Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Kemana Aa Harus Melamar Mu ??


__ADS_3

Mahligai Cinta di tepi danau,,, mungkin itulah yang cocok untuk menamai kisah cinta Naz dan Arfin yang dipertemukan di tepi danau, jadian di tepi danau, bahkan saat putus pun di tepi danau, dan kini Afin melamar gadis pujaan hatinya itu pun di tepi danau yang sama,, mungkin karena danau itu sudah menjadi tempat favorite mereka untuk menenangkan diri.


Naz tidak menyangka akan kedatangan sang kekasih yang sangat dirindukannya secara tiba- tiba,,, belum selesai keterkejutannya di tambah pria itu mengutarakan niatnya untuk mengajaknya ke jenjang lebih serius dengan kata lain melamarnya untuk menjadikan Naz sebagai teman hidupnya.


Untaian kata cinta yang begitu menyentuh diutarakannya sebagai luapan perasaannya kepada wanita tercinta yang dibuatnya tidak bisa berkutik dan berkata apa- apa. Rasa haru bahagia menyelimuti keduanya setelah Naz menerima lamarannya. Keduanya kini saling berpelukan meluapkan rasa bahagia yang tak terkira, namun saat Arfin melepaskan pelukannya dan melihat jemari tangan Naz yang tengah digenggamnya, tiba- tiba senyum kebahagiaan itu sirna,


“Cincin-nya mana?”, tanya Arfin heran.


Mendengar pertanyaan Arfin, Naz pun merasa bingung dan heran, “Cincin??”, tanyanya bingung.


“Iya,,, cincin-nya mana?”, Arfin kembali menanyakan hal yang sama.


“Hah,,, apa gak salah ini,,,? kenapa dia yang menanyakan cincin,,? kan seharusnya aku yang bertanya seperti itu,,,,, aaahhhhh,,, apakah ini tidak nyata,,, apakah aku ini sedang bermimpi,,,?”, Gumam Naz yang menjerit dalam hati dengan perasaan resah dan gelisah, seolah takut menerima kenyataan jika ini adalah mimpi di siang bolong. Kemudian Naz mencubit tangannya sendiri, "Awww...sakitt...", Naz meringis dengan suara pelan.


"Beneran ini nyata,,, bukan mimpi di siang bolong,,, yess", Naz kembali berdialog dalam hati lalu senyam- senyum sendiri.


"Hei,,, sayang,,, ko malah ngelamun sambil dengan senyum gitu ihh...", ucap Arfin yang seolah membuyarkan lamunan Naz.


“Ah iya iya Maaf...hehe ", ucapnya sambil nyengir,,, "Emm... apa itu kak kebalik ? harusnya kan aku yang nanya? Aku pikir Aa melamar ku emang gak pakai cincin seperti orang- orang pada umumnya”, Naz malah balik bertanya.


“Hah,,, justru cincin-nya sudah datang lebih dulu dari pada aku,,, makanya aku menghampiri kamu,, aku pikir kamu sudah lihat cincin-nya, sayang”, Arfin mencoba menjelaskan.


“Hahhh,,, sejak aku duduk di sini aku tidak melihat ada cincin”, Naz semakin merasa bingung dibuatnya.


“Ada sayang,,, tadi aku minta pelayan mengantarkannya padamu”, ucap Arfin lagi.


“Pelayan,,,, ??,,, tunggu,,, pelayan yang mengantarkan piring itu?”, ucap Naz sambil menunjuk piring yang ada di atas meja.


“Iya,,, aku yang memintanya”, Arfin mengiyakan setelah melihat piring yang masih belum dibuka tutup nya.


“Apa,,,??? Aa yang minta pelayan mengantarkan piring itu padaku??", tanya Naz kaget seolah merasa kesal.


“Iyaa,,,,”, jawab Arfin singkat.


“Hah,,, sebenarnya Aa mau melamar ku apa membunuh ku sih?”, tanya Naz dengan nada kesal.


