Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Mencintaimu Diam- Diam


__ADS_3

Arfin POV


Masih Flashback


Hari ini hari ke-empat aku dirawat, dan aku masuk ruang ICU karena trombosit ku menurun drastis dan Hb ku pun rendah, sehingga aku membutuhkan perawatan khusus serta transfusi darah, kedua tanganku masing- masing dipasang selang infus, yang satu cairan infusan dan yang satu transfusi darah.


Mami sempat berpikiran untuk memberitahukan keadaanku pada Naz, namun aku terus melarangnya, dan akhirnya Mami memberitahukan Bunda, karena beliau beberapa kali mencoba menghubungi Mami, mungkin untuk menanyakan masalah yang menimpa hubunganku dengan Naz.


Entah apa yang dikatakan Mami pada Bunda, beliau tak pernah mempertanyakan alasan ku yang menolak untuk bertunangan apalagi menikah mungkin karena melihat kondisiku yang sangat lemah.


Setelah hari itu Bunda setiap hari menjenguk ku, karena selama di rawat di ruang ICU aku terus mengigau memanggil nama Naz dan kondisiku semakin menurun, Bunda terus menyemangati ku untuk sembuh, dan beliau pun tidak memberitahukan kondisi ku pada Naz.


Aku pikir kematian ku sudah dekat karena kondisi ku tak kunjung membaik, namun setelah tiga hari dirawat di ICU dengan dukungan dari keluarga ku, kondisi ku mulai membaik dan aku pun dipindahkan kembali ke ruang rawat inap, karena trombosit ku sudah mulai naik, serta infusan yang satunya lagi sudah bisa dilepas.


Kini keadaanku berangsur membaik setelah dua hari keluar dari ICU, namun pagi ini aku mendapat kabar duka bahwa Bude Hafsah meninggal dunia subuh tadi, dan sesuai amanat beliau, Mami bilang sekarang sedang dilakukan operasi cangkok mata untuk mendonorkan mata beliau pada Maira.


Aku merasa sangat sedih, karena belum sempat menjenguk Bude dan hanya mengetahui kabarnya dari Bang Evan, oleh karena itu aku bersih keras ingin melayat. Namun Mami mencegahku karena kondisi ku belum sepenuhnya pulih, tapi aku terus memaksa.


“Al,,, nanti di sana kamu pasti akan bertemu dengan Naz,, apa kamu sudah siap hah?”, Mami terus mencari cara agar bisa mencegahku.


Aku berpikir sejenak karena yang dikatakan Mami memang ada benarnya, pasti di sana aku akan bertemu dengan Naz, karena dia juga sangat dekat dengan Bude.


“Apa mungkin ini sudah saatnya aku bertemu dan berbicara dengannya? Tidak mungkin aku terus menggantung hubungan kami seperti ini, dan pastinya dia pun butuh kejelasan,, tapi ,, apakah aku sudah siap dengan segala resikonya?”, gumam ku dalam hati.


Aku terus memikirkan hal itu dengan penuh pertimbangan, akhirnya aku memutuskan memberanikan diri untuk menemui Naz. Aku pun berkonsultasi pada dokter saat jadwal visit dan aku mendapat izin untuk pergi, karena trombosit ku terus naik dan keadaanku sudah berangsur membaik, bahkan aku sudah diperbolehkan pulang, namun harus tetap beristirahat di rumah.


Bang evan mengabari ku kalau jenazah hendak dibawa ke pemakaman dan ia mendapat kabar dari Mina karena ia sedang menemani Maira. Aku pun meminta Mami untuk ke sana dulu sebelum pulang. Mami yang awalnya terus melarang ku akhirnya menuruti kemauanku.


“Kamu yakin Al ,,,, sudah benar- benar siap bertemu dengan Naz?”, Mami terus menanyakan hal yang sama selama kami dalam perjalanan,, hingga aku pun bosan menjawab pertanyaannya.


“Mi,, Al sejak dari rumah sakit juga jawaban Al tetap sama,, Al sudah siap dengan segala konsekwensinya”, ucapku terus meyakinkan Mami, padahal sebenarnya hati ini terasa berat dan takut membayangkan hal buruk yang akan terjadi.


