
Kebahagiaan kini tengah menyelimuti sepasang suami istri, Pak Syarief dan Bu Rahmi, karena setelah kebenaran terungkap akhirnya mereka bisa bertemu dan memeluk putri kandung yang sejak lahir sudah dipisahkan dengan mereka, walau tanpa sadar sejak bayi Naz sudah berada sangat dekat dengan mereka berdua.
Bu Rahmi kini bisa bernafas lega dan senyuman kebahagiaan pun terus terpancar dari raut wajahnya yang tak henti- hentinya memandangi sang putri yang duduk di sampingnya, namun tubuhnya saling berhadapan itu. sesekali ia mengusap pipi Naz, membelai rambut Naz lalu membawa Naz ke pelukannya lagi sambil terus membelai rambut putrinya itu.
Naz melepaskan diri dari pelukan ibunya secara perlahan, lalu duduk tegak, “Pa, Ma,, aku punya permintaan”, ucap Naz.
“Permintaan apa sayang?”, tanya Bu Rahmi sambil membelai rambut Naz.
“Kamu tinggal sebutkan saja,,, apa pun yang kamu minta, kami pasti akan mengabulkannya”, Ucap Pak Syarief.
“Emm,,,,, Pa, Ma, aku minta supaya kalian tetap memperlakukan Raline seperti biasanya sebagai anak kalian,,, aku tidak mau seolah merampas kalian darinya,,, ”, Naz mengutarakan keinginannya.
“Tapi sayang,, dia bukan anak kami, bahkan juga bukan anak Papa,,, dan ternyata selama ini kami membesarkan anak orang lain”, Pak Syarif secara tidak langsung menolak keinginan Naz.
“Mama sangat menyayangi Raline bukan?”, tanya Naz menatap Mamanya.
“Iya,,, Mama sangat menyayanginya bahkan selalu memanjakannya,,, tapi setelah tahu kalau dia bukan anak Mama melainkan anak dari wanita yang sangat jahat itu,,, Mama sepertinya tidak bisa memperlakukannya seperti dulu lagi”, ucapnya sedih.
“Pa, Ma,,, aku juga dibesarkan oleh Ayah Rizal sama Bunda Anita,, meskipun mereka bukan orang tua kandungku, tapi mereka tetap merawat dan membesarkan ku dengan penuh kasih sayang seperti anak kandung mereka sendiri. Bahkan saat mereka tahu aku anak Papa, tidak ada yang berubah dan mereka tetap menyayangiku dan memperlakukanku sama seperti mereka memperlakukan kakak- kakak yang lainnya, bagi mereka aku tetaplah anak kandung mereka,,, Aku pun berharap Papa sama Mama akan melakukan hal yang sama pada Raline”, Naz terus membujuk.
Bu Rahmi dan Pak Syarief hanya diam membisu tanpa membalas perkataan Naz, sepertinya mereka sedang memikirkan dan mempertimbangkan hal tersebut.
“Dan satu lagi,,, tolong Papa sama Mama tidak mengusik kehidupan Ibu,,, aku tahu yang dilakukan Ibu salah dan aku tidak bermaksud membenarkannya, hanya saja beliau juga selama ini sudah hidup menderita dan selalu dihantui rasa bersalah, ditambah lagi suami dan anaknya meninggal, bahkan beliau sempat berpikir itu adalah hukuman yang diberikan Tuhan padanya sebagai karma untuknya. Jadi aku mohon kalian jangan memperpanjang masalah ini lagi, aku ingin kita hidup tenang tanpa ada permusuhan lagi dan melupakan yang telah terjadi di masa lalu”, ucap Naz lagi.
“Mama ingin sekali membawa masalah ini ke jalur hukum dan memenjarakan Mira yang sudah sangat kejam memisahkan Mama dan kamu saat kamu baru dilahirkan”, Bu Rahmi bicara dengan raut wajah marah.
