Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Keceplosan Roller Coaster


__ADS_3

Malam ini begitu dingin efek dari hujan deras yang diturunkan sang malaikat Mikail dari langit, justru berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan Naz dan Arfin, atmosfer panas seakan menyeruak secara tiba- tiba yang membuat sistem ekskresi kelenjar ekrin mereka terus menghasilkan keringat yang terus bercucuran, saking gugupnya kali ya, untuk mengakui mendekati anaknya saja sudah gugup setengah mati, apa kabar nanti kalo meminta sang gadis untuk dinikahinya.


“Siapa sih orang itu, Naz?” Ayah mempertanyakan identitas si tukang cilok.


Arfin terus mengusap dahinya yang tak henti mengeluarkan keringat “ekhem,,,Om ini sudah malam, aku pamit pulang ya?”.Malah pundung.


“Di luar masih hujan Ar,,,sudahlah lebih baik menginap saja di sini”, Ayah memberi usulan.


“Iya Ar, lagian kan mobil lo tadi udah diderek ke bengkel, mau pulang naik apa lo, udah nginep aja sih,, kayak anak gadis aja lo takut dicariin, udah lama banget kan lo gak pernah nginep disini”, Dandy pun setuju dengan usulan Ayahnya.


“Besok pagi kan harus ngantor Dan”, Arfin tak habis akal demi menghindari pertanyaan lebih jauh soal Tukang Cilok.


“Memangnya kantormu masih beroperasi di hari libur Ar”, Ayah bertanya sambil tertawa kecil.


“Libur,,,??, besok kan hari Jumat Om”, Arfin gak punya kalender apa ya.


“Siapa yang bilang besok hari minggu Ar,, coba lihat kalender, besok itu tanggal merah Ar”,Ayah memberitakan.


“Saking rajinnya ya lo di hari libur pun ngantor, apa jangan- jangan ada seseorang yang bikin lo betah di kantor dan selalu merindukan kantor ya Ar,,, wahh jangan- jangan lo udah terpikat sama sekertaris lo yang seksi itu loh, siapa tuh namanya,,oh iya si Dewi”, Dandy malah menggoda Arfin.


“Jangan suka fitnah Dan,,, beneran gak tahu kalau besok tanggal merah”, Arfin melirik ke arah Naz yang ternyata nampak cemberut.


Naz langung bangkit dari duduknya, wajahnya yang sembab memperlihatkan raut kesal “Aku permisi dulu mau packing buat besok” Naz langsung bergegas pergi ke kamarnya berjalan sambil menggerutu “dasar menyebalkan”.


“Dek, mau kemana woy, belum dijawab itu pertanyaan Ayah tadi” Naz terus berjalan menaiki tangga dan tidak memperdulikan perkataan Dandy.


“Sudah Dan, biarkan saja mungkin dia masih malu- malu mengakuinya”, Ayah bukan tipikal orang tua pemaksa rupanya.


“Ayah,,,Naz bilang mau packing buat besok, memangnya besok mau kemana?" Tanya Dandy heran.


“Oh iya Ayah belum bilang, besok pagi kita berangkat ke Bandung untuk menjenguk Mimih mu, adikmu ingin sekalian liburan katanya besok kan sudah mulai libur sekolah sampai tiga minggu ke depan", Ayah menjelaskan rencana keberangkatan besok.


“Oh iya,, aku lupa Mimih kan lagi sakit, okelah besok kita berangkat” Dandy melihat ke arah Arfin “Ar, ikut yuk ke Bandung, kan lumayan manfaatin long weekend di sana, lagian lo semenjak pulang dari Amrik dipingit mulu kayak anak perawan”.


“Iya Ar, ayo ikut rame- rame kita ke sana ”, Ayah mendukung ajakan Dandy.


“Tapi Om, aku belum persiapan sama sekali dan aku juga tidak membawa pakaian”, Arfin menolak secara halus karena merasa sungkan dan takut interogasi soal tukang cilok akan berlanjut.


“Gampang Ar, lo tinggal minta sopir dari rumah lo anterin pakaian lo kesini ”, Dandy memberi solusi.


