
Akhirnya obrolan Ruby, Dandy dan Hardi yang terus menggoda dan memojokkan Naz disudahi karena Dandy mendapat telepon dari rumah sakit sedangkan Hardi harus kembali ke kampus untuk mengajar mata kuliah sore sampai malam dan mereka pun berpamitan. Ruby yang tidak mau menjadi kambing conge atau lalat diantara dua sejoli yang tengah saling jatuh cinta itu pun memilih untuk pergi.
“Naz, Kak Arfin aku duluan ya, mau nyamperin Mama sama Kakakku, mungkin mereka sudah selesai belanja keperluan bayi nya….daahhh”, ucap Ruby pamit kemudian dia bergegas pergi meninggalkan Naz dan Arfin , “Mudah- mudahan setelah aku mengompori Kak Arfin dia segera menyatakan cintanya,, pastinya dia takut tuh kalau Naz keburu di embat orang,, hahahha”, Ruby bergumam dalam hatinya.
Kini tinggal Naz dan Arfin yang tersisa, selama beberapa saat hanya keheningan dan tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulut mereka berdua, Naz yang merasa tidak enak hati karena Ruby sudah benar- benar membongkar rahasianya, sedangkan Arfin nampak termenung memikirkan sesuatu. Karena merasa bosan diam- diaman terus, Naz mengeluarkan ponselnya dan bermain game di ponselnya dengan sesekali melirik ke arah Arfin yang tidak berkutik sama sekali.
“Aa,,,, emm ,,, Aa kemana aja selama dua minggu ini gak pernah menghubungiku?”, Naz mencoba membuka pembicaraan, namun Arfin nampak tidak menghiraukannya dan masih dalam mode melamun seakan memikirkan sesuatu, “Aa,,, Aa.. “, ucap Naz menggoyangkan lengan Arfin dan itu berhasil membuatnya membuyarkan lamunannya.
“Iya,, kenapa Naz?”, ucap Arfin yang malah bertanya.
“Aa kemana saja selama dua minggu ini menghilang bak di telan bumi gak pernah menghubungiku lagi ?”, Naz mengulang pertanyaannya kembali.
“Aa lagi sibuk,, salah satu pabrik di Surabaya mengalami kebakaran, jadi pekerjaan di sana semakin bertambah dan sepertinya Aa akan lebih lama di sana”, Arfin menjawab dengan tatapan dingin dan suara terdengar tegas tanpa melihat ke arah Naz.
“Kok dia nada bicaranya kayak gitu, gak seperti biasanya, ,? Apakah dia marah padaku gara- gara pembahasan Ruby tadi?”, gumam Naz dalam hati, “Aa, aku mau pulang “, ucap Naz, dan Arfin pun bangkit dari duduknya , kemudian melangkahkan kakinya untuk pergi meninggalkan tempat itu, “Ayo”, jawabnya singkat, dan Naz hanya bisa mengikuti Arfin dari belakang yang nampak tidak memperdulikannya.
Setelah sampai di parkiran mereka pun masuk ke dalam mobil, kemudian Arfin langsung melajukan mobilnya. Sepanjang perjalanan tidak ada pembicaraan diantara mereka, keduanya hanya diam tanpa kata, Arfin hanya fokus menyetir sedangkan Naz kembali memainkan ponselnya karena merasa bete seolah dikacangin oleh Arfin.
Setelah beberapa saat menempuh perjalanan, akhirnya mereka samapi di depan pintu gerbang rumah Naz, mereka berdua pun keluar dari mobil, Arfin mengantarkan Naz sampai ke teras depan yang ternyata di sana ada Pak Rizal dan Bunda tengah duduk di kursi teras rumah.
“Assalamu’alaikum Ayah,,, Bunda”, ucap Naz memberi salam .
“Wa’alaikumsalam, Ayah dan Bundanya menjawab serentak, Naz dan Arfin pun menghampiri keduanya dan menyalaminya secara bergantian.
“Ehh,,, anak Bunda teh sudah pulang,,, ko enggak pakai seragam?”, tanya Bunda heran.
“Emm,,, itu Bunda tadi kan kita ke mall dulu, makan sekalian Kak Arfin ketemuan sama Kak Dandy dan Mas Hardi, jadi aku ganti pakaian deh, malu kan main pakai seragam sekolah, hehe” , Naz menjawab agak kikuk.