Akhirnya kami sampai di pemakaman dan ternyata aku datang terlambat, terlihat dari orang- orang yang berjalan meninggalkan sebuah makam, aku dan Mami berjalan menuju makam tempat dikuburkannya jenazah almarhum Bude. Dari kejauhan terlihat Bunda yang berjongkok bersama seseorang yang memeluk nisan kuburan. Aku terus melangkahkan kaki ku tanpa melepaskan pandangan dari orang yang menangisi nisan itu hingga aku sampai di depan kuburan Bude, aku terus memandangi gadis yang sangat aku cintai dan sangat ku rindukan itu.


Sakit rasanya hati ini melihat ia menangis seperti itu, ingin rasanya aku memeluknya seperti yang biasa ku lakukan, karena saat ia sedih seperti itu, hanya padaku lah ia berani membagi kesedihannya. Namun aku sadar, aku harus bisa menahan diri, dan dia harus terbiasa tanpaku di sisinya.


Aku benar- benar tidak bisa melepaskan pandanganku darinya, aku ingin memuaskan diri terus memandangnya karena setelah ini entah aku masih punya kesempatan atau tidak. Namun saat ia berhenti memeluk nisan dan berdiri,, ia mengangkat wajahnya sehingga mata kami pun sempat saling beradu pandang, ia tersenyum padaku seolah merasa bahagia bertemu dengan ku, aku pun ingin membalas senyumnya bahkan ingin memeluknya, namun saat kusadari aku langsung pura- pura mengacuhkannya, kemudian berjongkok untuk mendoakan mendiang Bude, dan ia pun pergi bersama Bunda. “Maafkan aku Naz”. Lirihku dalam hati.


“Al… kenapa kamu mengacuhkannya seperti itu? dia yang terlihat bahagia saat melihatmu, tapi setelah kau mengacuhkannya ia terlihat sangat sedih dan kecewa”,Mami bertanya padaku saat kami berjalan meninggalkan makam Bude. Aku tak menjawabnya, karena aku pun merasa bersalah telah melakukan hal itu.


Saat kami sudah berada di dalam mobil, aku meminta sopir mengantarkan kami ke panti.


“Mami,,, pergi ke panti temui Naz dan Bunda,,, jika mereka menanyakan keberadaan ku bilang kalau aku ada di danau”, ucapku pada Mami.


“Untuk apa kamu ke danau, Al?”, tanya Mami.


“Aku akan menunggu Naz di sana,,, karena setelah mengetahui aku di danau, Naz pasti akan menemui ku di sana”, ucapku dengan yakin.


“Bagaimana kamu bisa tahu, AL? Memangnya kamu ini cenayang apa?” , tanya Mami terkekeh.


Aku menghela nafas sejenak, “Itu tempat favorit kami, dan tempat itu memiliki banyak arti untuk kami,,,”.

__ADS_1


“Baiklah kalau begitu”, ucap Mami.


Tak lama, kami pun sampai di dekat panti dan Mami turun dari mobil di depan rumah samping panti, kemudian sopir melajukan kembali mobilnya menuju taman danau yang hanya terletak 300 meter dari panti.


Aku turun di depan taman dan melangkahkan kakiku menuju tepi danau yang merupakan tempat biasanya aku menyendiri dan menenangkan diri. Aku pun duduk di bangku yang menghadap ke danau, pandanganku lurus ke depan, namun hati dan pikiranku hanya tertuju pada Naz,


“Apakah dia akan datang kesini menemui ku? Apa yang harus ku lakukan? Apa yang harus ku katakan? Bagaimana nanti reaksi Naz terhadapku?”, beberapa pertanyaan bermunculan di benak ku. Aku terhanyut dalam lamunanku dengan tatapan sendu.


Tiba- tiba terdengar suara langkah kaki, yang ku yakini itu adalah Naz, rasa takut pun menghampiri diriku, ia pun duduk di sisi lain bangku yang ku duduki sehingga ada jarak diantara kami. Aku tak berani menatapnya atau hanya menoleh padanya, sehingga pandangan ku pun tetap lurus ke depan.


Hening ,,,, tak ada yang membuka suara diantara kami seolah bibir kami terkunci begitu saja, dan hanya hembusan nafas yang terdengar. Aku pun bingung harus memulai dari mana, dan tiba- tiba satu kata meluncur dari bibir ku begitu saja,


“Maaf,,, “, ucapku lalu aku menundukkan kepalaku karena memang akulah disini yang bersalah.


