh Arfin.


“Cukup Tante,,, jangan pernah menyakitinya lagi,,, “, ucap Arfin dengan tatapan tajam lalu menurunkan tangan Bu Rahmi dengan pelan.


Ia langsung berlutut dan tangisnya pecah seketika,, “Naz,,, maafkan Mama,,, huhuhu… Mama minta maaf nak,,, mama minta maaf,, anakku,,, huhuhu”, ucapnya dengan berlinang air mata penuh penyesalan. Arfin dan Dandy sangat terkejut mendengar perkataan Bu Rahmi yang terus menangis sambil berlutut itu. Sementara Naz membekap mulutnya sambil terisak.


Pak Syarif pun langsung menghampiri istrinya itu, kemudian ia berjongkok, “Ayok bangun, jangan seperti ini,,,”, ajaknya dengan memegang kedua bahunya untuk membantunya bangun, namu Bu Rahmi menggelengkan kepalanya masih dengan posisi berlutut sambil memandang ke arah Arfin berharap Naz mau menampakan diri.


“Naz,,, Mama minta maaf,,, mama minta maaf nak…. huhuhu “, ucapnya dengan terus berlinangan air mata.


Naz yang sudah tidak sanggup melihat itu dari balik tubuh Arfin, hendak melangkah menghampiri Mama nya itu, namun tiba- tiba bayangan saat di rumah sakit kembali terlintas di kepalanya ‘pergi,, kau pergi,, aku sangat membencimu’ kata- kata itu terngiang di kepalanya berulang- ulang. Lalu ia pun mengurungkan niatnya dan malah berlari pergi ke kamarnya. Brakk… Naz menutup pintu kamarnya dengan keras.


“Naz,,,, “ Bu Rahmi kembali memanggil Naz disela tangisannya, ia hendak berdiri tapi malah jatuh tersungkur, lalu dibantu dibangunkan oleh Arfin dan Pak Syarief,,, “Naz,,,, huhuhu”, teriaknya membuat tangis nya semakin pecah, lalu Pak Syarief memeluknya dan membantunya berdiri.


“Sudah,,, sudah cukup Rahmi,,, beri dia waktu untuk menenangkan diri,,dia masih sangat shock,,,, “, ucap nya menenangkan istrinya, namun Bu Rahmi langsung melepaskan dirinya dari pelukan suaminya dan berjalan dengan cepat menuju kamar yang tadi dimasuki oleh Naz.


Ia mengetuk pintu kamar itu, lalu menempelkan wajah dan tubuhnya ke pintu, “Naz,,, Mama minta maaf nak,,, Mama benar- benar minta maaf,,, buka pintunya nak,,, Mama ingin bertemu dengan mu,,,Mama ingin memelukmu nak,,,, buka pintunya,,, huhuhuhu hiks hiks,,, ”, ucapnya sambil memukul- mukul pintu menggunakan kepalan tangannya dengan pelan, hingga ia memerosotkan tubuhnya hingga duduk, “Buka nak,,, Mama mohon,,, buka pintunya... huhuhuhu”, pintanya dengan terus memukul- mukul pintu dan air mata yan terus mengalir.


Naz pun sama halnya ia duduk membungkuk di balik pintu sambil menangis dengan perang batin yang bergejolak, antara ingin menemui Mama nya itu dan memeluknya sebagai seorang ibu, namun rasa sakit yang timbul karena perlakuan buruk Mama nya padanya terus melintasi kepalanya dan solah mencabik- cabik ulu hatinya.


“Hentikan Rahmi, ayo bangun,,, sudah cukup,,, beri Naz waktu,, di masih shock,,, tolong jangan seperti ini,, ayo bangun”, ucap Pak Syarief lalu membantu istrinya yang masih menangis bangun dari duduknya dan membawanya ke ruang tamu, dimana ada Bunda Anita, Dandy dan Arfin. Lalu mereka semua duduk, Arfin mencharger ponselnya pada colokan yang ada di dinding belakang kursi yang didudukinya.


Bunda Anita mendekat dan duduk di sebelah kakak iparnya itu, “Mbak,,, berikan waktu bagi Naz untuk menyendiri, dia pasti masih shock dengan semua ini,, lagi pula Mbak Rahmi juga belum pulih benar ya kan”, ucapnya.