“Loh,, kok kalian bisa barengan pergi ke mall?”, Ayahnya Naz bertanya heran.
“Maaf Om,, tadi saat saya sedang di panti asuhan kasih ibu, ternyata Naz pergi ke sana, karena saya janjian ketemuan dengan Dandy dan Hardi, jadi saya ajak Naz sekalian nanti dia pulang dengan Dandy, ternyata Dandy malah kembali ke rumah sakit”, ucap Arfin menjelaskan, “Oh iya,, kalau begitu saya pamit pulang Om, Bunda,, Aaalamu’alaikum”, Arfin pun langsung pamit dan bergegas pergi setelah salam nya dijawab oleh Naz dan kedua orang tuanya.
Naz bersama Ayah dan Bundanya pun masuk ke dalam rumah, karena hari sudah sore dan mendung sepertinya akan turun hujan. Naz langsung bergegas pergi ke kamarnya dengan perasaan yang terus bertanya- taya mengenai perubahan sikap Arfin terhadapnya.
Keesokan harinya diluar kebiasaan Naz berangkat sekolah minta diantar oleh Bundanya yang sudah siap untuk pergi ke butik, dan dengan berbagai alasan dan sedikit drama Bunda yang tadinya menolak pun akhirnya bersedia mengantar Naz, walau sebenarnya arah butiknya Bunda berlawanan arah dengan sekolah Naz. Dengan begitu Naz berhasil menghindari Nervan yang selalu menjemputnya setiap pagi, mungkin ini efek perkataan Gio yang menyebutnya murahan dan menuduhnya berhubungan dengan dua orang pria sekaligus, sehingga lebih baik menghindari salah satu dari kedua pria tersebut.
Sesampainya di sekolah Naz sudah tidak sabar ingin melampiaskan kekesalannya kepada Ruby, namun ternyata saat sampai di kelas orang yang diincarnya itu belum datang, bahkan sampai bel berbunyi dan jam pelajaran pertama pun Ruby belum nampak juga, “Kemana anak itu,,, apa dia sudah punya firasat akan menerima kemarahan ku jadi tidak masuk sekolah?”, gumam Naz dalam hati.
Setelah dua jam pelajaran pertama selesai, barulah Ruby muncul bersamaan dengan guru mata pelajaran selanjutnya, “Hei,, kemana aja sih lo,,, ko baru dateng,, kirain gak masuk sekolah?”, Naz bertanya pada Ruby yang duduk di kursi sebelahnya dengan memelankan suara karena takut terdengar oleh Guru.
“Ceritanya panjang, nanti jam istirahat gue jelasin”, ucap Ruby yang berbisik pula.
Dan tibalah saatnya jam istirahat, seperti biasa Naz, Ruby dan Andes pergi ke kantin untuk jajan dan makan di sana, sedangkan Kiara sudah lebih dulu ke kantin supaya bisa mendapatkan tempat duduk untuk mereka ngumpul sambil makan jajanan kantin.
“Heii,, lama banget sih kalian,, gue udah laper nih,, gara- gara si guru BK killer itu,, udah mah gue belum sarapan, kesiangan cuman tiga menit doank, langsung kena hukuman ampe habis dua jam pelajaran,, wanjiirrr apes banget gue”, ucap Kiara nyerocos kesal.
“Oh,, jadi kalian itu tadi kesiangan toh,, jadi dihukum sama Pak Emir”, ucap Naz yang menemukan alasan kenapa Ruby datang terlambat ke kelas, karena Ruby dan Kiara selalu berangkat dan pulang bersama.
“Noh gara- gara Nyi Kokom,,, “, ucap Kiara kesal menunjuk ke arah Ruby.
“Emang kamu kenapa By?”, Tanya Andes heran.
“Emm,, itu, em,, anu,, cowok gue kan hari ini ulang tahun,, jadi tadi gue mampir dulu ke rumahnya ngasih kue sama kado buat dia,,, hehehe”, Ruby menjelaskan dengan terbata- bata.
“Wahh,, parah lo bela- belain kesiangan cuman buat ngasih itu doang ke cowok lo si Akmal itu,,, dan gak dimakan bareng gitu sama lo kue nya,, rugi banget dong By”, cerocos Andes.