“Ya tentu saja melamar kamu,, sayang,,,, mana tega aku membunuh kamu,,, “, Jawa Arfin yang merasa heran mendengar perkataan Naz.


"Apa kamu sudah membuka tudung saji piring itu?”, tanya Arfin memastikan.


“Iya”, jawab Naz dengan nada ketus.


“Berarti kamu sudah melihat cincin-nya”, Arfin masih kekeh soal cincin.


“Yassalam,,, cincin apa? Orang dari tadi aku gak ada lihat cincin sama sekali?", Naz malah semakin kesal.


“Cincin-nya di taruh di piring itu,, makanya sengaja pakai tudung saji karena mau ngasih kejutan sama kamu, sayang”, Arfin menjelaskan dengan sejelas- jelasnya.


“Mana ada cincin di sana,,, yang ada tuh makanan yang mengerikan tahu gak….?? Iya sih emang bener aku sampai terkejut melihatnya,,, coba deh Aa buka sendiri”, ucapnya masih dengan nada kesal.


Arfin pun melangkah mendekati meja yang terbuat dari kayu itu, kemudian ia membuka tudung sajinya, dan saat dibuka ia pun merasa terkejut, “Apa- apaan ini,, bagaimana bisa berubah jadi gini?”, Arfin sangat terkejut melihat isian piring tersebut.


Pantas saja Naz bilang apa Arfin ingin membunuhnya,,, yassalam,,, siapa juga yang akan berani memakan tumis kulit durian ini..😂😂



Tiba- tiba terdengar suara pijakan kaki seseorang yang berlari dan menghampiri Naz dan Arfin, “Aduh,,, acaranya apa udah selesai yaa,,,? kok kalian kayak habis nangis ? ,,,itu karena terharu apa karena cincin-nya gak ada? “ucap orang itu sambil ngos- ngosan.


“Raline,,,, kok kamu bisa ada di sini?”, tanya Naz yang merasa heran, namun Raline tak menjawab hanya nyengir saja sambil ngos- ngosan.


“Kak Arfin,,,sorry banget ,,, itu pelayannya ngasih piring yang salah dan tertukar dengan pesanan orang lain di sana katanya”, ucapnya memberitahukan.


“Apa,,,? kok bisa sampai tertukar? Saya kan udah bilang jangan sampai ada kesalahan!!”, ucap Arfin dengan nada tegas dan raut muka marah karena kesal melihat isian piring tadi.


“Iya Kak,,, sorry banget,,, itu pelayannya udah aku omelin habis- habisan kok,,, katanya itu makanan yang dibawa pelanggan lain untuk mengerjai temannya dan minta disajikan oleh pelayan, dan orang itu juga marah karena gagal mengerjai temannya, karena temannya itu malah mendapatkan cincin,, padahal mereka semua laki- laki,,, nih cincinnya udah aku ambil lagi“, ucapnya menjelaskan lalu menyerahkan cincin yang sempat menghilang tadi, dan Arfin pun menerimanya.



“Jadi beneran Kak Arfin ngasih aku cincin yang disembunyikan di dalam di piring yang ditutup tudung saji itu?”, gumam Naz dalam hati seola menyesali karena sempat marah pada Arfin, yang ternyata itu adalah kesalahan sang pelayan.


“Kurang ajar,,, dimana pelayan itu?”, tanya Arfin dengan perasaan kesal dan marah, karena adegan romantisnya harus gagal yang disebabkan cincin lamarannya menghilang, ia pun hendak beranjak pergi, namun Naz mencegahnya dengan memegang tangannya.


“Mau kemana?”, tanya Naz dengan nada lembut.


“Mau ngasih pelajaran pada pelayan yang sudah merusak acara kita ini”, jawab Arfin dengan nada kesal.


“Sudah,, gak usah,, biarin aja,,, namanya juga manusia kan,, kadang kita juga melakukan kesalahan,,, lagian tadi Raline bilang kalau dia sudah mengomeli pelayan itu habis- habisan,,, yang penting kan cincin- nya sudah kembali”, ucapnya melempar senyuman pada Arfin yang terlihat masih merasa kesal.


