
Suasana kamar tempat Naz dirawat yang semula ramai dengan celotehan geng bontot kini menjadi sepi, Bunda duduk di sofa sambil selonjoran memainkan ponselnya, sedangkan Naz berbaring menyamping menatap kosong seolah tengah melihat pemandangan di luar kaca jendela. Perkataan sahabatnya terus terngiang di telinganya yang mengatakan “, Naz,, saat Kak Arfin tahu lo hilang ia terus mencari keberadaan lo dan hampir menggila sampai melampiaskan kemarahannya pada penjaga sekolah dan Pak Diman karena tidak kunjung menemukan lo, sampai akhirnya mendapatkan petunjuk keberadaan lo yang ternyata ada di dalam ruang musik, karena kuncinya tidak ditemukan akhirnya dia mendobrak pintunya hingga lengannya terluka, dia khawatir banget sama lo, apalagi saat melihat lo terkapar tak berdaya di lantai, dia terlihat sangat terpukul dan sedih dan saat dia merangkul dan memeluk lo dia sampai nangis, gue lihat itu Naz meskipun dia mencoba menyembunyikannya, gue yakin dia sayang banget sama lo”.
Tak terasa air mata menetes begitu saja dari mata indah Naz, ia merasa terharu dengan perlakuan Arfin padanya, kebaikan, perhatian, bahkan beberapa kali Arfin rela berkorban untuk dirinya, dan kini ia merasa menyesal telah mengabaikan Arfin, namun ia merasa gengsi jika harus menghubunginya duluan .
Tok tok tok…ceklek…terdengar suara ketukan pintu dan kemudian pintu itu dibukanya, derap langkah kaki seseorang seolah terdengar semakin mendekat ke arah ranjang dimana Naz tengah berbaring, “ Permisi,,, Neng ini makanannya”, ucap orang tersebut dan menyimpan makannya di atas meja khusus untuk makanan pasien. Suara itu seakan membuyarkan lamunan Naz karena ia merasa suara itu tidak asing baginya, Naz dengan segera menolehkan pandangannya kepada orang tersebut.
“Kak Arfin….” Lirihnya dengan ekspresi terkejut melihat pria di hadapannya yang tengah melemparkan senyuman manisnya, dan Naz pun sempat terlena dibuatnya, sepersekian detik kemudian, raut wajahnya kembali berubah karena kesal pada pria yang baru datang setelah penantiannya beberapa hari ini, “Bunda aku lelah, mau istirahat”, ucapnya lalu membalikan badannya lagi ke samping mengarah ke jendela, dan Arfin pun dibuat heran melihat tingkah gadis tengilnya itu.
Arfin nampak sedang bermain mata dengan Bunda,, “Bunda gimana sih, katanya ada yang menunggu kedatangan ku di sini, ko orangnya gak ada?”, ucap Arfin ingin menggoda gadis yang sedang merajuk itu.
“Gak tahu juga sih Ar,, mungkin Bunda teh salah sangka, atau mungkin kamu teh salah masuk kamar Ar”, Bunda pun meladeni candaan Arfin.
Arfin pun berjalan menghampiri Bunda yang tengah duduk di sofa, ia menyalami Bunda kemudian ikut duduk di sofa, “Yah mau bagaimana lagi kalau orangnya tidak mengharapkan kedatanganku, mending aku balik lagi aja Bund ke Surabaya”, ucap Arfin berakting pundung.
“Yasudah sana,, lanjutkan pencarian jodoh di sana,,, Hardi bilang kamu lagi nyari jodoh ya di Surabaya, udah dapet belum?”, Bunda semakin mengompori hadeuh.
“iihhh,,, dasar menyebalkan,, bukannya mencoba membujukku, merayu apa kek gitu,,ini malah sengaja manas- manasin sih, Bunda juga malah ikut- ikutan, sebal sebal sebal….”, Naz menggerutu dalam hati sambil mencengkram boneka tedy bear nya.
