Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Persekongkolan Duo Curut


__ADS_3

Suasana ruang tamu kediaman Pak Syarief kini nampak berbeda dari biasanya, gelak tawa memenuhi ruangan tersebut di tengah acara pertemuan kedua belah pihak keluarga pasangan kekasih Arfin dan Naz yang membahas mengenai hubungan mereka yang hendak melangkah ke jenjang pernikahan. Arfin yang sebelumnya sudah melamar Naz dan sudah diterima, tinggal menunggu persetujuan dari orang tua Naz untuk melaksanakan lamaran secara resmi sekalian bertunangan.


Awalnya acara pertemuan nampak serius, namun setelah dari kedua belah pihak saling melempar candaan seolah mencairkan suasana, jadilah suasana menjadi heboh ditambah saat orang tua Naz menyetujui dan menanyakan pendapat Arfin soal rencana pertunangan,, Arfin malah mengatakan kalimat akad nikah ‘saya terima nikahnya Rheanazwa Eleanoor Harfi’, tentu saja semua orang menertawakannya, Pak Syarief pun menambah kelucuan dengan mengulurkan tangannya seolah mengajak bersalaman untuk akad nikah.


“Saya tidak setuju jika Naz menikah dengan Arfin !!”, tiba- tiba terdengar suara baritone seseorang yang terlihat baru masuk dari pintu depan dan membuat semua orang terkejut dengan kehadiran orang itu yang dengan lantangnya bicara seperti itu, mata semua orang pun tertuju padanya.


“Hardi,,,?? kamu apa- apaan sih datang- datang langsung maen ngomong gak setuju saja”, protes Bu Rahmi pada putranya.


“Ya emang aku gak setuju Ma,,,, aku ini kan kakak nya Naz jadi aku gak setuju kalau mereka melangkahi ku,,, “, ucapnya yang kemudian ikut bergabung dan duduk di salah satu kursi yang masih kosong.


“Mas Hardi apaan sih,,, orang semuanya udah setuju juga”, Naz ikut protes.


“Terus kalau gak mau dilangkahi, kenapa kamu gak kunjung punya pasangan, Hardi?”, Opa malah menyindir.


“Baiklah,, aku akan menyetujui pernikahan kalian asalkan,…”, Hardi menggantung kalimatnya.


“Asalkan apa?”, tanya Arfin dengan nada sedikit kesal.


“Asalkan kalian ngasih aku pelangkah,,,”,jawab Hardi.


“Baiklah kau bisa meminta apa saja sebagai syarat pelangkah,,, asalkan jangan minta dicarikan jodoh”, ucap Arfin menyanggupi.


“Justru itu yang ku minta tuan Arfin,,,,”, ucap Hardi sambil terkekeh.


“Apa,,?? jangan gila lo ya”, Arfin semakin kesal pada sahabatnya itu.


“Ya ampun Hardi ,,,, kamu bikin malu Papa aja sampai minta dicarikan jodoh segala”, Pak Syarief ikut berkomentar.


“Gak apa- apa Om,,, kebetulan ada tuh Bi Darmih yang sudah 10 tahun menyandang status janda kembang”, Arfin malah menawarkan ART di rumah orang tuanya.


“Sialan lo……. “, Kini Hardi yang merasa kesal.


“Bohong itu Pa,,, Hardi kan sedang dekat dengan salah satu mahasiswi nya”, ucap Bu Rahmi melapor.


“Oh ya??? jadi ini gimana dong mau Hardi dulu apa Naz dulu yang akan menikah?”, tanya Pak Syarief, dan Naz nampak cemberut mendengar pertanyaan itu.


“Monggo silahkan Nanaz dulu saja,,, aku kan masih disibukkan dengan program studi S3 ku,, kayaknya mereka sudah pada ngebet pengen nikah,,, tadi aja aku dengar dari luar sampai ada yang udah mengucap akad nikah,,, Bahaya Pa kalau di tunda- tunda lagi,,, ", Hardi pun mengalah untuk adiknya.


