Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Papa Mellow Kolis


__ADS_3

Dua sejoli yang baru saja bertemu setelah empat hari terpisah oleh jarak antar kota bebas roaming internasional, kini sedang terlibat pembicaraan basa- basi yang diawali protes dari Naz karena Arfin datang tanpa memberinya kabar terlebih dahulu. Padahal ketiga sahabatnya sudah menyadari kehadiran Arfin di arena bowling tersebut saat Naz sedang melempar bola pada lintasan untuk menjatuhkan pin, yang ternyata Naz kalah. Arfin memberi kode supaya mereka diam dan tidak memberitahukan Naz mengenai keberadaannya, dan ketiga orang itu pun mengerti dengan mengacungkan jempol kepada Arfin, dan entah kenapa tiba- tiba Kiara memiliki ide aneh untuk mengerjai Naz untuk memberinya kejutan dengan kehadiran Arfin di sana. Tapi sebelum mempertemukan Naz dengan Arfin mereka tidak rela kalau wajah Naz masih kinclong belum di corat- coret, dan akhirnya Ruby dan Andes tetap memberi coretan dulu, barulah Kiara menjalankan rencana anehnya.


Baru saja ngobrol sebentar, Arfin sudah menggoda Naz karena wajahnya yang cemong oleh coretan lipstik di pipi, dagu, dan sekitaran bibirnya seperti dandanan joker. Naz yang baru menyadari itu pun akhirnya bergegas pergi ke toilet setelah diberi tisu basah kemasan kecil oleh Arfin untuk membersihkan wajahnya.


“Aku ke toilet dulu ya,,,”, ucap Naz lalu bangkit dari duduknya dan bergegas pergi ke toilet. Setelah beberapa saat di toilet Naz pun berjalan kembali menuju tempat duduk tadi, namun ada yang berbeda di sana Arfin nampak sedang berbicara dengan seorang pria yang duduk tapi hanya tampak bagian belakang tubuhnya saja, “Kak Arfin ngobrol sama siapa ya,, kok orang itu kayak gak asing ?”, Naz bertanya- tanya dalam hatinya namun terus melangkah menghampiri mereka.


“Aa maaf ya lama, tadi kebelet juga hehe”, ucap Naz dan sontak pria yang duduk membelakangi Naz langsung menolehkan tubuhnya ke arah Naz.


“Sayang,,, kok kamu ada di sini,,, ? bukannya lagi pergi ke mall bersama ketiga sahabatmu?”, tanya orang itu dan sontak membuat Naz diam terpaku dengan mata yang membulat sempurna karena sangat terkejut.


“Yasalam,,,, ketahuan deh gue lagi sama Kak Arfin,,, gimana ini??”, Naz menjerit dalam hati.


“Hai,, ditanya kok malam melamun….?,, ayo sini duduk..”. orang itu menarik tangan Naz dan mengajaknya duduk di sebelahnya yang masih terdapat kursi kosong.


“Eh,,, Papa lagi ngapain di sini?”, tanyanya gelagapan.


“Kamu itu,, malah mengembalikan pertanyaan Papa tadi… Papa mau main bowling lah, tadi habis pulang dari rumah Opa kebetulan lewat sini lalu mampir , lumayan buat menghilangkan penat kan, eh di parkiran ketemu Arfin, karena tadi Papa sedang ada panggilan telepon jadi Arfin duluan masuk”, ucapnya menjelaskan,, “Naah sekarang pertanyaan Papa silahkan kamu jawab”.


“Aku,,, emm,,, aku juga lagi main bowling tuh sama Kiara, Ruby, dan Andes. Tadi pulang makan dan maen games di mall kita langsung kesini,, hehehe”, jawab Naz.


“Kalian berdua sedang janjian ya”. Tanya Pak Syarif pada Arfin dan Naz yang terlihat salah tingkah.”Gimana Arfin,, apa sudah diterima pernyataan cintanya?”, Pak Syarif kembali bertanya.