Arfin pun menghela nafas kasar, “Kalau begitu aku pamit dulu ya Bund,,, assalamu’alaikum”, Arfin pun berpamitan dan bangkit dari duduknya kemudian berjalan menuju pintu keluar, ceklek.
“Wa’alaikumsalam, hati- hati Ar”. Bunda pun menjawab salamnya.
Akhirnya Arfin pun kembali pergi karena melihat Naz yang masih merajuk seolah tidak mau bertemu dengannya bahkan tidak mau melihat wajahnya, sedangkan Naz sedari tadi yang menunggu bujukan Arfin tak kunjung terucap, eh orangnya malah pergi meninggalkannya dan tentunya itu membuatnya semakin kesal dan marah, “huhuhuhu,,,hiks hiks hiks,,,huhuhuhu hiks hiks”, Akhirnya kemarahan sudah menuju puncak dan menyemburkan lahar bening dari matanya.
Bunda pun langsung terkejut mendengar isak tangis puteri kesayangannya itu dan kemudian menghampirinya, ”Dek kamu teh kenapa? Mana yang sakit hem?”, Bunda mengusap – usap kepala Naz, “ Sayang,,,”, pangilnya.
“Kak Arfin jahat,, huhuhuhu hiks hiks hiks”, ucap Naz di sela isak tangisnya sambil menutup wajah dengan telapak tangan nya.
“Jahat apa,,,?? Orang dia teh udah sengaja datang kesini jauh- jauh dari Surabaya cuman buat jenguk kamu, eh kamu nya teh malah ngacuhin dia dan ngusir dia deuih”, Bunda angkat suara sebagai pembela dan jubir nya Arfin.
“Aku gak ngusir dia,,, huhuhu hiks hiks”, ucap Naz menyangkal.
“Ari tadi kamu teh bilang, Bunda aku lelah mau istirahat, sama aja atuh eta teh ngusir secara halus”, Bunda mengomeli Naz, “Udah atuh sayang ah jangan nangis gini, suhu tubuh sama kondisi kamu udah bagus, jangan sampai drop lagi atuh, Bunda mah soak ah, itu tangannya jangan di gerak- gerak gitu atuh, nanti darahmu bisa naik ke selangnya, sini tangan kanannya sayang”, Bunda membujuk Naz.
“Biarin, aku gak peduli,, Bunda juga jahat malah belain Kak Arfin,,huhuhuhu hiks hiks huhuhu”, Naz masih tetap menangis.
“Yasudah kalau itu mau kamu mah, Bunda mau panggilin suster biar kamu disuntik lagi”, Bunda hendak melangkahkan kakinya karena tahu betul Naz itu paling takut disuntik, untung saja waktu pasang infus sedang tidak sadarkan diri. Mendengar hal itu Naz membalikan badannya dari posisi miring ke samping kiri, kini jadi terlentang dan menurunkan tangan kanannya dari wajahnya yang sudah kusut karena basah dengan air mata. “Astagfirullah Dek, kamu udah mah gak mandi selama 4 hari, itu muka meni amburadul gitu semerawut jiga benang kusut. Hahaha”, Bunda bukannya membujuk Naz malah mengejeknya.
Naz yang masih terisak terus menghapus air matanya dengan tangan kirinya kemudian mendudukkan dirinya dengan mengubah posisi tempat tidurnya dengan remot sehingga dia bisa duduk sambil bersandar. Bunda kemudian masuk ke kamar mandi dan tak lama keluar lagi membawa waslap yang sudah dibasahi air, kemudian beliau mengelap wajah Naz menggunakan waslap itu secara perlahan, kemudian di lap nya dengan tisu kering, “Taraaa wajah kucel sudah kembali segar, upik abu pun sudah kembali menjadi inces syaubella”, Bunda menggoda Naz yang masih cemberut kemudian Bunda kembali lagi ke kamar mandi untuk menyimpan waslap nya kembali, lalu menghampiri Naz dan duduk di kursi sebelah tempat tidur Naz.
