Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Arfin Ketangkap Basah


__ADS_3

Sore perlahan mulai meredup, matahari pun telah menenggelamkan dirinya karena perannya akan segera digantikan sementara oleh sang rembulan, pula dihiasi indahnya bintang yang nantinya akan muncul satu demi satu hendak bertebaran menghiasi gelapnya langit dengan kelap – kelipnya, namun kali ini langit nampak lebih gelap dari biasanya cahaya kecil – kecilnya pun tertutup awan hitam sepertinya akan turun hujan. Malam minggu biasanya kaula muda identik dengan acara ngedate atau ngapel kata orang Sunda mah, namun itu berlaku bagi yang memiliki pasangan ya jangan lupa di garis bawahi yang memiliki pasangan, kalo buat yang masih jomblo alias gak punya pacar atau gak punya gebetan sama sekali alias belum laku hanya bisa menikmati malam minggu kelabu seorang diri saja, wayahna sing kuat,,,,,sabar ini adalah ujian. Eh tapi,, sayangnya malam ini bukan malam Minggu,, tapi malam Jum'at yaaa.


Tok tok tok seseorang mengetuk pintu kamar


“Neng,,,,Neng Naz,, dipanggil Bapak untuk makan malam” Mbak Iyem berteriak dari balik pintu kamar Naz.


“Emmhhh,,, iya Mbak , bentar lagi aku turun“ Naz menjawab dengan suara serak khas bangun tidur, lalu mengumpulkan nyawanya terlebih dahulu barulah dia bangkit dari tidurnya dan melihat jam ternyata sudah jam 7 malam lebih. “Ya ampuun aku lama banget tidur dari jam 3 tadi”. Kemudian Naz mengambil handuk dan bergegas ke kamar mandi. Setelah 15 menit mandi Naz sudah berganti pakaian dan langsung turun ke bawah menuju meja makan untuk makan malam.


“Ayah pulang jam berapa? Kok aku gak tahu?” Tanya Naz sambil menggeser kan kursi untuk di dudukinya.


“Tadi pas magrib,,,, gimana kamu bisa tahu orang kamu tidurnya pules banget, waktu Ayah masuk ke kamarmu juga kamu pasti gak nyadar ya”, Jawab Ayah.


“Hehe,, iya Yah aku tadi cape banget sampe ketiduran deh”. Naz malah cengengesan ketahuan kebo nya kalo tidur.


“Kamu belum shalat Dek” Tanya Ayah lagi.


“Aku lagi gak shalat Yah, tadi gak enak perut juga”.


“Pantesan tadi Mbak Iyem bilang dari pulang sekolah kamu gak keluar- keluar,,, oh iya ,,selamat ya sayang atas prestasimu, Ayah bangga sama kamu” Ayah yang duduk bersebelahan dengan Naz mencium kening Naz dan memeluknya dari samping.” Mau hadiah apa dari Ayah hemm?”, Wahh asyik tuh.


“Apa ya,,,? nanti deh pikir- pikir dulu”.


“Hmmm,,,mencurigakan ini mah”.


“Ih Ayah apaan sih, kan aku harus mikir dulu,,yang spesial gitu”.


“Iya, iya terserah lah anak paling bontot memang paling banyak maunya”.


“Bontot adalah sultan,,,daannn,,,sultan mah bebas Yah”, Naz bicara dengan bangganya.


“Sudah- sudah ayo kita makan dulu, nanti keburu dingin makanannya”, Ayah sudah lapar rupanya, dan mereka pun makan tanpa bicara hingga selesai.


“Ayah,,,Mimih gimana keadaanya? Aku kan mulai besok libur, pengen ke Bandung ya nengokin Mimih sekalian liburan juga”, Naz memulai pembicaraan kembali.


“Bunda bilang sudah mulai membaik, Mimih pengen semua anak- anaknya ngumpul katanya,,,yasudah besok pagi kita berangkat nyusulin Bunda,,,Ayah lihat di kalender besok tanggal merah jadi kita bisa menikmati long weekend di Bandung “Ayah mengusap- usap kepala Naz sambil tersenyum,” hmmm ngomong- ngomong apakah ini merupakan hadiah yang diminta ?”.