“Iya ,,Hardi kamu teh bener,,, tuh Naz langsung cemberut setelah Papa nya menanyakan siapa yang akan lebih dulu menikah,,, “,Bunda ikut menggoda Naz, dan membuat semua orang melihat ke arah gadis yang kembali menundukkan kepalanya itu.


“Jadi bagaimana,,?? Kapan ini pertunangan mereka?”, tanya Bu Hinda.


“Kayaknya tahun depan Bu Hinda”, jawab Pak Syarief.


Naz langsung mengangkat kepalanya yang tadi sempat menunduk, kemudian melihat ke arah Papa-nya itu, “Kok tahun depan sih Pa?”, pertanyaan Naz kembali mengundang tawa.


“Wah,, bener- bener ini mah sudah ngebet kamu ya,,, hahaha”, Pak Syarief malah menertawakan putrinya itu, “Ya iya lah tahun depan sayang,,, sekarang kan tanggal 31 desember, besok juga sudah masuk tahun depan,,,”, ucap beliau sambil menggelengkan kepala melihat sikap putri kesayangannya itu.


“Dek ,, kamu mah ih meuni nyirikeun udah pengen nikah teh,, malu atuh ih “, Bunda memprotes sang anak.


“Kalau untuk waktunya saya juga belum tahu,,, gimana siapnya anak- anak saja, yang penting saat Naz libur sekolah,, agar tidak mengganggu belajarnya,, “, ucap Pak Syarief.


“Iya sih kamu benar, kalau minggu depan bagaimana?”, usul Pak Latief.


“Mungkin tiga atau empat mingguan lagi lah,, soalnya kan pasti butuh persiapan,,, saya ingin mengadakan pesta besar dan mewah untuk pertunangan cucu ku tersayang ini,,, ”, Opa langsung nyerobot sebelum keduluan putranya.


“Enggak Opa,,, aku gak mau pesta besar ataupun pesta mewah,,, aku pengen acara sederhana aja yang dihadiri keluarga aku sama keluarga Kak Arfin”, Naz mengutarakan keinginannya.


“Loh,, kamu ini kan cucu perempuan satu- satunya yang Opa miliki,,, jadi wajar kan kalau Opa punya keinginan untuk mengadakan pesta besar- besaran dan mengundang semua keluarga besar serta para kolega bisnis keluarga kita juga keluarga Arfin”, Opa masih kekeh dengan keinginannya.


“Enggak mau,,, pokoknya aku pengen acara sederhana aja di rumah,,,”, Naz pun tak mau mengalah tetap pada pendiriannya.


“Iya Pa,,, lagian kan ini baru pertunangan,,, jika ingin pesta besar seperti itu nanti saja saat menggelar pesta pernikahan”, Pak Syarief pun mendukung keinginan sang anak.


Opa berpikir sejenak seolah mempertimbangkan secara singkat, “Baiklah kalau itu kemauan mu,,, kita akan adakan acaranya di rumah ini saja”, Opa pun akhirnya mengalah.


“Kok di rumah ini? Di rumah Rizal lah Pa,,, Naz kan sejak lahir tinggal bersama Rizal,, saat akan menikah pun akan dilepas di rumah itu”, Pak Rizal langsung protes.


“Ya gak bisa gitu Zal,,, acaranya akan tetap di sini,,, Naz itu kan putri kandung ku,, jadi ya lamaran dan acara pertunangannya akan dilaksanakan di sini di rumah ku yang kini menjadi tempat tinggalnya", Pak Syarief kekeh.


“Enggak,, pokonya acaranya harus di rumah ku”, Pak Rizal pun kekeh.

__ADS_1


“Enggak bisa,,, acaranya akan di rumah ini”, Pak Syarief terus tidak mau mengalah, sedangkan yang lainnya hanya memperhatikan keduanya yang seperti anak kecil sedang berebut mainan. Apalagi Naz yang terlihat bingung dan sedih melihat kedua pria yang disayanginya seolah saling memperebutkan dirinya.


"Baru mau bertunangan saja sudah seperti ini,, gimana nanti pas mau nikah,,, apa mereka akan saling berebut tempat lagi,,,aduhh...kok jadi begini sih,,, ternyata punya orang tua banyak itu ada sisi negatif nya juga", gumam Naz dalam hati.