“Dek,, Ayah sama Bunda teh selalu mengajarkan kamu untuk saling menghargai dengan sesama, harusnya teh kamu bisa menghargai pengorbanan Arfin, di sela- sela kesibukannya di Surabaya dia teh rela meninggalkan pekerjaannya di sana hanya untuk datang ke sini menjenguk kamu,, coba kamu teh bayangin kalau jadi dia gimana rasanya sudah jauh- jauh datang malah di acuhkan dan diusir deuih, peurih neng, menjerit” ,Bunda sudah mulai mengeluarkan ceramahnya. “Dan sekarang apa coba, orangnya mah udah pergi, eh kamu nya menyesal kan sampe nangis begini??”, Bunda kalo udah nyerocos susah di rem.
“Maaf….”, lirihnya dengan suara ngirung karena yang ini mampet yang ini enggak sambil menunduk .
“Kalau mau minta maaf sama Bunda, kamu teh salah orang, mendingan minta maaf sama orangnya langsung”, ucap Bunda.
“Tapi kan Kak Arfin nya udah pergi”, ucap Naz menunduk karena merasa bersalah.
“Pergi kemana Naz,,, aku masih di sini”, Ucap Arfin yang baru masuk lagi ke dalam kamar dan mampu membuat Naz salah tingkah karena ketahuan menangisi kepergian Arfin tadi.
“Hahahahhaa,,,”, Bunda menertawakan.
“Bunda ko malah tertawa sih, kalian bersekongkol ya ngerjain aku,,,?”, ucap Naz kesal pada sang Bunda.
“Siapa yang ngerjain kamu dihh,, orang kamu nya aja gak nanya tadi teh Arfin pergi kemana, bukan salah Bunda atuh, hahahaha”, Bunda menyangkal dan kembali lagi menertawakan kekonyolan putrinya, “Sayang, Arfin teh tadi pamit mau shalat ashar ke mushola, bukan pamit pulang lagi ke Surabaya,, karunya atuh gempor, masa baru datang udah mau balik lagi”, ucap Bunda menjelaskan dan itu membuat Naz tertunduk malu karena salah sangka, mana sudah menangis sambil ngambek- ngambek lagi. “Bunda mau jemput Ayah dulu ya, awas ya jangan macam- macam”, Bunda mengultimatum Arfin kemudian bergegas pergi.
Arfin berjalan menghampiri Naz lalu duduk di kursi samping ranjang, “ Kok kayaknya abis nangis”, Arfin menatap lekat Naz yang tengah tertunduk malu.
“Siapa yang nangis, orang aku cuman kelilipan”, ucap Naz menyangkal.
“Sejak kapan kelilipan bisa bikin suara jadi bindeng gitu, emang kelilipan itu menyerang hidung juga ya”, Arfin masih terus menggoda Naz yang masih saja menunduk sambil memainkan bonekanya.
“Wahh, sudah kembali rupanya teman tidur lama mu itu ya,, gimana Almond Crispy nya udah dimakan? Enak gak?”, tanyanya.
Naz pun mengangkat kepalanya, “Kok Kak Arfin tahu kalau tedy bear dikirim barengan Almond Crispy”, Naz merasa terkejut mendengarnya.
“Ya tahu lah, memangnya boneka itu bisa jalan sendiri ke sini,,, itu kan boneka tedy bear bukan boneka chucky, Naz”, jawabnya santai.
“Maksudnya,,,?", Naz kembali bertanya karena belum faham.
“Maksudnya- maksudnya apa Naz?, Arfin malah kembali menggodanya.
“Gak tau ah,, menyebalkan", Naz kembali merajuk.
__ADS_1
“Menyebalkan juga ngangenin kan,, bikin kamu rindu sama aku", ucap Arfin tersenyum jahil.
“Gak usah percaya diri deh", Ucap Naz dengan nada jengah.
“Aku sedang tidak percaya diri Naz, tapi sedang ge- er,,hahaha “, Afin tertawa gemas melihat Naz yang cemberut, “Naz, kamu jangan rindu, karena rindu itu berat,, biar Aa saja yang rindu”, Hadeuh eta gombalan buat Milea dijiplak.