“Jangan Ma,,, aku mohon jangan lakukan apapun pada Bu Mira,,, kasihan Elsa tidak punya siapa- siapa lagi,,, makanya aku sering membantu mereka,, dan hal ini lah yang menjadi pertimbangan ku untuk tetap merahasiakan kebenaran itu,, Aku takut kalau Papa atau Mama akan memperkarakan masalah ini dan akan timbul dendam baru lagi sehingga permusuhan tidak ada hentinya, aku ingin kita hidup tenang Ma…”, Naz memohon sambil menggenggam kedua tangan Mama nya.
“Naz hatimu benar- benar seperti malaikat, Mama sangat beruntung memiliki putri sebaik mu,,,, “, Bu Rahmi merasa bangga pada putrinya.
“Berjanjilah Ma… aku mohon,,, “, ucapnya memohon pada Bu Rahmi, lalu mengalihkan pandangannya pada Pak Syarief, “Pa,,, aku mohon yaa,,, tadi kan Papa bilang akan mengabulkan apa pun permintaanku,, please”, Naz terus memohon.
Bu Rahmi terdiam lalu ia memandang ke arah suaminya sehingga mata mereka saling bertatapan seolah saling memberi isyarat, kemudian beliau menghela nafas panjang, “Baiklah,,, jika itu kemauan mu,,,, “, Bu Rahmi pun luluh dan Naz langsung tersenyum bahagia dan langsung memeluk Mama nya itu lalu mencium pipinya.
“Makasih ya Ma,,, aku sayang Mama”, ucapnya bahagia.
“Mama juga sangat menyayangimu”.
“Hmm,,, Papa gak dipeluk ya”, Pak Syarief menyindir, Naz pun langsung beralih memeluk Papa nya.
"Tapi, bukan berarti kami sudah memaafkannya", ucap Bu Rahmi menambahkan.
“Mbak,,, sebaiknya sekarang Mbak istirahat,, ingat yang dikatakan dokter tadi siang”, Bunda Anita mengingatkan.
“Iya, Ma,,, Mama istirahat ya,, wajah Mama masih terlihat pucat gitu”, Naz pun meminta hal yang sama.
“Kalian berdua teh bisa menggunakan kamarku, biar aku mah tidur di kamar bekas Dandy,, tapi maaf ya disini mah kamarnya tidak senyaman dan sebesar di rumah kalian, dan kalau mau ke kamar mandi ada di ujung ruang tengah”, ucap Bunda seolah membagi- bagi kamar.
“Gak apa- apa Nita,,, maaf ya kami sudah merepotkan mu,, kalau begitu kami pergi ke kamar dulu ya,, “, Pak Syarief kemudian memapah istrinya berjalan menuju kamar.
Kini di ruang tamu hanya tinggal ada Bunda, Naz dan Arsen. Naz yang duduk seorang diri mendapat tatapan tajam dari Bunda dan Arsen, seolah mereka meminta penjelasan dari Naz.
“Kenapa kalian menatapku seperti itu?”, tanya Naz .
“Masi nanya kamu?”, jawab Bunda ketus, lalu Naz menghampiri Bunda dan duduk disampingnya.
“Bunda,,, aku minta maaf sudah menyembunyikan ini semua dari Bunda?”,ucapnya menyesal.
Bunda menghela nafas kasar, “Bunda benar- benar kecewa sama kamu, bisa- bisa nya kamu teh selama tiga tahun menyembunyikan hal sebesar ini dari Bunda, kamu teh gak percaya sama Bunda? Gak nganggep Bunda ini sebagai ibumu hah?”, cerocos Bunda.
“Maaf Bunda,,, aku tahu aku salah,, tapi aku gak bermaksud seperti itu,, aku hanya mencari waktu yang tepat untuk menjelaskannya pada kalian, saat itu yang ku pikirkan hanyalah Raline dan Ibu, karena dalam hal ini selain aku, maka Raline lah yang akan lebih terguncang dan saat itu kondisi kesehatannya sedang tidak baik. Jika sampai terjadi sesuatu dengan Raline, maka aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri. Pikirku semakin sedikit orang yang tahu, maka akan lebih baik, dan memang aku sudah berencana akan mengatakannya jika kondisi jantung Raline sudah benar- benar sehat”, Naz memberi penjelasan.