“Dia pasti sangat membenciku, Nita,,, aku tidak pernah bersikap baik padanya,,, bahkan aku,,, huhuhuhuhu”, Bu Rahmi tidak sanggup melanjutkan kalimatnya lagi karena mengingat perlakuan buruknya pada Naz.


“Itu teh jari tangan Mbak kenapa kok luka gitu?”, tanya Bunda saat melihat jari tangan kanan Bu Rahmi. ”Dandy, tolong ambilkan kotak P3K “, Titah Bunda dan Dandy bergegas pergi mengambilkannya.


Pak Syarief langsung memegang tangan istrinya, “Ya ampun,,, kamu tadi terus- terusan memukul pintu sampai jari- jari tangan mu luka begini”.


“Biarkan saja Mas,, patahkan saja sekalian tanganku ini Mas,,, karena dengan tangan ini aku dengan teganya sudah menampar putriku sendiri,,, huhuhuuhu,,,,, Naz pasti sangat membenciku,,,, huhuhuhu”


Arfin yang masih merasa bingung pun ikut membuka suara, “Naz tidak membenci Tante,, justru dia sangat menyayangi Tante,,, tak peduli seperti apapun sikap Tante padanya,, bahkan beberapa hari yang lalu pun Naz membahayakan dirinya sendiri untuk menyelamatkan Tante”


“Aku memang bodoh,,, tidak biasa mengenali putri ku sendiri,,,hiks hiks hiks,,, semua ini gara- gara kamu Mas,,, gara- gara kamu perempuan itu memisahkan ku dengan putri kandungku sendiri,,, huhuhuhu hiks hiks”, Bu Rahmi membentak suaminya dan melepaskan tangannya yang dipegang suaminya itu.


“Putri kandung ? maksud Tante, Naz itu putri kandung Tante?” tanya Dandy yang baru kembali dengan membawa kotak P3K di tangannya, kemudian memberikannya pada Bunda.


“Iya, Dan…”, jawab Bunda yang membuat Dandy dan Arfin terkejut.


“Bagaimana bisa Bunda,,, bukannya Naz itu anaknya Bu Mira?”, Dandy kembali bertanya.


“Jangan sebut nama perempuan iblis itu lagi…. Huhuhu”, teriak Bu Rahmi.


“Ayok Mba,, kita ke kamarku saja,,,sebaiknya Mbak beristirahat, sekalian saya obati luka di tangan Mbak.”, Bunda mengajak Bu Rahmi dan beliau pun menuruti ucapan Bunda. Mereka berdua pun beranjak dan pergi ke kamar.


“Om,,, apa maksudnya ini,,,? aku kok merasa bingung”, Dandy yang masih penasaran kembali bertanya pada Pak Syarief.


Pak Syarief terdiam sejenak lalu menghela nafas panjang, “ Awalnya Om terkejut saat Naz mengatakan kalau golongan darahnya sama dengan Rahmi yaitu B rhesus negatif, sedangkan golongan darah Om O positif begitu pun dengan Mira, sehingga timbul pertanyaan di benak Om, mungkinkah Mira sudah menipu Om. Makanya Om meminta bantuan ayah mu untuk melakukan tes DNA ulang antara Om dengan Naz. Karena saat itu Naz akan mendonorkan darahnya, pasti ada pengecekan sampel darah, lalu Ayah mu meminta bantuan petugas di instalasi bank darah untuk mengambil sampel darahnya Naz, sehingga kami bisa melakukan tes DNA secara diam- diam, dan hasilnya akan keluar 3-4 hari”, Pak Syarief mulai menceritakan kronologisnya.


“Pantas saja Om,, aku sempat merasa curiga saat petugas mengambil sampel darah Naz sampai satu suntikan penuh, karena biasanya pengecekan Hb hanya ditusuk saja dengan jarum seperti bolpoin”, Arfin menemukan jawaban kecurigaannya sebelumnya. “Apa itu juga yang menjadi alasan perubahan sikap Om pada Naz?”.


“Iya Ar,,,, saat itu Om merasa dibohongi oleh Mira dan sempat mencurigai kalau Naz bukan anak kandung Om,, dan salahnya Om malah menjaga jarak dengan Naz takutnya dia memang bukan anak kandung Om ”, jawab Pak Syarief.


“Tapi kan Om,,, tujuh tahun yang lalu Om sudah melakukan tes DNA dengan Naz, kenapa masih meragukan Naz?”, tanya Dandy.