“Hah,,, Aa siapa?”, tanya Naz mengerutkan dahinya.
“Ya Aa Arfin lah, masa iya si Dilan itu yang rindu sama kamu,,,”, Arfin meng- Aa kan dirinya.
“Apaan sih pake embel- embel Aa segala”, Naz menggerutu sebal.
“Ya biarin lah, kan orang Sunda manggil cowok itu Aa kan,, apa salahnya kamu manggil aku Aa,, lagian nama depan aku kan Al Arifin jadi bisa kan disingkat jadi Aa”, Arfin meni maksa yasalam.
“Emangnya Kak Arfin orang Sunda?”, tanya Naz.
“Bukan”jawab Arfin singkat.
“Ada keturunan Sunda?”, Naz bertanya lagi.
“Enggak ada”, jawabnya lagi.
“Terus kenapa pengen dipanggil Aa kayak orang sunda?", Nanya mulu Naz ampuun kayak lagi QnA saja.
“Ya siapa tahu nanti dapat jodoh orang Sunda, jadi kan bisa latihan dari sekarang biar nantinya gak kaku gitu ", modus yang terendus.
“Bukannya lagi nyari jodoh orang Surabaya”, Naz ingat perkataan Bunda tadi.
“Orang Surabaya?? Enggak ah ngomongnya pada medok lebih susah belajar ngomongnya, mendingan orang Sunda aja,,,ehh kok malah jadi ngomongin jodoh sih?", Arfin baru menyadari.
“Gak tahu orang kak Arfin yang mulai, wle ", Naz menjulurkan lidahnya mengejek Arfin.
“Kak Arfin Kak Arfin wae,, Aa,, panggil Aa, Naz”, Arfin protes.
“Gak mau ah geli manggilnya", Naz menolak.
“Bukan manggil geli tapi manggil Aa ihh, susah amat sih cuman dua huruf doang”, Arfin mulai kesal.
“Nah gitu donk,,,oh iya ini Aa bawain makanan buat kamu”, Arfin bangkit dari duduknya lalu ia membuka goodie bag yang tadi dibawanya, di dalamnya terdapat sebuah wadah yang dapat menjaga suhu panas agar makanan yang di dalamnya tidak cepat dingin.
“Makanan apa, Aa?”, tanya Naz sambil menahan tawa karena merasa geli harus memanggil Arfin dengan sebutan Aa.
“Kamu kalau pengen ketawa ya ketawa aja, gak usah ditahan gitu”, ucapnya kesal.
“Hahahhahahahhahhaa”, Naz tertawa senikmat mungkin.
“Benar- benar tertawa anak ini”, gumam Arfin dalam hati dan mendelik ke arah Naz, kemudian ia membuka tempat makanan tersebut, “Taraaa,,, ini dia makanan kesukaan kamu, Neng Rheanazwa”, Arfin menunjukan dua wadah yang berisi makanan itu.
“Wahhh,, dimsum,,, itu kayak dimsum buatannya Haji Ipeh yang deket sekolah”, Naz mengenali makan kesukaannya itu.
“Emang,, dari dulu dimsum ini rasanya enak banget dan gak berubah, cuman harganya aja yang berubah”, ucap Arfin.
“Wahh,, banyak banget,, bikin aku lapar tau gak Kak,,, eh Aa”, ucap Naz
“Yasudah kita makan ini “, Arfin mendorong meja makan pasien tersebut dan meletakkannya di sampingnya agar memudahkannya mengambil makanan tersebut. “Sini Aa suapin”.
“Gak usah ,, aku mau makan sendiri”, tolak Naz.
“Hemm,,, mau makan sendiri ya,, dulu ada seseorang yang pernah bilang gini, kalau makan atau minum menggunakan tangan kiri itu di sebut setan atau menyerupai setan”, ucap Arfin mengingatkan.
“Iiih,, Kak Arfin suka balik- balikin omongan aku”.
“Ih Kak Arfin Kak Arfin, dibilangin panggil Aa,,,”, Arfin protes lagi.