“Sudah sudah,,,kalian itu kok kayak anak kecil merebutkan mainan,,, masalah tempat saja diperebutkan,, yasudah di rumah Opa saja acaranya,,, biar sekalian semua sanak saudara kumpul di rumah Opa”, Opa mencoba melerai dan memberi usulan.


“Enggak bisa,,,!!!”, seru Pak Rizal dan Pak Syarief berbarengan.


“Terus gimana,,, masa iya lamaran di dua tempat,,kan gak lucu?”, Opa malah menjadi kesal.


“Begini saja Mas,, kan sekarang pertemuan ini di rumah Mas,, nah jadi pertunangannya di rumah ku”, Pak Rizal berusaha negosiasi.


“Oke,,, tapi nanti akad nikah nya di sini”, Pak Syarief menyetujui dengan memberi syarat.


“Ya gak bisa dong Mas,,, Naz sejak lahir udah tinggal di rumah saya, jadi akan di lepas di sana juga”, Pak Rizal seolah ingin semuanya dilaksanakan di rumahnya.


“Kamu gimana sih,,, acara pertunangan di sana,, akad nikah juga di sana”, Pak Syarief pun menjadi kesal, hingga tak mempedulikan mereka berdua sudah menjadi bahan tontonan yang lainnya.


“Papa,, Ayah,,, tolong kalian jangan bertengkar hanya karena persoalan ini,,, mending acaranya di ballroom hotel Opa saja, sama seperti saat pesta ulang tahunku tahun kemarin”, Naz yang merasa sedih melihat perebutan tempat, akhirnya memberikan saran, agar tidak menimbulkan pertengkaran lagi hanya karena masalah tempat.


“Iya,,, Opa setuju,,, rasanya itu adil dan tidak akan membuat kalian serasa berat sebelah atau di ayah tirikan,,,”, Opa pun menyetujui usulan Naz dan membuat kedua putranya terdiam.


“Tapi tetap,,, aku pengen acara yang sederhana,, gak mau mewah- mewah,,,”, ucap Naz.


“Jadi,, ini bagaimana? Apakah sudah fix acaranya di ballroom hotel milik Om Harfi? atau dimana ??.... Lalu untuk waktunya kapan?”, Tanya Pak Latief.


“Untuk waktunya nanti kami akan mengabari lagi,, sepertinya kami harus bermusyawarah lagi,,, lebih baik sekarang kita menyantap hidangan yang sudah disediakan oleh para koki- koki cantik itu,,,”, ucap Opa mengalihkan sambil menunjuk kepada tim ibu- ibu rempong para menantunya.


Kemudian Pak Syarief yang sempat terdiam karena mendengar keputusan dari Opa, sebagai tuan rumah pun mengajak para tamu dan yang lainnya ke ruang tengah yang sengaja digelar karpet permadani untuk makan bersama sambil lesehan.


Dan setelah makan, mereka pun kembali ngobrol- ngobrol ringan, ya biasalah kalau bapak- bapak membicarakan seputar bisnis dan pekerjaan, sedangkan ibu- ibu bergosip ria.


Ketiga asisten rumah tangga sedang membereskan bekas makan mereka, Bunda Anita pun ikut membantu membawakan ke dapur, kemudian beliau membereskan kembali makanan di meja makan.


“Mbak,,, akhirnya kita berhasil mempersatukan mereka,,, usaha kita gak sia- sia, Mbak”, ucap Bu Hinda yang menghampiri Bunda Anita di meja makan.


“Iya, Nda,,, tapi aku teh gak nyangka kalau mereka akan menikah secepat ini,,, aku mah ngiranya Arfin akan benar- benar serius gitu gak kayak yang lalu gitu,, gimana atuh kalau udah gini,, Naz masih terlalu muda untuk menikah, Nda"


Flashback


Saat Bu Hinda baru keluar dari kamar mandi ponselnya berdering, kemudian beliau pun mengambil ponselnya dari salam tas.