Akhirnya Arfin bersedia ikut mereka ke Bandung, tentunya ini sangat membahagiakan untuknya bisa menghabiskan long weekend bersama gadis pujaan hatinya dan melupakan sejenak masalah tukang cilok. Mereka bertiga pun meninggalkan ruangan TV kembali ke kamar masing- masing mempersiapkan untuk keberangkatan besok, lain halnya dengan Arfin yang ikut masuk ke kamar Dandy karena kamarnya sangat jauh tentunya untuk memasukinya saja harus pulang ke rumah nya dulu. Sesuai yang disarankan Dandy, Arfin pun menelpon asisten rumah tangga di rumah nya untuk menyiapkan beberapa pakaiannya untuk keberangkatannya ke Bandung dan minta diantarkan oleh sopir nya ke rumah Dandy besok subuh.


Lain halnya di kamar Rheanazwa, ia masih nampak sibuk memilah dan memilih barang- barang yang akan dibawanya dan dimasukan ke dalam kopernya. Setelah beberapa saat semua perlengkapan dan keperluannya pun telah masuk ke dalam koper, Naz membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, saat melihat boneka tedy bear pink di dekat bantalnya, lalu di ambilnya “Kamu gak boleh ikut, dasar menyebalkan, iiihhh” Naz meremas- remas boneka yang selalu menemani tidurnya itu. “Dasar laki- laki semuanya sama saja, mata keranjang,iiiiihh” Naz menumpahkan kekesalannya pada bonekanya itu, kemudian Naz tertidur dengan membawa perasaan kesalnya. Cemburu ya neng sama sekertaris yang sexy mandra guna, hahaha.


Tak terasa malam pun telah berakhir ditandai dengan dikumandangkannya adzan subuh panggilan untuk umat muslim menjalankan kewajibannya, begitu pula dengan Pak Rizal, Dandy , dan Arfin yang melaksanakan shalat subuh berjama'ah di mushola. Tak lama terdengar suara klakson mobil, dan ternyata sopir dari kediaman Arfin telah datang mengantarkan pesanan Arfin. Dandy menyalakan mesin mobilnya untuk dipanaskan terlebih dahulu, dan memasukan semua barang- barang bawaan ke dalam mobil. Setelah persiapan beres dan semuanya telah berpakaian rapi, mereka berkumpul di ruang makan untuk sarapan terlebih dahulu, kemudian mereka pun berpamitan pada Mbak Iyem dan menitipkan rumah selama mereka di Bandung.


Satu persatu masuk ke dalam mobil, Naz duduk di jok penumpang bersama sang Ayah, sedangkan Dandy duduk di jok depan di samping pengemudi, Naz sangat terkejut saat Arfin pun ikut masuk ke dalam mobil dan duduk di jok pengemudi.


“Ayah, Kak Arfin ikut ke Bandung juga?” Naz bertanya pada Ayahnya.


“Iya, sekalian biar kakakmu ada temennya di sana “, jawab Ayah sambil tersenyum.


“Oh,,,” Naz bicara dengan malasnya dan menapakkan raut wajah kesal dan diam- diam Arfin memperhatikannya dari kaca spion depannya.


“Kenapa ekspresinya seperti itu, apa dia tidak senang ya aku ikut” Gumam Arfin dalam hatinya namun Arfin merasa senang melihat Naz membawa serta boneka tedy bear pemberiannya dulu yang terus di peluknya.


Setelah memasang seatbelt dan memastikan pada semua orang tidak ada yang ketinggalan, Arfin pun segera melajukan mobilnya dan berangkat. Sepanjang perjalan Arfin selalu melirik spion melihat gadisnya yang duduk di belakang, sampai Naz tertidur pun ia masih melakukannya. Tak terasa setelah menempuh perjalanan selama 4 jam mobil yang dikendarai Arfin pun telah sampai di Bandung, perjalanan sempat dihentikan dulu karena Pak Rizal, ayahnya Naz minta turun untuk membeli buah tangan, masa iya ke rumah mertua dengan tangan kosong. Setelah itu Arfin kembali melajukan mobilnya sesuai petunjuk jalan yang dikatakan Dandy, akhirnya mereka pun sampai pekarangan rumah ibunya Bunda.


Bunda langsung menyambut kedatangan mereka “Akhirnya sampai juga kalian ya,,Ehh,,, ada Arfin juga toh,,,ayo ayo masuk “, Pak Rizal , Dandy, Arfin dan Naz bersama bonekanya pun langsung masuk ke dalam rumah dan ternyata sudah ada seseorang yang tengah duduk di kursi tamu.