“Memang benar, dulu kami melakukan tes DNA dengan menggunakan rambut Naz karena dia takut dengan jarum suntik, sehingga Om tidak tahu golongan darah Naz, dan saat tahu tiba- tiba kecurigaan itu muncul”, jawabnya lagi.


“Bagaimana Om bisa tahu kalau Naz anak kandung Om dan Tante Rahmi?”, Tanya Arfin heran.


“Tadi pagi Mira datang ke rumah sakit menemui Rahmi…. ”, Pak Syarief menjawab lalu ia terdiam.


Flashback


Tok tok tok…. Terdengar suara ketukan pintu


“Masuk,,, “, seru Bu Rahmi yang kebetulan sedang sendirian di dalam ruangan rawat inap tersebut, dan si pengetuk pintu pun masuk dengan langkah perlahan.


“Kau,,,, mau apa kau kesini?”, tanya Bu Rahmi ketus.


“Saya minta maaf sebelumnya telah lancang datang ke sini,,, tapi saya sudah tidak bisa terus menyembunyikan kebenaran ini”, ucap Bu Mira tanpa basa- basi.


“Kebenaran ? kebenaran apa maksud mu?”, tanya Bu Rahmi heran.


Bu Mira menghela nafas sejenak lalu ia mendekat ke tempat ranjang Bu Rahmi dan duduk di sebuah kursi yang ada di sana.


Ceklek …. Tiba- tiba ada yang masuk ke ruangan itu dan membuat keduanya memandang ke arah orang yang baru masuk itu. Saat mata Bu Mira bertemu pandang dengan orang itu, ia langsung menghampiri Bu Mira, “Kebetulan kamu ada di sini, ada yang saya perlu bicarakan dengan kamu, Mira”, ucapnya dengan tatapan tajam.


“Saya juga datang ke sini karena ada hal penting yang harus dibicarakan dengan kalian”, Bu Mira kembali ke pembahasan.


“Kamu sudah menipu saya dengan mengatakan kalau Naz adalah anak kandung saya”, Pak Syarief langsung melontarkan tuduhan.


“Saya tidak menipu mu Syarief, bukankah saat itu kamu dan Naz sudah melakukan tes DNA?”, Bu Mira mengelak.

__ADS_1


“Lalu bagaimana bisa Naz memiliki golongan B rhesus negatif, sedangkan golongan saya O positif dan kamu juga bergolongan darah O bukan? Berarti itu membuktikan kalau Naz bukan anak kandung saya”, ucap Pak Syarief.


Bu Mira kembali menghela nafas panjang untuk menguatkan dirinya mengatakan rahasia yang selama ini dipendamnya,” Saya tidak menipu mu,,, karena Naz memang anak kandung kamu Syarief,,, juga anak kandung Rahmi”.


“Apa?”, tanya Bu Rahmi dan Pak Syarief serentak .


“Apa maksudmu bicara seperti itu,, kebohongan apa lagi yang kamu buat, Mira?”, Bu Rahmi bertanya dengan nada marah.


“Saya tidak berbohong,,, Rhenazwa adalah anak kandung kalian,,,, “, ucapnya lalu menunduk.


“Bagaimana bisa,,, itu….”, Pak Syarief masih sangat shock mendengar pernyataan itu.


“Saya minta maaf,, ini semua salah saya,,, Dulu, beberapa hari setelah kejadian itu saya mengetahui kalau saya sedang hamil,,, dan saya tahu kalau itu bukan anak mu Syarief, tapi anak dari kekasihku yang tiba- tiba menghilang begitu saja. Oleh karena itu awalnya saya tidak meminta mu bertanggung jawab, tapi setelah kau tahu kalau saya hamil, kau tiba- tiba menyuruh untuk menggugurkannya dan memecat saya dari kantormu, bahkan kau membuat saya masuk ke dalam data blacklist perusahaan mu padahal saya tidak melakukan kesalahan apa pun, sehingga saya ditolak di setiap perusahaan tempat saya melamar kerja lagi. Itulah sebabnya saya meminta mu bertanggung jawab”, Bu Mira mulai menjelaskan.


“Dasar wanita murahan…,, setelah tidur dengan laki- laki lain pun kau masih menggoda suami orang”, teriak Bu Rahmi.