“Yaelah Des,, namanya jg ngasih, masa iya gue makan lagi,, kan nantinya jadi kebalik lidah”, Ucap Ruby tak mau kalah.
“Hahhaha,, gimana kalo lo yang ngasih kue nya dan ternyata dia makan kue itu bareng cewek lain,, hayohh emangnya lo rela By?”, Naz membalas ngomporin Ruby
“Eh,, gak usah ngomporin gue ya Naz,,, gak mempan ,cowok gue tuh setia kali”, Ruby menepis tuduhan Naz.
“Setiap tikungan ada maksud lo By?”, Naz terus menggoda Ruby.
__ADS_1
“Jangan suka ngarang deh lo Naz,, “, ucap Ruby kesal, “Oh,, jadi ceritanya lo mau bales gue Naz”, lanjutnya curiga.
“Bales apaan sih..??”, Andes bertanya dengan polosnya.
“Gimana Naz,, Kak Arfin udah nembak lo belum??”, Ruby mengalihkan topik pembicaraan.
“Nembak apaan lo,,, yang ada dia ngambek sama gue,, gak ngomong- ngomong sepanjang perjalanan pulang juga,, puas lo”, Naz menggerutu kesal.
“Oh em ji,,,masa sih,,, dia gak peka banget kalo gitu”, Ruby merasa tidak percaya.
“Kok bisa ketemu Naz dan Kak Arfin?”, Andes kembali bertanya.
“Kemarin tuh gue pulang sekolah diajakin nyokap sama kakak gue ke mall buat beli perlengkapan bayi,, eh pas gue abis dari toilet gue lihat kaya ada Naz gitu duduk sama tiga orang pria,, dan gue perhatiin ternyata itu Kak Arfin, terus gue samperin deh,,, dan di sana ada Kak Dandi sama Kak Hardi juga”, Ruby menjelaskan.
“Terus kenapa Kak Arfin bisa ngambek sama Naz dan Naz bilang gara- gara lo?”, Kiara ikutan kepo.
“Nah kalau itu,, kan Kak Hardi nanyain soal lamaran romantis, eh gue jadi keinget acara penembakan oleh si siluman Gio, gue keceplosan ngomong,, karena Kak Dandy sama Kak Hardi kepo yaudah gue jelasin betapa romantisnya acara penembakan di aula dengan sedikit gue besar- besarkan dengan niatan ngomporin Kak Arfin tuh biar cepet nembak Naz, kan gue gregetan tau gak udah sedekat itu gak berani nembak bae. Gue pikir itu mujarab karena sepanjang gue menjelaskan dengan hebohnya, Kak Arfin terlihat seperti cacing kepanasan yang dahaga dan minum terus, sampe minuman punya Kak Hardi juga dihabiskan sama dia, padahal dia anti minuman berbahan dasar kopi itu katanya”.
“Pantesan dia gak mau ngomong sama gue,, lo pake bilang segala lagi soal acara si Gio “, ucap Naz masih kesal.
“Busyet,,,nekat banget lo jadi orang,,, loh kok Naz gak tahu soal itu? bukannya tadi bilang Naz ada di sana juga”, Andes rupanya detail sekali.
“Waktu itu gue lagi ke toilet,, kalo gue tahu dia bahas soal itu, udah gue cegah dari awal kali… Pantesan pas gue balik dari Toilet raut wajah Kak Arfin tuh jadi berubah kayak kesel gitu sama gue,,”, ucap Naz lagi.
“Hahaha,,, itu belum selesai,,, pas gue bilang kalo yang naksir sama Naz itu ngantri bahkan ganteng- ganteng dan keren,, beuhh,,, Kak Arfin udah kayak orang mau meledak tahu gak…?”, Ruby merasa jelaskan dengan antusias.
“Iya meledak,,,, jadi sasaran kekesalannya ke gue puas lo?”, Naz semakin kesal.
“Ya sorry,,, gue pikir dia bakalan gercep nembak lo karena takut lo keburu disamber orang,, kok malah marah sama lo ya, gak peka banget?? Dia tuh sebenernya niat gak sih pengen jadi cowok lo?? Ko gue malah jadi pengen belok dukung Bang Evan sih,,,”, Ruby bentar pindah haluan.
