
Siang pun telah berganti petang disambut dengan derasnya kucuran air hujan yang jatuh beramai- ramai dari atas langit, Naz yang baru selesai shalat ashar berpamitan hendak akan pulang pun mengurungkan niatnya karena dicegah oleh Kiara yang khawatir dengan keselamatannya. Akhirnya mereka pun kembali ke kamar dan melanjutkan acara curhatnya sambil video call bersama Ruby dan Andes yang masing- masing sedang pergi berlibur. Tentunya Kiara menceritakan semua isi curhatan Naz tadi siang secara gamblang, karena diantara mereka tidak boleh ada rahasia, jika satu orang tahu harus tahu semua anggotanya, kalo dalam bahasa Sunda mah disebutnya JIBEH yaitu Apal hiji kudu apal kabeh. Bisa dibayangkan lah bagaimana hebohnya Ruby dan Andes mengetahui semua itu, sampai mereka iseng mengadakan voting untuk membantu Naz memilih, namun hal itu hanya sebagai candaan saja untuk menggoda Naz.
Saat asyik ngobrol Naz baru teringat akan sesuatu, “ Astagfirullah,,, aku belum bilang ke Kak Dandy kalau aku pergi kesini tadi”, Naz langsung mengambil tas nya dan mencari keberadaan ponselnya dan saat dibuka,,,Tring tralalala Banyak pesan yang masuk serta panggilan dari beberapa orang diantaranya,
Kak Dandy Miscall (3)
Bunda Miscall (6)
Bang Evan Miscall (4)
Kak Arfin Miscall (26)
Papa Miscall (5)
Lalu Naz beralih membuka aplikasi WhatsApp nya melihat pesan chat yang murudul syalala, kemudian membalasnya satu persatu.
Pak Udin
“Assalamualaikum”
“Non ada di mana? Papa non minta saya menjemput non”
Naz
“Waalaikumsalam, saya di rumah Kiara Pak”
Pak Udin
“Baik, saya jemput sekarang ya non”
Bunda
15.48
“Dek,,kamu dimana?,, kata kakak sudah pulang satu jam yang lalu”
16:20
“Dek, kok ponselmu gak aktif, kamu dimana ?”
“Jangan bikin bunda khawatir gini deh”
15:36
“Dek, apa kamu lagi di rumah Mira?”
Naz
“Aku di rumah Kiara, Bunda”
“Pak Udin lagi otewe jemput”
Kak Dandy
14:56
“Dek, kamu mau kemana, ko pergi gitu aja?”
15:20
“Dek, dimana,, apa kamu udah pulang? “
Naz
“Aku di rumah Kiara, maaf tadi gak sempet lapor, hehe buru- buru 🙏”
Bang Evan
15:20
__ADS_1
“Cantik, kamu lagi ke toilet apa lagi kemana sih lama amat perginya?”
Naz tidak membalasnya, sedangkan yang terakhir inih yang paling heboh, sudah tahu pastinya siapa lagi.
Kak Arfin
15:01
“Naz, kamu dimana?”
“Dandy nyariin kamu nih khawatir katanya”
15:30
“Naz kamu dimana “
“Naz”
"P"
"P"
16:22
“Naz, kamu dimana?aku khawatir banget sama kamu”
“Naz”
"P"
"P"
” Yasalam ini pesan banyak amat, padahal gue baru ngilang dua jam aja Ra”, Naz menggeleng- gelengkan kepalanya sambil tersenyum dan memperlihatkan layar ponselnya pada Kiara, “ Nih lo lihat panggilan tak terjawab juga banyak hadeuh”.
“Gilaaa,,, itu Kak Arfin paling banyak banget miscall nya,, beneran fix ini mah dia udah bucin sama lo tahu gak”, ucap Kiara saat melihat daftar panggilan tak terjawab di ponsel Naz itu.
“Hah, bucin apaan maksud lo?”, Naz mengerutkan dahinya mendengar kata asing itu.
