Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Tukang Cilok is Calling.....


__ADS_3

Cekrek….Brukkk,,


Suara pintu dibuka lalu ditutup kembali dengan keras kemudian dikunci dari dalam kamar oleh sang pemiliknya. Hiks hiks hiks hiks…….Akhirnya suara tangisan yang sedari tadi ditahan sekuat tenaga sudah tak terbendung lagi dan jatuh bercucuran diiringi isak yang begitu menyesakkan dada. Naz menjatuhkan bokongnya dan terus menangis dibelakang pintu dengan memegang dadanya yang terasa begitu sakit, begitu sesak, seakan sulit untuk bernafas pun.


Huaaaaa….huaaaa…… Kini telapak tangan dari dadanya telah berpindah menutup mulutnya karena tak ingin suaranya terdengar keluar.


“Kenapa ini begitu sakit Ya Allah, sakit sekali rasanya, hiks hiks hiks…” Lirihnya memukul- mukul dadanya.


Setelah beberapa saat Naz bangkit dari duduknya dan berjalan menuju meja belajar, diambilnya sesuatu dari lacinya lalu duduk di tempat tidur.


“Tersenyumlah tersenyumlah hehehe hehehe”


Begitulah suara boneka be smile kesayangannya saat tali nya ditarik. Naz tersenyum disela sesenggukan nya, “Kamu kuat Naz, kamu kuat, kamu pasti bisa melalui ini semua, kamu bukanlah pecundang yang mudah menyerah dengan keadaan “ Ucapnya menyemangati diri sendiri. Naz terus memainkan be smile karena hanya itu yang bisa menghiburnya saat ini.


Sementara di ruang tamu bunda masih menangisi penyesalan karena memarahi putri kesayangannya, Ruby pun menghampiri bunda dan memeluknya “Udah Bund, jangan nangis lagi” Rubi mengusap- usap punggung Bunda.


“Kenapa anak itu tidak mau berbagi kesedihannya pada bunda?” Hiks hiks hiks”Kenapa dia memendamnya sendirian?,,,,Naz sayang,,, maafkan bunda…” Bunda berteriak hingga hilang kesadarannya dalam pelukan Ruby.


“Bunda,, bunda…” Ruby panik menepuk- nepuk pipi bunda, “Kak Arfin,, tolong ini Bunda pingsan”.


Arfin dan Ruby membaringkan tubuh bunda di sofa panjang ruang tamu itu, lalu meminta Mbak Iyem mengambilkan air minum dan minyak kayu putih.


“Assalamu’alaikum….” Dandy mengucap salam saat membuka pintu.


“Wa’alaikumsalam, Dan pas banget lo datang,, baru aja gue mau nelpon lo” Arfin yang sedang memegang ponsel hendak menghubungi Dandy.


“Emang ada apa Ar?” Tanya Dandy santai.


“Cepet ke sini,,ini bunda pingsan” Arfin setengah berteriak.


Dandy pun segera menghampiri ke kursi tamu dengan membawa tas kerjanya “Ya, ampun ini bunda kenapa, ko bisa pingsan?” tanya Dandy sambil mengeluarkan stetoskop dari dalam tas nya lalu memeriksa sang bunda, kemudian mengeluarkan alat tensi digital dan mengecek tensi darah bundanya.


“Ceritanya panjang Kak” Jawab Ruby yang sedang mengoles kan minyak kayu putih ke dahinya Bunda dan memijitnya pelan.


“Gimana keadaan Bunda, Dan” Tanya Arfin menghawatirkan Bunda.


“Tensi darahnya tinggi Ar, 168/93,, sebenarnya apa yang terjadi sampe darah tinggi bunda kumat begini?” Dandy kembali bertanya.


Ruby pun menceritakan apa yang terjadi dengan Bunda yang memarahi Naz habis- habisan karena salah faham, tetapi Ruby tidak menceritakan soal rahasia yang Naz sembunyikan dari keluarganya.


Dandy mendengarnya merasa sedih “Dimana Naz sekarang?”


“Naz di atas Kak, di kamarnya,, jika sedang sedih Naz selalu membutuhkan waktu sendiri, Kak”


“Naz,,,sayang ,,maafkan Bunda” Bunda merancau tapi matanya tetap tertutup.