Deg,,,, “Yasalam,,, dari mana Papa tahu ini,,, aduhhh,,, si Suranas ni malah bilang lagi ke Papa,,, nanti kalau Papa ngadu ke Ayah gimana ini,,, hadeuhh cilaka dua belas ini mah,,, jangan- jangan dia emang berharap hubungan kami cepat berakhir apa,,,,”, Naz menggerutu dalam hati.


“Alhamdulillah berhasil Om,,,, terima kasih atas doa restu nya”, ucap Arfin yang terlihat tenang dan sepertinya sudah akrab dengan Pak Syarief.


“Hahaha,, kamu itu kayak sudah yang mau nikah aja pakai doa restu segala”, Pak Syarief malah tertawa, ”Sayang kamu tuh kenapa sih dari tadi Papa ajak bicara ngelamun terus,,, ? ternyata sudah punya pacar sekarang ya,,, “,tanyanya lalu menggoda Naz.


“Wahh,, ternyata Om sudah tahu ya…..”, Andes yang hendak mengambil air minum di atas meja pun berkomentar saat mendengar percakapan mereka.


“Iya dong,,, sebelum Arfin menyatakan cinta nya,, kan izin dulu sama Om keleus “, Pak Syarief menjawab dengan santainya.


“Wahh,, Kak Arfin gentle banget”, Andes memuji.


“Kebetulan saja Andes,,, saat Arfin membooking restoran untuk pernyataan cintanya, Om juga lagi makan di restoran yang sama, kami pun bertegur sapa dan mengobrol, akhirnya Arfin meminta izin kepada Om untuk nembak putriku yang cantik ini”, ucapnya dan menolehkan pandangannya ke arah Naz.


“Berarti kalau waktu itu gak bertemu Om gak akan minta izin dulu dong”, Andes memang Mr. Kepo.


“Hahaha,,, sepertinya begitu Andes,,,”, ucap Pak Syarief yang kembali tertawa karena melihat Arfin dan Naz yang nampak salah tingkah, kemudian ponsel Arfin tiba- tiba berdering.


“Saya permisi angkat telepon dulu Om”, Arfin pun bangkit dari duduknya dan berjalan agak menjauh dari tempat mereka duduk.


“Papa jangan ikut- iktan kayak Andes ih suka gibahin orang di muka”, ucap Naz ketus.


“Akhirnya kamu buka suara juga,,, jadi dari tadi kamu itu syock ternyata ya,,, sekarang sudah main rahasia- rahasiaan sama Papa ya hem”, Pak Syarief terkekeh menggoda Naz,sedangkan orangnya hanya menundukkan pandangan nampak salah tingkah.


“Eng ,,enggak kok,, Pa,,,, “, ucap Naz celingukan lalu ia pun memberanikan diri bertanya pada Papa nya itu, “Papa,,, emangnya aku boleh pacaran sama Kak Arfin gitu?”, tanyanya hati- hati.


“Yaelah,, kamu itu aneh ya,, nanya kaya gitu harusnya sebelum kamu menerima dia jadi pacarmu,, kalo sekarang pertanyaan itu sudah tidak berlaku alias basi, kecuali kamu bertanya emang boleh aku menikah sama Arfin,, baru Papa akan melarangnya”, ucapnya terkekeh.


“Emangnya kenapa ?”, tanya Naz heran.


“Ya kamu kan masih sekolah putriku sayang,,, jadi belum boleh menikah,,, mau emangnya di DO dari sekolah?,,,,, Lagi pula Papa mengizinkan Arfin pacaran sama kamu dengan mengajukan beberapa syarat”.

__ADS_1


“Syarat,,,,?? Syarat apa Pah?”, Naz kembali bertanya.