“Tapi,,,,”, Arfin seolah tak tenang jika belum menemui pelayan itu.


“Udah,, ayok kita duduk saja di kursi panjang sebelah sana,,,ternyata kulihat masih ada”, ucapnya mencoba mengalihkan perhatian Arfin, kemudian ia pun menuruti ajakan Naz, “Raline,, kita kesana dulu ya”, Naz pun pamit pada Raline yang sebenarnya masih mempertanyakan keberadaan Raline di sana.


“Yupz,, lanjutkan,,, aku juga mau ke kafe lagi,, sekalian mengembalikan piring isi ranjau ini”, ucap Raline yang lalu mengambil piring dan kembali dengan tudung sajinya dari atas meja, kemudian dibawanya ke kafe yang sejak tadi disebutkan olehnya.


Naz dan Arfin kini duduk di kursi besi yang tempat biasanya mereka duduk jika datang ke danau itu. “Aa berhutang banyak penjelasan padaku,, kenapa selama tiga hari ke belakang gak pernah menemui bahkan menghubungi ku sama sekali? Aa kemana aja,,,?”, tanya Naz megawali perbincagan.


Arfin menghela nafas sejenak untuk menetralkan perasaannya yang sempat kesal dan marah, "Aku terus mencoba menghubungi mu sayang,,, tapi nomor mu tidak pernah aktif,,, aku pikir kamu dilarang berkomunikasi dengan ku oleh Bunda,,, karena kata Bunda sebelum aku memberikan jawaban atas pertanyaannya, aku tidak boleh menemui mu… dan saat aku tahu dari Mami kalau kamu sudah menghubungi beliau dan menanyakan ku lewat nomor Tante Rahmi, beberapa kali aku mencoba menghubungi Mama- mu dan sialnya setiap menelpon katanya kamu lagi belajar mengisi soal- soal latihan ujian,,,, emangnya kamu belajar terus seharian?”.


“Iya,,, aku inget terus sama Aa,,, dan nungguin Aa gak kunjung datang atau menghubungiku,, makanya aku lampiaskan saja dengan terus mengisi soal- soal latihan ujian,,, setidaknya aku jadi punya kesibukan sehinga melupakan mu sejenak,,, tapi kok Mama gak pernah bilang kalau kamu pernah nelpon?”, Ucap Naz bertanya- tanya.

__ADS_1


“Mana ku tahu,,, mungkin beliau udah kong kali kong kali sama Bunda, supaya mencegah ku agar tidak bisa berkomunikasi dengan mu,,, tapi bagus juga kamu melampiaskannya pada belajar,,, hehehe”, ucap Arfin terkekeh.


“Iya dong,,, malahan itu buku paket latihannya udah keisi semua karena diisi siang dan malam,,, jadi musti beli lagi buku latihan yang lain deh kayaknya,,,”, ucap Naz yang baru menyadari,, “ Bisa jadi sih Bunda kerja sama dengan Mama,,, sampai sekarang aja ponsel ku masih di tangan Bunda, Mama yang tahu soal itu malah biasa aja tuh gak ngasih aku ponsel baru,, "


"Wahh... hebat juga,,, tiga hari bisa beres satu buku...", ucap Arfin memuji.


"Ya... karena sebelumnya udah pada diisi juga sih sebagian ... hehehe .... oh iya terus kenapa Aa gak menemui aku sebelum aku pulang,, padahal kan sejak subuh Bunda udah ngasih tahu Mami soal kepulangan kami” , Naz kembali ke persoalan.