Karena tidak tega melihat keadaan bunda, akhirnya Ruby memberanikan diri pergi ke lantai dua untuk menemui Naz di kamarnya.


“Naz,, apa kau bisa mendengar ku” Ruby mengetuk pintu kamar Naz.” Naz, bisa keluar sebentar,, bunda pingsan” Ruby langsung memberitahukan keadaan Bunda.


Cek cek..Cekrek

__ADS_1


Naz membuka kunci dengan cepat lalu membuka pintu kamarnya dan langsung berlari menuruni tangga tanpa menghiraukan keberadaan Ruby.


“Yaelah,, gue dianggap ghoib kali ya” Ruby menghela nafas lalu berjalan ikut turun ke bawah.


“Bunda….” Naz berteriak dari arah lemari kaca dan mendekati bunda, kemudian Naz menyentuh tangannya, bunda pun membuka matanya dan Naz yang berjongkok di samping bunda yang terbaring langsung memeluknya.


“Maafin Bunda, sayang,,,,kamu anak Bunda,,Naz Anak Bunda,,,Rheanazwa anak Bunda,, sampai kapanpun akan tetap jadi anak Bunda” Bunda memeluk Naz dengan erat sambil menangis beberapa saat, kemudian melepaskan pelukannya dan bunda mencium dahi Naz.


“Bund, udah ya, sekarang kan sudah baikan sama Naz,, Bunda makan dulu terus minum obat,, tekanan darah Bunda tinggi loh” Mendengar perkataan Dandy, Bunda hendak membangunkan tubuhnya ke posisi duduk dan dibantu oleh Naz.


“Minum dulu Bund” Ruby menyodorkan air minum dan diterima oleh bunda untuk diminumnya.


Terdengar suara adzan magrib berkumandang, dan seperti biasa keluarga Naz melaksanakan shalat berjama’ah, karena Ayah belum pulang yang menjadi imam adalah Arfin. Bunda yang memaksa ingin ikut shalat berjama’ah dan melaksanakan dengan posisi duduk karena masih merasa pusing. Setelah shalat di lanjut tadarus yang di akhiri shalat isya berjama’ah.


“Bund, aku pamit pulang ya” Arfin berniat segera pulang


“Gak boleh, kamu harus ikut makan malam bersama kita, ini perintah” Bunda langsung mengultimatum.


“Baiklah nyonya “Arfin mengiyakan dengan tersenyum.


“Dan kamu Ruby, nginap aja di sini ya , nanti Bunda menghubungi mama mu minta izin” Ruby pun terkena ultimatum Bunda.


Mereka pun bergegas ke ruang makan untuk makan bersama, tidak ada percakapan hanya terdengar dentingan sendok dan garpu mengenai piring, mungkin karena semuanya sudah merasa lelah melewati hari ini. Selesai makan malam, Arfin langsung berpamitan untuk pulang pada Bunda dan semua orang di sana. SMP ya Arfin tuh sudah makan pulang.


Naz dan Ruby naik ke lantai dua dengan membawa tas sekolah dan mengantarkan bunda ke kamarnya yang berdekatan dengan kamar Naz, setelah memastikan Bunda minum obat lalu berbaring tidur, mereka bergegas pergi ke kamar Naz, kemudian mereka mandi secara bergiliran.


“Huh,,,benar- benar hari yang melelahkan” Naz membaringkan diri di atas tempat tidur lalu Ruby menghampirinya dan duduk di Kasur.


Naz bangun dan duduk berhadapan dengan Ruby “Gak apa- apa By, toh semuanya sudah terjadi, cepat atau lambat bunda pasti akan mengetahuinya” ucap Naz tersenyum, “Makasih ya By, lo udah mau sahabatan sama gue” Lanjutnya.


“Tentu saja kita kan sahabat untuk selamanya” Ruby memegang tangan Naz.”Eh lo tahu gak, gara- gara tadi Kiara berantem sama si Sherly mereka dihukum membersihkan toilet wanita dan toilet guru” Naz dan Ruby langsung tertawa, mengingat Kiara orang yang sangat malas mengerjakan pekerjaan rumah malah dapat hukuman membersihkan toilet.