“Iya ya,,, ko gue juga jadi pengen dukung Bang Evan aja deh,, so dia mah udah berani dengan gentle nya meminta Naz jadi pacarnya,, ya gak”,Andes ikut- ikutan Ruby.
“Ahh,, kalo gue mah tetep dukung Kak Arfin “, ucap Kiara Sekutu yang setia.
“Udah- udah ahh jangan ngomongin mereka lagi,, bikin selera makan gue jadi ilang tahu gak,, gue balik duluan ke kelas ya”, ucap Naz lalu pergi meninggalkan kantin.
“Duh,, gimana nih,, gue jadi gak enak sama Naz,, niat gue buat mendorong Kak Arfin buat cepet- cepet nembak Naz, kok malah jadi gini ya”, ucap Ruby baru menyadari
“Lo sih manasinnya gak kira- kira, sampe bilang acara romantis si Gio segala", Kiara pun menyalahkan Ruby.
“Yah,,, sudahlah kita lihat saja ke depannya siapa yang akan dipilih Naz?”, ucap Andes menengahi.
Akhirnya mereka bertiga pun kembali ke kelas masing- masing dan melanjutkan belajar hingga bel waktunya pulang berbunyi.
Naz, Andes dan Ruby tengah berjalan menuju pintu gerbang sembari menunggu Kiara datang membawa motornya dari parkiran.
“Naz,,, itu bukannya Kak Arfin ya?”, ucap Ruby.
“Mana…??”, tanya Naz sambil mengedarkan pandangan..
“Itu,, di pinggir jalan ,,,”. Ruby menunjuk ke arah Arfin yang tengah berdiri di sebelah mobilnya.
“Hah,, kok dia bisa kesini,, ini kan masih jam kerja”, tanya Naz heran.
“Euhh,,, dasar oneng markoneng,,, ini kan hari sabtu,, ya perusahaan mah libur atuh hari sabtu mah”, ucap Ruby sambil menjitak kepala Naz.
“Awww,,, sakit wanjirr pala gue,,”, ucap Naz meringis dan mengusap kepala yang dijitak Ruby.
“Udah sana gih samperin,,,”, ucap Ruby.
“Ciee,,, kayaknya mau nembak tuh”, Andes malah menggoda.
“Diem lo Des”, ucap Naz menyenggol lengan Andes karena mereka telah sampai di dekat mobil Arfin.
__ADS_1
“Hai Kak Arfin,,, mau jemput si oneng markoneng ya?”, Ruby menyapa.
“Siapa Oneng markoneng?”, tanyanya heran.
“Lah,, ini “, Ruby menunjuk Naz, “Anak pinter tapi kadang suka lemot kayak istrinya Bang Bajaj Bajuri,, jadi kita panggil oneng deh,, “, ucapnya menjelaskan dan itu membuat Arfin tertawa simpul .
“Apaan sih By,,, bohong A jangan percaya”, Naz menyangkal
“Cie manggil Aa,,, hahay deuh”, Ruby ikut menggoda Naz.
“Diem lo By,,,,”, Naz berbisik sambil menyenggol lengan Ruby, “Kak Arfin ada keperluan apa ke sekolah?”,Naz kembali bertanya.
“Mau jemput kamu,,,”, jawabnya singkat.
“Ciee,,, dijemput sama Aa Arfin,,, udah sana gih,,, kita duluan yaa,, dadahh,,,”, ucap Ruby yang kemudian pergi menggandeng Andes.
“Ayo naik”, Arfin mengajak Naz masuk ke dalam mobilnya, lalu Arfin pun melajukan mobilnya.
“Kita mau kemana?”, tanya Naz.
“Nganter kamu pulang lah, kemana lagi”, Arfin menjawab dengan santai.
“Ohh,,, kirain mau kemana?”, ucap Naz dengan nada sedikit kecewa, sedangkan Arfin melihatnya hanya melempar senyuman saja.
Setelah beberapa saat, mereka pun sampai di depan gerbang rumah Naz, sebelum ia turun Arfin mengambil sesuatu dari jok mobil tengah.
“Naz, nanti jam 7 malam aku jemput ya,, dan pakai ini”, ucap Arfin sambil menyodorkan godie bag dengan merk suatu brand ternama.