__ADS_1


“Mimihhh,,,,” Naz langsung menghampiri neneknya dan memeluknya.


“Aehh,, incu mimih meuni geus ageung, meuni beuki geulis wae” , Mimih memegang kedua pipi Naz dan memcium keningnya.


“Aehh, cucu Mimih sudah besar, makin cantik saja”,


“Enya atuh geulis,,, saha heula atuh Mimih na” Naz ternyata fasih bicara Bahasa Sunda, dia pun duduk di sebelah Mimih nya.


"Iya dong cantik, siapa dulu Mimih nya ",


“Bu, gimana sekarang udah mendingan” Pak Rizal menyalami mertuanya.


“Alhamdulillah Zal, maaf ya jadi ngerepotin Anita malah disuruh ngurusin Ibu disini”, Mimih merasa tidak enak hati pada menantunya.


“Kami tidak merasa direpotkan Bu, kami ini kan anak- anak Ibu, sudah menjadi kewajiban kami merawat ibu, mohon maaf saya baru bisa datang”,ujar Pak Rizal .


“Mimih, coba tebak aku siapa nih” Dandy pun menghampiri neneknya dam menyalaminya diikuti oleh Arfin.


“Dandy ieu mah, apal Mimih ge ah,,disangka Mimih teh ges pikunnya,,,, Eh ari ieu saha hiji deui gening meni kasep pisan” Mimih merasa asing pada Arfin yang ikut menyalaminya dan Arfin pun hanya bisa tersenyum pada Neneknya Naz karena tidak mengerti dengan apa yang dikatakannya.


" Dandy ini mah, tahu Mimih juga ah,, dikira Mimih sudah pikun ya,,, Eh... ini siapa satu lagi kok ganteng banget".


“Ini Arfin Mih, temennya Dandy yang dulu waktu masih SMP pernah ikut liburan disini loh ”, Dandy mengerti perkataan Neneknya, tapi dia tidak bisa bicara Bahasa Sunda seperti Naz.


Mimih menatap Arfin dalam- dalam sambil mengingat “Oh, enya ,, eta anu sok naek motor ninja tea nya anu sok babalapan”.


"Oh, iya,,, itu yang suka naik motor ninja yang suka balapan".


“Nah itu Mimih inget, berarti memang belum pikun hehehe”. Dandy malah menggoda Mimihnya.


“Dasar kamu yah, nurustunjung” Mimih mencubit pipi Dandy.“Kalian pasti lelah ya, istirahat dulu sana,,,,Anita sudah menyiapkan kamar buat kalian”. Baru saja Mimih mempersilahkan , tiba- tiba datang seseorang dari dalam sambil menggendong anak kecil dan membawa koper.


“Tante Ina,, mau kemana ko udah bawa koper aja ?? kami baru aja datang” , Naz menghampiri dan menghampiri dan menyalami Tantenya yang merupakan adik bungsunya Bunda.


“Tante udah seminggu disini, kasihan kakak- kakaknya Aliya di Surabaya udah ditinggal lama, jadi tante mau pulang hari ini, dan untunglah kalian sudah pada datang jadi Mimih banyak yang menemani”, Ternyata Tante Ina hendak mudik bersama puteri kecilnya yang berusia 4 tahun,,, yaa karena jarak usia Bunda dengan tante Ina sangat jauh yakni saat Bunda baru masuk SMA tante Ina baru lahir jadi Tante Ina usianya masih muda.


“Mahu ponekaaa” Aliya yang digendong Tante Ina menunjuk boneka yang dipegang Naz dan menginginkannya, sedangkan Naz seperti enggan memberikannya.


“Ndak boyyehh,,ini bonekanya kaka sayaang,, itu Aliya kan udah punya berbie” , Naz menolak memberikan bonekanya karena ditangan Aliya sudah ada barbie cantik.


“Mahu poneka pink itu mama,,,, huaaaaaa” Aliya malah menangis dan melemparkan boneka barbienya.


“Naz, kasih aja atuh,, kasihan itu Aliya sampai nangis kaya gitu” Bunda meminta Naz menyerahkan bonekanya.


“Tapi bunda ini kan….” Naz belum selesai bicara terpotong oleh Tante Ina yang kewalahan karena Aliya nangis kejer di pangkuannya.


