Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Pingsan Gara-Gara Helm


__ADS_3

Satu bulan telah berlalu, Naz dan Arfin tidak pernah bertemu lagi, baik disengaja ataupun tidak disengaja. Mungkin perasaan diantara mereka pun telah hilang seiring berjalannya waktu. Masing- masing menjalani hari- hari seperti biasanya Arfin bekerja di kantor sedangkan Naz belajar di sekolah.


Hari ini di sekolah sedang diadakan Ujian Nasional kelas 3, sehingga murid kelas 1 dan 2 diperkenankan untuk belajar di rumah alias diliburkan. Namanya juga anak sekolah ya paling senang dengan namanya hari libur, tanggal merah, tak terkecuali Harpitnas, yakni hari kejepit nasional dimana ada tanggal merah di hari sehari sebelum atau sehari setelah hari minggu.


Biasanya anak sekolah yang sudah beranjak ABG kalo libur 3 hari seperti ini dipergunakan untuk liburan bersama sahabat atau keluarga, bermain, jalan bareng, nonton ke bioskop, jalan- jalan ke mall dan banyak lagi. Bahkan ada yang dari rumah memakai seragam pura- pura berangkat ke sekolah supaya tetap mendapatkan uang jajan dari orang tuanya. Namun lain halnya dengan empat bontot sekawan Naz, Ruby,Andes, dan Kiara yang memiliki cara berbeda dengan memanfaatkan waktu liburnya untuk mengajar di Teras Belajar dari pagi, dan tentunya sehabis itu mereka pergi nongkrong di kafe atau jalan ke mall. Sama bae sih ujung- ujungnya mah.


Naz dan ketiga sahabatnya telah sampai di teras belajar, namun di sana tidak ada orang satu pun yang terlihat. Padahal biasanya mereka sudah tiba lebih dulu sebelum Naz dan tiga sahabatnya datang.


“Lah, pada kemana ini bocah gak ada satu pun?” Kiara si tukang protes membuka suara.


“Mungkin mereka lelah, Ra” Andes menjawab seenaknya.


“Lo kalo jawab suka ngaco ih, mana ada mereka lelah,, mereka selalu bersemangat kalo belajar ko” Ruby mejawab kesal pada Andes.


Tiba- tiba muncul dua orang anak yang menggendong tas menghampiri teras belajar.


“Loh, dek kok kalian cuma berdua ? yang lainnya mana?” Naz heran sambil melihat- liat mencari keberadaan 22 ekor lagi yang belum kelihatan batang hidungnya.


“Itu kak, yang lain lagi pada lihat bulldozer sama beko di tanah kosong belakang rumah kami” jawab Ijul .


“Iya kak, tadi sudah diajak kesini tapi gak mau katanya pengen nonton beko nyangkul- nyangkul tanah” Lulu ikut menjawab.


“ Dasar bocah,,,ampuun dah...beko ya beko beda kali sama cangkul haduh” Andes tertawa mendengar perkataan Lulu si anak yang berusia 7 tahun itu.


“ Jauh gak Jul tempatnya dari sini ?” Ruby bertanya pada Ijul.


“Kalau lewat jalan jauh kak, tapi kalo lewat gang dekat” Ijul menjawab.


“Yaudah kita susul aja ke sana yuk” Ruby mengajak semuanya ke TKP.


Naz dan ketiga sahabatnya bersama dua bocah berangkat berjalan menyusuri gang kecil, setelah sekitar 5 menitan mereka pun tiba di sebuah tanah yang luas dan terdapat sebuah mobil beko yang sedang mengeruk dan meratakan tanah bersama bulldozer.


Dan benar saja, semua murid teras belajar sedang menonton aksi beko dan bulldozer itu. Naz dan sahabatnya menghampiri mereka yang sedang asyik.


“Hmm….kalian ditungguin di teras belajar ko malah main disini” Naz menyapa anak- anak yang sedang memperhatikan si beko dan si bulldozer.


“Hei, hei,,,ada Kak Naz tuh “ salah seorang anak memberitahu anak yang lain yang tidak menyadari keberadaan Naz.