“Tadi siang ponselnya gue silent sebelum tidur biar gak ada yang ganggu,,, ehh,, kelupaan deh gak di aktifin lagi deringnya, hahaha”. Naz malah menertawakan kelakuannya sendiri sambil mengubah pengaturan deringnya kembali. Dan kemudian ponselnya berdering menandakan ada panggilan masuk…
“Hahay deuh panjang umur tuh orang, udah angkat sana,, kasian pasti cemas banget sama lo”, Kiara yang melihat nama si pemanggil langsung komen.
“Males gue ngangkatnya juga,,, palingan juga dia masih sama temen SMA nya si Nadine ganjen itu”, ucap Naz sebal.
“Heh,, lo gimana sih,,, cemburu sih cemburu Naz, tapi gunain logika jangan sampai kehilangan akal sehat lo, dan lihat dong yang salahnya siapa yang jadi korban siapa, gak boleh egois gitu neng, kan lo bilang katanya siapa tadi ??,,,oh iya yang namanya Nadine itu yang mepet- mepet dan deketin Kak Arfin, berarti yang salah cewek itu lah,, eh tapi lo salah juga kali,, ngapain lo cemburu gak jelas gini,, orang lo bukan pacarnya Kak Arfin,,wle…”, Kiara nyerocos panjang lebar dan semakin menunjukan ia adalah sekutu Arfin.
“Kok lo ngomongnya pedes banget sih, gara- gara keracunan keripik level 25 itu ya,, parah lo sebenernya sahabat lo itu gue apa Kak Arfin sih, sebal”, Naz menggerutu kesal.
“Udah gak usah banyak cingcong,, noh angkat teleponnya berisik banget tau,, gue tinggal dulu ya,,, males banget kudu jadi kambing conge” ,Kiara pun beranjak pergi dari kamarnya dan Naz pun akhirnya menerima panggilan telepon dari Arfin.
“Hallo,, assalamualaikum”, sapa nya.
“Wa’alaikum salam,, Naz kamu dimana? Aku udah nyariin kamu kemana- mana tapi gak ada, udah ngehubungin Bunda juga katanya kamu belum pulang dan beliau juga gak tahu kamu ada dimana, aku nelepon kamu berkali kali gak diangkat terus, pesan gak dibaca- baca, kamu baik- baik saja kan Naz ?”, Arfin melontarkan banyak pertanyaan bagaikan pacar posesif, untungnya Kiara udah out.
“Ya ampun… Kak Arfin rempong nya melebihi kapasitas Bunda tahu gak?”, Naz malah protes
“Aku sangat menghawatirkan mu Naz, kamu dimana sekarang? Ini aku lagi di rumah Bu Mira “, Ternyata Arfin mencari sampai ke sana.
“Apa,, Kak Arfin ngapain di rumah ibu?,, aku lagi di rumah Kiara Kak, lagian aku pergi juga baru dua jam masa pada nyariin aku”, Naz terkejut mengetahui keberadaan Arfin.
“Iya, tapi kamu pergi gak bilang sama siapapun dan ponselmu sulit sekali dihubungi. Makanya semua orang khawatir sama kamu, termasuk aku Naz”.
“Maaf Kak, sudah bikin kalian khawatir,, aku tadinya mau pulang satu jam yang lalu tapi hujan deras, jadi Kiara mencegahku pulang”.
“Syukurlah kalau kamu baik- baik saja, aku akan menjemputmu ke sana,,”, Arfin menawarkan diri.
“Jangan Kak, kakak pulang saja , Pa Udin sedang di perjalanan menjemput ku, udah dulu ya,, assalamu'alaikum".
“Wa'alaikumsalam”, jawab Arfin di seberang sana.