“Saya bukan wanita murahan dan saya juga tidak pernah menggoda suamimu, Rahmi,,, saya memang melakukan satu kesalahan dengan kekasih saya, tapi saya tidak pernah menggoda suami mu, dia memperkosaku saat dia dalam keadaan mabuk”, ucap Bu Mira terisak saat mengingat kejadian itu.


Pak Syarief terdian seolah merenungkan perbuatannya di masa lalu, “Saya minta maaf Mira,,, saya tidak pernah berniat melakukan hal bejat itu,, saat itu saya benar- benar tidak sadar karena terlalu banyak minum”, ucapnya menyesal, Bu Rahmi pun menagis karena hatinya merasa sakit mengingat penghianatan suaminya itu meskipun dilakukan tanpa sadar.


“Karena kebencianku pada Syarief yang membuatku menderita, dalam keadaan hamil saya tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang layak sehingga saya hanya bisa menjadi pelayan restoran untuk kelangsungan hidup, ditambah Syarief memberitahukan keluarga saya sehingga saya diusir dan tidak diakui lagi oleh mereka. Saat saya melahirkan pun saya sampai tidak punya uang sepeserpun, dan sorenya setelah saya melahirkan, saya melihat mu masuk ruang bersalin ditemani Syarief, aku semakin benci pada mu, Syarif”, ucapan Bu Mira terhenti sejenak dan menangis seolah rasa sakit di masa lalunya kembali menyayat hatinya.


“Saat itu saya meminta bantuan tetangga kosan yang seorang perawat untuk meminjam pakaian dinasnya yang dia simpan di loker miliknya sehingga saya bisa masuk ke ruangan bayi untuk mengambil bayi saya, tapi saat itu saya melihat nama Rahmi dan Syarief ada di papan kotak bayi, entah setan apa yang merasuki, saya menukarkan bayi saya dengan bayi kalian. Dan saya memotong gelang bayi mereka dengan gunting lipat yang sudah saya bawa sebelumnya, dan membuangnya ke tong sampah. Lalu saya membawa bayi itu untuk melarikan diri dari rumah sakit karena tak mampu membayar biaya rumah sakit. Namun saya tertangkap oleh petugas keamanan sebagai pasien yang kabur, dan saat itulah saya bertemu Anita dan Rizal yang membantu membayar seluruh tagihan biaya rumah sakit saya. Tapi saat itu ia terkena musibah sampai bayi dalam kandungannya meninggal. Saya tidak tega melihatnya yang begitu terguncang karena kehilangan bayinya, lalu saya memberikan bayi itu pada Anita dan Rizal, karena mereka sepertinya orang yang baik dan berkecukupan sehingga bisa merawat bayi itu, dan Bayi itu mereka beri nama Rheanazwa,, hiks hiks…”, ucapnya sambil terisak dan Bu Rahmi yang merasa sangat terkejutpun menangis sejadi- jadinya, sedangkan Pak Syarief diam mematung karena sangat shock.


“Kamu benar-benar wanita iblis Mira,,,, huhuhuhuuhu”, Bu Rahmi memaki.


“Jadi Raline itu bukan anak kami, bahkan bukan anakku juga?”, Pak Syarief yang mencerna cerita dari Bu Mira pun mempertanyakan status Raline.


Bu Mira mengangguk tanda meniya kan, “Saya benar- benar minta maaf,,, kebencian pada Syarief sudah membutakan saya,,, Saya benar- benar menyesal,,,, saya sangat menyesal,,, Dan saat saya tahu kalau Rizal ternyata adiknya Syarief, saya merasa tenang karena ia dibesarkan oleh keluarganya sendiri. Sebenarnya saat itu saya ingin mengatakan yang sebenarnya dan membawa Raline, tapi baru saja saya mengatakan kalau Naz adalah putri kandung Syarief, kalian sudah menghujat saya dengan segala perkataan kasar kalian dan mengusir saya sehingga saya mengurungkan niat untuk mengatakan semuanya dan pergi begitu saja”, ucap nya lagi.


“Jadi Rheanazwa itu putri kandungku,,,? Huhuhuhu”, tanya Bu Rahmi.


“Iya,,,, Rahmi,,, bahkan Naz pun sudah mengetahui tentang hal ini”, Jawab Bu Mira.