“Naz, boleh Tante pinjam dulu sebentar yaa bonekanya,, nanti dikembaliin lagi kok yaa,,,,takutnya nanti Aliya rewel di pesawat kalo udah ngambek gini,, sebentar aja ya” Tante Ina membujuk Naz dan Naz pun dengan berat hati mau meminjamkan bonekanya.


Pak Rizal, Dandy dan Arfin bangun dari duduknya dan berjalan hendak masuk ke kamar masing- masing yang sudah disiapkan sebelumnya untuk istirahat sejenak setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh. Sedangkan Naz masih diruang tamu bersama Bunda,Tante Ina dan Mimihnya untuk melepas rindu bercerita segala macam termasuk perihal Naz yang mendapatkan penghargaan siswa berprestasi, kecuali soal kedekatannya dengan Arfin dia tetap menutupinya.


Beberapa saat kemudian para pria keluar dari kamarnya dan hendak pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat jumatan, Tante Ina dan Bunda pergi ke dapur untuk meyiapkan makan siang, sedangkan Naz pergi ke kamar karena merasa ngantuk dan tidak enak perut akibat PMS.


Setelah beberapa saat Bunda masuk ke kamar Naz karena sudah jam dua siang dia belum keluar kamar juga belum makan, “Sayang,,, Naz bangun,, “ Bunda menggoyang- goyangkan lengan Naz .


“Emhhh,,, ada apa Bunda?”, Naz bicara tapi matanya masih merem.


“Bangun sayang, ini teh sudah jam dua siang dan kamu belum makan, tadi Bunda mau bangunin kamu untuk makan siang bersama tapi gak tega kamu nya baru tidur sebentar,, sekarang ayo bangun sayang”, Dan akhirnya Naz pun bangun dan keluar kamar bersama Bunda nya.


“Aku ke kamar mandi dulu ya Bunda”, Naz pamit ke kamar mandi untuk membasuh muka dan kemudian kembali menuju ruang makan dan di sana Sang Bunda sudah menyiapkan makanan untuk Naz, “Kok sepi Bunda, pada kemana” Tanya Naz sambil menggeser kursi lalu mendudukinya.

__ADS_1


“Ayah baru aja tidur,,kalau Dandy mah tadi sehabis makan siang langsung mengantar Tante Ina ke bandara, sedangkan Mimih lagi ngobrol ngaler- ngidul tuh sama Arfin, tadi Bunda lihat ke sana kasihan itu teh Arfin pas Mimih ngomong pakai bahasa Sunda, dia gak ngerti kayaknya cuman senyum- senyum sama mangut saja” Bunda dan Naz menertawakan penderitaan Arfin.


“Jadi Tante Ina sama Aliya udah pulang ke Surabaya?,,terus boneka tedy bear aku yang tadi dipinjam Aliya sekarang dimana Bund?” Naz teringat bonekanya karena saat bangun tidur tidak ada disampingnya.


“Emmm,,, soal itu teh,,, maaf sayang tadi waktu bonekanya Bunda pinta Aliya teh nangis lagi, Bunda gak tega ngambilnya,, jadi bonekanya teh dibawa pulang sama Aliya,, maaf banget sayang,,, lagian atuh kan kamu sudah besar masa iya masih main boneka”, Saat mendengar penjelasan Bundanya, Naz terkejut dan tadinya yang hendak makan mengurungkan niatnya.


“Apa…?? Jadi bonekanya dibawa pulang ke Surabaya gitu maksud Bunda???” Naz bertanya meyakinkan apa yang ia dengar tadi dan di angguki sang Bunda,”Ihhh,,, Bunda tega banget sihh,, itu kan boneka kesayangan aku, kenapa malah dikasih ke Aliya” Naz merasa kecewa dengan Bundanya, ia pun bangun dari duduknya lalu berlari masuk kembali ke dalam kamarnya dan mengunci pintunya. Bunda pun mengejar Naz yang tidak jadi memakan makanannya.


“Sayang, Bunda teh minta maaf, tapi kasihan atuh itu Aliya, kamu mah kan sudah besar, lagian biasanya kamu mah gak suka main boneka kan, lebih suka baca komik dan koleksi miniatur boneka jang conan,,, ayo atuh sayang buka pintunya, kamu teh belum makan nanti bisa sakit atuh nak”. Bunda mengetuk- ngetuk pintu kamar Naz dan berusaha membujuknya.