“Di hari kamu pulang ke sini,, aku hendak menemui mu juga Bunda setelah selesai sarapan,,, eh ternyata kamu sudah di bandara dan Mami bilang delapan menit lagi jgha pesawatnya take off,,, yasudah aku berniat akan menyusul mu setelah pulang kerja,,dan tenyata dua bandit dari kantor mengajakku ke kantor cabang di Semarang karena terdapat beberapa masalah di sana,, Aku pikir sehari saja akan selesai,, ternyata aku salah,,, aku di sana sampai hari sabtu kemarin. Dan siangnya aku terbang ke Jakarta, saat sampai langsung menemui Ayah dan Bunda-mu untuk memberikan jawaban atas pertanyaan Bunda malam itu. Setelah beristirahat sebentar di rumah Mami, aku pergi ke rumah Om Syarief untuk meminta izin menjalin hubungan dengan mu lagi, bahkan ingin ke jenjang lebih serius, saat itu kalian baru selesai makan malam”, Arfin kembali menjelaskan.


“Jadi yang semalam datang ke rumah katanya tamu untuk Papa itu Aa??”, tanyanya lagi.


“Iya,,, dan setelah mendapat izin dari Papa-mu tadinya aku mau melamar mu semalam,,, tapi saat menanyakan keberadaan mu kata Tante Rahmi kamu nya udah tidur,,, eh malah ada Raline yang ternyata mendengarkan percakapan kami. Saat aku hendak pulang dan sudah di luar rumah, Raline yang mengantarkan ku ke depan pintu tiba- tiba mengatakan supaya aku memberi mu kejutan jika ingin melamar mu, saat aku tanya maksudnya apa karena aku tak tahu bagaimana dia bisa menyimpulkan kalau aku akan segera melamar mu, katanya aku sebaiknya melamar mu di tempat yang kamu sukai supaya lebih berkesan,, Dan kamu tahu,, sepanjang jalan pulang aku terus memikirkan saran Raline”.


“Terus kenapa Aa terpikir di danau ini?”.


Arfin terkekeh mendengar Naz yang terus bertanya karena rasa penasarannya, “Semalam saat pulang ke rumah, Bang Evan sama istri dan anaknya ternyata sudah ada di rumah Mami dan berencana akan menginap,,, Nah Humaira membicarakan soal taman di dekat danau yang sekarang sudah terurus dan selalu ramai pengunjung karena di sana ada kafe baru yang bertemakan outdoor katanya,,, Tiba- tiba aku teringat danau yang sering kita datangi dulu yang merupakan tempat pertama kali kita bertemu, karena setelah kita putus aku tak pernah menginjakkan kaki di sini lagi,,, dan terlintas begitu saja untuk melamar mu di sini. Aku menghubungi Om Syarief agar tidak memberitahukan mu tentang kedatanganku, lalu aku meminta bantuan Raline untuk mengajak mu ke danau tanpa kamu ketahui aku yang sudah mengaturnya. Dan pagi- pagi sekali aku sudah datang ke sini, lalu bekerja sama dengan manager kafe tersebut yang kebetulan tinggal di daerah sini, dan meminta pelayannya untuk menyediakan meja dan kursi di tepi danau tempat kita bertemu ini,,, Tapi sangat di sayangkan pelayan tadi malah menggagalkan nya”.


“Enggak gagal kok,,, Aa kan udah melamar aku tadi dan aku juga udah menerimanya,,, terimakasih ya sayang,, kamu sudah membuat kejutan ini untuk ku,, aku bahagiaa banget”, ucap Naz yang kemudian menggandeng lengan Arfin sambil begelayut manja. Lalu ia kembali duduk tegak dan menyodorkan tangan kiri nya, “Nihh,,,”, ucapnya.


“Apa??”, tanya Arfin heran.


“Cincin- nya”, ucap Naz lagi sambil menggerak- gerakan jemari tangannya.


“Kenapa dengan cincin-nya?”, tanya Arfin semakin heran.


“Apa? Yassalam,,, emangnya Aa membeli cincin itu untuk apa?”, tanya Naz memberi clue.


“Ya… untuk melamar kamu lah”, Arfin menjawab dengan santai.


“Udah belum?”, tanya Naz lagi


“Udah apanya?”, Arfin malah balik bertanya.