Tidak disangka Bunda yang awalnya merasa kesal malah memeluk Naz, “Bunda sangat bersyukur memiliki anak seperti mu, Bunda tidak menyangka kamu bisa melakukan hal sebesar ini. Bisa saja kan kamu mengatakan semua kebenarannya saat itu sehingga orang- orang tidak menghina mu lagi, tapi kamu tidak lakukan hal itu, dan lebih memilih melindungi saudara mu,, Bunda sangat bangga sama kamu, sayang,,,, kamu anak yang hebat”, Ternyata tadi bunda pura- pura marah .
“Makasih Bunda”,ucap Naz tersenyum bahagia.
“Dek,,, kok kamu sangat akrab dengan temannya Kak Dandy?”, tanya Arsen yang sejak tadi penasaran.
Naz melepaskan pelukannya dari Bunda, lalu mengalihkan pandangan pada Arsen yang duduk di kursi yang satunya lagi, “Loh memangnya kenapa? Apa salahnya aku akrab dengannya”, tanya Naz.
“Kamu jangan suka bergaul sama sembarang orang, sebaiknya kamu jangan terlalu dekat dengan pria pincang itu”, Arsen langsung mengeluarkan larangannya.
“Kak Arsen !!!”, teriak Naz, “Kakak jangan suka menghina fisik seseorang seperti itu,dia punya nama,,, namanya itu Kak Arfin,, dan dia itu pacar aku", Naz bicara dengan tegas.
“Apa,,? Pacar?? Bukankah Bunda sudah melarang mu pacaran sampai kamu lulus kuliah?”, Arsen terkejut.
“Iya,, tapi aku udah dapat izin ko dari Ayah, dari Papa, bahkan dari Opa sama Oma juga… “, jawab Naz dengan nada kesal.
“Memangnya kamu sudah tahu dia pria seperti apa? Kakak tidak mau ya kalau sampai ada yang menyakitimu”, Arsen terus bertanya.
“Tentu saja aku sudah tahu banyak tentangnya, dia pria yang baik kok, selalu jagain aku, selalu ada buat aku, selalu menghiburku kalo aku lagi sedih, dan yang pasti dia sangat menyayangiku”, jawab Naz.
Arsen hanya mendengus kesal mendengar perkataan Naz, lalu ia langsung beranjak pergi meninggalkan ruang tamu menuju ke kamarnya.
“Kak Arsen kenapa sih? Sejak kecil dia over protektif terus sama aku,,, aku gak boleh bergaul sama ini, gak boleh berteman sama itu, makanya aku gak punya banyak teman,,, dan sekarang dia malah menghina Kak Arfin,,, aku gak suka,, Bunda”, gerutu Naz kesal.
“Sudah sudah,,, sebaiknya kita juga tidur,,, sudah larut ini ..kamu teh jangan teriak- teriak gitu,,, nanti Mimih terganggu lagi,,,beliau kan udah tidur dari habis isya juga”, ucap Bunda mengakhiri pembicaraan, kemudian mereka pun pergi ke kamar masing- masing untuk tidur.
***
__ADS_1
Pagi hari seperti biasa Naz membantu Bi Asih membersihkan rumah dan ikut memasak. Setelah Itu Naz mandi dan bersiap untuk kembali ke Jakarta. Setelah semua orang bersiap lalu mereka pun makan bersama.
Seusai makan Naz membereskan dan membersihkan bekas makan mereka, sedangkan Papa dan Mama nya sedang mengobrol di ruang tamu bersama Mimih, sambil menunggu Naz menyelesaikan pekerjaannya.
Naz menghampiri mereka ke ruang tamu lalu berpamitan kepada Mimih, namun saat akan naik mobil, Naz tidak melihat keberadaan Bunda, kemudian dia masuk kembali kedalam rumah untuk mencari Bunda. Naz mencari ke kamar, tidak menemukannya, ke ruang tengah, ke kamar mandi, ke ruang makan, ke dapur pun sama tidak menemukannya. Saat ia berjalan di ruang tengah ia menoleh ke arah jendela kaca dan melihat keberadaan Bunda di halaman samping. Naz berjalan menuju pintu yang dekat jendela kaca tersebut, lalu ia memperhatikan Bunda yang ternyata tidak sendirian.
