
Suasana ballroom yang tadinya sangat ramai dengan kehebohan uji talenta, kini nampak agak sepi karena para pemain musik pun beristirahat sejenak dan menikmati hidangan bersama para tamu undangan yang lainnya, ada yang kembali ke kamar masing- masing, ada yang ke mushola, bahkan ada yang pergi ke luar untuk merokok.
Setelah selesai tampil, Arfin meninggalkan Naz pergi bersama Hardi dan Dandy, sehingga Naz mencari keberadaan ketiga sahabatnya dan Elsa, saat mengedarkan pandangannya, akhirnya Naz menemukan mereka yang baru saja selesai mengambil makanan dan duduk di satu meja, Naz pun berjalan menghampiri mereka.
“Hai,, Naz,,, penampilan mu keren banget tadi”, ucap salah satu sepupu ipar Naz yang menghentikan langkahnya.
“Iya bener, so sweet banget,,, “, yang lainnya pun berkomentar.
“Tadi itu pacarmu ya?? Kalian serasi banget tahu,,,, yang satu cantik yang satunya ganteng,,,, “, ucap Tantenya Naz.
“Ah,, kalian ini berlebihan,,, suara aku jelek gitu kok kalian bilang bagus”, Naz merendah.
“Beneran, bagus,,, kamu suka karaokean ya?”.
“Enggak,, paling kalau pacarnya sahabatku latihan main band, aku suka iseng ikutan nyanyi- nyanyi sama kedua sahabatku”, jawab Naz terus terang.
“Pantesan,, suaranya bagus,,, “, Tantenya kembali memuji.
“Tapi sayang,,, udah gak kebagian doorprize,,,, hahaha”, ucapannya membuat para sepupunya dan tantenya itu ikut tertawa, “Kak, Tante, aku permisi dulu ya,,, laper”, Naz berpamitan dan kembali berjalan menghampiri para sahabatnya.
“Hemmm,,,, enak ya kalian makan- makan disini,,, dan gue tersiksa di atas panggung tadi”, ucapnya berkecai pinggang.
“Eh,,, nona artis,,, udah selesai konsernya…. ?”, Andes malah menggoda Naz.
“Gue gak lihat lo tersiksa tuh,, kayaknya enjoy banget nyanyinya,, apalagi pas saling memandang ,, beuh romantis banget,, bikin hati gue iri ”, Ruby terus memuji.
“Lo ngapain sih pake bilang segala ke Kak Arfin kalo gue suka ikutan nyanyi kalo Akmal lagi latihan band? ", Tanya Naz ketus.
“Biar kalian bisa duet kayak tadi,,,, kan unyu tuh”, Ruby menjawab dengan renyahnya.
Tiba- tiba ada orang yang menghampiri, “Naz,,, itu di lobi ada yang nyariin kamu”.
“Nyariin aku?,, siapa Kak?”, Tanya Naz heran.
“Katanya dia pengasuhmu”, jawab orang tersebut.
“Pengasuh?,,, makasih ya Kak,,,”, ucapnya dan orang itu pun kembali pergi, “By temenin gue yuk ke lobi…”.
“Sama Andes aja gih,, gue baru nyuap makan ini,,, Kiara barusan ke toilet”, Ruby menolak karena baru saja mulai makan dengan kekasihnya, Akmal.
Akhirnya Naz pergi ke lobi di temani oleh Andes dan Elsa. Mereka turun ke lantai dasar dengan menggunakan lift, kemudian mereka berjalan menuju lobi, dan benar saja di sana ada seorang wanita tengah duduk sendirian di sofa lobi, mereka pun menghampirinya.
“Ibu,,, kok ada di sini?”, Naz memanggil ibunya dan beliau pun langsung berdiri.
“Iya, kok ibu bisa ke sini? Bukannya tadi pagi Ibu menolak ikut?”, Elsa ikut bertanya.
“Iya, maaf Naz,, tadi pas ibu mau pulang, ibu salah ambil ponsel, karena sama- sama sedang di charger eh, malah mencabut ponselmu,,, ini “, ucapnya sambil menyodorkan ponsel milik Naz.