“Melamarnya…”, ucap Naz yang mulai kesal.


“Udah kan tadi,,, aku udah melamar kamu dan kamu sudah menerimanya, Chayaku sayang".


“Lalu,,, fungsi cincin nya untuk apa? Yassalam … jangan sampai itu cincin mubadzir,, atau aku menarik kata- kata ku lagi”, ucap Naz yang masih menahan amarahnya.


“Ohh,, ya ampun,,, aku lupa,,, maaf maaf sayang,,, aku belum menyematkannya ke jari manis mu,,”, Arfin yang baru teringat langsung terkekeh.”Terus gimana?”, Arfin malah bertanya.


“Gimana apanya lagi?”, Naz benar-benar Sudak kesal dibuatnya.


“Apa aku harus bertanya ‘Will you marry me ‘ lagi,,, dan setelah kamu jawab ’iya’ baru aku memasangkan cincin ini di jari manis mu?”.


“Terus gimana dong?”, Arfin terlihat bingung .


“Au ah gelap,,,”, Naz pun sudah benar-benar marah, lalu duduk menjauh dari Arfin sehingga mereka duduk di ujung- ujung kursi dengan jarak yang gak jauh sih sebenarnya.


“Heii,,, ini masih siang,,, masa udah gelap sih sayang….kamu kok baru dilamar udah mau gelap- gelapan aja ih,,, udah gak sabar ya”, Arfin malah mengajaknya bercanda.


“Apaan sih geje”, ucap Naz dengan nada jutek.


“Geje,,,?? Apaan itu?”,tanya Arfin.


“Gak jelas banget”, jawab Naz ketus lalu duduk membelakangi Arfin.


“Ehh,,, Jangan ngambek gitu dong, sayang,,, nanti kecantikan calon istriku yang mengalahkan bidadari mana pun bisa luntur”, rayuan gombal dikeluarkan.


“Gombal,,,”.


“Udah gak geleh ya sama gombalan Aa?”.


“Dihh,,,, geuleuh pisan ,,, hoekk”. ucap Naz semakin kesal.


“Yee,, masa sama calon suami kayak gitu sih sayang,,, sini atuh jangan ngambek”, Arfin menyentuh bahu Naz dan langsung ditepisnya.


“Gak mau,,,”.


“Kalau gitu, mana tangannya sini pinjam dulu”, Arfin malah meminta tangan Naz.


“Gak disewakan apalagi dipinjamkan”, Naz semakin ketus.


“Terus gimana dong,,, cincin ini kan untuk disematkan di jari tangan,, masa Aa pasangin di jari kaki kamu”, Arfin masih terus membujuk rayu Naz.


“Tanganku kotor bekas ngupil”, ucap Naz ngasal.


“Gak apa- apa kok sayang,,, jangankan bekas ngupil,, walaupn tangan kamu bekas cebok juga gak apa- apa”, Arfin tak mau kalah absurd.


“Ih,, jorok banget sih,,,”.


“Habisnya baju kamu kuning sih,, mengingatkan sesuatu,, hahaha”, Arfin malah mengejek.


“Gak lucu,,, dasar menyebalkan,,, ”, Naz semakin marah dibuatnya.


“Hahaha,,, yahh sayang banget dong,,, jadi cincin ini kasih aja nih ke Raline?? ya itung- itung sebagai ucapan terimakasih karena sudah membantuku”, Arfin dengan sengaja mengompori Naz, kemudian Naz langsung menyodorkan tangan kiri nya tanpa membalikan tubuhnya.


“Ih sayang kamu nya juga menghadap ke sini dong,,, emangnya kamu gak mau melihat dulu cincin-nya gitu sebelum disematkan di jari manis mu,, hem?”, Arfin terus membujuk Naz, kemudian Naz pun langsung bangkit dari duduknya.

__ADS_1


“Udah ahh,, aku mau pulang”, ucapnya malah tambah ngambek, baru saja melangkah, Arfin langsung menarik tangan Naz sehingga jatuh ke dalam pelukannya.


