
Hari menjelang sore, jalanan pun mulai dipadati kendaraan yang lalu lalang, baik kendaraan umum maupun kendaraan pribadi membuat jalanan menjadi macet, karena sore hari di perkotaan identik dengan membludaknya para pegawai yang pulang bekerja. Sama halnya dengan mobil yang dikendarai Arfin pun yang turut serta dalam rentetan kemacetan ibukota, meski begitu di dalamnya hanya ada keheningan.
“Naz,,, are you okay” Arfin memanggil Naz yang sejak tadi memalingkan wajahnya melihat ke arah jendela pintu mobil sampingnya.
“Hmm” Jawab Naz dengan nada sendu tanpa menoleh.
“Naz, jika kamu butuh teman untuk berbagi kesedihan, aku masih ada disini”, Arfin terus memandangi Naz.”Jangan sungkan, kamu sudah beberapa kali menangis di hadapanku bukan”.
Naz menoleh ke arah Arfin “Maaf Kak, aku terlalu banyak melibatkan Kaka dalam masalahku”. lirihnya.
“Naz, aku ini sahabat Dandy dan aku juga dekat dengan Bunda, kamu tak perlu sungkan,jangan menganggap ku orang asing”. Arfin mencoba pendekatan.
Saat kendaran sudah mulai melaju kembali, Arfin melihat sesuatu yang mungkin disukai Naz lalu membelokkan mobilnya menuju suatu tempat yang dia pikir bisa sedikit menghibur Naz.
“Kak, ko ini bukan jalan pulang, kita mau kemana?” Naz menyadari memasuki jalan asing baginya.
“Kamu gak mungkin pulang dalam keadaan seperti ini, kita akan ke suatu tempat dulu Naz” Jawab Arfin dengan terus melajukan mobilnya, selang beberapa waktu mereka pun sampai di sebuah parkiran.
“Kak, ini…..”, Naz terkejut melihat tempat di depannya.
“Iya, ayo kita turun” Arfin dan Naz keluar dari mobilnya dan memasuki kawasan yang sudah mulai ramai pengunjung dan juga banyak pedagang yang menjajakan barang dagangannya di sana seperti alat- alat rumah tangga, pakaian, alat tulis dan asesoris, berbagai macam kaset DVD, pedagang martabak, kerak telur, sosis bakar, jagung bakar, dan tentunya yang menjadi ciri khas nya pedagang kembang gula aroma manis yang dibungkus di dalam plastik bulat panjang di gantung di stand pedagangnya.
Sekarang ini Naz dan Arfin tengah berada di tempat pasar malam walaupun dibuka nya sejak sore hari kalo kata orang sunda mah namanya Pameran, dimana banyak terdapat wahana permainan komidi putar seperti kuda- kudaan, kereta mini, kapal- kapalan, ombak banyu, kora- kora, rumah hantu, dan tentunya yang menjadi ciri khas yaitu bianglala si kincir angin yang dari kejauhan sudah terlihat oleh Arfin saat di jalan tadi ternyata pemirsah.
“Gimana, kamu suka Naz?” Arfin bertanya pada gadis yang berjalan berdampingan dengannya.
“He em,,,” Jawab Naz menganggukkan kepala dengan senyum mengembang di bibir manisnya.
“Kok bisa tahu disini ada pasar malam”. Tanya Naz penasaran.
“Tadi pas nengok ke sebelah kiri terlihat ada biang lala, aku coba aja masuk ke belokan di depan sana, ternyata tepat tempatnya disini. Kamu mau naik apa?”.Arfin menawarkan.
“Aku mau naik kora- kora” Jawab Naz.
“Kora- kora, maksudnya?” Arfin mengerutkan dahinya heran.
__ADS_1
“Itu yang perahu di ayun- ayunkan ke kiri dan ke kanan, dan yang naiknya pada jerit- jerit” Naz menunjukan wahana tersebut.”Yuk…” Naz menuntun tangan Arfin dan mengajaknya mengantri membeli tiket. Tidak sampai disitu, hampir semua wahana dinaiki oleh Naz dengan penuh tawa gembira, tak terkecuali saat memasuki rumah hantu, bukannya takut Naz malah mengisengi hantu jadi- jadian yang ada di sana mulai dari pocong yang diinjak kakinya, kuntilanak yang dijambak rambutnya yang teryata adalah rambut asli, bahkan suster ngesot pun diseret- seret oleh Naz sampai mereka diusir dari rumah hantu itu. Ini mah hantunya yang takut sama Naz.