“Makasih banyak Bu,,, “, Naz menerima ponselnya, “Kenapa Ibu gak langsung bilang aja kali ibu ini Ibu ku,, kok malah bilang pengasuhku, kan tadi aku merasa bingung, perasaan dari kecil aku diasuh sama Mbak Iyem,, hehehe,, kirain yang datang Mbak Iyem”.
“Oh,, bagus ya,,, lo ngundang perempuan murahan ini ke acara keluarga besar gue”, Raline langsung berkomentar tanpa permisi.
“Jaga mulut lo Raline,,,”, Naz menunjuk jari telunjuknya ke wajah Raline.
“Jangan nunjuk- nunjuk anak saya seperti itu, Maksud kamu apa bawa dia kemari? Supaya bisa menggoda suami saya lagi?”, Bu Rahmi yang datang bersama Raline langsung nodong pula.
“Maaf kalo kedatangan saya mengganggu kalian, saya hanya datang untuk mengembalikan ponsel Naz yang tidak sengaja terbawa oleh saya,,, karena tujuan saya sudah selesai, saya permisi”, ucap Bu Mira lalu pamit pergi.
“Oh,, ternyata selain wanita murahan, anda juga kleptomania ya suka ngambil barang orang,,, padahal itu barang anaknya sendiri”, Raline malah terus menghina.
“Cukup Raline,, jangan pernah menghina Ibu lagi dengan mulut kotor mu itu,,, Dengar ya, kalo bukan karena Wanita yang selalu kau hina ini merelakan jantung suaminya untuk di donorkan sama kamu, mungkin sekarang kamu sudah berada di neraka”, Naz berteriak pada Raline.
Plakk,,,,, sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanan Naz dan membuatnya diam terpaku sejenak lalu ia terkulai lemas ke lantai, antara terkejut dan atau merasa sakit yang menyesakkan dada.
“Mama.. !!“, suara baritone terdengar dari kejauhan dan menghampirinya, “Apa yang sudah mama lakukan?”, tanya Hardi.
“Mama, hanya memberi pelajaran sama anak kurang ajar itu”, Bu Rahmi menunjuk ke arah Naz.
“Naz,,, “, Arfin berjongkok mendekati Naz yang duduk tertunduk memegang pipinya, tanpa pikir panjang ia langsung menggendong Naz ala bridal style. “Kamu pikir saya main- main dengan surat perjanjian itu Raline,,,?? Ini sudah kedua kali nya kamu melanggarnya dan Saya pastikan dalam waktu kurang dari 24 jam tamu istimewa akan datang menjemputmu”, ucapnya dengan tatapan kemarahan lalu ia melangkah pergi membawa Naz yang masih berada dalam gendongannya.
__ADS_1
“Apa yang sudah kamu lakukan Raline? Sampai Arfin bisa semarah itu?”, tanya Hardi.
“Aku gak ngapa- ngapain,, aku cuma melarang wanita ini datang kesini Mas,,, Mama,, yang Naz bilang tadi itu gak bener kan?? Pendonor jantung buatku dulu bukan suami dari wanita ini kan Ma,,,??", Raline meminta penjelasan.
“Itu benar,,, jantung yang ada di dalam dirimu sekarang itu milik mendiang suamiku,,, orang tuamu datang mengemis padaku saat mereka diberitahu oleh dokter kalau suamiku berniat mendonorkan salah satu organ tubuhnya jika meninggal,,, dan kamu tahu Raline, saya menolak mentah- mentah permintaan orang tuamu, karena saya tidak sudi harus menolong anak yang jahat dan licik seperti kamu….. “, ucap Bu Mira dengan menahan amarah,
“ Tapi kamu harus tahu, Naz lah yang berhasil meluluhkan hati saya untuk merelakan jantung suami saya untuk kamu, dia sampai bersimpuh di kaki saya,, ibu tolong Raline, walau bagaimanapun dia tetap saudara ku, aku mohon Bu,,,, itu yang dia ucapkan, walaupun kamu selalu jahat padanya tapi dia tetap perduli denganmu,,, saya harap kamu tidak pernah menyakiti Naz lagi Raline. Dia sering memaafkan mu bukan berarti kamu bisa terus berbuat seenaknya,, ”.