“Ihh,, lepasin,,,,”, Naz berontak .


“Enggak,,, aku gak mau ambil resiko, nanti kamu malah mau kabur lagi”, Arfin malah semakin mengeratkan pelukannya.


“Iiiiihhh,,,, lepasin ihh,,,”, Naz terus berontak minta dilepas.


“Ssssttttt,,,, udah diem sayang jangan terus berontak,,, ", ucapnya sambil mengusap usap punggung Naz seolah menenangkannya agar tidak bergerak- gerak seperti cacing kepanasan,


"Biarkan seperti ini, aku ingin kamu mendengar debaran jantungku saat dekat bersama mu, yang berdetak lebih kencang dan tidak karuan,,, namun hatiku merasa tenang saat bersama mu”, Naz pun terdiam dan berhenti memberontak,, ia pun menempelkan telinganya pada dada Arfin.


“Aku pun merasakan hal yang sama,,, aku selalu nyaman saat bersama mu”, ucap Naz yang mulai terbawa suasana.


“Terimakasih sayang,,,, kamu sudah menerima dan memilih ku menjadi calon suami mu,,, aku janji akan selalu mencintaimu, menjaga dan melindungimu dengan seluruh jiwa dan ragaku,,, aku sangat mencintaimu”, ucapnya sambil membelai rambut Naz.


“Aku lebih lebih mencintaimu”, ucap Naz mengungkapkan perasaannya tanpa keraguan.


Kemudian keduanya saling melepas pelukan dengan perlahan, Arfin membuka tempat cincin yang berbentuk kota itu, lalu memperlihatkannya pada Naz, “Aku tanya sekali lagi,,, mau kah kau menikah denganku, menjadi istriku dan menjalani hidup bersama ku, menua bersamaku, Cahayaku sayang?”.


Naz kembali mengangguk, namun kali ini tidak semenegangkan sebelumnya, "Iya,,, aku mau”, ucapnya lalu tersenyum bahagia.


“Mau apa?”, tanya Arfin dengan mesra.


“Mau pipis,,, hahaha”.


“Ih,,, jorok,, kau merusak suasana romantis kita sayang ”, ucap Arfin dengan tatapan tajam .


“Iya iya,, hahaha... iya... aku mau menikah dengan mu, aku mau menjadi istrimu, aku mau hidup bersama mu dan menua bersama mu selamanya, Sang Anas ku sayang”, ucapnya dengan raut wajah yang berbinar.


Arfin pun mengambil cincin dari dalam kotak yang dipegangnya sejak tadi, sedangkan kotaknya langsung dilempar entah kemana,, lalu ia memegang tangan kiri Naz kemudian menyematkan cincin ke jari manis calon istrinya itu dengan perlahan,, dan setelah terpasang sempurna, mereka pun kembali berpelukan.”Terimakasih sayang,,,terimakasih,,,”, ucap Arfin kemudian mencium tangan kemudian beralih mencium pucuk kepala Naz.,,,


bibiy beyum boyeh ya kata Bunda... sabal sabal Aa..🤭😂



“Sayang,,,,,”, ucap Naz.


“Hem,,,,kenapa?”, tanya Arfin.


“Aku kan masih sekolah,,, bagaimana kita bisa menikah?”, tanya Naz yang baru teringat kalau dirinya masih bertsatus seorang pelajar.


Arfin pun melepaskan pelukannya dengan perlahan, lalu memandang wajah cantik wanita yang berdiri di hadapannya itu, “Chayaku sayang,, aku melamar mu sekarang, bukan berarti kita menikah besok,,, kita juga kan butuh waktu untuk mempersiapkan pernikahan,,, belum lagi aku harus meminang mu secara resmi dengan mendatangi kedua orangtua mu ditemani kedua orangtua ku,,, Jadi kamu bisa menyelesaikan sekolah mu dulu, dan aku juga akan kembali melakukan pengobatan supaya saat menikah nanti bisa langsung beraksi”.