“Bunda lagi ngapain sama Kak Arsen,,, nampaknya mereka sedang membicarakan hal yang serius”, ucap Naz berdialog sendiri sambil terus memperhatikan dari balik jendela kaca tersebut, “Bunda kayaknya marah- marah itu… Astagfirullah”, Naz dikejutkan dengan kejadian yang barusan ia lihat, kemudian ia melihat Bunda sedang berjalan ke arahnya sepertinya hendak masuk ke rumah, Naz pun langsung beranjak pergi dari sana karena takut ketahuan Bunda kalau dia sudah ngintip.
Naz berjalan dengan cepat menuju ke ruang tamu dengan raut wajah yang masih terkejut dan ia kembali pamit pada Mimih yang masih duduk di sana,
“Mimih,, Nanaz uih heula nya,, engke lamun aya waktos atawa libur sakola deui, Nanaz ameng deui kadieu nya”.
“Mimih, Nanaz pulang dulu ya, nanti kalau ada waktu atau libur sekolah lagi, Nanaz main lagi kesini ya”.
Tiba- tiba Bunda muncul dan beliau pun berpamitan, “Mimih,,, Nita uih hela nya,, nitip Arsen nya”.
“Mimih, Nita pulang dulu ya, titip Arsen ya”.
“Enya,, sing ati- ati dijalan nya, sing saralamet dugi ka tempat anu dituju,, padahalnya Nanaz teh nembe ge dua dinten didieu, tos ek aruih deui,, salamna wae ka Izal nya”, ucap Mimih.
“Iya,,, hati- hati dijalan, semoga selamat sampai tempat tujuan,,, padahal Nanaz baru dua hari disini, sudah mau pada pulang lagi,,, salamnya saja buat Izal ya”.
Mereka pun mencium tangan Mimih lalu cipika cipiki secara bergantian, kemudian beranjak pergi keluar dan masuk ke dalam mobil dimana Pak Syarief dan Bu Rahmi sudah menunggu, mereka pun berangkat menuju Jakarta.
Sepanjang perjalanan Naz memperhatikan Bunda yang duduk di jok tengah bersama nya, beliau nampak sedih dan tidak bicara sepatah kata pun hanya menyender ke sandaran jok dan menantap ke jendela, sedangkan Bu Rahmi yang duduk di depan terus mengajak Naz ngobrol.
Setelah menempuh perjalanan selama 4 jam lebih, mereka pun sampai di kediaman Bunda, Naz yang saat diperjalanan terus dibujuk agar ikut pulang ke rumah Mama nya terus menolak dan dia berjanji esok hari akan menginap di sana, lalu mereka berdua pun pulang ke rumah tanpa Naz bersama mereka.
Naz dan Bunda pun masuk ke kamar masing- masing, masih tetap tidak ada pembicaraan diantara mereka, kemudian Naz mengabari kekasihnya lewat chat kalau dia sudah sampai dengan selamat.
“Bunda kenapa ya? apa Bunda takut kalau aku akan pergi dari sini dan tinggal bersama Mama,,, sama seperti dulu Bunda takut kalau aku tinggal dengan Ibu?”, Naz berdialog sendiri sambil tiduran di tempat tidurnya dengan memainkan boneka pingky bear nya.
Ponsel Naz berdering menandakan ada panggilan masuk, dan saat dilihat nama sang kekasih tertera di layar ponselnya, lalu ia menggeser tombol biru yang bergambar kamera video di layar ponselnya.
“Hallo,,, assalamu’alaikum Chaya sayangku”, sapa Arfin dengan tersenyum.
“Waalaikumsalam,,, kok kedengarannya ramai gitu,, Aa lagi dimana?”, tanya Naz.