Arfin dan Naz tertawa terpingkal- pingkal saat keluar dari rumah hantu. “Parah kamu Naz “ Arfin tidak kuat menahan tawanya, “Seumur- umur baru ngerasain diusir dari wahana permainan seperti ini, padahal baru setengah jalan”.
“Salah siapa nakut- nakutin aku pake ngagetin segala lagi, kan jadinya senjata makan tuan tuh”, Naz masih terus tertawa.
“Pulang yuk ah, sebentar lagi magrib nih” Ajak Arfin.
“Ayo, tapi aku mau jajan dulu ya,,” Naz melihat ke beberapa stand makanan.
“Oke”, Arfin terus menuruti keinginan Naz.
Naz membeli beberapa makanan seperti jagung bakar, kerak telor, aromanis, jus alpukat, air mineral, dan tentunya membeli martabak kesukaan sang Bunda supaya saat pulang ke rumah aman sentosa tanpa ada ceramahan karena pulang terlambat. “Makasih banyak ya Kak,,, ehh aku mau beli itu , sebentar ya” Naz pergi membeli dua plastik jajanan dan kemudian kembali ke mobil bersama Arfin.
“Kita cari masjid dulu ya, sebentar lagi Azan magrib”, Arfin melihat jam tangan sudah hampir jam 6 sore.
“Oke, sekalian aku juga mau ke toilet”, Jawab Naz.
Arfin melajukan mobilnya lalu mampir ke sebuah masjid untuk melaksanakan shalat sedangkan Naz pergi ke toilet. Setelah beberapa saat mereka pun kembali bertemu di parkiran yang kebetulan ada bangku di sana dan mereka pun duduk dulu di sana. Naz kembali ke dalam mobil untuk membawa beberapa jajanan yang ia beli tadi di pasar malam.
“Apaan nih?” Arfin menerima dengan bertanya-tanya.
“Lihat aja” Naz meminta Arfin membukanya sendiri.
Arfin membuka kantong kresek dan saat melihat isinya langsung tersenyum “Cilok”.
“iya,,, cobain deh enak loh, dijamin gak kalah deh sama cilok Amerika “. Naz menggoda Arfin dan mereka pun memakan ciloknya tersebut, lalu Naz tertawa melihatnya.
“Kenapa ketawa?” Arfin merasa heran.
“Lucu aja, masa Tukang Cilok jajan cilok,, hahahha” Mereka berdua pun tertawa dan tak terasa sudah menghabiskan makanan yang dibawa tadi.
“Kak Arfin..”
“Iya”
__ADS_1
“Makasih banyak buat hari ini, Kakak selalu bikin aku seneng dan melupakan kesedihanku”, Ucap Naz tersenyum.
“Aku seneng kalo lihat kamu seneng Naz”, Arfin tersenyum ke arah Naz, namun tiba- tiba Naz menundukkan kepala.”Naz, kalo kamu ingin mencurahkan kesedihan mu, aku siap menjadi pendengar keluh kesahmu, ceritakanlah mungkin itu bisa mengurangi beban di hatimu” Ucap Arfin.
Naz menghela nafas panjang “Ayah pernah bilang padaku dulu saat bunda hamil delapan bulan mereka hendak check up kandungan ke sebuah rumah sakit, dan saat menunggu antrian Ayah sama Bunda melihat seorang wanita menangis menggendong bayinya di seret security. Bunda menghampiri mereka, dan ternyata wanita itu belum membayar tagihan rumah sakit seusai melahirkan dan hendak kabur bersama bayinya, tapi tertangkap oleh security.” Naz mulai bercerita.
“ Bunda tidak tega melihat itu dan membantu wanita itu untuk membayar biayanya dan menyelesaikan urusannya, tapi setelah itu bunda bertubrukan dengan seseorang yang berlari dan membuat bunda jatuh tersungkur hingga mengalami pendarahan. Setelah menjalankan pemeriksaan dokter memutuskan tindakan operasi sectio caesar, dan ternyata bayinya Bunda tidak bisa diselamatkan dan Bunda mengalami komplikasi di rahimnya sehingga rahimnya harus diangkat” Lanjut Naz dan tak terasa air mata pun jatuh membasahi pipinya.
“Ayah bilang saat Bunda sadar, Bunda menangis histeris tidak bisa menerima kenyataan bahwa bayinya meninggal, Bunda beberapa kali tak sadarkan diri bahkan Ayah bilang hampir depresi, saat sadar pun Bunda hanya menangis terdiam dengan tatapan kosong sambil memeluk guling. Dan wanita yang membawa bayinya itu masih berada di sana karena merasa bersalah setelah Bunda membantunya malah kena musibah, dia pun merasa kasihan melihat kondisi Bunda, dan ia pun menyerahkan bayinya itu pada Ayah karena wanita itu bilang dia juga tidak memiliki biaya untuk menghidupi bayinya itu, hiks hiks”. Naz terus bicara disertai tangisan kesedihannya.