Pak Syarief tersenyum melihat putrinya itu seperti orang yang was was, “Papa mengizinkan dia pacaran sama kamu dengan syarat jangan sampai itu mengganggu sekolah mu dan dia harus benar- benar bisa menjaga kamu dan juga menjaga dirinya agar tidak macam- macam sama kamu, karena Papa takut melihat pergaulan anak zaman sekarang, jadi Papa tegaskan sedari awal, kalau dia bersedia ya monggo kalau tidak mau ikuti syarat Papa ya jangan berani mendekatimu lagi”, ucapnya mejelaskan, sedangkan Naz hanya tersenyum simpul.


“Kenapa kamu terkejut kalau Papa mengetahuinya? Jangan bilang Ayah dan Bunda mu tidak tahu tentang hal ini…”, Pak Syarif bertanya dengan tatapan menyelidik pada Naz yang terlihat gugup setelah mendengarnya, “ Naz,,, apa tebakan Papa benar?”, tanyanya lagi.


Naz menganggukkan kepalanya pelan, “Iya Pa.. mereka belum tahu”, Naz menjawab lalu menundukkan pandangannya dengan menelungkup kan kedua tangannya di atas meja.


Pak Syarif menghela nafas panjang lalu menatap sendu putri kesayangannya itu, “Pasti Rizal menghawatirkan hal yang sama dengan Papa,,, dia takut identitas mu akan mempengaruhi hubungan kalian kan?”, Pak Syarief bertanya tanpa melepas pandangan dari Naz yang masih tertunduk, dan Naz pun mengangguki pertanyaan itu sebagai tanda mengiyakan.


Pak Syarief terdiam sejenak nampak memikirkan suatu hal, “Sayang,,, Papa sudah membicarakan hal itu dengan Arfin, dia tidak mempermasalahkan soal identitas mu karena kamu juga tidak pernah mempermasalahkan keadaan fisik Arfin katanya. Dia sangat menyayangi mu Naz, dan Papa sudah tau itu sejak adikmu meninggal, Papa melihat Arfin ada di sana yang nampak dekat dengan mu, ditambah dengan kejadian kamu yang terkurung di ruang musik itu, dia mencari tahu pelakunya dan setelah menemukannya dia tidak menghukum mereka atas permintaan mu bukan?? Tapi dia cerdas ,, memberikan surat perjanjian agar mereka tidak mengganggu mu lagi. Papa sudah banyak mencari tahu tentang Arfin, dan apa saja yang sudah dia lakukan untuk kamu, dia pria yang baik dan Papa juga kenal baik dengan orang tuanya”, ucapnya panjang lebar.


“Tapi,,, Ayah menghawatirkan tanggapan keluarga dan orang- orang di sekeliling Kak Arfin terhadapku”, ucap Naz dengan masih tertunduk.


Pak Syarief menghela nafas panjang lalu menundukkan pandangannya sambil memegang telungkup tangan Naz, “ Sayang,,,, Papa minta maaf ,,, karena kesalahan Papa di masa lalu kamulah yang menanggung semuanya,, karena kesalahan Papa kamulah yang dihina oleh orang- orang, karena kesalahan Papa kamulah yang dipandang rendah oleh orang- orang, karena kesalahan Papa kamu jadi menderita, Papa benar- benar minta maaf Nak sudah memberimu beban hidup sebesar ini padamu,,, Papa sangat menyesal Nak,,, Papa menyesal....“, ucapnya menunduk hingga tak terasa Pak Syarief sampai meneteskan air matanya.


“Papa,,,,,,”, lirih Naz dengan mata yang berkaca- kaca menatap orang yang menunduk itu.


“Katakanlah,,, katakan apa yang harus Papa lakukan untuk menebus semua kesalahan Papa sama kamu Nak? Papa tidak bisa berhenti memikirkan kamu, Papa ingin selalu membuat kamu bahagia walaupun Papa tidak bisa berada dekat dengan mu, tapi Papa sangat menyayangimu melebihi apa pun, bahkan melebihi kasih sayang Papa kepada anak- anak yang lainnya, kamu begitu istimewa di hati Papa,,,”, Pak Syarief terus meneteskan air matanya dan Naz pun ikut menangis.