“Masih di ruang meeting baru selesai, pas baca chat kamu yang bilang baru nyampe, langsung deh nelpon”, ucapnya sambil memperlihatkan keadaan di ruang meeting lalu ia bangun dari duduknya lalu berjalan menuju ruang kerjanya.
“Semalam nyampe jam berapa? Kok gak ngabarin?”, tanya Naz.
“Nyampe rumah jam 2 pagi, Dandy juga nginep dirumah tadi pagi diantar pulang sama sopir, soalnya Aa pagi- pagi banget berangkat ke kantor nya,,, “, jawab Arfin yang sudah duduk di ruang kerjanya.
“Berarti tidur cuman sebentar,, ? Maaf yaa,,, gara- gara ngurusin aku Aa udah dua hari ini kurang istirahat,,, “.
“Hahaha,,, dasar,,, kebayang tuh Kak Dandy pasti ngomel- ngomel,,, udah mah siangnya diajak naik wahana extrim, ditambah semalam nyetir sampe pagi”,Naz terkekeh.
“Jelas,,, ngomel- ngomel dia,,, katanya perasaan gak minta kopi sama Bi Asih kok dibikinin kopi, padahal Aa yang pesan, hahaha”.
“Hahaha,,, dasar adik ipar laknut,,,”, ucap Naz.
“Oh iya,,, gimana kemarin kelanjutannya? Udah dibicarakan soal Raline ?”, tanya Arfin.
“Udah beres lah,,, Bunda juga tadinya marah sama aku gara- gara aku merahasiakan hal itu,, tapi ya Bunda kan orangnya cepat luluh,,, hehehe,, dan sekarang Bunda kayaknya sedih deh,, tadi waktu di rumah Mimih kayak abis bertengkar gitu sama ka Arsen”.
“Bertengkar kenapa? Apa gara- gara kita berduaan di dalam mobil semalam,,, apa mungkin Arsen menyangka terjadi sesuatu sama kita? Apa dia tahu soal hubungan kita?”.tanya Arfin.
“Entahlah,,, apa alasannya,,, awalnya Kak Arsen nyuruh aku supaya gak dekat- dekat sama Aa, tapi setelah aku bilang kalau kita pacaran dia gak komentar lagi,,,”.
“Oh ya? emang kenapa gak boleh dekat – dekat? Aa kan bukan virus”,
“Ya gitulah kak Arsen,, terlalu over protektif,,, sejak kecil aku suka dilarang main sama orang lain karena aku dulu pernah dijahatin sama anak- anak komplek sini, terus pas aku pernah dapet surat cinta saat SD itu,, Kak Arsen malah lebih- lebih ,, aku gak boleh temenan sama ini, gak boleh main sama itu, apalagi bergaul sama anak cowok, jadi aku mainnya sama dia aja di rumah kan bosen,,,”.
“Oh,,, pantesan,,, ternyata kamu itu adik kesayangannya ya”.
“Iya gitu deh,,, kalau ada yang jahatin aku ya baik itu anak cewek atau cowok suka dibalas sama dia,,, jadi pada takut temenan sama aku,, makanya aku di sekolah gak punya banyak temen cuman itu aja yang empat ekor,,, Dan setelah di ungsikan ke Bandung juga tetep aja suka ngatur-ngatur, sampai Bunda gak ngasih nomor ponselku ke dia, jadi kalau Kak Arsen mau nelpon ya ke telpon rumah atau ke ponsel Bunda”.
“Empat ekor? Bukannya tiga ya? Ruby, Kiara, sama Andes”.
”Lah itu si Embe,, belum ke sensus,,, haha”.
“Oh iya,,,yang tempo hari ketemu sama kamu saat tanding itu ya,,, “.
“Iya,,, semenjak SMA dia gak pernah ngumpul lagi sama kita, mungkin canggung ketemu sama Ruby,, kan mereka sempet pacaran tuh saat SMP,,, yang dibilang cinta monyet itu loh,,padahal dulu badannya si Embe segede kingkong,, hahaha”, ucap Naz
“Tadi katanya Bunda sedih,, emang kenapa?”, tanya Arfin.