“Mana…mana ?” anak- anak lain bertanya.


Naz menatap mereka sambil berkacak pinggang ala- ala Guru BK yang memergoki muridnya yang ketahuan bolos, sedangkan para pelaku bolos hanya cengar- cengir karena malu ketahuan.


“Kabuuuur” salah seorang anak memimpin mengajak yang lainnya kabur, dan mereka pun berlari masuk ke gang.


Naz dan ketiga sahabatnya pun tertawa melihat tingkah anak- anak itu.


“Des, Ra, By, kalian duluan ajja , aku yakin mereka akan ke teras belajar, aku mau nyamperin tiga anak lagi di sana tuh” Naz menunjuk ke arah tiga anak yang dikenalnya merupakan murid di kelompoknya.


“Oke bosque” Jawan Andes


“Kita duluan ya Naz” Ruby berpamitan, dan merekapun berjalan menyusuri gang yang mereka lewati tadi.


Naz berjalan menuju ketiga anak yang dilihatnya, yang berjarak sekitar 100 meter darinya untuk berburu sisa anak yang bolos.


“Diki, Adi, Farid,,,, kalian sedang apa disini?” Naz mengabsen mereka, nampak ketiganya kaget dan langsung melihat ke arah Naz.


“Eh, Kak Naz..hehehe” Diki menyapa Naz sambil celingukan.


“Ayok kita ke Teras belajar, semua orang sudah menunggu” ajak Naz pada ketiga bocah itu.


“Nanti dulu kak, lagi seru nih” Adi menolak ajakan Naz


“Oh,, jadi kalian mau dihukum memakai daster ibu kalian dan dipoles lipstik selama belajar?” Naz mengeluarkan ancaman hukuman didandani ala Jeng Kelin.

__ADS_1


“iya iya kak,, kak, kami mau ke teras belajar sekarang ko.. ayo ayo pergi” Farid menjawab dan mengajak yang lainnya untuk bergegas ke teras belajar, dan itu membuat Naz tersenyum sambil geleng- geleng kepala.


Ketiga anak itu langsung berlarian dengan semangat dan tanpa sengaja menubruk dua orang dengan pakaian stelan kantor serta memakai helm proyek dan membawa beberapa gulungan karton. Adi jatuh tersungkur dan menimpa gulungan karton yang terlepas dari pemiliknya, Naz pun langsung berlari menghampiri. Terlihat salah seorang pria itu berjongkok membantu membangunkan Adi


“Maafkan adik- adik saya Pak “ Ucap Naz terengah- engah


“Kamu gak apa- apa dek” Tanya pria itu pada Adi yang sudah dalam posisi duduk dan memegang kaki dibawah lututnya.


“Aduh,, kakiku sakit “ Adi meringis kesakitan memegang lututnya.


“Ya ampun, Adi lutut kamu berdarah “ Naz berjongkok disebelah kanan pria itu dan menundukkan kepala memegang memperhatikan kaki Adi yang terluka.


Naz langsung membuka tasnya mengambil tisu basah dan tisu kering yang selalu dibawanya, tanpa menghiraukan pria disampingnya yang tanpa ia sadari terus memperhatikannya.


“Tahan ya, mungkin agak perih” Naz mulai membersihkan darah di lutut Adi menggunakan tisu basah dengan perlahan dan hati- hati sampai benar- benar bersih, dan beruntung darah yang keluar tidak banyak.


“Aww,, perih,” Adi kembali kembali meringis.


“Sementara lukanya dibersihkan dulu aja ya, nanti kita obati pakai betadine” Naz pun mengelap tangannya dengan tisu, dan reflek memalingkan wajah ke arah kirinya.


Pria yang sedari tidak melepaskan pandangannya pada Naz, otomatis saat Naz melihat ke arahnya mata mereka saling bertemu. Naz nampak terkejut dengan apa yang dilihat dihadapannya hingga lupa caranya mengedipkan matanya. “Kak Arfin” gumamnya dalam hati.