“Maaf untuk apa? Maaf untuk yang mana?”, tanaynya padaku.


Deg ,,, pertanyaan itu bagaikan anak panah yang menusuk ke jantungku dan menyadarkan ku betapa banyak kesalahan yang telah ku lakukan padanya hingga aku menyakitinya, aku salah seharusnya dari awal tidak pernah melibatkannya dalam kehidupanku, aku salah seharusnya aku tidak pernah menyatakan cintaku padanya, aku salah seharusnya aku tidak membuatnya begitu mencintaiku, aku salah seharusnya aku tidak selalu ada disaat dia membutuhkanku sehingga membuatnya seolah bergantung padaku yang ujung- ujungnya aku akan meninggalkannya, dan masih banyak lagi kesalahanku padanya.


“Maaf untuk segalanya,,,”, jawabku penuh sesal dan rasa bersalah, sehingga aku hanya bisa menundukkan kepalaku.


“Lalu bagaimana dengan nasib hubungan kita selanjutnya? Apa kn terus seperti ini? Jangankan untuk bertemu, untuk berkomunikasi pun tidak pernah sama sekali”, sudah ku duga pertanyaan itu akan dilontarkan oleh Naz, dan aku hanya bisa pasrah dengan keputusan yang akan diambil Naz, aku tidak berani berkata apa pun selain kata maaf maaf maaf yang terus ku lontarkan. Aku hanya bisa menerima semua ucapan Naz, apalagi saat ia mengatakan bahwa aku sudah mempermainkannya dan mengakhiri hubungan kami, dada ini terasa sakit mendengarnya sampai ia menangis, dan aku terus megutuk diri ku sendiri dalam hati saat mendengar ia meluapkan rasa sakit hatinya.


Ingin rasanya aku bersujud di kakinya untuk meminta maaf, namun aku terus menahan diri dan diam menunduk tanpa berbuat apa- apa, karena tak ingin membuatnya semakin berat melepaskan ku. Sampai keluar kalimat yang sangat menyakitkan yang ia lontarkan,


“Jangan pernah menampakan dirimu lagi di hadapanku, karena aku sangat membencimu, aku benci padamu,, kaulah satu- satunya yang aku benci di dunia ini, anggap saja kita tidak pernah saling mengenal, selamat tinggal,,,”, ucapnya dengan disertai tangisan yang kemudian pergi meninggalkanku.


Duniaku serasa runtuh, hati ku benar- benar hancur, aku terus memandanginya hingga ia tak terlihat lagi dengan linangan air mata yang tak terbendung lagi yang sejak tadi aku tahan, aku menjatuhkan diriku dai kursi hingga aku duduk di atas tanah dengan menekuk kedua lututku, “Semuanya benar- benar sudah berakhir,,,, Maafkan aku,,,, maafkan aku Naz ,,,, aku benar- benar minta maaf”, ucapku disertai isakan tangis.


Tiba- tiba Mami menghampiriku dan duduk disebelah ku menghadap padaku lalu memegang pundak ku,


“Sudah Al,,, Mami sudah mendengar semuanya, kau sudah memutuskan jalan inilah yang kau pilih dan kau harus bisa menguatkan dirimu,, ikhlaskan dia,, tabahkan hatimu,, Mami tahu ini sangat berat untukmu, Mami akan selalu ada untukmu”, ucap Mami mencoba menenangkannya, dan aku terus menangis di pelukan Mami, karena kata- kata terakhir Naz terus terngiang di telingaku,,, betapa beratnya harus berpisah dan menerima kebencian dari wanita yang sangat ku cintai.


“Sudah Al,,, ayok ita pulang,, wajahmu masih pucat dan kamu harus banyak istirahat,,, ayok bangun Nak”, Mami membujukku untuk pulang dan akupun menurutinya. Aku berdiri dipapah oleh Mami yang terus memelukku dari samping, aku pun melangkah meninggalkan danau ini dengan semua kenangan di dalamnya.