"Lutfi....?? ada apa ya dia meneleponku ?? apa ada kabar terbaru? ", ucapnya merasa heran, kemudian mengangkat panggilan tersebut.


"Hallo Assalamualaikum ,,Bu... akhirnya diangkat juga telponnya, sudah belasan kali saya menelpon Ibu ", ucap Lutfi yang terdengar bernafas lega.


"Wa'alaikumsalam... Ada apa Lutfi?? apa Arfin berbuat macam- macam pada mu di kantor?", Tanya Bu Hinda.


"Iya Bu... Arfin tadi menghajar saya karena melihat saya sedang ngobrol dengan Naz,,, lalu Naz pun murka dan Arfin langsung pergi mengendarai mobilnya dalam keadaan terpukul,,, saya pun mengejarnya ,,, lalu Arfin mengalami kecelakaan, Bu",,ucap Lutfi melapor.


"Apa kecelakaan,,,?? lalu bagaimana keadaannya? apakah dia terluka parah? sekarang dia dimana?",Bu Hinda terkejut mendengarnya.


"Tenang,,, tenang Bu,,, Arfin baik- baik saja,,, tadi saat mobilnya menabrak tiang, seatbelt dan airbag di mobil menyelamatkannya, dokter bilang dia hanya shock saja dan ada sedikit goresan juga memar di wajahnya,,,tapi dia meminta pemeriksan menyeluruh, dan sekarang dia sedang di ruang rawat inap karena harus di infus dan tidak mau berlama- lama di ruang UGD katanya", Lutfi menjelaskan keadaan Arfin.


Bu Hinda tak sengaja mendengar suara Naz dan Ruby nampak sedang berbicara di ruang tengah, tiba- tiba terlintas ide konyol...


"Arfiinnn......!!", Bu Hinda berteriak, lalu menjatuhkan dirinya ke lantai sambil memegang ponsel di tangannya.


Karena mendengar teriakan Bu Hinda,Naz pun segera masuk ke kamar Bu Hinda, dan ia sangat terkejut melihat Bu Hinda pingsan, lalu meminta bantuan kedua ART untuk menggotong Bu Hinda ke atas tempat tidur.


Naz meminta ART untuk mengambilkan minum dan minyak angin, sedangkan yang satunya memanggil dokter, dan ia sendiri menghubungi Bundanya.


"Haduh... gimana inih.. kok dia sampai memanggil dokter segala", Bu Hinda yang sedang pura- pura pingsan bergumam dalam hati.


Setelah beberapa saat, terdengar bunyi telepon genggam Bu Hinda yang tergeletak di lantai, dan Naz pun mengangkatnya ,,, Kemudian Naz merasa shock dan saat Bunda nya datang Naz pingsan. Bu Hinda pun langsung bangun, kemudian mereka menggotong Naz untuk dibawa ke atas tempat tidur. Ruby keluar dari kamar karena mendengar suara bel berbunyi beberapa kali dan sepertinya belum ada yang membuka kan pintu, entah pada kemana para ART.


"Naz kenapa ini, Nda?", Tanya Bunda pada Bu Hinda.


"Aku gak tahu Mbak,,, kayaknya dia mendapat telpon dari Lutfi deh yang ngasih tahu soal kecelakaan Arfin", jawab Bu Hinda mengira- ngira.


"Apa.. ?? Arfin kecelakaan??", tanya Bunda kaget.

__ADS_1


"Iya,, tadi Lutfi memberitahu ku soal itu", ucap Bu Hinda


"Jadi karena itu kamu pingsan,,", ucap Bunda tapi raut wajahnya nampak bingung karena Bu Hinda terlihat baik- baik saja, tidak merasa sedih.


"Iya... ", jawabnya sambil nyengir, dan tentunya membuat Bunda semakin bingung.


"Tante, Bunda,,, ini dokternya sudah datang,, ",ucap Ruby yang datang bersama seorang dokter., lalu Bu Hinda pura- pura memijat kepalanya.


"Selamat sore Bu,,, permisi saya mau periksa pasien yang dikatakan pingsan tadi saat ditelpon,, ", ucap dokter lalu menghampiri untuk memeriksa keadaan Naz.