“Ih, bukanlah, masa mau nengokin Mimih dijadiin hadiah, itu kan salah satu kewajiban seorang cucu menengok Neneknya yang lagi sakit”. Naz menjawab lalu memperlihatkan wajah cemberutnya.”Kok besok sih, kenapa gak berangkat sekarang aja Yah” Naz merengek.


“Tadi pas ayah pulang sudah gerimis sayang, emang gak denger tadi ada suara gemuruh geluduk?,,,lagian ini sudah malam, mau nyampe jam berapa kita di sana,, ", Ayah bangkit dari duduknya, “Ayo kita ngobrolnya di ruang TV saja biar santai”.


“Masa sih tadi siang perasaan cerah banget”, Naz berjalan beriringan dengan sang Ayah.


“Ya itu kan tadi siang, sekarang beda lagi, cuaca itu sulit diprediksi, sebentar panas tiba- tiba hujan, lagian kan sekarang sudah masuk musim hujan sayang”. Dan benar baru saja Ayah bilang, hujan pun turun dengan derasnya. Mereka pun duduk di sofa ruang TV, dan tiba- tiba ada yang datang.


“Assalamualaikum” Dandy masuk dengan tampilan basah kuyup.


“Waalaikum salam” Ayah dan Naz menjawab serentak.


“Hujannya gede banget, untung kita udah nyampe” Ucap Dandy kepada seseorang di belakangnya yang belum masuk.


“Dan, kamu baru pulang, kok basah kuyup gitu”, Ayah bertanya heran saat Dandy muncul dari arah ruang tamu.

__ADS_1


“Itu yah tadi lagi buka pintu gerbang tiba- tiba hujan turun dengan derasnya, jadi gak sempet berteduh, mana susah lagi buka gemboknya, kok udah di gembok aja sih jam segini?” Dandy malah jadi ngomel.“Mbak, tolong ambilin handuk dua ya” teriaknya.


“Kok dua kak, emang buat siapa?”Naz merasa heran pada kakaknya, lalu munculah seseorang dari arah ruang tamu.


“Loh, Arfin, kamu juga ikutan kehujanan toh?” Ayah merasa kaget dengan kehadiran Arfin apalagi Naz dia jadi celingukan gara- gara insiden salah kirim pesan tadi siang.


“Iya om, tadi kita naik motor ke sini “ Jawab Arfin yang sudah menggigil kedinginan.


“Ini Mas handuknya, maaf gerbangnya saya gembok tadi, saya pikir Mas Dandy sudah di rumah karena mobilnya sudah di garasi” Mbak Iyem ternyata yang mengunci gerbangnya.


Arfin dan Dandy menerima handuk yang dibawakan mbak iyem, lalu mereka bergegas ke kamar mandi, Dandi ke kamar mandi atas sedangkan Arfin ke kamar mandi yang di sebelah kamar Dandy. Merekapun berganti pakaian di kamar Dandy, dan Arfin meminjam pakaian Dandy, kemudian mereka ikut bergabung duduk di ruang TV bersama Naz dan Ayahnya, dan di sana sudah disediakan kopi, teh panas dan kue oleh Mbak Iyem.


“Kalian ini habis dari mana?”, Ayah membuka pembicaraan.


“Itu yah, tadi sore aku baru aja nyampe rumah pas masuk kamar ni orang nelpon katanya ada kecelakaan minta dijemput” Dandy menjelaskan sambil menyeruput kopinya.


“Kecelakaan,,, kecelakaan apa?”, Ayah bertanya kembali.


“Jadi tadi itu saya dalam perjalanan pulang om, kebetulan merasa haus terus mobilnya saya di ke pinggirkan di depan sebuah warung, tiba- tiba ada mobil yang oleng dan menabrak mobil saya sampai bagian belakangnya hancur dan ”, Belum selesai Arfin biara langsung terpotong.


“Hah,,, terus kak Arfin gak kenapa- kenapa kan, gak ada yang luka?” Tiba- tiba Naz bicara dengan nada panik, sontak itu membuat ketiga pria di sana memandang ke arah Naz dengan pandangan heran. Dan itu membuat Naz merasa malu.”Ma ma maksudnya, tadi katanya kan mobilnya di tabrak sampe hancur belakangnya, kan,,, kan,,,Kak Arfin ada di dalam mobilnya” Naz menggaruk- garuk kepalanya padahal tidak merasa gatal sambil nyengir.