“Yasalam,,, ini orang nyebelin nya kebangetan,,, tapi ,,,kalau gak ada ngangenin juga sih”, gumam Naz dalam hati.
“Mau yang mana dulu nih , shiumay ori, shiumay rumput laut, hakau, atau tofu skin roll? Tapi maaf kamu makannya gak boleh pakai sausnya dulu ya, di bening aja dulu”, Arfin memberi Naz pilihan dan Naz menunjuk yang ia inginkan, “Aaak,,,buka mulutnya”, Arfin mulai menyuapi Naz dengan menggunakan sumpit yang tersedia di kotak makannya, Naz pun memakannya dengan lahap.
“Kak, eh Aa kok gak makan? Jijik ya bekas aku sumpitnya?”, tanya Naz sambil mengunyah makanannya.
“Enggak, kan nanti giliran disuapin sama kamu?”, Arfin menjawab dengan entengnya.
“Kan tangan kanan aku di infus,,, kaka,,eh Aa masa pengen disuapin pakai tangan kiri aku, nanti Aa jadi setan dong?”, Naz mencari alasan.
__ADS_1
“Ya enggak lah, kan yang makan pakai tangan kiri yang disebut setan,,sedangkan yang nyuapin pakai tangan kiri kan kamu, ya jadi kamu dong setan nya”, Arfin menjawab tak mau kalah. Aduh apaan ini teh malah gibahin setan, eh tapi gak apa-apa kalo gibahin setan mah gak dosa.
“Dasar curang menyebalkan,,,”, ucap Naz lau mencubit lengannya.
“Aww,, sakit Naz,, galak amat sihh kamu,, sekarang udah berani nyubit yaa,, waktu di ruang musik aja minta dipeluk”, Arfin malah mengejek.
“Gak usah ngadi- ngadi, masa iya aku lagi gak sadar minta di peluk “, ucap Naz menyangkal.
“Dih emang iya kali, tanyain sama ketiga sahabat kamu gih”, Arfin pun kekeh meyakinkan.
“Masa sih,,, perasaan aku minta tolong deh,, masa iya minta peluk”, Naz mengingat- ingat, “Ah,, gak usah ngarang deh”, Naz masih tetap menyangkal.
“Ih,, dibilang gak percaya, emang itu kenyataanya, saksinya ada tiga kepala hayohh”, ucap Arfin sambil terus menyuapi Naz.
“Emang waktu itu aku ngomong apa?”, Naz malah balik tanya sambil menggerak- gerakan kakinya.
“Gini ngmongnya,,, Kak Arfin ,,tolong,, dingin,,dingin”, Arfin menirukan ucapan Naz sambil menggoyang- goyangkan kepalanya seolah mengejek, “Gitu bilangnya,, mana suaranya kayak orang mendesah lagi,, untung Aa masih kuat iman Naz, jadi cuman meluk kamu aja”., ucapnya sambil memberikan suapan dimsum terakhir kepada Naz.
“Itu mah bukan minta dipeluk atuh namanya, Aa aja itu mah nyari kesempatan dalam ketidaksadaran ku, dasar otak mesum”, Naz bicara dengan nada jutek.
“Terus apa dong namanya, laporan upacara gitu,,,?” itu kan sama aja kode, kayak tadi tuh, kamu merajuk gitu dan so so an gak mau ketemu pas Aa datang, padahal kan kode pengen di bujuk dirayu, atau pengen dipeluk lagi?”, tanya Arfin dengan tersenyum jahil.
“Ihh,, apaan sih nyebelin banget maen mau peluk- peluk aja, nanti aku bilangin Bunda”, ucapnya mengancam sambil menggerak- gerakan kakinya kembali.
“Bilangin aja gih,, aku tinggal jawab kalo itu pelukan pembayaran hutang”, Arfin malah menantang dengan alasan aneh.
“Maksudnya, ? Perasaan aku gak punya hutang sama kak… eh sama Aa”, Naz mengingat- ingat.