"Sore juga Dok... tolong periksa Naz, kemudian nanti periksa saya ya,, seperti ya darah tinggi saya kumat", ucap Bu Hinda yang masih memijat kepalanya, kemudian dokter pun mengikuti perkataan Bu Hinda, dan segera memeriksa keadaan Naz.


"Nona ini tidak apa- apa,, sepertinya hanya kelelahan saja,, tensinya juga normal", ucap dokter memaparkan hasil pemeriksanya.


"Oh iya terimakasih Dok... sekarang giliran saya yang diperiksa,,, tapi di kamar anak saya aja ya dok,, soalnya saya pengen berbaring,,,", ucap Bu Hinda lalu menoleh ke arah Bunda ," Mbak,, bisa temani saya gak?? biar Naz ditemani Ruby sama Mbak Jum tuh yang baru datang bawa minum sama minyak kayu putih", beliau pun mengajak Bunda serta.


Setelah di kamar Arfin, Bu Hinda pun diperiksa dan ternyata baik- baik saja, hanya tensinya saja agak naik, kemudian dokter meminta izin untuk numpang ke toilet, dan ditunjukan lah toilet di luar kamar.


Bu Hinda kini hanya ditemani oleh Bunda di dalam kamar Arfin, "Mbak.. saat di Jakarta aku mendapat kabar dari Bi Darmih kalau Naz datang ke rumah dan menanyakan soal Arfin,,bahkan dia sampai menangis katanya,,, makanya aku datang ke Surabaya lagi untuk menemui Naz ,, dan benar saja Naz dan Arfin masih saling mencintai, bahkan aku sudah bilang semuanya tentang alasan Arfin menjauhinya dulu,, dan saat aku tanya,, ternyata Naz masih memiliki harapan untuk kembali bersama Arfin,,, makanya aku membantunya untuk bisa bersama Arfin lagi, tanpa harus mengajar- ngejar Arfin,, tapi membuatnya cemburu seolah memiliki pesaing ....", Bu Hinda bercerita pada Bunda.


"Apa...??? Naz teh sudah tahu semuanya? dan berharap bisa kembali lagi dengan Arfin?", tanya Bunda terkejut.


"Iya Mbak,,, dan dia ingin membuat Arfin untuk tidak takut menikah,,, tapi,,, aku juga butuh bantuan Mbak untuk menyadarkan Arfin", ucap Bu Hinda.


"Bantuan?? bantuan apa?", tanya Bunda heran.


Tok tok tok.... "Bu,,, itu Nona Naz terus mengigau memanggil- manggil Den Arfin", ucap Mbak Retno dari balik pintu.


"Mbak Anita ke sana sendiri saja,,, bilang aku harus beristirahat,,, dan kalau dia ingin ke rumah sakit,, izinkan saja,,, nanti aku akan membicarakan rencana untuk mereka", ucap Bu Hinda yang kemudian Bunda pun beranjak pergi ke kamar Bu Hinda untuk menemui Naz, ternyata dokter sudah kembali dan langsung memeriksa Naz lagi sesuai permintaan Bunda.


Setelah Naz sadar sepenuhnya, benar saja ia terus bersikeras ingin ke rumah sakit untuk melihat keadaan Arfin sambil terus menangis. Bunda yang awalnya tidak mengizinkan, lalu membiarkannya pergi bersama Ruby, karena tak tega melihatnya begitu sedih dan mengkhawatirkan Arfin.


Naz dan Ruby pun pergi, kemudian disusul dengan kepergian dokter setelah Bunda membereskan administrasinya. Bunda kembali ke kamar Arfin tempat Bu Hinda menunggunya.


"Nda,,, emangnya kamu teh gak khawatir gitu sama keadaan Arfin? itu Naz aja sampe nangis terus kayaknya mah takut Arfin terluka parah", tanya Bunda heran.


"Aku sudah tahu kalau dia baik- baik saja, dia cuma ada sedikit memar aja kata Lutfi.. oh iya Mbak kita kembali ke pembahasan tadi", ucap Bu Hinda.