__ADS_1
Naz pun menutup sambungan teleponnya, tadinya ia sudah berniat akan ke rumah Bu Mira lagi untuk mengikuti pengajian tahlil, tapi karena Pak Udin bilang disuruh Papanya untuk menjemput berarti ada hal yang penting akan disampaikan Papa nya itu, dan beberapa saat kemudian terdengar suara klakson mobil yang dibunyikan, itu tandanya mobil jemputan sudah datang, karena hujan sudah reda Kiara dan ibunya mengizinkan Naz pulang, ia pun berpamitan dan bergegas keluar rumah diantar oleh Kiara berjalan sambil ngobrol- ngobrol kecil, dan setibanya di pintu gerbang Naz merasa terkejut.
“Hah, kok bukan Pak Udin yang jemput”, Naz merasa heran saat melihat mobil yang berhenti di depan pintu gerbang.
“Terus itu siapa dong?”, Tanya Kiara berbisik kemudian keluarlah seseorang dari dalam mobil tersebut.
“Bang Evan,, kok bisa tahu aku ada di sini?”, Naz yang merasa terkejut melontarkan pertanyaan.
“Ya bisa lah, masalah kecil, ayo naik “, jawabnya seenaknya.
“Tapi Bang, Pak Udin udah di perjalanan mau menjemput ku, masa iya aku pergi begitu saja, kasihan kan beliau sudah jauh- jauh menjemput ke sini”, Naz mencoba menolak.
“Aku yang gantiin Pak Udin menjemput kamu,, emangnya dari mana coba aku bisa tahu kamu ada di sini, chat gak dibalas telepon pun gak diangkat, yasudah ku minta nomor supir mu pada Dandy dan akhirnya sekarang aku bisa menggantikannya menjemputmu”, Evan menjelaskan panjang lebar dan akhirnya Naz pun dengan terpaksa bersedia diantarkan pulang oleh Evan, dan ia berpamitan pada Kiara, kemudian Evan segera melajukan mobilnya.
Sepanjang perjalanan Naz sengaja bermain game di ponselnya untuk menghindari pembicaraan diantara mereka, Naz takut Evan akan membahas soal pendaftarannya sebagai calon pacar itu dan ia pun merasa mood nya sedang kurang baik karena Evan yang dengan seenak jidatnya menggantikan Pak Udin untuk menjemputnya. Saking asyiknya main game, Naz tidak menyadari bahwa mereka telah sampai di depan pintu gerbang dan Evan pun menghentikan mobilnya.
“Cantik,,, kita sudah sampai”, ucapnya.
“Hah,,,”, Naz lalu mengedarkan pandangannya keluar dan ternyata memang mereka sudah sampai, namun ada pemandangan yang berbeda Naz lihat, “ Kok ada mobil Papa disini?”, Naz bertanya- tanya dalam hatinya, lalu ia pun turun dari mobi, ”Terimakaih banyak ya Bang Evan,, dadah, assalamualaikum”, Naz lalu menutup pintu mobil Evan dan langsung pergi begitu saja memasuki pintu gerbang.
“Wa'alaikumsalam,,, yah gak diajak mampir lagi, dasar nasib supir tembak”, Evan meratapi nasibnya dan ia pun melajukan mobilnya kembali.
Ternyata Bunda sudah menunggu kedatangannya di teras depan dan langsung mengajak Naz masuk ke dalam rumah, “Ayo sayang, kamu mandi dulu terus ganti pakaian kita akan shalat berjamaah di mushola, semua orang sudah pada nunggu, masih ada waktu 15 menit lagi sebelum adzan,”, Naz pun langsung melaksanakan perintah sang Bunda walau sebenarnya dalam hatinya penuh tanda tanya apalagi melihat gelagat Bunda yang tidak biasanya, dan juga merasa heran tumben Naz tidak mendapat omelan karena sempat menghilang tanpa kabar.
Seusai mandi dan berganti pakaian Naz langsung memakai mukena dan bergegas ke mushola karena sudah terdengar adzan, sesampainya di sana semua orang sudah bersiap untuk melaksanakan shalat berjama’ah, namun ada yang membuatnya terkejut karena jumlah orang yang shalat bertambah dari hari biasanya. Mereka pun melaksanakan shalat berjama’ ah margib yang di imami oleh Ayahnya.