“Punyalah,,, dulu kamu udah dua kali tiba- tiba memeluk Aa tanpa ancang- ancang”, Yassalam mengungkit itu rupanya si Aa.
“Kapan ih,,, Aa cocok nya jadi penulis novel noh kebanyakan ngarang halu”, yasalam Naz kok jadi gibahin othor sih..
“Ngarang apanya, nih ya Aa ingetin , pertama kamu meluk Aa pas nangis di sekolah di belakang ruang kepsek, kedua kamu meluk Aa pas lagi di Bandung sampe muka Aa bonyok ditonjokin Arsen, udah dua kali berarti tuh ya,, Aa mah baru sekali meluk kamu, itu pun kamu yang minta”, Arfin menjelaskan rentetan kejadian peluk- pelukan.
Naz jadi salah tingkah mengingat kejadian yang disebutkan Arfin, dan ia pun teringat sesuatu, “Ihh,, Kaka juga,,,eh Aa juga berarti udah dua kali meluk aku”.
“Kapan ?,,,,nah sekarang kamu yang jago ngarang”, Arfin mengelak.
“Itu waktu aku lagi nangis abis pulang dari pasar malam yang kita abis sholat magrib, wleee….berarti udah impas”, ucap Naz menjulurkan lidahnya mengejek Arfin sambil menggerak- gerakan kakinya kembali.
‘Ya,, ya,, ya,, baiklah, berarti udah balance yah neraca pelukannya,,, dan dimsumnya pun sudah habis,,, kalo makannya banyak gini indikator sudah sembuh dong ya,, anak pintar”, ucap Arfin mengusap- usap pucuk kepala Naz,” Kamu kenapa sih dari tadi gerak- gerak mulu kakinya,,, lagi ancang- ancang mau nendang Aa ya?,, tenang aja Aa gak akan macam- macam kok”.
“Aku...aku...pengen pipis”, ucapnya malu, karena kateter nya sudah di lepas dua hari yang lalu.
“Kenapa gak ngomong dari tadi,,, gak boleh nahan pipis kayak gitu Naz bisa menyebabkan penyakit,, yasudah sana pipis,,,”, ucap Arfin sambil membereskan bekas makan Naz, “Kok masih diem, kamu mau pipis di kasur?”, tanya nya heran.
“Emm,,, tolong bantu memapah ku ya, aku masih agak keleyengan kalo berdiri,, emm atau panggil suster aja deh”, ucapnya.
“Sudah sini Aa bantu, kalo nungguin suster keburu pipis di celana kamu tuh”, Arfin membantu Naz bangun, “Mau aku gendong?”, tanyanya.
“Gak usah, dipapah aja”, ucap Naz menolak.
Arfin pun memapah Naz dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya menarik tiang infus yang bawahnya beroda dengan berjalan mundur sampai di depan pintu kamat mandi lalu membuka pintunya, Naz pun masuk membawa tiang infusan nya, “Awas jangan ngintip ya”, ucap Naz lalu menutup pintu kamar mandinya,setelah beberapa saat, “ Kak Arfin,,, Kak Arfin,,, aku minta tolong ambilkan tisu di atas meja”, teriaknya dari dalam kamar mandi, namun tak mendapatkan jawaban.
Krik.... krik... krik..
Lima menit kemudian....
“Kak Arfin ,,mana tisunya?”, Naz kembali berteriak sambil mengetuk pintu dari dalam.
“Panggil aku Aa,, baru aku ambilkan,,,,”, Arfin membalas teriakannya dari balik pintu.
“Yasalam,, gue udah nunggu lama tisunya, ternyata dia gak mengambilkannya cuman gara- gara gak dipanggil Aa,,, awas kau ya,,,,, Al Arifin”. Naz menggerutu pelan sambil duduk di atas kloset sambil mengepalkan tangan kirinya.
------------ TBC -------------
**************************
Memang ya mereka pasangan jahil.... hahaha
Happy Reading.... 😉😘
Jangan Lupa tinggalkan jejakmu..... 😉😍
__ADS_1