" Alhamdulillah kalau dia baik- baik saja,,, Oh iya,, rencana apa eta teh ??", tanya Bunda.


"Gini Mbak,,, kan Aku udah bikin Arfin cemburu sama Naz dengan berpura- pura dekat sama Lutfi, orang kepercayaan Arfin,,, namun tetap saja tak membuat ya mengakui perasaannya terhadap Naz ,,, dan sepertinya dia butuh tantangan lain yang lebih berat untuk bisa mendapatkan Naz lagi", Bu Hinda mulai menjelaskan.


"Terus hubungannya sama aku teh apa?", Tanya Bunda yang masih bingung.


"Naz kan lagi ke rumah sakit, kemungkinan setelah ini mereka akan dekat,, karena Naz pasti merasa bersalah soalnya Arfin yang mengalami kecelakaan setelah bersitegang dengannya,, Nah saat mereka dekat, Mbak harus menentang hubungan mereka ,, sehingga nantinya Arfin harus berjuang keras untuk bisa mendapatkan Naz lagi dan bisa menunjukkan kesungguhan dan keseriusannya ,,,", Bu Hinda mengutarakan rencananya.


"Tapi kalo mereka malah tambah menjauh gimana,,, apalagi setelah Naz mengetahui keadaan Arfin baik- baik saja, jadi tidak merasa bersalah",Tanya Bunda yang berfikir kemungkinan lain.


"Kita coba saja dulu ,,,siapa tahu berhasil", ucap Bu Hinda optimis.


Kemudian setelah beberapa saat beliau mendapatkan pesan dari Lutfi, kalau Naz dan Arfin sedang berpelukan di dalam ruang rawat inap di atas ranjang rumah sakit, dengan Naz yang sambil menangis .


"Mbak Anita,,, sebaiknya sekarang kita ke rumah sakit,,, Lutfi bilang mereka sedang berpelukan di ranjang rumah sakit,,, ayo ayo... kita harus memergokinya,,, biar bisa memulai drama kita", ajak Bu Hinda.


"Ba baiklah", ucap Bunda yang masih merasa bingung dan perasaan bertanya- tanya tentang apa yang harus dilakukannya, kemudian mereka pun segera berangkat.


Setelah menempuh jarak beberapa saat, mereka tiba di depan ruang rawat Arfin yang pintunya sedikit terbuka, kemudian keduanya langsung masuk dan tak disangka mereka melihat Naz dan Arfin yang hampir berciuman, tentu saja itu menjadi sasaran empuk untuk mereka menjalankan rencana Bu Hinda.


Flashback off


"Hahaha,,, lucu ya kalo inget itu... bahkan saat Arfin pergi ke rumah Pak Aji untuk menemui Naz, aku langsung memberitahu Mbak supaya menghalanginya bertemu dengan Naz karena ingin tahu seberapa besar usahanya untuk bersama Naz lagi",ucap Bu Hinda tertawa renyah.


"Hahaha,,, iya aku teh kayak artis antagonis di sinetron ikan terbang tahu gak... kamu mah gak lihat sih gimana ekspresi Arfin saat aku menanyakan keseriusannya terhadap Naz, eh malah diam aja menunduk nampak putus asa ", ucap Bunda.


"Iya, Mbak harusnya dapat penghargaan piala Oscar pemeran Ibu Mertua jahara ...hahaha,,, Ada yang lucu tau gak,,, Mbak kan sejak subuh udah ngasih tahu kepulangan kalian ke Jakarta,, aku sengaja memberitahukannya saat 10 menitan lagi pesawat kalian take off ,,, jadi kan dia gak akan bisa ngejar kalian",ucapan Bu Hinda mampu membuat mereka tertawa.


" Haha... kita teh nya kayak duo curut yang diam- diam bersekongkol demi kembalinya hubungan mereka berdua ya Nda? hihihi", ucap Bunda sambil cekikikan.


" Oh... jadi ini semua ulah kalian ??", ucap seseorang yang ternyata menguping pembicaraan duo curut itu, dan membuat kedua nya terkejut.


-------------- TBC--------------.

__ADS_1


Happy Reading.....


__ADS_2