“Kak Naz, ayo kita pergi, kan mau belajar” Perkataan Farid sontak membuat keduanya menyudahi acara tatap- menatapnya.


“Iy iya,,” Naz menjawan dengan terbata- bata slalu berdiri dari jongkoknya diikuti oleh Arfin juga yang sudah memegang kembali tiga gulungan karton yang jatuh ke tanah tadi.


“Naz,, kamu sedang apa disini?” Tanya Arfin berusaha mencairkan suasana.


Naz menarik nafas panjang untuk menetralkan kegugupannya “ Itu kak,,,emmm,,,anu emm,,,aku mengajak ketiga anak ini untuk belajar bersama di teras belajar” jawabnya.


“Teras belajar?” Arfin bertanya kembali dan mengerutkan dahinya.


“Iya, itu tempat kami mengajar anak- anak jalanan yang memiliki keterbatasan ekonomi dan tidak bisa bersekolah” Naz mulai bisa bicara dengan tenang.”Kak Arfin sendiri sedang apa disini” lanjutnya.


“Hah,, masa jualan cilok pakai pakaian rapi setelan kantoran dan pakai helm proyek, juga bawa gulungan karton lagi, lebih mirip arsitek yang sedang mengawasi proyek pembangunannya” Naz mendeskripsikan yang ia lihat sesuai pemikirannya.


“Lah,, itu tahu, ko nanya?” Arfin bicara dengan santainya, tidak tahu kalo yang diajak bicara sudah pengen pingsan karena menahan kegugupannya dari tadi.


“Kak Naz ayo, aku gak mau dihukum loh” Farid kembali mengajak Naz. Dasar nyamuk.


“Iya. Iya ayok,,” Naz menjawab dan menoleh ke Farid.”Kak, aku duluan ya”Pamitnya pada pria yang ada dihadapannya.


“Iya, aku juga mau melanjutkan pekerjaanku” Ucapnya kemudian berbalik hendak berjalan bersama rekannya.


“Kak Arfin” teriak Naz


Arfin yang hendak melangkah berbalik kembali “ iya, ada apa?” tanyanya


“Maaf soal gulungan karton itu, jadi kotor” Naz menunjuk ke arah gulungan yang dipegang Arfin.


“Tak masalah” jawabnya singkat. “oh iya, jangan ajarkan murid mu melempar kue ke sembarang tempat ya” Ucapnya sambil tersenyum mengingat apa yang pernah Naz lakukan padanya.


“Maksudnya apa? “ Tanya nya ketus.


“Itu murid mu tadi berlarian lalu menabrak ku, sepertinya dia meniru kelakuan mu” Arfin menjawab santai lalu berbalik kembali dan pergi.


“Cih,ternyata dia masih menyimpan dendam kesumat padaku” Gumamnya pelan sambil mencebikan bibirnya sebal, lalu Naz menghampiri Adi yang masih duduk di atas tanah yang ditemani Diki dan Farid.


“Adi, apa kamu bisa berjalan?” Tanya Naz pada Adi.


“Jangankan berjalan Kak, Adi tidak bisa bangun, tadi kami sudah coba membantunya bangun tapi kakinya kesakitan” Diki menjawab dan diangguki Farid.


“Aduhh, gimana ini ? gak mungkin kaka gendong Adi yang badannya subur gitu” Ucap Naz bingung.

__ADS_1


Naz berlari mengejar Arfin yang sudah mulai menjauh untuk minta bantuannya.


“Kak Arfin ,,,tunggu,,Kak Arfin” Naz berteriak sambil berlari.


Arfin dan rekannya pun menghentikan langkah mereka dan berbalik arah.”Ada apa lagi?” Tanya nya nampak kesal.


“Aku mau minta tolong “ Naz bicara sambil ngos-ngosan.


“Minta tolong apa?” Arfin bertanya


“Itu, emh anu,,emh bisakah tolong digendong?” Naz berbicara ambigu.


“Apa…? Kamu minta saya menggendong mu?” Arfin terkejut dan bicara dengan nada sewot.