“Gak tahu juga,,, mungkin Bunda takut aku diajak pindah mungkin sama Mama,,, dulu juga Bunda sempat takut aku diambil sama Ibu,, sampai- sampai Bunda sakit,,, makanya tadi saat Mama ngajakin pulang ke rumahnya, aku nolak, karena menjaga perasaan Bunda juga,, tapi besok aku udah janji mau nginep disana,, jadi kayaknya hari ini musti ngerayu Bunda dulu deh,,, hehehe”, ucapnya menjelaskan, “Lagi lihat- lihat apa itu?”, tanyanya saat Arfin nampak sibuk dengan sesuatu.
“Ini lagi lihat CV yang melamar jadi sekertaris buat gantiin Dewi nanti,,, soalnya dia sebentar lagi mau nikah,, katanya mau ikut suaminya ke Malaysia”, jawabnya sambil melihat satu persatu CV tersebut.
“Awas ya kalo ngikutin saran Kak Dandy”,Naz teringat perkataan Dandy semalam.
“Maksudnya ?”, tanya Arfin bingung.
“Iiihh,,, suka pura- pura”,Ucap Naz ketus.
__ADS_1
“Saran apaan sayang,, Aa gak ngerti ?”, tanya Arfin lagi.
“Itu yang bilang nyari sekertarisnya yang masih muda, cantik, dan lebih seksi dari Kak Dewi biar Aa betah di kantor… itu nyari calon sekertaris apa nyari calon selingkuahan sih”, ucapnya ketus.
“Sayang,,, itu omongan Dandy jangan dipercaya,, dia cuman bercanda,,, Aa gak pernah melirik wanita manapun, karena sudah ada kamu di hati Aa”.
“Gombal.. Yaudah kalau gitu nyari sekertarisnya yang udah tua, gak cantik, udah punya suami, kalau perlu yang berjilbab, tapi pinter”.
“Sayang, kalo yang udah tua baru masuk langsung pensiun dong,,, Aa butuh sekertaris yang cekatan, cerdas, teliti dan bisa diandalkan,, justru lebih butuh yang masih lajang, jadi gak terganggu dengan urusan rumah tangganya,,, ”
“Ya enggak tua- tua amat juga kali,, missal 40 tahunan lah,,, atau nyari sekertarisnya laki- laki aja kayak di novel- novel gitu,,, “.
“Sekertaris mah perempuan dong, sayang,,, lebih teliti dan lebih cermat,,, kalo laki- laki mah paling buat asisten pribadi, dan Aa gak butuh itu”.
“Yaudah,,, tapi jangan yang cantik dan seksi,,, yang sederhana aja”.
“Tapi kalau kata Bang Evan sekertaris itu harus cantik biar enak dipandang,, hahaha”, Arfin malah sengaja menggoda.
“Iiiiiihhh nyebelin,,,dasar semua cowok sama aja,,, mata keranjang”, gerutu Naz kesal.
“Bercanda ihh,,, seneng deh kalau lihat kamu cemburu gitu", Arfin terkekeh.
“Terus itu kapan interview nya?”, tanya Naz.
“Katanya besok,,, emangnya kenapa?”, Arfin balik bertanya.
“Kalo gitu aku akan ke kantor mu besok, nanti aku yang nyeleksi calon sekertaisnya”, ucap Naz.
“What ??? ya ampun sayang, kamu ngapain sih jangan suka aneh- aneh gitu deh”.
“Biarin,,, pokoknya besok aku ke kantor Aa titik,, wassalamu’alaikum,,, babhay”, Naz langsung menurup sambungan video call nya tanpa mendengar balasan salam dari Arfin. Kemudian ia tidur karena sepanjang perjalanan terus meladeni Mama nya yang banyak tanya segala macam hal tentang dirinya.
Setelah tidur selama dua jam, Naz terbangun dan saat melihat jam sudah hampir jam dua, ia segera ke kamar mandi lalu shalat, dan setelah itu ia kembali melanjutkan tidurnya.