“Apa,,, ?”, Bu Rahmi dan Pak Syarief kembali terkejut.


“Iya,,, Naz sudah mengetahui tentang hal ini,, saat Raline menerima donor jantung dari mendiang suamiku, yang tidak lain adalah ayah kandungnya Raline yang dulu sempat menghilang. Saat itu Naz memohon agar saya mengizinkan jantung suami saya di donorkan pada Raline, padahal saya tahu persis bagaimana sikap Raline pada Naz seperti apa,, tapi anak itu tetap menyayangi Raline sebagai saudaranya, hatinya begitu baik dan tulus, bahkan dia memanggil saya Ibu dan mengakui saya sebagai ibu kandungnya. Akhirnya saya pun mengatakan yang sebenarnya pada Naz, dan berniat mengatakannya juga pada kalian, tapi Naz melarang, dia bilang Raline masih sakit dan tidak ingin jika sampai terjadi sesuatu dengan Raline, jika Raline sudah benar- benar sembuh baru saya diperbolehkan mengatakannya”, tambahnya lagi sambil terisak.


“Kau benar- benar kejam,,, kau pisahkan aku dari anak kandungku sedangkan aku membesarkan anakmu dengan penuh kasih sayang,,, kaubenar- benar wanita iblis,,,, huhuhuhu”, Teriak Bu Rahmi.


“Saya minta maaf,,, saya benar- benar minta maaf,,, Naz selalu melarang saya untuk mengatakannya, karena dia bilang Raline masih melakukan pengecekan rutin untuk kesehatan jantungnya,, tapi setelah saya pernah melihat perlakuan mu pada Naz dan mendengar kejadian kemarin, saya harus memberitahukn mu tentang kebenaran ini, saya minta maaf,,saya benar- benar menyesal,,, Tuhan sudah menghukum saya dengan mengambil suami dan anak saya,, saya benar- benar minta maaf”, ucapnya menyesali perbuatannya dan memohon maaf dengan terus menangis.


Flashback off


Pak Syarief menceritakan segalanya kepada Dandy dan Arfin tentang kedatangan Mira dan kebenaran yang selama ini disembunyikannya. Mereka berdua pun sangat terkejut mendengarnya, apalagi soal Naz yang sudah mengetahui hal itu dan memendamnya seorang diri.


“Pantas saja selama ini Naz sangat menyayangi Tante Rahmi walaupun beliau tidak pernah bersikap baik padanya,, aku pikir karena sejak bayi Naz ikut diasuh oleh Tante Rahmi, bahkan sampai memberinya ASI karena ASI Bunda saat itu tidak keluar lagi, ternyata mereka benar- benar Ibu dan anak kandung”, ucap Dandy.


“Om,,, aku tahu semua ini pasti sangat berat untuk Om, Tante Rahmi dan Naz,, masa lalu tidak akan bisa diubah Om, tapi bisa diperbaiki di masa sekarang dan untuk kedepannya. Memang Naz sampat kecewa dengan perubahan sikap Om akhir- akhir ini,, tapi dia sangat menyayangi Om dan Tante,, mungkin Naz masih shock karena kalian tiba- tiba mengetahui hal yang selama ini dirahasiakannya”, ucap Arfin.


“Om dan Rahmi juga sangat shock mengetahui semua ni, bahkan Rahmi sangat marah saat itu, marah pada Mira, marah pada Om, dan marah pada dirinya sendiri. Dia mengusir Mira lalu menangis histeris, sampai diberi obat penenang oleh dokter. Dan stelah beberapa saat Anita datang, Om pun menceritakan semuanya pada Anita, ia pun sama terkejutnya, sampai- sampai berniat menemui Mira untuk melabraknya, tapi saat itu Rahmi sadar dan terus merenangis ingin bertemu dengan Naz. Anita bilang Naz ada di Bandung bersama Arfin dan Dandy, makanya Om tadi siang menghubungi mu untuk menanyakan keadaan Naz. Rahmi terus memaksa ingin kesini, dan dokter dengan terpaksa mengizinkannya walau Rahmi belum benar- benar pulih”


Ketiganya kini hanya duduk terdiam seolah sedang terhanyut dengan pikirannya masing- masing.


Ting ting ….drtt,, drttt…. Terdengar suara dari ponsel Arfin, ia mengambil ponsel yang sedang dicharger lalu membuka pesan yang masuk, dan saat melihat nama pengirim, ia merasa heran dan mengerutkan dahinya.