“Kata siapa Arfin di dalam mobil, makanya dengerin dulu kalau orang lagi ngomong Dek, jangan asal potong bebek angsa” Dandy menempas pernyataan Naz dan tertawa kecil bersama sang Ayah, sedangkan Naz hanya nyengir sambil celingukan karena Arfin terus memandanginya sambil tersenyum membuat Naz menundukkan wajahnya, malu lagi ini mah hadeuh.


“Enggak kok, untungnya saya udah keluar untuk membeli minum, jadi tadi saya menghubungi Dandy minta tolong menjemput saya ke sana Om”, Arfin melanjutkan penjelasannya yang sempat terpotong tadi.


“Dan dikarenakan daerah situ macetnya suka sampe naudzubillah, aku menjemput Arfin menggunakan motor Yah, eh pas nyampe depan gerbang hujan”. Penjelasan pun berakhir dan dilanjutkan ngobrol- ngobrol sambil ngopi. Ketika sedang asyik ngobrol, tiba- tiba mati lampu, Dandy menyalakan ponselnya hendak mencari lampu emergency, namun saat melihat keluar dari kaca jendela, ternyata yang lain tidak mati lampu.


“Ayah, yang lain gak mati lampu, cuman rumah kita doang, kayaknya sikringnya atau kwh nya bermasalah deh Yah”, Ucap Dandy.


“ Aaaaaak” Naz berteriak lalu berdiri refleks memeluk Arfin “Aku takut,,, Bunda aku takut” Naz menangis ketakutan memeluk Arfin dengan eratnya. Kilatan petir itu pun datang lagi bersamaan bunyi gledek yang lebih menggelegar duarrrr duarrrr ....”Aaaaaaaaaa,,, Bunda aku takut, aku gak mau mereka membawaku” Naz kembali berteriak terus menangis.


“Naz,,,Naz,,, tenanglah aku disini “ Arfin mengelus punggung Naz untuk menenangkannya, "Ada apa lagi dengannya, kenapa bisa sampai ketakutan seperti ini, apakah dia ada trauma dengan sesuatu " Arfin berdialog dalam hati,,dan akhirnya lampu kembali menyala.


“Suruh mereka pergi Bunda,,,, suruh mereka pergi ,,, huaaa huaaa”, Naz menangis histeris.


Ayah dan Dandy langsung masuk saat mendengar teriakan Naz dan menghampiri Naz yang tengah memeluk Arfin, “Sayang, tenang sayang, gak apa- apa Nak, gak ada siapa-siapa disini” Ayah memegang tangan Naz dan menariknya perlahan lepas dari pelukan Arfin. ”Lihat,,,ini Ayah sayang, buka matamu hemmm, ini ayah Nak,” Naz yang masih ketakutan membuka matanya perlahan dan langsung memeluk Ayahnya.


“Ayah, aku takut, aku takut, mereka membawa ku, aku gak mau” Naz memeluk erat sang Ayah dengan penuh ketakutan.


“ Sudah sssstt ssstt sayang, tenangkan dirimu ya, gak akan ada yang bawa kamu sayang, Ayah akan selalu melindungi mu sayang, sstt sstt,,sudah ya” Ayah terus mengusap punggungnya dan menciumi kepala Naz untuk menenangkannya.


“Tapi itu pintunya kebuka, nanti mereka masuk lagi, aku takut hiks hiks“, Naz terus menangis sampai tubuhnya sudah basah dengan keringat saking ketakutannya.


“Enggak sayang, itu tadi Ayah sama Kak Dandy yang buka pintu mau benerin sikring karena mati lampu tadi”, Ayah terus menenangkan Naz dan memberi isyarat pada Dandy untuk menutup pintu.


Beberapa saat kemudian Naz sudah mulai kembali tenang, dan perlahan Ayah melepaskan pelukannya dan meminta Naz duduk di sofa sedangkan sang Ayah berjongkok di hadapannya.