“Papa jangan ngomong gitu,, Papa selalu kasih yang terbaik buat aku, aku juga sangat menyayangi Papa,,, Papa jangan menyesali apa yang sudah terjadi di masa lalu,, sama saja Papa menyesali atas kehadiran ku di dunia ini, karena masa lalu tidak bisa dihapus sedangkan masa depan bisa diperbaiki Pa. Ini sudah menjadi takdir kita Pa,,, aku gak menyesal terlahir sebagai anak Papa, karena Papa adalah Papa terbaik yang setara dengan Ayah buat aku. Maaf kalau aku selama ini menolak untuk tinggal dengan Papa, bukan berarti aku gak sayang sama Papa,, tapi aku gak tega melihat Bunda harus merasakan kehilangan putrinya untuk yang kedua kalinya Pa, yang pasti aku selalu sayang sama Papa”, Ucap Naz di sela tangisannya lalu memeluk Papa nya yang duduk di sebelahnya, dan beliau pun membalas pelukannya lalu mencium pucuk kepala putri yang sangat disayanginya itu.


“Papa juga minta maaf atas ulah Raline selama ini sama kamu,, Papa tahu dia sering sekali berbuat tidak baik sama kamu walaupun kamu tidak pernah sekalipun mengeluhkan tentangnya. Papa sudah sering menasehatinya, tapi dia terlalu dimanja oleh Rahmi, sehingga Papa tidak bisa menghukumnya, bahkan saat tahu dia adalah dalang dari pengurungan mu di ruang musik tempo hari, dia masih saja mendapat pembelaan dari mama nya. Papa juga minta maaf karena saat acara pertunangan Dandy, Papa dengar kamu mendapat tamparan dari Rahmi”, ucapnya sambil mengusap- usap kepala Naz.


“Udahlah Pa, soal itu gakk usah dibahas lagi,, aku sudah memaafkan mereka kok,, walau bagaimanapun mereka adalah keluargaku juga Pa,,,”, ucap Naz yang sudah mulai berhenti mengeluarkan air mata.


Setelah beberapa saat mereka berpelukan “Iiihh,, kok kita jadi mellow gini sih Paa….?”, Naz melepaskan diri dari pelukan Papa nya lalu menghapus air matanya.


“Gak apa- apa lah sekali kali mellow kolis dikit,,, setidaknya Papa sudah merasa plong, akhirnya bisa mengutarakan apa yang selama ini terasa menyesakkan di hati Papa, terimakasih sayang,,, kamu memang anak yang sangat baik,, walaupun kadang tengil seperti Papa,, hahaha”, ucapnya tertawa sambil menghapus air mata yang membasahi pipi mereka masing-masing.


Sedangkan ketiga sahabat Naz yang ternyata sedari tadi mendengarkan percakapan Naz dan Papa nya pun ikut terharu dan menangis sambil duduk berdempetan di atas lantai padahal lantainya cukup luas..


“Kok gue serasa nonton telenovela ya,,,, tisu mana mana tisu, Ra?”, ucap Ruby yang sesenggukan sambil menghapus air matanya karena sejak tadi menangis.


“Sama gue juga By,,, kasian ya Om Syarief jadi dilemma antara membela Naz atau si Raline yang terus dibela Tante Rahmi, rasanya gue pengen ngebejek- bejek si Raline biar bentukannya sampe kayak rujak beebeuk yang bubuk antah berantah”, gerutu Kiara yang juga sesenggukan.


“Huaaaaaaa,,,,, huaaaaaa,,,,”, Andes menangis kencang dan membuat semua orang menoleh ke arahnya.


“Des,, sedih sih sedih ,,, tapi jangan kenceng gitu juga kali nangisnya onta,,, gak usah so so an cari sensasi buat pansos lo,, gak ngefek,,,”, ucap Kiara protes.


“Huaaaaa,,, aku emang sedih mendengar percakapan mereka,,, tapi jari- jari tanganku sakit ini di dudukin bokongmu yang size XL, Ruby”. Andes menggerutu sambil menarik- narik tangannya yang terhimpit Ruby.