Di danau ini tempat pertama kali kami bertemu saat kami dalam keadaan sedih, di danau ini tempat kami bertemu kembali setelah tujuh tahun kemudian di saat dia menangis aku datang menghiburnya, di danau ini tempat aku menyatakan perasanku padanya juga menjadi saksi saat kami memulai hubungan, dan danau ini pula yang menjadi tempat kami mengakhiri hubungan ini. Begitu banyak kesedihan yang kami luapkan di sini, mungkin ini terakhir kalinya aku menginjakan kaki ku di sini, karena hanya akan mengingatkanku betapa teganya aku menyakitinya, menyakiti wanita yang sangat aku cintai dan yang kini sangat membenciku.


Sudah seminggu berlalu, semenjak kejadian itu aku terus mengurung diriku di dalam kamar tanpa melakukan kegiatan apa pun selain melamun, meratapi kesedihanku, dan menyesali kesalahanku. Aku selalu memandangi foto Naz dan foto kebersamaan kami yang aku print dari ponselku, bahkan aku berulang kali memutar video yang ia rekam saat kami di Bandung bermain di wahana permainan bersama Dandy yang ada di dalam ponsel Naz yang belum sempat ku kembalikan. Kadang aku tersenyum, aku tertawa sendiri, bahkan aku menangis, layaknya orang stress.


Kata- kata terakhir Naz terus terngiang di kepalaku, ‘aku sangat membenci mu,,, kaulah satu- satunya yang aku benci di dunia ini,, jangan pernah menampakan lagi dirimu dihadapan ku ’,.


Aku tenggelam dalam keterpurukan yang lebih parah dari pasca aku mengalami kecelakaan dulu. Untuk membujukku makan saja, Mami sampai mengancam akan membuang semua foto- foto Naz yang ada di kamarku, yang selalu menemani hari- hariku. Tubuhku kurus kering dan wajahku kusam, bewok dan kumis tumbuh yang menampakan betapa tak terurusnya diri ini. Semua orang yang datang menasehati ku tak ada yang ku hiraukan satu pun, sampai kedua orang tua ku mendatangkan psikiater untuk menangani ku yang ternyata setelah dilakukan pemeriksaan dan analisa dari beberapa gejala yang ku alami, psikiater itu menyatakan aku mengalami depresi Mayor.


Selama dua bulan psikiater datang seminggu dua kali untuk melakukan terapi psikis padaku, tentunya dengan rutin meminum obat anti-depresan yang diresepkannya dan setelah melewati itu semua kini aku dinyatakan sembuh total. Ini berkat dukungan keluargaku, bahkan Kak Fatma yang dari Amerika pun sampai pulang karena sangat mengkhawatirkan keadaanku. Bunda yang secara diam- diam selalu datang melihat keadaanku pun terus mendukung ku dan dari beliau lah aku bisa mengetahui keadaan Naz, itu pula yang membuatku bisa sembuh lebih cepat karena mengetahui Naz baik- baik saja dan sudah mulai kembali ceria lagi.


Aku pun kini bisa menjalani kehidupanku kembali seperti semula dan sudah mulai melupakan kesedihanku serta bangkit dari keterpurukan ku.


Aku mengutarakan keinginanku untuk kembali ke Amerika, dan aku pun sudah menghubungi teman kuliah serta teman kerja ku dulu saat di sana untuk menanyakan lowongan pekerjaan. Namun saat mendengar hal itu Mami tidak menyetujuinya.


“Al,,, jangan kembali ke Amerika lagi,, Mami gak mau jauh dari kamu lagi,, apa kamu sudah tidak peduli dengan Mami?”, mami terus mencegah.


“Tapi Mi,,, aku ingin melupakan segalanya dan memulai hidup baru di sana, Mami masih bisa ke sana kan sekalian menengok cucu- cucu Mami dan Kak Fatma”, ucapku membujuk.

__ADS_1


“Ayolah Al,,, Mami mohon kamu jangan kembali ke Amerika lagi,,, kamu kan bisa mengurus kantor cabang milik keluarga kita yang tersebar di beberapa kota,,, iya kan Pi ?“.


“Iya Al, kamu bisa pilih yang di Bekasi, Surabaya, Bandung, Semarang atau perusahaan Tambang di Kalimantan?”, Pak Latief mendukung istrinya itu.


Aku memikirkan usulan dari Mami dan Papi,, yang ada di benakku yang penting bisa keluar dari Jakarta dan tidak pernah menampakkan diriku lagi di depan Naz sesuai keinginannya. Akhirnya ku putuskan aku memilih Kantor cabang yang ada di Surabaya karena aku sudah pernah mengurusnya. Namun aku memberikan syarat kepada kedua orangtuaku agar menyembunyikan keberadaan ku di sana, baik itu dari sanak saudara atupun orag luar, apalagi dari keluarga Naz. Dan mereka pun menyanggupi persyaratan ku.


