Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Cincin-nya Mana ??


__ADS_3

Naz yang baru bangun setelah tertidur selama perjalanan sepulang berziarah ke makam mendiang Bu Mira, padahal jarak tempuh perjalanannya hanya dua puluh menit saja, namun ia bisa sampai tertidur pulas seperti itu. Kepalanya masih terasa pusing dan kesadarannya pun belum sepenuhnya kembali, sedangkan Elsa malah meninggalkannya sendirian setelah memintanya untuk menempati meja yang sudah dipesannya. Ia turun dari mobil menapakkan kakinya di tempat yang selama satu tahun ini tak pernah ia datangi,


“Apa aku ini sedang bermimpi,,, mengapa aku ada di tepi danau ini?,,, bukannya Elsa bilang akan pergi ke kafe baru? Apa di sini ada sebuah kafe? Sejak kapan ?”, gumam Naz bertanya- tanya dalam hatinya.


Ia melangkahkan kakinya yang seolah terasa berat karena tempat ini begitu banyak kenangan yang mengingatkannya pada sang kekasih yang kini sangat dirindukannya, hatinya seakan berkecamuk mengingat ini adalah tempat berakhirnya hubungan mereka dulu. Naz terus berjalan sesuai arahan Elsa, lurus 10 meter dengan dikira- kira karena sesungguhnya ia tidak membawa meteran sebagai alat ukur jaraknya. Ia terus melangkah sembari memegang kepalanya yang masih terasa sedikit pusing.


Dan benar saja tak jauh setelah belok kiri, ia melihat ada sebuah meja kosong, namun hanya satu- satunya meja itu. Tanpa rasa curiga Naz pun terus mendekat dan ternyata di atas meja itu sudah disediakan empat piring kosong lengkap dengan sendok dan garpu-nya, juga terdapat beberapa bunga yang di simpan pada vas kaca, kemudian Naz pun menarik salah satu kursi dan mendudukinya.



“Tempat ini gak banyak berubah,,, suasananya masih seindah dulu”, gumamnya dalam hati sambil tersenyum dan mengedarkan pandangan,


"Eh tunggu,, bukannya Elsa bilang mau ke sebuah kafe baru,,, apakah di sini sekarang ada kafe? Tapi kok mejanya cuman ini doang?”, Naz berdialog sendiri seolah merasa ada yang aneh.


“Permisi Nona,,, ini pesanan khusus untuk Anda,,”, ucap seseorang yang berpakaian seperti pelayan yang datang dengan membawa nampan yang berisi sebuah piring lengkap dengan tudung saji berbentuk gunungan bulat, kemudian menaruhnya di atas meja tepat di hadapan Naz.


“Untuk saya,,,?”, tanya Naz yang merasa bingung dan heran.


“Iya,, tadi menurut pesanan dari meja ini, Nona,,, katanya itu kesukaan Nona,, silahkan,,, selamat menikmati,, saya permisi”, ucapnya lalu pamit dan pergi meniggalkan meja Naz.


“Makanan kesukaan aku?? hmmmm Elsa tahu aja kalau aku lagi sedih doyan makan,, padahal ini masih terbilang pagi dan belum waktunya makan siang”, ucap Naz tersenyum lalu membuka tutup saji piring tersebut.


Setelah dibuka, matanya terbelak karena terkejut melihat isian piring tersebut, “’Hah,,, siapa yang bilang ini makanan kesukaan aku?”, tanyanya masih dalam mode terkejut bahkan semu kesal, kemudian ia menutupnya kembali, Naz mengambil ikat rambut dari dalam tasnya, lalu ia menyisir rambut bagian depan dan samping dengan jemarinya, lalu dikuncir ke belakang dengan rambut bagian belakang masih terurai.


“I Love you,,,, “, tiba- tiba ada yang berbisik di telinga Naz yang membuatnya sangat terkejut lalu tersenyum bahagia mendengar suara orang yang sangat dirindukannya, ia pun langsung bangkit dari duduknya dan membalikan badannya sehingga ia berdiri berhadapan dengan orang itu.


“Kak Arfin,,,, “, lirihnya lalu tersenyum sumringah yang bercampur dengan haru, dan pria itu pun tersenyum padanya.