“Gimana ceritanya sih, ko mereka bisa berantem” Naz bertanya seakan tidak ada di TKP saja.


“Serius lo gak nyadar?” Ruby merasa tak percaya lalu pertanyaannya dijawab oleh gelengan kepala Naz.


“Oh My God, gila lo ya,,, kejadian di hadapan lo bener- bener dikira ghoib ya sama lo” Ruby benar- benar tidak habis pikir dengan kelakuan Naz.


“Beneran gue gak tahu, gue bener- bener kaget dengan kata- kata si Sherly itu, perasaan gue seperti terguncang dan terasa mati rasa seketika” Jawab Naz mengingat yang ia rasakan.”Ko Kiara bisa ada di kelas gue?”


“Jadi pas jam istirahat kan lo tumben belom ke kantin, bahkan si Bang Jay ganteng yang jualan cilok goang kesukaan lo juga nanyain keberadaan lo, kangen kali dia sama lo " Ruby menertawakan Naz yang sampe pedagang cilok goang pun naksir sama dia.


"Ngarang aja lo " sentak Naz pada Ruby.


"Terus kita berniat nyamperin lo buat makan bareng di kelas lo.Pas gue lagi pesan makanan buat dibungkus dan Andes pesan minuman, tiba- tiba ada yang datang nyamperin Kiara, terus Kiara langsung lari begitu saja. Gue tanya deh tu anak ada apaan, dan dia bilang lo lagi dilabrak sama kakak kelas, gue langsung deh lari bergegas ke kelas lo, bodo amat deh si Andes gue tinggalin buat jaminan pesanan yang belum dibayar” Ruby dan Naz malah menertawakan nasib Andes.


“Kasian banget sih Andes di jajah mulu sama lo, dasar kompeni lo” Naz ngatain Ruby.


“Nah terus, pas gue nyampe kelas lo, Kiara sama Sherly lagi saling tampar terus saling jambak, sampai mereka guling- gulingan loh, ya iyalah si Sherly paling babak belur, Kiara dilawan gitu loh” Ruby tertawa mengingat hal itu, " Dari sekian banyak orang di kelas gak ada yang bisa misahin mereka, setelah guru BK datang baru mereka bisa dilerai, dan mereka langsung di bawa ke ruangan BK kaya maling yang baru digebukin masa tahu gak, terus dikasih hukuman deh” Ruby masih menjelaskan flashback kejadian tadi siang. Tidak salah memang Bunda meminta Ruby menginap dan menemani Naz.


“Gue jadi merasa bersalah sama Kiara, By” Naz mengehentikan tawanya teringat nasib Kiara.

__ADS_1


“Naz, kita itu sahabat ,, bahagia lo ya bahagia kita juga, kesedihan lo ya kesedihan kita juga,kecuali pacar lo ya gak bisa jadi pacar kita, apalagi jadi pacar si Andes “ Mereka pun berpelukan.


“Makasih ya, kalian benar- benar sahabat terbaik, gue gak tau apa jadinya kalo gak ada kalian” Ucap Naz terharu lalu Ruby melepaskan pelukannya.


“Udah deh, acara termewek- mewek udah selesai, jangan ada air mata diantara kita” Ruby menggerutu.”Oh iya, gimana ceritanya lo bisa sama kak Arfin,,,cie,,kalian pacaran yaa,,,akhirnya Ya Alloh ,,Gusti Nu Agung,, Engkau telah menganugerahkan hati pada pohon pisang ini” Ruby mengangkat kedua telapak tangan layaknya orang sedang memanjatkan doa.


“Apaan sih lo, jangan suka fitnah deh” Naz merasa kesal saat pada Ruby.


“Iya terus gimana ceritanya dong ,, gue penasaran nih” Ruby sudah tidak sabaran.


“Iya iya,,,tadi kan gue langsung lari ke belakang ruang kepsek dan nangis di sana, tiba- tiba kak Arfin mergokin gue sama kepsek juga dan gue dibawa ke ruang kepsek, terus gue minta izin pulang dengan alasan gak enak badan, lalu Kak Arfin nawarin diri nganterin gue pulang” Naz menceritakan duduk perkaranya kecuali yang peluk-pelukan itu di skip oleh nya.