“Dengan segala pertimbangan, Ayah pun menerima bayi itu dan menyerahkannya pada Bunda. Saat mendengar tangisan bayi itu Bunda seperti mendapatkan kehidupannya kembali, terus memeluk menciumi bayi itu yang dikira adalah bayinya. Ayah pun mengatakan pada keluarganya kalau bayi itu adalah bayi mereka, tidak ada yang tahu kecuali mereka bertiga, dan secara diam- diam Ayah sudah mengurus surat- surat adopsi bayi itu secara legal,,hiks hiks”.
“Semua berjalan dengan baik, bayi itu tumbuh dengan sehat, ceria , manja dan dipenuhi kasih sayang dari seluruh keluarganya, sampai pada suatu hari saat anak itu berulang tahun yang ke 9, tiba- tiba wanita itu datang dan mengatakan semuanya dihadapan semua orang bahwa anak itu bukan anak kandung Ayah dan Bunda, dan itu semua mengubah segalanya, Ayah dan Bunda dituding sudah menipu keluarganya, anak itu kehilangan kasih sayang dan tidak diakui lagi sebagai anggota keluarga dari Ayahnya. “ Ucapan Naz terhenti sejenak.
“Anak itu belum mengerti apa- apa Kak, dia harus menerima kenyataan sepahit itu, dikucilkan oleh keluarga bahkan dihina dan di ejek oleh teman- teman sekolahnya, ditambah lagi Bunda hampir depresi karena keluarga Ayah meminta supaya anak itu dikembalikan pada orang tua kandungnya karena merasa tidak jelas asal- usulnya. Sampai anak yang manja itu berubah menjadi anak yang mandiri dan memendam kesedihannya karena takut dibuang oleh Ayah dan Bundanya, sakit kak,,,rasanya sakit sekali, hiks hiks hiks”. Naz memegang dadanya menundukkan kepalanya dan tak henti- hentinya mengeluarkan air mata.
"Anak itu tidak bisa menerima kenyataan soal ibu kandungnya, sampai suatu hari ada yang menasehati nya dan ia mulai menerima keberadaan ibu kandungnya itu, tapi Bunda tidak bisa menerima itu, Bunda takut anak kesayangannya itu diambil kembali oleh ibu kandungnya. Anak itu hanya bisa menemui ibunya itu secara diam-diam karena tidak ingin melukai hati Bunda dan menjaga perasaan ibu kandungnya. Anak itu bernama Rheanazwa Kak,, anak itu aku kak,, aku,,, huhuhuhu".
Arfin menggeser kan duduknya mendekat ke sebelah Naz dan memeluknya “ Sudah Naz ,,sudah cukup,,jangan diteruskan lagi” Arfin tidak tega melihat Naz yang terus- terusan menangis, Arfin mengusap- usap kepala Naz, lalu memberikannya minum dan setelah Naz terlihat tenang ia mengajak Naz kembali masuk ke dalam mobil untuk segera pulang, karena tidak enak rasanya kalau mereka menjadi bahan tontonan orang.
“Aku minta maaf sudah mengorek luka masa lalu mu Naz”, ucap Arfin menyesal.
“Gak apa- apa Kak, setidaknya aku sudah merasa sedikit lega, rasanya plong,,, terimakasih sudah mau mendengarkan” Naz tersenyum disela sesenggukan nya lalu mengelap wajahnya dengan tisu basah karena sudah tak terbayang seberantakan apa wajahnya sekarang.
Arfin melajukan mobilnya kembali dan setelah beberapa saat kemudian mereka sampai di depan gerbang rumah Naz, namun kali ini berbeda dengan sebelumnya, Arfin turun dan mengantarkan Naz sampai ke dalam rumahnya untuk meminta maaf karena pulang terlambat lalu berpamitan pada Bunda. Arfin langsung bergegas melajukan mobilnya kembali untuk pulang ke rumahnya.
“Naz, kau benar- benar gadis yang luar biasa”, Arfin tersenyum melihat foto Naz di layar ponselnya.
------------------ TBC -----------------
****************************************
iiihhh,,, aa Arfin mah udah ngajak seneng- seneng dbikin sedih lagi,,,, gemessss
Happy Reading😘😍🙏
__ADS_1