Setelah selesai shalat dan berdoa semuanya bersalaman, kemudian salah seorang dari barisan laki- laki berjalan dengan menggunakan tongkat mendekat ke arah Naz, namun Naz yang masih duduk merasa ketakutan melihatnya, “Naz, sayang”, ucapnya dengan nada sendu mendudukkan dirinya di hadapan Naz ,”Jangan takut Nak”, orang itu perlahan memegang kedua tangan Naz yang nampak bergetar karena ketakutan,”Jangan takut nak, Opa tidak akan menyakitimu, maafkan Opa, maafkan Opa Naz”, Pria tua itu menunduk dan menangis dihadapan Naz. “Opa benar- benar minta maaf, karena kemarahan ku pada Ayahmu, selama ini kamu yang menjadi korbannya, Opa minta maaf nak, opa minta maaf”, dia terus terus menangis dan hendak bersimpuh mencium tangan Naz lalu Naz menahan pundak Opa nya dan langsung memeluknya.
“Opa,,,,huaaaaaaaa” Naz pun tak kuasa menahan air matanya dan ia pun menangis sambil memeluk Opa nya yang selama tujuh tahun ini ia rindukan,” Aku rindu Opa,,aku sayang Opa,,huhuhuhuhu”. Opa memeluk cucunya itu dengan erat lalu mengusap- usap pucuk kepala Naz kemudian melepaskan pelukannya dan mencium kening Naz dan kembali memeluknya. Semua orang yang menyaksikan itu pun ikut terharu, apalagi Bunda yang selama ini mengetahui Naz sangat merindukan Opa nya itu pun menangis sambil berpelukan dengan Oma.
“Opa minta maaf untuk semuanya Naz, ,,Opa ingin menebus semua kesalahan Opa yang menyia- nyiakan mu selama tujuh tahun ini, yang tidak mengakui mu sebagai cucuku, yang berusaha menjauhkan mu dari Ayah dan Bundamu bahkan dari Papa kandungmu sendiri, maafkan Opa yang banyak salah sama kamu Nak, Opa benar- benar minta maaf,,, “, Opa yang masih memeluk Naz sambil menangis terus melontarkan permintaan maafnya, dan Naz hanya bisa mengangguk sambil menangis di pelukan Opa nya itu, dan tiba- tiba Opa nya pingsan dan semua orang panik langsung menghampiri, kemudian Opa pun di bawa ke kamar tamu diangkat oleh Ayah, Dandy, dan Papa nya Naz, dan di baringkan di sana.
“Bagaimana keadaan Papamu zal?”, Tanya Oma yang melihat Pak Rizal sudah selesai memeriksa keadaan Opa.
“Tensinya rendah Ma, tapi detak jantungnya normal sepertinya Papa kelelahan tidak ada yang perlu di khawatirkan, mari kita keluar dan biarkan Papa beristirahat“, Pak Rizal mengajak semua orang keluar dari kamar dan berkumpul di ruang tamu, sedangkan Bunda pergi ke dapur.
“Sayang, sini duduk sama Oma”, Oma mengajak Naz duduk di sebelahnya ,dan ia pun menurutinya.” Sayang, Oma sudah sering bilang kan Opa mu itu sangat menyayangimu”. Oma memeluk Naz dari samping.
“Iya Oma”, Naz menjawab sambil menganggukkan kepalanya.
“Naz, sebenarnya sudah beberapa hari ini Opa mu susah tidur, karena sering bermimpi aneh yang membuatnya terus menyesali kesalahannya terhadap mu, tapi dia malu untuk menemui kalian karena takut kalian tidak bisa memaafkannya hiks hiks”, Oma pun tak kuasa menahan tangisnya,” Sebenarnya sudah sejak lama ia merindukan mu Naz, dia hanya marah pada Rizal dan Anita juga pada Syarif,, dia selalu ingin memeluk dan mencium mu serta bercanda ria dengan mu seperti dulu,, namun saat ia bertemu dengan kamu beberapa hari setelah ulang tahun mu dulu, ia melihat tatapan ketakutan dari matamu Naz, mungkin karena pernah meminta Ayahmu untuk mengembalikan mu pada ibu kandungmu sampai kamu dulu menangis histeris, semenjak itu dia tidak pernah berani menampakan dirinya di hadapan mu Naz, dia hanya bisa melihat mu dari kejauhan, hiks hiks”, Oma berhenti bicara sejenak.