Kini aku tengah mengemasi barang- barang ku untuk kepindahan ku ke Surabaya dan Mami sudah mengatur keberangkatan ku ke sana serta menyiapkan tempat tinggal ku di sebuah perumahan elit di sana. Papi meminta orang kepercayaannya untuk membungkam semua pegawai agar tidak memberitahukan keberadaan ku di sana kepada pegawai kantor cabang lainnya, termasuk kepada pegawai kantor pusat di Jakarta dengan sanksi PHK bagi yang melanggar, termasuk Pak Purnomo Aji yang tidak lain adalah suami dari tantenya Naz pun sama diminta bungkam.


Semua sudah siap, dan aku pun pergi menghampiri Mami ke kamarnya. Aku duduk di atas tempat tidur, menunggu Mami yang belum selesai berdandan. Aku melihat salah satu laci di samping tempat tidur Mami terbuka, lalu aku berniat menutupnya, namun aku melihat gambar pada sebuah kertas yang ternyata saat ku ambil itu adalah buku gambar.


“Mami,,, siapa yang menggambar sketsa rumah ini?”, tanyaku.


Mami lalu berdiri dan menghampiri ku, “it,,, itu,,,emmmm,,,, seseorang menggambarnya”, Mami menjawab dengan idak jelas, lalu aku melihat ada buku gambar lain di laci itu yang sebelumnya berada dibawah buku gambar yang sedang ku pegang ini, aku pun mengambilnya.


”Dia bilang itu rumah impiannya, depannya nampak minimalis, tapi dalamnya adalah rumah besar yang hanya satu lantai tapi dengan atap yang tinggi dan memuat ruang tamu dan ruang tengah agak besar agar bisa dipakai kumpul keluarga. Ia ingin ada lima kamar di rumah itu, di luarnya terdapat taman yang dilengkapi satu kolam renang tapi dibagi dua bagian satu bagian yang dalamnya 1,5 meter dan bagian lainnya hanya setengah meter untuk berenang anak- anak katanya dan terdapat mainannya juga, serta rumah itu dikelilingi hijau- hijauan seperti rumah ini”, ucap Mami seolah mendeskripsikan gambar sketsa rumah padahal hanya tampak depannya saja, tapi beliau menjelaskan selengkap itu.


“Udah ah,, ayok kita berangkat,,, nanti bisa ketinggalan pesawat”, Mami mengajakku segera pergi dan memintaku menyimpan buku gambar itu kedalam laci lagi, kemudian kami pun berangkat ke bandara untuk terbang ke Surabaya.


Selama beberapa hari Mami menemaniku di Surabaya dan mempekerjakan seorang asisten rumah tangga yang bernama Juminten, seorang janda berusia 40 tahunan. Mami pun kembali ke Jakarta, karena Bang Evan dan Maira akan menggelar pesta pernikahan setelah mendapatkan restu dari Kakek, dan aku tidak akan menghadirinya. Sama halnya dengan pernikahan Dandy sahabatku yang akan dilaksanakan besok, aku pun tak akan datang, hanya menitipkan kado saja pada Mami.


Hari demi hari aku jalani kehidupanku di Surabaya yang sudah berlangsung selama satu bulan, namun tetap aku belum bisa melupakan Naz, karena semakin aku berusaha melupakannya, perasaan cintaku terasa semakin besar. Aku memajang fotonya dan foto kebersamaan kami di kamarku, aku tidak peduli jika orang menganggap ku gila, dan ini lah yang ku lakukan, mencintainya secara diam- diam.


Aku mengutarakan niatku ingin membangun rumah dengan jeripayah sendiri, dan Pak Aji mencari tanah kosong yang cukup luas untuk membangun rumah, dan ia pun mendapatkannya yang ternyata tidak jauh dari tempat tinggalnya. Aku pun membeli tanah itu dan membangun rumah di sana dengan menggunakan uang tabunganku.