“Beraksi,,,?? Beraksi apa?”, tanya Naz dengan polosnya.


“Udahlah gak usah dibahas,,, nanti juga kamu bakalan tahu kalau kita sudah menikah”.


“Ohh,,, berarti kalau Aa sudah berobat dan sembuh,, nanti kalau sudah menikah dengan ku, Aa gak akan membuat aku tersiksa di ranjang dong ya?”, Naz masih aja ingat perkataan camer nya itu.


“Apa?? Maksud kamu apa?”, Tanya Arfin kaget .


“Kata Mami Aa dulu gak mau nikah sama aku karena takut kalau sudah menikah nanti malah membuat ku tersiksa di ranjang,, berarti kan kalau sudah sembuh itu gak akan terjadi kan?”, tanya Naz lagi.


“Ekhem,,,,”, Arfin hanya berdehem lalu tersenyum ketir, “Dasar Mami,,, kalo ngomomong tuh gak bisa disaring apa,,, pakai bilang segala lagi soal urusan ranjang,, benar- benar mempermalukan ku,,, udah tahu nih anak tengil- tengil juga urusan kayak begituan mah belum ngerti alias masih polos”, Arfin menggerutu kesal dalam hati.


“Aa,,, kok gak jawab sih”, Naz masih penasaran.


“Iya sayang,,, “, ucapnya sambil tersenyum, “Oh iya,,, nanti Aa melamar mu kepada siapa?”, Arfin mengalihkan pembicaraan.


“Hahh,,, ya pada orang tua ku dong”, jawab Naz dengan yakin.


“Iya maksudnya, Kemana Aa harus melamar mu?”, Arfin kembali bertanya.


“Ya,, ke rumah orang tua ku”, jawab Naz lagi .


“Iya kemana sayang,,, ke rumah Om Syarief apa ke rumah Bunda?”, Arfin memperjelas pertanyaannya.


“Hah,,,, iya juga ya,,, harus kemana dong? Papa sama Mama orang tua kandung ku,, Ayah sama Bunda orang tua asuhku sejak aku masih bayi,,, sedangkan rumah mereka berjauhan,,, aaahhh,,, harus kemana dong?? “, Naz yang merasa kebingungan malah balik bertanya.


“Ya sudah,, nanti Aa bicarakan dengan keempat orang tua mu,,, kamu sekarang fokus aja sama UN mu nanti ya,,, yang penting kan kita sudah sama- sama saling terikat, kita berdoa saja semoga segala sesuatu yang kita rencanakan berjalan dengan lancar tanpa ada kendala, sehingga harapan dan tujuan kita terlaksana, semoga kita berdua memang ditakdirkan untuk berjodoh”.


“Aamiin,,,,“, ucap Naz mengamini,, “Kalau gak berjodoh gimana?”, tanya Naz dengan polosnya.


“Ya ,, paksain aja biar berjodoh,,,”, Arfin menjawab dengan entengnya dan membuat keduanya tertawa, “Sudah ahh,, kita pulang yuk,,, kita mengabarkan hal ini pada orang tua kita”.


“Oke,,, aku gak sabar pengen lihat reaksi mereka,,, kalau tahu aku bersedia untuk menikah muda ditambah bakalan melangkahi Mas Hardi dan Kak Arsen , hahaha”, ucap Naz sembari membayangkan, lalu tertawa bersama Arfin yang berjalan bergandengan dengannya.


-------------- TBC ----------------


**********************


Monggo ndoro- ndoro detergen,,,,, ini asli bukan mimpi bukan prank ko,,, 🤭😂


Heppi reding,,, 😉


Jangan luva tinggalkan jejakmu ya,,, like, komen, ate bintang 5, vote dan hadiah seikhlasnya…. Gak maksa yang penting banyak,,, ehh,,, yang penting ikhlas,,,🤭


Tilimikicih semuahhhh,,,, alapyu oll,,, 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2