“Iya,,, sayang,,,, “, ucapnya menatap lekat gadis yang sangat dirindukannya, “Eh,,, kok nangis?” ucapnya lagi saat melihat bulir bening jatuh membasahi pipi kekasihnya itu, kemudian ia segera menghapus air mata itu dengan jemarinya, “Jangan nangis sayang,,, aku ada di sini”, ucapnya lagi.

__ADS_1



“Aa kemana aja,,,, hiks,,,”, ucapnya terisak lalu memukul pelan dada Arfin.


“Ini ada di sini,,, dihadapan mu, sayang,,, udah jangan nangis dong,, nanti cantiknya hilang loh”, Arfin terus melempar senyuman dan kembali menghapus air mata Naz, lalu ia menggenggam lembut kedua tangan Naz.



Setelah kekasihnya itu kembali tersenyum dan menghentikan tangisnya, Arfin kemudian berlutut di hadapan gadis yang sangat dicintainya itu tanpa melepas genggaman tangannya dan terus memandang wajah cantik wanita pujaan hatinya itu. Arfin menghela nafas beberapa kali seolah menetralkan kegugupannya.


“Sayangku,,,, sejak pertama kali aku melihatmu menangis di sini, aku pun saat itu tengah menangis meratapi kesedihanku, takdir seolah mempertemukan kita untuk saling berbagi duka,,, Aku mencoba menghiburmu yang membuatku seolah menghibur diriku sendiri dengan membuatmu tersenyum bahagia hanya dengan mainan kecil yang kuberikan padamu, takdir seolah membuat kita saling memberi kebahagiaan,,, Saat melihat mu tersenyum bahagia, aku pun merasa lebih bahagia, saat kau terlihat sedih, aku pun merasa lebih sedih,, saat melihat mu terluka, hatiku terasa lebih terluka,, takdir seolah membuatku selalu merasakan apa yang kau rasakan,,, Saat dekat dengan mu, rasa bahagia selalu membuncah di dalam dadaku, saat kau jauh dariku, rindu terasa begitu menyiksa ku,,, Seberapa besar cobaan dan badai menerjang dalam hubungan kita, namun rasa cinta yang begitu besar dan mendalam mampu mempersatukan kita kembali,,, Takdir pun seolah tak rela jika kita terpisah,,,, hingga ku yakini bahwa kita ditakdirkan untuk selalu bersama ”, ucapnya dengan tatapan penuh cinta.


“Terimakasih karena telah membuka hatimu untukku,,, Terimakasih karena telah menerima cinta pria cacat yang dengan tidak tahu dirinya berani jatuh hati hingga menyatakan cintanya padamu, Terimakasih karena dengan kebesaran hatimu telah memaafkan ku yang dengan teganya telah menyakiti hatimu, Terimakasih karena telah memberiku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku padamu, Terimakasih karena telah hadir di dalam kehidupanku dan selalu memberi warna dalam hidupku”, ucapnya tersenyum hingga ia meneteskan air mata dan tentunya itu membuat Naz merasa sangat tersentuh hingga membuatnya kembali meneteskan air matanya karena terharu.


Arfin menghela nafas panjang sambil memejamkan matanya, kemudian kembali membuka matanya bersamaan dengan hembusan nafas yang keluar dari lubang hidungnya,


“Di tempat ini, tempat pertama kali kita bertemu, tempat yang menjadi saksi perjalanan cinta kita, aku ingin menjadikannya sebagai saksi betapa besarnya cintaku padamu, betapa aku selalu berharap bertemu denganmu, betapa aku selalu merindukan hadirmu di sisiku, betapa aku ingin hidup bersama mu,,,,,, Nona Rheanazwa Eleanoor Harfi,, sayangku, cintaku, cahaya hidupku,, pujaan hatiku,,, Maukah kau menikah denganku,, menjadi istriku,,, menjadi pendamping hidupku untuk menjalani hidup bersama selamanya dan menua bersama pria yang banyak kekurangan ini ?”, ucapnya dengan terus menatap mata indah sang kekasih.


Naz benar- benar merasa terkejut dengan ungkapan pria yang berlutut di hadapannya itu, mulutnya ternganga karena tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan,


“Will you marry me, Cahayaku?”, ucapnya lagi.


Naz menarik nafas berat dengan mulut terbuka karena kembali dikejutkan, perasaan di dadanya begitu membuncah bahagia tiada tara, jantungnya serasa berdebar tidak karuan, lalu ia menganggukkan kepalanya beberapa kali,


“Yes,,, Yes i will,,,,, aku mau ,, aku bersedia… aku bersedia menjadi istrimu, aku bersedia menjadi pendamping hidupmu, aku bersedia menjalani hidup bersama mu hingga menua bersama mu, selamanya bersama mu...”, ucapnya dengan liangan air mata bahagia dan tersenyum haru.