***
“Dek…. Dek.. bangun hei… udah jam empat inih,,, gak boleh tidur sampe sareupna, pamali,, ayok bangun atyh heiii”, Bunda membangunkan Naz dengan menepok- nepok pipinya.
“Emhhh,,,, udah ashar ya Bunda,,, bentar ngumpulin nyawa dulu,,,”, jawab Naz.
“Ayok bangun terus mandi terus shalat,,, kamu belum makan siang ih,,, kebiasaan kamu mah da, makan siang dirapel ke sore”, ucap Bunda yang setelah Naz bangun, beliau kemudian beranjak keluar dari kamar Naz dan pergi ke bawah.
“Iya ,, Bunda,,,, “, Naz kemudian bangun lalu mengambil handuk dan bergegas ke kamar mandi, setelah selesai mandi ia pun berpakaian terus shalat, lalu ia keluar dari kamarnya menuju ke ruang makan. “Eh,,, tumben Ayah jam segini uadah di rumah?”, tanya nya saat melihat Ayahnya sedang duduk disana.
“Kan kangen sama kamu dan Bunda”, ucapnya terkekeh.
“Hemmm,,, gombal gembel ah si Ayah mah,, ayok makan Dek,,, kamu tuh sama sama Ayah mu,, jam segini baru sempat makan siang”, gerutu Bunda.
“Gak apa- apa atuh Bund,, kan Naz jadi ada temennya”, Ayah mencari pembelaan.
“Halah,,, bisa aja ke anaknya bilang jangan telat makan,, eh sendirinya juga suka telaat makan,, pinter kodek si Ayah mah”, Bunda terus ngomel.
“Hahahhaa,,, sudah ahh ayok kita makan,, Bunda mu kalau sudah ceramah bisa sampai dua jam ngalahin durasi ceramahnya Mamah Dedeh,,,”, ucap Ayah terkekeh dan mereka berdua pun mulai makan, seperti biasa tanpa bicara sampai selesai makan.
Setelah Naz selesai membereskan dan mencuci bekas makan mereka, Naz duduk kembali.
“Dek,, sebenarnya sudah sejauh mana hubungan mu dengan Arfin?”, tanya Ayah sambil mengupas jeruk.
“Ya.. gitu deh,,, “, jawab Naz gak jelas.
“Bunda bilang kamu sudah pernah diajak ke rumahnya dan dikenalkan pada orang tua nya ya?, ,,, terus gimana tanggapan mereka tentang hubungan kalian?",tanya Ayah lagi.
“Ya gitu deh,,, mereka baik, aku juga diterima dengan baik di sana, bahkan aku disuruh manggil mereka dengan sebutan Mami dan Papi”, jawab Naz.
“Wah,,, berarti udah pada setuju dong ini kedua belah pihak,,, gimana kalau kalian Bertunangan?”, ucap Ayah.
“Apa? Bertunangan?”,tanya Naz kaget.
“Iya,,, Bertunangan,,, untuk mempererat hubungan kalian, ya kan Bund?”, jawab Ayah.
“Tapi Yah,, aku kan masih sekolah”, Naz beralasan.
“Ini kan baru Bertunangan,, bukan menikah… sah sah aja kan walaupun masih sekolah,,,”, Ayah tetap kekeh.
“Bertunangan?? Yasalam,,, bagaimana ini,,, Kak Arfin membehas pernikahan aja kelihatan gak suka,, apalagi ini diajak bertunangan yang pastinya dekat ke pernikahan,,, haduhhhh,,,, musti gimana ini??”, Gumam Naz dalam hati.
-------------- TBC ----------------
*************************
Wahh,,, si Ayah gercep juga menyuruh bertunangan,,, atuh makin deket jalan ke KUA teh,, karena Pertunangan is jembatan menuju pelaminan…..
Bagaimana tanggapan Arfin soal ini ya??
Saksikan episode selanjutnya ….wadidaw parampam,,,,
Happy Reading
Jangan Luva tinggalkan jejakmu,,, like, komen, Vote, Rate bintang 5
__ADS_1
Terimakasih banyak,,,,