“O em ji sorry,,, pantesan kok lantai licin ini serasa bergerindil,, ternyata ada jari- jari tangan lo ya,, hehe,, sorry Des”, ucap Ruby nyengir kuda lalu bangun dari duduknya.


Arfin pun kembali menghampiri Naz di tempat duduknya yang sedang membersihkan wajahnya dengan tisu basah, “Aa dari mana aja..? kok lama sih ngangkat teleponnya?,, Siapa emangnya yang nelpon?”, Naz melontarkan beberapa pertanyaan.


Arfin pun dibuat terkekeh mendengarnya,“Ternyata pacarku ini punya hobi baru ya kalau ngasih pertanyaan tuh beranak pinak kayak soal esay pada ujian hahaha”.


“Iiihh,,, malah meledek, bukannya jawab”, ucapnya mencubit perut Arfin yang tengah duduk bersebelahan dengannya.


“Aww,,,, sakit sayang,,, ampuunn,,,,”,Arfin meringis malah semakin menggoda Naz, “Iya iya,, tadi yang menelpon itu Mami katanya nitip beli sesuatu nanti kalau pulang”, ucapnya menjelaskan.


“Udah ngomong gitu aja? Kok lama banget perginya,, jangan- jangan abis cuci mata ya ngecengin cewek- cewek di sana?”, Naz mengira- ngira.

__ADS_1


“Hahaha,,, ya ampun sayang,, mana berani Aa melirik cewek lain, cuman kamu satu- satunya yang ada di hati Aa, lagi pula mana ada yang mau sama cowok pincang seperti Aa ini Nanaz sayang”.


“ Tapi kan Aa ganteng, nanti dideketin cewek ganjen lagi kaya Nadin tuh, Aa pasrah aja dicium di pegang- pegang,, hmmhh”, ucap Naz lalu mencebikan bibirnya.


“Ya ampun sayang,, itu mah kecolongan kejadiannya begitu cepat sampe Aa gak sempat menghindar,, lagian gak dicium kok orang Cuma cipika cipiki”.


“Lahh,, emangnya aku gak tahu cipika cipiki itu kepanjangannya apa hah,, cium pipi kanan cium pipi kiri”, ucap Naz kesal.


“Iya,, tapi kan gak pakai bibir sayang,, cuman pipi ketemu pipi,,, yasudah kalau begitu sini mendekat biar Aa cium kamu”, ucapnya sambil memonyongkan bibirnya sedangkan Naz memelototinya lalu menempelkan plastik kemasan tisu basah pada bibir Afin.


”Aduh,,, kamu tega banget sih,, awas ya nanti jangan cemburu sama kemasan tisu ini karena sudah aku cium”, Arfin malah kembali menggoda Naz, sedangkan orangnya langsung cemberut dan membuang muka.”, Jangan cemberut gitu atuh ihh,, bikin gemasss”, Arfin mencolek dagu Naz sambil menertawakannya.


“Heh,,, udah berani ya colak- colek anak orang”, Tiba- tiba Pak Syarief yang baru kembali dari toilet langsung mengagetkan dan membuat Arfin salah tingkah karena malu sambil menggaruk kepalanya yang mungkin ada ketombenya.


“Ayo kita main bowling,,, Om udah ganti sepatu nih”, ucap Pak Syarief dan meninggalkan mereka berdua lalu berjalan ke arena bowling.


“Rasain,,, wle,,,,,, kaciaaan deh lu “, Naz mengejek kekasihnya itu dengan menjulurkan lidah dan menggoyangkan telunjuknya seperti cacing kepanasan.


Kemudian Arfin pun mengganti sepatunya yang diambil dari tempat sewa, mereka pun bermain bowling dengan kehebohan geng bontot yang seolah menjadi child leader pendukung Arfin dan Pa Syarief yang tengah mempertontonkan kelihaian mereka bermain bowling.


Hari Pun semakin sore dan mereka akhirnya sudah merasa kelelahan, kemudian mereka memutuskan untuk pulang.