Arfin pun bernafas lega melebarkan senyum bahagia bercampur haru, air matanya pun kembali menetes karena saking bahagianya gadis yang sangat ia cintai telah menerima ajakannya untuk menikah dan menjadi pendamping hidupnya. Arfin mencium kedua punggung tangan Naz yang sedari tadi terus digenggamnya secara bergiliran, “Terimakasih sayang,,, terimakasih”, ucapnya lalu ia menunduk dan menempelkan keningnya pada kedua punggung tangan Naz yang terus digenggam lembut olehnya, Arfin menumpahkan air matanya, karena saking bahagianya dan tidak menyangka Naz bersedia untuk menikah dengannya, walaupun sudah tahu kalau dirinya lelaki impoten.


"Terimakasih,, terimakasih..”, Arfin tak hentinya mengucapkan terimakasih pada Naz di sela tangisannya.


Naz yang melihat hal itu kemudian menurunkan tubuhnya dan ikut berlutut sehingga mensejajarkan dirinya dengan Arfin, ia melepaskan tangannya perlahan dari genggaman Arfin yang masih menundukkan kepalanya. Naz menyentuh kedua pipi Arfin, lalu mengangkat wajahnya mengusapnya dengan lembut untuk menghapus jejak air mata yang membasahi pipinya. Arfin pun memegang kedua pergelangan Naz.

__ADS_1


“Terimakasih sayang,,,, terimakasih”, ucapnya lagi lalu ia melepaskan tangan Naz dari wajahnya kemudian memeluknya. Tangis haru seolah tak mau berhenti keluar dari kedua manik pasangan yang sudah resmi jadi calon suami istri itu.


"Terimakasih,,, terimakasih,,,, terimakasih”, ucapan itu terus dilontarkan Arfin, sembari membelai rambut Naz , kemudian ia melepaskan pelukannya perlahan lalu mengecup pucuk kepala gadis yang sudah menerima lamarannya itu.


Arfin kembali memegang kedua tangan Naz, kemudian mereka berdua bangkit dan berdiri senyum bahagia terus terpancar dari keduanya. Arfin kembali menciumi kedua punggung tangan Naz, kemudian ia mengusap lembut kedua punggung tangan gadis yang kini sudah menyandang status sebagai calon istrinya, dengan ibu jarinya tanpa melepaskan pandangan dari wajah cantiknya dan terus melempar senyuman.


Arfin melirikan matanya pada kedua tangan Naz yang masih digenggamnya, dan seketika senyumnya memudar, seolah merasakan ada yang aneh.


“Cincinnya mana?”, tanya Arfin heran.


Mendengar pertanyaan Arfin, Naz pun merasa bingung dan heran, “Cincin??”, tanyanya bingung.


“Iya,,, cincin-nya mana?”, Arfin kembali menanyakan hal yang sama.


“Hah,,, apa gak salah ini ?,,, kenapa dia yang menanyakan cincin ?,, kan seharusnya aku yang bertanya seperti itu,,,,, aaahhhhh,,, apakah ini tidak nyata,,, apakah aku ini sedang bermimpi,,, ???”, Gumam Naz dan menjerit dalam hati dengan perasaan resah dan gelisah, seolah takut menerima kenyataan jika ini adalah mimpi di siang bolong.


--------------- TBC ---------------


************************


Apakah Naz sedang bermimpi dan masih tertidur di mobil??


Apakah ini kenyataan??


*


ngantuk pemirsa,,, semalam bobok cuma sebentar...🙏🙏 jadi bingung direm dimananya supaya gantungan terpakai...🤭✌️nanti lanjut lagi ya....😉😘


Heppi Reding….😉


Jangan Luva tinggalkan jejakmu ,,, like, komen, rate bintang 5, vote dan hadiah seikhlasnya ya,,, kalo banyak juga boleh,, nanti tak kasih double up lohh,,,,😉🤭

__ADS_1


Tilimikicih,,, aylapyu oll,,,, 😘😘


Kabuuurrrr,,,, ahhh,,,, 🏃🏃🏃🏃 ...takut dikutuk berjamaah,,,


__ADS_2