“Sayang lihat… disini cuman ada Ayah, Kak Dandy sama Arfin” Ayah menunjuk ke arahnya, lalu menunjuk ke arah Dandy dan Arfin. “Gak ada siapa- siapa lagi sayang, hem,,,, dengar sayang,, Ayah, Bunda, dan Kakak- kakakmu akan selalu menjagamu dan tidak akan membiarkan siapa pun membawamu pergi dari kami kecuali….” Ayah menghentikan perkataannya.


“Kecuali apa?” Naz bertanya sambil sesenggukan.

__ADS_1


“Kecuali kalau kamu sudah menikah, mana boleh Ayah mencegah suamimu membawamu bersamanya” Ayah malah menggoda Naz untuk mengalihkan rasa takutnya.


“Iih Ayah” Naz memukul dada Ayahnya dengan memperlihatkan wajah cemberutnya.


“Emang iya kan sayang, anak gadis Ayah ini kalau sudah dewasa nanti dilamar orang terus menikah dan ikut tinggal sama suamimu,,,itu Bunda juga diboyong sama Ayah dari Bandung kesini…. Ya gak Dan”, Ayah menoleh ke Dandy sambil tersenyum, kemudian duduk di sebelah Naz.


“Iya lah,,, tapi itu juga kalo ada yang mau sama anak manja dan tengil ini, Yah” Dandy malah ngeledek ini mah.


“Ayah,,,Kakak tuh” Naz merengek minta pembelaan.


“Emang iya kan, kalo ada yang mau juga cowoknya harus punya kesabaran extra yang pool”, Dandy terus meledek.


“Siapa bilang gak ada yang mau, kata Ruby juga di sekolahnya banyak yang naksir sama gadis bontot kesayangan Ayah ini, bahkan sampai- sampai tukang cilok juga ikutan naksir katanya”, Ayah terus menggoda Naz, sedangkan Naz dan Arfin beradu pandangan saat mendengar perkataan Ayah.


“Apaan sih Ayah, Ruby ngarang itu” Naz menyangkal.


“Ngarang apanya orang ayah pernah dengar sendiri ah “, Ayah kekeh.


“Denger apaan Yah”, Tanya Dandy mancing- mancing.


“Itu loh waktu Naz teleponan malam- malam sama tukang cilok yang dari Amerika itu,,, kan Ayah denger dari balik pintu kamar Naz”, Ayah mengingatkan kejadian lampau.


Uhuk uhuk uhuk Arfin tersedak minumannya.


“Eh kenapa lo Ar” Tanya Dandy.


“Keselek pakai nanya lagi,, kopinya pahit,,, uhuk uhuk”, Arfin yang masih batuk-batuk masih sempet menjawab pertanyaan Dandy.


“Lagian sejak kapan lo minum kopi?,,, salah lo sendiri kopi orang maen teguk aja,,,,noh punya lo mah teh anget”.Dandy bukannya nolongin malah nyerocos gegara kopinya di embat.


Arfin mengambil teh nya lalu di minum perlahan sampai keringat pun mengalir bercucuran dari dahinya.


“Arfin kamu baik- baik saja, cuaca dingin gini karena diluar hujan, kok kamu sampai keringetan gitu”, ternyata Ayah memperhatikan Arfin.


" Iy iya gak apa- apa ko om ", Arfin menjawab dengan gugup.


" Lo kenapa sih, gelagat lo kayak orang habis ketangkap basah ajja ", Dandy merasa heran dengan perubahan sikap Arfin yang tiba-tiba.


"Ketangkap basah apaan? ", Arfin malah balik nanya


"Ketangkap basah maling anak gadis orang" Jawaban Dandy sontak mengundang tawa sang Ayah, mereka berdua pun tertawa sedangkan Arfin dan Naz saling memandang lalu celingukan karena merasa malu ternyata saat mereka teleponan kepergok Ayahnya Naz.


" Oh iya,,, emang Ayah tahu siapa tukang cilok itu" Dandy ternyata penasaran.


"Justru itu, sampe sekarang Ayah belum tahu,,, siapa sih orang itu Naz? ", Akhirnya pertanyaan itu dilontarkan Ayah juga.


Naz dan Arfin membuka matanya lebar-lebar membuat meraka saling memandang.


" Aku harus jawab apa ini hadeuh? " Naz bergumam dalam hati.


------------- TBC ----------

__ADS_1


*******************************


Happy Reading 😉🥰


__ADS_2