“Bunda jahat, Bunda gak tahu sih sejarahnya boneka kesayangan aku itu, aku gak mau makan sebelum boneka itu balik lagi” Naz berteriak dari dalam kamarnya. Kemudian Bunda menghubungi Dandy dan ternyata pesawat yang ditumpangi Tante Ina sudah take off 20 menit yang lalu.


“Hadeuh,, kumaha atuhh ieu “ Bunda nampak gelisah sambil memegang ponselnya.


“Bunda kenapa, kayak lagi gelisah gitu?” Arfin tiba- tiba muncul dan menghampiri Bunda.


“Itu Ar, Naz teh marah sama Bunda, gara- garanya boneka tedy bear pink nya Bunda kasih ke Aliya, kasihan atuhda Aliya tadi nangis kejer pengen boneka itu, jadi bonekanya teh dibawa pulang ke Surabaya, mana barusan Bunda telepon Dandy katanya pesawatnya udah take off 20 menit yang lalau… kumaha atuh ieu,, Naz gak mau makan kalo bonekanya teh belum balik,,, tadi kata Ayahnya teh, Naz sarapannya cuman minum susu aja”, Bunda menjelaskan kejadiannya.


Arfin yang sempat terkejut mengetahui Naz ternyata begitu sayang pada boneka itu pun merasa senang dan malah senyam- senyum tanpa menyadari kalau Bunda masih ada di hadapannya.


“Arfin, ari kamu kenapa malah senyam-senyum teu puguh, orang Bunda lagi khawatir sama Naz,, kalau dia jatuh sakit gimana hah?”, Bunda jadi esmosi.


“Biar aku coba bujuk Bunda” Arfin pun mendekati pintu kamar Naz dan mengetuk- ngetuk .”Naz,,Naz,, buka pintunya,, kata Bunda kamu disuruh makan tuh”, percobaan tahap pertama.


“Gak mau, aku gak mau makan” Naz masih menolak.


“Ayolah, kata kamu kalo makanan itu gak boleh di sia- siakan nanti mubadzir, masih banyak orang- orang diluaran sana yang kesusahan untuk mendapat makanan,, ayo buka pintunya”. Percobaan tahap kedua mengingatkan kata- kata Naz terdahulu.


“Aku mau makan kalo bonekanya udah balik lagi dibawain sama Kak Dandy,,”, Naz tetap kekeh.


“Dandy bilang pesawatnya sudah take off dua puluh menit yang lalu, jadi bonekanya sudah terbang ke Surabaya,, jadi sekarang buka pintunya atau aku dobrak”, Kesabaran sudah mulai habis.


“Gak mau titik”, Naz tetap menolak dengan tegas.


“Oke,,,,begini saja kalau kamu mau keluar kita akan naik roller coaster ke Trans Studio, kalau kamu gak mau ya gak apa- apa aku akan pergi sama Mimih aja berdua”, Arfin ingat kalo Naz ingin sekali naik Roller coaster.


Ceklek Naz langsung membuka pintu kamarnya dengan menunjukan wajah cemberut “Beneran ya, naik roller coaster ”, Ucap Naz dengan nada juteknya “Tapi jangan ajak Mimih, bisa jantungan nanti kalo Mimih naik roller coaster”. Ucapan Naz sontak membuat Arfin dan Bunda tertawa.


“Yang benar saja Naz, aku hanya bercanda tadi” Arfin masih menertawakan Naz.


“Bercanda,, maksudnya Kakak bohong bilang mau ngajak aku ke Trans Studio?. Naz merasa kesal sudah kena jebakan batman.


“Iya iya,,,kita ke sana , tapi kamu makan dulu, maksudnya aku bercanda ngajak Mimih kesana, yang benar saja kamu tuh”,Arfin ternyata berhasil membujuk Naz keluar dari kamarnya dan dia pun bersedia untuk makan, namun hal itu membuat Bunda heran.


“Arfin, kok kamu bisa tahu Naz kepengen naik roller coaster??? Tahu dari mana??”. mendengar pertanyaan Bunda, Naz dan Arfin saling bertatapan.


Deg……


Nah loh…….


----------------- TBC --------------


*************************


Mohon maaf baru up lagii,,,


Happy Reading😘😉


Jangan lupa tinggalkan jejakmu😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2