“iya,,, ehh bukan,, maksudnya,,,” Naz menjawab gugup “alamak ngomong apa sih gue barusan” Naz bicara pelan sambil menepuk- nepuk bibirnya.


“Maksud kamu apa sih? Saya lagi kerja, jadi tolong jangan ganggu saya dengan hal- hal aneh macam ini” Arfin kalo sudah kesal ternyata serem ya, sepertinya habis meneguk minuman soda, nyereng.


“Gini kak maksudku, itu Adi tidak bisa bangun apalagi berjalan kakinya kesakitan, emmm aku kan perempuan dia laki-laki, tidak mungkin kan kalo aku harus menggendongnya” Naz mulai bicara lancar setelah kena serangan syocking soda.


“Jadi,,?” Pertanyaan singkat yang penuh penekanan menunggu kepastian.


“Jadi, bisa kah Kak Arfin membantu ku menggendong Adi sampai ke teras belajar,,, deket kok masuk gang itu” Naz berkata dengan lancarnya bagaikan ijab- qobul yang diucapkan pengantin pria setelah menerima tepukan kencang di punggungnya. Norolong


Arfin nampak berfikir sebentar lalu menyerahkan gulungan karton yang dipegangnya “Pak Hasan duluan saja ya, nanti saya nyusul”.


“yes,,” ucap Naz pelan sambil menarik kedua kepalan tangannya.


Naz dan Arfin berjalan menuju ke tempat Adi dan kedua temannya berada. Sepanjang jalan Naz berjalan sambil terus merekah kan senyumnya mengikuti langkah Arfin dari belakangnya. Sudah mulai terganggu kewarasannya rupanya.


Karena melihat perawakan adi yang agak montok, tidak mungkin rasanya jika digendong didepan, akhirnya anak yang berusia 8 tahun itu digendong dibelakang oleh Arfin. Diki dan Farid jalan lebih dulu di depan, diikuti Arfin yang menggendong Adi sedangkan Naz paling belakang berjalan masuk ke gang.


“Naz,,,,” Arfin tiba- tiba berhenti.


“Iya, Kak,,,ada apa” Naz mendekat ke samping Arfin.


“Tolong lepaskan helm ini dari kepalaku, rasanya kepalaku gerah banget “


“iya kak…”Naz menempatkan dirinya di hadapan Arfin.”Emmm...gimana caranya, Kak” Naz bingung dan gugup harus berhadapan seperti ini.


“Di kepala belakangku, bagian bawahnya ada pengunci seperti pada sabuk, tarik ke arah kirimu” Arfin menundukkan kepalanya di hadapan Naz.


Naz malah diam mematung tidak bergerak sama sekali


“Apa, aku harus memegang kepalanya, kupikir hanya tinggal dicopot saja helmnya” gumam Naz dalam hatinya.


“Naz, kenapa diam, pegel saya menunduk begini” Perkataan Arfin membuat Naz tersentak.


“Ah, iya iya” Naz mulai memegang kepala belakang Arfin lalu meraba- raba mencari letak penguncinya sampai berhasil menemukannya.


Baru saja selesai menarik pengunci, Arfin langsung menegakan lagi kepalanya dengan cepat, sontak membuat tubuh Naz menempel erat ke dada bidang Arfin, wajahnya melihat ke atas menatap ke wajah Arfin yang lebih jangkung darinya karena kedua tangannya masih menempel di kepala belakangnya Arfin. Keduanya pun saling memandang dengan jarak yang begitu dekat, seakan Naz sedang memeluk mesra Pria dihadapannya itu.


“Bundaaaa,,,aku mau pingsan” Naz berteriak dalam hati diiringi debaran kencang di dadanya.


------------------TBC--------------------


**************************************


Akhirnya Naz bertemu lagi dengan Arfin…..


Apakah Naz akan benar- benar pingsan ?


Kebayang Arfin harus menggendong dua orang sekaligus di depan dan dibelakang.

__ADS_1


Happy Reading….


__ADS_2