“Hah,,, apa ini…?? Jam tujuh malam?? Mau apa??”, ucap Naz memegang godie bag tersebut.
“Jangan dibuka,, kalau sudah sampai kamar mu baru boleh lihat…. Nanti temani aku makan malam dan tidak ada penolakan”, ucapnya nya lagi, Naz yang kebingungan malah diam mematung memandangi tas godie bag tersebut.
Ceklek …. Arfin membukakan pintu mobil di samping jok yang diduduki oleh Naz, “Mau nginep di mobilku ya?”, tanya Arfin yang sontak mengagetkan Naz.
“Eh,, eng enggak ,,hehehe”, Naz menjadi gugup dan salah tingkah, kemudian ia pun keluar dari mobil.
“Aku pulang dulu ya,, dahh sampai ketemu nanti malam,,,”, ucapnya pamit dengan melemparkan senyum manisnya, dan ia pun segera melajukan kembali mobilnya, sedangkan Naz memasuki pintu gerbang yang ternyata ada sang Ayah yang sedang duduk di kursi teras.
“Assalamu’alaikum,,,, tumben Ayah jam segini udah di rumah “, ucap Naz menyalami sang Ayah.
“Wa’alaikumsalam,,, kok Arfin nya gak di suruh masuk?”, Ayah malah balik bertanya.
“Heheh,,, gak tahu Yah,, kayaknya buru- buru”, Naz menjawab dengan cengengesan.
“Ayo kita masuk,, sudah lama rasanya kita tidak mengobrol”, Ayah mengajak Naz masuk berbarengan ke dalam rumah.
Waktu terasa cepat berlalu dan sekarang Naz tengah menunggu kedatangan pria yang akan menjemputnya itu dengan perasaan dag dig dug dan gelisah tidak karuan karena ini merupakan makan malam perdana nya dengan Arfin. Sejak jam enam sore Naz sudah bersiap dengan mengenakan gaun malam biru dongker tanpa lengan dengan panjang menutup lutut dan pita di tengahnya namun tetap elegan, ternyata itulah isi dari godie bag yang diberikan Arfin. Naz menggunakan riasan simple di wajahnya hanya beralaskan poundation dan dilapisi bedak, bibirnya dipoles lipstik peach semu pink pastel, matanya hanya memakai eyeliner dan mascara yang pernah diajarkan oleh Ruby tempo hari dan rambutnya dibiarkan terurai dengan poni yang disisir dibelah menyamping.
Saat terdengar suara mobil di depan gerbang, Naz langsung bergegas turun dengan membawa tas kecil miliknya dan mengenakan sepatu dengan hak pendek karena tubuhnya sendiri sudah jangkung, dan ia duduk menunggu di ruang tamu dengan perasaan gelisah, tegang, grogi, semua bercampur aduk.
Di rumah hanya ada Mbak Iyem saja, karena Ayahnya Naz sudah kembali ke rumah sakit sejak sore, Bunda masih di butik, sedangkan Dandy sedang pergi bersama Arini.
Tingnong …. Suara bel rumah sontak membuat Naz semakin tegang, lalu dibukalah pintu rumah oleh Mbak Iyem, kemudian pra yang sejak tadi ditunggu kedatangannya akhirnya muncul dari balik pintu, Naz tersenyum terus menghapus keringat dengan tisu yang di tepok-tepokan ke dahinya.
“Sudah siap,,,?? Ayo kita berangkat”, ucap Arfin yang nampak tampan dengan stelan celana jeans, kemeja putih dilengkapi blazer biru dongker, sedangkan Naz hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
" Eh sebentar A,, aku ke kamar kecil dulu", ucapnya yang diangguki okeh Arfin .
Setelah beberapa saat Naz kembali dan mereka berpamitan pada Mbak Iyem yang masih menjaga pintu, lalu bergegas pergi menuju mobil, Arfin membukakan pintu mobil untuk Naz dan mempersilahkannya masuk, lalu ia pun masuk dan mengemudikan mobilnya.
" Aa,,,kita mau pergi kemana?? " Tanya Naz heran dan kebingungan, sedangkan Arfin hanya melemparkan senyuman pada Naz.
--------- TBC -------------
__ADS_1
********************""
Happy Reading..... 😉🥰