“Mama,,,, jadi itu benar,,,,?? ", Bu Rahmi pun mengangguki pertanyaan Raline, "Mama, Kak Arfin pasti akan melaporkanku pada polisi,, aku gak mau masuk penjara, Ma,,,, tolong aku”.
“Syukurin lo, biar membusuk di penjara,,, “, ucap Andes tiba- tiba nyamber, “Ayo Ibu, Elsa kita pergi dari sini, aku telepon Pak Udin ya supaya bisa nganter kalian pulang”, ucap Andes.
“Mas Hardi, tolong aku,,, dia kan sahabat Mas,,, aku gak mau masuk penjara”, Raline merengek pada kakaknya.
“Kalau Arfin sudah semarah itu, tidak akan ada yang bisa membujuknya,,, walau Naz sekalipun tidak akan mempan” , ucap Hardi yang sudah hafal watak sahabatnya itu.
Arfin yang sudah sangat hafal jika Naz tidak bisa menangis di depan orang lain, ia langsung membawa Naz pergi, “Menangislah sayang,,, jika itu akan membuatmu tenang,,,”, ucapnya sambil berjalan menuju parkiran. Padahal tanpa disuruh pun Naz sudah menangis dengan menyembunyikan wajahnya di dada Arfin semenjak Arfin menggendongnya.
Sesampainya di depan mobil, Arfin kemudian menurunkan Naz, “Ssssssttt,,, sudah sayang,,, jangan menangis lagi,,,”, Arfin menghapus air mata Naz yang masih terisak dihadapannya, “Mana yang sakit hem,,??”, tanyanya dengan tatapan sendu. “Aku janji kali ini akan memberi efek jera pada si Raline itu,, ayo masuk ke mobil”, Arfin menuntun Naz untuk masuk ke dalam mobil.
Setelah keduanya masuk, Arfin tidak langsung melajukan mobilnya, ia hanya menyalakan mesinnya saja, karena masih melihat Naz menangis.
“Sayang,,,, “, liriknya.
“Dulu,,, Mama sayang banget sama aku,,, hiks hiks,, Bunda hanya sebulan memberi ku ASI karena entah mengapa ASI nya tidak keluar lagi, dan akhirnya Mama yang memberiku ASI sampai usiaku satu setengah tahun sedangkan Raline sejak lahir tidak mau minum ASI,,, hiks hiks,,, bahkan sejak bayi aku diharuskan nya memanggil Mama,,, tapi semua itu sudah berubah,,, sekarang hanya ada tatapan kebencian di mata Mama, dan beliau bilang tidak sudi mendengar aku memanggilnya Mama,,, huhuhuhu”, Naz menangis dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
“Ssssttttt,, sudah- sudah,,,, ini pasti sangat berat untukmu,,, tapi lihatlah,masih banyak orang- orang di sekelilingmu yang sangat menyayangimu, termasuk aku,,, jangan bersedih lagi,,,, Tante Rahmi tidak membencimu, dia hanya meluapkan kemarahannya pada Ibumu Naz,,, setelah menamparmu tadi, aku melihat tatapan penyesalan di wajah Tante Rahmi, aku yakin beliau pun masih menyayangimu Naz, hanya saja sekarang ada jarak di antara kalian”, Arfin mrngusap- usap kepala Naz.
“Benarkah?? Hiks hiks?”, tanya Naz.
“Iya,,, bahkan saat di acara Dandy pun seperti itu,,, yasudah, kalau begitu mau makan dimana kita?? Aku perhatikan kamu tidak makan apa- apa di dalam,,, padahal di meja banyak makanan”, Arfin sudah mulai mengalihkan pembicaraan agar Naz berhenti menangis.
“Aku pengen makan seafood,, tapi gak mau di restoran mewah,, mau di rumah makan biasa aja”
“Biklah tuan putri,,, siap laksanakan,,, “, Arfin pun melajukan mobilnya keluar parkiran lalu menuju tempat yang diinginkan kekasihnya itu yang ternyata Naz memilih restoran yang menyediakan tempat makan lesehan.