“Sayang,, jangan lupa besok Opa ulang tahun,,, dia minta kamu mengenalkan pacar baru mu ini padanya”, ucap Pak Syarief sambil melirikan matanya ke arah Arfin.


“Papa apaan sih,, ko Opa udah tahu?? Dasar Papa biang Gosip”, Naz protes.


“Mau bagaimana lagi,, mulut Papa gatel kalo Opa sudah membahas urusan berita yang menyangkut kamu, haha,,, “, ucap Pak Syarief terkekeh


" Jangan lupa ya Arfin besok temui Opa,,, tenang saja gak akan ditarik nikah kok,, paling di ospek, hahaha”, ucapnya lagi dan Arfin pun hanya mengacungkan jempol tanda setuju dan melempar senyuman. “Dan maaf,, Naz pulang sama Om ya,,, ada yang mau kami bicarakan dulu”.tambahnya.


“Iya Om,,, besok juga kan bertemu lagi”, ucapnya tersenyum padahal sebenarnya hatinya kecewa karena merasa masih kangen pada kekasih pujaan hatinya itu yang baru sebentar menikmati kebersamaannya karena banyak laler.


Akhirnya semua orang pulang dengan kendaraan masing- masing, Arfin mengendarai mobilnya dengan berat hati pulang sendirian, Ruby seperti biasa pulang dibonceng Kiara, sedangkan Andes diantarkan oleh Pak Udin. Seperti yang dikatakan tadi, Naz pulang diantarkan oleh Papanya.


Sesampainya di depan gerbang rumah Bunda, Naz meminta Papanya untuk tidak memberitahukan dulu Ayah dan Bundanya soal hubungannya dengan Arfin, Pak Syarief yang sempat menolak dan bersih kukuh ingin membicarakan hal itu dengan alasan lebih baik mereka yang memberitahukan langsung dari pada Ayah dan Bundanya tahu dari orang lain pun akhirnya luluh dengan ucapan permohonan dan rengekan Naz.


Keesokan harinya, Arfin menjemput Naz ke sekolah untuk mengajaknya bertemu dengan Opa nya sesuai permintaan Pak Syarief kemarin. Arfin ternyata sudah membelikan sebuah hadiah untuk Opa nya Naz yang sudah dibungkus dengan kotak cantik, dan saat keluar dari pintu gerbang sekolah Naz yang sudah ganti baju dengan pakaian santai menghampiri mobil Arfin yang sudah menunggunya di pinggir jalan, Naz pun masuk dan Arfin segera melajukan mobilnya.


Setelah menempuh perjalan beberapa saat mereka pun sampai di kediaman Opa nya Naz dan mereka disambut dengan hangat di sana. Oma nampak senang sekali dan terus menggoda cucunya yang sudah mulai pacaran itu, kemudian Oma mengajak Arfin dan Naz ke ruang kerja yang juga dijadikan ruang baca untuk menemui Opa di sana, dan beliau pun sama halnya dengan Oma terus menggoda Naz. Ternyata Opa cepat akrab dengan Arfin rupanya, yang tadinya ia sempat gugup dan tegang namun lama- lama seolah mencair, mereka pun mengobrol mulai dari hal- hal kecil basa- basi sampai membahas hal konyol yang ternyata Opa juga orangnya humoris.



Sedangkan Naz sedari tadi merasa di acuhkan hanya duduk sendiri di sofa sambil menonton keakraban kekasihnya dengan Opa tersayangnya.



Ceklek …… terdengar suara pintu terbuka, dan munculah orang dari balik pintu berjalan menghampiri Naz lalu memegang tangan Naz.


“Rheanazwa,,, ayo pulang……. SEKARANG !”, ucapnya dengan penuh penegasan dan tatapan tajam dari matanya.


-------- TBC -----------


********************

__ADS_1


Happy Reading..... 😉🥰


jangan lupa tinggalkan jejakmu 😍😉


__ADS_2