Cahayaku


“Aa,, diluar masih banyak orang gak?"


Arfin


“Ada sayang, Aa juga kan orang 😎”


Cahayaku


“ihh, aku nanya beneran, Aa malah bercanda”


"🤬"


Arfin


“Di ruang tamu ada Aa, Dandy sama Papa mu”


“Kalo Tante Rahmi sama Bunda dari tadi di kamar Bunda”


“Udah kenyang nangisnya?”


Cahayaku


“Aku kebelet pipis”


Arfin


“Ya kamu keluar dong sayang, kan kamar mandinya di luar”


Cahayaku


“Tapi aku belum siap harus bertemu dengan mereka”


Arfin

__ADS_1


“Terus gimana dong? “


“Masa iya Aa harus memindahkan kamar mandinya ke kamar mu”


“Atau ngsih kamu botol bekas air mineral?”


Cahayaku


“Buat apa botol bekas air mineral?”


Afin


“Ya buat toilet dadakan lah”


Cahayaku


“Ih jorok banget sih 😡”


“Aku benar- benar kebelet ini😬".


Arfin


“Ya makanya kamu keluar dari kamar mu terus ke toilet”


“Kecuali ya kalau kamu mau pipis di kamar”


“Kebayang ih bau pesing nanti kamar mu”


Cahayaku


“Tapi jagain ya, jangan sapai Mama atau Papa menghampiriku”


Arfin


“Ya ampun,, kamu pikir aku satpam apa?”


“Lagipula kan kamu keluar lewat pintu, ya pasti kelihatan”


Cahayaku


“Kalau gitu ajak aku pergi dari sini, aku benar- benar belum siap bertemu dengan mereka”


Arfin


“Kamu tuh kebiasaan ya maen kabur- kabur”


“Emang mau kabur lewat mana coba? Semua jendela kamar di rumah ini kan ditralis, kalau lewat pintu ya sama aja bohong akan tetap ketahuan, Nona Tengil”


“Belum lagi kalau ketahuan kamu kabur dengan Aa,, bisa- bisa Aa di gorok sama Papa mu, dimarahin habis- habisan sama Mama dan Bunda mu, nanti gak jadi dibawa ke KUA dong sama Mimih ”


Cahayaku


“Iiihhh,,, kok malah bahas KUA segala sih,, aku pengen pipis ini 🥶🤢".


Arfin


“Astagfirullah sayang,,, tinggal keluar kamar ih, susah amat”


Cahayaku


“Tapi jagain jangan sampai Papa atau Mama nyamperin aku 🙏”


Arfin


“Iya,,, apa mau sekalian Aa anter ke toiletnya?”


Cahayaku


“Gak mau, nanti di intip lagi”


"😝"


Arfin tersenyum membaca pesan- pesan Naz itu, lalu ia memberitahukan pada Pak Syarief kalau Naz akan keluar kamar, tapi belum siap bertemu dengan beliau dan Bu Rahmi, sehingga Arfin meminta pengertian Pak Syarief dan beliaupun menurutinya. Dan ia pun mengirim pesan kepada Bunda mengatakan hal yang sama, bedanya ia meminta Bunda agar mengamankan Bu Rahmi supaya tidak keluar kamar.


Naz menerima pesan dari Arfin kalau ia sudah mengamankan kedua orang tua Naz, akhirnya Naz keluar dari kamarnya dengan mengendap- endap untuk pergi ke kamar Mandi. Setelah urusannya selesai ia mencuci wajahnya yang berantakan karena habis menangis. Kemudian Naz keluar dari kamar mandi dan kembali berjalan mengendap- endap menuju kamarnya lagi.


Grep ,,,, tiba- tiba ada yang memeluk Naz dari belakang. “Yassalam,,, ketahuan deh,,, gimana ini?”, gumam Naz dalam hati.


"Ngapain kamu mengendap- endap seperti Maling?", tanya orang itu berbisik.


------------ TBC ------------


**********************


Misteri golongan darah dan rahasia yang selama ini Naz sembunyikan akhirnya sudah terungkap,,,


Happy Reading..


Jangan luva tinggalkan jejakmu, like, komen, vote, rate bintang 5


Terimakasih…

__ADS_1


__ADS_2