Sesampainya di tempat tujuan, baru saja masuk Naz langsung pergi ke toilet untuk membersihkan wajahnya yang terlihat kusut, sedangkan Arfin memilih tempat duduk dan ia pun diberikan daftar menu makanan oleh pelayan di sana. Setelah Naz kembali, baru ia memesan makanan, karena ia tidak tahu apa yang diinginkan kekasih nya tersebut, Naz pun memilih beberapa menu makanan. Sambil menunggu pesanan, Arfin yang tengah sibuk memainkan ponselnya di ganggu oleh Naz yang tiba- tiba berpindah tempat duduk ke sebelahnya.
“Hemmm,,, “, jawab Arfin tanpa menoleh sedikitpun.
“Chat sama siapa sih, serius banget?”, Naz bergelayut manja di lengan Arfin.
“Sama pengacara”, jawabnya singkat.
“Hah,,,, Pengacaranya laki- laki atau perempuan?”, tanya Naz lagi.
“Laki- laki”, Arfin kembali menjawab tanpa menoleh sedikitpun pada Naz.
“Emang ada masalah apa, kok berurusan sama pengacara?”, Tanya Naz penasaran.
“Laporin si Raline ke polisi”, jawab Arfin terus terang.
“Apa,,,, ? Aa ngapain laporin Raline segala ke kantor polisi?”, Naz terkejut.
“Biar dia kapok”.
“Aa,,, sayang,,, jangan laporin dia ya,,, please,,, ?", Naz membujuk.
“Aku gak denger”, Arfin malah pura- pura.
“Sayangku,,, cintaku,,, belahan jiwaku,, aku mohon jangan laporkan Raline ke kantor polisi,,, please”, Naz terus membujuk.
“Gak mempan sayang, kamu mau merayuku dengan rayuan maut apa pun aku tidak akan merubah keputusanku”, Arfin sekarang tidak goyah.
“Huftt,,, yasudah aku gak mau lagi ngomong sama kamu, gak mau ketemu lagi sama kamu”, jurus merajuk dikeluarkan.
“Terserah,,, keputusanku sudah bulat”, Arfin benar- benar kekeh.
“Aa bener- bener udah gak peduli lagi sama aku?”, merajuk part II.
__ADS_1
“Dengar sayang,, aku melakukan hal ini karena aku sangat peduli padamu,,, Raline sudah menandatangani surat perjanjian itu, dan dia sendiri yang sudah melanggarnya,,, sudahlah biar dia kapok dan gak macam- macam lagi sama kamu dan Ibu mu,,, dan satu hal lagi,, aku sudah bekerja sama dengan Opa dan Papa mu,,,, jadi biarkan Raline merasakan hotel prodeo selama 2 atau 3 hari lah”, ucapnya dengan santai lalu mengalihkan pandangan dari ponselnya berpindah pada gadis yang duduk di sebelahnya, “Dan aku tidak yakin kamu akan sanggup tidak bicara denganku,,, kemarin saja seminggu aku cuekin, kamu sangat marahh”.
“Dasar licik”, Naz berdecak kesal.
“Aku belajar darimu sayang,,,, jangan cemberut gitu ahh,,, nanti aku bisa menggigit mu bukan mencubit pipimu lagi”, mendengar itu Naz langsung kembali pindah tempat ke tempat asalnya yang duduk berhadapan dengan Arfin dan hanya terhalang oleh meja, “Hahaha,,,, sayang kau benar- benar takut digigit ya,, tenang saja aku tidak rabies,,,”, Arfin malah menertawakan Naz.
Naz hanya mendelikan matanya tanpa berkomentar. Kemudian pesanan makanan pun tiba yang isinya satu bakul nasi beserta lauk- pauk aneka seafood serta cah kangkung tentunya minuman kelapa muda beserta satu poci teh panas. Naz membisikan sesuatu kepada pelayan yang mengantarkan makanan itu dan orang tersebut hanya mengangguk dan tersenyum seolah paham dengan apa yang diinginkan Naz, kemudian ia kembali ke dapur.
“Hei,,, kamu berbisik apa sama pelayan tadi ? kau berniat mengerjai ku hem,,,??", tanya Arfin curiga.
“Enggak,,, orang aku pesan makanan terenak di dunia,, wle”, Naz malah menjulurkan lidahnya mengejek Arfin, “Udah yu ah kita makan,,, semua ini bikin menggugah selera”, ucapnya yang mulai mengambil nasi dan disimpan di atas piringnya, sedangkan Arfin pergi mencuci tangannya dulu, dan setelah itu mereka pun mulai makan.