Entah ada bisikan dari mana, aku teringat dengan sketsa rumah yang Mami deskripsikan tempo hari, lalu aku membuat desainnya dan dalam kurun waktu tiga bulan rumah itu pun selesai di bangun. Aku pun pindah ke sana dan mengadakan acara selametan rumah. Aku pun menambah satu asisten rumah tangga lagi untuk membantu Mbak Jumi mengurus rumah beserta taman dan tanaman di halaman.


Di kamar, aku memajang foto- foto Naz, baik itu yang sendiri atau sedang bersamaku, bahkan sebuah foto cukup besar yang ku pajang di dinding yang berhadapan dengan tempat tidurku, sehingga setiap aku bangun tidur wajahnya lah yang pertama kali aku lihat untuk mengawali hariku.


Aku dan keluarga Pak Aji menjadi dekat, anak- anaknya sering dibawa bermain ke rumah ku, dan aku pun merasa senang karena rumah menjadi ramai. Aku menganggap mereka seperti keponakan ku sendiri, dan serasa memiliki keluarga di sini, karena aku tak pernah pulang ke Jakarta, paling kedua orangtuaku atau Bang Evan beserta istri dan anaknya berkunjung ke sini.


***


Enam bulan telah berlalu, pekerjaan akhir tahun membuatku sangat sibuk sehingga makan dan tidurku tidak teratur dan setelah selesai tutup buku akhir tahun aku pun tumbang, aku terkena typus dan dirawat di rumah sakit. Mbak Jum langsung mengabari Mami, dan beliau pun datang ke Surabaya untuk menemani ku selama aku dirawat di rumah sakit. Setelah beberapa hari dirawat, aku pun sudah diperbolehkan pulang, dan keesokan harinya Mami kembali ke Jakarta.


Setelah sarapan pagi, aku meminum obatku dan kemudian tidur karena dokter menyarankan ku untuk istirahat di rumah supaya cepat pulih kembali.


Pukul sembilan pagi aku terbangun karena ada yang mengetuk pintu kamarku, dan ternyata itu Mbak Jum, ia mengabarkan kalau salah satu anaknya Pak Aji meninggal karena kecelakaan, ia sudah membangunkan ku satu jam yang lalu namun taka da jawaban katanya. Aku pun langsung mandi dan bersiap untuk melayat ke rumah duka.


Aku berjalan kaki menuju rumah Pak Aji yang tak jauh dari rumahku, di sana sudah banyak pelayat yang datang, dan saat aku masuk kedalam rumah, betapa terkejutnya aku melihat ada Om Rizal sedang duduk bersama Pak Aji. Pikirku cepat sekali beliau datang kesini, aku pun menyapa nya dan mengucapkan turut berduka cita pada Pak Aji, kemudian aku mengedarkan pandanganku karena entah mengapa ada rasa takut jika ternyata Naz ikut serta dengan Om Rizal, namun aku tak berani menanyakannya, aku bernafas lega karena yang kutemukan hanya Bunda yang sedang memeluk Tante Ina yang terus menangis. Bahkan setelah pemakaman pun aku tak menemukan keberadaan Naz, aku pun langsung pulang seusai dari pemakaman.


Saat di rumah ternyata isi dompetku hanya tinggal dua ratus ribu, aku pun pergi ke ATM diantar sopir kantor karena aku belum kuat untuk menyetir sendiri. Sialnya kartuku tertelan oleh mesin ATM nya, aku pun meminta sopir mengambilkan buku tabunganku ke rumah, sedangkan aku menunggu di Bank untuk mengganti kartu ATM ku yang raib.


Tiba- tiba aku menerima telpon dari Mami yang mengatakan bahwa Naz pernah datang ke rumah untuk menanyakan keberadaan ku, dan beliau mendapat kabar dari Tante Rahmi, kalau Naz sedang di ke Surabaya menjenguk anak dari adiknya Bunda yang mengalami kecelakaan.


“Apa,,, ternyata dia juga ikut dengan Ayah Bundanya kesini? Lalu dimana dia? Karena sejak aku di sana sampai ke pemakaman tak menemukannya sama sekali… apakah dia sempat melihatku dan ia menyembunyikan dirinya karena tak mau bertemu denganku?”, Berbagai spekulasi dan pertanyaan timbul di benakku.


------------- TBC ------------------


*******************


Happy Reading….

__ADS_1


Jangan luva tinggalkan jejakmu…


Terimakasiih banyak,,, I love U all,,,,


__ADS_2