“Oh, gitu,,,tadi gue denger sih Kak Arfin bilang ke Bunda ada urusan ke Pak Kepsek di sekolah. Eh tapi, kan lo bilang gak enak badan, kenapa Kak Arfin ngajakin lo makan di mall” Ruby teringat pengakuan Arfin saat ditanya Bunda tadi.


“Gue pikir gak mungkin pulang ke rumah dengan mata sembab dan bengkak, pastinya bunda bakalan banyak tanya, sedangkan gue gak bisa bohong sama bunda. Gue takut bunda unfal kaya dulu saat gue gak diakuin lagi jadi bagian keluarga pihak Ayah, jadi gue putusin ngajak Kak Arfin ke mall buat makan lalu ke wahana games. Sayangnya gue pulang kesorean dan ternyata Bu Yanti sudah menghubungi bunda menanyakan keadaan gue, dan terjadilah” Naz menjelaskan panjang lebar.


“Kok Kak Arfin mau aja ya jadi baby sitter lo ? “ Ruby merasa heran, karena sudah tahu kelakuan Naz kalo sudah di wahana games pasti semua dijajal.


“Sialan lo…”Naz melempar bantal ke wajah Ruby.


“Oh iya, gue baru inget “ Ruby membuka tas ranselnya lalu mengambil sesuatu dari dalamnya “Nih, ponsel lo” Ruby menyodorkan ponsel dan Naz menerimanya.


“Hah, kok bisa ada sama lo?” Naz bertanya- tanya.


“Tadi pas gue baru nyampe gerbang depan, Kak Arfin hendak memasuki pintu gerbang, terus gue panggil deh. Lalu kita jalan berbarengan dan gue tanya ada keperluan apa, katanya mau balikin ponsel lo yang ketinggalan di mobilnya. Sebenernya gue penasaran ko bisa ponsel lo ketinggalan di mobilnya, tapi saat nyampe teras pintu rumah sedikit terbuka malah dengar bunda lagi marah- marah, jadi kita diem deh di belakang pintu” Banyak sekali ternyata penjelasan kronologinya, haha.


“Oh gitu, gue jadi malu sama Kak Arfin dengan semua kejadian tadi” Naz membayangkan lalu tersenyum.


“Malu kenapa,,,ko malah senyam- senyum gitu,,,,lo suka yaa sama dia” Ruby bertanya dengan ekspresi muka jail nya.


“Ih apaan sih lo,enggak lah,,lagian mana ada dia suka sama gue,, apalagi pas tahu gue siapa, belum lagi kalo dia tahu gue anak……”


“Naz, lo anak Bunda dan sampai kapanpun lo adalah anaknya Bunda dan Ayah, ngerti…!!” Ruby memotong perkataan Naz dan menegaskan posisinya dengan penuh penekanan.


“Iya bunda Ruby,,, lo lama– lama kayak Bunda ihh” Naz mencebikan bibirnya sebal “Eh, ko ponsel gue udah nyala, tadi kan waktu di charger dalam keadaan mati?” Tanya nya heran.


"Meneketehe,,,, itu ponsel gue ambil waktu bunda pingsan karena tergeletak di lantai,,,udah ah gue ngantuk banget,, gue tidur duluan ya.... babhay" Ruby langsung berbaring memeluk guling dan memakai selimut.


Sementara Naz duduk bersandar ke dipan ranjang dan kaki diselonjorkan dengan gaya santainya, malah asyik memainkan ponselnya. Naz membuka galery foto dan melihat- lihat foto yang kebanyakan bersama sahabat- sahabatnya. Kemudian jarinya berhenti menggeser saat melihat foto seseorang dengan senyum manisnya " Kak Arfin ganteng juga kalo lagi senyum gini" Naz terus memandangi foto Arfin sambil senyam- senyum sendiri.


Tiba- tiba ponselnya berdering menandakan ada panggilan masuk, Naz terkejut dengan nama si penelpon yang tertera di ponselnya.


“Tukang Cilok is Calling……”


------------------- TBC---------------


*********************************


Wahh, siapa yang menelpon Naz malam- malam begini,,,,,, ??


Happy Reading

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejakmu,,,,,


__ADS_2