“Permisi mba,, ini pesanannya”, pelayan yang tadi kembali mengantarkan pesanan susulan Naz.
“Wahhhh,,, akhirnya datang,, terimakasih ya mba”, ucapnya senang.
“Sayang,,, kamu yakin mau makan itu ih?”, tanya Arfin yang nampak tidak percaya.
“Iya dong,,, ini enak tahu,, enak banget,,, “, Naz mengambil sambal pete lalu dicampur nasi dan ikan, lalu dilahapnya, “ummmmm,,,, enyak banget”, ucapnya sambil mengunyah, sedangkan Arfin dibuat tercengang olehnya.
“Kamu ya,, udah dandan anggun, cantik, malah makan pete”, Arfin malah mengejek.
“Emangnya knapa,,, ? enak tahu,, lagian dengan makan pete gak akan bikin aku jadi jelek kan?”, ucap Naz sambil terus melahap makanannya.
“Iya,, gak akan jadi jelek,, tapi jadi bau mulut, sayangku… “, Arfin terkekeh.
“Sayang,,, cobain deh,,, ini enak loh”, Naz menyodorkan satu buah Pete kepada Arfin.
“Enggak,,,, seumur- umur aku gak pernah makan pete”, Arfin langsung menolak.
“Oh ya,,, berarti sekarang harus coba,,, biar tahu kenikmatannya,, aaakk”, Naz tetap memaksa.
“Enggak sayang aku gak mau…. “, Arfin pun tetap menolak.
“Katanya preman, masa takut makan pete ih”, Naz malah mengejek.
“Preman juga manusia, sayang,,,, kalo makan daging gak mungkin kan sama tulangnya”, Arfin malah mengatakan perumpamaan.
“Ini kan Pete,, bukan daging,,, Cobain satu aja nih,, aaakk”, Naz terus memaksa dan menyodorkan ke mulut Arfin.
“Enggak,,”, Arfin bicara dengan nada agak tinggi.
“Kau membentaku?", lirih Naz.
Arfin menghela nafas sejenak, “Maaf sayang aku tidak bermaksud membentak mu,, aku cuma gak suka dipakasa dan gak mau makan itu”, Arfin langsung menyadari kesalahannya.
“Iya,,, maaf… ", ucap Naz yang berhenti memaksa dan ia melanjutkan makannya tanpa bicara sepatah kata pun hingga beberapa saat.
Melihat hal itu, Arfin menjadi tidak enak hati,, dan akhirnya dengan sangat terpaksa ia pun bersedia, " Emmm.... mana sini Aa coba Pete nya", ucapnya mengawali pembicaraan.
"Jangan, nanti bisa sakit perut", ucap Naz yang masih merajuk.
Kemudian Arfin mengambil satu mata Pete dan dimasukan lah ke dalam mulutnya, lalu dikunyah perlahan,,, " kok pahit yaa? ", tanya nya heran.
Naz langsung melihat ke arah Arfin yang sedang minum air kelapa muda gara- gara mulutnya terasa pahit, " Makan nya kayak gini,,, ambil sambal pete pake sendok, campur nasi, campur ikan,,, ammmm", Naz mengajarkan tata cara makan dengan pete, dan Arfin pun mengikuti hal yang dilakukan Naz.
"Umm.... iya enak,,, ternyata pete gak pahit ya kalo cara makannya yang benar", ucap Arfin sotoy.
" Iyalah,,, yang pahit itu pare bukan pete,,,, pete mah agak pedas nyegak gitu atau bahkan kadang ada yang manis", Naz menjelaskan.
Tiba- tiba ponselnya berdering dan ada pesan masuk, saat dia membukanya dia langsung tersenyum,, "Dapat kabar gembira begini, rasanya ingin makan pete lebih banyak lagi", ucapnya terkekeh dan kembali mengambil sambal pete lagi untuk menjadi lauknya.
" Hahaha,,,, mana ada merayakan kabar gembira pakai pete,, dasar aneh,,, ", Naz malah menertawakan.
--------- TBC ---------
__ADS_1
*********************
Happy Reading......