”Itulah kenapa Opa mu meminta agar kamu jangan dibawa ke acara keluarga kita, karena Opa mu tidak mau melihat mu sedih dan ketakutan saat bertemu dengannya, dan Opa tidak ingin melihat mu diperlakukan berbeda, dikucilkan dan diejek bahkan dihina oleh anggota keluarga yang lainnya. Dia hanya bisa melihat mu dari kejauhan secara diam- diam, tapi sekarang karena ia sering sakit- sakitan ia memberanikan diri menemui mu dan meminta maaf, karena ia tidak mau jika suatu saat meninggal dengan membawa kebencian dari mu dan Ayah Bundamu, maafkan Opa mu, maafkan dia, hiks hiks hiks”. Oma memegang tangan Naz dan kemudian mereka saling berpelukan.
“Iya Oma, aku juga minta maaf selama ini sudah salah sangka terhadap Opa, aku juga sangat sayang sama Opa hiks hiks”, ucap Naz di sela isak tangisnya.
“Sekarang semuanya sudah clear, aku harap keluarga kita yang sempat terpecah bisa berkumpul kembali dan harmonis seperti dulu lagi, dan aku juga minta maaf sedalam- dalamnya karena semua masalah ini berawal dari ku,, aku tahu masa lalu tidak bisa diubah, aku hanya berharap bisa memperbaikinya di masa sekarang dan yang akan datang”, Papa nya Naz pun ikut bicara kemudian memegang pundak adiknya yang duduk di sebelahnya.
“Iya Mas, saya juga berharap seperti itu, kita sama- sama saling memaafkan “, Ucap Pak Rizal mengindahkan perkataan kakaknya.
“Oma, aku permisi ke kamar kecil sebentar”, Naz pun melepaskan pelukannya dan setelah diangguki Omanya, Naz bangun dari duduk bergegas ke belakang. Naz pun masuk ke kamar mandi dan setelah beberapa saat ia keluar dan dikejutkan oleh seseorang di depan kamar mandi dan ia pun di dorong kembali masuk ke kamar mandi.
“Jangan lo pikir setelah mendapatkan pengakuan kembali dari Opa, bisa merubah identitas lo dan menjadikan lo terhormat ”, Ucapnya sambil menunjukan telunjuk pada wajah Naz.
“Kalo mau ngomong ya ngomong aja gak usah dorong- dorong gue ke kamar mandi segala kali”, Naz pun tidak terima perlakuan orang itu.
“Hehhh,, jangan belagu ya, di mata keluarga besar bahkan di mata semua orang lo tetaplah seorang anak haram dari perempuan murahan pelakor si*lan yang tidak tahu malu itu”, Ucapnya dengan tatapan tajam.
Plakk … satu tamparan dilayangkan oleh Naz ”Lo boleh hina gue, tapi jangan pernah lo hina Ibu,,, kalo lo ngelakuin itu lagi,, gue bakal ngasih lo pelajaran lebih dari ini, camkan itu Raline”, Ucapnya mendorong Raline dan keluar dari kamar mandi.
“Brengs*k,, gue bakal balas lo lebih dari ini”, Raline mengumpat sambil memegang pipinya yang sakit. uhh panas badena teh...
---------------- TBC ----------------
******************************
akhirnya ada celah memunculkan Raline yang sejak awal sering disebut-sebut..... mari kita mainkan.... xixixi
Happy Reading.... 😉🥰
__ADS_1
jangan lupa tinggalkan jejakmu.... 😉
like komen rate bintang 5 dan vote..... 🥰